Diposkan pada Chapters

The Bodyguard (Part 12)

1425994224260

Author : Cho Haneul
Title      : The Bodyguard
Genre   : Romance, Drama
Type     : Chaptered
Poster   : @shirlyuanaaa

Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Yura (Kim Ah Young)
– Cho Kyuhyun
– Lee Donghae
– Lee Hyukjae

_________________________________________________

author’s note : Chapter ini lebih condong ke cerita ah young & kyuhyun. Jadi please jgn pada badmood (aku tahu msh byk yg ga suka couple ini XD) chapter selanjutnya akan fokus ke HaeJi couple. Lagian chapter kmrn moment HaeJi udh bejibun kan wkwkwk, skrg gantian lah. Semoga chapter ini ga ngebosenin. aku berusaha buat bikin ceritanya ga bertele-tele. I hope it works though 🙂 Happy reading my dear readers. See you soon ❤ :*

 

_________________________________________________

Hwang Tae Jun masih masih menatap Park Jinyoung dengan seksama, berusaha untuk menemukan sedikit saja cela dibalik perkataannya melalui raut wajah pria tua tersebut. Tapi Hwang Tae Jun sama sekali tak menemukan itu. Tampaknya Park Jinyoung memang amat sangat serius dengan penawaran menarik yang baru beberapa saat lalu ditawarkannya.

“Ini kerja sama yang menguntungkan.” Park Jinyoung kembali meyakinkan Tae Jun. “Kau hanya perlu membawa Ah Young sejauh mungkin dari sini dan aku akan memberikanmu uang yang banyak. Bukankah ini sangat menguntungkanmu? Kau mendapatkan gadis itu kembali disertai nominal uang yang besar. Aku tak main-main dengan ucapanku.” Ujar Park Jinyoung.

Hwang Tae Jun tersenyum licik. Jelas ini merupakan penawaran yang dilihat dari sudut manapun amat sangat menguntungkannya. Tanpa pikir panjang pria mata duitan itu menerima sepenuh hati tawaran Park Jinyoung. Tidak ia sangka jika anak tirinya itu suatu saat akan memberikan keuntungan berlipat ganda untuknya. Ia masih bisa menjual Ah Young seperti rencana awalnya.

“Secepatnya aku akan membawa gadis itu pergi jauh. Kau tidak perlu risau mengenai itu. Cukup siapkan uang yang kau janjikan.”

 

 

*****

 

 

Ah Young dan Kyuhyun menikmati makan malam mereka dalam diam. Sesekali gadis cantik itu mencuri pandang kearah Kyuhyun. Sebenarnya ia ingin memulai percakapan, namun bingung harus membahas tentang apa. Akhirnya Ah Young kembali menutup mulutnya yang beberapa detik lalu hendak memecah keheningan.

“Jika tidak ada hal yang penting, lebih baik kau tetap tinggal di apartemen. Lagipula kampus masih libur sampai dua bulan kedepan.” Ucap Kyuhyun, memecah keheningan di meja makan. Ah Young menatap pria yang duduk disebrangnya, lalu mengangguk patuh. Toh, ia memang tidak punya aktivitas yang mengharuskannya untuk keluar dari apartemen. Jadi ia rasa permintaan Kyuhyun sama sekali tak mengganggunya.

Seusai makan keduanya membereskan meja dan mencuci peralatan makan. Awalnya Ah Young ngotot ingin melakukannya seorang diri, tapi ternyata Kyuhyun tak kalah keras kepalanya dari gadis itu. Jadilah keduanya bahu-membahu membersihkan sisa makan malam mereka. Ah Young mencuri piring dan Kyuhyun menyusun piring-piring yang telah bersih itu ke rak. Suasana diam masih mendominasi, tapi keduanya tak keberatan. Justru mereka menikmati keheningan yang tercipta.

“Apa kau akan kembali tinggal di rumah tuan Park?” tanya Ah Young sembari menyerahkan piring terakhir yang telah dibilasnya kepada Kyuhyun. Kyuhyun meraih piring itu dan meletakkannya di rak, lalu mengelap tangannya. “Mungkin? Kenapa?” tanya Kyuhyun.

“Emm… jika kau kembali kesana aku pasti akan kesepian disini sendirian. Tapi sudahlah, tidak usah dipikirkan.” Ah Young mengibaskan tangannya, tak lupa menampilkan senyum sumringahnya yang sudah beberapa hari ini tak terlihat diwajah cantiknya.

Kyuhyun menimbang sejenak, kemudian pria tampan itu menatap Ah Young. “Mungkin juga aku takkan kembali.” Ucapnya yang sontak menggetarkan hati Ah Young. Gadis itu berusaha untuk menahan senyumannya, tak ingin tampak konyol dimata Kyuhyun.

