Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 2)

1461180487715

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun
– Kim Jongin

_______________________________________________

Dengan menenteng sebuah tas baju berukuran sedang, serta memanggul ransel di punggung, aku berjalan menyusuri halaman rumah keluarga yang sebentar lagi akan menjadi majikanku ini. Seperti dugaanku, keluarga ini sangat kaya. Semua tergambar jelas dari betapa besar dan mewahnya rumah keluarga ini. Belum lagi dengan dua mobil mewah yang terparkir di halaman. Ku rasa keputusanku untuk menerima tawaran kerja disini sudah amat tepat.

Saat aku sampai di depan pintu, sudah ada seorang wanita paruh baya yang menungguku. Satpam di depan pastinya telah menghubungi wanita yang kuyakin nyonya rumah ini. Wanita ini cantik sekali meskipun umurnya tak lagi muda. Rambut sebahunya yang berwarna coklat tergerai indah dan tampak begitu lembut. Hidungnya memang tidak terlalu mancung, tapi ia punya bentuk wajah lonjong dengan dagu lancip, kulit putih merona dan mata yang indah. Wanita itu tersenyum menatapku.

Annyeonghaseyo, kau pasti Choi Haneul, kan? Perkenalkan, namaku Song Jisoo. Terima kasih sudah menerima tawaran kerja disini.”

Aku tersenyum sopan, lalu membungkuk. “ Annyeonghaseyo, Choi Haneul imnida. Seharusnya saya yang berterima kasih karena anda telah memberikan kesempatan untuk saya.” Ucapku.

“Ayo masuk!” Ajaknya ramah. “Ku dengar kau masih SMA. Kelas berapa?”

“Saya kelas 12, nyonya.”

Ah geure. Geokjonghajima, sekolahmu takkan terganggu karena pekerjaan ini.” Nyonya Song berkata sambil tersenyum ramah. “Pengasuh yang aku pesan baru bisa datang minggu depan. Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu.” Ucapnya. Ia menunjukkan letak kamarku, lalu setelahnya kembali mengajakku untuk menemu bayi yang akan aku asuh.

Kamar bayi ini berwarna coklat muda dan ada sentuhan warna putih pada perabotan, seperti pada box bayi, lemari, tempat menganti popok, sampai ranjang kecil di pojok kamar pun juga berwarna putih bersih. Kami menghampiri box bayi berwarna putih, dan aku tak dapat menahan senyumku saat melihat bayi berusia 2 bulan ini tengah tertidur pulas dengan mulut yang agak sedikit terbuka. Neomu gwiyeowo.

“Namanya Cho Eunha. Dan seperti yang sudah kau dengar dari Han Yoori, umurnya baru 2 bulan. Anakku meninggal saat melahirkannya.” Mata Nyonya Song terlihat sendu saat menyebut kematian anaknya. Pasti ia sangat sedih. Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga, karena meskipun aku telah kehilangan ayahku, namun aku tak mengenalnya sehingga ia tak bisa kumasukkan dalam kategori orang berharga.

Nyonya Song memberitahu mengenai hal-hal yang menjadi tugasku selama seminggu kedepan. Ku rasa sejauh ini aku tak memiliki kendala sama sekali, dan kuharap untuk seterusnya tetap begitu. Karena si bayi cantik tadi masih terlelap, maka aku memanfaatkan kesempatan ini untuk berbenah. Ku pandang sekeliling kamar berukuran kecil yang sekarang menjadi kamarku. Jangan salah, meskipun ukurannya kecil, tapi kamar ini sungguh bagus dan terlihat berkelas. Yang pasti beratus kali lipat lebih baik dari kamar kumuhku di rumah.

Dinding kamar ini dilapisi wallpaper bunga-bunga kecil berwarna peach. Ada sebuah ranjang untuk satu orang yang tempatkan di pojok kamar, menempel ke dinding. Di sebelah ranjang ada nakas kecil berwarna coklat, sebuah lemari kecil yang juga berwarna coklat d isisi dinding sebelah kanan, serta sebuah meja rias di sebelah pintu masuk. Semua perabotan di kamar ini terbuat dari kayu dan berwarna coklat muda. Ah, dan bahkan ada AC. Nyaman sekali.

Saking nyamannya hingga membuatku terlelap selama beberapa menit.

