Diposkan pada Chapters

The Bodyguard (Part 13)

1425994224260

Author : Cho Haneul
Title      : The Bodyguard
Genre   : Romance, Drama
Type     : Chaptered
Poster   : @shirlyuanaaa

Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Yura (Kim Ah Young)
– Cho Kyuhyun
– Lee Donghae
– Lee Hyukjae

__________________________________________

Park Jinho tersenyum sumringah saat melihat rekaman video beserta suara yang berhasil didapat oleh anak buahnya. Itu semua akan menjadi bukti yang cukup valid kalau dia tidak melakukan penggelapan seperti yang ayahnya tuduhkan padanya. Video itu berisi rekaman gambar percakapan Kang Hyesung dengan salah seorang kolega bisnis tuan Park yang merencanakan penggelapan dana. Jinho mem-pause videonya. Wajahnya tampak puas. “Aku takkan membiarkanmu menari-nari diatas penderitaanku, sepupu.” Gumamnya sinis.

Park Jinho meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. “Eo, aku sudah mendapatkan buktinya. Aku ingin sesegera mungkin mendepak si bodoh itu dari perusahaan dan melemparnya ke balik jeruji besi.”

 

 

*****

 

 

“BRENGSEK!!!!”

Prang!

Serpihan pecahan vas bunga bertaburan di lantai ruang kerja Park Jinyoung. Wajahnya memerah, pertanda bahwa ia sedang amat sangat marah. Kedua tangannya terkepal.

“Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan cucuku lebih awal? Dimana orang suruhan tolol mu itu hah?!” Bentaknya kasar. Hyukjae menunduk dalam. Ia pun juga menyalahkan dirinya yang kalah cepat dibanding orang-orang Lee Dongjun.

“Temukan cucuku secepatnya! Jangan sampai Jiyeon terluka!” Ujar Park Jinyoung.

Ye, sajangnim. Saya permisi.” Hyukjae membungkuk sopan sebelum beranjak pergi.

“Tunggu! Kyuhyun… dimana anak brengsek itu?”

Hyukjae sempat tertegun mendengar julukan baru yang diberikan oleh tuan Park kepada Kyuhyun. Wajar saja, sebab selama ini yang Hyukjae tahu Kyuhyun adalah anak mas Park Jinyoung. Pria tua itu bahkan memberikan posisi penting untuk Kyuhyun di perusahaan serta menjadikan Kyuhyun sebagai direktur di salah satu anak perusahaan SJ Group. Dan tadi ia baru saja menyebut Kyuhyun anak brengsek? Kyuhyun benar-benar sudah tak termaafkan rupanya.

“Saya tidak tahu. Sejak kemarin saya tidak melihat Kyuhyun, baik di rumah ataupun di kantor.”

“Dasar sialan anak itu! Dia pikir dia bisa seenaknya masuk dan keluar dari keluarga ini? Sudah, kau boleh pergi.” Park Jinyoung mengusir Hyukjae dengan gerakan tangannya.

Begitu keluar dari ruangan Park Jinyoung, Hyukjae langsung menghela napas lega. Semenjak Kyuhyun menunjukkan tanda-tanda memberontak, Park Jinyoung jadi lebih sering mengandalkan dirinya untuk urusan apapun, terlebih menyangkut Jiyeon. Dan hal itu yang membuat Hyukjae tak nyaman. Pria yang gemar bertingkah konyol itu paling malas jika harus berurusan dengan bos besar. Baginya itu nyaris sama dengan uji nyali.

Sampai di mobil Hyukjae langsung menghubungi Kyuhyun. Yah, ia terpaksa berbohong pada Park Jinyoung. Ia tahu dimana Kyuhyun dan ia pun masih berhubungan dengan Kyuhyun meski pria itu tak lagi tinggal di rumah mewah milik bos besar mereka. Kyuhyun bahkan berencana untuk keluar dari perusahaan dan benar-benar menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan Park Jinyoung. Hyukjae pun mendukung keputusan itu. Baginya, sudah saatnya Kyuhyun menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa pengaruh Park Jinyoung.

“Bagaimana?”

“Lee Dongjun membawa Jiyeon pergi, dan tuan Park marah besar. Kurasa ia berencana akan melakukan serangan terbuka jika Lee Dongjun tak juga mengembalikan Jiyeon. Kau sudah memberitahu Donghae? Dia pasti bisa membantu. Paling tidak dia tahu langkah apa yang harus diambil untuk menghadapi ayah tirinya itu.”

