Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 4)

1426346246975

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy, 
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal
– Irene (RV)

_________________________________________

Sedih, kecewa dan marah. Ketiga rasa itu melebur menjadi satu dan sekarang menggerogoti Jiwon. Ia sangat sakit hati saat mendengar perkataan Minseok. Harga dirinya terasa tercoreng meskipun pria itu tak secara langsung mengatakan hal tersebut didepan wajahnya. Kedua tangan Jiwon mengepal dan saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan mata bengkak akibat menangis selama dua jam nonstop, Jiwon melangkah memasuki rumahnya. Ia bahkan mengabaikan sapaan dari bibi Nam, pengurus rumahnya. Wanita paruh baya itu hanya mengernyit heran melihat eskpresi Jiwon yang begitu suram, belum lagi ditambah mata sembabnya itu.

Dengan langkah amat mantap Jiwon membuka pintu kamar ibunya. Ibunya yang sedang asyik menyulam taplak meja mendongak dan tersenyum lembut menyapa putrinya. “Ada apa sayang?” Tanya Nana lembut begitu menyadari mata anak gadisnya yang sembab serta raut tak bersahabat yang hanya ditunjukkan Jiwon jika ada sesuatu yang tak berkenan dihatinya.

Jiwon menatap ibunya. “Aku setuju dengan perjodohan itu. Bahkan kalau bisa dalam bulan ini kami sudah bertunangan.” Ucap Jiwon mantap. Sama sekali tak tampak keraguan diwajahnya. Nana agak mengernyit heran, namun tak urung ia merasa senang dan puas atas jawaban yang diberikan Jiwon. Ia jadi tak sabar ingin menghubungi Yumi dan memberitahukan kabar bahagia ini.

“Kau tidak sedang bercanda kan? Kau serius?”

Jiwon mengangguk. “Ne. Amat sangat serius.”

Nana beranjak dari duduknya dan langsung memeluk sang putri erat, tak luput mengecup puncak kepala anak tunggalnya itu. “Ibu senang sekali. Ini benar-benar kabar yang membahagiakan. Ibu harus menghubungi Yumi sekarang untuk menyampaikan berita bahagia ini serta merencanakan hari yang tepat untuk pertemuan keluarga, jadi kita bisa segera membahas perihal pertunangan.” Nana tampak begitu antusias. Ia segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dengan begitu semangat ia menekan beberapa tombol sebelum kemudian menempatkan ponselnya ditelinga.

Jiwon tak terlalu memperhatikan ibunya. Gadis itu malah lebih tertarik untuk menatap kosong taplak meja yang rajutannya masih setengah jadi. Dalam hati ia kembali mempertanyakan keputusan spontannya itu. Apa ia sudah mengambil keputusan yang benar? Apa keputusan ini takkan membuahkan penyesalan diakhir nanti?

Semua pemikiran itu membuat kepala Jiwon pusing. Gadis itu menghela napas dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah sebelumnya sempat melirik kearah ibunya yang masih asyik berbincang dengan Choi Yumi.

‘Yah, aku sudah mengambil keputusan yang tepat.’ Batin Jiwon, lalu ia menutup rapat pintu kamar orangtuanya.

 

 

*****

 

 

“Ah, geure. Kalau begitu hari kamis ini kita melakukan pertemuan keluarga di rumahmu jam 7 malam, begitu?” Choi Yumi tersenyum sumringah. “Hahaha… ya, aku memang sangat antusias. Bisa dibilang ini merupakan salah satu dari sekian banyak impianku. Aku bahkan sudah bisa membayangkan betapa manisnya kedua anak kita di altar nanti. Pokoknya ini akan menjadi hal yang paling menakjubkan dalam hidupku. Baiklah, sampai bertemu hari kamis nanti.” Ucap Choi Yumi sebelum mengakhiri panggilan tersebut.

Wanita itu lalu menoleh kearah putra tunggalnya itu sembari tersenyum sumringah, membuat Woo Bin takut jika mulut ibunya bisa melar dan bahkan robek saking lebarnya senyuman wanita berambut sebahu itu. “Kau dengar sayang? Jiwon juga menerima perjodohan ini!” serunya antusias sembari mencubit gemas pipi Woo Bin. “Omo, ibu begitu bahagia dan tak sabar ingin melihat kalian segera meresmikan pertunangan. Ah, pasti kalian akan tampak manis dan serasi saat bersanding nanti.”