 

*****

 

 

Panggilan disebrang sana ditutup, beriringan dengan helaan napas Donghae yang terdengar berat, pertanda bahwa pria itu tengah dirundung persoalan pelik. Jiyeon mengamati kekasihnya itu sejenak, sebelum dengan perlahan gadis cantik itu memutuskan untuk menghampiri Donghae. Sentuhan lembut dibahunya cukup membuat Donghae terkesiap. Senyuman teduh nan menenangkan tampak diwajah tampannya.

“Apa itu tadi Woo Bin-ssi?” tanya Jiyeon sembari mengelus pipi Donghae. Donghae menggenggam tangan Jiyeon yang berada dipipinya. Ia mengangguk, membenarkan tebakan Jiyeon. “Apa terjadi sesuatu yang buruk di perusahaanmu?” tanya Jiyeon lagi. Tiba-tiba batinnya menjadi tak tenang. Tak ayal ia juga turut dirundung rasa bersalah karena dirinya telah menahan Donghae selama empat hari di vila, membuat pria itu tak dapat mengurus perusahaannya dengan fokus.

Donghae menggeleng. Ia menarik Jiyeon kedalam pelukannya. “Woo Bin mengabarkan jika ada perusahaan lain yang bersedia membantu kami dan memberikan pinjaman dana untuk menutupi kerugian proyek.”

“Maaf… seharusnya saat ini oppa fokus pada perusahaanmu, bukannya malah terdampar disini bersamaku.” Ucap Jiyeon pelan dengan lirih.

Donghae kembali tersenyum manis. “Gwenchana. Aku tak keberatan ikut terdampar bersamamu disini. Bukankah pelarian kita ini sangat menyenangkan, eo? Anggap saja jika kita sedang berlibur. Lagipula sudah lama sekali aku tidak berkunjung kesini.” Donghae berusaha untuk membesarkan hati gadisnya dan menepis jauh-jauh rasa bersalah yang dirasanya tak perlu itu. “Ah, bagaimana jika kita memancing? Kau belum pernah, kan?” Ajak Donghae. Raut wajah Jiyeon langsung berseri-seri persis seperti kala ia diberikan kelonggaran jam malam oleh kedua orangtua angkatnya dulu.

“Ayo! Ayo!”

 

*****

 

 

Dengan lincah dan luwes, Ah Young menggoreskan pensil keatas buku sketsa miliknya. Sudah cukup lama ia tidak menyentuh benda kesayangannya itu. Lagipula, untuk saat ini menggambar merupakan satu-satunya hiburan yang menyenangkan untuknya. Kyuhyun sedang sibuk-sibuknya di perusahaan akibat menghilangnya Jiyeon. Dan ia pun dituntut oleh tuan Park untuk sesegera mungkin menemukan Jiyeon. Ah Young sendiri sebenarnya khawatir dengan keadaan Jiyeon. Tapi Kyuhyun bilang bahwa Jiyeon pasti baik-baik saja karena ia bersama Lee Donghae. Ya, Ah Young percaya itu. Donghae pasti akan semaksimal mungkin menjaga Jiyeon.

Ah Young tidak menyadari bahwa Kyuhyun sudah pulang dan tengah mengamatinya. Senyum tipis tampak terukir dibibir Kyuhyun ketika melihat objek yang dilukis Ah Young. Itu wajahnya. Tampaknya Ah Young tak mengenal bosan untuk terus mengabadikan wajahnya. Bahkan hampir setengah isi buku sketsa milik gadis itu berisi wajahnya.

Dehaman Kyuhyun sontak membuat Ah Young menoleh. Dengan sigap gadis itu menutup buku sketsanya. Wajahnya terlihat gugup layaknya orang yang kepergok melakukan suatu kesalahan.  Ah Young berdiri canggung. “Selamat datang.” Sapanya.

“Sudah makan?” tanya Kyuhyun.

“Belum. Aku menunggumu. Em… oppa belum makan kan? Aku sudah masak.” Ah Young berkata malu-malu. Kyuhyun melirik kearah meja makan dan mendapati meja tersebut sudah terisi dengan berbagai macam makanan yang mengugah selera.

“Ayo makan.” Ajak Kyuhyun sambil berjalan menghampiri meja makan. Ah Young tersenyum sumringah, lalu mengikuti Kyuhyun.

