Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 3)

1461180487715

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun
– Kim Jongin

____________________________________________________

Aku tidak bisa melupakan wajah sendu Kyuhyun. Tatapan matanya seakan menggambarkan semua kepedihan yang ia rasakan dalam hidupnya. Aku merasa jika kami senasib. Sama-sama menderita karena orang tua, orang yang seharusnya menjadi pelindung kami. Aku menghela napas pelan seraya mengubah posisi berbaringku menjadi terlentang menatap langit-langit kamar.

Ngomong-ngomong sekarang sudah memasuki hari ulang tahun Jongin. Tepatnya sepuluh menit yang lalu. Aku sudah mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun untuknya, namun belum dibaca. Seharusnya aku menelponnya, tapi tiba-tiba saja aku tak punya keberanian, mengingat bagaimana absurd-nya hubungan kami beberapa hari ini membuatku takut jika ia menolakku.

Aku memang pengecut.

Oh ya, ngomong-ngomong sampai detik ini Jongin tidak mengatakan apapun soal acara ulang tahunnya. Kurasa ia benar-benar takkan mengundangku untuk hadir.

 

*****

 

 

Hingga pagi Jongin tak membalas pesanku. Aku melangkah menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai ramai. Tadi pagi aku telat bangun, mungkin karena begadang hingga jam 3 pagi. Aku berpapasan dengan Krystal Jung di tangga menuju lantai dua. Ia sedang mengobrol dengan teman baiknya yang ku tahu bernama Jinri. Samar-samar aku bisa mendengar sedikit percakapan mereka.

“Wah, kalau begitu kau harus berdandan yang cantik. Bisa jadi Jongin akan menyatakan perasaannya di pesta nanti malam.” Ujar Jinri bersemangat.

Krystal tersenyum sumringah. “Well, sebenarnya aku tak terlalu berharap sih. Dia sudah mau mengundangku saja aku sudah merasa beruntung. Tapi tentu saja aku sudah menyiapkan baju terbaikku. Jujur, aku juga merasa gugup sih. Huh semoga saja dugaanmu benar.”

“Pasti benar! Buktinya sudah beberapa minggu ini ia gencar sekali mendekatimu.”

Beberapa minggu? Mendekati?

Mata dan hatiku terasa panas. Rasanya begitu sakit. Kenapa nasibku selalu begini? Kenapa tak ada yang benar-benar menginginkan keberadaanku? Jika apa yang dikatakan Jinri benar, berarti selama ini apa arti diriku bagi Jongin? Apa hanya sekedar mainannya dikala bosan? Apa di dunia ini sudah tak ada lagi yang namanya ketulusan?

 

*****

 

Eunha tertawa lebar, membuat matanya terlihat semakin sipit, namun justru itu semakin menambah kadar keimutannya. Tak terasa waktuku bersama bayi cantik ini semakin menipis. Lusa pengasuh yang sebenarnya akan sampai dan itu menandakan berakhirnya masa kerjaku di rumah ini. Sedih juga rasanya karena aku sudah sangat menyayangi Eunha. Dia adalah bayi terlucu, tercantik dan terbaik yang pernah kujaga. Untuk ukuran seorang bayi, Eunha termasuk bayi yang tenang dan jarang menangis. Ia tak pernah membuatku repot.

Aku melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam. Tanpa bisa kucegah rasa sakit itu kembali melingkupi hatiku. Saat ini Jongin pasti sedang bersenang-senang bersama teman-teman yang lain. Membayangkan Jongin bersenang-senang tanpaku lagi-lagi membuat perasaan terbuang itu semakin terasa.

Suara rengekan Eunha menyadarkanku dari lamunan. Sepertinya ia mengantuk. Cepat-cepat kuraih dia dalam pelukanku. Menimangnya selama beberapa saat sampai akhirnya bayi cantik ini tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka. Imut sekali! Kucium pelan pipi gembulnya saking tak tahan dengan kadar keimutannya. Aku berbalik hendak mengantar Eunha ke kamarnya, namun aku justru mendapati Cho Kyuhyun yang tengah menatapku datar. Aku nyaris mengumpat karena kaget.

