Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 3)

1426346246975

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy, 
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

________________________________________________

Jiwon bersumpah jika pandangan seseorang bisa mengeluarkan api, maka dirinya sudah gosong sejak beberapa menit yang lalu. Ia melirik sejenak kearah Minah yang duduk nyaris menempel dengan Woo Bin. Minah masih memasang wajah sangarnya, membuat Jiwon agak sedikit bergidik ngeri. Jiwon ingat jika ia sempat bertemu dengan Minah di toilet wanita, dan saat itu tatapan gadis itu juga sama seperti ini. Sekarang Jiwon mengerti mengapa. Gadis itu cemburu padanya karena ia digosipkan berpacaran dengan Woo Bin. Sekali lihat Jiwon sudah bisa menebak jika Minah adalah penggemar sejati Woo Bin. Semua itu tergambar sekali di mata gadis yang berusia setahun dibawahnya itu.

“Jadi… kalian benar-benar berkencan?” Kang Haneul memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang justru membuat suasana menjadi semakin tegang. Dalam hati Woo Bin agak merutuk sobatnya itu. Ia melirik sejenak kearah Jiwon yang duduk dihadapannya. Gadis itu tampak bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Woo Bin juga tak kalah bingung, namun mengingat Minah disampingnya yang sejak tadi menatap Jiwon begitu tajam layaknya musuh bebuyutan, membuat Woo Bin memutuskan untuk tetap menjalankan rencana gilanya. Setelah ini ia akan meminta maaf pada Jiwon dan memberikan penjelasan rinci kepada gadis cantik itu.

Jiwon baru saja hendak membuka suara ketika suara Woo Bin sukses membungkam dirinya.

“Ne, kami baru memutuskan untuk berpacaran.” Bohong Woo Bin. Minah terbelalak kaget. Matanya menatap Woo Bin sendu, nyaris menangis.

Maldo andwae…” bisiknya lirih.

Woo Bin bangkit dari duduknya, kemudian berpindah duduk disebelah Jiwon. Tangan kanannya menggenggam tangan kiri Jiwon lembut. Jantung Jiwon berdegub kencang sekali. Ini skinship pertamanya dengan seorang pria selain ayahnya dan Minseok. Bahkan dengan sepupunya yang tinggal di Nowon saja ia tidak pernah bergandengan tangan.

Kang Haneul menatap Woo Bin-Jiwon dan Minah secara bergantian. Dahi pria itu masih mengerut. Ia masih menelisik ekspresi wajah Woo Bin, berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada dibenak sobatnya itu. Namun Woo Bin selalu bisa menjaga raut mukanya sehingga sulit untuk menebak pria itu. Yah, Kim Woo Bin bukanlah tipe orang yang bisa ditebak emosi maupun pikirannya hanya dengan melihat raut muka meskipun kau telah mengenalnya sepanjang hidupmu, seperti Kang Haneul.

Chukkae. Semoga oppa memang tidak salah pilih ya.” Minah berkata sambil tersenyum kecil. Dan Jiwon tahu apa maksud gadis itu. Secara tidak langsung Minah tengah menyindir dirinya. Jiwon menghela napas pelan, berusaha menjaga raut mukanya agar terlihat tetap bersahabat. Ia sedang tidak dalam kondisi yang ingin mencari musuh.

Gomawo Minah-ssi. Akan kupastikan jika Woo Bin takkan menyesal.”

Oh, terkutuklah mulutmu Kim Jiwon! Pada akhirnya Jiwon tetap memperoleh musuh baru. Dan pastinya yang ini akan jauh lebih merepotkan.

Choi Yumi yang diam – diam mendengar pembicaraan keempat remaja itu tersenyum sumringah. Dengan langkah tergesa ia segera kembali ketempat arisan berlangsung. Wanita cantik itu menghampiri Nana dan membisikkan sesuatu ke telinga teman lamanya itu yang seketika membuat wajah Nana turut sumringah. Keduanya saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti yang hanya mereka berdua serta Tuhan yang tahu apa makna terselubung dibalik senyuman itu.

