Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 6)

1461737469168

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

___________________________________________

Setelah melewati proses rayuan serta paksaan yang cukup alot, akhirnya Jiwon bersedia untuk ikut snorkeling di hari terakhir mereka di pulau Geoje. Sejak tadi Woo Bin berusaha untuk mendekati Jiwon, entah itu untuk membantunya mengenakan peralatan snorkeling atau hanya sekedar basa-basi tak penting. Semuanya tindakannya itu beralasan. Sejak adegan ciuman di kolam renang kemarin, Jiwon seakan menghindarinya. Woo Bin sangat menyadari itu. Pria itu jadi bingung sendiri. Toh, ciuman itu terjadi tanpa paksaan, kan? Dengan kata lain atas dasar suka sama suka. Lalu, kenapa Jiwon bersikap seolah ia telah mencuri ciuman gadis itu?

Ah, wanita memang sulit untuk dipahami.

Woo Bin memperhatikan Jiwon yang tengah asyik bercanda ria dengan Amber dan Irene. Setidaknya ia cukup senang karena Jiwon bisa akrab dengan teman-temannya, minus Minah tentunya.

“Apa terjadi sesuatu? Kenapa aku seolah kembali melihat kalian beberapa bulan yang lalu saat masih canggung satu sama lain?” Haneul menatap Woo Bin, yang dibalas dengan seulas senyum kecil. “Ini takkan lama. Besok kami akam mesra lagi kok.” Jawabnya diiringi tawa. Haneul tak mengatakan apapun lagi, dan memilih untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.

“Wah, ige neomu jaemisseo!” ujar Jiwon yang tengah asyik melihat ikan-ikan cantik yang berseliweran disekitarnya. Tangan gadis itu terjulur, ingin menyentuh salah satu ikan berwarna pelangi yang lewat di depannya, namun Woo Bin menahan tangan gadis itu. Jiwon mengangkat wajahnya dari dalam air, lalu menatap Woo Bin bingung.

“Kau hampir menyentuh landak laut.”

Jiwon tampak kaget. Tak terbayang bagaimana sakit dan gatalnya ia jika terkena hewan berduri tersebut. “Ah, jinjja? Aku tidak melihatnya. Gomawo.” Ucap Jiwon tulus. Woo Bin hanya berdeham, lalu ia kembali menatap Jiwon. “Otte?” tanyanya.

Mwo hae?”

Snorkelling… johayo?”

Jiwon tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya. “Eo. Neomu joha. Pemandangan di bawah laut sangat indah.”

Woo Bin ikut tersenyum mendengar jawaban gadis itu. Senang mengetahui bahwa Jiwon menikmati kegiatan mereka kali ini. “Ini belum seberapa. Aku tahu spot yang lebih bagus. Tertarik untuk melihat?” Woo Bin mengulurkan tangannya. Jiwon terdiam sejenak sebelum akhirnya meraih tangan Woo Bin dan menggenggamnya, membuat keduanya tanpa sadar menyunggingkan senyuman.

 

 

*****

 

 

Ballroom hotel telah dihias sedemikian rupa sehingga tampak lebih mewah dan indah. Jiwon sendiri mau tak mau harus mengakui kepiawaian ibunya dan ibunda Woo Bin yang sudi repot-repot untuk mengatur semua keperluan pesta pertunangan ini. Jiwon dan Woo Bin memang sepakat untuk menyerahkan semua keputusan pada kedua ibu mereka. Hanya baju untuk pesta yang mereka pilih sendiri.

Jiwon dan Woo Bin kini tengah menjadi sorotan. Keduanya tampak gugup, namun sebisa mungkin mereka berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang akan merusak momen penting ini. Woo Bin mengambil cincin emas putih dengan hiasan berlian mungil ditengahnya, lalu ia meraih jemari Jiwon. Ia menatap gadis itu sejenak, lagi-lagi mengagumi kecantikan gadis dihadapannya ini. Jiwon memang tampak amat cantik dengan gaun pink selutut serta make-up natural yang digunakannya.

Siapa sangka bahwa semua kebetulan yang selama ini terjadi membawanya pada momen ini. Ah, benarkah jika semuanya hanya kebetulan semata dan bukan karena takdir?

Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Yang jelas, Woo Bin senang karena semua kebetulan itu ia bisa bertemu dengan gadis semenarik Kim Jiwon.

