Diposkan pada Chapters

The Bodyguard (Part 15 – END)

1425994224260

Author : Cho Haneul
Title      : The Bodyguard
Genre   : Romance, Drama
Type     : Chaptered
Poster   : @shirlyuanaaa

Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Yura (Kim Ah Young)
– Cho Kyuhyun
– Lee Donghae
– Lee Hyukjae
– Choi Siwon

__________________________________________________

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Park Jinyoung. Prosesi pemakaman serta serangkaian upacara kematian Park Jinho pun telah selesai dilakukan. Siwon dan Jiyeon berjalan keluar dari rumah duka. Siwon mengajak Jiyeon untuk duduk di halaman depan rumah duka.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Siwon sembari menatap wajah adik sepupunya ini.

Jiyeon menghela napas pelan seraya menegadah menatap langit malam yang cukup çerah bertabur bintang. “Mungkin… kurasa jika lebih baik aku benar-benar pergi dari keluarga ini.” Jawab Jiyeon pelan. Siwon menatap adik sepupunya itu kaget. “Kau ingin memutuskan hubungan dengan keluarga Park?”

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa terus menerus berada disini, di bawah tekanan kakek. Apalagi setelah aku tahu apa yang telah kakek lakukan pada mendiang ayah dan ibuku. Masih sulit bagiku untuk memaafkan kakek. Lagipula, sejak awal tempatku memang bukan disini.” Jiyeon tersenyum sedih. Ia sadar betul bahwa kakeknya selama ini hanya memanfaatkannya saja, bukan karena tulus menginginkan keberadaannya. “Tapi jika oppa masih mengizinkan, aku pasti akan sering-sering berkunjung untuk bertemu oppa, Eunso unnie dan imo. Yah, itu juga kalau kalian tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak! Selamanya kau akan selalu menjadi sepupuku. Rumah kami selalu terbuka untukmu.” Ucap Siwon.

“Gomawo.”

Siwon mengelus kepala Jiyeon lembut. Betapa ia menyayangi adik sepupunya ini. Ia menyesal karena tidak bisa membantu Jiyeon untuk meringankan beban gadis itu, sebab sejak awal permasalahan memang terletak pada sang kakek. “Jangan sungkan untuk meminta bantuanku, oke?”

 

*****

 

 

Hyukjae nyaris menyemburkan minumannya kala mendengar perkataan Kyuhyun bahwa ia akan secepatnya menikahi Ah Young agar tidak ada celah bagi tuan Park untuk kembali memisahkan mereka. Hyukjae menatap Kyuhyun dalam, berusaha untuk menelisik ekspresi pria itu. Dan hanya kesungguhan yang dapat ia temukan dari sepasang mata tajam itu.

Hyukjae tersenyum, “Lalu, apa yang bisa kubantu?” tanyanya senang.

“Aku dan Ah Young sepakat untuk menyelenggarakan pesta pernikahan yang sederhana dan tidak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat saja. Namun begitu kami tetap butuh bantuan Event Organizer. Kalau tidak salah sepupumu bekerja di Event Organizer, kan? Apa aku bisa minta kontaknya? Aku butuh bantuannya untuk mempersiapkan pesta.”

“Tentu saja bisa! Bahkan dapat kujanjikan diskon besar-besaran khusus untukmu dan Ah Young.” Hyukjae meraih ponselnya lalu mengirim kontak sepupunya pada Kyuhyun. “Semoga semua lancar. Aku senang kau memutuskan untuk mengakhiri masa lajangmu. Aku sudah khawatir jika kau berakhir menjadi biksu di gunung sana.” Canda Hyukjae.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri yang masih sendiri hingga kini. Jangan sampai kau malah berakhir di atas gunung sana.” Kyuhyun melempar balik perkataan Hyukjae tadi.

“Sialan kau!”

 

*****

 

 

Jiyeon mendatangi ruang kerja sang kakek. Dengan eskpresi datar ia menatap wajah Park Jinyoung. Pria tua itu menatap tajam cucunya, menunggu Jiyeon mengutarakan maksud kedatangannya. Jiyeon menyerahkan sebuah map surat. Masih tanpa bicara, Jinyoung meraih map berwarna merah tersebut lalu membukanya. Ia membaca isi surat tersebut dengan cepat dan seketika ekspresi wajahnya berubah murka setelah mengetahui isi dan maksud surat tersebut.