“Aku sudah memberitahunya. Bisa kita bertemu? Kami juga butuh bantuanmu.”

“Tentu saja. Aku akan dengan senang hati membantu. Ini juga kesalahanku. Andaikan aku lebih cepat tiba.”Sesal Hyukjae. Pria itu menghela napas pelan. “Apa Ah Young baik-baik saja?” tanyanya begitu ingat akan gadis yang dulu pernah ia jaga.

“Ya, dia baik-baik saja. Hwang Tae Jun tidak akan bisa menyentuhnya.”

Hyukjae tersenyum lembut. “Ya, tentu saja. Karena kau takkan membiarkannya, bukan?”

Kyuhyun tak membalas perkataan Hyukjae. “Sampai ketemu nanti sore di tempatku.” Alih-alih Kyuhyun langsung menutup pembicaraan mereka. Hyukjae tersenyum sembari menatap layar ponselnya. “Kau benar-benar sudah jatuh cinta rupanya.”

 

 

*****

 

 

“Silahkan diminum.” Ucap Ah Young sembari meletakkan secangkir teh hangat. Donghae mendongak dan memberikan senyum tipis. “Terima kasih.”

Ah Young menatap Donghae. Gadis itu bisa melihat betapa cemasnya Donghae saat ini, dan dirinya pun juga demikian. Ia takut terjadi hal yang buruk terhadap Jiyeon. Ia bahkan sudah lama tak bertemu dengan sahabat baiknya itu. “Kau bisa menyelamatkan Jiyeon kan?” suara Ah Young terdengar lirih. Donghae balas menatapnya. “Akan kulakukan apapun untuk merebutnya kembali.”

Satu kalimat itu telah berhasil menunjukkan betapa berartinya Park Jiyeon bagi Lee Donghae. Ah Young senang mengetahui itu. Jiyeon pantas untuk dicintai.

Kyuhyun masuk kedalam ruang tengah bersama Hyukjae. “Annyeong Ah Young-ah.” Sapa Hyukjae.

Annyeong oppa. Lama tak bertemu.” Ucap gadis itu.

Kyuhyun dan Hyukjae duduk di sofa dihadapan Donghae. Wajah ketiganya terlihat serius. Ah Young memilih untuk menyingkir sejenak, ingin memberikan privasi pada ketiga pria itu. Dalam hati gadis cantik itu berharap agar mereka bisa segera menyelamatkan Jiyeon. Saat ini hanya keselamatan Jiyeon lah yang paling diinginkannya.

“Jiyeon pasti dibawa ke rumahnya karena penjagaan disana semakin diperketat. Aku yakin ini bukan hanya soal persaingan bisnis. Ada hal lain yang terjadi diantara Park Jinyoung dan Lee Dongjun. Apa kalian tidak tahu?” Donghae menatap Kyuhyun dan Hyukjae bergantian, tapi kedua pria itu hanya menggeleng. Mereka sama bingungnya. Park Jinyoung terlalu abu-abu.

“Sialnya aku tidak bisa leluasa masuk ke dalam rumah itu semenjak pertengkaran hebatku dengan Lee Dongjun. Jadi kurasa kita memang harus menyelinap masuk. Tapi kita butuh bantuan lain. Anak buah Lee Dongjun terlalu banyak. Kita juga harus menyusun strategi. Masuk kesana tanpa strategi sama saja dengan mengantarkan nyawa. Lee Dongjun bukan orang sembarangan.”

 

 

*****

 

 

Takut, resah dan bingung membuat Jiyeon hanya bisa duduk terpaku di dalam kamar mewah itu. Jelas sekali bahwa orang-orang yang menculiknya bukan orang suruhan kakeknya. Kalau begitu siapa? Apa orang-orang ini adalah musuh kakeknya? Apa mereka akan membunuhnya? Pemikiran seperti itu terus muncul silih berganti memenuhi pikiran gadis cantik itu.

Jiyeon memandang sekeliling. Ia bahkan baru sadar betapa mewahnya kamar yang sekarang tengah ia tempati. Kamar itu bernuansa klasik dengan didominasi oleh warna coklat dan warna emas. Terdapat ukiran pada tempat tidur, lemari, meja, kursi hingga cermin. Ranjang yang tengah Jiyeon duduki memiliki empat pilah serta dilengkapi dengan kelambu tipis berwarna putih yang diikat ditiap tiang. Dari pemandangan di jendela membuat Jiyeon tahu bahwa ia berada di lantai 1 rumah itu.

