Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul), Uncategorized

Speck of Dust (Part 4)

1461180487715

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun
– Kim Jongin

_______________________________________________

Angin malam yang sejuk membelai lembut wajah Haneul dan Kyuhyun. Sudah sejam lamanya mereka berdua duduk dengan bersandar di pagar pembatas jembatan. Malam yang larut serta cuaca yang dingin tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk saling bertukar cerita. Ada banyak hal yang selama ini tak bisa mereka ungkapkan. Bukan karena tak ingin, namun karena baik Kyuhyun maupun Haneul tak punya seseorang yang bisa diajak untuk membicarakan masalah mereka. Mereka sendirian…

Meskipun tak terlalu saling mengenal, tapi Haneul cukup nyaman berada di dekat Kyuhyun, begitu pula Kyuhyun. Haneul pendengar yang baik sehingga ia nyaman bercerita pada gadis itu, walaupun ia belum bisa blak-blakan menceritakan masalahnya. Namun setidaknya sedikit rasa yang menyesakkan dadanya berkurang.

“Kurasa aku sudah sampai dibatas pertahananku. Aku sudah tak sanggup lagi mengikuti keinginan ayah. Jika tetap kupaksakan, mungkin aku akan gila.” Kyuhyun tersenyum miris. Nada suara pria itu pelan, namun mengisyaratkan rasa lelah, kecewa dan juga kesedihan. Haneul menatap wajah Kyuhyun. Bahkan dilihat dari samping pun Kyuhyun tampak sangat tampan dan nyaris sempurna. Rasanya sulit dipercaya jika pria seperti ini memiliki kehidupan yang malang.

“Ku pikir ibuku sudah menjadi yang paling menyebalkan, ternyata… hahaha…”

Tawa Haneul seakan menular pada Kyuhyun. Untuk pertama kalinya Haneul dapat melihat tawa tulus dari pria itu. Selama ini ia hanya melihat Kyuhyun tersenyum. Itu pun hanya seulas senyum kecil. Maka dari itu, tak salah jika Haneul sempat terpesona selama beberapa saat kala mendengar suara tawa halus nan menggelitik tersebut.

“Sekarang ibumu ada saingannya.” Gurau Kyuhyun. “Kita lihat siapa yang paling menyebalkan di antara mereka.” Tambahnya lagi sambil tertawa.

Geure, kita akan lihat itu nanti. Apa kita harus memberikan hadiah kepada pemenangnya?” tanya Haneul sambil tertawa atas pertanyaan konyolnya itu. Tawa Kyuhyun makin berderai, “Ide bagus!”

Kyuhyun menoleh ke arah Haneul, “Kau? Apa yang terjadi padamu?”

“Semua bermula saat kehidupan kami mulai susah sehingga ibu harus mati-matian bekerja untuk menghidupi kami. Dia mulai menyalahkanku atas semua kemalangan yang terjadi padanya. Dia sangat membenciku, walaupun banyak orang berkata bahwa takkan ada seorang ibu kandung yang membenci anaknya sendiri, namun untuk kali ini aku harus membantah perkataan itu. Jelas ada buktinya, aku dan ibuku. Dan tak cukup soal ibu, sekarang aku jadi bulan-bulanan di sekolah hanya karena kebodohanku yang menyukai pria popular di sekolah. Ah, malu sekali.” Ujar Haneul seraya mengusap wajahnya. Untuk sesaat ia memutar kembali ingatan mengenai Jongin dan juga Sehun. Dua pria yang membuat hari-harinya di sekolah menjadi semakin rumit.

“Sekolah dan namja popular memang bukan perpaduan yang bagus.”

Haneul tertawa mendengar perkataan Kyuhyun, “Perkataan mu mirip orang tua.” Ucap Haneul.

Kyuhyun melirik jam tangan mewah yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Nyaris jam satu malam. “Aku benci mengakui ini, tapi kurasa kita harus pulang.”

