Diposkan pada Chapters

Speck of Dust (Part 1)

koizora-202

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered

Cast :
– Choi Haneul
– Oh Sehun
– Kim Jongin

_______________________________________

Apa kau pernah punya keinginan yang ingin kau wujudkan sebelum meninggalkan sekolah yang telah tiga tahun menaungimu?

Well, aku punya…

Keinginanku bukan hal yang muluk. Bukan ingin meraih popularitas dan menjadi alumni Kirin High School yang paling terkenal. Bukan pula ingin mendapatkan gelar Queen di acara prom night atau juga bergabung dalam gang orang-orang populer. Keinginanku sederhana. Aku hanya ingin bisa mengobrol dengannya.

Namanya Oh Sehun. Ia teman sekelasku, tapi meskipun begitu kami tidak pernah benar-benar mengobrol. Kami akan berinteraksi jika itu diperlukan untuk mengerjakan tugas sekolah ataupun saat Mrs Winslet, guru bahasa inggris kami, meminta kami menjadi pasangan untuk mempraktekkan percakapan di depan kelas. Aku pertama kali bertemu Sehun saat upacara penerimaan siswa baru. Kami berada dibarisan yang sama, meskipun tidak sekelas. Tapi mulai kelas dua hingga sekarang kami menjadi teman sekelas. Awalnya aku berharap bahwa ini akan menjadi kesempatan emas bagiku untuk mengenalnya lebih dekat, tapi seharusnya aku sadar bahwa itu mustahil.

Kami takkan bisa dekat. Kenapa? Mudah. Karena ia membenciku. Amat sangat membenciku.

“Sial! Aku malah sekelompok sama si aneh.”

Dari belakang aku mendengar umpatan Byun Baekhyun, salah seorang murid populer sekaligus biang gossip di kelas ini. Perkataan Baekhyun dibalas dengan kekehan teman-temannya yang lain. Mendengar kata ‘aneh’ membuatku tahu siapa yang dimaksud Baekhyun. Aku menghela napas. Jika bisa memilih, maka aku akan dengan senang hati mengerjakan tugas ini sendirian meskipun hasilnya tidak akan bagus.

“Yak! Kita sekelompok. Kau kerjakan makalahnya, biar video menjadi tugasku.” Ujar Baekhyun ketus. Tanpa menunggu jawabanku ia bergegas keluar dari kelas diikuti oleh teman-temannya yang sesekali masih tertawa mengejek Baekhyun karena ia sekelompok denganku.

Biar kutegaskan. Di kelas ini, oh bahkan di sekolah ini, seperti ada pernyataan yang tidak tertulis yang mengatakan bahwa berdekatan denganku adalah sebuah kesialan dan kemalangan. Jadi sekarang kalian mengerti akan sikap dan reaksi Baekhyun tadi, bukan?

Pernyataan tak tertulis itu muncul sejak aku di kelas dua. Tepatnya setelah salah seorang teman sekelasku tahu betapa menyedihkannya hidupku. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku yang bekerja sebagai seorang penghibur di sebuah bar dan klub malam. Ibuku bukan pelacur. Tidak sampai pada tahap menemani pria hidung belang di ranjang. Ia hanya menemani mereka minum sambil mengobrol ringan atau berkaraoke bersama. Hanya itu. Tapi tentunya teman-temanku tidak mempercayai hal itu. Mereka tetap bersikeras pada pemikiran sempit mereka. Awalnya kehidupan kami tidak sesulit ini karena ibu dulu pernah bekerja di sebuah percetakan kecil sebagai pesuruh. Namun setelah ibu kehilangan pekerjaannya kehidupan kami menjadi sangat sulit.

Kami pernah nyaris menjadi gelandangan karena tidak sanggup membayar sewa rumah. Tak jarang pula aku harus menahan lapar karena tidak punya uang untuk makan. Semenjak kehidupan kami mencapai titik terendah, emosi ibu kerap menjadi tidak stabil. Ia sering marah-marah hanya karena hal sepele. Contohnya saat aku minta uang tambahan untuk membeli seragam sekolah baru karena yang lama sudah kekecilan dan lusuh, ataupun saat aku minta uang untuk pergi memotong rambut ke salon. Aku mengerti jika ibu menjadi seperti itu karena tekanan batin yang didapatnya. Tapi itu bukan berarti bahwa ia bisa seenaknya padaku, kan? Aku juga tak kalah menderita dibandingkannya.