Selesai makan keduanya duduk diam didepan televisi yang menyala. Malam belum terlalu larut, baru menunjukkan jam 8 malam. Sudah tiga hari lamanya Ah Young tinggal di apartemen Kyuhyun dan interaksi diantara mereka hanya terjadi saat sarapan pagi dan makan malam. Karena biasa Kyuhyun pulang begitu larut, jadi setelah makan keduanya langsung pergi ke kamar masing-masing. Baru kali ini mereka menyempatkan diri untuk duduk santai sambil menikmati secangkir teh.

“Oppa sakit?” Ah Young menatap Kyuhyun cemas. Sebenarnya sudah sejak tadi gadis itu memperhatikan wajah Kyuhyun yang tampak agak pucat. Belum lagi dengan gerak gerik Kyuhyun yang terlihat begitu lemas, serta peluh yang sejak tadi membasahi wajah tampannya itu.

Kyuhyun menoleh kearah Ah Young. “Aku merasa tak enak badan.” Jawabnya singkat.

“Sudah minum obat?”

“Sudah.”

Percakapan terhenti disana. Ah Young masih cemas. Tak terhitung berapa kali ia diam-diam mencuri pandang kearah Kyuhyun. Kyuhyun sendiri bukannya tak tahu, tapi ia memilih untuk tak terlalu menghiraukan kekhawatiran gadis disebelahnya itu. Ia sudah terbiasa menahan sakitnya seorang diri. Merepotkan orang lain bukanlah ciri khas Cho Kyuhyun.

Makin lama peluh dingin semakin membanjiri wajah Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun sudah tak dapat menahan rintih kesakitannya lagi. Jelas itu semakin membuat Ah Young khawatir. Baru saja ia ingin mendekati Kyuhyun, tapi Kyuhyun malah memilih untuk kembali ke kamarnya. Ah Young diam sembari mengamati langkah Kyuhyun yang tertatih. Hatinya semakin tidak tenang.

 

*****

 

 

“Mungkin kita harus kembali secepatnya.”

Donghae menatap Jiyeon bingung. “Kenapa? Kau bosan disini?”

Jiyeon menggeleng. “Bukan itu. Aku hanya merasa bahwa sudah saatnya kita maju menghadapi masalah kita. Kau tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu begitu saja. Kau harus bertanggung jawab. Dan aku juga harus bertanggung jawab pada masalahku sendiri.” Ucap Jiyeon.

Donghae menggenggam jemari lembut Jiyeon. “Kita akan menghadapinya bersama. Masalahmu adalah masalahku juga.” Donghae kemudian menghela napas. “Baiklah kalau begitu. Besok kita kembali ke Seoul, tapi kau tinggal di tempatku. Otte?”

“Baiklah.” Jawab Jiyeon, lalu ia menyandarkan kepalanya dibahu Donghae, tempat ternyaman untuknya saat ini.

 

*****

 

 

Ini cukup nekat, tapi Ah Young tidak peduli. Hatinya terasa resah mengingat Kyuhyun yang sedang sakit. Akhirnya disanalah ia berdiri. Tepat didepan pintu kamar Kyuhyun. Dengan ragu tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban sama sekali. Entah Kyuhyun sudah terlalu lelap hingga tak mendengar, atau memang pria itu yang sengaja mengabaikan.

Kembali dengan mengandalkan nekat, Ah Young membuka pintu kamar Kyuhyun dengan pelan. Pintu kamar ternyata tidak dikunci. Ah Young mengintip sejenak dan mendapati kamar Kyuhyun kosong melompong. Dahinya mengernyit bingung. Tanpa permisi Ah Young melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa hitam putih itu. Harum maskulin seketika menyapa indera penciumannya.

Klek

Suara pintu yang terbuka sontak membuat Ah Young menoleh ke asal suara. Tampak Kyuhyun yang baru keluar dari kamar mandi. Gilanya, namja itu dalam keadaan topless, yang tentunya membuat wajah Ah Young memanas maksimal. Gadis itu langsung membuang muka ke samping. “Mian sudah masuk tanpa izin. Aku hanya khawatir dengan kondisimu.” Ucap Ah Young gugup. Perlahan ia kembali menoleh kearah Kyuhyun, ingin melihat bagaimana ekspresi wajah pria tampan itu. Namun Ah Young justru terkesiap kala melihat pantulan punggung Kyuhyun dari cermin kamar mandi dibelakang pria itu.

“Punggungmu…” Ah Young bahkan tak sanggup berkata-kata saat mendapati punggung tegap dan kokoh itu dipenuh luka. Lukanya bahkan masih terlihat basah dan ada pula yang mulai bernanah. Oh tidak! Apa yang terjadi?!

“Apa yang terjadi?” tanya Ah Young lirih.