Aku terbangun sekitar 20 menit kemudian dan sempat panik karena kupikir aku sudah terlalu lama tertidur. Setelah merapikan diri aku keluar kamar dan memutuskan untuk melihat Eunha. Mungkin saja ia sudah terbangun. Pintu kamar Eunha tertutup rapat, dengan pelan aku membukanya. Langkah kakiku terhenti ketika aku melihat seorang pria tengah menggendong Eunha yang ternyata sudah terjaga. Sesekali pria itu tampak membisikkan kata-kata yang tak bisa kudengar dengan jelas. Yang pasti Eunha tampak begitu nyaman dipelukan pria itu.

Siapa dia? Apa dia ayah Eunha?

Awalnya aku menduga jika pria itu adalah ayah Eunha. Tapi ia terlihat masih muda. Tiba-tiba saja pria itu menoleh ke arahku hingga kedua mata kami saling bertatapan. Wajahnya tampan… dan terasa begitu familiar…

Dia pria yang di jembatan!

*****

 

Hari ini bekalku jauh lebih baik daripada biasanya. Tahu jika aku biasa selalu membawa bekal ke  sekolah, pagi-pagi tadi Shin Ahjumma, juru masak di rumah keluarga Cho, membuatkan bento untukku. Isinya cukup menggiurkan. Nasi, ayam bumbu pedas, acar, dan telur gulung. Benar-benar mewah, bukan?

Aku bahkan sengaja memakan bekal ini pelan-pelan, berusaha menikmatinya selama mungkin. Karena jujur saja, sudah lama sekali aku tidak makan senikmat ini. Sebenarnya akan lebih nikmat jika makan bersama Jongin, tapi sayangnya sejak kemarin ia belum membalas chatku. Mungkin sibuk.

Semilir angin menerpa wajahku, menerbangkan helaian rambutku yang tidak kuikat. Sekarang aku sedang di atas atap sekolah, tempat ternyaman dan teraman untukku. Sesekali aku akan melemparkan pandangan ke arah taman atau lapangan sekolah yang tampak ramai dengan beragam aktivitas murid disini. Aku tersenyum miris. Dulu aku sempat menjadi bagian dari mereka sebelum satu kejelekan menghapus semua kebaikan.

Dari sini aku juga bisa melihat kakak tiriku, Oh Sehun, yang tengah duduk di pinggir lapangan basket bersama teman-teman populernya. Sejak kejadian di kelas dua hari yang lalu aku sudah memupuk anganku untuk memperbaiki hubungan dengan Sehun. Ia sudah menegaskan bahwa ia takkan bisa menerimaku sebagai adiknya. Ia bahkan tak ingin melihatku. Perkataannya itu telah menyurutkan semua keberanianku untuk mendekatinya. Bahkan sekarang, untuk menatapnya pun aku tak punya cukup keberanian. Aku menyerah…

*****

 

Jongin muncul di kelasku saat jam pulang sekolah sudah satu jam berlalu. Aku memang pulang terlambat karena menyelesaikan catatan, lalu dilanjut dengan piket kelas. Aku menyapa Jongin, yang dibalasnya dengan pelukan singkat dan kecupan di dahi.

“Sibuk sekali ya? Sampai pesanku tidak dibalas.” Sindirku.

Jongin tampak merasa bersalah. Dielusnya pipiku. “Mianhe, aku tidak sempat membuka pesanmu. Tugasku begitu menyita waktu.” Keluhnya. Jongin duduk disalah satu bangku paling depan, bersedekap dan bersandar dengan nyaman. Aku duduk disampingnya, mengamati kekasihku ini. Seperti ada yang berubah darinya.

Ah, ia mengecat rambutnya menjadi agak kecoklatan.

“Mengubah penampilan, eo?”

“Ah, kau menyadarinya. Banyak yang tidak sadar.” Ujarnya sembari merapikan tatanan rambutnya. Aku tersenyum. Perubahan sekecil apapun, asalkan itu ada pada diri Kim Jongin, maka aku pasti akan sadar.

“Bagaimana dengan makalahmu, apa sudah selesai?” tanya Jongin.

Aku mengangguk. “Ya. Hanya tinggal dikumpul. Neon otte?”