Woo Bin hanya tersenyum kecil menanggapi reaksi tak santai wanita yang 18 tahun lalu telah melahirkannya itu. Yumi kemudian tampak sibuk memilih baju apa yang akan dikenakannya pada bertemuan hari kamis nanti. Woo Bin menggelengkan kepalanya. Hari kamis masih empat hari lagi dan ibunya sudah terlalu heboh. Yang ingin bertunangan sebenarnya siapa sih?

Tapi hati kecil Woo Bin tak tahan untuk tak memikirkan alasan dibalik persetujuan Jiwon. Awalnya dia pikir Jiwon akan menolak mentah-mentah. Dirinya pun tak berharap banyak pada gadis itu. Tapi baru saja ia mendapatkan kabar jika Jiwon menyetujui perjodohan itu. Apa Jiwon sama seperti dirinya yang tidak terlalu ambil pusing dalam urusan asmara sehingga siapa saja yang dipilihkan oleh orangtuanya ia takkan keberatan? Tapi… bukankah biasanya wanita sangat sensitif menyangkut hal seperti ini?

Mungkin ada baiknya dia menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan untuk menjawab rasa penasarannya.

 

 

*****

 

 

“Jadi, apa ada alasan tertentu mengapa kau menerima perjodohan ini?” Woo Bin bertanya sembari menatap Jiwon intens. Jiwon balas menatap Woo Bin datar, namun masih tak menjawab pertanyaan pria itu. “Kau serius kan menerima perjodohan ini? Kedua ibu kita tampak begitu antusias dan bahagia. Aku tak ingin hanya memberikan harapan kosong kepada mereka.” Ucap Woo Bin lagi.

Jiwon menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Aku serius. Alasannya sederhana. Kita sama-sama single. Aku cantik dan kau tampan. Apa salahnya?”

Perkataan Jiwon sontak membuat Woo Bin tertawa. Pria itu merasa jika ia telah mengambil keputusan yang tepat untuk menerima perjodohan yang ditawarkan oleh kedua orang tuanya. Ia rasa bersama Jiwon akan memberikan warna baru dalam hidupnya. Gadis ini tampak begitu menyenangkan.

“Baiklah kalau begitu, mulai detik ini kau milikku dan aku milikmu? Bagaimana kedengarannya?” Woo Bin menaikkan alisnya seraya tersenyum jahil. Jiwon menatap pria itu masih dengan tatapan datarnya, namun tak lama senyum manis terukir dibibirnya. “Johta.” Jawabnya singkat. Woo Bin tersenyum seraya meraih tangan Jiwon untuk ditempatkan dilengannya.

Interaksi keduanya tak luput dari perhatian murid-murid di sekolah mereka. Melihat kedekatan keduanya membuat gossip mengenai hubungan mereka yang sempat mereda kini kembali memanas, dan bahkan semakin heboh karena adanya bukti konkrit didepan mata.

 

 

*****

 

Dengan sebuah novel terjemahan ditangannya, Jiwon berjalan menyusuri perpustakaan untuk mencari tempat membaca yang nyaman. Langkah gadis itu terhenti dan cepat-cepat ia bersembunyi dibalik salah satu rak buku begitu mendapati Minseok dan Krystal yang tengah tertawa kecil sambil membaca sebuah buku yang entah apa judulnya. Jiwon mengamati keduanya dalam diam. Perasaan marah, kecewa dan sakit hati itu kembali muncul. Jiwon benci melihat sepasang kekasih itu, terlebih pada Minseok. Ia tak habis pikir jika Minseok akan setega itu terhadap perasaan tulusnya. Karena itu juga, terhitung sudah dua hari Jiwon menjauh dari Minseok. Bahkan saat berpapasan di kantin, Jiwon memilih untuk pura-pura tak melihat Minseok dan memilih sibuk dengan ponselnya.

Dan yang semakin membuat Jiwon sakit hati… Minseok bahkan tampak tak peduli. Ia tak terlihat risau dan masih bisa tertawa sumringah.

Jiwon meringis. “Tentu saja ia masih bisa tersenyum bodoh. Gadis itu selalu ada disisinya. Dan aku tak lebih berharga dari yeoja itu.” Gumam Jiwon sembari menatap penuh emosi kearah sepasang sejoli itu. Jiwon akhirnya memutuskan untuk tidak jadi membaca novel disana. Mood-nya sudah hancur berantakan. Makan es krim sepertinya lebih menarik.