Kyuhyun hanya menampakkan ekspresi datar. Pria itu meraih baju kaos yang tergantung di rak dan hendak mengenakannya, namun dengan sigap Ah Young menahan tangan Kyuhyun, membuat keduanya saling bertatapan tanpa kata. “Biar ku obati.” Suara Ah Young terdengar begitu lirih.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

“Kalau kau bisa, lukanya tak akan mungkin infeksi seperti itu! Izinkan aku yang mengobatimu. Atau kau mau ku seret ke rumah sakit?!” Seru Ah Young kesal. Menyeret Kyuhyun? Bahkan mendorong namja itu saja ia tak mampu. Dalam hati Ah Young berharap agar ia tidak benar-benar harus mengerahkan tenaga untuk menyeret Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus. “Terserah kau.” Ia tidak jadi mengenakan kaosnya dan memilih untuk duduk diam diatas ranjang, yang secara tidak langsung menandakan jika ia mengizinkan gadis itu untuk merawat lukanya. Ah Young tersenyum kecil. “Tunggu sebentar!” Pintanya sebelum berlari kecil menuju dapur dimana kotak P3K disimpan.

Dengan telaten Ah Young membersihkan luka dipunggung Kyuhyun sebelum menabuhkan obat dan kemudian menutupinya dengan perban. Kyuhyun hanya diam selama proses berlangsung. Tak terdengar sedikitpun rintihan atau ringisan dari mulut pria dingin itu. Entah karena memang tidak merasa sakit atau pria itu mati-matian menahan rasa sakitnya. Ah Young juga mendapati ada banyak bekas luka disana yang sepertinya sudah lama. Berarti Kyuhyun memang sering terluka. Apa selama ini ia selalu mendiamkan lukanya hingga mengering dengan sendirinya?

“Banyak bekas luka. Rasanya pasti sakit sekali.” Bisik Ah Young sembari menyentuh punggung Kyuhyun dengan penuh kelembutan. “Siapa yang mengobati lukamu selama ini?” tanya gadis itu dengan wajah yang begitu sendu.

“Tidak ada.”

Jawaban Kyuhyun membuat hati Ah Young terenyuh. Mata gadis itu bahkan jadi berkaca-kaca. “Jika luka lagi, jangan ragu untuk meminta bantuanku untuk mengobatimu.” Gumam Ah Young. Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Ah Young. Wajah pria itu masih tampak pucat, namun sudah tidak mengeluarkan peluh sebanyak tadi. Sepertinya pain killer yang tadi diminum Kyuhyun mulai bekerja.

“Terima kasih.” Ucap Kyuhyun tulus sembari menatap Ah Young intens, yang dibalas dengan seulas senyum lembut oleh gadis itu.

 

 

*****

 

 

“Jadi mereka sudah kembali ke Seoul?” Tanya Lee Dongjun kepada informannya. Si informan mengangguk sopan. “Ne sajangnim. Mereka baru saja tiba di apartemen Donghae hari ini. Apa saya harus bergerak sekarang?”

Lee Dongjun tersenyum tipis, namun tampak begitu licik. “Tahan sebentar. Aku ingin ini semua berjalan dengan lancar. Aku harap tak ada kegagalan seperti kebakaran di salon itu.” Ujar Dongjun. Si informan berkata sopan. “Jangan khawatir sajangnim. Untuk kali ini saya pastikan target takkan meleset. Kalau begitu saya permisi.” Pria berpakaian hitam itu membungkuk sopan sebelum meninggalkan ruang kerja Lee Dongjun. Senyum sumringah terukir diwajah pria paruh baya itu. Ia sudah tak sabar ingin melihat kehancuran Park Jinyoung, mantan sahabat yang sudah dengan tega menghianati dirinya.

Semua perbuatan pasti ada balasannya. Entah itu saat masih di dunia atau di akhirat nanti. Dan Dongjun memilih untuk melakukannya sekarang. Dengan tangannya sendiri. Ia akan membuat Park Jinyoung hancur. Persis sehancur dirinya puluhan tahun silam.

 

>>>Flashback Starts<<<

Lee Dongjun dan Park Jinyoung. Keduanya merupakan anak perantauan yang mengadu nasib di ibu kota, dengan harapan bahwa kehidupan mereka akan menjadi jauh lebih baik. Memiliki nasib yang sama membuat keduanya cepat akrab hingga menjadi sahabat. Mereka bekerja di sebuah perusahaan kontruksi kecil selama bertahun-tahun. Berkat usaha yang giat dan  disertai sifat pantang menyerah, keduanya telah berhasil membawa perusahaan kontruksi tersebut ke level yang tinggi dengan berkali-kali Dongjun dan Jinyoung memenangkan kontrak yang bernilai milyaran won. Hal ini membuat Shin Dong Hee, sang kontraktor sekaligus pemilik perusahaan, memberikan kepercayaan lebih kepada keduanya.