Wajah Haneul berubah agak murung. Jika bisa memilih, maka ia tak ingin pulang ke rumah. Tapi jika tidak pulang ia pun bingung harus pergi kemana. Untuk saat ini mau tak mau Haneul memang harus tetap kembali ke rumah. Gadis itu mengangguk pelan, “Ya, kurasa kita memang harus pulang.” Ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Kyuhyun yang pertama bangkit, lalu pria itu mengulurkan tangannya pada Haneul. Haneul menatap tangan Kyuhyun, lalu beralih menatap wajah tampan mantan majikannya tersebut sebelum menyambut uluran tangan yang ditawarkan Kyuhyun. Tangan Kyuhyun terasa hangat. Haneul tak keberatan untuk menggenggam tangan halus itu lebih lama.

“Aku antar kau pulang.” Ucap Kyuhyun. Haneul diam tak menolak. Mereka berdua berjalan bersisian dalam hening setelah Haneul memberi tahu alamat rumahnya pada Kyuhyun. Begitu sampai di depan rumah Haneul, Kyuhyun langsung mengulurkan ponsel miliknya, membuat Haneul mengernyit bingung. “Nomor ponselmu.” Ujar Kyuhyun.

“Ah, igo.” Haneul menyerahkan kembali ponsel milik Kyuhyun setelah menyimpan nomornya disana. Kyuhyun menekan tombol panggil, membuat ponsel Haneul berdering dengan volume pelan.

“Itu nomorku. Jangan lupa disimpan.” Ucap Kyuhyun. “Na katda.” Kyuhyun beranjak pergi. Haneul menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh hingga menghilang dari jarak pandangnya. Baru setelahnya, dengan sangat terpaksa Haneul masuk ke dalam rumah.

 

*****

 

Bagi Sehun, sosok sang ayah adalah panutan dan super hero dalam hidupnya. Sewaktu kecil ia bahkan pernah bercita-cita ingin menjadi seperti ayahnya, seorang pria yang sukses dalam karir, berwibawa serta selalu mengutamakan keluarga. Seorang pria yang sempurna dimata Oh Sehun. Namun itu dulu. Dulu sekali… sebelum ia tahu jika ayahnya pernah memiliki wanita lain dibelakang ibunya, bahkan hingga menghadirkan seorang anak yang hanya muda beberapa bulan darinya. Ini gila! Sehun nyaris tak bisa mempercayai fakta yang terkuak di depan wajahnya. Gilanya lagi, gadis itu sekelas dengannya sehingga mau tak mau Sehun harus melihatnya nyaris setiap hari.

Sehun sadar bahwa semua yang terjadi bukanlah kesalahan Haneul. Jika ada yang harus disalahkan, maka oknum itu adalah sang ayah dan ibu Haneul. Tapi menyalahkan mereka pun percuma. Toh itu takkan mengembalikan keadaan. Apalagi sang ayah telah berpulang kepada yang Maha Kuasa.

“Gadis itu… namanya Haneul, bukan?”

Sehun berhenti mengunyah makanannya begitu sang ibu menyebut nama Haneul. Perlahan ia meletakkan sendok, lalu meraih segelas air di sebelah kanannya. Sehun meminum air tersebut, lalu meletakkannya kembali dengan perlahan di tempat semula. Im Jinah, ibunda Sehun, menatap anak tunggalnya, menanti sebuah respon.

“Eo.” Jawab Sehun singkat. Ia kaget karena tiba-tiba saja ibunya menyebutkan nama Haneul. Entah apa maksud sang ibu membawa gadis itu ke dalam percakapan mereka.

“Dia orang yang seperti apa?” tanya Im Jinah lagi. Tampaknya ia tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai anak suaminya itu.

“Kenapa tiba-tiba ibu bertanya tentang gadis itu?” Sehun menatap Jinah bingung bercampur penasaran. Ia bahkan sudah tak terlalu berselera untuk menghabiskan sarapan paginya. Saat ini yang ia inginkan adalah penjelasan dari sang ibu. Selama ini, semenjak mereka tahu mengenai keberadaan Choi Go Eun dan Choi Haneul, seakan ada peraturan tak tertulis yang melarang mereka untuk menyebut atau membawa kedua orang tersebut ke dalam percakapan mereka. Mereka bersikap seakan-akan mereka tak pernah tahu jika Choi Go Eun dan Choi Haneul ada di dunia ini.