Kesialan Jiwon tampaknya tak berhenti sampai disitu. Ingin menghindari Minseok, di kantin ia malah bertemu dengan Minah serta seorang temannya yang Jiwon tidak ketahui namanya. Tadinya Jiwon ingin mundur teratur untuk menghidari perang dingin, tapi sialnya Minah sudah terlanjur melihat dirinya. Jika ia mundur teratur itu sama saja dengan menunjukkan pada hoobae-nya itu jika ia takut dan merasa terintimidasi. Oh, itu jelas bukan style Jiwon!

Alih-alih pergi, Jiwon kembali memantapkan langkahnya menuju tempat penjual es krim. Setelah mendapatkan es krim vanilla-coklat kesukaannya, Jiwon melangkah menuju salah satu meja yang kosong. Yang sialnya lagi, terletak persis didepan meja Minah. Jadilah kedua gadis itu saling bertatapan penuh isyarat sambil masing-masing memakan es krimnya. Berhubung mood Jiwon sedang buruk, ia sangat butuh pelampiasan. Kabar baiknya Minah dengan suka rela menyodorkan diri menjadi pelampiasan.

Minah menatap dengan begitu sinis. Sesekali ia akan mengerucutkan bibirnya untuk mencibir Jiwon. Hyeri yang berada diantara kedua gadis penuh api emosi ini merasa begitu canggung. Ia bahkan bisa merasakan aura panas dari kedua gadis ini.

Geumanhe.” Pinta Hyeri pada Minah yang tentunya sama sekali tidak ditanggapi. Hyeri mendecak kesal. “Yak geumanhe! Kurasa sebentar lagi aku akan mati gosong saking panasnya aura kalian berdua. Kau tidak seharusnya melakukan ini. Bagaimanapun Jiwon-ssi adalah sunbae kita. Kau mau mendapat masalah dari senior, eo? Aku sih tidak mau terlibat ya. Lagipula, bagaimana jika ia mengadu pada Woo Bin sunbae? Image mu akan buruk didepan Woo Bin sunbae. Kau mau itu terjadi, hah?”

Kali ini perkataan Hyeri berhasil menembus pikiran Minah. Gadis itu terdiam sejenak, lalu menunduk dalam sambil memainkan es krimnya yang tersisa sedikit didalam mangkuk. “Kau benar. Aku…”

“Eo Woo Bin-ah. Aku ada di kantin sekarang. Iya aku sendirian, sayang. Makanya kau kesini dan temani aku. Haha, jinjja? Ya sudah, tidak apa-apa kalau kau sibuk. Tapi sebagai gantinya nanti kau harus antar aku pulang. Otte?” Jiwon berkata dengan nada manja sambil menatap Minah dengan senyum penuh kemenangan.

Aish jinjja! Apa-apaan yeoja gila itu! Sayang? Cih, dia pikir dia siapa berani memanggil Woo Bin oppa dengan sebutan sayang?!!”geram Minah.

“Dia pacarnya. Jelas dia bisa memanggil Woo Bin sunbae dengan sebutan itu.” Balas Hyeri tanpa sengaja. Begitu sadar akan kesalahan fatalnya, Hyeri hanya dapat tersenyum tiga jari. Berlagak sok polos. “Ah, sepertinya sudah mau bel. Ayo kembali ke kelas!” ajak gadis berambut pendek itu, sebelum Minah kehilangan kendali dan membuat perang dunia ketiga pecah di kantin Jeguk High School.

Setengah menyeret, Hyeri berhasil membawa Minah pergi diiringi tatapan geli serta senyum kemenangan diwajah Jiwon.

“Ah, ini benar-benar mengasyikkan.” Jiwon tertawa kecil lalu kembali melahap es krimnya dengan perasaan puas.

 

 

*****

 

 

Sesuai janji, kamis malam ini kedua keluarga saling bertemu untuk membicarakan perihal perjodohan lebih lanjut. Nana dan Yumi tampak begitu antusias. Sejak tadi kedua wanita itu yang terus memonopoli pembicaraan, sedangkan para suami hanya sesekali menambahkan. Tapi kebanyakan mereka akan langsung setuju dengan gagasan istri-istri mereka. Toh, dalam urusan seperti ini wanita adalah ahlinya. Kedua pria paruh baya itu lebih memilih untuk berbincang soal bisnis dan politik. Sedangkan kedua tokoh utama, Jiwon dan Woo Bin justru sama sekali tak ambil pusing. Woo Bin sibuk membayangkan pertandingan basket yang akan dilakukannya minggu depan, dan Jiwon juga tak kalah sibuk memikirkan akankah Leonardo DiCaprio, aktor idolanya itu, meraih piala Oscar. Jiwon bertekad untuk langsung memeriksa media sosial miliknya untuk mengetahui kelanjutan nasib romeo nya itu.