Jongin mendesah. Wajahnya tampak muram. “Belum. Aku selalu tak sempat untuk mengerjakannya. Waktuku selalu tersita untuk latihan basket dan latihan dance. Kompetisinya akan segera dimulai, jadi aku diharusnya berlatih dua kali lipat lebih keras.” Jongin meraih jemariku dan mengenggamnya lembut. “Aku lelah sekali…”

Melihat Jongin yang seperti ini membuatku tak tega. Aku pun menawarkan bantuan padanya. Setidaknya aku ingin berguna bagi satu-satunya orang yang mencintaiku.

“Apa ada yang bisa aku bantu? Mengenai tugas sekolahmu.”

Jongin tampak ragu. “Apa tidak akan merepotkanmu?” tanyanya.

“Tidak. Aku banyak waktu luang, jadi kenapa tidak kugunakan untuk membantumu saja.”

“Emm, baiklah. Apa kau bisa membantuku untuk mengerjakan tugas essay Bahasa Inggris? Kau tahu kan betapa bodohnya aku dalam pelajaran itu. Baru menulis satu baris saja napasku sudah terasa sesak, apalagi jika harus dua lembar penuh, aku bisa mati ditempat.”

“Hahaha, geure tuan Kim Jongin. Berhubung aku gadis yang baik, maka takkan kubiarkan kau mati sia-sia karena Bahasa Inggris.” Candaku.

Jongin tersenyum sembari mengacak rambutku pelan. “Gomawo. Kau yang terbaik.” Ucapnya. “Ah, dan kalau bisa, aku juga butuh pertolonganmu untuk menulis review novel Ahn Hani yang judulnya Senja. Kau sudah pernah membaca novel itu, kan?

Ne.”

Tiba-tiba aku teringat jika minggu depan Jongin akan berulang tahun yang ke-19. Yang sempat ku dengar dari teman-temannya, mereka bilang Jongin akan merayakan pesta ulang tahunnya di café salah seorang sahabatnya yang bernama Lee Taemin. Sudah pasti aku harus memberikan kado yang bagus pada Jongin. Aku tak boleh kalah dari teman-temannya ataupun yeojadeul yang menyukainya.

“Kau ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu?” Tanyaku.

Seonmul?” Jongin tampak berpikir, lalu ia tersenyum manis. “Apapun itu, jika kau yang memberikan aku pasti suka.”

“Gombal!”

“Hei, aku serius! Bagiku hadiah bukanlah hal yang penting, tapi doa dari orang-orang yang terkasihi adalah hal yang paling penting.”

Kim Jongin, pria yang dengan kesederhanaannya telah berkali-kali membuatku terpesona. Betapa Tuhan begitu baik karena telah mempertemukan kita dan memberikan kesempatan bagiku untuk dicintai oleh orang sepertimu. Ku harap kita akan selalu bersama. Yeongwonhi…

*****

 

Aku sedang menidurkan Eunha ketika suara teriakan itu terdengar. Sontak Eunha langsung terbangun dan menangis karena kaget. Ku gendong tubuh mungil bayi itu dan menimangnya sambil mengucapkan kata-kata menenangkan.

“CHO KYUHYUN! KEMBALI KAU! PEMBICARAAN KITA BELUM SELESAI.”

Sepertinya itu suara tuan Cho. Dan pria itu, aku baru tahu jika namanya Cho Kyuhyun. Aku tak mengerti apa yang terjadi diantara pria itu dan ayahnya, tapi aku bisa merasakan jika keluarga ini telah kehilangan satu hal yang paling berharga, yaitu kehangatan keluarga. Sudah dua hari lamanya aku tinggal disini, namun tak sekalipun aku pernah melihat mereka berinteraksi layaknya keluarga. Mereka terlalu kaku satu sama lain. Pria yang bernama Kyuhyun itu bahkan menggunakan bahasa formal kala berbicara dengan kedua orangtuanya.

Ku tatap wajah Eunha yang perlahan namun pasti kembali terbuai di alam mimpi. Aku tahu jika ibunda Eunha meninggal setelah beberapa hari melahirkan bayi cantik ini. Namun aku tidak tahu dimana ayahnya. Tak pernah ada yang menyebutnya.

Selesai menidurkan Eunha, aku pergi ke dapur untuk melepas dahaga. Suasana rumah sudah sepi. Dengan langkah pelan aku berjalan melintasi ruang makan untuk sampai ke dapur. Aku menenggak habis segelas air mineral. Derap langkah kaki terdengar yang sontak membuatku mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk dapur. Di saat itulah mataku bertatapan dengan sepasang mata teduh milik Cho Kyuhyun.