Annyeong haseyo.” Sapaku sopan.

“Dia sudah pulas.” Ucapnya dengan mata yang tertuju pada Eunha.

Aku menunduk menatap Eunha. “Ne, baru saja. Em.. aku akan mengantarnya ke kamar. Permisi.”

Interaksiku dengan Kyuhyun selama ini bisa dihitung dengan jari. Ia orang sibuk, jarang berada di rumah, bahkan dihari libur sekalipun. Lagipula aku juga tak tahu harus membicarakan apa dengannya. Ia tampak seperti penyendiri dan tipikal orang berkepribadian tertutup.

 

*****

 

 

Berita Jongin resmi berpacaran dengan Krystal menjadi hot topic di sekolahku. Nyaris semua orang membicarakan mereka. Aku melewatkan jam pelajaran pertama yaitu Bahasa Inggris yang sebenarnya adalah pelajaran favoritku sepanjang masa, karena sibuk menangis tanpa suara di pojok terdalam perpustakaan.

Dunia semakin tidak adil. Apa sebegitu susahnya membiarkan orang sepertiku bahagia?

Aku melirik kearah ponselku. Beberapa saat yang lalu aku mengirim pesan pada Jongin, mengajaknya untuk bertemu. Setidaknya jika memang harus berakhir, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya. Dan juga aku ingin sekali menanyakan apa artiku baginya selama ini. Apa ia pernah sedikit saja mencintaiku? Atau semua hanya semu.

Balasan datang tepat saat Soo Ra seonsaengnim keluar dari kelas.

 

From : Jongin

Uri mannahaja. Selepas sekolah di rooftop.

 

Hanya itu. Tak ada kalimat lain.

Selepas sekolah aku buru-buru menuju rooftop sebelum ada yang mencegatku untuk menggantikan tugas piket mereka atau hal lainnya. Karena untuk sekarang yang paling kubutuhkan adalah penjelasan. Rooftop masih kosong saat aku sampai. Aku memilih duduk di tempat biasa jika aku dan Jongin melakukan kencan rahasia kami disini. Aku tersenyum miris. Bagi orang lain mungkin tempat ini hanya sekedar rooftop, tapi bagiku tempat ini adalah saksi bisu kenanganku dan Jongin.

Aku bahkan masih ingat ciuman pertama kami disini.

Setengah jam berlalu dan Jongin masih belum muncul. Sejak tadi aku terus menenangkan hatiku sendiri dan meyakinkan diri jika Jongin pasti datang. Yah, pasti…

Suasana sepi, meskipun samar-samar aku masih bisa mendengar suara seruan beberapa murid laki-laki yang masih asyik bermain basket di lapangan outdoor. Ku pejamkan mataku, menikmati suasana sepi dan hembusan angin musim semi yang sepoi-sepoi. Aku suka suasana seperti ini. Tenang dan hanya ada aku sendiri. Aku heran mengapa gadis-gadis di kelasku selalu pergi kemana-mana bergerombolan, bahkan ke toilet pun mereka pergi bersama-sama. Dan saat melihatku sendirian, mulut mereka selalu tak tahan untuk mencibir dengan mengataiku aneh, kuper, bahkan sociopath.

Dulu sekali, saat aku masih punya beberapa orang teman, aku juga selalu kemana-mana bersama mereka. Aku bahkan berpikir jika aku takkan sanggup jika harus sendirian. Tapi lihat sekarang, aku cukup menikmati kesendirianku. Setidaknya aku terhindar dari drama persahabatan yang kerap kulihat disekitarku. Mereka mengaku saling bersahabat, namun di belakang mereka justru saling menjatuhkan. Ada yang seperti itu? Ada. Banyak bahkan.

Suara derit pintu membuatku tersentak agak kaget. Aku menoleh dan mendapati Jongin tengah berdiri disana. Aku tersenyum kecil, namun perlahan senyumku hilang saat menyadari betapa berbedanya Jongin saat ini. Perbedaan yang kumaksud bukan perbedaan fisik seperti warna rambut. Ini jenis perbedaan yang tak terlalu tampak secara visual. Ekspresi wajah Jongin tampak dingin. Tatapan matanya juga tak hangat. Detik ini juga aku sadar bahwa dia bukan Jonginku.

