Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

SIXTH SENSE (Part 3 – END)

1432821731678

Author : Cho Haneul
Title      : Sixth Sense
Genre   : Mystery, Horror, Drama
Type     : Chaptered

Cast :
– Jin Seyeon
– Cho Kyuhyun
– Park Jiyeon
– Lee Donghae

_____________________________________________

Han Min Jun meniti satu persatu anak tangga menuju rooftop dengan wajah cemas. Kemarin ia baru sadar jika pin miliknya hilang. Yang menjadi masalah adalah ia ingat bahwa terakhir kali ia memakai pin itu saat pertemuan terakhirnya dengan Yerin yang berakhir dengan perseteruan. Ia memang bisa saja mendapatkan pin baru yang sama persis, tapi bagaimana jika seandainya ada yang menemukan pin tersebut di lokasi kejadian dan melihat namanya tertera dipin itu? Semuanya pasti akan runyam.

Dalam hati Min Jun tak henti-hentinya merutuki diri sendiri karena ia justru baru sadar jika pin itu hilang setelah beberapa hari kejadian. Pria itu bahkan sangsi jika pin miliknya itu belum ditemukan oleh polisi. Namun mengingat bahwa sampai detik ini namanya belum disebut-sebut, berarti dirinya masih aman.

Langkah kaki Min Jun terhenti seiring dengan matanya yang menangkap dua sosok lain di atas atap sana. Sontak pria itu jadi was-was. Sambil bersembunyi dibalik tembok, Min Jun mengamati gerak gerik dua orang mahasiswa yang terlihat wara-wiri disana. Dahi Min Jun mengernyit. Kedua mahasiswa itu tampaknya sedang mencari sesuatu. Tapi apa?

DEG!

‘Apa jangan-jangan mereka tahu?’ pikirnya takut, namun sedetik kemudian langsung ditepisnya pemikiran itu. Min Jun meyakinkan diri bahwa statusnya masih aman. Bisa saja kedua muridnya itu sedang mencari hal lain. Melihat situasi, Min Jun memutuskan untuk menunda pencariannya. Ia memilih pergi sebelum kedua muridnya memergokinya juga berada disana. Nanti saja ia kembali jika keadaan sudah aman.

 

*****

 

 

“Tidak ada apa-apa disini.” Ucap Seyeon lesu diiringi dengan helaan napasnya. Gadis itu mengusap peluh yang membasahi dahinya. Cuaca Seoul sudah mulai memasuki musim semi, sehingga matahari bersinar cukup cerah. Kali ini Seyeon ditemani oleh Donghae. Sebenarnya ia enggan untuk merepotkan kekasihnya itu, namun Donghae memaksa untuk direpotkan. Jadilah akhirnya pria itu menemani Seyeon seharian ini untuk mencari pin milik Han Min Jun. Mereka sudah mencari di lokasi kejadian dan sekitarnya, tapi sampai detik ini belum membuahkan hasil.

“Mungkin terbuang oleh petugas kebersihan. Atau mungkin… dia sudah menemukannya terlebih dulu.” pikir Donghae.

Seyeon makin melemas mendengar kemungkinan itu. Tidak terpikir olehnya bahwa kemungkinan besar pin itu sudah berada ditangan sang pemilik asli. Gadis itu bersandar di dinding. “Hah… bagaimana ini?” gumamnya lesu.

Donghae mengusap kepala gadis itu lembut. “Kita cari sekali lagi.” Ajak pria itu sembari ternsenyum hangat.

 

*****

 

 

“Polisi sudah menemukan fakta baru. Mereka menemukan sedikit kulit dan bekas darah orang lain dikuku jari tangan Yerin. Sekarang kasusnya bukan lagi bunuh diri, melainkan dugaan pembunuhan. Polisi menduga jika Yerin sempat melakukan pembelaan diri sebelum akhirnya ia tewas.” Ujar Kyuhyun, namun tak lama ia bungkam begitu melihat berita Han Min Jun di televisi. Tentunya bukan berita negatif. Justru berita itu menayangkan sepak terjang Han Min Jun di dunia politik dan pendidikan.

Rupanya pria itu sudah amat sukses membangun citra dirinya di mata masyarakat Seoul. Beberapa mahasiswa yang juga menyimak berita itu tak henti-hentinya berdecak kagum dan melontarkan pujian pada dosen favorit mereka tersebut. Mata Kyuhyun menatap tajam kearah TV yang sedang menayangkan cuplikan wawancara dengan Han Min Jun. Dilihat dari sudut manapun, Han Min Jun memang sosok yang sempurna. Jika tidak mendengar dari mulut Yerin sendiri, maka Kyuhyun pun takkan percaya jika pria itu sangat kejam.

“Munafik.” Geram Jiyeon. Kyuhyun menoleh kearah kekasihnya yang juga tengah menatap intens kearah TV kantin. “Bagaimana bisa ia masih tersenyum sumringah seperti itu setelah menghancurkan hidup orang lain?” tambah Jiyeon.

“Itu semua tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi ia akan mendekam dibalik jeruji penjara.”

Baru saja mereka membicarakan Han Min Jun, pria itu malah sekarang berada di kantin. Tentunya semua perhatian mahasiwa dan mahasiswi beralih kearah pria yang masih tampak gagah diumurnya yang sudah tak muda lagi. Mata Kyuhyun memincing begitu melihat kearah leher pria itu yang tak sengaja tampak dari balik kerah bajunya. Terlihat luka yang membentuk garis-garis panjang yang cukup dalam disana. Kyuhyun tahu pasti apa penyebab luka itu.