An…annyeong haseyo.” Sapaku dengan sedikit menunduk sopan.

Pria itu hanya diam, lalu berjalan menuju lemari es. Ia mengambil sebotol minuman dingin dan meminumnya. Situasi ini sangat canggung, jadi lebih baik jika aku segera menyingkir. Tampaknya tuan muda Cho ini bukan tipe orang yang senang beramah tamah.

“Ireumi mwoeyo?” tanyanya tiba-tiba, nyaris membuatku melompat kaget.

“Emm… Choi Haneul imnida.”

“Masih bersekolah?”

“Ya. Kelas 12.”

Setelah itu kami diam. Kyuhyun kembali menenggak minumnya, sedangkan aku berdiri di depan wastafel layaknya manekin.

“Ini bukan pertemuan pertama kita, keuchi?” Kyuhyun bertanya, namun ia tak menatapku. Matanya menatap nanar ke arah jendela dapur. Ekspresinya tak terbaca. Aku mengangguk. “Ya. Kita… em… pernah bertemu di… jembatan.” Jawabku tak enak. Mengucap kata ‘jembatan’ tak ayal mengingatkanku pada situasi kami saat itu. Aku nyaris menjadi saksi mata kasus bunuh diri dan pria di hadapanku ini adalah tersangkanya.

Mati-matian aku berusaha menahan mulutku untuk tidak mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan tak sopan yang akan mengancam pekerjaanku, seperti menanyakan alasan mengapa ia berada di atas pagar pembatas jembatan saat itu atau kenapa orang seperti dia ingin mengakhiri hidup. Bukannya apa, tapi lihatlah pria ini! Ia tampan dan berasal dari keluarga kaya raya. Bahkan aku sempat melihat beberapa piala atas namanya dipajang di ruang keluarga. Itu membuktikan jika ia juga berprestasi. Lalu, apa lagi yang kurang?

“Yang selalu terlihat dipermukaan tidak selalu mencerminkan kenyataan yang ada.”

Perkataannya memecah pemikiranku. Ku tatap wajah tampan yang minim ekspresi itu. Aku jadi penasaran, seperti apa wajahnya jika sedang tersenyum. Pasti makin tampan.

“Ada alasan kuat yang membuatku berdiri disana.” Ucapnya. Ia lalu menatapku sejenak. Wajahnya terlihat lelah. “Selamat malam.” Ia kembali berkata sebelum pergi meninggalkan dapur. Aku tertegun di tempatku. Percakapan kami memang amat singkat, namun entah mengapa aku seperti bisa membaca isi hatinya.

Cho Kyuhyun…

Ia lelah…

Ia tertekan…

Ia putus asa…

*****

 

Khusus hari ini kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan dan diganti dengan acara pensi yang sekaligus menjadi acara ulang tahun sekolah. Setiap kelas diwajibkan untuk tampil di atas panggung, entah itu menyanyi, menari, membaca puisi atau mementaskan drama. Yang jelas harus ada perwakilan dari setiap kelas. Selain itu masing-masing kelas juga diizinkan untuk mendekor ruang kelasnya sesuka hati. Ada yang mengubah kelasnya menjadi pameran seni dengan memajang serta menjual barang-barang hasil kreasi murid di kelas itu. Ada yang membuat kelasnya menjadi café dan bahkan ada juga yang menyulap kelasnya menjadi rumah hantu, atau mungkin lebih cocok jika kusebut kelas hantu.

Murid di kelasku sepakakat memilih menjadikan kelas kami café dengan hidangan ala Perancis. Tapi yang membuat unik, kelasku mengusung tema book café, jadi kami juga menyediakan beraneka ragam buku untuk dibaca. Kebanyakan buku adalah koleksi pribadi dari Kim Jiyeon, gadis berwajah boneka yang merupakan anak dari pemilik percetakan terbesar di Korea Selatan.

Setiap murid mengundang orang tua mereka untuk menghadiri acara. Aku tidak mengundang ibu. Memang sengaja. Lagipula aku yakin ibu takkan repot-repot mau datang. Waktunya terlalu berharga jika untuk dihabiskan dengan datang kesini. Itu bukan mengada-ada, tapi ibu sendiri yang bilang padaku saat aku mengundangkan ke acara ini tahun lalu.