 

*****

 

 

“Kau terlihat akrab dengan Woo Bin.” Ujar Nana sambil berusaha menahan senyum. Jiwon yang sejak beberapa detik lalu berkutat dengan ponselnya langsung menoleh kearah sang ibu dengan dahi yang berkerut.

“Ibu mendapat kesimpulan darimana? Ibu bahkan tak melihat kami.” Balas Jiwon.

Nana tertawa kecil, membuat Jiwon merasa semakin bingung dan juga curiga. Yah, ia merasa ada sesuatu yang diketahui oleh ibunya, namun ditutupi darinya. Jiwon menghela napas. “Ayolah bu, jangan berpikiran yang aneh-aneh.”

“Pikiran aneh seperti apa, eo?” Nana bertanya tanpa memandang Jiwon. Wanita itu membelokkan stir mobil kearah kanan. Jiwon mengamati eskpresi ibunya yang kentara sekali terlihat sedang berusaha menahan senyum. Seharusnya ibunya itu sadar bahwa aktingnya buruk sekali. “Ekspresi ibu terlihat mencurigakan.”

Kini Kim Nana tidak hanya sekedar menahan senyun, namun wanita itu tertawa mendengar ucapan putri tunggalnya itu. Nana menoleh sekilas kearah putrinya. “Terserah kau ingin berpikiran seperti apa. Ah, kita mampir ke Chocolate House dulu ya. Eomma sedang ingin makan cake coklat.”

 

 

*****

 

 

_@School, 9:30 AM, SEOUL_

Minseok berlari-lari kecil mengejar Jiwon. Jiwon tahu jika Minseok tengah mengejar dirinya. Bukannya berhenti, Jiwon malah mempercepat langkah kakinya. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan pria yang sudah mengecewakannya berulang kali. Kesalahan Minseok yang mengesampingkan dirinya benar-benar sudah tak dapat ditoleransi lagi oleh Jiwon.

“Jiwon!”

Tangan Minseok berhasil menggapai bahu Jiwon, membuat gadis itu mau tidak mau berhenti, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Minseok. Jiwon berusaha memasang ekspresi datar yang selalu ia tunjukkan jika sedang dalam mood yang tidak baik. Dan Minseok langsung mengerti itu. Bertahun-tahun berteman dekat dengan Jiwon membuat dia hafal semua kebiasaan hingga arti eskpresi gadis itu. Sayangnya ada satu yang luput dari perhatian Minseok, yaitu mengenai perasaan lebih yang dimiliki Jiwon pada dirinya.

“Kau marah ya? Aku minta maaf sudah membatalkan janji kita. Hanya saja Krystal—“

“Lupakan saja! Kau sudah melakukan hal yang tepat. Krystal memang lebih penting. Dia kan kekasihmu. Tidak usah pikirkan aku. Nan jeongmal gwenchana.” Ucap Jiwon. Minseok semakin tak enak hati.

Awalnya pria itu tidak sadar jika keputusannya yang membatalkan janji begitu saja akan membuat Jiwon marah. Namun akibat telepon dan pesan darinya yang diabaikan oleh Jiwon membuat pria itu menyadari kesalahan fatal yang ia lakukan. Seharusnya ia tidak lupa jika Jiwon benci dinomorduakan dan ia telah melakukannya beberapa hari yang lalu.

“Aku benar-benar minta maaf.” Minseok mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Jiwon. Jiwon melotot. Bukan karena marah, tapi karena jantungnya berdegup begitu kencang. Padahal ini bukan pertama kalinya Minseok mengenggam tangannya. Mereka bahkan sering berangkulan atau berpelukan. Tapi entahlah, semenjak Jiwon sadar bahwa ia memiliki perasaan spesial untuk sahabatnya itu dirinya menjadi selalu gugup jika berdekatan dengan Minseok.

“Ku mohon maafkan aku ya… aku janji takkan seperti itu lagi. Kau tahu, diabaikan olehmu rasanya sangat tidak enak. Tidak ada lagi pesan singkat tidak penting yang muncul di ponselku setiap hari.”