Tidak ada yang mau berteman dengan anak berpakaian lusuh sepertiku ini. Padahal dulu saat kelas satu, saat kehidupan kami masih lumayan baik, aku pernah memiliki beberapa orang teman dekat. Mereka bahkan sering mengajakku menginap atau sekedar menghabiskan hari libur dengan berjalan-jalan di mall. Tapi setelah keadaanku seperti ini, satu persatu temanku menjauh hingga akhirnya benar-benar pergi. Dan sekarang aku sendiran… dan aku sudah terbiasa akan hal itu. Lagipula setahun lagi aku akan pergi dari sini. Aku akan masuk ke universitas yang bagus, memiliki pekerjaan paruh waktu dengan gaji lumayan dan secepatnya pergi dari rumah. Aku ingin pergi dari kehidupanku saat ini.

Sibuk dengan pikiranku sendiri membuatku tidak sadar bahwa kelas nyaris kosong. Bel istirahat sudah berbunyi dari tadi. Buru-buru aku mengambil kotak bekal dan botol minum ku dari dalam laci meja. Aku memang selalu membawa bekal dalam rangka penghematan. Jika istirahat aku selalu menghabiskan waktu di taman belakang sekolah yang sepi atau di rumah kaca, sambil menemani Im ahjumma mengurus tanaman-tanaman disana.

Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menyenggol seseorang. Napasku tercekat saat aku bertatapan dengan sepasang mata tajam dan dingin milik Oh Sehun. Ia berdecak kesal. “Maaf, aku tidak sengaja.” Ucapku pelan. Sehun masih tampak kesal, namun ia tidak mengatakan apapun dan memilih pergi. Aku hanya bisa menatap punggung itu nanar.

 

 

*****

 

 

Malam sudah cukup larut, namun aku masih harus menempuh perjalanan beberapa menit sebelum sampai ke rumahku. Aku baru saja pulang bekerja sebagai baby sitter paruh waktu di rumah seorang pengusaha rumah makan. Ini kali ketigaku menjaga anak-anak disana. Ada total tiga anak perempuan yang harus ku jaga. Diantara semua pekerjaan paruh waktu yang pernah aku lakukan, menjadi baby sitter lah yang menjadi kesukaanku. Alasannya sederhana. Aku memang suka anak-anak dan gajinya lumayan besar. Selain menjadi baby sitter, aku juga bekerja di toko roti saat akhir pekan. Ya, hari-hariku memang membosankan. Lagipula aku memang sangat butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Sudah lama ibu tidak pernah membiayayaiku lagi. Semua kebutuhanku harus ku tanggung sendiri.

Aku berjalan menyusuri jembatan yang memang selalu sepi ini. Ku eratkan jaketku kala udara dingin semakin menusuk. Sesekali aku akan menggosok tangan ku sambil meniupnya. Langkah kaki ku terhenti saat melihat sesosok pria tengah menaiki pagar pembatas jembatan.

Apa ia berencana untuk bunuh diri?!

Aliran sungai di bawah jembatan ini memang tenang, tapi sungai ini cukup dalam dan banyak bebatuan di bawahnya. Aku jadi panik sendiri melihat pria itu. Jelas saja, siapa sih yang mau menjadi saksi mata adegan bunuh diri seseorang? Haruskah aku mencegahnya? Tapi bagaimana jika ia malah langsung lompat ke bawah saat aku mencegahnya?

Ku lihat sekelilingku, berharap dapat menemukan seseorang yang bisa ku mintai tolong. Namun nihil. Hanya ada aku dan pria tak dikenal itu disini. Dan itu hanya berarti satu, hanya aku yang bisa menolong pria itu. Atau aku bisa berpura-pura tak melihatnya dan pergi dalam diam. Sialnya, aku memiliki kadar kepedulian yang tinggi. Ku amati gerak gerik pria bertubuh tinggi itu. Ia hanya diam sembari menatap kosong kearah sungai yang tampak tenang. Aku tak bisa menebak isi kepala pria itu. Akankah ia meloncat?

