Diposkan pada Chapters

The Bodyguard (Part 14)

1425994224260

Author : Cho Haneul
Title      : The Bodyguard
Genre   : Romance, Drama
Type     : Chaptered
Poster   : @shirlyuanaaa

Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Yura (Kim Ah Young)
– Cho Kyuhyun
– Lee Donghae
– Lee Hyukjae
– Choi Siwon

__________________________________________

Ah Young menatap sekelilingnya dengan pandangan pilu. Ada belasan gadis muda yang disekap bersama dirinya saat ini. Ah Young tidak menyangka jika ayah tirinya itu termasuk dalam sindikat penjualan manusia. Beberapa orang gadis bahkan tampak masih dibawah umur. Entah apa yang ada dipikiran bejat orang-orang itu hingga tega melakukan hal seperti ini. Melihat situasi yang memilukan seperti ini tak ayal membuat Ah Young merasa takut. Bagaimana jika tak ada yang menolongnya lalu ia akan terperangkap menjadi wanita penghibur di luar negeri sana?

Bagaimana jika ia takkan bisa bertemu Kyuhyun lagi?

Ah Young terisak seraya memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Memikirkan kemungkinan itu membuat Ah Young rasanya ingin mati saja. Tak lama terdengar derap langkah kaki. Semua gadis-gadis disana langsung menegang, bahkan beberapa menahan napas saking takutnya. Pintu ruangan dibuka, hingga ruangan yang tadinya gelap menjadi remang-remang berkat cahaya lampu dari luar.

Seorang pria paruh baya masuk bersama beberapa orang pria muda. Tampaknya pria paruh baya itu adalah bos disini. Ah Young tak melihat wujud Hwang Tae Jun, dan gadis itu bersyukur, sebab wajah brengsek pria itu adalah hal terakhir yang ingin dilihatnya di dunia ini.

“Barang-barang bagus.” Ucap pria paruh baya itu sambil tertawa kecil. Matanya menatap satu persatu gadis-gadis yang ada disana, membuat para gadis langsung menunduk takut. Ia lalu tersenyum mesum. “Jangan takut, kami takkan menyakiti kalian. Justru kami akan membuat kalian bisa memiliki uang yang melimpah.”

“Mereka akan dibawa besok subuh.” Ucap seorang pria muda. Mungkin ia seumuran dengan Kyuhyun. Ah Young ingat pria itu sebab pria itu dan Hwang Tae Jun lah yang membawanya kesini.

Geure? Ja, kalau begitu sebelum gadis-gadis cantik ini pergi, aku ingin mencoba salah satunya.”

Perkataan pria paruh baya itu sontak membuat gadis-gadis disana panik, tak terkecuali Ah Young. Ia semakin menunduk dalam, tak ingin wajahnya dilihat. Pria paruh baya itu mengedarkan pandangannya. Meskipun remang-remang namun ia masih tetap bisa melihat wajah-wajah penuh ketakutan milik para gadis. Dan ternyata itu semakin membuatnya bersemangat.

“Hmm…” pria itu tampak menilai-nilai, lalu sedetik kemudian pandangannya terpaku pada satu titik, tepatnya kearah gadis yang tampak menunduk dalam. Senyum licik nan mesum terpatri diwajah pria bertubuh tambun itu. “Dia. Aku mau gadis cantik berambut panjang itu.”

 

 

*****

 

 

Donghae mengeratkan genggaman tangannya dan Jiyeon. Gadis itu tampak tertidur lelap diatas ranjang walaupun gurat-gurat ketakutan dan cemas masih terpatri diwajah cantik itu. Donghae maklum. Kejadian beberapa saat yang lalu itu memang cukup menguras tenaga dan emosi mereka. Dirinya yang pria saja masih merasa takut dan berdebar, apalagi Jiyeon yang seorang perempuan dan menjadi sandera pula.

Woo Bin masuk ke kamar setelah mengetuk pintu. “Ada yang harus kau ketahui.” Ucapnya dengan ekspresi tegang.

 

 

*****

 

 

Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan maksimum membelah jalanan yang sepi. Kyuhyun fokus menatap jalanan di depannya. Sesekali ia akan melirik kearah GPS yang tengah menuntunnya ke tempat dimana Ah Young disekap. Kyuhyun beruntung karena ia sempat memberikan jam tangan yang memiliki alat pelacak kepada Ah Young. Nalurinya berkata bahwa nantinya ia akan sangat membutuhkan bantuan GPS itu, dan pikirannya terbukti sekarang.