 

*****

 

 

Hari kedua pencarian pin dan masih belum ada hasil. Tak hanya kubu Kyuhyun yang mencari keberadaan benda mungil itu, tapi diam-diam Han Min Jun juga melakukan pencarian. Hatinya belum tenang jika pin itu belum berada ditangannya. Tapi pria itu juga tak ingin permasalahan itu terlalu membebani pikirannya karena saat ini ia tengah melakukan kampanye menjelang hari pemilihan. Ia tak ingin usaha mati-matiannya selama beberapa tahun kandas begitu saja lantaran ia tidak fokus.

Seperti kali ini, pria itu sengaja memilih jalan melewati TKP meskipun itu berarti ia harus berjalan lebih jauh untuk sampai ke tempat parkir dosen. Lagi-lagi ia mendapati keempat mahasiswanya sedang berada di sekitaran TKP. Jelas kali ini bukan hanya sekedar kebetulan biasa seperti perkiraannya yang sudah-sudah. Jelas ada suatu hal penting yang sedang dicari oleh keempat mahasiswa itu.

Dengan mengendap-endap Min Jun mendekati keempat mahasiswa yang tidak menyadari keberadaannya disana. Pria itu bersembunyi dibalik pohon yang besar sehingga ia bisa leluasa untuk mengamati dan mencuri dengar perbincangan mereka.

“Kalau memang tidak ketemu juga, bagaimana jika kita menyerahkan USB saja? Kurasa bukti-bukti di USB Yerin cukup untuk menjadi bukti kuat keterlibatan Han Min Jun.”

Wajah Han Min Jun pucat pasi. Tidak salah lagi, anak-anak itu tahu mengenai perbuatannya. Hal ini jelas amat membahayakan posisinya. Pria itu bisa membayangkan bagaimana hancurnya karir serta citra diri yang selama bertahun-tahun ini ia bangun. Usaha kerasnya selama ini akan menjadi sia-sia hanya karena satu kesalahan fatal yang telah dilakukannya.

Tidak! Ia takkan rela hidupnya hancur begitu saja!

Han Min Jun menatap keempat mahasiswa yang sejak tadi diamatinya dengan tatapan tajam sarat emosi. Kedua tangannya mengepal kuat, menonjolkan urat-urat tangannya. Sekarang ia harus memutar otak bagaimana cara untuk mengambil barang bukti yang tadi disebut serta cara membungkam mulut keempat anak didiknya itu. Ia harus melakukannya sesegera mungkin sebelum terlambat.

 

*****

 

 

Jiyeon dan Kyuhyun berpapasan dengan Han Min Jun di koridor lantai dua. Pandangan Min Jun yang begitu fokus serta intens menatap mereka, membuat Jiyeon merasa tidak nyaman. Berbeda dengan Jiyeon, Kyuhyun justru tampak cuek dan santai. Ia membungkuk sopan kepada Han Min Jun sebelum kemudian berlalu dari hadapan dosennya itu.

“Aku merasa tak nyaman dengan tatapannya itu.” Bisik Jiyeon. Gadis itu menatap wajah kekasihnya dengan pandangan cemas. “Entah mengapa aku merasa jika ia tahu sesuatu mengenai kita. Apa jangan-jangan ia sudah tahu? Bisa saja kan ia diam-diam memata-matai kita.”

“Asal kita tetap waspada, maka semua akan baik-baik saja. Aku dan Donghae berencana untuk menyerahkan bukti ini langsung kepada polisi yang menangani kasus. Kebetulan polisi itu teman kakak Donghae sehingga kami mudah untuk bertemu dengannya. Aku khawatir jika sembarangan menyerahkan bukti karena bisa saja Han Min Jun sudah menyuap polisi tersebut.” Jelas Kyuhyun.

“Kapan kalian akan bertemu dengan polisi itu?” Tanya Jiyeon.

“Besok.” Jawab Kyuhyun. Perhatian Kyuhyun teralih akibat kemunculan Yerin. Sejak kemarin hantu wanita ini sama sekali tak muncul. Entah kemana ia pergi. Jiyeon turut menoleh kearah pandangan Kyuhyun. “Yerin-ssi ada disini?” tanya Jiyeon yang dijawab dengan anggukan oleh Kyuhyun.

“Seyeon baru saja menemukan pin itu.” Ucap Yerin sambil tersenyum kecil.

 

*****

 

 

“Aku tidak sengaja melihat kilauan emas yang disebabkan oleh pantulan sinar matahari di pin ini dari dalam saluran air itu.” Seyeon menunjuk kearah saluran air kecil di tanah yang ditutupi dengan teralis besi, sehingga kita masih dapat melihat ke dalam melalui celah-celah teralis.

“Bodoh sekali kita tak pernah memikirkan kemungkinan itu. Jadi sekarang bukti sudah lengkap. Aku yakin bahwa di pin itu pasti juga ada sedikit sidik jari Yerin yang tertempel ketika ia tanpa sengaja menarik pin itu. Besok siang kita akan menemui Yunho hyung. Dia salah satu polisi yang mengurus kasus ini. Ia juga yang bersikeras untuk kembali membuka kasus dan melakukan penyelidikan ulang. Jadi kuyakin ia orang yang amat bisa dipercaya.” Donghae berkata sembari menatap teman-temannya.

“Apa tidak bisa bertemu sekarang?” tanya Jiyeon.

