Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 8)

1426346246975

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

________________________________________________________________

Butuh 3 jam (nyaris 4 jam) lebih perjalanan darat untuk sampai ke kediaman Ahn Hyejong, nenek Woo Bin, di desa kecil di provinsi Gyeongsang Utara. Tadinya Jiwon pikir nenek Woo Bin tinggal di kota Andong, ibu kota provinsi Gyeongsang. Kan lumayan ia bisa mengunjungi tempat wisata menarik disana. Namun ternyata nenek tunangannya itu tinggal di desa kecil di daerah pegunungan.

Sekali lihat Jiwon langsung tahu jika Hyejong merupakan orang terpandang di desa itu, terlihat dari betapa hormatnya penduduk disana pada wanita tua tersebut serta betapa megahnya kediaman Hyejong yang sangat kental dengan nuansa tradisional Korea. Usut punya usut, ternyata sang nenek adalah tuan tanah disana. Lahan tanahnya yang amat luas dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan yang dikelola oleh warga disana. Hal tersebut memberikan lapangan pekerjaan bagi warga disana yang mayoritas memang petani. Maka dari itu, tak heran jika Ahn Hyejong begitu dielu-elukan oleh warga di desa kecil tersebut.

Jiwon menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Dirinya benar-benar gugup setengah mati membayangkan sesaat lagi akan bertatap muka dengan Ahn Hyejong. Berkali-kali Jiwon memeriksa penampilannya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bahkan barisan giginya pun tak luput ia periksa, takut jika ternyata ada sisa makanan yang terselip disana. Bisa gawat jika ia tengah berbicara dengan nenek Woo Bin dan ternyata ada cabai terselip disela giginya. Bunuh saja Jiwon jika itu sampai terjadi.

“Tak perlu gugup.” Bisik Woo Bin.

Jiwon mendengus, “Ya, mudah bagimu untuk mengatakannya. Yang akan dieksekusi sebentar lagi itu aku, bukan kau.” Ujar Jiwon kesal.

Woo Bin tertawa kecil. Diraihnya jemari Jiwon dan digenggamnya lembut, “Ayo kita masuk!” ajaknya.

“Ayo ayo!” Seru Choi Yumi bersemangat. Wanita itu menggandeng lengan sang suami sembari tersenyum sumringah. Ia sudah tidak sabar untuk memperkenalkan Jiwon pada ibunya, serta menunjukkan betapa cocoknya Jiwon untuk Woo Bin. Meskipun ada sedikit rasa khawatir mengenai respon yang akan diberikan oleh sang ibu pada Jiwon. Ah, semoga saja semua berjalan lancar.

 

*****

 

Hyejong menatap Jiwon dari ujung rambut hingga ujung kaki, berusaha mencari celah untuk menjatuhkan gadis muda itu. Jangan heran, Ahn Hyejong memang tipe orang yang seperti ini, selalu berusaha mendapatkan yang ia inginkan dengan berbagai cara. Bahkan jika harus menyakiti orang lain dengan perbuatannya. Hyejong terus menatap Jiwon dengan tajam. Tak peduli jika tatapannya itu membuat Jiwon tak nyaman. Ia masih terus berusaha mencari cela dari penampilan Jiwon. Namun sialnya gadis itu tampak sempurna secara fisik. Perilakunya juga sopan dan tutur katanya juga santun. Sial! Padahal Hyejong sudah menyiapkan kosa kata kejam untuk mengomentari Jiwon, tapi hingga detik ini semua kosa kata kejam itu masih tersimpan rapi di dalam mulutnya.

“Terima kasih atas undangan halmonie. Saya senang bisa datang kesini.” Jiwon berkata sopan. Hyejong hanya berdeham sebagai balasan. Gadis dihadapannya tampak tegang dan gugup, namun begitu Jiwon selalu bisa menjawab pertanyaan Hyejong dengan baik serta suara yang tegas, tak bergetar. Patut diancungi jempol.