Walhasil, tiga jam acara pertemuan, mulai dari tanggal pertunangan, cincin, dekorasi hingga urusan baju pun diputuskan oleh Nana dan Yumi. Jiwon dan Woo Bin hanya mengangguk setuju. Betul-betul bersikap manis tanpa sedikitpun keluhan.

Keduanya kemudian memilih untuk keluar dari ruang makan dan duduk di taman belakang rumah Jiwon. Mereka duduk dipinggir kolam renang, menatap beningnya air kolam yang tampak begitu tenang ditambah dengan efek pantulan sinar bulan. Keduanya hanya diam. Woo Bin menoleh kearah Jiwon yang tiba-tiba terlihat begitu sumringah yang tak urung membuatnya penasaran. Sedikit mendongak, Woo Bin berusaha melihat isi layar ponsel gadis itu.

Jiwon tiba-tiba menoleh dan mengernyit. “Apa yang kau lakukan?” tanya gadis itu.

Woo Bin tersenyum bocah. “Penasaran dengan yang sedang kau lakukan. Kau tampak begitu senang. Apa ada hal menarik?” Woo Bin bertanya penasaran. Jiwon tersenyum sumringah sembari memperlihatkan layar ponselnya.

“Ini bukan hanya hal menarik, tapi juga sangat fenomenal. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun Leonardo DiCaprio berhasil memenangkan Oscar! Kau tahu betapa kami para fansnya sudah menantikan momen ini?” Jiwon kembali menatap layar ponselnya dengan penuh suka cita. “Dan momen Leonardo serta Kate Winslet semakin menyemarakkan hari bersejarah ini.” Ujar Jiwon sangat bersemangat.

Woo Bin tak bisa menahan senyumnya. Baru kali ini ia melihat Jiwon begitu menggebu-gebu saat bercerita. Dan Woo Bin menyukai itu. Ia suka melihat berbagai macam ekspresi yang ditampilkan oleh wajah cantik gadis dihadapannya ini. Oh, atau mulai sekarang bisa disebutnya sebagai calon tunangan. Yah, hanya calon tunangan, bukan kekasih. Ini cukup aneh. Dimana-mana orang akan menjadi sepasang kekasih dulu sebelum kemudian melanjutkan ke jenjang pertunangan. Namun ia dan Jiwon justru melakukan sebaliknya.

Yah, mereka memang pasangan unik. Anti mainstream..

“Jiwon-ah…”

“Hm?”

Woo Bin menghela napas pelan seraya menatap langit malam yang cerah. “Aku tidak tahu dan tidak bisa membayangkan akan seperti apa hubungan kita nanti. Apakah akan tenang dan lancar atau malah selalu rusuh. Kita belum terlalu saling memahami sifat dan karakter masing-masing, Dan jujur saja, selama ini aku tak pernah serius memikirkan soal cinta. Jadi, yah… em… harap maklum ya jika sikapku nanti tidak seperti harapanmu.” Ucap Woo Bin. Kemudian pria itu menambahkan. “Tapi aku ini namja yang bertanggungjawab dan bisa mengalah kok. Jadi kau tenang saja.” Tambahnya disertai kekehan kecil.

Tak urung Jiwon ikut tertawa kecil. “Aku juga tak tahu akan seperti apa hubungan kita nanti. Tapi yah, kurasa mungkin kita harus mulai mengenal dan memahami sifat satu sama lain untuk mencegah situasi rusuh yang bisa terjadi. Sekedar informasi ya, aku ini termasuk orang yang mudah tersinggung dan marah. Tidak pendendam sih, tapi aku hobi merajuk. Jadi kau harus ekstra sabar menghadapiku.” ucap Jiwon.

“Baiklah tuan putri, akan kuingat baik-baik itu.”

“Ah, dan satu lagi! Aku ini juga yeoja yang pencemburu. Jadi jangan coba-coba main mata dengan gadis lain. Bersikap terlalu ramah juga tidak boleh karena mereka akan salah sangka dan berpikir kau menyukai mereka. Aku paling benci dengan namja yang hobi tebar pesona. Pokoknya jangan seperti Choi Minho yang tiada hari tanpa tebar pesona. Arasso?!