Perhatian Jiyeon teralih kearah pintu kala mendengar deritan halus, tanda bahwa seseorang tengah membuka pintu. Gadis itu langsung bersikap waspada. Jantungnya berdebar keras menanti sosok yang akan muncul.

“Selamat malam Park Jiyeon-ssi… atau lebih tepat ku panggil Park Yura-ssi?” Suara ramah dan nada jenaka itu terdengar dibuat-buat. Jiyeon menatap pria itu dihadapannya dengan tajam. Ia tahu siapa pria itu. Ia memang pernah sengaja mencari tahu perihal ayah tiri kekasihnya. Jadi, apa ini berhubungan dengan dirinya dan Donghae atau karena kakeknya? Jiyeon bisa menebak jika ini karena alasan yang kedua.

Lee Dongjun tersenyum sinis melihat gadis muda yang terlihat sekali menekan rasa takut dan berlagak kuat dihadapannya itu. “Kau suka kamarnya?”

Jiyeon cukup kaget dengan pertanyaan pria itu. Alih-alih menjawab, ia justru memandang Lee Dongjun dengan marah. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Lee Dongjun tertawa sinis. “Entahlah, aku juga tak tahu. Mungkin aku tak menginginkan apapun darimu.” Ia memandang Jiyeon intens. “Kau hanya sedang sial karena merupakan cucu si brengsek Park Jinyoung. Aku hanya ingin bermain-main dengannya.. emm… dan juga balas dendam…” Suara Lee Dongjun mendadak menjadi dingin disertai tatapan matanya yang begitu sarat emosi, membuat Jiyeon bergidik ngeri dan tanpa sadar memeluk tubuhnya sendiri, bersikap melindungi diri.

“Aku hanya ingin melihat si bodoh itu hancur. Tadinya aku ingin melupakan masa lalu kami, tapi kakekmu yang busuk itu kembali mengusikku, jadi apa boleh buat.” Pria paruh baya itu mengedikkan bahunya. “Istirahatlah… ini akan menjadi hari yang panjang…”

Lee Dongjun menghilang dibalik pintu kamar. Jiyeon menghela napasnya yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. Nuansa remang-remang kamar semakin membuat gadis itu merasa takut dan sepi. Jiyeon menoleh kearah jendela yang tengah menampakkan pemandangan langit malam yang gelap. Entah sudah berapa lama ia terjebak didalam sana. Tidak ada jam yang bisa membuatnya tahu seberapa banyak waktu yang telah ia habiskan di kamar mewah itu.

“Donghae oppa…” bisiknya lirih.

 

*****

 

“Baiklah, jika itu yang diinginkan olehnya. Aku tak akan menahan diri lagi. Siapkan semuanya! Aku akan menghadapi Lee Dongjun langsung.” Park Jinyoung menatap Gu Jun Pyo dengan mimik muka serius. Tekad yang kuat tampak jelas diwajahnya yang mulai berkeriput menandakan usianya yang tak lagi muda.

Lee Hyuk Jae masuk ke dalam ruang kerja. Ia menunduk sopan sebelum memberikan informasi terbaru mengenai Jiyeon. “Pertemuan akan dilakukan di luar Seoul besok malam.” Ucapnya.

“Siapkan semua anak buahmu. Aku ingin Jiyeon kembali tanpa kurang suatu apapun.” Perintah Park Jinyoung.

 

 

*****

 

Kang Hyesung melenggang masuk ke dalam ruang kerjanya di SJ Group tanpa sadar bahwa ruangannya sudah diisi oleh beberapa orang polisi yang tengah menggeledah ruang kerjanya.

“Hei, apa-apaan ini?! Siapa yang mengizinkan kalian?!” Geramnya, berusaha untuk menghalangi petugas. Salah seorang polisi, yang tampaknya ketua diantara yang lainnya, maju seraya menunjukkan surat izin penggeledahan yang telah disetujui oleh Park Jinho. Hyesung menggeram marah dan langsung meremum surat tersebut.

“HENTIKAN INI! Kalian akan menyesal jika membangkang.” Ancaman Park Jinho dianggap angin lalu oleh para petugas yang melakukan penggeledahan. “Ini pasti ada kesalahan. Aku akan menemui Park Jinho untuk meminta penjelasan.”