Lagipula, mengundang ibu bukanlah ide yang bagus. Aku tak ingin kehadiran ibu justru semakin menarik perhatian teman-temanku dan mendatangkan makin banyak cacian, karena aku sudah lelah.

“Tidak ada kerja kan? Buang sampah ini!” Perintah Jiae padaku. Apa ia tak bisa melihat jika aku sedang mengelap cangkir? Gadis itu langsung menyerahkan plastik hitam berisi sampah itu kepadaku, tanpa repot-repot menunggu jawabanku. Dan seperti biasa, aku hanya diam.

Selesai membuang sampah, aku tak langsung kembali ke kelas. Aku berjalan-jalan tak tentu arah menyusuri sekolah, melihat kesibukan orang – orang disini. Dan saat di taman lah aku bertemu dengan wanita itu. Im Jinah. Ia ibunda Sehun alias istri sah ayahku. Bisa kurasakan kecanggungan yang amat sangat menyelimuti kami. Ini pertemuan kedua kami setelah di acara pemakaman ayah. Aku bertanya-tanya bagaimana perasaannya terhadapku dan ibu. Bencikah ia pada kami?

Sehun datang beberapa saat kemudian. Dengan tatapan tajam nan menusuk yang ia arahkan kepadaku, ia mengajak ibunya untuk pergi, enggan lama-lama bertatap muka denganku. Ah, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Nyonya Im Jinah. Sehun pernah bilang jika wajahku mengingatkannya pada ayah yang sudah berkhianat.

*****

 

“Ah, beruntung sekali Krystal bisa berpasangan dengan Jongin. Aku iri!” Ujar salah seorang siswi sambil menatap penuh iri kearah panggung.

Aku menghela napas dan kembali menoleh kearah panggung. Dentuman musik masih terdengar sejak beberapa menit yang lalu mengiringi gerakan luwes dan penuh enerjik dari beberapa orang penari di atas panggung. Sebagai acara penutupan, klub dance yang digawangi Jongin menampilkan dance mereka. Dan yang membuatku sesak, ada Krystal Jung di atas sana, berpasangan dengan Jongin. Gadis itu selalu digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Jongin. Orang-orang selalu mengelu-elukan betapa cocok dan serasasinya mereka. Sialnya dengan berat hati aku memang harus setuju…

Namun selama ini Jongin selalu menepis gossip itu. Jongin bilang padaku bahwa hanya aku gadis yang saat ini dihatinya, jadi aku tak perlu meragu dan risau. Jongin dekat dengan Krystal karena mereka sudah saling mengenal sejak lama. Itu murni pertemanan. Setidaknya itu yang ia katakan padaku.

Ku perhatikan ekspresi bahagia yang tengah terpatri diwajah Jongin.

‘Aku hanya perlu percaya padamu, kan? Kau mencintaiku, bukan?’

Tangan Jongin berada di pinggang ramping Krystal, lalu mengangkat tubuh langsing itu. Sontak adegan itu mendapat sorakan riuh dari para fans Jongin maupun Krystal.

Sial, kenapa aku jadi ingin menangis?!

*****

 

Aku asyik bermain bersama Eunha, menikmati tiap gelak tawanya yang terdengar begitu imut. Bayi cantik ini sangat mudah membuat orang jatuh cinta padanya. Belum ada seminggu dan aku sudah tak ingin lepas dari sosok cerianya. Eunha bukan tipikal bayi yang rewel. Ia hanya akan menangis jika popoknya ingin diganti atau jika ia lapar. Selebihnya ia akan tenang.

Ku alihkan perhatianku sejenak ke arah ponsel milikku yang kuletakkan di sebelah Eunha yang tengah asyik mengamati langit-langit kamarnya yang ditempeli sticker bintang yang bersinar dalam gelap. Tak ada pesan dari Jongin. Aku menghela napas. Perasaan sedih dan terbaikan kembali menghampiriku. Di sekolah tadi tak sekalipun kami berinteraksi meskipun nyatanya kami berada di tempat yang sama dalam radius yang begitu dekat. Jongin seakan tak tersentuh olehku.

Kekehan Eunha menyadarkanku dari lamunan. Aku kembali menoleh ke arahnya. Bayi cantik ini tersenyum. Tangannya menggapai-gapai. Kuraih jemari mungil bayi berusia dua bulan ini.