Donghae menggeleng. “Ia sedang ada penyelidikan di Incheon. Baru ada waktu esok siang.” Donghae tersenyum kecil, berusaha menenangkan kecemasan Jiyeon dan Seyeon yang terpatri jelas diwajah kedua gadis cantik itu. “Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita hanya harus menunggu beberapa jam, setelah itu kita bisa memberikan bukti ini kepada pihak berwajib.”

Seyeon mendesah lega. Ia sudah membayangkan kehebohan yang akan terjadi begitu fakta ini terkuat. Tapi yang terpenting adalah pada akhirnya Yerin akan mendapatkan keadilan. Sedih rasanya jika harus terus mengingat arwah gadis itu yang masih belum tenang, serta kedua orangtuanya yang tak henti-hentinya menyalahkan diri dan merasa menjadi penyebab utama kematian putri kesayangan mereka. Seyeon menegadah kepalanya menatap kearah rooftop. Disana ia bisa melihat Yerin yang sedang berdiri diam di atas tembok pembatas. Yerin pasti juga sudah tak sabar menunggu hari esok, saat dimana keadilan yang selama beberapa waktu ini tertutup akan terkuak. Han Min Jun akan menerima imbalan yang setimpal atas perbuatannya. Ya, itu harus!

 

 

*****

 

 

Malam belum terlalu larut. Jam masih menunjukkan pukul 09.25 malam. Dengan langkah ringan Jiyeon berjalan menyusuri trotoar sembari menenteng sebuah plastik berukuran sedang yang berisi dim sum. Sebenarnya ia malas sekali harus keluar dari apartemennya yang nyaman malam hari begini. Tapi keinginannya untuk makan dim sum sudah tidak dapat ditunda lagi. Gadis cantik itu mempercepat laju langkahnya. Ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai di apartemen dan menyantap habis dim sum di tangannya ini. Oh, bahkan harumnya saja sudah membuat air liur Jiyeon nyaris menetes.

Terlalu fokus pada dim sum ditangannya membuat Jiyeon lengah. Sebuah mobil van berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya saat ia akan menyebrang. Dua orang pria turun dari dalam mobil. Dan sebelum Jiyeon sempat melakukan perlawanan, kedua pria itu sudah menyeretnya dengan paksa masuk ke dalam van hanya dalam hitungan detik. Beberapa orang yang ada di lokasi pun tak sempat berbuat apa-apa karena kejadian itu begitu cepat. Bahkan untuk mengingat nomor mobilnya saja mereka tidak bisa.

“Ya Tuhan, gadis itu diculik!” Pekik seorang kakek penjaga toko kala sadar dari rasa kagetnya.

 

*****

 

 

Kyuhyun terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal dan keringat yang membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar keras akibat mimpi buruk yang baru saja ia alami. Buru-buru ia meraih ponsel yang berada di nakas, lalu langsung menghubungi Jiyeon. Wajah Kyuhyun semakin memucat kala tak mendapati satu pun panggilan dijawab oleh sang gadis.

“Tidak tidak… ini tidak boleh terjadi!” Racau Kyuhyun panik.

Mimpi buruknya tidak boleh menjadi nyata. Jiyeon harus baik-baik saja. Kyuhyun bangkit dari tempat tidurnya, menyambar jaket serta kunci mobil, dan dengan panik meninggalkan rumah. Di dalam mimpinya, yang sekarang ia yakin betul bahwa itu adalah penglihatan indera keenamnya, ia melihat Jiyeon dibawa dengan mobil van berwarna hitam.

Kyuhyun berusaha keras untuk mengingat plat nomor mobil tersebut. Dahinya tampak berkerut, pertanda bahwa pria yang tengah mengemudi itu sedang berpikir keras. Namun sekeras apapun ia mengingat, ia tetap tak bisa mengingat nomor plat mobil yang membawa Jiyeon. Sepertinya ia terbangun sebelum ia sempat melihat nomor polisi mobil tersebut. Kyuhyun memarkir asal mobilnya di basement apartemen Jiyeon. Setidaknya ia harus benar-benar meyakinkan keberadaan gadis itu. Jika Jiyeon tetap tidak berada di apartemen, maka ia secepatnya harus bertindak.

Dan sial, Jiyeon memang tidak ada…

Kyuhyun kelimpungan. Ia begitu gusar dan merasa bersalah karena kali ini gagal untuk melindungi gadisnya.

“BRENGSEK!!!”

Kyuhyun meninju dinding hingga menimbulkan suara yang nyaring. Tak dihiraukannya tangannya yang terluka. Pria yang sehari-harinya tampak tenang itu kali ini begitu kalut. Jika sudah menyangkut Jiyeon, maka Kyuhyun takkan bisa tenang sebelum gadis itu kembali ke sisinya. Meskipun tidak memiliki bukti konkrit, namun entah mengapa Kyuhyun amat yakin bahwa menghilangnya Jiyeon ada sangkut paut dengan Han Min Jun. Kyuhyun bingung harus bagaimana sekarang. Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Ponselnya tiba-tiba berdering. Secepat kilat dan bahkan tanpa melihat ID caller yang terpampang, Kyuhyun langsung menjawab panggilan.

“Cho Kyuhyun-ssi…”

“Iya. Siapa ini?” dahi Kyuhyun mengerut.

“Kekasihmu sedang bersamaku.”

Perkataan si lawan bicara membuat tubuh Kyuhyun menegang. “Apa mau mu?” tanya Kyuhyun dingin, berusaha untuk tak terdengar gentar.