Namun sayangnya, hal tersebut justru menjadi pemicu kerenggangan hubungan dua sahabat itu. Bukannya saling mendukung, Dongjun dan Jinyoung justru saling bersaing untuk mendapatkan posisi tertinggi. Persaingan mereka makin lama menjadi makin tak sehat. Segala cara dilakukan untuk menyingkirkan lawan. Hingga puncaknya, Jinyoung melakukan kecurangan dengan mengkambing hitamkan Dongjun atas perbuatannya.

Jinyoung menggelapkan uang perusahaan yang seharusnya dipakai untuk mengerjakan proyek pembuatan jalan sehingga perusahaan menjadi kalang kabut karena harus mencari uang lain untuk mengerjakan proyek yang sudah harus rampung dalam beberapa bulan. Dengan segala macam triknya, ia berhasil melimpahkan kesalahan pada Dongjun. Dongjun yang merasa tak bersalah pun berontak. Tapi naas, semua bukti penggelapan merujuk padanya. Shin Dong Hee murka. Tanpa pikir panjang ia memecat Dongjun dan meminta ganti rugi yang jika tidak bisa dipenuhi, maka kurungan penjara menanti.

Dan hasilnya… Dongjun tidak bisa membayar uang yang diminta. Dalam sekejap mata pria itu kehilangan segalanya. Ia kehilangan pekerjaan, kepercayaan orang-orang, bahkan keluarganya sendiri dan juga kebebasannya. Bertahun-tahun ia harus mendekam di penjara atas sesuatu yang bukan kesalahannya.

Setelah keluar dari penjara, Dongjun benar-benar memulai semuanya dari awal. Di saat ia harus banting tulang untuk bertahan hidup, ia malah mendapati Park Jinyoung, penyebab utama kehancurannya, sedang berada dalam puncak kejayaan. Ternyata dalam beberapa tahun ini Jinyoung berhasil membangun usahanya sendiri dan perusahaannya perlahan namun pasti terus naik hingga mencapai puncak. Hingga menjadikan Park Jinyoung sebagai deretan konglomerat di Korea Selatan, dan bahkan Asia.


>>>Flashback End<<<

 

“Kalau Tuhan tidak membalasmu sekarang, maka aku akan melakukannya sendiri. Junbidwaeseo nae chingu…

 

 

 

*****

 

 

“Apa kau akan pulang larut?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengambil berkas penting di Woo Bin dan mungkin berbincang sejenak. Tapi tampaknya aku akan makan malam di luar, jadi kau makan duluan. Tidak usah menungguku, ara?” Ujar Donghae seraya menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya. Bibir Jiyeon mengerucut maju. Ia paling malas jika harus melewati jam makan sendirian, membuatnya merasa amat kesepian dan mengingatkannya pada kenangannya bersama ayah dan ibu angkatnya.

Donghae mengecup bibir mungil itu sekilas. “Aku tahu betapa kau benci makan sendirian, tapi kumohon jangan lewatkan makan malammu.”

Jiyeon menghela napas. “Baiklah. Sudah sana pergi. Woo Bin pasti sedang menunggu.”

“Wah, aku diusir dari apartemenku sendiri.”

“Bukan seperti itu. Jika kau telat pergi maka otomatis kau akan telat pulang.”

“Hahaha, arasso. Ya sudah, aku pergi sekarang. Hati-hati disini. Jangan pergi ke luar jika tidak penting. Dan jangan membuka pintu untuk orang asing.”

Jiyeon tertawa kecil mendengar perkataan Donghae yang persis seperti perkataan kedua orangtua angkat dulu saat ia masih kecil. “Kau persis seperti ayahku. Dia selalu mengucapkan kalimat persis seperti itu jika ayah dan ibu terpaksa harus meninggalkanku sendirian di rumah.”

Donghae tersenyum, lalu meraih Jiyeon kedekapannya, mencium dahinya dengan lembut, baru setelahnya ia benar-benar pergi dari apartemen. Kebahagiaan tampak begitu jelas di wajah Jiyeon. Berada disisi Donghae adalah keputusan yang tepat karena pria itu adalah pusat kebahagiannya saat ini. Semuanya akan menjadi lebih sempurna jika orangtua angkatnya juga berada disisinya. Mengingat kedua orang yang paling berjasa dalam hidupnya itu membuat hati Jiyeon terasa tercubit, menyisakan rasa perih kala mengingat bahwa ia tak tahu dimana keberadaan mereka.