“Ku rasa Hwang Tae Jun berniat untuk menjual Ah Young ke luar negeri. Untuk hal semacam itu transportasi lautlah yang dianggap paling aman.” Ucap Hyukjae melalui alat penerima suara. Kyuhyun pun telah menduga hal itu disaat ia tahu bahwa Ah Young dibawa menuju pelabuhan di Gyeonggi yang jaraknya 2 jam dari Seoul. “Dia takkan bisa lolos.” Ucap Kyuhyun.

“Eo. Kita akan menangkap ikan yang besar. Menurut informanku ada sebuah kapal pengangkut barang yang akan berangkat ke Cina subuh nanti. Kurasa dengan kapal itu Ah Young akan dibawa dan mungkin dengan gadis-gadis lainnya. Sindikat penjualan wanita ini adalah yang peling besar di Korea Selatan saat ini.”

 

 

*****

 

 

Ruangan itu kembali gelap dan sunyi selepas para penjahat pergi dari sana setelah mengambil salah seorang perempuan. Ah Young terisak pelan membayangkan ekspresi takut, marah dan sedih yang terlihat diwajah gadis yang baru saja dibawa pergi. Gadis itu sempat mencengkram lengannya sebagai bentuk minta tolong sebelum kemudian dibawa paksa oleh para pria brengsek itu. Perasaan Ah Young tak menentu. Disatu sisi ia bersyukur karena bukan dia yang dipilih, namun disisi lain ia tak bisa mengabaikan rasa kemanusiaannya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menolong gadis itu.

‘Mianhe…’

Entah sudah berapa lama ia disekap di dalam sana, tapi yang pasti rasanya seperti berabad-abad. Batin gadis itu berkecamuk. Apakah Kyuhyun bisa menemukannya? Dirinya sendiri bahkan tak tahu sedang berada dimana.

 

 

*****

 

 

Pekatnya langit malam tidak menghalangi aktivitas beberapa orang pria di pelabuhan. Mereka tampak mondar-mandir mempersiapkan sesuatu. Saking sibuknya mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi kegiatan mereka tengah diamati. Kyuhyun mengamati keadaan sekitar. Ia tahu dimana Ah Young berada, namun ia tak ingin mengambil langkah gegabah yang nantinya malah mengacaukan segala rencana yang telah dibuatnya.

“Aku akan menyelinap ke dalam bangunan itu.” Ujar Kyuhyun pada Hyukjae.

Arasseo. Aku akan memantau keadaan disini. Polisi juga sudah siap diposisi masing-masing. Mereka takkan bisa lolos.”

Kyuhyun mengendap-endap masuk ke dalam bangunan tempat penyimpanan barang dengan pistol ditangan. Ia takkan ragu-ragu untuk melepaskan peluru jika ada yang menghalangi jalannya. Dua orang penjaga duduk di depan sebuah ruangan. Kyuhyun langsung bisa menebak jika Ah Young dan bahkan gadis-gadis lain yang diculik juga berada disana.

Kyuhyun mengambil sebuah kursi kayu. Tanpa sempat kedua penjaga itu bertindak, Kyuhyun telah memukul salah satu penjaga dengan kursi tersebut, lalu kemudian memberikan tendangan memutar dan beberapa pukulan kepada penjaga yang satunya. Keduanya langsung ambruk. Kyuhyun melangkahi tubuh salah seorang penjaga dan masuk ke dalam ruangan. Ruangan gelap itu langsung tampak remang-remang berkat cahaya dari luar.

Ia bisa melihat ekspresi ketakutan yang terpatri diwajah para wanita muda itu. Pandangan Kyuhyun langsung beredar menelisik ruangan, berharap ia dapat menemukan seraut wajah lembut milik Ah Young.

Akan tetapi ia tak kunjung menemukan gadis itu. Salah seorang penjahat yang baru datang tampak kaget kala melihat Kyuhyun. Ia langsung mengarahkan moncong pistol kearah Kyuhyun, namun beruntung Kyuhyun cepat tanggap hingga belum sempat pria itu melepaskan peluru, Kyuhyun sudah lebih dulu menembak perut pria itu.

“Ikut aku!” ujarnya pada para gadis disana.