“Kyuhyun-ah, ibu mengerti perasaanmu. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan? Kau bahkan belum bertemu langsung dengan gadis itu. Dia sangat cantik, baik dan berprestasi. Kalian pasti akan serasi. Ah, atau jikapun kau tetap menolak, setidaknya kau mau bertemu sekali saja dengan gadis itu. Otte?”

“Bahkan untuk hal seperti ini kalian harus mengaturku?” Suara Kyuhyun terdengar lelah.

Aku terdiam mendengar percakapan ibu dan anak itu. Tampaknya orangtua Kyuhyun ingin menjodohkan pria itu dengan anak kolega mereka, namun dari responnya aku bisa tahu jika Kyuhyuh menolak keras. Apa semua orang kaya melakukan perjodohan, eo?

“Kyu—“

“Aku terima kalian selalu mendikte apa yang harus kulakukan, dimana aku harus bersekolah, jurusan apa yang harus aku ambil, hingga pekerjaan seperti apa yang harus lakukan. Aku sudah melakukan semuanya. Apa itu belum cukup? Apa kalian ingin aku seperti Ahra noona? Kalian ingin hidupku berakhir sepertinya?!”

Nada suara Kyuhyun meninggi, membuatku agak tersentak kaget. Dan apa tadi? Ia menyebut nama mendiang ibu Eunha. Seakan-akan kematiannya ada sangkut pautnya dengan Tuan dan Nyonya Cho. Sepertinya aku menemukan seseorang yang memiliki hidup tak jauh rumit denganku. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Aku asumsikan jika Kyuhyun sudah masuk ke dalam teritorialnya.

Kembali ku pusatkan perhatianku pada Eunha. “Kau harus tumbuh bahagia ya.” Ucapku sungguh-sungguh yang dibalas dengan tawa riang Eunha.

*****

 

“Tagihan listrik naik. Kau pasti terlalu boros menggunakannya. Sudah aku bilang untuk berhemat. Tapi kau malah menyalakan lampu sampai tengah malam, menonton tv dan bermain komputer hingga larut. Aku tidak mau tahu, pokoknya tagihan listrik kali ini kau yang bayar! Aku tidak sudi untuk membayar lebih akibat keborosanmu. Sudah tahu miskin masih boros!”

Telingaku panas. Sudah 15 menit lamanya ibu berteriak-teriak tidak jelas di telepon. Apa ia tak sadar jika saat ini ia sedang melakukan pemborosan pulsa telepon?

Dan ibu bilang aku boros?

Demi Tuhan! Yang boros itu justru ibu. Dia yang selalu menyalakan televisi padahal ia tak menontonnya. Ia juga selalu lupa untuk mematikan lampu jika sudah pagi. Begitu pula dengan penghangat atau pendingin ruangan. Padahal aku sudah semaksimal mungkin berhemat. Sebisa mungkin aku selalu mengerjakan tugas sekolah di siang hari agar tidak perlu menyalakan lampu saat malam. Ibu bahkan melarangku menyalakan pemanas air jika sudah malam. Walhasil aku sering mandi air dingin di malam hari. Ibu selalu marah-marah jika sudah larut namun lampu kamarku masih menyala, maka dari itu aku kerap membaca dengan bantuan sinar cahaya senter.

Nah, kurang apa lagi?

Dengan kejamnya ia malah menyalahkanku dan melemparkan tanggung jawab membayar listrik kepadaku, anaknya yang seharusnya ia biayayai.

“Yak, kau dengar?! Pokoknya kau yang harus bayar! Kalau tidak akan kujual komputer dan buku-buku mu!”

Sial!

Tanganku mengepal, mencengkram erat ponselku. “Dong eul opseoyo. Belum gajian.”

Geotjimal! Aku tahu keluarga kaya itu telah memberikan uang muka padamu. Jangan coba-coba menipuku! Aku bersungguh-sungguh akan menjual barang-barangmu.”

Tidak ada gunanya membela diri. Takkan didengarkan. Hanya membuat lelah. “Geure, akan kubayar.” aku kembali mengalah.

“Johta.”

Tiit!

Panggilan langsung diputus sepihak. Ibuku… tak ada lagi yang sanggup kukatakan selain, apakah Ia memang benar ibuku?