Surat tersebut, yang telah ditanda tangani oleh Jiyeon diatas materai, merupakan pernyataan resmi bahwa ia menolak untuk menjadi ahli waris tuan Park dan ia kembali menyerahkan kekuasaan penuh atas aset-aset keluarga Park kepada sang kakek.

“APA-APAAN INI?!” Seru Park Jinyoung murka.

Jiyeon tahu bahwa sebenarnya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas persoalan ini karena bagaimanapun keluarga ini masih berduka. Namun gadis muda itu tak bisa menunggu lebih lama. Ia takut jika kakeknya akan kembali dengan berbagai rencana mengerikan lainnya untuk memisahkan dirinya dan Donghae. Maka dari itu Jiyeon bertindak sekarang. Donghae turut membantunya dalam menyiapkan surat kuasa tersebut.

Mianhe, tapi aku tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Aku ingin kembali ke kehidupan lamaku. Aku ingin kembali pada ayah dan ibu angkatku. Aku ingin kembali hanya menjadi Jiyeon, tanpa embel-embel keluarga Park di dalam hidupku. Dengan surat itu, secara resmi aku telah mengembalikan semua aset yang kakek berikan padaku dan aku menolak untuk menjadi penerus.” Ucap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.

BRAK!

Park Jinyoung membanting map tersebut di atas meja. Ia tidak terima dengan tindakan Jiyeon. Baginya penolakan ini sama saja dengan penghinaan. Dan jelas ini melukai harga dirinya.

“Kau sadar betul dengan perbuatanmu ini, bukan?”

“Ya. Sangat sadar. Kurasa ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Selamat tinggal.” Jiyeon membungkuk sopan. Jiyeon hendak melangkah pergi, namun Park Jinyoung langsung memanggil anak buahnya untuk menahan Jiyeon. Jiyeon menghela napas pelan begitu beberapa orang anak buah Park Jinyoung masuk ke dalam ruang kerja dan menghalangi pintu keluar. Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap sang kakek.

“Apa sesulit itu untuk membiarkan aku bahagia? Jika kau benar-benar kakekku, maka kau takkan tega melakukan ini padaku. Tampaknya kau takkan bisa berubah.” Ucap Jiyeon lirih

Pintu ruang kerja Par Jinyoung terbuka dengan hentakan keras. Siwon tampak berdiri tegap di depan pintu, dan ia tak sendiri. Ada beberapa orang pria berbadan besar di belakangnya. Melihat itu orang-orang Park Jinyoung langsung bersiaga.

“Apa yang kau lakukan disini?!” tanya Park Jinyoung gusar.

Siwon menatap lurus ke arah sang kakek. “Menyelamatkan sepupuku. Jika kakek masih menahannya, maka jangan salahkan aku jika terpaksa membuat keributan di kantor ini. Dan jika itu sampai terjadi, maka semua orang disini akan tahu mengenai permasalah keluarga kita. Aku takkan keberatan dengan hal itu, tapi aku tak yakin denganmu.” Nada bicara Siwon begitu dingin. Seumur hidup tak pernah Siwon menggunakan nada seperti itu jika berbicara dengan kakeknya.

Tuan Park bangkit dari duduknya. Emosinya sudah diubun-ubun. Dua orang cucunya tengah menentangnya. Padahal seharusnya mereka tunduk pada perintahnya karena dirinyalah pemimpin keluarga Park saat ini.

“KALIAN BERDUA KURANG AJAR!!! KAU, CHOI SIWON! DIMANA ETIKAMU, HAH?!”

Emosi Park Jinyoung akhirnya meledak dengan sempurna. Ia bahkan tak peduli jika teriakannya terdengar oleh sekretarisnya di luar sana. Matanya menatap nyalang ke arah Jiyeon dan Siwon.

“Jangan harap kalian bisa menentangku!”