“Tak perlu repot-repot mencariku. Aku sudah disini. Jadi, alasan apa yang akan kau berikan padaku?”

Hyesung menghampiri sepupunya itu. “Apa yang kau pikirkan dengan membiarkan orang-orang ini menggeledah ruanganku seenaknya?”

Park Jinho menyunggingkan senyum sinis. “Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau pikirkan saat dengan mudahnya kau menghianatiku dan malah menjadikanku kambing hitam atas kesalahanmu?” Hyesung cukup kaget mengetahui bahwa tindak busuknya telah diketahui oleh Jinho. Mengelak pun tidak mungkin.

“Mau saran? Tampaknya kau harus segera mencari pengacara handal kalau tidak mau menghabiskan waktu dibalik jeruji besi.”

“Sialan kau Park Jinho!”

 

*****

Ah Young memperhatikan Kyuhyun yang tengah bersiap-siap dengan resah. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi, dan rasanya ia tak ingin membiarkan Kyuhyun pergi. Namun disatu sisi ia tak mungkin melarang, apalagi Kyuhyun akan menyelamatkan Jiyeon. Tapi melihat Kyuhyun yang sedang mengisi peluru pistolnya serta menyelipkan pisau lipat didalam saku, tak ayal membuat gadis itu semakin resah.

“Kau tidak akan menggunakannya, kan?” Ah Young berjalan mendekati Kyuhyun, lalu berdiri disisi ranjang pria itu sembari mengamati.

“Semoga tidak.” Jawab Kyuhyun singkat, yang demi apapun tidak sama sekali membuat Ah Young tenang.

Dengan ragu Ah Young menyentuh lengan Kyuhyun, “Berjanjilah untuk berhati-hati. Aku takut…”

Kyuhyun langsung menarik Ah Young ke dalam pelukannya. Awalnya terasa agak canggung, namun tak lama keduanya mulai membiasakan diri dengan kehangatan tubuh satu sama lain. “Aku pasti akan kembali dengan membawa Jiyeon.” Bisik Kyuhyun lembut ditelinga Ah Young. Gadis itu mengeratkan cengkramannya di jaket Kyuhyun. “Harus. Nan gidarilke.”

 

 

*****

 

Jiyeon pasrah.

Entah kemana orang-orang ini akan membawa dirinya. Berontak pun percuma karena tenaganya kalah jika dibandingkan dengan kelima pria yang ditugaskan untuk membawa dirinya entah kemana. Daripada semakin menyusahkan diri, Jiyeon rasa lebih baik jika ia diam dan menurut. Entah bagaimana ia merasa agak yakin jika Lee Dongjun takkan menyakitinya. Pria itu butuh dirinya untuk memancing sang kakek, bukan?

Tubuh Jiyeon didorong masuk ke dalam sebuah gedung yang lebih pantas disebut gudang. Tak seperti gudang pada umumnya yang menyimpan banyak barang, gudang ini justru cukup lengang. Hanya ada beberapa karung semen di pojok gudang, sebuah meja berukuran sedang, dan empat buah kursi. Tadinya Jiyeon pikir ia akan didudukkan disalah satu kursi itu, tapi dugaannya meleset. Dua dari lima orang pria bertubuh besar itu membawanya naik ke lantai dua dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang ukurannya jauh lebih kecil.

Dengan sigap kedua pria itu medudukannya ke sebuah kursi, mengikat tubuhnya disana, melakban mulut Jiyeon serta menutup matanya. Setelahnya kedua pria itu meninggalkan Jiyeon sendirian. Tidak ada suara apapun terdengar. Hanya deruan napas Jiyeon yang terdengar memecahkan keheningan. Jiyeon duduk diam. Ia bertanya-tanya apa yang sedang kakeknya lakukan sekarang. Apa kakeknya sedang memikirkan cara untuk menyelamatkannya sebagai cucu… atau sebagai seorang pewaris.

‘Tentu saja sebagai pewaris…’

 

 

*****

 

 

Park Jinyoung melangkah masuk ke dalam gudang ditemani oleh beberapa orang bodyguard-nya, termasuk Hyukjae. Lee Dongjun tersenyum sinis melihat kedatangan rival-nya itu. Sudah lama ia menantikan ini. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertatap muka. Selama ini keduanya selalu bertarung secara tidak langsung, seperti memperebutkan tender kontrak ataupun bersaing untuk menjadi pebisnis paling tersohor.