*****

 

Pesan dari Jongin datang saat jam istirahat. Isinya ia menanyakan perihal tugasnya yang aku kerjakan. Ia tak menyinggung sedikitpun mengenai acara ulang tahunnya yang semakin heboh dibicarakan oleh teman-temannya, bahkan yang di kelasku sekalipun. Muncul pemikiran bahwa Jongin sebenarnya tak ingin mengundangku. Mengakui hubungan kami di depan teman-temannya saja ia tak mampu, jadi mana mungkin ia akan mengundangku ke acara ulang tahunnya yang pastinya akan dipenuhi oleh teman-teman populernya itu?

Helaan napasku terdengar diantara hiruk pikuk kelas. Maklum, di jam yang seharusnya diisi oleh pelajaran fisika kali ini kosong lantaran guru yang mengajar sedang sakit. Merasa sumpek dengan suasana kelas, aku pun memutuskan untuk keluar kelas guna mencari udara segar. Aku bangkit dari kursiku, tanpa menyadari berpasang-pasang mata yang sejak tadi diam-diam memperhatikanku.

Aku berjalan selangkah dan…

BRUK!

Aku terjatuh menghantam keras ubin kelas. Seketika gelak tawa bak koor dipertandingan sepak bola terdengar memenuhi kelas. Mereka menertawaiku dan posisi bodohku saat ini. Cepat-cepat aku bangun, mengabaikan rasa sakit dikakiku. Rasa malu lebih dominan ku rasakan.

“Hahaha, ini lucu sekali! Lihat, aku merekamnya!” Seru Yoon Jiae.

“Mana mana! Aku ingin lihat!”

“Aku juga merekamnya.”

Daebak, ini keren! Bagaimana jika diunggah ke sosial media saja?”

Air mataku menggenang dipelupuk mata, bersiap untuk jatuh. Meski sudah berkali-kali hal ini terjadi padaku, namun sialnya aku tak pernah bisa membiasakan diri. Aku terlalu lemah…

Aku bangkit bangun dan nyaris terjatuh lagi. Ternyata ada oknum iseng yang sengaja mengikat tali sepatuku yang kanan dengan tali sepatu yang kiri. Kenapa aku bisa tidak sadar? Apa karena aku terlalu larut dalam lamunanku atau si oknum iseng itu yang terlalu hebat?

“Hahaha lihat lihat, celana dalamnya kelihatan. Cih, gadis mana yang masih menggunakan celana dalam boneka seperti itu. Tak menarik!” Dengan kurang ajarnya Baekhyun berkata dengan lantang yang disambut histeris gelak tawa yang semakin menjadi.

Dan kali ini air mataku sudah tak tertahankan. Aku menangis…

Buru-buru aku lari keluar kelas, mencari tempat aman. Tubuhku gemetar. Isak tangis yang menjijikkan ini terdengar. Aku menghabiskan sisa jam kelas kosong dengan menangis tersedu-sedu di dalam bilik toilet. Suara tawa mereka tak mau pergi dari kepalaku. Masih bisa kuingat dengan jelas bagaimana wajah-wajah itu tertawa puas dan menatapku dengan tatapan rendah, seakan aku ini seonggok sampah yang tak berarti. Kilasan kejadian serupa yang lainnya kembali teringat olehku, membuat tangis ini semakin menjadi. Bukan mauku terlahir dari hasil hubungan gelap. Bukan mauku hidup miskin bersama wanita yang tak pernah mencintaiku sebagai anaknya. Bukan mauku untuk terlahir di dunia ini. Jika aku bisa memilih, maka aku akan memilih untuk tak pernah ada.

Mereka bisa mencemooh dan tertawa melihat kondisi ku karena mereka tak pernah merasakan sakitnya selalu dianggap beban oleh ibumu sendiri, harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kelaparan, serta tak bisa mempunyai pakaian bagus dan trendi. Jika saja mereka bisa merasakan bagaimana sehari saja menjadi aku, Choi Haneul si gadis lusuh, miskin dan terbuang.

*****

 

Aku keluar dari toilet setengah jam kemudian dengan mata sembab dan wajah kucel. Aku berjalan menunduk menuju kelas. Jika tak ingat akan ada mata pelajaran lain setelah ini, maka aku akan memilih untuk tetap di dalam toilet. Setidaknya disana aku merasa aman. Saat melewati kelas Jongin, aku melihatnya dan teman-temannya sedang bercanda di depan kelas. Sepertinya guru yang tadi mengajar sudah keluar. Saat aku lewat teman-teman Jongin, juga termasuk Baekhyun yang berasal dari kelasku, tertawa mengejek.