Woo Bin tersenyum kecil sembari memasangkan cincin tersebut ke jari manis tangan kiri Jiwon. Kemudian gantian Jiwon yang memasangkan cincin tunangan mereka di jari manis tangan kiri Woo Bin. Suara tepuk tangan dari keluarga dekat masing-masing pihak terdengar meriah. Nana dan Yumi menatap kedua anak mereka dengan penuh haru sebab keinginan dan harapan mereka untuk menjodohkan kedua anak mereka akhirnya bisa terwujud. Padahal awalnya mereka tak terlalu berharap banyak karena bagaimanapun juga keputusan mutlak tetap ditangan putra dan putri mereka.

Haneul dan teman-teman Woo Bin lainnya menghampiri pasangan yang tengah berbahagia itu. “Chukkae.” Haneul memeluk Woo Bin singkat, lalu beralih ke Jiwon. Woo Bin melihat satu persatu temannya. Untuk acara pertunangan ini ia memang hanya mengundang teman dekatnya saja yang berjumlah tak lebih dari 10 orang. Namun Woo Bin tak melihat Minah diantara teman-temannya itu. Yah, apa yang bisa dia harapkan. Sudah jelas Minah takkan datang. Woo Bin merasa tolol sempat berpikir jika gadis itu akan datang.

“Dia mengucapkan selamat padamu. Katanya ia takkan minta maaf karena tak datang… karena kau jahat.” Ucap Haneul. Tanpa perlu disebutkan namanya, Woo Bin tahu siapa ‘dia’ yang dimaksud Haneul.

Woo Bin menghela napas pelan. “Arasseo. Gomawo.” Ia tersenyum kecil seraya menepuk pundak Haneul pelan.

Chukkae Jiwon-ah…

Jiwon terpaku beberapa detik saat melihat Minseok muncul dihadapannya dengan senyuman yang begitu manis. Akan tetapi gadis itu langsung bersikap biasa kala melihat gadis disebelah Minseok. Gadis cantik dengan gaun selutut berwarna biru gelap yang terlihat begitu cocok ditubuh semampainya. Pandangan Jiwon turun sejenak kearah tangan Krystal yang melingkari lengan Minseok, kemudian ia kembali menatap dua sosok dihadapannya itu, namun kali ini dengan seulas senyuman.

Gomawo Minseok-ah, Krystal…”

 

*****

 

 

Ia merasa dirinya sangat menyedihkan. Hanya bisa menatap pilu kearah lembaran foto yang menyimpan kenangan indahnya bersama sang sahabat. Pria itu hanya dapat menyunggingkan senyuman lirih seiring dengan tangannya yang membalikkan lembar demi lembar album foto. Ia tertawa miris. Gadis itu pasti akan sangat kaget jika melihat ada berpuluh-puluh lembar foto candid dirinya yang selama ini diam-diam diambilnya. Selama ini ia cukup bisa mengendalikan dan menutupi perasaannya hingga tak ada yang curiga.

Ia kembali terpaku pada 5 lembar foto. Foto sepot bunga mawar putih yang menunjukkan pertumbuhan bunga tersebut dari masih bibit hingga tumbuh menjadi mawar yang indah. Lagi-lagi senyuman miris tampak diwajahnya yang selalu ceria. Foto itu mengingatkannya pada hari Valentine setahun silam. Jika pria lain akan membeli buket bunga yang telah dirangkai untuk gadis yang mereka sayangi, ia justru memilih untuk menanam bunga itu sendiri. Yah, ia melakukannya. Ia menanam serta merawat mawar tersebut dari masih bibit hingga tumbuh menjadi bunga yang indah. Namun sayangnya ia tak seberani itu untuk memberikan mawar itu secara langsung seraya mengungkapkan perasaannya. Yang ia lakukan justru memberikan bunga itu 3 hari setelah valentine dan berkata jika bunga itu pemberian dari ibunya, yang kebetulan memang pecinta mawar.

Jeongmal babonikka.” Gumamnya pelan kala mengingat kejadian itu. Mungkin seharusnya ia jujur pada perasaannya. Tapi apa boleh buat, semua sudah berlalu dan tak bisa diulang lagi. Apalagi sekarang gadis itu sudah menjadi milik orang lain.

Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya sakit. Terasa sesak saat melihat gadis itu tersenyum menatap pria lain, bukan dirinya.

“Minseok hyung, imo memanggilmu.”