Jiwon diam sembari menatap Minseok dalam. Betapa ingin ia mengungkapkan perasaannya pada Minseok. Terkadang Jiwon berpikir seandainya ia lebih cepat mengutarakan perasaannya sebelum Minseok menyukai Krystal, apa keadaan akan berbeda? Apa akan lebih baik atau malah jauh lebih buruk? Gadis itu menghela napas. Ia sadar bahwa ia takkan pernah bisa marah untuk waktu yang lama pada Minseok. Ia terlalu menyayangi sahabat tak pekanya ini. “Aku mau makan pizza, ayam goreng, pasta dan es krim.”

Minseok langsung tersenyum sumringah. Tangannya merangkul Jiwon. “Ja, kalau begitu kita mulai dengan makan ayam goreng serta es krim di kantin, lalu pulangnya kita akan makan pizza dan pasta? Otte?” Minseok memainkan alisnya, naik dan turun.

Johta! Kau yang traktir.”

“Dengan senang hati tuan putri.”

 

 

*****

 

 

Minah memperhatikan gerak gerik Jiwon dengan pandangan yang begitu sinis. Semua tindakan Jiwon terlihat salah dimatanya. “Dasar yeoja genit!” ejeknya saat melihat Jiwon yang begitu akrab dengan Minseok. Kedua remaja itu bahkan tampak sedang suap-suapan. Sesekali Minseok akan mencubit pipi Jiwon gemas. Di mata Minah, kedua sejoli itu terlihat lebih mirip orang pacaran daripada sekedar sahabat. Ini aneh bukan! Seharusnya sekarang Jiwon sedang lovey dovey bersama Woo Bin. Tapi justru Jiwon malah sibuk dengan Minseok bukannya menonton pertandingan basket Woo Bin.

Oops, pertandingan basket?

Minah melupakannya.

Omo!” pekik gadis itu histeris dengan dua tangan yang menangkup pipinya, membuat Hyeri, satu-satunya sahabat Minah berjengit kaget. “Wae ire?” tanya Hyeri bingung.

Minah buru-buru bangkit dari kursi. “Aku melupakan pertandingan Woo Bin oppa!” serunya begitu panik, seakan-seakan yang dilupakannya adalah ujian matematika. Tanpa mempedulikan Hyeri yang belum menghabiskan mie-nya, dengan tak sabaran Minah menarik tangan sobatnya itu. “Palli kaja!

“Aish, aku bahkan belum menghabiskan mie nya.”  Gerutu Hyeri, namun tetap pasrah mengikuti Minah.

 

 

*****

 

 

“Ah! Kau tidak melihat pertandingannya?” Minseok bertanya sembari menatap Jiwon. Jiwon meletakkan sendok es krimnya, lalu memandang Minseok bingung.

“Pertandingan apa?”

“Kim Woo Bin kan sekarang sedang bertanding basket antar kelas. Masa kau tidak tahu? Kau tidak ingin melihatnya dan memberikan semangat?” Minseok menatap Jiwon sambil tersenyum jahil. Oh, Jiwon tahu apa maknanya. Gadis itu tersenyum canggung. “Tidak. Aku ingin disini saja.”

“Oh, ayolah Ji! Jangan malu-malu seperti itu. Aku akan menemanimu. Aku tahu kau sebenarnya sangat ingin melihatnya, keunde neomu bukkeureowoseo, matchi?” Dengan sok tahunya Minseok menyimpulkan. Sungguh, rasanya Jiwon ingin sekali memukul kepala pria itu dengan spatula besar kebanggaan ibunya sambil berteriak ‘YAK KIM MINSEOK, NEO BABONIKKA? PRIA YANG KUSUKAI ITU KAU!’

Yah, tapi sayangnya Jiwon tak mampu melakukan itu. Lagipula ibunya pasti akan marah besar jika Jiwon mencuri spatula kesayangannya itu.