“Kau tahu pasti apa yang kuinginkan.”

“Kau benar-benar pengecut Han Min Jun-ssi. Kau berani berbuat semaumu, tapi takut menghadapi konsekuensinya. Bagaimana bisa kau hidup tenang setelah menghancurkan hidup orang lain?”

“Aku tak butuh nasihatmu! Serahkan USB dan pin itu padaku! Dan setelahnya kau bisa membawa gadismu pergi. Tapi jika kau masih keras kepala, maka jangan kaget jika mendapati kekasihmu bernasib sama dengan Song Yerin.”

Ekspresi Kyuhyun semakin menegang. Seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah yang begitu memuncak. Kyuhyun tidak bodoh. Ia tahu jika Han Min Jun tetap akan membunuhnya dan Jiyeon meskipun ia menyerahkan USB dan pin tersebut. Pria brengsek itu pasti tak mau mengambil resiko jika tetap membiarkan Jiyeon dan Kyuhyun hidup bebas. Tapi masalahnya saat ini Kyuhyun tidak punya pilihan lain. Ia tak bisa mengambil resiko kehilangan Jiyeon. Bahkan memikirkan Jiyeon yang saat ini berada bersama Han Min Jun saja telah membuat batin Kyuhyun tak tenang.

“Dimana kita harus bertemu?” tanya Kyuhyun dingin. Ia dapat mendengar kekehan kecil dari Han Min Jun diujung sana. Sepertinya pria itu puas karena semua berjalan sesuai keinginannya.

“Gudang tua Seon Dam Joo di Shindongshi. Nanti akan ada yang mengarahkanmu ke tempatku. Ku tunggu kau sekarang. Dan ingat, jangan coba-coba meminta bantuan pada siapapun, apalagi polisi! Kau akan tahu akibatnya jika melanggar. Aku mengawasimu Cho Kyuhyun-ssi.”

Panggilan itu terputus begitu saja. Tubuh Kyuhyun meluruh di atas sofa. Kedua tangannya gemetar menahan emosi yang begitu bergejolak. Pria itu menegadah begitu merasa hawa ‘lain’ hadir disana. Kyuhyun mendapati Yerin yang tengah menatapnya sendu.

“Maaf…” bisik suara parau arwah itu.

“Bukan salahmu. Aku yang salah karena gagal melindunginya.” Ucap Kyuhyun, lalu bergegas berdiri. Ia tak punya banyak waktu. Nyawa Jiyeon yang sekarang menjadi taruhannya.

“Kau tidak akan kesana sendirian, kan?”

“Aku tak punya pilihan lain.”

Kyuhyun nekad pergi tanpa menghiraukan larangan Yerin. Ia tak bisa mengambil resiko untuk melibatkan orang lain. Sebut saja ia bodoh. Tapi untuk saat ini otaknya seakan buntu dan tak dapat diajak kompromi. Kyuhyun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gudang yang dimaksud berada di daerah pinggiran Seoul, tepatnya di kawasan Shindongshin yang memakan waktu setengah jam untuk sampai disana.

Jalan yang dilalui mobil Kyuhyun mulai tak rata dan sepi, tanda bahwa gudang yang dimaksud sudah tak jauh. Dulunya gudang ini adalah tempat penyimpanan peralatan berat untuk pertanian, dan juga dimanfaatkan sebagai lumbung. Namun adanya kasus sengketa tanah membuat gudang itu menjadi kosong tak berpenghuni.

Mobil Kyuhyun melaju dengan pelan, sebelum berhenti akibat ada mobil lain yang menutupi jalan. Kyuhyun langsung waspada begitu seorang pria tak dikenal berpakaian gelap menghampiri mobilnya. Pria itu mengetuk kaca jendela mobil Kyuhyun. Kyuhyun membukanya meski tak sekalipun melonggarkan sikap waspada.

“Cho Kyuhyun?”

“Ya.” Jawab Kyuhyun dingin.

“Ikuti mobilku. Aku akan mengantarmu ke lokasi.” Ucap pria itu, lalu ia kembali ke mobilnya. Seperti yang diperintahkan, Kyuhyun pun mengikuti laju mobil tersebut sambil memperhatikan sekelilingnya.

Sial. Han Min Jun benar-benar jago mencari lokasi. Tempat ini betul-betul terpencil, seakan ia sedang tidak berada di Seoul yang identik dengan kota metropolitan ramai yang tak pernah tidur. Kawasan ini jelas sekali terlupakan. Bahkan lampu penerang jalan saja tidak ada.

Beberapa menit kemudian Kyuhyun sampai di gudang yang dimaksud. Pria asing yang membawanya tadi turun dari mobil, lalu kembali mengetuk kaca mobil Kyuhyun. Kali ini Kyuhyun langsung turun. Pria asing itu memeriksa tubuh Kyuhyun, guna memastikan bahwa Kyuhyun tak membawa senjata atau alat komunikasi apapun.

“Ini tidak boleh.” Ujar pria itu seraya mengancungkan ponsel Kyuhyun yang diambilnya dari saku jaket Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam tak melawan. “Ayo, ikut aku.” Si pria tak dikenal itu menuntun Kyuhyun untuk memasuki gudang yang tampak gelap gulita. Kyuhyun melihat sekelilingnya sebelum kemudian ikut masuk ke dalam sana.