Jinah menghela napas pelan. Wajahnya terlihat semakin menua, tak hanya karena dipengaruhi usia namun juga akibat beban pikiran yang berat. Jinah memotong-motong pancake-nya hingga menjadi potongan kecil. “Ibu hanya ingin tahu. Entahlah, tiba-tiba jadi teringat dengan wajahnya. Dia cantik. Mata dan bibirnya mirip dengan ayahmu. Ah, hidungnya juga.” Jinah tertawa miris. Mata wanita itu berkaca-kaca setiap mengingat mendiang suaminya.

Sehun benci tiap kali melihat ibunya menjadi lemah dan hancur seperti ini. Hal seperti ini yang membuatnya kerap mencari seseorang untuk disalahkan guna melampiaskan rasa kesal dan kecewanya. Sialnya, Haneul yang terpilih.

“Aku tidak tahu tentang gadis itu selain namanya. Kami tak pernah berbicara.”

“Kau membencinya?” tanya Jinah.

Sehun mengatupkan bibirnya. Matanya memandang kosong ke arah piringnya yang masih terisi makanan. “Eo. Aku membencinya. Melihat wajahnya selalu membuatku muak.” Jawab Sehun.

Jinah memandang putranya sendu. Ia tak bisa menyalahkan Sehun jika kebencian itu muncul, karena jujur saja, dirinya pun terkadang merasakan kebencian pada kedua wanita itu, terutama Choi Go Eun.

“Sebenarnya kita tak pantas membenci Haneul karena itu bukan kesalahannya. Ibu pikir ia sama menderitanya denganmu, Sehun-ah. Mungkin kau lebih beruntung karena bisa mengenal sosok ayahmu dan menghabiskan waktu bersamanya. Kau memliki banyak kenangan indah bersama ayah, hal yang kuyakin tak dimiliki oleh Haneul.”

“Tapi tetap saja, ia anak dari wanita jahat itu.” Ujar Sehun. “Sifatnya pasti tak jauh berbeda dengan ibunya, sama-sama perusak hubungan orang.” Sehun berkata dengan nada sinis, teringat pada kehebohan di sekolahnya dua hari yang lalu saat foto-foto Haneul dan Jongin tersebar di mading sekolah. Bahkan yang di dengar Sehun, Haneul berusaha menggoda Jongin dan merebutnya dari Krystal. Sehun tidak tahu pasti jika gossip itu benar, namun kebenciannya terhadap Haneul membuatnya percaya pada gossip yang didengarnya.

“Jangan jahat padanya ya. Bagaimana pun juga ia adikmu.” Pesan Jinah. Wanita itu lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke dapur sembari membawa piring bekas sarapan. Sehun menatap ibunya, lalu menghela napas. Adik… rasanya masih sulit untuk diterima. Mungkin sampai kapanpun Sehun tetap takkan bisa menerima Haneul sebagai adiknya.

 

*****

 

Ungkapan I Hate Monday sepertinya cocok dengan situasi Haneul saat ini. Pagi-pagi ia sudah mendapati mejanya penuh coretan kata-kata umpatan kasar. Pelacur, gadis sialan, perusak hubungan orang, tidak tahu diri, anak aneh, gadis miskin dan banyak lagi kata-kata lainnya saling tumpang tindih di mejanya. Bibir Haneul bergetar, matanya terasa panas. Gadis itu enggan melihat reaksi teman-teman sekelasnya, jadi Haneul lebih memilih menundukkan kepala dan duduk diam di bangkunya. Gadis itu mengeluarkan buku-buku pelajaran dari dalam tas usangnya dan menyusunnya hingga menutupi coretan dipermukaan meja. Hati Haneul terasa perih membayangkan jika Jongin turut andil dalam hal ini.