Minseok melihat jam tangannya. “Masih sempat.” Gumam pria itu. Ia lalu menatap Jiwon. “Kau sudah selesai makan, kan? Ayo kita ke lapangan sekarang!”

“Eh, tapi…”

“Ayo ayo!”

Jiwon pasrah. Seberapa niat pun ia untuk menghindar, Minseok selalu bisa membujuknya, atau sebenarnya lebih tepat memaksanya. Dalam hati Jiwon berharap agar Woo Bin tak melihatnya. Kejadian kemarin masih begitu membekas dihatinya. Woo Bin yang tiba-tiba meminta bantuannya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya hanya di depan Minah. Jiwon memang belum mengiyakan permintaan pria itu. Ia bingung harus bagaimana. Ingin menolak, tapi ia merasa bahwa dirinya juga akan membutuhkan bantuan Woo Bin.

Sibuk berkutat dengan pikirannya hingga tanpa sadar Jiwon sudah berada di lapangan basket indoor. Minseok mengajak Jiwon untuk duduk di kursi deret 2 dari bawah. Tribun penonton tampak penuh. Maklum setelah ini adalah jam kosong karena guru-guru akan melakukan rapat. Wajar jika kebanyakan murid memilih untuk mengisi waktu dengan menonton pertandingan basket.

Jiwon mendengus kesal. Ia tidak suka keramaian yang berisik seperti ini. Dan yang lebih penting, ia sama sekali tak berminat pada basket atau olahraga apapun selain senam dan berenang. Gadis berambut coklat gelap itu menatap sekeliling dengan risih. Suasana begitu semarak oleh sorakan para murid yang tampak begitu antusias menonton jalannya pertandingan basket atau hanya sekedar menikmati ketampanan para pemain. Yah, contohnya seperti sekumpulan yeoja di sebelah Jiwon ini, mereka tak henti-hentinya menyerukan nama beberapa orang pemain yang ketampanannya diatas rata-rata.

Minseok menyenggol bahu Jiwon. “Kau tidak ingin memberi semangat pada Woo Bin?” tanyanya jahil. Jiwon mendengus. “Maksudmu berteriak seperti gadis-gadis itu? Tidak, terima kasih!” Jawab Jiwon tegas, membuat Minseok tertawa geli mendengarnya.

Jiwon memfokuskan pandangannya kearah lapangan, tepatnya kearah seorang pria tinggi tegap yang sedang men-dribble bola oranye ditangannya. Jiwon akui bahwa Woo Bin sangat tampan. Tak heran jika Bang Minah ataupun yeoja yang lainnya begitu memuja pria itu.

Peluit berbunyi, menandangan bahwa pertandingan usai dan kemenangan telak diraih oleh kelas Woo Bin. Dengan gaya sok dramatis, Minah berlari menyerbu Woo Bin, memeluk pria tampan itu sambil mengucapkan selamat. Tidak dipedulikannya cibiran dari beberapa orang yeoja yang jelas tampak begitu iri. Woo Bin tersenyum seraya mengusap kepala Minah pelan. Sikap Woo Bin yang seperti inilah yang selalu membawa Minah pada posisi terlalu berharap. Padahal Woo Bin melakukan itu semua murni karena dia menganggap Minah seperti sosok adik perempuan yang selama ini selalu didambanya, tapi Minah tak pernah mau mengerti itu.

Jiwon mendengus, “Jelas gadis itu terlalu tergila-gila. Sikapnya terlalu manis.” Gumam Jiwon.

“Kau bilang apa?”

“Ani, bukan apa-apa. Aku mau kembali ke kelas. Kaja!

 

 

*****

 

_@Jiwon’s House, 08:00 PM, Seoul_

“Ji?”

Ne, eomma.”

“Kau mau kan dijodohkan dengan Kim Woo Bin?”

“Uhuk!” Jiwon tersedak. Buru-buru gadis itu meraih segelas air mineral dan menghabiskannya dengan sekali tegukan. Ia lalu menatap sang ibu kesal, sedangkan Nana hanya tersenyum manis, seakan-seakan kejadian tadi bukan kesalahannya. “Ibu ngomong apa sih!” Ujar Jiwon kesal.