“Dimana cucu ku?” Tanya Park Jinyoung tanpa basa-basi.

Lee Dongjun tersenyum. “Senang bertemu denganmu. Oraemaniyeyo Jinyoung-ssi…”

“Apa yang kau inginkan?!”

Lee Dongjun berjalan sebanyak dua langkah mendekati Park Jinyoung. Wajahnya masih tampak tersenyum sinis. “Mau ku sederhana. Pembalasan. Kau tentunya tidak lupa mengenai kejadian puluhan tahun lalu itu, kan? Dengan kejamnya kau mempermainkan hidupku. Uri chingu itjhana. Tapi segampang itu kau merusaknya.”

“Lepaskan cucuku! Akan kulakukan apapun untuknya.” Ujar Park Jinyoung.

Lee Dongjun tertawa mengejek. Sedikit pun ia tak percaya terhadap perkataan Jinyoung. Dongjun kenal betul bagaimana sifat pria dihadapannya itu. Angkuh, ambisius, egois dan tak pernah mau mengalah.

“Kau tahu, melihatmu yang seperti ini membuatku ingin tertawa terbahak-bahak.” Pandangan mata Lee Dongjun begitu merendahkan. “Bagaimana jika aku ingin kau mundur dari proyek Global Star, dan memberikan kontrak kerjasama itu kepadaku?” Dongjun tahu bagaimana ambisiusnya Park Jinyoung untuk mendapatkan kontrak kerjasama dari perusahaan terbesar dari Amerika Serikat itu.

Dugaan awal Lee Dongjun terbukti. Park Jinyoung terdiam, tak langsung menjawab tuntutan yang ditawarkan. Itu saja sudah membuktikan bagaimana brengseknya Park Jinyoung. Lee Dongjun berdecak. Tangannya masuk ke dalam kantong celana bahan mewah miliknya.

Mata Park Jinyoung menyipit tajam begitu melihat benda yang dikeluarkan Lee Dongjun dari celananya. Sebuah pistol…

 

 

*****

 

 

Donghae dan Kyuhyun telah berada di lantai satu gudang. Ada empat buah pintu disana, yang berarti jika Jiyeon ada didalam salah satu ruangan. Keduanya agak mengernyit heran melihat lorong gudang yang tak mendapat pengawalan. Sejenak keduanya ragu jika Jiyeon ada didalam sana. Apa ini sebuah jebakan?

“Terlalu sunyi.” Bisik Donghae seraya mengitip dari balik dinding. Kedua tangannya memegang senjata dengan canggung. Seumur hidup baru kali ini pria itu memegang senjata api, dan itu cukup membuatnya gugup meski ia sempat berguru sebentar pada Kyuhyun.

“Kita harus periksa satu persatu. Kita tidak bisa diam dan menunggu. Orang-orang Park Jinyoung sebentar lagi mungkin akan kesini. Kita harus bergegas.” Balas Kyuhyun. Dengan langkah pelan dan minim suara, kedua pria itu mengendap-endap untuk memeriksa satu persatu ruang.

Ruang pertama yang Kyuhyun buka kosong. Suasana lorong yang remang-remang sedikit memberi pencahayaan pada ruangan yang gelap gulita itu. Hanya ada tumpukan barang disana yang kondisinya sudah amat tua serta berdebu disana. Keduanya melanjutkan untuk memeriksa ruang kedua. Baru dua detik Donghae menyentuh gagang pintu, pintu terbuka dari dalam menampakkan salah seorang anak buah Lee Dongjun. Pria itu sempat kaget berpapasan dengan dua orang tak dikenal, tapi belum sempat ia meminta bantuan, Kyuhyun telah lebih dulu membungkamnya.

Donghae berjengit ngeri. “Apa… dia mati?” bisiknya takut.

“Ani, hanya pingsan.” Jawab Kyuhyun yang masih mencekal leher pria itu dengan lengannya, lalu meletakkannya begitu saja di lantai.

“PENYUSUP!”

Donghae dan Kyuhyun menoleh ke arah seorang pria yang tengah menodongkan senjata kearah mereka. Dengan sigap Kyuhyun melepaskan pelurunya, mengenai bahu pria itu. Namun naas, teriakan pria itu telah mendatangkan kawanannya yang lain. Donghae dan Kyuhyun terkepung dengan beberapa pria bersenjata api.

“Shit!”

Kyuhyun menoleh sekilas kearah Donghae yang tampak frustasi. “Gunakan apa yang sudah kuajarkan padamu.”