“Aku sudah membawanya kesini.” Si pria asing itu mendorong tubuh Kyuhyun ke depan hingga langsung bertatap muka dengan Han Min Jun. Kyuhyun mati-matian menahan diri agar tidak langsung menerjang pria kejam dihadapannya itu. Han Min Jun ditemani oleh dua orang pria asing lainnya. Sebegitu pengecutnyakah pria terhormat dihadapannya ini hingga harus membawa tiga orang bala bantuan hanya untuk menghadapi dirinya seorang?

“Mana Jiyeon?” tanya Kyuhyun dingin.

Han Min Jun menatap anak buahnya yang berdiri di belakang Kyuhyun. Seakan mereka berbicara lewat telepati, pria itu langsung berkata. “Dia bersih. Tidak ada yang mengikutinya kesini.”

“Kau bawa USB dan pin itu?” tanya Han Min Jun tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun mengenai Jiyeon.

Kyuhyun menatap Han Min Jun tajam. “Kembalikan Jiyeon padaku, dan USB serta pin ini akan menjadi milikmu.”

Han Min Jun mengajak Kyuhyun masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih kecil. Disana Kyuhyun mendapati Jiyeon yang tengah diikat disebuah kursi kayu dengan mulut yang dilakban. Kekasihnya itu tengah terisak pelan, membuat Kyuhyun tak sabar ingin merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya. Mata Jiyeon terbelalak kala mendapati Kyuhyun ada di ruang yang sama dengannya. Tatapan gadis itu menyiratkan rasa lega, namun juga cemas disaat yang bersamaan.

Akan tetapi…

BUGH!

Jiyeon meronta-ronta di kursinya begitu melihat Kyuhyun jatuh terkapar di lantai gudang yang dingin. Perlahan darah keluar dari luka di kepalanya akibat pukulan tongkat baseball. Han Min Jun menatap tubuh Kyuhyun tanpa ekspresi.

“Periksa dia!” Ujar Han Min Jun pada kaki tangannya yang tadi memukul kepala Kyuhyun dengan tongkat baseball.

Dengan kasar pria itu membalikkan tubuh Kyuhyun, lalu memeriksa kantung jaket dan kantung celana Kyuhyun. Di kantung celana training Kyuhyun, ia menemukan sebuah USB dan pin dengan lambang universitas Kyunghee.

“Ini barang yang anda cari.” Pria itu menyerahkan USB dan pin yang ditemukannya ke tangan Han Min Jun, yang tentunya dengan suka cita disambut oleh dosen populer di Kyunghee itu. Ekspresi puas terlihat sekali di wajah Han Min Jun. Tak disangkanya bahwa ini begitu mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Sekarang barang bukti yang akan menyeretnya ke pengadilan sudah berada di tangannya. Ia hanya perlu memusnahkan benda-benda ini selamanya. Ah, dan jangan lupa juga memusnahkan dua sejoli di hadapannya ini. Dan setelahnya, maka takkan ada hal yang bisa mengancam dirinya. Mulai besok ia akan hidup bebas dan tenang.

Han Min Jun melirik kearah kaki tangannya. “Bersihkan semuanya. Jangan sampai ada yang tertinggal.” Ucap pria itu kejam, tanpa belas kasihan sedikitpun. Setelah berkata demikian ia melenggang pergi tanpa repot-repot menoleh ke belakang untuk melihat kedua sanderanya.

 

*****

 

 

Jiyeon panik setengah mati. Tak hanya karena Kyuhyun yang sekarang terkapar tak berdaya dengan kepala yang terus mengucurkan darah, tapi juga karena asap pekat mulai memenuhi ruangan berukuran kecil itu. Jiyeon terus meronta, berusaha untuk membebaskan tubuhnya. Namun sial, tali yang mengikat tubuhnya benar-benar kuat. Yang ada tubuh Jiyeon malah tergores akibat gesekan tali saat ia meronta.

Napas gadis itu mulai berat. Matanya terus tertuju pada Kyuhyun. Dalam hati tak henti-hentinya gadis itu berdoa agar ia dan Kyuhyun bisa selamat. Jiyeon tahu jika Tuhan takkan begitu saja membiarkan Han Min Jun menari-nari bebas setelah melakukan perbuatan keji.

‘Tuhan… tolong kami. Kumohon…’

 

*****

 

 

Mereka berpacu dengan waktu. Donghae yang biasanya selalu taat pada rambu-rambu lalu lintas kali ini memilih untuk melupakan kebiasaannya itu. Di belakang mobil sedannya ada tiga buah mobil lain yang mengikuti, dan juga tak kalah kencangnya dari mobil yang dikendarai Donghae.

“Apa kau yakin arahnya kesini?” tanya Donghae saat mobil mulai memasuki daerah yang begitu terpencil ditambah dengan jalanan yang jauh dari kata bagus. Seyeon yang duduk tegang sembari mencengkram sabuk pengamannya pun mengangguk yakin. “Yerin bilang mereka disini.” Jawab gadis itu seraya melirik ke kursi belakang mobil yang tampak ‘kosong’.

“Jalan lurus lalu belok kanan. Yerin bilang Han Min Jun membawa Jiyeon ke gudang kosong.”

Donghae menggeram kesal. “Seharusnya Kyuhyun meminta bantuan kita. Bukannya malah sok berani menantang maut seperti ini.”

“Kyuhyun sunbae pasti terlalu panik. Kuharap mereka baik-baik saja.” Seyeon meremas kedua tangannya yang basah oleh keringat, meskipun hawa di mobil sama sekali tak panas maupun gerah. Gadis cantik itu hanya begitu gugup dan cemas.

