Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 7)

1461737469168

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

_________________________________________

Minah berjalan bersisian dengan Haneul sembari mengobrol tentang film yang mereka tonton semalam. Melihat keduanya berjalan bersisian bukanlah hal yang baru. Minah, Haneul dan Woo Bin bagai satu kesatuan. Wajah Minah terlihat begitu sumringah, namun mendadak wajahnya menjadi muram begitu segerombolan siswi menghampiri Haneul.

Sunbae, kami ingin masuk ke dalam klub jurnalistik. Apa saja persyaratannya? Apa aku harus memberikan contoh berita yang sudah ku tulis?” tanya salah seorang siswi.

Minah memutar bola matanya. Penting sekali pertanyaannya. Jelas-jelas persyaratan mengenai keanggotaan bisa dibaca dipapan pengumuman atau website sekolah. Tak perlu repot-repot datang mencari Haneul. Minah melirik nametag siswi itu, Ahn Seolhyun.

Yeoja itu cantik sih, tapi…

‘Aku jauh lebih cantik.’ Sisi narsis Minah muncul.

Kekesalan Minah semakin menjadi saat Haneul malah meladeni yeojadeul tersebut. Merasa terabaikan, dengan langkah lebar-lebar Minah berlalu meninggalkan Haneul dan sekumpulan yeojadeul yang masih antusias bertanya-tanya. Sepanjang perjalanan ke kelas tak henti-hentinya Minah menggerutu dalam hati. Betapa ia ingin menjambak rambut yeojadeul itu satu persatu.

“Dasar hoobaedeul tak tahu diri!” rutuk Minah sambil membenarkan rambutnya yang agak berantakan. Ia tidak pernah suka saat ada yeoja yang mendekati namjadeul-nya, label khusus dari Minah untuk Haneul dan Woo Bin. Bisa dibilang Minah adalah yeoja posesif.

Di depan tangga menuju lantai dua, Minah berpapasan dengan Woo Bin. Gadis itu menatap Woo Bin sedih, sedangkan Woo Bin tidak tahu harus melakukan apa. Situasi ini begitu canggung.

Annyeong.”

Minah berdeham, “Eo, annyeong.” balasnya.

Lalu keduanya berlalu. Minah menuju lantai dua, sedangkan Woo Bin turun menuju lantai satu. Minah menoleh kebelakang, menatap sedih punggung tegap Woo Bin.

Nappeun namja.” bisiknya lirih.

 

*****

 

Minseok dan Krystal. Pemandangan yang cukup membuat mata Jiwon perih. Bahkan lollipop yang tengah dihisapnya tidak lagi terasa manis.

Neo eolgul-i wae geurae? (wajahmu kenapa?)” Taehyung, si anak bawang di kelas (julukan pria itu selama tiga tahun di Jeguk High School) bertanya sembari mengamati wajah Jiwon dengan seksama.

Jiwon memasang wajah datar, merasa terganggu dengan kehadiran Taehyung dan pertanyaan tak pentingnya itu. “Mwo?” Jiwon bertanya malas.

“Seperti ingin makan orang hahaha…” tawa Taehyung terdengar menggelegar.

“Aku akan benar-benar jadi kanibal jika kau tetap menggangguku dengan ocehan tak penting itu. Pergi sana!” usir Jiwon.

Wae? Nan geokjonghae. (Aku khawatir)”

Dwaesseo! Palli ka! Aish, aku saja yang pergi.” Dengan langkah menghentak Jiwon melangkah pergi dari taman, meninggalkan Taehyung yang tertawa sendiri karena berhasil menggoda si nona keras kepala Kim Jiwon.

 

*****

 

Jiwon memutar-mutar cincin pertunangannya dan Woo Bin yang melingkari jari manisnya. Cincin itu tampak indah melingkari jarinya. Entah karena cincin itu yang begitu bagus dan indah, atau malah karena jemari Jiwon yang lentik. Ah, pasti karena alasan yang pertama.