Dua orang polisi datang. Kyuhyun menyerahkan belasan gadis yang berhasil ditolongnya pada polisi. Ia masih harus mencari Ah Young.

Disisi lain Hyukjae masih terus mengintai. Beberapa saat kemudian tampak tiga buah mobil datang. Tiga orang pria keluar dari sedan hitam. Hyukjae mengenali mereka. Gang Elang. Kelompok mafia yang paling dicari di Seoul karena perdagangan illegal, baik manusia maupun obat terlarang. Selama ini mereka selalu berhasil mengelak dari tangkapan polisi, tapi sekarang tampaknya itu hal mustahil. Bos Gang Elang bernama Park Nam Joon, seorang pria berumur 48 tahun, berbadan tinggi besar dengan tattoo elang di kepala botaknya.

“Target sudah di depan mata. Bersiap!” Ujar suara dari walkie talkie. “Sekarang!”

Polisi langsung menghambur keluar dari tempat persembunyian dan mengepung gang Elang. Anggota gang sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada belasan polisi mengepung mereka.

“Menyerahlah! Jika berontak terpaksa kami menggunakan kekerasan.” Seru polisi Jo, pemimpin penggrebekan ini.

Bukannya menyerah, Nam Joon justru meraih pistol di sakunya dan melepaskan tembakan yang sialnya mengenai polisi Jo. Tembakan itu memicu kemarahan para polisi hingga bentrok antara gang Elang dan polisi tak dapat dihindari. Suara desing peluru terdengar memecah keheningan malam. Satu persatu anggota gang jatuh tumbang terkena peluru panas polisi.

Hwang Tae Jun yang diam-diam melihat semuanya dari jendela ruangan tempatnya bersembunyi langsung panik. Pria itu berniat kabur. Ia menoleh kearah Ah Young yang tengah duduk dengan badan terikat di kursi. Dengan tergesa ia melepas ikatan Ah Young dari kursi, lalu dengan kasar mendorong tubuh gadis itu untuk berjalan. Sebilah pisau ia letakkan di depan leher Ah Young, sebagai ancaman agar gadis itu menurut.

“Jalan!”

Namun, betapa kaget pria tua itu kala membalikkan tubuhnya dan menemukan Kyuhyun disana. Melihat pistol ditangan Kyuhyun membuat Hwang Tae Jun siaga. “Jangan macam- macam jika tak ingin melihat gadis ini mati kehabisan darah!” Ancam Hwang Tae Jun sembari menekankan pisau ke leher Ah Young.

Ekspresi Kyuhyun tampak menyeramkan. Kemarahannya betul-betul memuncak. Dari belakang dua orang pria menodong Kyuhyun dengan golok. Hwang Tae Jun tersenyum puas melihat lawannya tak bisa berkutik. “Wae geure? Kemana perginya Cho Kyuhyun yang gagah berani, eo?” Pria itu tertawa mengejek.

Dua pria yang menahan Kyuhyun mendorong tubuh Kyuhyun, lalu menutup pintu ruangan. Ah Young menatap Kyuhyun dengan kedua matanya yang basah dan tampak sayu. Bukan ini yang diharapkannya saat Kyuhyun datang. Demi apapun, Ia takkan rela jika Kyuhyun harus terluka karena dirinya. Kyuhyun balas menatap Ah Young. Keduanya saling menatap dalam diam.

“Ck ck ck… benar-benar adegan yang menyentuh. Aku jadi terharu. Akan lebih menyentuh lagi jika pemeran prianya berkorban demi gadisnya. Seperti di film. Otte? Ide yang bagus kan?”

Hwang Tae Jun menatap anak salah seorang anak buahnya, lalu ia mengedikkan kepalanya kearah Kyuhyun. Tanpa banyak kata anak buah Hwang Tae Jun langsung memukul Kyuhyun secara membabi buta, sedangkan yang satunya menahan kedua lengan Kyuhyun di belakang. Kyuhyun berniat melawan, namun pekikan Ah Young membuyarkan konsentrasinya.

“Melawan sama dengan mempercepat kematian gadis ini.” Ujar Hwang Tae Jun.

Ah Young meringis akibat goresan pisau dilehernya. Meski tak dalam, namun tak ayal menimbulkan rasa perih dan darah segar yang mulai mengalir. Kyuhyun langsung tak berkutik. Semua pukulan itu di terimanya dalam diam.

GEUMANHAE!!!” Ah Young berteriak histeris.