Begitu memasuki perkarangan gudang, mobil mereka berpapasan dengan mobil Han Min Jun. Sontak Han Min Jun memutar arah dan kabur mencari jalan keluar lain. Dua dari tiga mobil polisi di belakang mobil Donghae pun mengejar mobil mewah milik Han Min Jun, sedangkan Donghae serta satu mobil polisi lain tetap pada tujuan awal mereka untuk mencari Jiyeon serta Kyuhyun di dalam gudang.

Donghae, Seyeon beserta tiga orang polisi bersenjata memasuki gudang. Mereka bertemu dengan seorang kaki tangan Han Min Jun yang baru saja hendak melarikan diri. Dengan mudah dan tanpa perlawanan yang berarti penjahat itu berhasil diringkus oleh polisi.

“Dimana kau menyembunyikan mereka?” Tanya polisi yang bernama Jaerim dengan tegas seraya mengeratkan cekalannya pada lengan pria tersebut, membuatnya mengaduh kesakitan. “Dimana?!”

“Me…mereka ada di… ruang belakang. Pintu yang digembok.” Jawab si pria sambil meringis.

Tanpa membuang banyak waktu Donghae, Seyeon beserta dua polisi lain menuju ke ruangan yang dimaksud. Polisi yang bernama Siwan mengeluarkan pistolnya, menembak gembok sebanyak dua kali, lalu menendang pintu kayu itu dengan kuat hingga terbuka lebar. Seketika gumpalan asap menyambut mereka.

“Tutup hidung kalian! Ini gas berbahaya. Jangan dihirup!” Seru Siwan seraya menutup hidungnya sendiri dengan sapu tangan yang tadi disimpan di sakunya.

Donghae langsung menyeret Seyeon menjauh dari sana. “Kau tunggu disini. Aku akan membantu polisi.” Donghae buru-buru kembali ke ruangan dimana Jiyeon dan Kyuhyun disekap. Seyeon memandang ruangan yang penuh asap itu dengan amat cemas. Apa kedua temannya itu sudah lama berada disana? Seberapa banyak racun yang sudah dihirup oleh Jiyeon dan Kyuhyun?

“Ya Tuhan, semoga mereka baik-baik saja. Kumohon…”

Kondisi Jiyeon setengah sadar saat Donghae melepas ikatan yang membelenggu tubuh gadis itu. Begitu ikatan lepas, tubuh Jiyeon langsung meluruh. Beruntung Donghae cepat menangkapnya dan segera menggendong tubuh lemas itu keluar dari ruangan. Ia sendiripun sudah mulai sesak napas akibat menghirup gas berbahaya yang entah apa kandungannya itu, meskipun ia sudah menutup hidungnya dengan syal.

Sementara itu, Kyuhyun ditolong oleh dua polisi lainnya. Kondisi Kyuhyun terlihat amat mengkhawatirkan. Sampai-sampai Donghae takut jika pria itu takkan bertahan lantaran kekurangan darah. Seyeon memekik kala melihat kedua temannya dalam kondisi yang mengenaskan. Jiyeon dan Kyuhyun langsung dibawa menuju ambulans yang sudah menunggu diluar. Keduanya segera mendapat pertolongan pertama sebelum kemudian dilarikan menuju rumah sakit terdekat.

 

*****

 

 

Aksi kejar-kejaran antara Han Min Jun dan polisi masih terjadi. Jalanan yang jelek tak menghambat laju kendaraan mereka. Min Jun memutar setirnya ke kanan, menuju jalanan desa yang jauh lebih baik daripada jalanan yang sebelumnya. Pria itu menoleh kearah kaca spion mobil. Ia tak melihat ada mobil polisi disana. Tampaknya ia berhasil menghindari polisi-polisi itu. Han Min Jun tak dapat menahan senyumnya. Ia merasa kemenangan akan diraihnya sebentar lagi. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan, namun seketika matanya terbelalak kaget seiring dengan tangannya yang reflek membanting setir kearah kanan hingga mobil menabrak tiang listrik dan menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Han Min Jun nyaris terlempar dari kursi kemudinya jika saja ia tak mengenakan sabuk pengaman. Pria itu mengerang sakit sembari memegang pelipisnya yang berdarah. Jantungnya berdebar keras. Dengan perlahan ia menoleh ke depan, namun tak siapapun disana. Tidak ada sosok Yerin yang tadi dilihatnya.

Aniya! Aku pasti salah lihat. Tidak mungkin itu dia. Dia sudah mati.”

Pria itu memutar kunci mobil, berniat kembali melanjutkan pelariannya. Tapi mesin mobil tak menyala. “Sial!” dipukulnya stir mobil untuk menyalurkan emosi. Suara deruman mesin mobil mulai terdengar. Han Min Jun panik. Buru-buru ia keluar dari mobilnya, ingin berniat kabur dengan berlari saja. Akan tetapi langkahnya terhenti seiring dengan wajahnya yang pucat pasi. Pria itu menggeleng. “Maldo andwae…

Di hadapannya berdiri seorang wanita yang sempat menemani hari-harinya. Wanita yang beberapa waktu lalu meminta ia untuk menceraikan istrinya dan menikahi dirinya. Wanita yang karena panik telah ia bunuh. Song Yerin ada disana, menatapnya dengan marah.

Kaki Han Min Jun gemetar. Ia bahkan tidak sadar jika polisi telah mengepungnya dan menodongkan senjata kearahnya. Pria itu terlalu fokus pada sosok Yerin di hadapannya.