‘Tidak mungkin kan? Jongin…’

Bahkan setelah Jongin mempermalukannya di depan orang banyak, hati kecil Haneul tetap berharap jika pria itu tidak benar-benar merealisasikan ancamannya. Sebab kalau itu sampai terjadi habislah Haneul. Takkan ada yang bisa ia lakukan selain berusaha sendirian untuk membela diri karena dapat dipastikan bahwa nyaris seisi sekolah akan berada di pihak Jongin, sedangkan sisanya tak mau repot-repot peduli pada permasalahan seperti ini.

Diam-diam Sehun memperhatikan Haneul. Ia tahu bahwa ada yang menjahili Haneul. Ia sendiri kaget saat baru sampai dan mendapati meja Haneul penuh dengan coretan kata-kata kasar tak bermoral. Sayangnya Sehun tidak tahu siapa oknum yang melakukannya karena coretan itu sudah ada saat ia sampai, dan tak ada seorang pun yang memproklamirkan diri sebagai pelaku. Bahkan Baekhyun yang notaben raja jahil di kelas mereka juga kaget saat melihat coretan itu. Sehun dapat melihat betapa syok dan sedihnya Haneul saat melihat coretan kata-kata kasar tersebut, namun pria itu memilih untuk menutup mata. Ia merasa tak perlu merasa simpati atau kasihan pada gadis itu.

Begitu bel istirahat berbunyi Haneul langsung merapikan buku-bukunya lalu menyimpan buku-buku tersebut ke dalam tas. Ia berusaha untuk tidak melihat coretan di mejanya. Setelah selesai, Haneul buru-buru meninggalkan kelas sembari membawa kotak bekal berukuran sedang di tangannya. Taman belakang sekolah menjadi tempat pilihan Haneul karena disana sepi dan jarang ada siswa berlalu lalang. Haneul duduk di bawah pohon rindang. Sebenarnya tidak nyaman makan di taman dalam cuaca yang mulai memasuki musim dingin, tapi Haneul tak punya pilihan lain. Ia sedang tak ingin berada disekitar siswa-siswa sekolahnya. Ia hanya ingin sendiri tanpa gangguan.

Haneul membuka kotak bekalnya. Menu bekalnya hari ini kimbab yang isinya bayam, wortel dan telur. Haneul memakan bekalnya dengan tenang. Ia menikmati kesendiriannya, walaupun sebenarnya ia merindukan kehadiran seorang teman yang bisa menemani hari-harinya. Tapi secepat keinginan itu datang, secepat itu pula Haneul menepisnya. Ia selalu mendoktrin dirinya bahwa sendiri lebih baik dan berteman itu pada akhirnya hanya akan menyakiti dirinya.

Pelajaran selanjutnya Kimia. Semua murid di kelas Haneul sudah siap dengan jas lab dan peralatan kimia mereka. Akan ada percobaan ilmiah mengenai larutan kimia. setiap kelompok berisi lima orang. Gu Jihyo seonsaengnim sendiri yang menentukan kelompok, sehingga Yuna, Jaehyun, Sunmi dan Howon tidak bisa menolak saat Haneul ditempatkan di kelompok mereka. Seperti sekarang, keempatnya asyik berbincang-bincang mengenai percobaan mereka tanpa mengikut sertakan Haneul. Mereka memperlakukan Haneul seakan-akan ia tak berada disana. Haneul sudah terbiasa dengan hal itu, makanya ia memilih untuk duduk diam tak ikut campur.

“Untuk yang cairan raksa, mohon berhati-hati saat mengambil dan menuangkannya karena ini cairan yang amat berbahaya. Jangan sampai tumpah apalagi mengenai kalian. Mengerti?” Jihyo seonsaengnim kembali mengingatkan. Ini sudah yang ketiga kalinya. Guru muda itu agak khawatir mengingat kelas 3-3 ini terkenal dengan muridnya yang rusuh dibandingkan dengan kelas tiga yang lain. Ia takut jika sampai ada kecelakaan di lab. Tentu saja jika itu sampai terjadi, maka ia yang harus bertanggung jawab sebagai guru yang sedang mengajar.