 

 

*****

 

 

Saling todong menodong senjata terjadi. Begitu Lee Dongjun menodongkan senjata kearah Park Jinyoung, Hyukjae langsung balas menodongkan senjatanya kearah Lee Dongjun, diikuti oleh para bodyguard Park Jinyoung yang lainnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh anak buah Lee Dongjun. Lee Dongjun tersenyum sinis. “Masih Park Jinyoung yang sama, eo. Tetap pengecut seperti dulu.” Ejeknya karena melihat Park Jinyoung yang berada dalam perlindungan bodyguardnya.

“Bukan pengecut. Hanya lebih memilih untuk menggunakan logika. Sekarang, sebelum aku menghancurkan kehidupanmu lebih parah dari dulu, lebih baik kau serahkan cucuku. Kesabaranku ada batasnya.”

Suara keributan dilantai atas membuat kedua kubu teralih perhatiannya. Apalagi begitu salah seorang anak buah Lee Dongjun melaporkan penyusupan yang terjadi. Amarah pria paruh baya itu makin tampak. Hyukjae yang sudah membaca situasi langsung mengambil tindakan dengan menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengevakuasi Park Jinyoung, sedangkan dia yang akan membereskan Lee Dongjun.

Dor!

Lee Dongjun melepaskan peluru kearah Park Jinyoung, namun meleset dan malah meninggalkan lubang di dinding. Pria itu berniat untuk mengejar rivalnya itu, akan tetapi Hyukjae jauh lebih cepat. Hyukjae menembak lengan Lee Dongjun, membuat pistol ditangan Lee Dongjun jatuh seiring dengan erangan kesakitan yang terdengar dari mulutnya. Suasana menjadi rusuh. Suara tembakan membabi buta terdengar. Apalagi dengan terlukanya Lee Dongjun, membuat anak buah pria itu menjadi gusar.

Lee Dongjun sendiri langsung dievakuasi oleh kaki tangannya. “Lepas! Aku harus menemui si brengsek itu!” Seru Lee Dongjun. Pria itu menepis tangan anak buahnya yang hendak mengiringnya ke dalam mobil. Lee Dongjun berlari menuju mobil Park Jinyoung setelah sebelumnya sempat merampas pistol dari anak buahnya.

Langkah kakinya begitu pasti dengan sebelah tangan yang mengenggam erat pistol. Tak dihiraukannya luka tembakan dibahu kirinya yang terus mengalirkan darah segar. Ia harus mendapatkan Park Jinyoung. Saat ini juga, atau ia akan kembali menjadi pecundang seperti belasan tahun lalu.

Beberapa tembakan dilepaskan Lee Dongjun sehingga mengenai tiga orang anak buah Park Jinyoung. Dua diantaranya langsung roboh akibat tembakan di bahu dan dada. Tersisa satu yang masih bertahan untuk melindungi tuannya. Dongjun menembak ban mobil Park Jinyoung sehingga ia tak bisa kabur.

“AYO SELESAIKAN SEMUANYA!” Teriaknya.

Dor!

Satu lagi anak buahnya roboh. Kini Park Jinyoung tak bisa kabur. Hanya ada dia dan Dongjun. Pria itu tak punya pilihan lain selain meladeni rivalnya itu. Jika tidak, maka ini akan menjadi akhir hidupnya sebab takkan ada pengampunan yang akan diberikan Dongjun untuknya. Pilihan yang ada hanya membunuh atau dibunuh.

Maka dari itu, Park Jinyoung pun mengeluarkan senjatanya. Ditariknya tongkat yang selama ini selalu menemani langkahnya, menampakkan pedang mengkilap yang selama ini terkamuflase sebagai tongkat.

“Ja, ayo kita selesaikan sekarang juga.”

 

*****

 

Jiyeon memekik senang kala melihat Donghae masuk ke dalam ruang dimana ia disekap. Gadis itu sempat panik saat melihat darah di kemeja Donghae sebelum ia kemudian menyadari bahwa itu bukan darah namjanya. Jadi… apakah Donghae baru saja…

Jiyeon enggan memikirkan itu. Ia fokus menatap Donghae yang dengan cekatan tengah membuka ikatan ditangan, kaki dan badannya. Terakhir, Donghae membuka lakban di mulut Jiyeon dengan lembut. Jiyeon langsung melemparkan diri kepelukan Donghae. “Kau datang…” bisik gadis itu parau.