Suara langkah kakinya yang perlahan mendekatiku seakan seperti suara detik bom yang tinggal menunggu waktu untuk meledak dan menghancurkanku. Menghancurkan semua harapan dan kebahagiaanku.

Jongin berdiri tegap di sebelahku, hingga mau tak mau aku juga ikut berdiri. Melihatnya saat ini membuatku harus menahan diri untuk tak memeluknya erat dan memohon agar dia tetap tinggal dan tetap menjadi Jongin ku. Jongin yang selalu ada disaat aku sedang berada dititik terendahku. Jongin yang sekarang, meskipun berada sangat dekat denganku, tapi aku justru merasa kami sangat jauh, seperti ada jurang lebar yang membatasi.

Setetes air mata jatuh dipipiku. Buru-buru aku menghapusnya. “Jongin-ah…” Suaraku terdengar bergetar. “Apa tak ada yang ingin kau jelaskan padaku?” tanyaku pelan.

Jongin melirikku sekilas, hanya sekilas. “Neo neun dda arasseo (Kau sudah tahu semuanya).”

Hatiku sakit sekali mendengar suaranya yang begitu dingin dan sikapnya yang seakan enggan untuk berada lama-lama didekatku. Ya Tuhan, aku mau Jonginku kembali…

Bibirku gemetar seiring dengan tetesan air mata yang tak lagi dapat ku tahan. “Apa… apa kau… bahagia dengannya?”

“Ya.”

Satu jawaban singkatnya membuatku terisak.

“Kau mencintainya?”

Sepertinya aku belum puas menyakiti diri sendiri.

“Ya.”

“Lalu selama ini apa artiku bagimu?”

Kali ini Jongin tak langsung menjawab. Dia diam seribu bahasa.

Aku masih tak menyerah. Aku kembali bertanya. “Apa kau pernah, setidaknya sedikit saja mencintaiku?”

Aku benar-benar tampak seperti perempuan yang tidak ada harga diri. Setelah semua penghianatannya, aku masih berharap ia akan kembali. Kehadiran Jongin dihidupku kala aku nyaris menyerah pada hidup membuatku tanpa sadar bergantung padanya. Melihat Jongin disisiku telah memberikanku kekuatan karena merasa masih dibutuhkan dan dihargai. Aku tak peduli jika bagi orang lain, bahkan bagi ibuku sendiri, bahwa aku adalah sampah yang tak berguna asal bagi Jongin aku adalah gadisnya yang berharga. Tapi sekarang…

Aku sama sekali tak ada artinya di mata Jongin. Lalu, apa yang harus kulakukan?

“Lupakan semua yang pernah terjadi.” Ujar Jongin dengan nada dingin dan eskpresi wajah datar.

Aku tak pernah tahu jika Jongin bisa sekejam ini.

“Aku tak ingin hubunganku dengan Krystal hancur karena dirimu. Jadi jangan sampai ada yang tahu tentang kita. Jika sampai terjadi, maka aku sendiri yang akan menghancurkanmu. Jangan pernah mencoba untuk berhubungan apalagi mendekatiku lagi! Kita sudah berakhir. Dan kau bertanya apa aku pernah mencintaimu? Jawabannya tidak! Aku mendekatimu karena terlibat dalam permainan konyol Taehyun.”

Ini menyakitkan. Sangat. Dadaku sesak hingga sulit bernapas. Terbayang semua kenanganku bersama Jongin. Meski baru dua bulan, tapi itu adalah dua bulan yang indah. Aku menyukai Jongin sudah lama sekali, semenjak kami duduk di kelas 1. Aku pertama kali melihatnya saat acara penerimaan siswa baru. Aku mengagumi tariannya yang indah hingga membuatku rela berjam-jam mengintip Jongin yang sedang latihan. Selama ini aku hanya menyukainya dalam diam. Mengapa? Karena aku cukup tahu diri. Namun dua bulan lalu tiba-tiba dia mendekatiku dan mengajakku berkencan. Aku yang terlalu menyukainya tentu langsung menerima kehadirannya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Aku pikir Jongin berbeda dari pria lainnya. Ku pikir ia tulus.