“Sudah, tak perlu diamati terus. Cincinnya tak akan kabur kok.” Minseok berkata sambil tersenyum manis, lalu duduk di bangku kosong sebelah Jiwon. Jiwon menatap Minseok selama beberapa detik, kemudian tersenyum kecil.

“Bagus kan?” tanyanya sembari memamerkan cincin tunangannya dan Woo Bin.

Minseok tersenyum sembari mengangguk setuju. “Indah. Cocok di jarimu.”

Jinjja?” Jiwon tampak senang dengan pujian yang dilontarkan Minseok. Sekali lagi pria itu mengangguk.

“Eo. Neomu yeppeo.”

Jiwon tersenyum puas mendengar pujian dari Minseok, namun buru-buru ia berusaha untuk menahan ekspresinya agar tak tampak terlalu senang. Kesenangan Jiwon tak bertahan lama sebab Krystal muncul di depan kelas, dan seketika membuat perhatian Minseok tertuju sepenuhnya pada gadis itu.

“Sana temui kekasihmu.” suruh Jiwon terdengar agak ketus. Minseok tersenyum tipis sebelum kemudian menghampiri Krystal yang tengah menantinya di depan kelas.

Babo…” Gumam Jiwon yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.

 

*****

 

Woo Bin tampak bersinar diantara pemain basket yang lain. Tak heran jika banyak sekali yeoja yang mengelu-elukan namanya, seakan ia bintang NBA. Jiwon tak terlalu ambil pusing dengan yeojadeul centil yang tanpa henti meneriakkan nama Woo Bin.

‘Apa pita suara mereka tidak sakit?’ batin Jiwon sembari menggelengkan kepala.

Berbeda dengan gadis-gadis lain yang berteriak histeris, Jiwon justru duduk tenang di bangku penonton dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Ia memilih mengamati pertandingan basket antar kelas itu dengan tenang.

Woo Bin melakukan lemparan 3 poin dari ujung lapangan basket. Dan… Masuk!

Teriakan pendukungnya makin membahana. Padahal ini hanya pertandingan antar kelas, bukan antar sekolah apalagi antar kota. Dalam hati Woo Bin tertawa senang. Matanya memperhatikan gerombolan pendukungnya, dan kedua matanya terpaku pada sosok gadis berparas cantik yang duduk dengan tenang di bangku penonton, kontras sekali dengan keadaan disekitarnya. Seulas senyum terukir dibibir Woo Bin. Ia memang tidak salah dalam memilih yeoja.

Usai pertandingan semua pemain menuju bangku yang tersedia dipinggir lapangan untuk beristirahat sejenak. Bagai di dalam novel-novel romantis, pemain-pemain basket yang kebetulan namjadeul tampan nan populer langsung dikerubungi para yeoja bagai semut yang menemukan gula.

Igeoyo.”

Woo Bin menoleh dan mendapati Jiwon tengah menyodorkan sebotol air mineral padanya. Woo Bin tersenyum seraya menerima botol air mineral itu, membuka tutupnya lalu langsung menenggak air di dalamnya hingga tinggal setengah. Jiwon mengamati itu dalam diam. Sumpah, padahal Woo Bin hanya sedang minum air mineral, tapi kenapa ia terlihat begitu seksi? Persis seperti iklan minuman isotonik di televisi.

Wae?” Woo Bin menatap Jiwon bingung, membuat gadis itu tersentak kaget.

Buru-buru ia menormalkan ekspresinya. “Aniyo. Na kattda.” Jiwon berjalan cepat meninggalkan lapangan basket indoor diiringi dengan tatapan Woo Bin yang begitu intens. Seulas senyuman muncul di wajah Woo Bin.

“Ah, neomu gwiyeowo.”