Donghae membalas pelukan Jiyeon. Tangannya mengusap kepala dan punggung Jiyeon sembari mengecup puncak kepala Jiyeon. “Maaf, aku telah lalai menjagamu. Kau bisa berjalan? Kita harus pergi sekarang.”

“Aku bisa jalan.”

Donghae menggengam sebelah tangan Jiyeon. Posisi Donghae di depan, sedangkan Jiyeon berada di belakang tubuh tegap Donghae. Sebelah tangan Jiyeon yang tidak digenggam Donghae mencengkram kemeja pria itu. Jantung Jiyeon bertalu-talu, seakan jantungnya berada bukan di dalam tubuhnya. Keduanya berpapasan dengan salah seorang anak buah Lee Dongjun yang kebetulan tidak membawa senjata. Donghae langsung menghantam wajah pria itu dengan sikunya, menendang perutnya habis-habisan, lalu melakukan tendangan putar mengenai kepala pria itu. Pria itu langsung roboh, pingsan.

“Ayo!” Donghae kembali meraih jemari Jiyeon dan membawa gadis itu pergi. Jiyeon sendiri masih kaget atas kejadian yang baru terjadi. Donghae yang biasanya selalu bersikap tenang dan lembut baru saja menghajar orang habis-habisan sampai tak sadarkan diri. Jiyeon seakan sedang melihat sosok lain.

“Kau…”

“Kyuhyun yang mengajarkan. Kursus singkat. Cukup keren, kan?”

Pria ini masih tetap Lee Donghae yang biasanya. Cuma Lee Donghae yang masih bisa mengeluarkan candaan dan godaan disaat genting seperti ini. Jiyeon tersenyum kecil seraya mengeratkan genggaman tangan mereka. Mereka bertemu Kyuhyun saat menuruni tangga menuju lantai dasar. Penampilan pria itu tak kalah berantakan dari Donghae. Peluh membasahi wajahnya disertai napas yang agak tersengal.

“Lewat belakang. Junheo sudah siap dengan mobil. Lekas bawa Jiyeon pergi! Aku akan melihat keadaan tuan Park.” Ujar Kyuhyun. Sejahat apapun tuan Park, tapi Kyuhyun takkan bisa menghapus fakta bahwa pria itulah yang selama belasan tahun ini menghidupinya hingga ia bisa seperti sekarang. Kyuhyun tak bisa mengabaikan keselamatan Park Jinyoung begitu saja.

“Aku titip kakek.” Ucap Jiyeon yang dibalas dengan anggukan oleh Kyuhyun.

 

 

*****

 

Park Jinyoung mungkin memang tak mahir menggunakan senjata api, namun soal pedang, pria itu adalah jagonya. Meski tak lagi muda, namun gerakan tubuh Park Jinyoung masih gesit. Setidaknya cukup untuk membuat Lee Dongjun kewalahan dan pelurunya habis. Lee Dongjun membuang senjatanya yang sudah tak berpeluru. Diambilnya sebuah besi panjang dari tanah. Ia pun kembali maju menyerang Park Jinyoung. Pertarungan keduanya cukup sengit.

Srek!

Darah langsung mengucur dari perut Lee Dongjun akibat dari goresan pedang Park Jinyoung yang sangat tajam. Melihat lawan lengah, Park Jinyoung menendang Lee Dongjun hingga jatuh terduduk. “Jika kau memohon, maka aku akan melepaskanmu.” Ucap Park Jinyoung dengan nada mengejek.

Lee Dongjun menghujam besi ditangannya kearah perut Park Jinyoung, tapi Park Jinyoung berhasil mengelak dan gantian menghujam perut Lee Dongjun dengan pedangnya. Mata Lee Dongjun membelalak kala merasakan besi dingin nan tajam itu menusuk perutnya, memberikan rasa sakit yang tak tertahankan. Park Jinyoung menarik pedangnya hingga darah mengucur deras dari perut Lee Dongjun. Napas Lee Dongjun tersengal. Ia bahkan memuntahkan darah.

“Seperti yang kau inginkan. Kita akhiri semuanya disini. Dan kali ini aku kembali menjadi pemenang dan kau pecundang. Chalga chingu-ya.” Park Jinyoung tersenyum sinis sebelum melangkah pergi. Ia berhenti didepan anak buahnya yang baru tiba. “Urus dia.” Setelah berkata demikian Park Jinyoung masuk ke dalam mobil lain yang baru tiba.