Mati-matian aku menahan isak tangisku. Jongin tak peduli, ia justru malah melangkah pergi meninggalkanku dan hatiku yang berdarah-darah. Ternyata memang tak ada yang pernah menginginkanku. Aku tak pernah memiliki arti yang spesial bagi siapapun.

 

 

*****

 

 

Aku kembali tinggal di rumah sempitku bersama ibu. Selesai sudah tugasku menjaga Eunha selama satu minggu. Banyak hal yang terjadi selama seminggu ini, baik suka maupun duka. Cukup berat rasanya meninggalkan si imut Eunha. Betapa aku berharap bisa bertemu lagi dengan bayi lucu itu.

Aku menghela napas jengah seraya menatap langit-langit kamar yang disetiap sudut memiliki sarang laba-laba. Aku terlalu malas untuk bersih-bersih. Suara pesan masuk terdengar dari ponselku. Ku raih ponselku yang di nakas, lalu membaca pesan masuk dari Nara, rekan kerjaku di café. Ternyata Nara menginformasikan lowongan kerja part time di perpustakaan kota. Aku cukup tertarik. Karena selain gajinya yang lumayan, aku juga bisa membaca buku-buku disana dengan leluasa.

Suara bantingan pintu terdengar nyaring. Aku menoleh sekilas kearah jam dinding. Jam 8 pagi. Ah, ibu sudah pulang dari shift malamnya. Mendengar gerutuannya membuatku yakin bahwa ia mengalami malam yang buruk dengan pelanggan di bar. Sudahlah, aku enggan memikirkannya. Jadi, alih-alih bangkit dari kasur dan menyampiri ibu, aku justru kembali memilih tidur. Baru saja aku hendak memejamkan mata, pintu kamarku terbuka dengan keras.

“Sudah pulang ke rumah bukannya bersih-bersih malah tidur!” Seru Ibu. Aku menoleh dan menatapnya datar. “Palli ireonna! Lebih baik kau bersih-bersih rumah dan belanja bahan makanan. Kulkas sudah kosong.” Tambahnya lagi.

Aku hanya diam dan enggan menanggapi. Ibu pun mungkin sedang amat lelah hingga ia tak memperpanjang perkara dan memilih untuk kembali ke kamarnya.

“Huh, selamat datang kembali di neraka.” Gumamku sembari bangkit dari ranjang.

 

*****

 

 

Semua mata memandang kearahku. Apa yang terjadi?

Tidak biasanya mereka sudi menatapku lebih dari tiga detik. Gara-gara semua tatapan itu aku jadi ragu untuk meneruskan langkah menuju kelas. Tapi aku menguatkan hatiku agar mengabaikan mereka. Saat mendekati mading suara bisik-bisik semakin terdengar.

“Masa sih Jongin pernah punya hubungan dengan si anak pelacur itu?”

“Aku juga tadinya tak percaya. Tapi jelas berita ini didapat dari sumber terpercaya. Bahkan ada fotonya!”

Jantungku berdetak keras. Ya Tuhan, jangan bilang jika mereka tahu mengenai aku dan Jongin! Lalu… foto? Foto apa yang dimaksud?

Ya anak miskin!” Kim Yeri, salah seorang yeoja terkenal di sekolah menghampiriku sambil memasang ekspresi tak ramah. Yeri menatapku tajam dan penuh sorot kebencian. “Apa kau pernah menjalin hubungan dengan Jongin?!” tanyanya galak. Aku terdiam.

“JAWAB TOLOL!” bentaknya marah.

Yeri lalu menarik kerah seragamku. “Kau pasti sengaja membuat skandal ini, kan? Mana mungkin Jongin mau berkencan dengan perempuan murahan dan miskin macam kau! Dan lagi, semua orang tahu jika Jongin sudah lama menyukai Krystal. Ini pasti kerjaanmu.”

Sungguh, ingin rasanya ku tampar wajah menyebalkan Yeri. Tahu apa dia soal aku dan Jongin? Ia hanya gadis manja haus popularitas yang begitu mengelu-elukan Kim Jongin.