Jantung ku berdegub kencang, menanti apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh pria itu.

Bruk!

Suara dentuman yang berasal dari bunyi sepatu pria itu yang beradu dengan aspal, sontak membuatku menghela napas lega. Tidak ada adegan horror terjadi, dan aku takkan menjadi saksi mata kasus bunuh diri. Terima kasih Tuhan!

Pandanganku kembali mengarah pada pria itu. Ku lihat jemarinya mengepal sempurna serta sedikit gemetar. Kepala pria itu menunduk, membuat rasa penasaranku akan wajahnya tak kunjung terjawab hingga akhirnya ia pergi masih dengan kepala tertunduk.

Siapapun pria itu, aku hanya berharap bahwa permasalahan yang tengah membelenggunya segera berakhir. Dan semoga ini terakhir kalinya pikiran bunuh diri terlintas di kepala pria asing itu.

 

*****

 

 

Aku menghela napas mendapati kulkas yang kosong. Sama sekali tidak ada makanan disana. Bahkan pasta yang semalam ku bawa dari rumah keluarga Han, tempat dimana aku mengasuh semalam (dan tentunya atas seizin mereka) ludes tak bersisa. Saat kubilang tak bersisa, itu memang benar-benar tak bersisa. Kotaknya saja tidak ada. Tak perlu menyewa seorang detektif untuk mengetahui siapa pelakunya. Tentu saja ibuku tercinta. Ini bukan kali pertamanya. Ia selalu mengambil makanan yang ku beli dengan uang jerih payahku, menghabiskannya tanpa merasa bersalah, tapi tidak pernah mau mengeluarkan uang untuk membelikan ku makanan. Hidup ini memang tidak adil.

Walhasil, aku hanya minum susu untuk mengganjal perut. Mungkin nanti aku harus singgah ke mini market untuk membeli bahan makanan. Ku letakkan gelas kosong bekas susu di tempat cuci piring. Lagi-lagi helaan napas keluar dari mulut ku begitu melihat bertumpuk-tumpuk piring kotor yang belum dicuci. Apa untuk hal seperti ini harus aku juga yang turun tangan? Aku sudah menyapu, mengepel dan mencuci baju. Seharusnya ibu ku cukup sadar diri untuk sedikit saja meringankan beban ku. Apalagi dari pagi hingga menjelang malam ia selalu di rumah, tak melakukan apapun. Ia baru pergi kerja saat jam enam malam.

Aku memilih untuk mengabaikan tumpukan piring dan gelas tersebut, lalu memutuskan untuk kembali ke kamarku guna bersiap-siap ke sekolah. Ku rapikan posisi seragam lusuhku di badan. Mau dirapikan beberapa kali takkan mengubah fakta bahwa seragam ini memang sudah lusuh sekali. Jadi, serapi apapun aku menyetrika dan menyemprotkan parfum takkan mengubah keadaan yang ada.

Himnae Choi Haneul! Hanya harus bertahan setahun lagi. Setelah itu aku bisa pergi dari sini.” Kalimat itu sudah seperti vitaminku di pagi hari.

 

*****

 

 

Aku merenggangkan tubuhku. Gemeretak bunyi tulang terdengar pelan. Ternyata duduk selama dua jam mengerjakan tugas makalah cukup menguras tenaga juga. Aku melirik kearah jam tangan ku, sudah jam 3 sore. Waktu pulang sekolah sudah berakhir dua jam yang lalu. Ku putuskan untuk melanjutkan makalah esok hari. Toh aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikannya.

Tiba-tiba pandanganku gelap. Ada sepasang tangan menutup mataku dari belakang. Senyuman tipis terukir di bibirku saat menyadari pemilik tangan tersebut. Hanya ada satu orang yang mungkin.

“Jongin-ah…” ucapku.

Jongin tertawa kecil. “Kau selalu bisa menebakku.” Bisiknya sebelum kemudian melepaskan tangannya dari mata ku. Ia duduk di kursi kosong sebelah ku. “Wajar. Hanya kau yang begitu.” Balasku.

Jongin melirik ke arah tugas ku. “Kau rajin sekali. Apa itu sudah selesai?” tanyanya.