“Kalau begitu maafkan aku harus membuat keributan disini.” Ucap Siwon. Sedetik kemudian baku hantam antara kubu Park Jinyoung dan Siwon pun terjadi. Siwon langsung menarik Jiyeon pergi dari sana dan bergegas menuju lobby untuk mengambil mobilnya. Setelah memastikan situasi aman dan tak ada anak buah Park Jinyoung yang mengejar mereka, Siwon pun memberhentikan laju mobilnya di sebuah taman kota. Keduanya tetap duduk di dalam mobil.

“Kakek takkan punya pilihan lain. Aku sudah memberikan salinan surat kuasamu kepada pemegang saham lainnya. Jadi kau sudah resmi mengembalikan semua jabatan dan semua aset SJ group. Mulai detik ini kau tak ada sangkut pautnya lagi dengan SJ Group.” Ujar Siwon.

Rasa lega menghampiri Jiyeon. Ia langsung memeluk Siwon. “Terima kasih banyak, oppa. Terima kasih karena kau telah membantuku.”

Siwon membalas pelukan gadis itu. “Ini yang memang seharusnya aku lakukan. Aku ingin kau bahagia. Lagipula aku yakin bahwa mendiang ayah dan ibumu pasti juga menginginkan hal yang sama. Dan jika dengan pergi dari keluarga Park bisa membuatmu bahagia, maka pergilah. Raih kebahagianmu.” Ucap Siwon sembari tersenyum lembut. “Ah, ddo isseoyo (ada satu lagi).” Siwon berkata seraya mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya, lalu menyerahkannya pada Jiyeon. Gadis itu menerimanya dengan bingung.

“Itu alamat ayah dan ibu angkatmu yang baru. Kakek memang sempat mengusir mereka keluar dari Korea, tapi diam-diam mereka ternyata telah kembali ke sini dan memutuskan untuk menetap di Gunpo. Temui mereka. Mereka pasti sangat merindukanmu.”

Jiyeon terbelalak, nyaris tak percaya. “Ya Tuhan, terima kasih!” Ia berkata penuh haru, senang karena akhirnya bisa kembali berkumpul dengan ayah dan ibu angkatnya, yang meskipun tak memiliki hubungan darah dengan Jiyeon, namun jelas mereka memperlakukannya jauh lebih baik daripada keluarganya yang sedarah.

 

 

*****

 

 

“Heboh sekali di sini. Tuan Park benar-benar murka. Ia bahkan tak repot-repot berusaha menjaga image di depan para karyawan. Jiyeon dan Siwon benar-benar nekat, tapi keren sekali!”

“Jadi Jiyeon sudah resmi mengundurkan diri sebagai ahli waris SJ Group?”

“Ya, tepat sekali! Pemegang saham yang lain sudah menerima surat salinannya. Bisa kau bayangkan bagaimana murkanya tuan Park sekarang? Bahkan tuan muda Siwon yang selalu menjadi kebanggaannya turut membantu Jiyeon. Sekarang para pemegang saham sedang mengadakan rapat mendadak guna membahas mengenai pengganti Jiyeon.”

“Geure. Terima kasih atas informasinya. Lalu kau akan bagaimana?”

“Jangan khawatirkan aku, Kyuhyun-ah! Aku akan baik-baik saja bahkan jika harus dipecat sekalipun. Lagipula cepat atau lambat aku memang akan mengundurkan diri.”

“Mengundurkan diri?”

“Eo! Setelah mengundurkan diri aku akan memakai uang tabunganku untuk berkeliling dunia seperti cita-citaku dulu. Sudah saatnya aku menikmati hasil kerja kerasku selama ini. Seorang teman lama mengajakku membuka bar. Aku sedang memikirkan tawaran itu. Kemungkinan besar akan kuambil. Aku sudah lelah menjadi pesuruh, kini saatnya aku yang menjadi bos besar.” Canda Hyukjae, membuat Kyuhyun tak urung tersenyum kecil mendengar perkataan temannya itu. “Kau sendiri bagaimana, Kyu? Ku dengar Dennis Oh mengajakmu untuk bekerja bersamanya di Australia. Apa kau akan menerima tawaran itu?”