Aku balas menatapnya tajam. “Kau bilang Jongin tak sudi berkencan denganku? Lalu, bisa kau tanya padanya kenapa ia sanggup mencium gadis murahan dan miskin sepertiku?”

Perkataanku sontak membuat siswa-siswa lainnya heboh. Bahkan sempat ku lihat mata Yeri terbelalak kaget. Aku sudah tak peduli dengan efek dari tindakan bodohku ini. Yeri dan teman-temannya tergagap. “Me…mencium? Ya! Jangan coba berdusta! Aku takkan tertipu.” Ujar Yeri marah.

Dari jauh aku melihat Jongin yang tengah berjalan bersama teman-temannya. Wajahnya tampak marah. Ia pasti sudah melihat foto yang dimaksud orang-orang tadi. Aku sendiri belum melihat foto itu. Ku tolehkan pandanganku kearah mading dan akhirnya melihat foto yang menjadi akar permasalahan. Itu fotoku dan Jongin dua hari lalu saat kami sedang berbicara empat mata di rooftop, mungkin lebih tepat jika dibilang momen terakhirku bersama Jongin saat dengan teganya ia membuangku seperti sampah.

“Kau bisa langsung tanya pada Jongin.” Ucapku pada Yeri.

“Tuh kan! Gosip itu pasti benar. Lagipula, kalaupun tak ada apa-apa diantara mereka kenapa mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi di rooftop?” bisik seorang siswa pada temannya.

“Eh, apa jangan-jangan malah Jongin selingkuh dengannya?”

Ya! Neo micheosseo?! Maldo andwae! Krystal jauh lebih baik dipandang dari sisi manapun daripada si anak aneh.”

Berbagai macam tanggapan diberikan. Semuanya memojokkanku. Jongin berdiri dihadapanku, membuat Yeri tanpa disuruh langsung menyingkir. Jongin menatap kearah mading dengan gusar, lalu menatapku. “Hentikan semua usahamu untuk menarik perhatianku! Sampai kapanpun aku takkan menyukaimu. Neo neun naega style aniya. Mungkin kau sakit hati karena sudah kutolak, tapi tidak begini caranya. Kau justru membuat dirimu tampak menyedihkan dan murahan.”

Jongin menatap siswa-siswa yang sejak tadi mengerubungi kami. Dengan mantap ia berkata, “Memang benar kami bertemu di rooftop. Tapi itu karena Haneul memaksaku kesana. Dia memang sudah lama mengejarku namun selalu aku tolak. Saat ia tahu jika aku berpacaran dengan Krystal, ia malah mengancam akan menganggu hubunganku dan Krystal.”

“BOHONG!” seruku marah. “Tega sekali kau berkata seperti itu! Kenapa tidak kau katakan yang sebenarnya saja jika kita memang pernah berkencan karena taruhan bodohmu dengan teman-temanmu?! Apa kau takut dianggap namja brengsek dan rendahan karena pernah berciuman denganku?”

“Sialan!” Jongin menarik kerah bajuku dengan kasar. Aku kaget setengah mati, nyaris tak bernapas karena kaget. Jongin tak pernah sekasar ini dengan perempuan. “Kau sendiri yang cari masalah denganku, jadi jangan salahkan aku jika mulai detik ini penderitaanmu akan semakin bertambah.” Ucapnya dengan penekanan disetiap kata. Setelahnya, dengan kasar Jongin melepaskan cengkramannya dikerahku, agak sedikit menyentak hingga aku terhuyung ke belakang. Ia lalu pergi bersama teman-temannya, meninggalkan aku bersama cemoohan dari siswa-siswa yang sejak tadi menonton.

Yeri tersenyum mengejek. Wajahnya terlihat puas. “Wah, kau semurahan itu ternyata. Jangan bermimpi untuk bisa bersama Jongin! Kau jauh dari kata layak.”

Ucapan Yeri disambut dengan gelak tawa dari siswa-siswa disini. Tak terkira betapa malu dan sakitnya hati ini. Aku tahu bahwa sejak detik ini kehidupanku di sekolah akan lebih berat dari biasanya.