Woo Bin tertawa dan kemudian memberikan hormat gaya militer pada Jiwon. “Arasseo nona besar!”

 

*****

 

 

“Liburan ke villa?” Woo Bin menatap Kang Haneul. Haneul tersenyum kecil seraya mengangguk. “Eo. Aku ingin merayakan ulang tahun ku disana. Yah, sekaligus liburan. Sebenarnya sih Hyunshik dan Minhyuk yang mengusulkan. Ku pikir bukan ide yang buruk. Otte? Kau ikut kan? Ajak Jiwon juga.” Usul Haneul.

Woo Bin menimang sejenak sebelum kemudian ia mengangguk setuju. “Minah bagaimana?”

“Ia sudah pasti akan ada. Ia sudah terlanjur tahu mengenai acara ini dari Hyunshik. Aku tak mungkin kan mengabaikannya? Apalagi Minah sudah mendatangiku dan minta untuk diajak.” Terang Haneul. Woo Bin mengangguk paham dan tidak protes sama sekali. Ia sadar bahwa meskipun ia tidak mencintai Minah, tapi ia tak punya hak untuk menjauhkan gadis itu dari pertemanan mereka yang telah terjalin sejak beberapa tahun lalu. Dalam hati Woo Bin tak henti-hentinya berharap agar Minah segera menemukan pria yang jauh lebih baik daripada dirinya dan tentunya harus mencintai gadis itu dengan tulus.

 

*****

 

 

Minseok sadar bahwa Jiwon menjauhi dirinya. Tapi pria itu memilih untuk diam dan tidak melakukan apapun. Ia percaya bahwa Jiwon memiliki alasan yang kuat mengapa gadis itu menjauhinya. Dan ia memilih untuk memberikan gadis itu waktu untuk sendiri. Terkadang seseorang memang memerlukan waktu untuk menyendiri, seceria atau seramai apapun orang tersebut.

Tapi sialnya, diamnya Minseok justru diartikan lain oleh Jiwon. Gadis itu mencap jika sobatnya itu benar-benar sudah tidak peduli padanya. Dan rasa benci itu kian menumpuk. Beberapa teman kedua anak itu yang tahu bagaimana dekatmya mereka dulu hanya bisa mengernyit heran melihat bagaimana sekarang Jiwon dan Minseok bersikap seakan mereka saling tak mengenal.

 

*****

 

 

Ulang tahun Haneul bertepatan dengan liburan musim panas. Ada total 10 orang yang ikut berlibur ke villa. Enam orang laki-laki dan empat orang perempuan (Minah, Jiwon dan dua orang wanita teman sekelas Woo Bin yang bernama Irene dan Amber). Mereka sampai ke vila dengan menggunakan kapal kecil milik keluarga Haneul. Vila pria itu memang berlokasi di pulau terpencil di daerah Incheon.

Vila Haneul yang berdesain tropis itu ternyata cukup luas untuk menampung mereka semua. Ada total enam buah kamar disana. Dua kamar diberikan untuk para yeoja. Irene dan Amber langsung mengambil kamar yang dilantai bawah dekat pintu menuju halaman belakang sehingga pemandangan jendela kamar mereka langsung menghadap kolam renang. Mau tak mau Jiwon dan Minah harus sekamar. Mereka berdua mengambil kamar dilantai atas yang juga menghadap kearah kolam renang.

Minah menghempaskan dirinya keatas ranjang. Tak lama Jiwon masuk sambil menenteng tasnya. Minah memperhatikan Jiwon dengan sinis, sedangkan Jiwon tampak sama sekali tak peduli. Gadis cantik itu langsung berbenah sambil bersenandung senang. Acuhnya Jiwon cukup membuat Minah merasa kesal. Padahal Minah sudah bersiap-siap untuk perang secara terbuka, namun tampaknya Jiwon sama sekali tak berminat untuk meladeni gadis yang naksir setengah mati dengan calon tunangannya itu.

Tok Tok Tok

“Masuk saja!” seru Jiwon. Pintu kamar terbuka, menampakkan Irene yang tengah berdiri. Gadis itu mengenakan baju renang one piece berwarna hitam putih. Terlihat sudah sangat siap untuk berenang. “Mau berenang sekarang? Ngomong-ngomong baju renangmu bagus.” Puji Jiwon.