Minseok menoleh, “Ya, aku akan ke bawah. Duluan saja.” Ucapnya seraya menyimpan kembali album foto yang tadi dilihatnya ke dalam laci meja. Ia menghela napas pelan, sebelum memasang wajah ceria yang selama ini selalu menjadi ciri khasnya.

 

*****

 

 

Jiwon menatap jari manis tangan kirinya yang dilingkari cincin emas putih. Cincin ini berbeda dari cincin yang biasa ia kenakan, sebab cincin ini adalah cincin pertunangannya dan untuk pertama kalinya ada seorang pria yang menyematkan cincin itu langsung ke jarinya. Jiwon memegang cincin itu. Ingin melepas, namun langsung membatalkan niatnya. Dia tidak boleh sembarangan memperlakukan cincin ini. Helaan napas pelan terdengar dari mulut gadis cantik itu. Semalam ia telah menyelenggarakan pesta pertunangan dan setelah diskusi dengan masing-masing keluarga, orangtua mereka sepakat untuk menggelar pesta pernikahan setahun lagi.

Shin Hye menepuk bahu Jiwon. “Maaf lama. Aku diantar oleh kakakku dan menunggunya bersiap-siap persis seperti menunggu artis yang berdandan. Sangat lama.” Ujar Shin Hye sembari mengambil tempat didepan Jiwon.

Jiwon tersenyum kecil. “Gwenchana. Aku juga baru datang 10 menit yang lalu. Yang lain mana? Mereka jadi datang?”

“Jadi. Mungkin Sae Ron dan Yura akan datang terlambat. Kau sudah pesan makanan? Kita makan duluan saja.” Usul Shin Hye.

“Aku sudah pesan.”

Jiwon melirik ponselnya. Sepi. Tidak ada notifikasi apapun. Tadinya Jiwon pikir keadaan mungkin agak sedikit berubah seiring dengan perubahan statusnya dan Woo Bin, namun tampaknya Jiwon keliru. Tidak ada yang berbeda. Dirinya dan Woo Bin masih bersikap sama seperti hari-hari yang lalu. Woo Bin tidak mendadak berubah menjadi romantis, posesif ataupun manja kepadanya. Dan nyatanya itu justru membuat Jiwon senang. Ia suka dengan sikap Woo Bin yang seperti ini. Natural tanpa rekayasa.

 

*****

 

 

HanBin tersenyum kikuk, sedangkan Woo Bin menatap pria itu tajam. Dan tak perlu peramal untuk meramal bahwa Woo Bin sedang kesal. Sangat kesal. Pandangan Woo Bin beralih kearah wanita muda cantik yang sejak tadi menatapnya penuh minat. Menatap, bukan hanya sekedar mencuri-curi pandang. Teman-teman Woo Bin yang lain tampak asyik dengan pasangan kencan mereka masing-masing. Terkutuklah HanBin yang telah menipunya hingga ia bisa terdampar di tempat karaoke dan bertemu kembali dengan Tiffany Hwang.

Dengan gusar Woo Bin mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung jaket, lalu dengan kesal mengetik pesan singkat pada HanBin. HanBin merasakan getaran dari ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Sekilas ia melirik Woo Bin, dan ternyata temannya itu masih setia melayangkan tatapan tajam yang tiada duanya itu. Woo Bin mengedikkan kepala kearah ponsel HanBin, mengisyaratkan agar pria itu segera membaca pesan darinya.

HanBin meringis kala membaca pesan dari Woo Bin, lengkap dengan emoticon Cony yang tengah berapi-api. Oke, ia sadar bahwa ia memang agak keterlaluan.

 

From : Woo Bin

Sialan kau! Katamu ini hanya kumpul-kumpul biasa. Lalu, bisa jelaskan kenapa yeojadeul itu ada disini?! Terlebih nona Hwang itu!

 

To : Woo Bin

Mianhe. Aku terpaksa. Tiffany noona bilang jika aku berhasil mengajakmu ikut bergabung bersama kami, maka ia akan membawa teman-temannya yang cantik. Yah, kau tahu lah aku sudah lama sendiri. Aku butuh yeoja. Lagipula kau kan tidak hanya berdua dengan dia. Santai saja, oke.

 

From : Woo Bin

Santai katamu?! Ya! Yeoja itu menyebalkan. Terserahlah, pokoknya aku mau pulang sekarang!