“Kau sudah mati…” Bisiknya lirih.

“Kejayaanmu sudah berakhir Han Min Jun. Saatnya pembalasan.” Suara serak itu meremangkan bulu kuduk Han Min Jun. Sosok itu perlahan menghilang, namun belum bisa menghapus rasa kaget dan takut yang mendera pria itu. Bahkan saat polisi meringkusnya, ia tak melakukan banyak perlawanan. Tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan itu semua.

“Song Yerin…”

 

*****

 

 

Berita penangkapan Han Min Jun langsung mem-booming keesokan harinya. Semua mata menyorot kasus pembunuhan Yerin yang melibatkan Han Min Jun sebagai pelaku. Bukan hal yang aneh, mengingat Han Min Jun sendiri adalah sosok yang cukup dikenal di Seoul, baik sebagai seorang pendidik maupun politisi. Seisi Kyunghee tak kalah heboh, masih tak menyangka jika sosok favorit serta panutan mereka tega melakukan hal keji sedemikian rupa.

Tertangkapnya Han Min Jun disertai dengan bukti-bukti konkrit yang ada, mulai dari USB, pin (yang ada sidik jari Yerin), hingga pencocokan DNA darah yang ada dikuku Yerin serta bukti luka dileher pria itu. Semua bukti tersebut semakin memojokkan Han Min Jun. Selama beberapa hari media massa tak henti-hentinya membahas kasus Song Yerin dan Han Min Jun. Terlebih kasus Yerin ini juga menguak kejahatan lain yang telah dilakukan oleh Han Min Jun yaitu, penggelapan dana Kyunghee serta kasus suap. Oh, dan jangan lupa dengan penculikan dan percobaan pembunuhan yang telah ia lakukan pada Jiyeon dan Kyuhyun.

Motif pembunuhan itu sendiri karena rasa panik. Yerin meminta Han Min Jun untuk menikahi dirinya lantaran hubungan mereka yang sudah terlalu melampaui batas. Han Min Jun jelas menolak. Selama ini ia hanya menganggap Yerin sebagai penghibur dari rasa penatnya serta teman ranjang, sama sekali tidak ada cinta. Lagipula ia telah memiliki seorang istri dan dua orang putri. Yerin yang tidak terima kemudian mengancam akan membeberkan hubungan mereka dan juga membeberkan penggelapan dana serta penyuapan yang dilakukan oleh Min Jun. Tak ingin karir dan citra dirinya hancur, rencana untuk melenyapkan Yerin pun muncul seketika.

 

*****

 

 

Keempat mahasiswa itu menatap layar kaca dengan seksama. Seyeon menghela napas, “Syukurlah semuanya sudah berakhir. Sekarang Yerin sudah bisa beristirahat dengan tenang karena ia telah mendapat keadilan. Dan yang terpenting kedua orangtuanya tidak lagi merasa perasaan bersalah.” Ucap Seyeon.

“Yah, aku bersyukur kita berhasil menolongnya.” Tambah Jiyeon sembari tersenyum kecil.

Donghae menoleh kearah Kyuhyun yang tengah setengah berbaring di ranjang rumah sakit. Kepala pria itu masih diperban, namun kondisinya sudah jauh lebih baik daripada beberapa hari yang lalu. Kyuhyun sempat kekurangan darah saat tiba di rumah sakit. Beruntung ia segera mendapatkan perawatan yang maksimal. “Kapan kau keluar dari rumah sakit?” tanyanya.

“Lusa. Aku masih harus mengikuti pemeriksaan untuk memastikan bahwa kepalaku baik-baik saja.” Jawab Kyuhyun.

Jiyeon yang duduk di pinggir ranjang Kyuhyun menggenggam jemari kekasihnya dengan lembut. Beberapa hari yang lalu adalah hari yang cukup berat untuknya karena harus melihat Kyuhyun yang biasanya terlihat kuat, namun kali itu tampak begitu lemah tak berdaya. Setiap mengingat kejadian di gudang, tak ayal tubuh gadis itu selalu gemetar ketakutan. Ia masih trauma. Kyuhyun membalas genggaman kekasihnya itu. Keduanya saling melempar tatapan lembut.

“Ku dengar dari Yunho hyung, kondisi psikis Han Min Jun cukup mengkhawatirkan. Hampir setiap malam ia berteriak ketakutan dan berkata bahwa Song Yerin akan balas dendam. Polisi awalnya menganggap pria itu bergurau untuk mencari perhatian, tapi belakangan ia malah semakin menjadi-jadi hingga polisi harus mendatangkan psikiater untuk menangani pria itu. Mereka bilang ia stress sehingga membuatnya berhalusinasi. Tapi aku yakin jika Yerin benar-benar mengunjungi pria itu.” Ujar Donghae.

“Semua perbuatan pasti ada balasan. Biarkan saja Han Min Jun menikmati waktunya bersama Yerin.” Balas Kyuhyun sambil tersenyum samar.

 

*****

 

 

Ruang tahanan itu terlihat remang-remang dan pengap. Han Min Jun duduk dipojok ruangan dengan tubuh gemetar ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Pria itu menekuk dan memeluk kedua kakinya. Kepalanya ia benamkan disana.

“Jangan ganggu aku… jangan ganggu aku… jangan ganggu aku…”

Entah sudah berapa kali kalimat itu terdengar dari mulutnya. Suaranya terdengar lirih dan bergetar, membuat siapapun yang mendengarnya merasa kasihan. Namun jika mengingat perbuatan bejatnya, maka hukuman seumur hidup pun dirasa belum cukup. Pengadilan memang belum menjatuhkan vonis, namun tak diragukan lagi bahwa sel itu akan menjadi rumah selanjutnya bagi pria itu.