“DIAM! Kau mau aku memperdalam goresannya?”

Ah Young langsung bungkam. Ia tahu bahwa omongan Hwang Tae Jun bukan sekedar ancaman belaka. Memohon pun takkan ada gunanya. Ayah tirinya takkan melepaskan mereka. Ah Young benci dirinya yang lemah dan tak berdaya. Melihat Kyuhyun terkapar dengan tubuh penuh luka membuat hati gadis itu terasa amat sakit, bahkan melebihi rasa sakit akibat goresan pisau dilehernya.

Hwang Tae Jun tersenyum puas. Ini yang sudah dinantinya semenjak Kyuhyun selalu bisa menggagalkan rencananya untuk membawa Ah Young. “Cukup. Jangan sampai dia mati. Tuan Park masih membutuhkan dia hidup-hidup.”

BRAK!

Pintu yang didobrak paksa terbuka disusul dengan tiga kali tembakan. Hwang Tae Jun dan kaki tangannya tak bisa berkutik kala peluru bersarang dibahu mereka. Hwang Tae Jun melepaskan cekalannya pada Ah Young dan langsung memegang bahunya yang mulai mengucurkan darah. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Ah Young. Ia langsung berlari menghampiri Kyuhyun. Hyukjae membantu melepaskan tali yang mengikat tubuh Ah Young.

“Kyuhyun-ah, kau bisa mendengarku?!” Seru Hyukjae seraya mengguncang tubuh Kyuhyun.

“Kyuhyun oppa!”

Dengan susah payah Kyuhyun membuka matanya yang lebam. Ia terbatuk. “Aku… aku masih sadar.” Ucapnya susah payah.

Dengan sigap Hyukjae membopong Kyuhyun. Ah Young berjalan disebelah mereka. “Rencanamu sukses. Komplotan bejat itu sudah dibekuk polisi.” Ucap Hyukjae. Kyuhyun dan Ah Young menatap kearah komplotan gang Elang yang sedang diamankan oleh polisi dan dibawa masuk ke dalam mobil tahanan. Ah Young bersyukur dalam hati. Ia nyaris saja menjadi korban perdagangan wanita. Ia berharap bahwa takkan ada lagi komplotan yang menculik dan memperjual belikan manusia apalagi wanita demi alasan apapun.

Dan untuk terakhir kalinya Ah Young menatap Hwang Tae Jun yang tengah digiring ke mobil tahanan. Ah Young berharap bahwa ini adalah kali terakhirnya bertemu dengan pria bejat itu.

 

*****

 

 

Ah Young duduk disisi ranjang Kyuhyun. Sejak Kyuhyun ditempatkan di kamar rawat, tak sedikitpun gadis itu beranjak dari tempatnya. Kyuhyun memang sudah ditangani oleh tim medis dan beruntung, menurut dokter tak ada luka fatal di tubuh pria itu. Namun begitu, Ah Young tetap merasa khawatir dan merasa bersalah. Semenjak ia muncul di kehidupan Kyuhyun yang bisa diberikannya hanyalah kesusahan dan kesakitan. Ini bukan kali pertama Kyuhyun terluka karena dirinya. Dan itu semua membuat Ah Young merasa sebagai pembawa sial di kehidupan Kyuhyun.

Dengan perlahan tangan gadis itu menggapai wajah Kyuhyun, membelainya lembut dan hati-hati. “Mianhe…” bisik gadis itu.

 

 

*****

 

 

Upacara pemakaman Lee Dong Jun berjalan hikmat. Donghae turut hadir disana meskipun hubungannya dengan mendiang ayah tirinya itu begitu buruk. Kematian Dong Jun cukup membuat Donghae kaget. Belum lagi dengan fakta betapa menyedihkannya jasad pria itu saat ditemukan di hutan pinggiran kota Seoul. Dalam hati Donghae jadi mengira-ngira apakah kematian Dong Jun disebabkan oleh Park Jinyoung yang notaben adalah kakek dari kekasihnya.

Kemungkinan itu cukup membuat Donghae jadi sadar betapa berbahaya dan menyeramkannya sosok Park Jinyoung. Pria itu memiliki harta melimpah serta kekuasaan yang memungkinkannya untuk melakukan apapun, termasuk membunuh seseorang tanpa meninggalkan jejak.