Aku mengeleng. “Masih ada banyak yang harus dikerjakan. Kau sudah mengerjakannya?” tanya ku sembari menatapnya. Seingatku ia pernah bilang bahwa kelasnya juga mendapat tugas yang serupa dari Son seonsaengnim.

“Bahkan aku belum mencari bukunya.”

Wae? Kalau tidak dicicil sekarang nanti akan repot.”

“Ya. Akan ku kerjakan secepatnya. Hmm, mungkin lusa. Chanyeol selalu bilang sibuk saat ku ajak mengerjakan tugas ini.” Ucapnya.

“Bagaimana jika mengerjakannya bersamaku?” tawarku.

Jongin mengeleng, lalu tersenyum manis, yang sumpah membuatku berdebar-debar tak karuan. Ia mendekatkan wajahnya kearah ku. “Jika bersamamu ada hal penting lain yang bisa kulakukan.” Ia berkata, masih dengan senyum mempesonanya. Sekarang aku semakin mengerti mengapa gadis-gadis di sekolahku bisa ‘menggila’ hanya karena seulas senyum dari Kim Jongin, karena ia begitu mempesona. Ku rasakan benda lembut menempel di bibirku. Reflek mataku tertutup. Jongin semakin melumat bibirku dan dengan senang hati kubalas walaupun masih begitu kikuk.

Jongin mengelus pipiku lembut. Ia lalu melepaskan ciumannya. Wajahnya masih senantiasa tersenyum. “Kau cantik.” Pujinya.

Aku tersenyum, meskipun mati-matian aku berusaha untuk tidak terlalu menampakkannya. Mungkin bisa dibilang aku tidak sepenuhnya percaya dengan pujiannya itu. Jelas saja, mana mungkin aku ini masuk dalam kategori cantik, sedangkan pria-pria lain bahkan enggan untuk menatapku lebih dari tiga detik. Tapi ini mungkin cara Jongin menunjukkan cintanya padaku.

“Jongin-ah, apa kau tidak bosan seperti ini terus?” tanyaku sembari menatapnya intens. Jongin terlihat resah. Ia pasti tahu kearah mana pertanyaanku akan bermuara. “Apa kau tidak mau melakukan kencan seperti yang lainnya? Menonton di bioskop, nongkrong di café atau sekedar berjalan-jalan di taman.”

Yah, memang sejak kami menjalin kasih selama sebulan lebih ini, kami hanya bertemu di sekolah. Biasanya kami akan menghabiskan waktu di rooftop, taman belakang sekolah atau seperti sekarang ini, di perpustakaan. Intinya di tempat-tempat sepi yang enggan dijangkau oleh murid-murid Kirin. Aku pernah berasumsi jika ia malu kalau sampai ketahuan berkencan denganku, tapi Jongin langsung membantah, dan bilang jika ia belum siap. Entah ia bersiap untuk apa. Aku tak menanyakannya lagi.

“Aku belum siap.”

Lihat kan, ia kembali memberikan jawaban itu.

“Jujur saja, kau malu kan jika ketahuan berpacaran denganku?”

“Tidak, bukan seperti itu. Kau tahu kan bagaimana teman-temanku? Aku tak ingin mereka menggoda atau mengolok-olokmu. Aku takut kau menjadi tidak nyaman. Jadi untuk sekarang biarkan kita seperti ini dulu ya. Aku janji, jika sudah saatnya maka aku akan menunjukkan pada semua orang jika kau adalah yeoja-ku.” Ujar Jongin sembari mengusap pipiku dan kemudian kembali menarikku dalam ciuman panasnya.

 

*****

 

 

Eonni, namjachingu isseoyo?” (apa kau punya pacar?)

“Eh?”

Aku kaget mendengar pertanyaan Jimin, anak yang saat ini ku jaga. Gadis kecil berumur 8 tahun itu menatapku serius. “Waeyo?” tanyaku seraya mengusap pipinya yang kotor akibat remah-remah biskuit.

Geunyang deuramareul cheoreom (seperti di dalam drama). Naui chinguneun namjachingu ga ttak hana isseoyo, keunde naega namjachingu ga opseoyo (Temanku punya pacar, tapi aku tidak punya pacar). Aku tidak mengerti itu.” Jelas Jimin, membuatku tertawa. “Kau masih terlalu kecil untuk memiliki namjachingu. Untuk sekarang, lebih baik berteman saja ya. Itu lebih mengasyikkan.” Ucapku. Jimin mengangguk patuh, sama sekali tak ada bantahan. Memang, dibandingkan kedua saudaranya yang lain, Jimin ini yang paling patuh dan sejujurnya ia anak asuh favoritku.