“Ya, aku akan mengambilnya. Australia akan menjadi tempat yang bagus untuk membuka lembaran baru. Setelah pernikahan dan urusan visa serta izin tinggal selesai, aku dan Ah Young akan pindah kesana.”

“Kau sudah mengatakan rencana itu pada Ah Young?”

“Aku baru akan mengatakannya, tapi aku yakin dia setuju.”

“Yah, kau benar. Tak ada yang menahan Ah Young di sini. Dia hanya punya kau. Lagipula Korea sudah terlanjur meninggalkan kesan tak menyenangkan baginya, bagi kalian berdua. Apapun keputusanmu, asal kau bahagia maka aku akan mendukung sepenuh hati. Haengbokhaji sara, Kyu (Hiduplah dengan baik, Kyu).”

“Eo, neo ddo (Ya, kau juga).”

Panggilan mereka terputus. Kyuhyun menurunkan ponselnya dari telinga. Pandangan mata pria itu fokus menatap jalanan Seoul yang cukup ramai dari jendela apartemennya. Keputusannya untuk meninggalkan negara ini sudah bulat. Sebenarnya Dennis Oh, teman kuliahnya dulu yang sekarang menjadi pengusaha di Australia, sudah sering mengajaknya untuk bergabung di perusahaan miliknya. Apalagi semenjak Dennis tahu jika Kyuhyun memang berencana untuk hengkang dari keluarga Park, pria blasteran Korea-Inggris Kanada itu makin gencar mengajak Kyuhyun.

Oppa, mau makan siang sekarang?”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Ah Young tengah berdiri di belakangnya. Kyuhyun memberi isyarat agar gadis cantik itu mendekat ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Ah Young lembut.

Kyuhyun merapikan anak rambut Ah Young dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. “Apa kau setuju jika setelah menikah kita pindah ke Australia? Salah seorang teman mengajakku untuk bergabung di perusahaannya. Gajinya besar, jadi kita takkan hidup susah di sana. Jika tetap disini aku tak yakin bisa mendapat pekerjaan yang layak setelah memberontak pada tuan Park.”

Ah Young tersenyum lembut. “Aku setuju. Tidak masalah dimana kita akan tinggal asal kita tetap bersama. Lagipula aku suka Australia. Aku ingin melihat kangguru.” Ah Young tertawa kecil. Seakan menular, tawa Ah Young turut memancing senyum Kyuhyun. Kyuhyun memang tidak seekspresif Hyukjae atau Donghae, namun Ah Young tak keberatan. Ia suka Kyuhyun apa adanya.

Kyuhyun menarik tubuh Ah Young mendekat, lalu mencium bibirnya lembut.

“Terima kasih.” Bisiknya disela ciuman mereka.

 

 

*****

 

Dari jauh Jiyeon bisa melihat ayah dan ibunya yang tengah sibuk di kebun kecil mereka. Air mata gadis itu menetes tanpa bisa ditahan. Ia sangat merindukan kedua orangtuanya itu. Donghae yang sejak tadi berdiri di sebelah Jiyeon menggenggam tangan gadis itu lembut.

“Ayo kita temui mereka.” Ajak Donghae.

Dengan mata berkaca-kaca Jiyeon mengangguk dan bersama mereka melangkahkan kaki menghampiri sepasang suami istri paruh baya itu.

Go Minhee terpaku kala menatap sosok gadis cantik yang sudah belasan tahu dirawatnya dan dianggap seperti anak sendiri. Gadis yang ia beri nama Park Jiyeon. Minhee bahkan mengira jika ia bermimpi kalau saja Jiyeon tak berlari dan memeluknya erat. Park Junseok tak kalah kaget mendapati Jiyeon berada dihadapannya. Bukankah seharusnya putrinya ini berada di Seoul? Di tengah-tengah keluarga kandungnya.

Eomma bogoshipoyo…(Ibu aku merindukanmu)” isak Jiyeon.