Selepas dari pemakaman, Donghae menuju ke rumah sakit. Tadi pagi ia mendapat kabar jika Kyuhyun dirawat disana. Jiyeon sudah berada disana saat ia tiba. Gadis itu memang tidak ikut ke pemakaman Dong Jun. Bukan karena Jiyeon tidak mau ikut, namun Donghae yang melarang. Alih-alih pria itu meminta Woo Bin untuk langsung mengantar Jiyeon ke rumah sakit.

Donghae agak kaget melihat keadaan Kyuhyun yang cukup kacau dengan lebam dan luka diwajah serta badannya. Tak heran, sebab selama ini ia selalu disuguhi oleh pemandangan Kyuhyun yang kuat serta misterius. Kondisi Ah Young pun juga tak sepenuhnya baik. Gadis itu tampak kelelahan. Donghae tersenyum kecil pada Ah Young. “Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja, oppa. Terima kasih sudah menepati janjimu untuk membawa kembali Jiyeon.” Ucap Ah Young seraya menggenggam tangan Jiyeon yang duduk disebelahnya. Jiyeon tersenyum haru mendengar perkataan gadis yang sudah diklaim sebagai sahabat terbaiknya itu.

“Ah, dan aku juga turut berduka atas kematian ayahmu.” Ucap Ah Young lagi.

Donghae tersenyum kecil. “Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku menganggapnya ayahku.” Ia lalu menoleh kearah Kyuhyun. “Bagaimana keadaanmu? Apa kata dokter?”

“Kondisiku tidak terlalu buruk. Setidaknya tidak ada luka fatal. Hanya memar dan lebam saja.”

“Syukurlah.” Ucap Donghae bersungguh-sungguh. “Satu masalah lagi, dan setelahnya kita akan baik-baik saja.”

“Atau malah hancur berantakan.” Tiba-tiba Jiyeon menyahut. Semua mata memandang gadis itu yang tampak begitu murung. Ah Young mengelus punggung tangan Jiyeon. “Hei, jangan terlalu berpikiran negatif. Kita harus yakin bahwa kita bisa melewati ini. Apalagi kita berempat. Selama kita terus bersama-sama dan berpengang teguh pada keinginan kita, maka tak ada yang tak mungkin.” Ah Young berkata dengan lembut dan berusaha untuk memberikan aura positif pada Jiyeon.

“Kita akan baik-baik saja, Ji. Aku janji.” Ucap Donghae.

Kyuhyun dan Ah Young saling bertukar pandang sembari dalam hati saling menguatkan. Yah, mereka harus yakin jika mereka akan baik-baik saja setelah semua kesakitan ini. Pada akhirnya Tuhan pasti akan memberikan mereka kebahagiaan. Bukankah Tuhan maha adil?

 

 

*****

 

 

Nami berjalan masuk ke kediaman ayahnya. Park Jinyoung sedang minum teh di halamam belakang. Jika biasanya sang ayah akan menyambutnya hangat, kali ini Park Jinyoung tampak bersikap dingin, seakan ia tahu bahwa apa yang akan dikatakan oleh putri bungsunya ini bukanlah hal yang menyenangkan.

Meskipun begitu, tak sedikitpun Nami merasa gentar. Ia berdiri di depan ayahnya, menatap langsung ke kedua manik mata itu.

“Hentikan semua ambisi appa pada Jiyeon. Sudah cukup selama ini appa menyakiti Jiyeon. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Apa appa mau mengulang kesalahan yang sama?”

Park Jinyoung tampak berang. “Hentikan omong kosongmu itu! Semuanya aku lakukan semata-mata demi kebaikan Jiyeon.”

Geotjimal! Semua ayah lakukan demi kebaikan ayah sendiri. Semua demi memuaskan ambisi dan keinginan ayah. Aku mengatakan ini karena aku menyayangi ayah. Aku tak ingin ayah kembali kehilangan Jiyeon. Aku tak ingin ayah hidup dalam penyesalan.” Suara Nami terdengar bergetar.

Ekspresi Park Jinyoung mengeras, tanda bahwa emosinya mulai terpancing. “Jangan mendikteku! Urusi saja urusanmu sendiri.” Geram Park Jinyoung, lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Nami. Wanita itu menghela napas lelah. Ya, ia lelah dengan sikap ayahnya yang tak pernah bisa belajar dari kesalahan. Tadinya Nami berpikir bahwa kematian YoungJae dan menghilangnya Jiyeon telah mengubah ayahnya, namun nyatanya ia salah. Ayahnya masih tetap menjadi seorang Park Jinyoung yang egois, keras kepala dan otoriter.