 

*****

 

 

Hyukjae berlari di koridor kantor menuju ruang kerja Kyuhyun dengan wajah panik. Tak dipedulikannya pandangan para karyawan yang sedari tadi tertuju kearahnya. Ada yang lebih penting saat ini daripada memikirkan pandangan orang-orang tersebut terhadap dirinya. Dalam hati Hyukjae mengutuk ponsel Kyuhyun yang sejak tadi mati hingga panggilannya tidak masuk. Kalau bukan karena itu, Hyukjae pasti lebih memilih untuk menelpon Kyuhyun daripada berlari seperti ini.

Tanpa permisi ia membuka pintu ruang kerja Kyuhyun. Tiga orang pria disana langsung menoleh dan menatap Hyukjae bingung. Kyuhyun yang sadar jika ada hal penting yang ingin Hyukjae sampaikan, menyuruh kedua bawahannya untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.

Hyukjae menunggu keduanya benar-benar pergi baru kemudian membuka suara.

“Ponselmu kenapa mati, eo? Terpaksa aku harus berlarian seperti orang bodoh.”

“Ada apa?”

“Kurasa kau harus pulang ke apartemenmu. Tuan Park berniat untuk melakukan sesuatu pada Ah Young, dan kali ia merekruit Hwang Tae Jun. Kau tahu kan apa artinya?” Wajah Hyukjae tampak begitu serius dan juga panik.

Kyuhyun langsung tersentak. Kehadiran Hwang Tae Jun merupakan bencana untuk Ah Young. Dengan panik Kyuhyun menyambar ponsel dan kunci mobil miliknya di atas meja. Dengan langkah cepat serta lebar, ia berjalan menuju parkiran. Tidak dihiraukannya sapaan para karyawan yang sejak tadi menyapanya. Tangannya sibuk mengotak atik ponselnya untuk menghubungi Ah Young. Tak ayal umpatan terdengar dari mulutnya kala Ah Young tak kunjung menjawab panggilannya.

Beruntung jalanan Seoul sedang tidak terlalu padat karena ini sudah lewat dari jam makan siang sehingga Kyuhyun bisa leluasa untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Sebelah tangannya masih sibuk dengan ponselnya, masih berusaha untuk menghubungi Ah Young.

Yoboseyo?

Entah diusaha yang keberapa panggilan tersebut akhirnya dijawab oleh Ah Young.

“Kenapa baru mengangkat teleponku?!” Nada bicara Kyuhyun agak meninggi, berbeda sekali dari biasanya. Ah Young sendiri sempat berjengit kaget mendengar nada suara Kyuhyun yang mirip bentakan itu.

“Maaf, tadi aku sedang di kamar mandi. Ada apa? Sepertinya penting sekali.”

“Akan kuceritakan nanti. Tapi yang terpenting, jangan pergi ke luar dari apartemen untuk saat ini! Jangan membuka pintu untuk orang asing atau orang yang kau kenal sekalipun kecuali aku atau Hyukjae! Kau mengerti?!”

“Ya. Tapi kenapa?”

“Cukup lakukan yang aku minta! Aku akan sampai sebentar lagi jadi…”

BRAAKK!

“Argh!”

Suara dentuman keras diiringi dengan suara rintihan Ah Young membuat tubuh Kyuhyun menegang kaget. Apalagi setelahnya panggilan mereka terputus begitu saja. Perasaan Kyuhyun langsung tidak tenang. Berbagai macam bayangan buruk terlintas di benaknya. Bagaimana jika seandainya ia kalah cepat dari orang-orang tuan Park atau Hwang Tae Jun? Bagaimana jika mereka berhasil membawa Ah Young pergi?

Jantung Kyuhyun berdebar keras kala memikirkan itu. Kedua tangannya mencengkram erat stir mobil. Kakinya menginjak pedal gas guna menambah laju kecepatan.

 

*****

 

 

Jiyeon mengernyit heran saat mendengar suara-suara di pintu masuk apartemen Donghae. Gadis itu melirik jam di dinding. Sekarang bahkan baru jam 3 sore, jadi tak mungkin Donghae sudah pulang. Pria itu sendiri yang bilang bahwa ia akan pulang malam. Jadi itu berarti…

Jiyeon panik setengah mati. Gadis itu menyambar ponselnya yang tergeletak diatas meja. Baru saja ia hendak berlari ke kamar untuk bersembunyi, empat orang pria tak dikenal menghadangnya.

“Siapa kalian?!” Pertanyaan spontan itu terlontar dari mulut Jiyeon, dan tentunya keempat pria tak dikenal itu tak mau repot-repot untuk menjawab. Dalam hitungan detik Jiyeon sudah terkulai lemas dilengan salah seorang pria yang membiusnya.

Keempat pria itu membawa Jiyeon pergi tanpa sedikit pun meninggalkan jejak.