 

To : Woo Bin

JEBAL KAJIMA CHINGUYA T__T
Cukup satu jam saja, oke. Jebaaaaal….

 

From : Woo Bin

Setengah jam!

 

To : Woo Bin

Satu jam, eo?

 

From : Woo Bin

15 menit

 

To : Woo Bin

Ara ara, setengah jam. Setelah itu kau boleh pulang.

Gomawooooo ❤

 

From : Woo Bin

*Emoticon muntah*

 

Hanbin menoleh kearah Woo Bin dan memberikan senyuman amat manis kepada temannya itu disertai dengan tanda hati dengan jari telunjuk dan jempolnya. Woo Bin memutar bola mata, kesal melihat sikap sok imut HanBin. Begitu mengalihkan pandangan kearah depan, Tiffany rupanya tengah menatapnya dengan penuh minta. Wanita yang umurnya dua tahun di atas Woo Bin itu tersenyum manis sembari mengedipkan mata.

Tiffany Hwang memang wanita yang sangat cantik. Hanya pria buta yang mengatakan wanita itu jelek. Woo Bin saja dulu sempat bersaing ketat dengan teman-temannya demi bisa dekat dengan wanita cantik itu. Tapi sayang, sifatnya tak secantik rupanya. Baru menjadi teman kencan, belum pacaran saja, Tiffany sudah amat posesif padanya. Selalu menelpon tiap saat, melarang Woo Bin main dengan teman-temannya, dan bahkan selalu mengikutinya. Ruang gerak Woo Bin menjadi amat terbatas. Maka dari itu sebelum berlanjut lebih jauh, Woo Bin langsung menjauhi wanita itu.

Namun berkat keisengan HanBin, sekarang ia malah duduk se-meja dengan Tiffany Hwang. Dan dilihat dari sikapnya, jelas tampak bahwa wanita itu masih amat tertarik padanya.

‘Double shit!’

 

 *****

 

 

Oke, kesabaran Woo Bin hampir mencapai limit. Waktu baru berjalan selama kira-kira lima belas menit, namun kelakuan Tiffany makin menjadi. Wanita itu pindah duduk di sebelahnya dan mulai melancarkan aksi menggodanya, entah itu pura-pura menyenggol lengan Woo Bin tanpa sengaja, mencondongkan tubuh terlalu dekat kearahnya, bahkan sampai mengajak untuk bergoyang. Semua aksi Tiffany ditepis dengan lembut oleh Woo Bin. Yah, ia masih menunjukkan sedikit manner-nya untuk tidak menolak Tiffany terang-terangan di depan teman-teman yang lain.

“Kau tidak ingin bernyanyi?” Tiffany bertanya sembari tersenyum manis, memperlihatkan eyes smile miliknya. Woo Bin menggeleng sembari tersenyum tipis, lalu kembali menenggak soda di tangannya.

Tiffany masih belum menyerah. Wanita itu mengambil ponselnya, membuka fitur kamera lalu mengarahkan kearahnya, tak lupa dengan ikut menarik Woo Bin mendekat hingga sisi pipi mereka menempel. Tiffany tersenyum puas melihat hasil fotonya, sedangkan Woo Bin masih menatap cengo.

‘Wah jinjja! Wanita ini makin liar saja.’ Batin Woo Bin.

Merasa jengah, Woo Bin pun bangkit dari duduknya. Tiffany langsung menahan lengan Woo Bin. “Mau kemana?”

“Toilet.” Balas Woo Bin singkat dan datar. Ia langsung melepaskan genggaman tangan Tiffany dengan agak sedikit menyentak, namun masih terkesan lembut dan sopan.

Woo Bin langsung menghela napas selega-leganya begitu keluar dari dalam ruang karaoke. Rasanya seperti baru bisa menghirup oksigen. Jelas kehadiran Tiffany tak bagus untuk kesehatannya. Woo Bin melirik jam tangannya. Masih ada 15 menit lagi setelah itu ia bebas untuk pergi. Pintu ruang karaoke di sebelah terbuka. Woo Bin melirik sekilas, namun langsung kaget saat mendapati Jiwon disana. Jiwon pun tak kalah kaget.

“Ya, kita benar-benar berjodoh rupanya. Bahkan kita bisa kebetulan bertemu disini.” Ujar Woo Bin seraya berjalan mendekati Jiwon. “Bersama siapa?” tanya pria itu lagi.