 

*****

 

 

Ah Young mengerjapkan matanya, berusaha untuk menyesuaikan pandangan terhadap pencahayaan ruangan yang remang-remang. Tunggu! Remang-remang?!

Gadis itu sontak bangun dari posisi berbaringnya. Matanya memperhatikan kondisi sekitar dengan panik. Ia jelas tak sedang berada di apartemen Kyuhyun. Tempat ini begitu sederhana jika dibandingkan dengan kamarnya di apartemen Kyuhyun. Ah Young berpikir keras, tapi ia tetap tak ingat bagaimana bisa dirinya terbangun disana. Yang terakhir diingatnya ia sedang menonton tv di ruang santai apartemen Kyuhyun, namun tampaknya ia ketiduran diatas sofa. Lalu… bagaimana ia bisa sampai disini?

Ah Young langsung meloncat dari ranjang, lalu berlari menuju pintu kamar. Bertepatan dengan tangan Ah Young yang membuka pintu, ada tangan lain pula yang membuka pintu dari luar. Ah Young reflek meloncat mundur. Jantungnya berdebar-debar menantikan wajah siapa yang akan muncul dari balik pintu.

Napas Ah Young tercekat seiring dengan wajahnya yang pucat pasi. Pria yang paling dihindarinya sekarang ada di depan mata. Hanya berjarak dua langkah darinya. Ayah tirinya menyunggingkan senyum mengejek.

“Halo anakku sayang, kita bertemu lagi…”

 

-To Be Continued-

Maaf udah bikin kalian nunggu lama 😦 aku sibuk kuliah dan sempat kehilangan mood untuk nulis. ku rasa ini writer’s block aku yang paling parah deh T_T aku bener-bener lagi ga mood untuk ngapa-ngapain. Kuliah aja malas #curcol. Sekali lagi maaf kalo ff ini makin boring dan mengecewakan. Sampe ketemu lagi~ 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

13 tanggapan untuk “The Bodyguard (Part 13)

  1. Jiyeon selamat tp skrg malah ah young yg diculik
    Waduhhhh perjuangan blm berakhir nih
    Aku baca nya ngebut soalnya seruuuuu bgt
    Aku dah takut aja klo nanti bakalan ada yg terluka
    Mdh2an semua nya selamat deh

    Next juseyo

  2. Duh deg-degkan aq bcanya,, apalagi pas mereka smua nyelametin jiyeon,, utung mereka smua gk ada yg terluka… Loh knp ah young ada ditempat ayahnya?? Ditunggu nextnya..

  3. waah penyelamatan jiyeon bener2 seru tapi dongjun emang masih baik sih dia ga ngapa2in jiyeon, cuma jadiin jiyeon buat pancingan biar kakeknya dateng tapi kasian dongjun harua bernasib tragis dia kalah sama tuan park, gimana juga keadaan hyesung gara2 penggelapan dana waah maaih complicated banget apalagi sekarang ah young diculik aigooo kasian kyu harus bertarung lagi ngadepin ayh tirinya ahyoung lagi.

    ditunggu yaa kelanjutannyaa ^^

    1. Dongjun itu cuma terlalu dendam ama park jinyoung, makanya dia pake segala cara buat jatohin musuh nya itu. Iya nih, msh agak complicated ya. Tp semoga ga ngebingungin ya 😀 makasih udh baca

  4. Akhir_ny…..
    Kamu kmbali juga saeeeeeng…..
    Sekian lama diri ku mnunggu…😞😞😞😀😀😀
    Aiiiich d buat deg”an dech sma aksi penyelamatan jiyi…heee
    Tpi untung gak ada yang terluka ya…
    Tpiiii sperti_ny park jinyoung blum tobat ya!!!
    Aiich neeeext dech saeng jebaaaallll jangan lama…heeeee
    D tunggu ya…😊😊😊
    FAIGTHING..😉😉😉

    1. Iyaaaa eon.. setelah sekian lama ga nyentuh wp hehe xD makasih udh baca. Ditunggu aja kelanjutannya. Kita liat apa yg bakalan dilakuin abang kyu buat nyelamatin ah young

  5. Satu masalah selesai .. Masalah lain muncul… Kekek kisah cinta donghae dan jiyoen telah berhasil di uji.. Sekarang gantian kisah kyu dan ah young.. Penasaran selanjutnnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s