Minhee memeluk putrinya erat. Wanita itu juga menangis sesegukan. “Ibu jauh lebih merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Kau tambah cantik.” Minhee tersenyum haru melihat penampilan Jiyeon yang cukup berbeda dari terakhir kali ia melihat anaknya itu. Sudah hampir setahun lamanya mereka tak bertemu.

Gantian Junseok memeluk Jiyeon erat dan berkali-kali mengecup puncak kepala gadis itu. “Kenapa kau bisa disini, nak? Apa kakekmu tahu?” tanya Junseok khawatir. Ia tak ingin mendapat masalah jika sampai tuan Park tahu jika mereka bertemu Jiyeon. Tuan Park sudah mengancam mereka bahwa ia akan melaporkan Junseok dan Minseok ke kantor polisi atas perbuatan mereka yang melakukan pembelian bayi secara illegal jika mereka masih nekat tetap berhubungan dengan Jiyeon.

Jiyeon menatap kedua orangtuanya dengan perasaan bersalah. Ia yakin bahwa kedua orang yang amat berjasa dalam hidupnya ini pasti juga tak luput dari kekejaman Park Jinyoung.

“Aku memutuskan untuk pergi dari sana dan menolak menjadi ahli waris keluarga Park. Aku tak ingin menjadi ahli waris. Aku tak ingin menjadi chaebol. Aku hanya ingin menjadi Park Jiyeon, putri tunggal dari Park Junseok dan Go Minhee.” Ucap Jiyeon dengan berlinang air mata. “Aku tak ingin berpisah dari kalian.” Jiyeon memeluk ayah dan ibunya erat. Keluarga kecil itu akhirnya berkumpul lagi dalam suasana penuh haru. Donghae yang sejak tadi melihat pertemuan keluarga kecil itu tak kuasa menahan air matanya.

Uri ddal (putri kami), Jiyeonnie… terima kasih sudah kembali.” Isak Minhee.

 

*****

 

 

Upacara sekaligus pesta pernikahan Ah Young dan Kyuhyun berlangsung hikmat. Meskipun hanya dihadari oleh kerabat dekat yang berjumlah tak lebih dari 20 orang, namun pesta itu cukup meriah. Raut wajah kedua mempelai tampak begitu bahagia. Senyum sumringah tak henti diberikan oleh Ah Young pada para tamu. Bahkan Kyuhyun yang biasa jarang tersenyum, kali ini tak sungkan untuk tersenyum dan tertawa menikmati acara.

Ah Young tampak cantik dengan balutan gaun pernikahan panjang berwarna putih gading. Ujung bagian belakang gaun tersebut lebih panjang hingga menjuntai menyapu lantai. Bagian belakangnya backless, namun tetap sopan dan membuat Ah Young tampak elegan. Rambut gadis itu dibiarkan terurai panjang dengan diberi model bergelombang. Tak lupa mahkota bunga diletakkan di atas kepala untuk mempermanis penampilan Ah Young. Kyuhyun sendiri tampak tak kalah memukau dengan tuxedo hitam, dasi kupu-kupu serta model rambut yang disisir ke belakang hingga menampakkan dahinya.

Pak Jang bersama istrinya datang menghampiri Kyuhyun. Pria paruh baya yang telah Kyuhyun anggap seperti ayah sendiri itu memeluk Kyuhyun seraya menepuk punggungnya dengan bangga. Ia tahu jelas mengenai masalah Kyuhyun dan majikannya, tuan Park. Namun hal tersebut bukanlah halangan baginya untuk tetap berhubungan dengan Kyuhyun.

“Selamat atas pernikahanmu. Aku bahagia sekali bisa hadir di sini. Kalian tampak serasi. Hiduplah dengan baik, Kyu. Kau pantas bahagia.” Ucapnya. Kyuhyun terharu mendengar ucapan Jang Hyunseuk.

“Terima kasih.”

Sang istri pun turut memberikan sebuah pelukan hangat untuk Kyuhyun dan Ah Young, mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mereka. Setelah pasangan suami istri Jang, datang pula Saeron, ibu panti asuhan tempat Kyuhyun tinggal dulu. Sama seperti pasangan suami istri Jang, wanita paruh baya ini juga sudah menganggap Kyuhyun sebagai anaknya sendiri. Ia turut bangga melihat Kyuhyun akhirnya memiliki pendamping setelah sekian lama terlalu fokus pada karir.