Ne, seonsaengmin!” Jawab para siswa.

“Hei, kau yang urus cairan itu!” Yuna berkata ketus sembari mengedikkan dagunya ke arah botol berisi air raksa. “Iya kau!” Ujar Yuna saat Haneul menunjuk dirinya. Haneul mengangguk, lalu bergeser hingga posisinya berada di tengah.

“Pegang yang benar!” Seru Yuna. Gadis bertubuh mungil itu memang terkenal akan mulutnya yang pedas juga sikap ketusnya pada siapa saja, terlebih pada orang yang tak ia sukai. Lihat saja bagaimana ketusnya ia pada Haneul. “Joshimhae! Joshimhae!” Seru Yuna saat Haneul tengah menuangkan cairan raksa ke dalam gelas kimia. Seruan Yuna membuat Haneul kesal karena justru membuat konsentrasinya terpecah. Dan sialnya, dua siswa yang duduk di belakang Haneul memilih waktu dan tempat yang tidak tepat untuk bercanda. Kedua siswa tersebut tengah memperebutkan ponsel yang entah milik siapa. Siswa yang memegang ponsel berlari menjauh dari temannya, namun sial ia malah menyenggol meja kelompok Haneul.

“Ah!”

“KYAAAA!”

Suara teriakan spontan itu disusul dengan suara kaca yang pecah. Sontak semua mata tertuju pada asal suara. Terlihat sedikit asap dari arah kelompok Haneul, membuat wajah-wajah disana langsung diselimuti oleh rasa khawatir. Jihyo seonsaengnim bergegas menghampiri dengan raut wajah panik.

“Apa yang pecah? Kalian tak apa-apa?” tanyanya.

“I…itu…” Dengan terbata Haneul menjawab. Matanya terpaku pada pecahan beling yang berserakan di lantai. Botol berisi air raksa jatuh dan pecah. Jihyo seonsaengnim mengikuti arah pandangan Haneul. Wajah guru muda itu semakin panik.

“Ya Tuhan! Apa kau terluka? Ayo kita ke klinik.”

A…aniyo… saya tidak apa-apa. Saya sempat menghindar.” Jawab Haneul. Sedikit rasa lega terlihat dari ekspresi Jihyo seonsaengnim. Tidak bisa ia bayangkan apa yang harus ia katakan pada kepala sekolah jika ada murid yang celaka di jam pelajarannya. Bisa-bisa ia dipecat.

“Kau yakin?”

Ne, seonsaengnim.”

“Yang lain? Apa ada yang terluka?” Jihyo menatap keempat muridnya yang lain. Keempatnya juga menggeleng, walaupun dari raut wajah mereka jelas terlihat mereka masih agak syok.

Botol air raksa tadi isinya memang sudah tak banyak, tak sampai setengah botol dan nyaris semua isinya sudah Haneul pindahkan ke dalam gelas kimia. Maka dari itu, saat botol tersebut jatuh dan pecah airnya tidak sampai terciprat jauh. Haneul dan keempat siswa lainnya masih sempat menghindar.

Meskipun sudah jelas bahwa insiden jatuhnya botol air raksa itu bukanlah kesalahan Haneul, namun tetap saja bagi Yuna dan Howon (murid dengan motto hidup life must perfect) itu menyalahkan Haneul. Jika Jaehyun dan Sunmi tak terlalu mempermasalahkan (bisa selamat saja sudah untung), tapi Yuna dan Howon terus menyudutkan Haneul.

“Kau nyaris membuat kami celaka! Sudah kubilang kan untuk berhati-hati. Menyebalkan! Dan gara-gara kau juga tugas kita kali ini berantakan. Aish jinjja!” Yuna berdecak kesal, lalu berjalan melewati Haneul sembari menyenggol bahu Haneul hingga ia sempat terhuyung. Haneul hanya diam tak membalas perkataan Yuna. Toh percuma. Apapun yang dia katakan tetap takkan membuat pandangan Yuna terhadapnya berubah.