Dan itu terbukti hari ini juga.

Di mulai dengan seragam olah ragaku yang hilang, yang kemudian kutemukan mengambang di kolam ikan sekolah, lalu berlanjut dengan buku tugasku yang menghilang secara misterius. Mau membalas pun, aku tak punya kuasa. Lagipula jika aku membalas justru itu akan membuat mereka semakin semangat mengerjaiku. Walhasil, aku berkali-kali terkena hukuman untuk hari ini.

Saat ini aku tengah berdiri di depan kelas lantaran tak bisa mengumpulkan tugas. Seo Jaehyun seonsaengnim tak memberikan toleransi untuk alasan apapun. Jika tak mengumpulkan tugas, maka kau layak dihukum. Itu yang menjadi  motto guru Fisika ku itu. Belum lagi fakta bahwa aku satu-satunya yang tak bisa mengumpulkan tugas hari ini hingga aku menjadi bulan-bulanan di kelas. Aku malu sekali. Tanpa sengaja aku menoleh kearah Sehun. Dia melirikku sekilas dengan ekspresi datar. Apa yang kuharapkan? Dia takkan peduli.

 

*****

 

Aku berjalan dengan langkah gontai. Langit sudah gelap dan waktu menunjukkan bahwa sekarang sudah jam 7 malam. Aku baru bisa pulang setelah tiga jam terkurung di ruang janitor sekolah dan akhirnya ditemukan oleh penjaga sekolah yang kebetulan lewat. Seakan tak cukup dengan mengurungku di ruangan sempit, pengap dan gelap, tubuhku juga basah karena disiram dengan air pel. Kondisiku sekarang persis seperti tunawisma. Ah, bahkan mungkin tampak sedikit lebih menyedihkan.

Aku berjalan menyusuri jembatan, lalu berhenti melangkah. Ku tatap aliran sungai dari atas jembatan. Apa seperti ini rasanya perasaan Kyuhyun saat itu? Saat dengan nekad ia berdiri di atas sini. Aku menyentuh besi pembatas jembatan. Terasa begitu dingin.

“Kau tidak sedang mencoba untuk mencuri tempatku, bukan?” tanya sebuah suara dari belakang. Aku tersentak dan langsung membalikkkan tubuhku. Ku dapati Kyuhyun di belakangku, menatapku datar dengan kedua tangan berada di dalam saku jaketnya.

“Kyuhyun-ssi…” aku hanya bisa menyebut namanya, efek kaget karena mendapatinya disini. Kupikir kami takkan bertemu lagi.

Kyuhyun menghampiriku, lalu ia berdiri disisiku. Kami sama-sama menatap kosong kearah sungai di bawah jembatan ini. “Apa kabar?” tanyaku. Aku tak tahu apa topik lain yang bisa kutanyakan. Lagipula, menanyakan kabar adalah hal yang lumrah, kan?

“Cukup buruk sehingga membuatku kembali kesini.”

Aku menatapnya kaget. Apa dia berniat untuk bunuh diri lagi?

Ia lalu menatapku. “Bagaimana denganmu? Apa harimu buruk?”

Aku tersenyum getir. “Ya. Bukan hanya hariku, tapi juga hidupku. Rasanya sungguh menyebalkan dan tak adil.” Ucapku pelan.

“Aku tahu rasanya.”

Kami saling bertatapan selama beberapa saat. Saling menelisik melalui mata. Lalu satu kesimpulan pun muncul. Ternyata kami berdua memang senasib. Sama-sama sial dan diberlakukan tak adil oleh orang-orang di sekitar kami.

 

 

-To be continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

7 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 3)

  1. Pengen rasanya nonjok si jongin apalagi sm yeri dg teman2nya .. apa si jongin belum puas sudh main2 sm persaan haneul 😠 sekrg dia udh mulai nyakitin haneul .. haneul kamu hrus tetap semngat, ok 👌👌

  2. Keren eonni kasiihan si haneul nya… hubngn nya sma kyu oppa udah mulai brkmbang… Eonni aku tungga next part nya jangan lama-lama yaa…sumpah penasaran bangetz eonni…
    Sukses terus eonni^_^gomawo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s