 

*****

 

Ujian sudah semakin dekat, maka tak heran jika melihat banyak murid yang memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan dengan niat untuk belajar, walaupun pada akhirnya mereka malah tidur nyenyak seperti bayi. Jiwon sendiri memilih ke perpustakaan untuk mencari ketenangan serta hiburan dengan membaca koleksi buku cerita bergambar disana. Yah, buku cerita bergambar, bukan novel romantis atau bahkan buku pelajaran. Selesai membaca buku cerita bergambar, Jiwon mengembalikan buku tersebut ke rak. Ia tidak langsung balik ke kelas. Sekilas ia melirik jam putih yang melingkari pergelangan tangannya. Masih ada sisa sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Jiwon pun memutuskan untuk melihat-lihat buku lain yang mungkin bisa ia baca. Sedang asyik melihat-lihat buku, Jiwon mendengar percakapan dua orang murid yang setingkat dengannya di sudut perpustakaan yang sepi. Nada bicara keduanya terdengar begitu serius hingga membuat Jiwon penasaran dengan wajah keduanya.

Pelan-pelan ia mengintip ke arah dua orang murid tersebut. Lee Howon dan Lee Hongbin. Dua murid terkenal dengan sikap yang bertolak belakang. Lee Howon yang terkenal lantaran ‘prestasinya’ sebagai preman sekolah, sedangkan Lee Hongbin terkenal sebagai murid kesayangan guru-guru lantaran pintar dan berprestasi di bidang akademik. Selain itu, ia juga keponakan dari ketua yayasan (yang mana sebenarnya merupakan alasan utama Hongbin menjadi murid kesayangan semua guru). Jiwon mengernyit heran melihat keduanya. Ia tak pernah tahu jika kedua orang dengan sifat bertolak belakang itu berteman.

Sayangnya Jiwon bukan tukang gosip, jadi ia memilih untuk tak ambil pusing. Gadis itu hendak beranjak pergi, namun sekilas percakapan Howon dan Hongbin yang masuk ke indera pendengarannya membuat langkah gadis itu terhenti. Dengan kaget Jiwon kembali menoleh ke arah dua siswa tersebut.

“Lima juta jika kau bisa mengambil soal ujian nanti.” Ucap Hongbin dengan mimik wajah serius. Howon tampak berpikir sejenak. Tawaran itu tentunya begitu menggiurkan. Kapan lagi ia bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Toh, yang harus ia lakukan hanya menyelinap ke ruang kepala sekolah dan mengambil soal ujian.

Melihat Howon yang masih berpikir, Hongbin pun menaikkan nominal angka yang ditawarkan. “Geurae, 7 juta.”

Howon ternganga mendengarnya. Sedikit tak habis pikir dengan betapa mudahnya Hongbin menawarkan harga. Sedangkan ia harus mati-matian kerja paru waktu sana-sini hanya demi penghasilan yang tak seberapa.

“Aku setuju. 7 juta untuk soal-soal ujian nanti. Fisika, Kimia, Sejarah dan Biologi, kan?”

“Eo. Aku akan transfer uang mukanya. Sisanya akan kuberikan jika soal-soal itu sudah ditanganku.” Ujar Hongbin.

Jiwon buru-buru pergi dari sana saat dilihatnya kedua siswa tersebut telah selesai dengan bisnis mereka. Namun sial, sekilas Howon melihat sosok Jiwon yang menghilang dibalik rak buku-buku lama.

 

*****

 

Ani ani, aku tak dengar apapun. Aish! Salah sendiri kenapa berbicara hal penting seperti itu di perpustakaan. Dasar babo!’ Rutuk Jiwon. Gadis itu malas sekali jika harus terlibat dalam masalah orang lain. Jiwon pun memutuskan untuk tutup mulut. “Bukan urusanku.” Ucapnya pelan sembari merapikan rambutnya. Dengan wajah tenang gadis itu berjalan menyusuri koridor untuk sampai ke kelas.