“Sering-sering main ke panti, ya. Adik-adik merindukanmu.” Ucap Saeron sambil tersenyum. “Dan semoga pernikahan kalian menjadi berkah dan langgeng hingga ajal menjemput nanti.”

“Terima kasih, eommonim.”

Donghae, Jiyeon serta Hyukjae memperhatikan Kyuhyun dan Ah Young yang tampak begitu bahagia saat mengobrol ringan dengan para tamu undangan. Ketiganya turut merasa bahagia, sebab mereka tahu betul lika liku kehidupan Kyuhyun dan Ah Young sampai bisa sampai ke tahap ini.

“Rona bahagia tercetak jelas di wajah Kyuhyun. Aku tak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.” Ucap Hyukjae.

Jiyeon tersenyum. “Mereka pantas bahagia setelah semua yang telah mereka lalui.”

Hyukjae menatap Jiyeon dan Donghae, lalu tersenyum jahil. “Kalian kapan menyusul? Memangnya tidak iri melihat KyuYoung couple?” tanyanya. Lihat, bahkan Hyukjae sudah memberikan nama couple untuk sobatnya itu.

Donghae melirik Jiyeon. “Aku sih sangat ingin, tapi nona besar ingin menyelesaikan kuliahnya dulu.”

“Ah, sayang sekali. Wae? Takut hamil? Kan bisa pakai pengaman.”

“Ya Lee Hyukjae! Mulutmu tidak ada penyaringnya apa? Vulgar sekali.” Kesal Jiyeon yang malah membuat tawa Hyukjae makin membahana, sedangkan Donghae hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap aneh dan konyol Lee Hyukjae.

“Donghae-ya, kasihan sekali kau ini. Sesama pria dewasa aku mengerti sekali bagaimana rasanya harus menahan gairah. Tabahkan hatimu dan…“

Ya! Neo jugeullae?! (Kau mau mati?)” Jiyeon mencubit lengan Hyukjae dengan begitu kuat hingga membuat pria itu meringis kesakitan dan mohon ampun.

 

 

*****

 

 

5 Tahun Kemudian

Lima tahun sudah berlalu. Seoul cukup banyak mengalami perubahan, namun bagi Ah Young dan Kyuhyun, Seoul tetap sama. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu kepahitan hidup mereka beberapa tahun silam, namun sekaligus menjadi awal mula kebahagiaan mereka. Mereka tetap cinta tanah kelahiran mereka tersebut. Tiga bulan setelah menikah Kyuhyun dan Ah Young bertolak ke Australia untuk memulai hidup baru mereka di sana. Dan baru hari ini keduanya memutuskan untuk kembali ke Korea, sekedar berlibur sekaligus membawa Nayeon untuk melihat tanah kelahiran kedua orangtuanya. Ya, Cho Nayeon adalah buah cinta pernikahan Kyuhyun dan Ah Young yang lahir tiga tahun silam.

Kyuhyun dan Ah Young berjalan bersisian di bandara Incheon dengan Kyuhyun yang menggendong si kecil Nayeon, sedangkan Ah Young mendorong troli berisi koper mereka. Begitu keluar dari pintu kedatangan, suara seruan Hyukjae langsung terdengar nyaring, membuat Nayeon yang tadinya nyaris tertidur sontak langsung terbangun dan menatap bingung ke arah Hyukjae.

“Dia masih konyol seperti dulu.” Ucap Kyuhyun yang dibalas dengan kekehan geli oleh Ah Young.

Hyukjae memeluk Kyuhyun dan Ah Young. Wajahnya tampak begitu sumringah. “Welcome back to Korea.” Ucapnya. Ia lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum lucu menatap Nayeon. “Omo omo, uri Nayeonnie sudah besar ya. Terakhir kali kita bertemu saat kau masih bayi.” Hyukjae menatap gadis cilik itu gemas. Ia hendak meraih Nayeon kegendongannya, namun Nayeon langsung buang muka dan mempererat pelukannya dileher Kyuhyun. Gadis kecil itu menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.