Irene tersipu malu. “Gomawo.” Ucapnya senang. “Ne, aku dan Amber ingin langsung berenang. Cuaca sedang panas-panasnya. Air kolam jadi terlihat begitu menggiurkan, membuat aku dan Amber jadi tak sabar ingin menceburkan diri kedalamnya. Tadinya kami ingin menunggu hingga sore saja, tapi sekarang atau nanti toh tak ada bedanya.” Irene tertawa kecil. “Ah, apa kau bawa sunblock? Kalau ada aku pinjam ya. Sunblock ku tertinggal dan Amber bukan tipe orang yang mau repot-repot untuk memakai sunblock.”

Jiwon tertawa. Ia kemudian membuka tasnya, dan mengeluarkan tas kecil yang berisi peralatan make-up miliknya. Ia mengambil sunblock dan menyerahkannya pada Irene, yang langsung disambut senang oleh gadis berambut panjang itu. “Gomawo.” Ujar Irene. “Kalian tidak berenang?” tanya Irene pada Minah dan Jiwon.

“Aku akan menyusul eonnie.” Jawab Minah sok imut.

Jiwon tampak ragu, tapi kemudian ia tetap menjawab. “Em… aku juga akan menyusul.”

Sepeninggal Irene, Minah langsung meloncat ke tempat tasnya. Dengan rasa bangga ia mengeluarkan baju renang terbaru miliknya. Saking barunya bahkan label harga masih menggantung dibaju renang itu. Baju renang Minah juga model one piece sama seperti yang dikenakan Irene, namun backless dan berwarna merah menyala sehingga terlihat lebih seksi daripada milik Irene. Ditambah dengan belahan dadanya yang cukup rendah. Minah sudah sangat menantikan untuk mengenakan baju renang itu. Begitu tahu bahwa Haneul akan merayakan ulang tahun di vilanya, Minah langsung buru-buru membeli baju renang baru. Ia bahkan rela meronggoh sakunya lebih dalam hanya untuk itu. Tujuannya jelas, ia ingin menjadi pusat perhatian. Lebih tepatnya pusat perhatian Woo Bin.

Jiwon mencibir saat melihat Minah yang telah menggunakan baju renangnya. “Ingin berenang, apa pamer dada sih.” Bisik Jiwon. Untung hanya dia yang bisa mendengarnya. Karena jika sampai Minah dengar, maka dapat dipastikan perang akan pecah saat itu juga. Jiwon menatap baju renang miliknya yang berwarna soft pink dengan perasaan gundah gulana.

 

 

*****

 

 

Ternyata tidak hanya Irene, Amber dan Minah saja yang berada disana. Namjadeul yang lain juga berada disana. Woo Bin, Hyunshik, Minhyuk dan Sungjae sudah berada di dalam kolam, sedangkan sisanya hanya duduk santai di kursi berjemur sembari menikmati minuman dingin. Jiwon merapatkan jubah handuknya. Gadis itu berjalan perlahan menuju salah satu kursi berjemur tepat disebelah Haneul.

Haneul menoleh untuk menyapa Jiwon. “Hai, tidak berenang?” tanya pria itu ramah. Jiwon tersenyum kecil. “Nanti saja. Masih agak lelah.” Jawab Jiwon.

Haneul mengangguk paham, kemudian kembali menoleh kearah kolam dimana teman-temannya sedang tampak asyik bermain air. “Mereka terlalu bersemangat. Padahal masih ada beberapa hari yang akan kita habiskan disini.” Ucapnya. Jiwon ikut menoleh kearah kolam dan seketika ekspresinya berubah masam saat melihat Minah dan Woo Bin yang baru saja selesai lomba renang.

Tiba-tiba Woo Bin menoleh kearah Jiwon, membuat keduanya saling memandang selama beberapa detik. Woo Bin kemudian naik dari kolam. Tetesan air berjatuhan dari tubuhnya. Entah mengapa melihat pemandangan itu cukup membuat Jiwon gugup. Ini kali pertamanya melihat Woo Bin shirtless dan Jiwon menyukainya. Lagipula Jiwon yakin bahwa semua yeoja pasti juga akan begitu menikmati jika disuguhi pemandangan indah macam ini. Bayangkan saja, dihadapannya ada seorang namja tinggi, tampan dan berbadan layaknya model. Begitu proporsional ditambah dengan otot yang tidak terlalu menggembung. Ini sih namanya perfecto!