“Ibu bertanya apa kau mau dijodohkan dengan Woo Bin?” Nana kembali menyuarakan pertanyaan yang sebenarnya tak perlu diulang pun masih terekam jelas dikepala Jiwon.

Jiwon langsung menatap sang ayah, mencari pertolongan. Namun yang didapatnya justru sang ayah yang tengah menatapnya penuh rasa ingin tahu. Ayahnya juga ternyata menantikan jawaban darinya! Ini gila! Kemana sosok ayah yang biasanya overprotektif terhadap dirinya itu?

Jiwon hanya bisa ternganga saking kagetnya. “Wah, jinjja daebak! Ayah bahkan ikut terkena virus ibu.” Jiwon menggelengkan kepalanya. Diletakkannya sendok beserta garpu miliknya begitu saja diatas piring yang masih terisi makanan. Nafsu makannya hilang mendadak. Ternyata instingnya beberapa hari yang lalu itu tidak salah. Ibunya memang sedang merencanakan sesuatu yang betul-betul diluar prediksinya.

“Ayolah Ji, ibu tahu jika diam-diam kau berkencan dengan Woo Bin, kan?”

“Mwo?! Ibu jangan mengada-ada. Aku bahkan baru kenal dengannya.” Bantah Jiwon.

Nana tersenyum menggoda. “Ah, tidak usah malu sayang. Eomma tahu dari Choi Yumi, ibu Woo Bin. Dia mendengar sendiri dari mulut Woo Bin bahwa kalian sedang melakukan pendekatan. Jadi, bagian mana yang mengada-ada? Apa ibu perlu menghubungi Yumi untuk kembali memastikan?” Tanya sang ibu dengan pandangan menantang.

Rasanya Jiwon ingin terjun bebas dari tebing yang tinggi. Choi Yumi pasti mendengar sandiwara mereka. Ini tidak boleh terjadi! Ia harus meluruskannya!

“Sebenar—-“

“Woo Bin jug sudah setuju kok.” Potong Nana yang sukses membuat Jiwon nyaris tersedak liurnya sendiri. Woo Bin setuju? Rencana gila apa lagi yang akan dilakoninya? Perasaannya pada Minseok saja masih membekas begitu dalam.

Kali ini Kim Siwan membuka suara. Ia menatap putri tunggal kesayangannya itu dalam. “Ayah sendiri setuju sekali jika kau bersama Woo Bin. Ayah memang tidak terlalu mengenalnya, keunde ia berasal dari keluarga baik-baik. Ayah dan Ibu berteman akrab dengan orangtuanya. Tadinya ayah berharap jika kau bersama Minseok, tapi nyatanya kalian hanya sahabat, jadi ayah rasa Woo Bin juga tak masalah.”

“Tapi tapi… aku kan masih muda. Aku tidak… aish ini gila!” Jiwon mengacak rambutnya gemas.

“Jangan berpikiran terlalu jauh, sayang. Meskipun kau dan Woo Bin dijodohkan, tapi kan bukan berarti kami akan menikahkan kalian dalam waktu dekat ini. Ibu masih ingin melihatmu menjadi mahasiswi ketimbang ibu rumah tangga. Kalian masih bisa menggunakan waktu yang ada untuk saling mengenal lebih jauh. Lagipula, bukankah kalian diam-diam juga sedang melakukan pendekatan, eo?”

 

 

*****

 

 

_@Jiwon’s room, 10:15 AM, Seoul_

Jiwon membuka lembar per lembar halaman majalah dengan brutal. Meskipun sudah sejak dua puluh menit yang lalu ia berkutat dengan majalah gossip itu, nyatanya pikirannya justru sedang tertuju pada Minseok, Woo Bin, serta perjodohan gila hasil kreasi orang tua mereka. Gadis itu menghela napas, lalu menunduk menatap lembar yang baru saja ia buka. Matanya antusias menelusuri baris demi baris isi artikel tersebut. Sesekali dahinya akan tampak mengernyit, namun tak lama Jiwon akan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham maksud artikel tersebut.