“Dia masih mengantuk jadi agak rewel. Nanti juga dia akan terbiasa padamu, oppa.” Ucap Ah Young.

“Haha gwenchana. Ja, ayo kita pergi. Kita langsung ke rumah Donghae-Jiyeon untuk makan siang. Mereka sudah tak sabar menanti kedatangan kalian. Jiyeon bahkan berkali-kali menelponku menanyakan kalian. Padahal aku sudah bilang jika kalian sampainya siang menjelang sore, tapi dia masih saja cerewet.” Hyukjae geleng-geleng kepala. “Mungkin pengaruh hormon ibu hamil.” Tebaknya.

Ah Young tertawa mendengarnya. Sobatnya itu memang tengah mengandung. Usia kandungannya baru memasuri trimester pertama. Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju kediaman Donghae-Jiyeon, Ah Young berceloteh pada Nayeon mengenai Seoul. Nayeon tampak tertarik dengan suasana baru yang dilihatnya. Kyuhyun melirik sekilas ke bangku belakang dimana anak dan istrinya duduk. Pria itu tersenyum kecil yang tak luput dari penglihatan Hyukjae.

“Kau tampak jauh lebih baik. Sepertinya udara Australia begitu bagus untukmu, eo?”

Kyuhyun tertawa kecil. “Ya, kurasa itu benar.”

 

 

*****

 

 

Suasana kediaman Donghae-Jiyeon yang biasanya sepi kali ini mendadak ramai dengan kehadiran Kyuhyun, Ah Young, Hyukjae serta si cantik Nayeon, yang sukses menjadi pusat perhatian diantara kelima orang dewasa di sana.

Jiyeon mengelus kepala Nayeon lembut. Gadis mungil itu tengah asyik menikmati es krim stroberi miliknya.

“Dia makan dengan baik.” ucap Jiyeon.

Ah Young tertawa kecil. “Hobinya memang makan. Ia bahkan suka makanan pedas. Jika aku atau oppa melarangnya makan pedas ia pasti akan menangis.” Cerita Ah Young.

“Wah daebak. Uri Nayeonnie akan tumbuh menjadi gadis yang tangguh. Ngomong-ngomong kalian akan lama kan di sini?”

“Lumayan, sekitar satu bulan. Sudah berapa lama kalian kembali tinggal di Seoul?” tanya Ah Young.

Setelah keluar dari rumah keluarga Park, Jiyeon sempat tinggal bersama ayah dan ibunya di Gunpo, lalu beberapa bulan kemudian ia bertolak ke Busan untuk menyelesaikan S1-nya. Setelah lulus S1, tepatnya setahun yang lalu, Jiyeon dan Donghae memutuskan untuk menikah. Mereka kemudian menetap di Gwangju.

“Kami baru kembali tinggal di Seoul sebulan yang lalu.”

“Bagaimana hubunganmu dengan keluarga Park?”

Jiyeon meletakkan sumpitnya, lalu meraih tissue untuk mengelap bibirnya. “Aku masih berhubungan baik dengan keluarga bibi Nami. Mereka tetap memperlakukanku sama. Mereka bahkan tak segan membantuku dan Donghae oppa yang sempat susah karena kakek. Tapi untuk kakek, aku tidak bisa bersikap seperti dulu. Lagipula sampai detik ini ia masih benci padaku.”

“Apa tuan Park masih berusaha untuk menarikmu kembali?” tanya Kyuhyun pada Jiyeon. Jiyeon menggeleng. “Dia sudah punya penggantiku.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum sumringah.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. “Nugu? Yunho?”

Jiyeon kembali menggeleng. “Mau tambah lagi?” tanyanya ramah pada Nayeon, yang dijawab dengan anggukan malu-malu oleh gadis cilik itu. Jiyeon tertawa kecil seraya menambahkan es krim ke dalam gelas Nayeon. Ia lalu kembali fokus pada perbincangan yang sempat terpotong tadi. “Tebak siapa!” Jiyeon tertawa kecil

“Tuan muda Chansung.” Hyukjae menjawab rasa penasaran Kyuhyun dan Ah Young.