“Tuh kan, dia memang bawa sial.”

“Untung gadis aneh itu bukan di kelompok kita.”

Haneul sudah terbiasa dengan bisik-bisik jahil yang ditujukkan padanya.

 

 

*****

 

Kyuhyun lelah. Lebih tepatnya lelah pada kehidupannya. Ia mulai merasa jenuh dengan rutinitas yang setiap hari ia jalani. Pergi ke kantor, bertemu klien, rapat, lembur, begitu terus setiap harinya. Belum lagi dengan tekanan dari sang ayah yang selalu memastikan jika Kyuhyun selalu berada dalam jalur yang telah dirancangnya.

Kyuhyun menutup laptopnya. Ia memilih untuk beristirahat sejenak meskipun laporan yang diperiksanya belum mendekati kata selesai. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di kepala kursi, lalu menarik longgar dasi yang sejak pagi tadi melingkari lehernya. Matanya terpejam. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan pertemuannya dengan Haneul di jembatan. Kyuhyun merasa seakan ada koneksi di antara mereka, yang mana membuatnya merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Mungkin karena mereka memiliki nasib yang tak jauh berbeda.

Kyuhyun nyaris jatuh tertidur kala pintu ruang kerjanya dibuka. Mata Kyuhyun yang tadinya terpejam sontak langsung terbuka. Hanya ada satu orang yang bisa masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Cho Sungho, ayah Kyuhyun. Sungho melirik ke arah laptop dan kertas-kertas yang bertebaran di atas meja. Pandangannya kemudian beralih pada Kyuhyun. Ia menatap tajam putranya tersebut.

“Ku pikir jam istirahat sudah berakhir.” Ucap Sungho dingin.

Kyuhyun hanya diam, tak membalas sindiran sang ayah.

“Malam ini kau akan makan malam dengan Joohyeon. Aku sudah mengatur semuanya. Kau hanya tinggal datang dan berlaku manis padanya. Proyek kali ini sangat besar keuntungannya. Aku tak ingin gagal. Jadi, pastikan tender itu kita dapatkan.”

“Aku bisa memenangkan tender itu tanpa perlu makan malam dengan Joohyeon.” Ucap Kyuhyun sambil menatap ayahnya dingin.

Cho Sungho tertawa sinis, “Seperti tender yang lalu?” Sungho sengaja menyindir Kyuhyun atas kegagalannya tempo lalu. Ucapan Sungho membungkam Kyuhyun, membuat Sungho tersenyum mengejek. “Malam ini jam 7 di La Luna restoran.” Ucap Sungho sebelum beranjak pergi.

Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Kyuhyun dalam keheningan yang menyesakkan. Jemari Kyuhyun mengepal. Ayahnya memang selalu seperti ini. Selalu seenaknya dalam mengambil keputusan. Sejak kecil hidup Kyuhyun sudah diatur oleh ayahnya. Mulai dari urusan pendidikan, pekerjaan hingga soal kekasih. Ini bukan pertama kalinya sang ayah mengatur sebuah kencan untuk dirinya. Dan sebenarnya itu dilakukan ayahnya demi kelancaran bisnis. Ya, bahkan ayahnya tega melakukan hal seperti itu hanya demi kepentingan bisnis. Kematian sang kakak sama sekali tidak menjadi pelajaran bagi ayahnya.

Kyuhyun membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari sana. Tadinya ia pikir ia bisa berhenti dari kebiasaan buruk ini, namun benda ini selalu bisa membuat pikirannya agak tenang. Terkadang Kyuhyun berpikir apa gunanya hidup jika ia sendiri tak pernah menikmati hidupnya. Pikiran yang seperti itulah yang selalu membuatnya kembali ke jembatan.