Suasana kelas yang heboh dan juga tingkah pola teman-teman sekelasnya yang ajaib membuat Jiwon sejenak melupakan kejadian di perpustakaan. Hingga esok harinya tanpa sengaja gadis cantik itu berpapasan dengan Howon. Seketika Jiwon teringat pada pertemuan rahasia Howon dan Hongbin di perpustakaan. Jiwon bisa menjaga raut wajahnya hingga tampak biasa dan tak mencurigakan. Awalnya Howon pun tak terlalu memperhatikan, namun begitu ia menoleh ke arah Jiwon yang telah memunggunginya, tampak pita merah tersemat di rambut coklat gelap Jiwon. Pita yang sama dengan yang dipakai oleh siswi yang diduganya telah mendengar percakapannya dengan Hongbin.

“Sial!” Rutuk Howon kesal. Pria itu bergegas mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan langsung menghubungi seseorang. “Sepertinya aku telah menemukan gadis itu.”

 

*****

 

“Kenapa seenaknya kau menjodohkan Woo Bin tanpa seizinku, eo? Memangnya kau sudah tidak menganggapku sebagai nenek Woo Bin lagi?!”

Yumi meringis seraya menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Yumi menatap suaminya yang hanya dibalas dengan gedikan bahu tanda pasrah. Jika sudah menyangkut Ahn Hyejong, ibunda Yumi, maka tak ada yang berani ikut campur mengingat betapa judes dan galaknya wanita berumur 62 tahun itu.

“Eomma, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja ini…”

“Banyak alasan! Dan lagi, siapa yeoja yang jodohkan dengan cucuku satu-satunya itu? Apa dia berkompeten untuk uri Woo Bin?”

Geokjonghajima eomma, Jiwon adalah pasangan yang cocok untuk Woo Bin. Dia baik, cantik, pintar dan juga berasal dari keluarga baik-baik. Dia putri dari Nana. Eomma masih ingat Kim Nana kan? Teman sekolahku yang dulu sering main ke rumah. Nah, Jiwon itu adalah putri tunggalnya.”

“Kau tidak memaksa Woo Bin kan?”

Ani ani!” Buru-buru Yumi membantah. “Woo Bin dengan senang hati menerimanya, begitu pula Jiwon.”

“Tapi tetap saja, melakukan pertunangan tanpa seizinku itu perbuatan yang sangat tidak bisa ku tolerir.”

BIP

Dan telepon pun diputuskan sepihak. Yumi menatap layar ponselnya, lalu menghela napas pelan sembari menatap Jungsoo dengan pasrah. Jungsoo tertawa kecil seraya menarik sang istri ke dalam pelukannya. “Seharusnya kau memang mengabari eommonim.” Ucap Jungsoo.

Yumi menoleh kesal. “Oh, jadi kau menyalahkanku? Aku sengaja merahasiakannya dulu karena tahu jika eomma pasti takkan setuju. Dia sudah punya calon sendiri untuk Woo Bin. Dia pasti akan mencari celah untuk membatalkan perjodohan Woo Bin dan Jiwon.

Aigoo, kenapa kalian rumit sekali, eo? Soal jodoh, biarkan Woo Bin yang memilih. Dia yang paling tahu dengan siapa ia ingin memberikan hatinya.” Ujar Jungsoo.

Yeobo, pokoknya aku ingin Jiwon yang jadi menantuku! TITIK!” Ujar Yumi, lalu beranjak pergi meninggalkan Jungsoo yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, berusaha memaklumi sikap sang istri yang keras kepala.