Sepasang suami istri itu tampak kaget. Bagaimana mungkin kakek menjadikan Chansung si troublemaker itu sebagai ahli waris?

“Jangan bercanda! Mana mungkin Chansung.” Ujar Ah Young tak percaya.

“Kakek tidak punya pilihan lain. Ia galau setengah mati. Maka dari itu akhirnya ia memutuskan menjadikan Chansung sebagai ahli waris.”

“Si bodoh itu tadinya bersemangat sekali. Dia pikir menjadi penerus SJ group itu gampang! Tuan Park mati-matian menggemblengnya dengan berbagai macam pendidikan sebagai pemimpin perusahaan. Ia bahkan mengharuskan Changsung tinggal di rumah utama agar lebih bisa dipantau, atau lebih tepatnya dikendalikan dengan begitu banyak larangan. Changsung bahkan sempat kabur karena tidak sanggup. Tapi dia tidak setangguh kalian. Baru diancam sedikit sudah lemah. Jadilah sekarang ia menjadi boneka kakek.” Cerita Hyukjae.

“Orang seperti Changsung memang cocok bersama tuan Park. Toh, itu yang selama ini ia dan nyonya Hyesun inginkan. Biarkan mereka menikmatinya.” Ucap Kyuhyun.

Donghae mengangguk setuju. “Kita biarkan mereka dengan kehidupan mereka. Kita punya kehidupan yang jauh lebih berharga untuk dijalani.” Ucap Donghae sembari tersenyum manis.

 

-The End-

Yay, akhirnya FF ini tamat sodara-sodara sekalian 😀
Endingnya ga terlalu alay, kan? sebisa mungkin aku bikin momen romantisnya ga terlalu lebay. Soalnya takut mual sendiri pas baca lol. FF ini masih jauh bgt dari kata bagus, makanya aku berterima kasih bgt sama kalian yg setia baca ff ini dari awal sampe tamat dan selalu kasih support. 

btw, ada yang punya akun Wattpad? Sekarang aku juga buka lapak disana. Isinya sih FF disini juga. Tapi aku rencana pengen nulis cerita nonFF. Settingnya Indonesia (meski visual tetep pake oppadeul/unniedeul dan dongsaengdeul :D) Yang tertarik silahkan berkunjung ke Kyula88

See you guys soon~ 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

18 tanggapan untuk “The Bodyguard (Part 15 – END)

  1. Ye yee yeeee
    Happy ending dah semua nya
    Walaupun ga jadi pewaris SJ grup, jiyeon ttp bahagia bahkan lebih bahagia hidup sama donghae
    Kyuhyun juga udh happy sama keluarga nya

    Tapi ya thor… menurut aku sih alur ending cepettt bener

    Tp ga papa juga sih kan yg penting happy endinggggg 🎉🎉

  2. yeeey finnaly end chukaaeeee akhirnya jiyeon lepas dari keluarga park dan siwon udah mau bantuin dia. tapj monent donghae jiyeonnya kurang banyak disini :’)
    tapi tak apa ceritanya seru~`

  3. Happy ending ya walaupun menurut aq alur nya kecepetan tpi over all ceritanya keren.. d tunggu ff selanjutnya y Chingu bye bye…

    1. Iya, baru ngeh kalo kecepetan. soalnya udh kehabisan ide dan pas bgt lagi ga mood nulis sama sekali. Jd, drpd dibiarin smpe lumutan akhirnya ditamatin aja. Makasih buat komentarnya. Next, aku bakalan berusaha untuk nulis cerita yg lebih bgus lg ^^

  4. Maaf menyela. Bukannkah kim yura yang asli itu ah young? (Lirik dari nama castnya) terus kok gak ada penyelesaian nya?

    1. Byk yg bingung soal nama ini. Di cerita ini, Kim Yura cucu Tn Park yg asli itu Jiyeon. Dan buat nama yg di cast, nama asli Yura (girls day) adalah Kim Ah Young. Sengaja aku tulis begitu karena ga byk org yg tahu nama asli Yura itu Ah young.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s