“Ini wajib dicoba!”

Buru-buru Jiwon turun dari tempat tidur dan berlari menuju lemari miliknya, memilih sebuah mini dress colar sederhana berwarna tosca, membubuhkan sedikit make up, lalu ia meraih tas tangannya. Gadis itu berlalu keluar kamar, meninggalkan majalah gossip yang masih dalam posisi terbuka diatas tempat tidur, menampakkan judul artikel yang tadi begitu menarik perhatian Jiwon.

CARA JITU MEMASTIKAN PERASAAN SI DIA PADAMU

 

 

*****

 

_@Woo Bin’s room, 10:25 AM, SEOUL_

“Jadi, kau serius menerima perjodohan ini?” Haneul menatap Woo Bin penuh ingin tahu. Woo Bin membolak balik halaman komik tanpa antusias.

“Ya, aku serius. Dia cantik, tidak punya kekasih. Apa lagi yang kutunggu?” Jawab Woo Bin, lalu menatap Haneul dengan senyum lebar khas miliknya. Haneul tertawa. “Ketertarikan pada pandangan pertama, hah?” tanyanya.

Woo Bin tertawa kecil. “Yah, bisa dibilang seperti itu. Lagipula waktunya bertepatan dengan rencana ingin menolak Minah. Aku tak ingin menyakitinya. Kau tahu kan jika aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.”

Kang Haneul mengangguk. “Ya. Dan itu jelas semakin menyulitkan posisimu, bung. Tidak ada penolakan yang tidak menyakitkan. Cepat atau lambat kau akan berakhir tetap dengan menyakiti Minah. Hmm, kecuali dia tiba-tiba menyadari bahwa kau tidak sehebat itu untuk diperjuangkan.”

Woo Bin melempar komik ditangannya kearah Haneul yang dengan sigap langsung ditangkap oleh pria itu. “Sialan kau!”

 

*****

 

Jiwon memasuki perkarangan rumah Minseok yang tampak begitu asri dengan berbagai macam tumbuhan dan juga sebuah pohon besar yang membuat rimbun rumah berdesain minimalis itu. Tadinya Jiwon ingin memencat bel rumah, namun suara orang bercakap-cakap diteras samping rumah membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Ia berjalan menuju suara yang diyakininya adalah suara Minseok dan… Krystal?

Mood Jiwon langsung berubah buruk, namun percakapan Minseok dan Krystal cukup menarik perhatiannya.

“Aku tidak percaya bahwa kalian tidak pernah terlihat hubungan asmara setelah bertahun-tahun bersama.”

“Kau boleh tidak percaya, tapi memang seperti itu adanya. Kami sahabat baik.”

“Tidak ada persahabatan murni diantara laki-laki dan perempuan.” Ujar Krystal bersikeras.

“Tapi aku memang tak pernah menyimpan perasaan khusus kepada Jiwon. Aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri.”

Krystal menatap Minseok dalam. “Kau mungkin tidak, tapi bagaimana dengan Jiwon? Apa kau yakin jika dia tidak pernah menyimpan perasaan spesial terhadap dirimu?”

Minseok sempat terdiam, namun kemudian pria berwajah imut itu mengangguk yakin. “Ne, aku yakin jika Jiwon sama sepertiku.”

“Bagaimana jika tidak?” tantang Krystal. “Bagaimana jika seandainya ia mencintaimu. Apa yang akan kau lakukan?”

Jiwon menanti jawaban Minseok dengan harap-harap cemas. Ia bahkan tanpa sadar sempat menahan napas beberapa detik setelah mendengar pertanyaan Krystal, yang mana sebenarnya juga menjadi pertanyaan dibenaknya selama ini.

Apa yang akan Minseok lakukan jika tahu mengenai perasaannya?