“Teman-teman perempuanku. Kau sendiri?” tanya Jiwon. Gadis itu melirik kearah ruang karaoke Woo Bin. Dari jendela kecil di pintu Jiwon dapat melihat sedikit pemandangan di dalam, meskipun ruangan cukup remang-remang. Gadis itu beralih menatap Woo Bin. Wajahnya terlihat agak kesal. Jiwon melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap Woo Bin tajam. “Wah neo neun neomu daebakiya! Baru kemarin malam kita bertunangan dan hari ini kau langsung ikut acara kencan ganda? Daebak!” Jiwon berkata dengan nada sinis. “Tahu begini kusuruh saja Shin Hye membawa semua stok namja kenalannya.”

Woo Bin berdecak pelan. “Aku dijebak. Temanku bilang ini acara khusus kami para namja, tapi tiba-tiba yeojadeul itu malah muncul. Kau tahu, kakiku sudah ingin beranjak pergi dari tadi. Tapi aku masih harus menunggu 15 menit lagi.” Ucap Woo Bin. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikirannya. Ia langsung meraih tangan Jiwon, membuat gadis itu agak kaget. Woo Bin menatap Jiwon sambil tersenyum manis. “Aku butuh bantuan mu.”

 

*****

 

 

“Perkenalkan, ini tunanganku namanya Kim Jiwon.”

Jiwon tersenyum kecil. Dalam hati gadis itu agak kesal karena tanpa persetujuannya Woo Bin malah menariknya kesini, berkumpul bersama teman-teman pria itu. Bukannya sombong, hanya saja Jiwon tidak terlalu bisa berbaur dengan orang-orang yang baru ia temui. Woo Bin mengajaknya duduk di sofa panjang. Pria itu mendekatkan mulutnya kearah telinga Jiwon, “Lihat wanita pink di depan? Yang sedang melihat kesini. Itu yang namanya Tiffany Hwang. Kau harus bantu aku agar terhindar dari yeoja menyeramkan itu.” bisik Woo Bin.

Jiwon menghela napas pelan. Sudah ia duga bahwa wanita itu yang bernama Tiffany. Pasalnya semenjak ia menjejakkan kakinya di ruangan itu bersama Woo Bin, tatapan mata wanita itu sudah tak mengenakkan. Seakan-akan Jiwon ini adalah seorang pendosa besar. Jiwon enggan menatap wanita itu lama-lama. Bisa-bisa Ia dicakar.

“Wah, jadi dulu seleramu noona-noona, ya.” Ejek Jiwon, membuat Woo Bin gemas dan alih-alih malah merangkul gadis itu erat. “Kau cemburu, eo?”

“AWW!” pekik Woo Bin sambil mengusap lengannya yang dicubit Jiwon. “Ya Tuhan, cubitanmu mirip capitan kepiting.” Ringisnya. Jiwon diam tak mengubris. Gadis itu memilih makan buah-buahan yang tersaji di depannya.

“Aku tidak bisa lama-lama. Tidak enak dengan teman-temanku.” Ucap Jiwon.

Arasso. Lima menit lagi, setelah itu kita pergi dari sini. Aku juga sudah malas.”

“Ngomong-ngomong, berapa lama kau berkencan dengan Tiffany? Dia terlihat sangat posesif, eo. Lihat saja, sejak tadi ia terus melihat ke sini. Kalau seandainya dia punya sinar laser di matanya, pasti sudah sejak tadi kita jadi daging panggang.” Ujar Jiwon konyol, membuat Woo Bin terkekeh geli.

“Hanya sebentar. Dan dia memang sangat posesif. Aku nyaris mati tak bisa bernapas karena dia terlalu memenuhi hidupku.”

“Kau tahu, seharusnya aku dapat imbalan besar atas aksi murah hatiku ini. Gara-gara kau dalam beberapa menit aku langsung mendapatkan hater baru. Lama-lama aku bisa koleksi haters.”

Woo Bin tertawa mendengar ocehan Jiwon. Dia jadi merasa sedikit bersalah pada gadis itu. Tapi apa boleh buat, ini semua diluar kuasanya, kan? Ia tidak pernah minta agar dirinya disukai segitu besarnya oleh para gadis. Woo Bin sendiri lebih nyaman mencintai daripada dicintai tapi dengan cara yang terlalu berlebihan.