 

 

*****

 

 

Malam datang menjemput. Jiyeon dan Donghae sudah pulang sejak beberapa jam lalu setelah menghabiskan waktu setengah hari di rumah sakit. Kyuhyun tampak mengantuk, mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya tadi.

“Tidurlah, oppa tampak mengantuk.” Ucap Ah Young yang baru keluar dari dalam kamar mandi.

Kyuhyun menatap Ah Young, menelisik penampilan gadis itu yang baru selesai mandi dan telah menganti bajunya dengan baju yang dibawa Jiyeon tadi. Perhatian Kyuhyun terpaku pada leher gadis itu yang diperban akibat luka goresan pisau dari Hwang Tae Jun. “Kau seharusnya ikut pulang bersama Jiyeon dan Donghae, jadi bisa beristirahat dengan nyaman di apartemen.” Ucap Kyuhyun. Ia tahu bahwa gadis dihadapannya ini kelelahan dan terlalu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.

Ah Young menggeleng. “Disini juga tak kalah nyaman.”

Kyuhyun berdecak pelan, tahu bahwa Ah Young berbohong. Bagaimana mungkin tidur di sofa bisa dikatakan nyaman? Kyuhyun menyuruh Ah Young mendekat, “kemarilah.” Pintanya. Ah Young menurut. Kyuhyun menggeser posisi tubuhnya hingga menyisakan ruang kosong disebelahnya. Ah Young tampak ragu, namun Kyuhyun sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu hingga ia tak bisa menolak.

“Nanti aku bisa menyenggol lukamu.”

“Tak apa.”

Singkat, padat dan jelas. Jelas sekali Kyuhyun tak ingin dibantah. Dengan canggung Ah Young membaringkan tubuhnya disebelah Kyuhyun. Mereka berdua berbaring dalam diam. “Lukamu masih sakit?” tanya Kyuhyun, mengagetkan Ah Young. Ah Young menoleh menatap Kyuhyun, namun spontan langsung balik ke posisi semula kala menyadari betapa dekatnya jarak wajah mereka.

“Em… sudah tak apa.” Jawabnya pelan.

Jemari Kyuhyun menyentuh perban dileher Ah Young dengan lembut. Dari leher, jemari pria itu naik ke dagu Ah Young. Diangkatnya wajah gadis itu agar kembali menatapnya. Ekspresi Ah Young tampak canggung. Wajar saja, sebab ini adalah salah satu momen dimana ia begitu dekat dengan Kyuhyun, pria yang nyaris selama setahun disukainya. Tatapan Kyuhyun begitu intens. Tanpa disadari wajah mereka semakin mendekat hingga akhirnya bibir Kyuhyun menyentuh bibir Ah Young.

Mata Ah Young terbelalak kaget, namun beberapa saat kemudian mata gadis itu terpejam. Ia menikmati momen indahnya ini. Kyuhyun melumat pelan bibir Ah Young. Jujur, ia pun gugup. Ini kali pertamanya melakukan skinship yang begitu intim bersama seorang gadis. Selama ini ia tak pernah memiliki kekasih. Hanya sekedar teman kencan. Itu pun karena Hyukjae yang menjebaknya. Dan tentunya ia tak melakukan skinship dengan teman kencannya itu, meskipun si wanita jelas takkan keberatan untuk melakukan skinship.

Jadi apa yang sedang ia lakukan bersama Ah Young sekarang adalah pengalaman pertama untuknya. Pertama dan rasanya sangat menyenangkan. Kyuhyun tak pernah tahu itu sebelumnya. Kyuhyun melepaskan ciumannya, namun wajah mereka masih dekat hingga bisa saling merasakan hembusan napas yang menerpa wajah.

Kyuhyun tersenyum lembut, yang tak ayal turut mengukir senyuman diwajah Ah Young. “Kita akan baik-baik saja, bukan?” bisik Ah Young. Kyuhyun mengelus kepala gadis itu lembut. Ia tidak menjawab pertanyaan Ah Young, melainkan malah mengatakan hal lain yang cukup mengagetkan gadis cantik itu. “Uri gyeolhonhaja..