“Aku….” Minseok menunduk, menatap rimbunan bunga lily kesayangan ibunya. “…tidak tahu. Rasanya pasti akan sangat aneh dan canggung. Semuanya pasti takkan pernah sama. Jiwon mencintaiku… adalah hal terakhir yang kuinginkan di dunia ini. Aku harap ia tidak pernah mencintaiku karena aku takkan pernah bisa membalasnya.”

Bibir Jiwon bergetar. Setetes air mata jatuh dipipinya. Sudah jelas sekarang. Ia sudah mendengar jawaban atas pertanyaannya selama ini langsung dari mulut Minseok. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bahkan Minseok tidak pernah mengharapkan perasaannya. Apa perasaan ini begitu hina?

Gadis itu berjalan dengan gontai meninggalkan rumah Minseok. Setelah agak jauh pertahanan Jiwon runtuh. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan seiring dengan isak tangis yang terdengar dari mulutnya. Wajah yang biasanya selalu tersenyum sumringah itu kini basah oleh air mata. Perasaan sakit yang dirasakan Jiwon bahkan melebihi rasa sakit saat dengan gembiranya Minseok mengatakan jika Krystal telah menjadi kekasihnya.

Karena sekarang Jiwon tahu bahwa kesempatan untuk dirinya tidak pernah ada sejak dulu…

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

12 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 3)

  1. akhirnya di lanjut juga 🙂 aish…hampir lumutan nih thor nunggu ff ini 😀
    kasihan jiwon 😥 cinta bertepuk sebelah tangan, bahkan minseok berharap jiwon tidak mencintai dirinya 😦 setuju sama eommanya jiwon & woo bin yang menjodohkan anak mereka 😀 kayaknya juga woo bin suka sama jiwon,ayo dong jiwon terima aja perjodohan itu 🙂 next thor…kalo bisa jangan lama-lama 😀

  2. Akhirnnya di post juga ya. kapan terakhir posnnya ?? Cerita yg sangat menarik aigoo jiwon pasti sakit hati sekali.. Moga woo bin bisa mengobati patah hatinnya ji won.. Karna sepertinnya woo bin mulai ada rasa sama jiwon kekee 😘😘

  3. maaf barusan komen di part ini :33 entah kenapa suka perannya woobin disini. altough aku bukan penyipper couple ini tapi i like woobin and jiwon a lots. cari ffnya kim ji won yg seru susah thor, jadi jangan patah semangat ngelanjutin yaaaa author kecee ^^

  4. Wah akhirnya update juga setelah sekian lama g dilanjut…
    Next part kasih moment wooji dong thor…

    Kisahnya jiwon sm xiumin hampir ky aq yh, hehehe… #curhat dikit gpp y?
    Aq tuh pernah ditembak sm temen q, krn aqnya g suka eh aq mlh ngejauhin dia gitu aja, aq jahat bgt y? Huhuhu y mau gimana lg aq udah suka sama seseorang.

    1. Siip, next part bakalan aku kasih momen WooJi yg sweet lah haha 😁😁 aku jg sebenarnya pernah ditembak ama temen cowok yg lumayan deket, tp sama kyk kmu, aku tolak jg soalnya udh suka sama yg lain 😦 tp bedanya, kalo dikasus aku justru si cowoknya yg malah jauhin aku. pdhl dia sendiri yg minta supaya kita ttp temenan 😥
      Anyway, makasih udh baca ^^

  5. Rasa cinta emg gak bisa diatur tumbuhnya kpn dan kpd siapa. Huhuhuuu … Uri jiwoon ,jgn sedih lgii.. Lupain minseok ,mulai membuka hati utk cowok lain ..misalnya woobin 😊😊 untung jiwoon blm jujur didpn minseok ,setidaknya dia gak terlalu malu dan persahabatannya gak jd canggung. Jiwoon fighting !

  6. Jiwon jgn sedih udah lupain perasaanmu pada minseok, udah saatnya buka hati buat pria lain. Kn udah ada woo bin udah gitu kedua orangtua udah saling ngerestuin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s