“Halo semuanya!”

Eomma!” Jimin berlari kepelukan ibunya. Aku membungkuk sopan pada majikanku ini. Nyonya Han tersenyum ramah. “Dimana yang lainnya?” tanyanya merujuk pada kedua anaknya yang lain, si kembar Minji dan Minjung.

“Mereka sudah tidur. Kelelahan bermain.” Jawabku.

“Ah, Haneul-ssi, bisa kita bicara sebentar?”

Ne, geureomnyeo.”

Nyonya Han mengajakku duduk di sofa depan televisi, sedangkan Jimin sudah kembali sibuk dengan kepingan puzzle-nya.

“Jadi begini…” Nyonya Han membuka pembicaraan. “…salah seorang kerabatku membutuhkan jasa baby sitter. Sayangnya jasa penyedia baby sitter baru bisa mendatangkan baby sitter minggu depan. Nah, ku kira mungkin kau tertarik untuk bekerja disana. Hanya selama seminggu kok. Gajinya cukup besar loh dan kau bahkan masih bisa negosiasi, sebab ia memang sangat membutuhkan jasa baby sitter.”

“Anaknya umur berapa?” tanyaku penasaran. Aku cukup tergiur mendengar tawaran itu.

“Masih bayi. Umurnya baru beberapa minggu. Sebenarnya kerabatku itu membutuhkan baby sitter full time, tapi untuk sekarang part time juga ia tak keberatan. Aku sudah merekomendasikanmu padanya. Aku bilang kau hanya bisa bekerja dari siang hingga malam hari. Ia setuju. Tapi semuanya ku kembalikan padamu. Kau bisa menolaknya jika tak ingin.” Ucap nyonya Han.

Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah aku harus mengambil tawaran kerja itu. Aku memang amat sangat membutuhkan uang untuk persiapanku ke universitas, karena aku amat yakin jika ibuku takkan mau repot-repot mengeluarkan uang untuk biaya kuliahku nanti.

“Baiklah. Aku bersedia.” Putusku pada akhirnya. Nyonya Han tersenyum kecil, lalu menyerahkan secarik kertas kepadaku. “Ini alamat rumahnya. Aku akan menghubunginya untuk mengabarkan jika kau setuju untuk bekerja disana. Jadi, datanglah esok hari setelah pulang sekolah. Ah, kalau bisa ia ingin kau tinggal di rumahnya selama masa kerjamu. Karena kau pasti akan sangat diperlukan saat malam hari. Kau bisa, kan?”

“Harus tinggal ya?” sejenak aku menjadi ragu. Selama bekerja menjadi pengasuh aku tak pernah menginap di rumah tempatku bekerja. Biasanya aku bekerja paling telat hingga pukul 12 malam. Tapi… aku butuh pekerjaan ini. “Baiklah. Saya tidak keberatan atas hal tersebut.”

Aku membaca secarik kertas bertuliskan alamat rumah calon majikanku. Ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya butuh waktu 15 menit berjalan kaki. Rumahnya berada di kompleks perumahan elit yang berada di depan kompleks perumahan kumuh tempatku tinggal.

 

*****

 

 

Lagi-lagi aku melihat namja itu di atas jembatan. Rasa was-was langsung menyelimuti hatiku. Apa dia berencana untuk bunuh diri lagi? Ya Tuhan, kenapa aku harus kembali berada dalam situasi tak mengenakkan ini?

Ku amati namja tak dikenal itu dalam diam. Ia hanya memandang kosong ke bawah jembatan dimana air mengalir dengan tenang. Aku penasaran ingin melihat wajahnya dari dekat. Seakan bisa mendengar suara hatiku, pria itu membalikkan tubuhnya persis ke arahku hingga kami saling bertatapan selama beberapa detik. Parasnya sangat tampan, namun ekspresi wajahnya terlihat begitu dingin, bagai isyarat bahwa ia tak ingin didekati. Ku alihkan pandanganku dari pria itu. Rasanya risih harus lama-lama bertatapan dengan sepasang manik mata yang begitu dingin menusuk.