“Hei gadis celana dalam panda!” Seru Taeyong sambil tertawa. Ku lihat handphone Baekhyun ada ditangan pria itu, yang berarti mereka baru saja melihat video memalukanku. Wajahku memerah, antara malu, marah dan merasa ingin menangis lagi. Aku melirik ke arah Jongin. Ia memang tidak tertawa seperti teman-temannya, namun bisa kulihat seulas senyum samar terpatri diwajahnya. Dan juga, tak sedikitpun belaan darinya terdengar untukku. Bukankah sepasang kekasih seharusnya saling melindungi dan menguatkan?

Aku pun berlalu dengan perasaan terluka…

*****

 

Malam ini aku kembali melihat ekspresi kehampaan itu. Cho Kyuhyun tengah berdiri di depan kolam renang, menatap kosong ke arah permukaan air kolam yang tampak tenang. Matanya memancarkan kesedihan dan kekecewaan. Ku dengar Kyuhyun gagal mendapatkan kontrak kerjasama yang begitu diinginkan oleh ayahnya. Hal tersebut membuat tuan Cho marah. Ditambah dengan fakta bahwa Kyuhyun telah menolak rencana perjodohannya.

Tadi Kyuhyun dimaki habis-habisan di dalam ruang kerja tuan Cho, sedangkan nyonya Jisoo tak bisa melakukan apapun. Hanya diam menunggu cemas di depan pintu. Seharusnya ia membela putranya, tapi ia tak melakukan itu. Menyalahkan Kyuhyun atas apa yang terjadi bukanlah tindakan yang bijak. Seharusnya tuan Cho bisa melihat keseriusan Kyuhyun yang bekerja dari pagi hingga malam demi proyek itu. Kalaupun proyek itu ditolak, toh itu bukan salah Kyuhyun. Itu takdir.

Tapi tampaknya tuan Cho tak percaya takdir. Harus selalu ada yang disalahkan dalam setiap kegagalan, tak terkecuali untuk anaknya.

Sibuk dengan pikiranku, tanpa kusadari Kyuhyun sejak tadi menatapku. Aku terperangah. Seharusnya aku beranjak pergi, namun kakiku seakan tertanam di lantai, hingga membuatku tak bisa beranjak. Kami bertatapan. Tatapan mata Kyuhyun mengunciku dan seakan meneriakkan rasa frustasinya. Seakan ingin meminta pertolonganku…

Seakan ingin aku menariknya keluar dari lubang kesakitan…

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

12 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 2)

  1. Pagi pagi check hp liat wp eh ada ff ini, blm baca part 1 nya sih tapi langsung baca part 2 soalnya udah penasaran (sorry ya author) hihihi tapi sejauh ini suka sama alur cerita ff nya… lain dari ff yg sering aku baca. Ditunggu part selanjutnya ya😊

  2. Waaah bagus:’) alurnya juga keren aku sukaaa XD aku sudah baca part 1nya tapi langsung komen di sini nggak apa-apa ya? hihi. Ditunggu part selanjutnya^^
    Oh iya, aku Dyva, line 99, salam kenal! Kita pernah ketemu di IFK karena kamu komen di FFku yang ‘Fangirling Over You!’ hehe. Sudah lama sekali, sih, tapi pas lagi nyari FF Kyuhyun tiba-tiba terdampar (?) di FF ini. Salam kenal sekali lagi, semangat terus menulisnya ya!^^

  3. Wahhhhh…
    Kereeeennnn eonniiiii…!!!!
    Aku nggak kepikiran Pdahl sempat ada foto kyu oppa….
    Astaga bgaimana eonni punya ide masukin cast kyu oppa nya di part 2…benar-benar daebak!! Eonni…
    Semangat terus eonni.. Gomawo^_^

    1. Hahaha ide untuk cast Kyuhyun itu emang udh dari awal ada. Malah Sehun tu yg ide dadakan wkwkwk.. Thanks ya udh baca. Mohon maaf bgt krn FF ini bakalan lama dilanjutin. Aku lg ga ada mood ama ide, plus lg sibuk magang jg. Jd tiap pulang kerja udh capek dluan 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s