Dan hebatnya lagi, pria itu adalah calon tunangannya!

“Tidak berenang?” Suara Woo Bin menyadarkan Jiwon dari lamunan tak pentingnya. Gadis itu mendongak untuk menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Jiwon semakin terpana saat dengan gerakan bak model yang tengah berpose, Woo Bin menyibak rambutnya. “Hei?”

Jiwon terkesiap. “Ah… naega..”

“Ayo gabung bersama kami!” Woo Bin mengulurkan tangannya. Jiwon menatap tangan itu dengan ragu, namun akhirnya ia tetap meraih tangan tersebut. Jiwon bangkit dari duduknya, membuka jubah mandinya, lalu mengikuti langkah Woo Bin menuju kolam.

“Ah, jamsimanyo!” Jiwon menahan tangan Woo Bin. Wajah gadis itu agak panik. “Keuge… kolamnya… seberapa dalam?” tanya Jiwon sambil berbisik. Woo Bin sempat mengernyit bingung, tapi setelahnya ia mengerti situasi. Seketika senyum jahil muncul diwajah tampan itu. “Ah, aku tahu sekarang. Kau… tidak bisa berenang ya?” Woo Bin ikut berbisik sambil tersenyum jahil.

Jiwon reflek memukul lengan pria itu. “Jangan mengejekku! Aku bisa berenang kok, tapi tidak ditempat yang dalam.” Bela Jiwon yang seketika mengundang tawa Minah. Ternyata gadis itu telah berdiri tepat dibelakang Jiwon dan Woo Bin sehingga ia bisa mendengar percakapan mereka. Jiwon menatap Minah tajam, sedangkan Minah malah menyunggingkan senyum mengejeknya. Senang rasanya saat bisa mengetahui kelemahan lawanmu. Sekecil apapun itu.

“Wah, sayang sekali eonnie tidak bisa berenang. Padahal aku baru saja ingin mengusulkan agar besok kita menyelam. Pemandangan bawah air disini sangat bagus. Tapi kalau eonnie tidak bisa berenang sebaiknya eonnie menunggu kami di villa saja.” Minah berkata sok bijak, padahal dalam hati ia sedang menari hula-hula saking senangnya. “Sayang sekali eonnie tidak bisa berenang, padahal Woo Bin oppa sangat suka berenang.”

Suara Minah yang memang sengaja menggunakan volume maksimal, sontak membuat pembicaraan mereka turut didengar oleh teman-teman Woo Bin yang lain. Jiwon jadi malu setengah mati karena ternyata disana hanya dirinyalah yang tidak bisa berenang. Salahnya juga yang tidak pernah serius saat les berenang ataupun saat Minseok mengajarinya. Jiwon memang tidak suka jika kepalanya berada terlalu lama dalam air. Sangat menyeramkan baginya karena tidak ada oksigen. Saat ia masih kecil saja, Jiwon harus dipegangi oleh babysitternya jika ingin keramas. Yah, karena itu tadi, ia benci jika kepalanya diguyur air.

Woo Bin tersenyum kemudian mengusap kepala Jiwon, yang seketika membuat senyum kemenangan Minah sirna tak berbekas. Nah, sekarang gantian Jiwon yang tersenyum sombong. Apalagi saat Woo Bin dengan penuh sukarela menawarkan diri untuk mengajari Jiwon berenang. Kesempatan emas, bukan?

 

*****

 

 

“Woo Bin-ah, aku masuk ya?” Jiwon mengintip kamar yang ditempati oleh Woo Bin dan Haneul. Sejak tadi ia sudah mengetuk pintu namun tak kunjung mendapat balasan dari Woo Bin. “Ah, pantas saja… Sedang tidur rupanya.” Gumam Jiwon saat mendapati pria yang dicarinya tengah bergelung nyaman dalam selimut. Jiwon tak bisa menahan senyumnya saat melihat bagaimana damainya Woo Bin dalam tidurnya. Ah, pria ini keterlaluan sekali! Bahkan saat sedang tidur pun ia tetap terlihat layaknya model yang tengah berpose.