 

*****

 

 

Park Jinho keluar dari sebuah bar elite tempat dimana ia baru aja bertemu dengan teman-temannya. Pria paruh baya itu berjalan santai di parkiran menuju mobilnya tanpa sadar bahwa sejak tadi ada yang mengintainya. Si pengintai berjalan pelan mendekati Park Jinho dengan sebilah pisau dibalik jaketnya. Tepat sebelum Park Jinho masuk ke dalam mobil, si pengintai menepuk bahu Jinho. Begitu Jinho membalikkan badan, saat itu pula sang pengintai menusuk perutnya tanpa ampun. Mata Jinho terbelalak kaget. Ia bahkan tak sempat berteriak. Si pria penusuk mencabut pisaunya dan kabur meninggalkan Park Jinho yang terkapar bermandikan darah di parkiran.

 

*****

 

 

Dering ponsel membangunkan Jiyeon dari tidur nyenyaknya. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, lalu bangun dengan perlahan untuk menggapai ponselnya di atas nakas di samping ranjang. Jiyeon mengernyit kala melihat nama bibi Nami terpampang di layar ponselnya. Ini sudah tengah malam dan sang bibi menelpon.

‘Ada gerangan apa sehingga bibi menelpon selarut ini?’ batin Jiyeon bertanya.

Jiyeon menjawab telepon tersebut dengan pelan, tak ingin suaranya mengusik Donghae yang sedang terlelap di sebelahnya.

“Halo, bi? Ada apa?”

“Jiyeon-ah!”

Jiyeon semakin khawatir mendengar isakan sang bibi. Pasti ada hal buruk yang tengah terjadi. Apa ini berhubungan dengan sang kakek?

“Kenapa menangis, bi? Wae geureyo? Kau membuatku panik.”

“Jinho oppa… Jinho oppa meninggal akibat ditusuk orang tak dikenal.”

“Ya Tuhan! Aku akan kesana. Bibi di rumah sakit mana?”

“Inha Hospital.”

Setelah menutup telepon Jiyeon langsung mengguncang tubuh Donghae dengan panik, membuat pria itu seketika tersentak bangun dari tidurnya. Mata Donghae menatap nyalang sekelilingnya, sebelum kemudian memusatkan perhatiannya pada Jiyeon yang tampak panik.

“Ada apa?” tanya Donghae seraya mengusap wajahnya.

“Jinho samchon… dia meninggal.”

Mata Donghae terbelalak. “Mwo? Onje?”

Molla. Bibi baru mengabariku tadi. Katanya samchon menjadi korban penusukan. Kita harus ke rumah sakit sekarang!” Ujar Jiyeon. Donghae memgangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka serta mengganti baju.

 

*****

 

 

Keduanya sampai di rumah sakit 20 menit kemudian. Mereka langsung bergegas menuju kamar jenazah dimana keluarga Park telah berkumpul. Nami langsung memeluk Jiyeon dengan erat. Meskipun tidak terlalu akrab dengan Jinho, namun Nami tetap amat menyayangi kakak laki-lakinya itu. Jiyeon menenangkan sang bibi. Paman Tae Woo, Siwon dan Eunsoo juga berada disana, namun Jiyeon tidak melihat Yunho dan bibi Hana, begitu juga sang kakek.

“Aku tidak mengerti mengapa ada orang yang sejahat itu. Kalaupun Jinho oppa berbuat salah, tidak seharusnya ia membunuh uri oppa.”

Jiyeon tidak tahu harus bereaksi seperti apa, sebab ini kali pertamanya menghadapi situasi seperti ini. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap punggung Nami dengan lembut, berusaha untuk memberikan ketenangan pada bibi kesayangannya itu. Beberapa saat kemudian tampak tuan Park dengan didampingi oleh asistennya, Gu Jun Pyo. Wajah pria itu muram dan tersirat jelas kesedihan dan juga kehilangan yang berusaha ditutupinya. Untuk sekarang Jiyeon jadi merasa kasihan pada kakeknya. Namun begitu, Jiyeon tidak menghampiri sang kakek. Ia hanya diam ditempatnya bersama Nami. Donghae pun terlihat canggung dengan kemunculan tuan Park.

Tuan Park menatap Jiyeon dan juga Donghae bergantian. Kebencian terlihat jelas dimatanya saat ia menatap Donghae. “Untuk apa kalian kesini?” ketusnya, membuat Jiyeon tersentak kaget. Gadis itu menunduk.