“Tinggalkan aku sendiri. Kumohon… aku minta maaf. Aku minta maaf… maafkan aku…” racau pria itu berulang kali.

Polisi yang kebetulan lewat menatap prihatin kearah tahanan baru itu. Di matanya Han Min Jun tak lebih dari seorang yang sakit jiwanya. Bagaimana tidak, pria itu terlihat begitu frustasi dan tak henti-hentinya meminta maaf, entah pada siapa. Polisi itu memang tak melihat siapapun disana, tapi Han Min Jun jelas sadar bahwa dirinya tidak sendirian.

Song Yerin duduk di atas ranjang kecil dan kusam yang berada tepat di depan Han Min Jun. Hantu wanita itu tersenyum sinis menatap pria sombong nan angkuh yang kali ini terlihat begitu kecil serta rapuh di hadapannya.

“Sudah kubilang kan bahwa sekarang adalah waktunya pembalasan.”

 

-The End-

Kyaaa~ another failed ending! T_T
Maafin aku untuk alur dan endingnya yang kurang greget ini. Dari dulu aku ga pernah bisa bikin cerita misteri/horror yang bagus dan berasa feel-nya 😦 dan bodohnya, diriku tak pernah kapok untuk tulis ff misteri :p Tiba-tiba aja aku jadi kehilangan mood untuk nulis ff genre horror. Pengennya malah nulis yang galau2 (efek dr nonton drama ama baca novel). Makanya aku buru-buru nyelesain ff ini. Takut mood bener2 hilang dan malah ga lanjutin cerita. Pliss.. jangan kapok ya baca ff aku 😀

Makasih buat semua dukungannya. See you soon~ 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

30 tanggapan untuk “SIXTH SENSE (Part 3 – END)

  1. gx pa” jg end di sini..drpd ke.pending kan gx asik…
    ditunggu ff kyuhyun jiyeon lainnya…tp kyuhyun jangan jd seleb ya…

  2. bener2 jahat bgt ya min jun cuma manfaatin yerin doang, untung semua bukti keungkap tapi kasian bgt kyu sama jiyeon jd korban apalagi kyu sampe luka kayak gitu huhuhu
    sukurinsi min jun stres gara2 ngeliat yerin hahaha
    tp endingnya kurang greget sih emang tp gpp daripada ga diterusin hahahaha
    ditunggu cerita yg lain keep writing thor fightiing ‘-‘)9

  3. hai, q reader bru, q dah bca ff dri awl, mf y bru bsa coment, soalnya tiap mau komen g bsa”,, ff u bgus koq,, q suka q suka, apalgi yg jin se yeonnya,buat ff jin se yeon lgi dong oneshoot jg gpp,, soaalnya q lgi baper gra” liat web dramanya sma jung il woo, u dah nton blum? seru koq.. o,y q mw tnya dong knp tiap ff jin se yeon psti ad kyuhyunnya…hhee mf y dah bnyak mnta,, skali lgi slam kenl

    1. Hihi, iya.. aku jg udh nonton drama nya. Aku udh suka jin seyeon dr awal2 dia main drama. Muka cantiknya sulit utk dilupakan wkwkwk.. haha oya ya, aku baru ngeh loh. Mgkn krn aku belom nemu couple yg cocok kali ya hehe.. makasih buat komennya ^^

  4. Ini udh bagus koq menurut aku
    Dan saat penculikan dan pengejaran han min jun itu tegangnya dpt bgt koq

    Aku paham klo ff ini akan jauh dr part romance nya tp menurut aku udh passss bgt koq porsi nya karena emang ff ini lebih fokus ke pengungkapan kebenaran

    Aku ga kapok koq selama cast nya aku suka aku pasti baca 😃😃

  5. Wahahahaha… Finally. Sempet panik kalo jgn2 bakal bad ending haha gercep juga ya si Donghae. Kyuhyun disini juga cuco, sekalipun gegabahan tp yaa wajar sih namanya lg panik. Paham kok romance-nya psti gak bakal banyak krn yaah apa yg kau harapkan dari sebuah cerita horror sih kekekekek xD gud guddd Bella!

    1. Haha, kalo smpe sad ending aku bs digebukin ama kyuyeon shipper xD hoho.. disini sifat kyu emg cool bgt, minta diculik ih wkwkwk.. makasih udh baca 😘😘😘

  6. Dear all of my readers,
    aku punya kabar buruk 😦 aku ga bisa log in ke akun ini lagi lantaran aku ga nerima SMS verification code dari wordpress. aku udh ga tau lg harus gimana. Ini udah berlangsung selama 4 hari 😦 Sumpah, ini suck bgt! aku memulai akun ini udh dari 6 tahun lalu, dan tiba2 kehilangan akses gitu aja. pas minta bantuan dari team wordpress, mereka cuma kasi form pengaduan yg ga guna bgt!!! Skrg aku cuma berharap kalo ini ga permanent dan segera mungkin aku bisa akses akun ini lg. Jd untuk jaga2 aku bakalan posting ff di akun wattpad aja.

    https://www.wattpad.com/user/Kyula88

    Feel free to visit krn kalo akun WP ini ttp ga bisa diakses, aku bakalan posting lanjutan ff di wattpad aja. Mohon doanya supaya akun ku bs balik 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s