Saat aku kembali menoleh ke arah pria tadi ternyata ia sudah pergi. Yang bisa kulihat hanya punggung tegapnya yang perlahan namun pasti menjauh dan kemudian hilang dari pandanganku.

“Misterius sekali.”

 

*****

 

 

Olah raga Dodgeball. Aku benci itu. Kenapa? Karena Dodgeball digunakan oleh mereka, orang-orang kuat dan populer, untuk mem-bully kami, anak-anak yang lemah dan tersisih. Dan aku merupakan sasaran empuk di kelasku. Sebenarnya ada satu lagi, Do Kyungsoo. Tapi dia pindah awal masuk kelas tiga. Mungkin aku memang juga harus pindah.

Seperti yang sudah-sudah, murid-murid populer tergabung dalam kelompok penyerang. Entah guruku terlalu tolol untuk melihat maksud dari murid-murid populer kesayangannya itu, atau memang ia tidak peduli. Ia selalu membiarkan formasi seperti ini. Satu persatu anggota kelompokku gugur, meninggalkan aku dan Kang Seulgi. Seperti tebakanku, kini aku menjadi sasaran empuk mereka. Dengan brutal mereka melempar bola kearahku. Hanya aku, tidak dengan Seulgi. Dulu aku pernah menyerah dengan membiarkan diri terkena bola. Aku terlalu malas mempertahankan diri. Tapi itu pertama dan terakhir kalinya kulakukan, sebab lemparan bola dari mereka benar-benar sakit. Aku bahkan harus istirahat total selama dua hari gara-gara terkenal lemparan bola di kepala, area yang seharusnya terlarang.

“Sehun-ah, tangkap!” Seru Baekhyun seraya melemparkan bola kearah Sehun. Sehun menangkap bola tersebut, lalu hendak melempar ke arahku. Pandangan mata kami bertemu. Tanpa sadar aku malah menatapnya pandangan mata memohon belas kasihan. Aku tahu jika Sehun tidak akan sejahat itu padaku. Ia memang selalu bersikap dingin dan ketus, namun dia bukan pembully.

“Lempar yang keras!” kali ini si cantik Yeri berujar kegirangan. Ingin sekali aku menjambak rambut indah milik gadis yang bahkan tingginya hanya sebatas telingaku itu.

Kembali aku melirik Sehun. Dia masih menatapku tajam. Tangannya terangkat tinggi, dan bola pun melambung… jauh dari tempatku.

Bruk!

Seruan kecewa terdengar dari teman-teman sekelompok Sehun saat bola itu malah memukul tanah, bukan tubuhku. Beberapa detik kemudian guru olahraga membunyikan peluit tanda bahwa pertandingan berakhir. Seulas senyum terukir di bibirku. Sudah kubilang kan jika Sehun takkan sejahat itu padaku.

Selesai olah raga aku kembali ke kelas. Kelas kosong karena yang lain memilih untuk duduk di kantin sambil menunggu jam istirahat berbunyi 5 menit lagi. Aku memilih untuk disini. Tempat teraman dan ternyaman untukku adalah tempat dimana tidak ada teman-teman sekelasku. Aku duduk di bangku ku, lalu mengeluarkan kotak makan dan sebotol air mineral. Bekalku hari ini hanya sandwich berisi selada dan mayonese. Mereka pasti akan terbahak-bahak jika melihat ini.

Sehun masuk sendirian ke dalam kelas. Ia sempat termangu sejenak saat tatapan kami saling bertumbukan. Aku memberikan seulas senyuman yang dibalas dengan dengusan kesal olehnya. Ia berjalan menuju bangkunya yang berjarak dua bangku didepanku. Aku diam-diam mengamati gerak geriknya. Ternyata ia juga membawa bekal sepertiku. Pantas ia memilih untuk menghabiskan jam istirahat di kelas.

“Uhuk uhuk!”

Dengan sigap aku meraih botol air mineral yang tinggal setengah dan menyodorkannya kearah Sehun yang masih terbatuk-batuk akibat tersedak. Ia hanya melirik sekilas dan mengabaikanku. Setelah berhasil mengontrol batuknya, ia menoleh dan menatapku tajam.