 

*****

 

Woo Bin memperhatikan Jiwon yang tengah latihan gymnastic. Satu fakta lagi yang ia ketahui tentang tunangannya itu. Woo Bin tak pernah tahu sebelumnya jika Jiwon jago dalam hal gymnastic. Gadis itu bahkan bisa menjadi atlet professional jika ia mau. Namun Jiwon hanya menganggap gymnastic sebagai hobi saja. Mata Woo Bin cukup dimanjakan dengan gerakan luwes tubuh Jiwon. Cara dia melompat dan berputar sambil memainkan pita ditangannya tampak begitu indah dan anggun. Woo Bin bahkan rela menghabiskan waktu selama dua jam hanya untuk duduk manis memperhatikan Jiwon.

“Kau tidak bosan?” tanya Jiwon sambil mengelap peluh diwajahnya dengan handuk kecil. Gadis itu lalu meraih botol minum dan meminumnya hingga tandas.

Woo Bin menggeleng. “Aniya. Aku cukup terhibur. Kau tak pernah bercerita jika kau jago gymnastic.”

“Kau tak pernah bertanya.” Jawab Jiwon singkat. “Ini salah satu dari sedikit hobiku. Aku sudah menekuni gymnastic sejak masih di sekolah dasar. Awalnya hanya untuk menguruskan badan, namun lama-kelamaan malah menjadi suka.” Cerita Jiwon.

Woo Bin mengernyitkan dahinya. “Kau dulu gendut ya?”

“Eo. Masa-masa suram.” Ucap Jiwon membuat Woo Bin tertawa.

“Aku juga dulu gendut sekali, bahkan sampai tidak bisa mengikat tali sepatu sendiri.” Aku pria beralis tebal itu, yang mana langsung mengundang tatapan tak percaya dari Jiwon. “Kau? Yang benar saja!” Mata Jiwon menatap Woo Bin dari kepala hingga kaki. Sulit dipercaya jika namja nyaris sempurna dihadapannya ini ternyata pernah memiliki masalah dengan berat badan.

Jinjja. Kapan-kapan akan ku tunjukkan foto masa kecilku.”

Joha. Akan ku tunjukkan juga foto masa kecilku. Kita lihat siapa yang paling gendut.”

Woo Bin tertawa. Ia kemudian melihat jam tangannya. “Sudah jam 4 sore. Kau sudah selesai, kan? Kita makan dulu ya sebelum pulang. Naneun jinjja baegopa.”

Jiwon mengangguk. “Geurae. Tapi aku mandi dulu. Chakkamannyo.”

 

*****

 

Woo Bin berjalan memasuki rumah mewahnya. Pria itu menyapa bibi Son, asisten rumah tangga, di rumahnya serta menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Ia langsung bergegas menuju ke ruang keluarga di lantai satu begitu tahu ibu dan ayahnya berada disana. Woo Bin mendapati ayah dan ibunya yang tampak sedang dalam percakapan serius. Jarang-jarang ia melihat kedua orangtuanya serius seperti ini. Mereka lebih sering bercanda dan kadang terlihat konyol daripada serius.

“Eo. Neo wasseo.” Ujar Yumi. Ia mengisyaratkan agar Woo Bin duduk di sebelahnya.

Wae?” tanya Woo Bin setelah duduk disisi ibunya.

“Kau tahu kan jika bulan ini nenek akan berulang tahun yang ke 63 tahun?”

“Iya, aku tahu. Wae? Apa kita akan kesana? Akhir pekan ini kan libur panjang.”

Yumi mengangguk. “Iya, kita akan kesana. Nenek akan menyelenggarakan pesta kecil-kecilan. Dan… ia juga ingin bertemu Jiwon.” Ujar Yumi pelan.

Wajah Woo Bin tampak tenang. “Ah, jadi nenek sudah tahu ya. Apa nenek memarahi eomma?”

Yumi mengeluh, “Ya. Kau kan tahu bahwa sudah lama ia ingin menjodohkanmu dengan cucu temannya. Padahal ibu sudah bilang bahwa Jiwon adalah calon istri yang tepat untukmu. Jika diberi skala, maka penilaian untuk Jiwon adalah 10 dari 10 poin. Tapi tetap saja nenekmu tidak terima. Aish, dia bawel sekali!” Yumi memukul bantal kursi dipangkuannya dengan kesal, membuat Woo Bin dan Jungsoo tertawa.