 

*****

 

 

Minah melahap es krimnya dengan nikmat. Tidak dipedulikannya tatapan Haneul yang tengah menatapnya dengan agak cengo. Maklum saja, cara makan Minah saat ini sangat jauh dari kata elegan. Ia malah tampak seperti orang barbar.

Wae? Tidak pernah lihat orang patah hati makan es krim?” ketusnya.

Haneul hanya mengedikkan bahu, lalu menyeruput moccalatte-nya. Tadi saat Haneul sedang bersantai di apartemennya, tiba-tiba saja Minah datang dan mengganggu ketenangannya. Gadis itu baru mau tenang setelah diiming-imingi traktiran es krim sepuasnya. Sejujurnya Haneul tak keberatan dengan kedatangan Minah karena kebetulan ia juga sedang bosan. Melihat tingkah pola Minah yang absurd namun lucu selalu bisa menjadi hiburan tersendiri untuk Haneul.

Minah melihat seorang pelayan yang menyajikan Larva Cake di meja sebelah. Seketika gadis itu langsung melayangkan puppy eyes-nya pada Haneul. Haneul tertawa kecil, tahu maksud gadis itu. “Aku pesan dulu.” Ucapnya seraya bangkit dan berjalan menuju tempat pemesanan makanan. Senyum Minah langsung sumringah. Ia selalu senang dengan fakta bahwa Haneul selalu bisa mengerti keinginannya. Namja itu selalu tahu kapan Minah membutuhkan dirinya, dan tak pernah sekalipun Haneul menolak kehadiran Minah. Padahal terkadang Minah sendiri sadar bahwa tingkahnya sering menyebalkan, namun Haneul tak pernah marah ataupun menghindarinya.

Minah menoleh kearah Haneul yang tengah berdiri di depan kasir, menatap punggung pria itu dan tanpa sadar ia tersenyum. Senyum tulus dan lembut yang cukup jarang Minah tunjukkan.

 

 

-To Be Continued-

Halo semuanya!

Akhirnya part 6 ini selesai juga. Maaf bgt kalo pendek, soalnya buru-buru pengen update mumpung bisa. Seminggu yang lalu aku sempet ada masalah sama akun wordpress ku, tapi untungnya skrg aku udh bisa akses akun ini. Sempat stress bgt pas seminggu ga bisa log in cuma gara-gara kode verifikasi dr WP ga masuk ke hp ku. Trus tadi sempet kehilangan mood juga, gara-gara dapat SMS dari kampus yang ngabarin kalo judul skripsi aku ditolak dan besok harus ke kampus buat perbaiki. Gila aja ya, yg judul kemarin aja mikirnya semalaman suntuk T___T 

Tapi ya udh lah, terima nasib aja 😦

Makasih banyak utk kalian yang selalu nunggu dan setia baca ff ini. maaf udh bikin kalian kelamaan nunggu dan mungkin kecewa sama part ini. Sampe ketemu di part 7 ya, teman-teman… 

Annyeong ^^

 

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 6)

  1. baru inget kalo aku nunggu ff ini 😂 langsung deh cek di wp,eh…ternyata udah di post.seneng bgt,aku kira bakal ketinggalan banyak.sama2 sibuknya thor 😀
    selalu suka sama scene woo bin n jiwon disini,romantisnya ngga berlebihan 🙂
    haha…yg patah hati banyak,kasihan jiwon punya haters,gara2 woo bin 😀
    ditunggu part selanjutnya thor…fighting!!!

    1. Halo Devi 🙂 makasih byk ya udh baca ff ini. Haha, aku emang sengaja byk msukin scene romance buat Woo Bin-Jiwon. Dan sebisa mgkn scene romance nya g bikin eneg XD Smpe ktemu di next chapter ^^

  2. Aku gak sabar pgn baca lanjutannya …. 🙏🙏
    Jdi ternyata minseok juga udh sejak lama suka sm jiwoon tp gak berani ngungkapin.trus knp dia nerima krystal? Haisss….plinplan dasar. Tp untung dehh ,soalnya aku lebih suka kl jiwoon sm woobin ✌✌

  3. O ternyata minseok sebenarnya juga suka Jiwon sama halnya dengan jiwon hanya saja mereka berdua gk berani ngungkapinnya mungkin takut merusak persahabatan mereka. Kasihan Jiwon haters nya banyak wkwkwkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s