 

*****

 

 

Begitu sampai di basement apartemen, Kyuhyun langsung memarkir mobilnya asal, lalu berlari menuju lift. Dengan brutal dan tidak sabaran ia menekan tombol lift. Kecepatan lift yang biasa dirasa cukup, kini justru terasa sangat lambat, membuat Kyuhyun tak henti-hentinya berdecak geram. Begitu lift sampai di lantai 20, dimana letak apartemennya berada, Kyuhyun kembali berlari menyusuri koridor apartemen yang sepi. Suasana terlihat normal, namun itu tak menutup kemungkinan bahwa sesuatu yang buruk tak terjadi.

Dengan tergesa Kyuhyun menekan beberapa digit nomor kode kunci apartemennya. Suara klik yang halus terdengar sebagai tanda bahwa kunci terbuka. Tak menunggu waktu lama, Kyuhyun berlari kencang masuk ke apartemennya sembari meneriakkan nama Ah Young.

“AH YOUNG! AH YOUNG!!” suara Kyuhyun terdengar begitu menggelegar. Ia sudah siap untuk menghadapi siapapun yang hendak menyakiti Ah Young dan akan membawa gadis itu pergi darinya.

Oppa?”

Suara halus itu sontak menghentikan langkah Kyuhyun. Suara itu cukup membuatnya kaget dan lega disaat yang bersamaan. Ah Young tampak bingung melihat Kyuhyun yang terlihat kacau serta berantakan. Peluh membasahi wajah dan tubuh pria itu. “Ada apa?” Tanya Ah Young yang tidak mendapat jawaban dari Kyuhyun. Pria itu justru memperhatikan tubuh Ah Young secara seksama dari kepala hingga kaki, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Pandangan Kyuhyun terfokus pada kaki Ah Young yang dibalut perban. Dahi pria tampan itu mengernyit. Saat memperhatikan lantai ia baru sadar jika banyak pecahan barang disana.

Ah Young mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Wajahnya tampak merasa bersalah.”Emm… maaf. Tadi aku tidak sengaja menyenggol kardus yang berisi barang pecah belah milikmu. Ada beberapa yang pecah tapi aku…”

“Coba kulihat lukamu. Apa kau sudah mengobatinya dengan benar?” Bukannya marah seperti dugaan Ah Young sebelumnya, Kyuhyun justru tampak khawatir melihat kondisi kakinya. Ah Young menjadi semakin tak enak hati.

Gwenchana. Aku sudah mengobatinya. Aku harus membersihkan kekacauan ini dulu.”

Kyuhyun menarik tangan Ah Young dan menuntun gadis itu untuk duduk disofa depan tv. Ah Young sama sekali tak menolak, sebab ia tahu bahwa percuma untuk membantah perkataan seorang Cho Kyuhyun. Terlebih wajah serius Kyuhyun saat ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa pria itu sedang tak ingin dibantah. Bahkan untuk sekedar bertanya penyebab kepanikan Kyuhyun di telepon tadi saja Ah Young tak berani.

“Lain kali hati-hati.” Ucap Kyuhyun.

“Iya, maafkan aku.”

“Tidak perlu meminta maaf.” Kyuhyun menatap kedua manik mata Ah Young. Tatapan pria itu terlihat teduh. “Berjanjilah bahwa lain kali kau akan berhati-hati. Dan mengenai perkataanku ditelepon tadi ada hubungannya dengan Park Jinyoung dan Hwang Tae Jun.”

Dada Ah Young bergemuruh mendengar dua nama itu. Wajah cantiknya terlihat cemas. “Mereka tahu aku disini?”

“Mungkin. Tapi yang lebih gawat sekarang Hwang Tae Jun bekerja untuk Park Jinyoung. Kau pasti sudah bisa menebak apa maksud mereka, bukan?”

Kedua tangan Ah Young mengepal. Ia merasa geram pada ayah tirinya yang brengsek itu. “Aku sudah tahu bahwa sejak awal pria itu pasti akan kembali untuk mengangguku. Oppa telah mengeluarkan banyak uang untuk hal yang sia-sia. Hwang Tae Jun takkan berhenti sebelum dia menghancurkan hidupku.” Ujar Ah Young dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. “Mungkin aku memang harus pergi dari sini. Jika aku tetap disini, akan semakin mudah bagi si brengsek itu untuk menemukanku. Dan lagi aku tak ingin semakin menyulitkanmu dengan kehadiranku. Bagaimanapun juga kau adalah bagian dari keluarga tuan Park. Aku tak ingin hubungan kalian rusak hanya karena kau menolongku. Selama ini kau sudah melakukan banyak hal untukku. Kau selalu melindungiku. Tapi kurasa cukup sampai disini. Jika dibiarkan lebih lama, maka aku akan semakin mengacaukan hidupmu.”