“Dia ibumu, bu.” Woo Bin mengingatkan sambil tertawa.

Arasseo! Jadi, jangan lupa kabari Jiwon ya. Katakan jika nenek ingin berkenalan dengannya, tapi jangan bilang soal nenek yang galak dan bawel. Nanti Jiwon malah kabur.”

Ara. Nanti akan kukatakan pada Jiwon. Ah, aku jadi malas pulang kampung.” Desah Woo Bin. Ia lalu menatap sang ayah, “Appa, bagaimana kau bisa tahan punya mertua segalak nenek, eo? Aku jadi ingin melihat bagaimana masa-masa ayah dan ibu masih pacaran. Apa ayah selalu digalaki oleh nenek?”

“Selalu.” Jawab sang ayah. “Aku bahkan nyaris mundur teratur. Untung cinta.” Gurau Jungsoo yang dibalas dengan cubitan mesra oleh Yumi dilengannya.

 

*****

 

Pagi-pagi Jiwon sudah duduk manis di kelasnya sambil membaca komik Gals, komik yang sudah berulang kali dibacanya, namun tak pernah bosan. Jiwon terlalu cinta pada Kotobuki Ran. Sesekali Jiwon tertawa cekikikan saat membaca bagian lucu, terutama di bagian Kotobuki Ran dan Kuroi Tatsuki. Keasyikan Jiwon terusik saat pintu kelas dibuka dari luar. Awalnya Jiwon tak peduli karena ia berfikir jika yang datang teman sekelasnya, namun gadis itu termangu di kursinya saat melihat bahwa yang berdiri di depan pintu kelasnya bukan teman sekelasnya melainkan Lee Hongbin.

Lee Hongbin tengah berdiri di depan pintu kelas sambil menatap Jiwon tajam. Jiwon langsung tahu maksud kedatangan pria popular itu. Jiwon tak mengacuhkan Hongbin dan lebih memilih kembali pada komik kesayangannya. Hongbin berjalan mendekati meja Jiwon. Ia berdiri sejenak di depan meja gadis itu, namun tak kunjung diacuhkan oleh Jiwon. Merasa kesal, akhirnya Hongbin berdeham seraya menumpukan sebelah tangannya di meja Jiwon. Jiwon akhirnya mendongak dan menatap Hongbin datar.

“Aku tahu kau mendengar percakapanku di perpustakaan, bukan?”

Mwo?” Jiwon pura-pura tidak tahu.

Hongbin berdecak kesal. “Ck, jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau juga disana Kim Jiwon. Sekarang camkan baik-baik, jika sampai kau buka mulut pada yang lain maka aku takkan tinggal diam.” Ancam Hongbin.

Bukannya takut, Jiwon justru tersenyum sinis. “Museowo? (takut) Aku tidak menyangka bahwa kau selicik itu. Keunde, geokjonghajima sebab aku takkan repot-repot mau mengurusi masalahmu. Anggap saja aku tak melihat apapun. Aku malas membuang waktu untuk ikut campur dalam masalahmu. Hidupku saja sudah pelik.” Ucap Jiwon.

Hongbin menatap Jiwon lama, berusaha untuk menelisik kejujuran dari tatapan mata gadis itu. Kedua tangannya tersimpan rapi disaku kanan dan kiri celananya. “Geurae, nan mideo (baiklah, aku percaya). Tapi awas jika kau sampai buka mulut! Aku tak main-main dengan ucapanku.” Ujar Hongbin lagi, lalu pria itu melenggang pergi.

Jiwon menatap kepergian pria itu dengan tatapan datar. “Dasar pengecut.” Gumamnya sebelum kembali pada kesibukan awal.

 

*****

 

Mwoya? Bertemu nenekmu? Apa itu tidak berlebihan?”