 

*****

 

Langkah kaki Haneul terhenti. Gadis itu terdiam di anak tangga paling atas. Disaat yang bersamaan Jongin, yang tengah menaiki tangga, juga turut berhenti. Namun hanya sesaat, karena kemudian pria itu melangkah santai menaiki tangga dan berlalu begitu saja melewati Haneul, seakan tak pernah mengenal gadis itu. Bohong jika Haneul berkata ia tak sakit hati. Sebab perasaannya terhadap Jongin tulus. Ia mencintai pria itu. Pria pertama yang telah merebut hati dan juga ciuman pertamanya. Haneul tak habis pikir kenapa hatinya tidak bisa sepenuhnya membenci Jongin. Padahal pria itu amat sangat pantas untuk dibenci.

Haneul melangkahkan kakinya di halaman sekolah yang sepi, sebab jam pulang sudah berlalu 30 menit yang lalu. Butiran salju berjatuhan dari langit. Haneul menghentikan langkahnya lalu menegadah, membiarkan butiran salju itu jatuh dan membasahi wajahnya. Sensasi dingin menyengat dirasakannya, namun Haneul tetap diam disana selama beberapa saat. Ia butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya.

Tadi wali kelasnya membagikan formulir untuk pendaftaran universitas. Haneul bahkan ragu jika ia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi itu. Bukan bermaksud pesimis, tapi Haneul cukup sadar diri bahwa dirinya tak sepintar itu hingga bisa mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. Masih ada banyak anak yang jauh lebih berprestasi darinya di sekolah. Minta bantuan pada ibunya? Jangan harap! Ibunya sudah lebih dulu mendeklarasikan bahwa ia takkan sudi membayar uang masuk universitas yang biayanya bisa untuk hidup selama beberapa bulan.

Sehun berdiri beberapa meter di belakang Haneul. Pria itu mengamati adik tirinya. Haneul selalu terlihat seperti ia memiliki dunia sendiri. Kadang Sehun merasa salut dengan ketabahan gadis itu dalam menghadapi setiap cemoohan dari teman-teman di sekolah. Haneul tampak tak terusik. Namun terkadang gadis itu terlihat begitu kesepian dan menyedihkan. Mungkin jika hubungan mereka tidak seburuk ini, Sehun takkan keberatan untuk berteman dengan Haneul.

 

*****

 

Haneul kaget bukan main melihat pintu lemarinya terbuka lebar dengan nyaris semua bajunya berserakan di lantai.

Andwae…”

Haneul buru-buru memeriksa lemarinya, dan tubuhnya langsung lemas saat melihat kotak kaleng tempatnya menyimpan uang telah kosong. Tak ada yang tersisa disana. Padahal ia berniat untuk menabungnya di bank besok. Uang tersebut merupakan gajinya dari bekerja di toko buku. Haneul selalu rutin menabung gajinya di bank. Biasanya begitu gajian ia akan langsung ke bank untuk menabung. Namun beberapa hari ini ia sibuk dan agak malas mengantri lama di bank, maka dari itu ia menyimpan uangnya untuk sementara di dalam lemari. Siapa sangka bahwa kebiasaan buruk ibunya muncul lagi. Ini memang bukan kali pertama ibu Haneul mencuri uangnya.

Pertahanan Haneul akhirnya hancur. Haneul meluapkan semua emosi yang dirasakannya sejak pagi di sekolah hingga sekarang dengan menangis sekencangnya. Rumah sedang kosong, jadi ia tak perlu khawatir jika suara tangisannya akan mengusik ibunya. Dengan tangan gemetar Haneul meraih kotak kecil di dalam laci meja belajarnya. Ia membuka tutup kotak tersebut. Hanya ada botol kaca kecil dan sebuah pisau silet. Haneul mengambil botol kaca. Tanggal kadaluarsanya sudah lewat sebulan, tetapi isi botol tersebut masih tampak banyak. Haneul tak pernah benar-benar punya nyali untuk menghabiskan isinya seperti rencana awal saat ia membeli obat tersebut.

‘Ah, tapi bukankah kalau sudah kadaluarsa malah semakin bagus?’ pikirnya konyol.

Haneul menatap nanar botol dengan label ‘Sleeping Pills’ tersebut.