Jiwon duduk dipinggir ranjang, tepat disebelah Woo Bin. Tangannya terjulur ke hadapan wajah Woo Bin, memastikan selelap apa pria itu. Dan ternyata sungguh lelap. Ia sama sekali tidak terganggu dengan ulah Jiwon yang melambaikan tangan didepan wajahnya. Mungkin efek kelelahan dari berenang tadi. Karena sebenarnya pun Jiwon juga agak mengantuk. Melihat Woo Bin yang sedang begitu lelap membuat ide konyol bin jahil Jiwon muncul dipermukaan. Dilepasnya ikat rambut dipergelangan tangannya, kemudian ia mengambil sejumput rambut Woo Bin dan seperti yang sudah kalian tebak, Jiwon mengikat rambut pria itu hingga tampak seperti nanas. Sesudahnya Jiwon malah tertawa geli sendiri. Tak lupa ia mengabadikan Woo Bin versi imut ini dengan ponselnya.

Aigoo… neomu gwiyeowo! Fans mu pasti akan menggila saat melihat ini. Aku bahkan yakin jika mereka mau membeli foto ini dengan harga mahal.” Kekeh Jiwon. “Tapi berhubung kau milikku, jadi aku takkan memberikan ini pada mereka. Cukup menjadi koleksi pribadiku saja.” Bisiknya jahil.

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

10 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 4)

  1. akhirnya dilanjut juga,harus extra sabar nih nunggu ff ini 😀 hehe… krn cuma di sini yg cast utama nya mereka 🙂
    ji won..keputusan untuk menerima perjodohan itu udah tepat,toh woo bin juga setuju kan…biar minseok nyesel atas ucapanya.
    lucu thor waktu scene ji won & minah 😀 haha…kayaknya mereka ngga bakal akur deh,apalagi kalo tau ji won & woo bin akan segera tunangan 🙂 suka juga scene ji won & woo bin,walopun dijodohkan sikap mereka sweet bgt 😍 apalagi jiwon udah mulai jail tuh sama woo bin 😁 siap2 minah cemburu 😀😁next thor…kalo bisa sih jangan lama-lama 😁hehe…

    1. Makasih bgt ya udh baca ff ini. iya, emg susah nemu yg cast mereka. Pdhl mereka cocok loh haha.. ditunggu aja ya next chapnya buat liat interaksi kocak minah jiwon xD

  2. Waahh akhirnya dilanjut juga ffnya!! Aku suka banget thorr ini ff. Soalnya aku emang suka banget sm jiwon-woobin couple! :Dd. Ihh tp si minah nyebelin juga yaa.

    Oke deh thor jgn lama2 yaa postnya! Aku tunggu loh chapter selanjutnya.. Jangan sampai stop yaa thor. Hwaiting!! :Dd.

  3. Waahh bagus banget thor ffnya!! Apalagi castnya jiwon sm woobin.. Aku suka banget sm mereka!! ><

    waahh minahnya nyebelin yaa! Ok deh thor jangan lama2 yaa chapter 5 nya. Aku tunggu loh! Soalnya nyari ff jiwon-woobin susah banget! Hwaiting thor!! Jgn sampe stop yaa! :Dd.

    1. Waaah seneng bgt bisa ketemu sama pecinta couple ini! 😀 Iy nih, susah bgt emg cari ff yg cast nya mereka. Soalnya couple ini krg favorit. Pdhl chemistry mereka bagus bgt di the heirs. Makasih ya udh baca dan komen. Ditunggu aja next chapternya 😁

  4. Waahh daebak.. Seru banget thor ffnya! Apalagi cast nya jiwon sama woobin.. Aku suka banget sm mereka ber2!! ><" .

    Oh iya jangan lama2 updatenya yaa thor.. Aku tunggu loh part 5 nya!! Jangan sampai stop yaa! Hwaiting thor! :Dd .

  5. Hahha akhirnnya di post juga ..enggak sabar buat menunggu cerita selanjutnnya?? Apa hub jiwon dan misoek akan baik lag?? Kisah cinta jiwon dan woo bin baru akan di mulai 😣😣😣

  6. Part yg ini aku suka bgt ,akhirnya ji woon nerima perjodohannya dg woobin .walopun atas dasar sakit hati sm minsoek. Tp aku yakin gak sulit buat jiwoon melupakan minseok dan mulai mencintai woobin. Sebel bgt sihh sm minah ,sengaja bikin malu jiwoon krn jiwoon gak bisa berenang. Untung dibelain woobin. Kyknya woobin udh mulai suka beneran sm jiwoon 😆😆

  7. Aigoo ternyata jiwoon juga usil y. Apa jadinya kalau woo bin tau pasti mereka akan saling ribut justru di saat mereka saling ribut aq suka coz terlihat so sweet bgt hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s