“Nenek ingin bertemu denganmu. Ayolah, ini takkan menyusahkanmu kok. Kita hanya dua hari disana.” Bujuk Woo Bin.

Jiwon masih tampak ragu. Baru memikirkan akan bertemu nenek Woo Bin saja ia sudah gugup, bagaimana jika bertemu nanti? Mungkin Jiwon akan pingsan di tempat saking gugupnya. Lagipula ia sulit untuk bersosialisasi dengan orang yang baru ditemuinya, sedangkan ia harus bisa mengambil hati nenek Woo Bin saat bertemu nanti. Bagaimana jika nenek pria itu tidak suka padanya karena menganggap Jiwon sombong?

Memikirkan itu membuat Jiwon stress. Gadis itu menyeruput milkshake vanilla dengan pikiran yang melanglang buana. Woo Bin melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. “Bagaimana? Mau ya?” Bujuk pria itu.

“Apa bibi Yumi juga akan ikut disana?” Tanya Jiwon. Setidaknya jika ada bibi Yumi maka ia takkan terlalu merasa gugup.

“Ya. Ibu dan ayah juga akan kesana. Jadi?” Woo Bin menatap Jiwon, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh gadis cantik itu.

Jiwon menghela napas lalu mengangguk lemah. “Baiklah, aku mau. Tapi awas kalau saja sampai aku di-bully oleh nenekmu disana. Aku akan langsung pulang.” Ujar Jiwon sedikit mengancam. Woo Bin terdiam, lalu tertawa kecil menutupi kegugupannya. Sudah pasti neneknya akan melakukan sesuatu pada Jiwon, mengingat bahwa neneknya tidak setuju dengan perjodohan mereka. Tapi Woo Bin tak mungkin berbicara jujur pada Jiwon. Belum apa-apa saja Jiwon sudah takut, apalagi kalau sampai gadis itu tahu bagaimana dahsyatnya tingkat kegalakan dan kebawelan Ahn Hyejong, sang nenek tercinta.

‘Semoga saja nenek tidak melakukan hal yang menyebalkan.’ Harap Woo Bin.

 

 

-To Be Continued-

Annyeonghaseyo chingudeul 😀

Maaf pake banget karena baru bisa lanjutin FF ini sekarang 😦 Udah lama banget ya (berbulan-bulan). Kemarin-kemarin aku sibuk banget sama proposal skripsi dan magang. Berhubung proposal udah kelar, tinggal revisi dikit, jadi aku bisa lanjutin nulis FF ini. Maaf kalo part ini ga seru dan menarik seperti harapan kalian. Aku udah berusaha untuk mengembalikan mood menulis yang emang sempat hilang gara-gara kesibukan jadi mahasiswi semester akhir. Udah lelah banget sama tulis-menulis (kekenyangan sama revisi). Semoga kalian suka. Dan aku akan berusaha untuk terus lanjutin ff ini sampai tamat. Jadi mohon bersabar ya. Makasih atas dukungannya ^^ 

See you on the next chapter =)

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 7)

  1. yey…akhirnya di post juga ff nya,nunggunya harus extra sabar 😀 haha..
    tp gk apa2 kok thor,ceritanya tetep menarik,simple apalagi kalo pas scene woobin & jiwon itu yg paling di tunggu2 😀
    wah…kayaknya jiwon dlm bahaya nih,semoga aja ngga kenapa2 & woobin bisa melindungi jiwon.
    udah ngga sabar pengen liat jiwon sama nenek nya woobin,kira2 akur ngga ya?mengingat nenek woobin galak 😀
    next thor…kalo bisa secepatnya :v

  2. Waduhhh moga moga neneknya woo bin suka sama jiwon akhirnya.

    Thor gaada niat bikin ff brothersister couple lg kah? Hehe kangen bgt nih sama ff brother sister couplenya author 😜

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s