Yumi tampak puas. Ibunya takkan bisa mencela Jiwon. Calon menantunya itu nyaris sempurna. Cara bersikap, cara duduk, hingga cara berbicaranya telah menunjukkan bahwa Jiwon memang berasal dari keluarga baik-baik yang tahu tata krama.

“Bagaimana, uri Jiwonnie sangat cantik kan? Sangat serasi dengan Woo Bin.” Yumi berkata sambil tersenyum sumringah. Hyejong tersenyum kecut. Tidak semudah itu untuk mengubah pikirannya. Mungkin Jiwon memang lulus dalam tahap pertama ini, tapi ia sudah menyiapkan berbagai kejutan untuk gadis cantik itu. Jika Jiwon bisa lolos, maka ia akan berbesar hati untuk menerima gadis itu untuk cucu kesayangannya.

 

*****

 

Kedatangan Woo Bin sekeluarga besertaJiwon ke kediaman Hyejong bukan semata-mata untuk liburan dan sekedar mengunjungi sang nenek. Besok Hyejong akan berulang tahun yang ke 63 tahun. Hyejong ingin membuat pesta kecil-kecil-an sebagai ungkapan syukur atas bertambahnya usia. ‘Pesta kecil-kecilan’ menurut Hyejong ternyata tidak ‘sekecil itu’. Buktinya, ia mengundang seluruh sanak keluarga dan juga warga-warga sekitar yang kebanyakan bekerja padanya. Jumlahnya tentu tidak sedikit. Ada berpuluh-puluh orang. Jiwon sendiri cukup kaget begitu melihat persiapan pesta ulang tahun yang lebih mirip dengan pesta pernikahan itu, begitu meriah dan banyak orang. Meskipun sudah banyak orang yang membantu persiapan pesta, namun Jiwon tetap turun tangan membantu. Toh, ia tak mungkin hanya duduk manis selagi orang-orang disekitarnya sibuk.

Jiwon mendapat tugas untuk menghias ruang aula tempat pesta besok akan digelar. Meskipun tak terlalu jago dalam hal menghias, namun Jiwon amat bersyukur karena sejauh ini ia dijauhkan dari dapur. Setidaknya dengan begitu ia menghilangkan kemungkinan adanya kekacauan di dapur akibat ulah dari tangan-tangannya yang sangat tak terampil itu.

Jiwon tengah asyik merangkai bunga bersama dua orang gadis lainnya ketika Woo Bin datang dan duduk disisinya. Jiwon melirik Woo Bin, lalu berbisik ditelinga pria tampan itu, “Ku pikir kau bilang nenek mu hanya akan menyelenggarakan pesta kecil-kecilan. Tapi ini jelas tak tampak seperti persiapan pesta kecil-kecilan. Ini lebih mirip persiapan pesta pernikahan. Bahkan pesta pernikahan tak seheboh ini.” Ujar Jiwon.

Woo Bin terkikik. Ia mengambil rangkaian bunga yang sudah jadi dan mengamatinya. “Nenek memang suka pesta yang meriah. Jadi jangan percaya dengan istilah ‘kecil-kecilan’ yang ia gunakan. Tak ada yang namanya pesta kecil-kecilan dalam kamus hidupnya. Semua pesta harus meriah dan heboh.”

Daebak…

“Hahaha… lalu, bagaimana pendapatmu tentang nenekku?” Woo Bin mengalihkan perhatiannya dari rangkaian bunga untuk menatap Jiwon, menanti jawaban gadis itu.

“Bolehkah aku jujur?” tanya Jiwon retoris. “Nenekmu membuat bulu kudukku berdiri. Dan aku bukannya sok melebih-lebihkan. Tapi sungguh, aura nenekmu itu sangat mengintimidasi. Aku nyaris tak bisa bernapas dengan normal saking gugupnya. Tatapannya itu loh, benar-benar mengintimidasi, seakan siap untuk menerkam jika aku berbuat salah.  Apa dia memang selalu seperti itu?” tanya Jiwon dengan wajah polos. Tawa Woo Bin langsung berderai, membuat kedua gadis yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya terpana dengan ketampanan pria itu.