“Sudah selesai bicara?” Tanya Kyuhyun dingin. Kedua tangannya memegang bahu Ah Young. “Sekarang dengarkan aku. Kau sendiri yang bilang bahwa aku selalu melindungimu, bukan?” Kedua manik mata Kyuhyun menatap Ah Young intens. “…kalau begitu biarkan aku terus melakukannya. Takkan kubiarkan mereka mengusikmu dan membawamu pergi.”

Ah Young menatap Kyuhyun sendu. Setetes air mata jatuh dipipinya. “Keunde wae? Aku bukan siapa-siapa untukmu. Apa kau tidak sadar jika sekarang kau mempertaruhkan kehidupanmu sendiri? Berhentilah sebelum tuan Park murka padamu.”

“Sudah terlambat untukku berhenti… kau sudah masuk terlalu dalam di kehidupanku.”

Ah Young tertegun. “Kau…”

“Jika aku membiarkanmu pergi, maka… untuk kesekian kalinya aku kembali merelakan kebahagianku pergi…”

Air mata Ah Young kembali menetes. Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Apa ini berarti jika perasaanya tidak hanya sepihak? Apa ini berarti jika Kyuhyun juga mencintainya?

Dengan lembut jemari Kyuhyun menghapus air mata yang membasahi pipi Ah Young. Jempolnya mengusap pipi Ah Young sembari menatap kedua manik mata Ah Young dengan teduh. Tidak ada lagi tatapan dingin dan tajam khas Cho Kyuhyun. Pria itu terlihat seperti pribadi yang berbeda. Hati Ah Young terasa menghangat.

“Apa… apa aku boleh mengharap lebih padamu?” tanya Ah Young lirih. “Apa aku boleh mencintaimu?” Ah Young terisak. Perasaannya campur aduk antara senang, gugup, dan juga sedih kala memikirkan takdir yang seakan begitu mempermainkan kehidupannya.

Mata Kyuhyun berkaca-kaca. Seumur hidupnya tidak pernah ada gadis yang mencintainya seperti ini. Hal ini membuat hati Kyuhyun terasa tercubit, namun disaat yang bersamaan juga terasa senang dan hangat, karena sekarang ia tahu bahwa kehadirannya sangat berarti untuk seseorang. Bahwa dirinya cukup berarti untuk dicintai…

Rengkuhan dari Kyuhyun cukup menjawab pertanyaan Ah Young. Gadis itu makin terisak meski tak ayal senyum indah turut terukir diwajah cantiknya itu. Kyuhyun berbisik lirih, “Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Jeongmal gomawo…”

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

16 tanggapan untuk “The Bodyguard (Part 12)

  1. Aaaaaaaaaa
    Akhir_ny post juga kamu saeng…heee

    Aigooooooo
    Itu jiyi mau d bawa kmaneeeee????
    Aiiiissshhh
    Haeppa tak ada pula!!!
    Eottokheeeee????
    Neeeeeext saeeeeng
    D tunggu sangat ya…hehe
    FAIGTHING…✊✊✊

  2. Dasar kakek tua_jyp_ bikin emosi aja noh orang.. ,awalnya baik sih tp ternyata tukang siksa jg,,ternyata dia jg jahat,

      1. V part ny kbnykn kyuhyun am yura d bnding kn jiyi n hae oppa,,, next part haeji ny bnykin donk,,, 😀 gomawo

  3. Kirain ah young juga diculik ehhh ternyata bukan
    Justru malah jiyeon nih yg diculikkk waduhhhhh mau dibawa kmn tuh?
    Donghae lom tau lagi
    Tuh kan tuh kann kepo aku kumat nihh
    Next lagi ya

  4. kutang panjaang authornim :(((
    aku ga kecewa moment donghae jiyi dikit yg pentimg masih seru ceritanya, dan ga lepas kontrol hehehe
    aigooo jadi sekarang jiyi jg dalam bahaya gimana ini hae oppa jg blm tau gimana caranya penjahat itu masuk aigooo
    untung ah young gpp, kyu bener2 siaga banget buat ah young daebaaak.
    kakeknya jiyi bener2 jahat banget sih rela ngelakuin semua cara demi yg dia mau didapat semua ckckckck
    part selanjutnya ditungguu dan semoga lebih panjang lagiiii hehehehe

    1. Haha, masih krg panjang ya? pdhl nulisnya udh ngap ngapan kyk org krg oksigen wkwkwk.. Makasih byk buat dukungannya 😀 ditunggu aja ya next chapternya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s