 

*****

 

Makan malam berlangsung canggung meskipun Joohyeon tak henti-hentinya berusaha untuk mencairkan suasana dengan melontarkan candaan. Semua ucapan dan candaan gadis itu hanya ditanggapi sekedarnya oleh Kyuhyun sampai akhirnya Joohyeon menyerah dan lebih memilih untuk menikmati ice cream coklat dihadapannya. Gadis cantik itu tak habis pikir dengan Kyuhyun. Baru kali ini ia bertemu dengan orang minim ekspresi macam pria dihadapannya ini. Padahal jujur saja, Joohyeon tadinya tertarik untuk mendekati Kyuhyun. Tapi melihat sifat namja itu yang dingin, maaf-maaf saja masih ada banyak pria lain yang lebih pantas untuk didekati.

“Kau anak yang penurut ya.”

Kyuhyun menatap Joohyeon bingung. “Maksudnya?”

Joohyeon tersenyum kecil. “Igeo dda. Sungho ahjussi yang menyiapkannya, kan. Ini tidak seperti yang kuharapkan, keunde geokjonghajima aku akan bilang pada ayah agar menyerahkan proyek itu padamu. Itu kan yang kau inginkan?” Ada sedikit nada mengejek dari ucapan Joohyeon.

Kyuhyun merasa harga dirinya tercoreng. Ia menatap Joohyeon dingin. “Ini semua memang perbuatan ayahku. Tapi aku tak mengharapkan apapun darimu. Soal proyek itu aku tak masalah jika tak mendapatkannya. Perusahaanmu bukan satu-satunya perusahaan yang bisa ku ajak kerja sama. Makan malam ini sudah selesai. Kau datang bersama supirmu kan, jadi ku asumsikan juga bahwa kau pulang dengannya.” Kyuhyun bangkit dari duduknya, lalu berjalan pergi meninggalkan Joohyeon. Joohyeon menatap punggung Kyuhyun tak percaya.

Omo, apa dia baru saja mencampakkanku? Sialan!”

 

*****

 

Sehun tengah berada di dalam bilik toilet ketika beberapa orang siswa masuk. Tadinya Sehun tak peduli, namun ketika mereka menyebut nama yang tak asing bagi Sehun, mau tak mau pria itu jadi menaruh perhatian.

“Jadi Jongin akan memberi gadis itu pelajaran?”

“Eo. Yang ku dengar seperti itu. Jongin marah sekali karena Krystal memutuskannya karena masalah foto-foto itu. Dan yang ku dengar juga, Krystal sempat menemui Haneul untuk menanyakannya langsung.”

“Ah, jadi Haneul menceritakan semuanya pada Krystal? Bodoh sekali. Sama saja cari mati.”

“Kurasa gadis itu hanya cari perhatian, berharap dengan begitu Jongin akan kembali padanya.”

“Lalu, kapan eksekusinya?”

“Pulang sekolah nanti.”

Sehun terhenyak. Jelas sekali Haneul yang dimaksud oleh mereka adalah Choi Haneul, adik tirinya. Sekarang dia tahu mengenai rencana Jongin yang pastinya bukan hal baik. Apa ia masih akan pura-pura tak peduli? Sehun berperang melawan nuraninya. Nuraninya mengatakan jika ia harus menolong Haneul, namun egonya mengatakan jika ia tidak perlu ikut campur. Toh, ini bukan urusannya.

Jadi, apa yang harus Sehun pilih?

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 4)

  1. Kasihan banget nasib haneul 😭😭 gak ada yg nganggapnya ada dan selalu direndahkan.. ahh sehun apa kamu harus melihat haneul lebih menderita lagi baru kamu mengkuinya sbg adik tiri .. bakalan nolongin gak haneul dr perbuatan jongin ..

  2. Ahhhh..udah lama nunggu ff ini,akhirnya muncul juga….^_^…..kasihan si hanuel ama kyuhyun kapan penderitaan mereka berakhir…pokoknya penasaran dehhh eonni..daebakk!!!!…ditunggu ya chap selanjutnya..jangan lama-lama eonni…>< Gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s