“Menjauh dariku!” ketusnya.

“Maaf, aku hanya ingin membantumu.” Ucapku pelan.

Sehun memukul mejanya dengan keras, lalu bangkit berdiri hingga menimbulkan suara decitan kursi yang bergeser. Ia berjalan mendekatiku. Terlalu dekat hingga aku terpojok. Kedua tangannya berada di dinding, mengukung tubuhku agar tak bisa menghindar. Jantungku berdebar kencang. Bukan jenis debaran yang mengasyikkan. Ini justru debaran ketakutan. Nan jeongmal museowo (aku sangat takut).

“Bahkan jika orang di dunia ini hanya tinggal kau, aku takkan meminta bantuanmu. Kau ingin membantuku? Cukup dengan menjauh dari kehidupanku! Melihat wajahmu selalu mengingatkanku akan kesakitan yang telah kau dan ibumu timbulkan pada keluargaku. Wajahmu bahkan terlalu mirip dengan ayah.” Nada bicara Sehun melemah saat mengucapkan kalimat terakhir. Air mataku menetes. Seumur hidup aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun. Aku memang tak akan pernah bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Sehun dan ibunya saat tahu mengenai aku dan ibuku.

Aku sendiri cukup syok kala suatu hari seorang pria berjas mahal datang ke rumah kami. Ibuku langsung pucat pasi saat melihat pria itu. Bagian yang membuatku syok bukanlah kemunculan pria itu, melainkan berita yang dibawanya. Ia bilang ayahku sedang sekarat di rumah sakit dan ingin bertemu denganku, anaknya, sebelum ia pergi.

Aku ingat bagaimana bodohnya wajahku saat itu. Aku berkali-kali melirik ke arah pria itu lalu ibuku. Lelucon macam apa ini? Pikirku saat itu. Sebab yang ku ingat, ibu selalu bilang jika ayahku (yang selalu ibu sebut si ‘brengsek’) sudah meninggal. Tanpa meninggalkan warisan berharga. Oh, tunggu! Ia meninggalkanku untuk ibu. Apa aku bisa juga disebut sebagai warisan berharga?

Mustahil! Ibu justru selalu mengeluhkan kenapa ayah meninggalkanku dengannya. Ia bilang aku bawa sial dalam kehidupannya. Jika bukan karenaku, ibu bilang ia pasti sudah menjadi seorang penari terkenal, bukannya penghibur terkenal di bar murahan.

Ibu sempat menolak untuk menemui ayah. Tapi aku terus memaksanya. Hingga akhirnya kami mendapat kabar jika ayah meninggal. Kali ini pria itu benar-benar pergi. Tak ada yang menangis diantara kami. Aku terlalu buta mengenai ayahku, sedangkan ibu terlalu membencinya. Namun pada akhirnya kami tetap datang ke pemakamannya. Dan disitulah aku kembali menemukan fakta baru.

Aku melihat Oh Sehun berdiri dibarisan keluarga mendiang ayah. Tatapan kami bertemu. Jika dulu ia selalu melihatku tanpa ekspresi yang berarti (saat itu kami belum sekelas, dan aku sangsi jika Sehun mengenalku), kali ini justru ia menatapku dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.

Sejak itu aku seakan menjadi musuh abadi Oh Sehun, kakak tiriku..

 

 

-To Be Continued-

Halo semuanya! aku kembali dengan ff baru. Kalian mungkin kesel karena bukannya lanjutin ff yang ada, aku malah nulis ff baru. Tapi apa dayaku yang dihampiri ide untuk nulis ff ini setelah baca sebuah novel barat dan nonton ulang film jepang. FF ini memang terinspirasi dari dua karya keren itu. Novel dengan judul “Keep Holding On” dan film dengan judul “The Night Time Picnic”. Ini terinspirasi loh, bukan plagiat ya! 😀 Ceritanya bakalan beda dari novel & film itu. Semoga kalian suka ama cerita ini. FF ini bakalan murni pake POV si Haneul 🙂 Oh ya, masih ada satu karakter utama yang belom ketahuan (nunjuk si cowok misterius di jembata) xD kira-kira itu siapa ya? wkwkwk

See you soon ya guys! ❤

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s