Haraboji, ireohke hajima! Paman Jinho juga paman Jiyeon. Ia berhak berada disini.” Siwon berkata sembari menatap sang kakek dengan lelah. Ia sudah mendengar cerita mengenai perbuatan kakeknya dari sang ibu, dan jujur saja itu membuatnya amat kecewa. Ia tidak menyangka jika kakeknya tega berbuat demikian hanya agar keinginannya terpenuhi.

Yunho muncul dengan wajah begitu kuyu. Pandangan matanya kosong.

“Bagaimana Hana?” tanya Nami.

“Dokter telah memberikan ibu obat penenang. Untuk beberapa saat ia akan tertidur pulas. Jenazah ayah sudah bisa dibawa ke rumah duka.”

Yunho menatap Jiyeon sekilas, namun ia hanya diam tanpa kata. Jiyeon pun memilih untuk tidak melakukan interaksi lebih banyak pada sepupunya yang satu itu.

“Kita duluan saja. Aku akan menghubungi Hyesun eonni agar langsung ke rumah duka. Dan Yunho, kau jaga ibumu disini. Biar kami yang mengurus upacara pemakaman dan lainnya. Kau fokus saja menjaga ibumu. Ia pasti sangat terguncang dengan peristiwa ini.” Ujar Nami yang dibalas dengan anggukan sopan oleh Yunho.

 

*****

 

 

Kang Hyesung menatap langit malam dari sela-sela ventilasi udara sel tahanannya. Senyum kepuasan tercetak jelas diwajahnya. Hari ini cukup membahagiakan untuknya karena pada akhirnya ia bisa balas dendam pada orang yang paling dibencinya. Orang yang selama ini selalu membuat dirinya menjadi bayang-bayang dan selalu menghalangi jalannya untuk mendapatkan SJ Group.

“Hah, pada akhirnya yang tangguh selalu yang menang. Selamat jalan sepupuku sayang…”

 

 

-To Be Continued-

Satu chapter lagi dan FF ini tamat 😀
Maaf udh bikin kalian lumutan nungguin ff ini ataupun ff aku lainnya. Selama liburan aku emang fokus seneng-seneng dan menghabiskan waktu ama keluarga dan temen-temen. Yah, itung2 refreshing sebelum skripsi hehe.. 

Semoga kalian ga bosen sama ff ini (tanggung kok, bentar lg tamat :p)

Makasih buat dukungannya. Sampai ketemu di part ending ^^

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

15 tanggapan untuk “The Bodyguard (Part 14)

  1. huhuhu kamu kemana ajaa aku sempet hopeless sama ff ini tapi untung masih disambung :((
    akhirnya ahyoung berhasil diselamatkan, walaupun kyu babak belur tp enak juga kan ahyoung bisa ngerawat kyu dan dapet perlakuan romantis dari dia ahaaiii
    jiyeon akhirnya kamu jg bisa bebas dan kembali ke pelukan donghae walaupun masalah dengan si kakek blm terselesaikan. ternyata bener si hyesung yg bunuh jiho pasti gara2 kejadian yv kantor dia digeledah huhft bener2 pada licik semuanya.
    ditunggu yaa part selanjutnya ^^

    1. Huhuhu mianheee… aku smpet stuck sama ide ff ini 😦 tp untung writer’s blocknya berhasil dikalahkan hehe.. makasih byk udh setia nungguin ff ini. Semoga ga bosen ya. Smpe ketemu di final part ❤

  2. Dear all of my readers,
    aku punya kabar buruk 😦 aku ga bisa log in ke akun ini lagi lantaran aku ga nerima SMS verification code dari wordpress. aku udh ga tau lg harus gimana. Ini udah berlangsung selama 4 hari 😦 Sumpah, ini suck bgt! aku memulai akun ini udh dari 6 tahun lalu, dan tiba2 kehilangan akses gitu aja. pas minta bantuan dari team wordpress, mereka cuma kasi form pengaduan yg ga guna bgt!!! Skrg aku cuma berharap kalo ini ga permanent dan segera mungkin aku bisa akses akun ini lg. Jd untuk jaga2 aku bakalan posting ff di akun wattpad aja.

    https://www.wattpad.com/user/Kyula88

    Feel free to visit krn kalo akun WP ini ttp ga bisa diakses, aku bakalan posting lanjutan ff di wattpad aja. Mohon doanya supaya akun ku bs balik 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s