“Nenek memang tampak menakutkan awalnya, tapi dia adalah wanita yang baik. Yah, meski harus kuakui jika tingkat kecerewetannya itu begitu akut.”

Hyejong diam-diam memperhatikan cucu kesayangannya yang tengah bercakap-cakap dengan Jiwon. Hyejong mendengus. Dengan langkah pasti ia menghampiri dua sejoli yang sejak tadi diperhatikannya itu.

“Ehem!” Hyejong sengaja berdeham untuk mendapat perhatian dari cucu dan tunangan cucunya itu. Ah, bahkan sampai detik ini ia masih belum rela jika Woo Bin bertunangan dengan Jiwon, meski harus ia akui bahwa Jiwon cantik dan sopan.

Halmonie.” Sapa Woo Bin sambil tersenyum sumringah, sedangkan Jiwon tampak agak gugup. Hyejong menatap tajam melihat posisi duduk Woo Bin dan Jiwon yang begitu dekat. Sadar terhadap tatapan maut tersebut, Jiwon langsung berinisatif untuk menggeser duduknya dari Woo Bin, sebisa mungkin memberi jarak.

“Jangan asyik mengobrol. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Woo Bin, orang-orang masih membutuhkan bantuanmu di luar sana. Palli!” suruh Hyejong, matanya masih menatap tajam Jiwon. Woo Bin tahu bahwa itu hanya akal-akalan neneknya, sebab pekerjaan di luar sana sudah hampir selesai. Lagipula ada banyak sekali pemuda desa yang siap membantu.

Dengan santai Woo Bin menjawab, “Pekerjaan di luar sudah hampir selesai. Ada banyak orang yang siap sedia disana, jadi kurasa tenaga ku tidak dibutuhkan.”

“Tenagamu disini juga tidak dibutuhkan. Ini pekerjaan para gadis. Sudah sana pergi!” Ujar Hyejong masih tak mau kalah. Jiwon memilih fokus pada rangkaian bunga dipangkuannya, enggan untuk memperhatikan nenek dan cucu yang sama-sama berwatak keras itu.

Hyejong mengalihkan perhatiannya pada Jiwon. “Sepertinya pekerjaan disini hampir selesai. Biarkan sisanya diurus oleh Minah dan Songsu. Sekarang kau ikut aku ke dapur.”

Ne?” Jiwon tersentak kaget mendengar kata ‘dapur’. Ia tak siap untuk menunjukkan bakat memasaknya yang kacau balau. Mau taruh dimana mukanya nanti. Tapi pada akhirnya dengan berat hati Jiwon tetap melangkah mengikuti Hyejong ke dapur.

‘Ini gawat! Bagaimana aku mau membantu mereka memasak, mengupas kulit kentang saja aku tak becus! Matilah aku!’

 

*****

 

“Ya ampun Kim Jiwon, itu daun peterseli bukan seledri! Yang aku minta daun seledri!”

“Ah, jwesonghamnida halmonie.” Jiwon membungkuk sopan, lalu bergegas mencari daun yang dimaksud. Demi Tuhan, ada banyak sekali jenis sayuran disana. Dan bentuknya hampir serupa. Jiwon merasa wajar saja jika ia sampai salah ambil. Namun tampaknya hal yang menurut Jiwon wajar, bagi Hyejong bukanlah hal yang wajar. Wanita tua itu terlihat kesal. Jiwon panik. “Mana seledri? Mana seledri?” gumamnya berulang-ulang sambil mencari daun yang dimaksud.

Hyejong geleng-geleng kepala. “Terlihat sekali kau tidak pernah masuk dapur ya. Bahkan untuk hal yang semudah itu saja tak bisa.”

Berhadapan dengan Hyejong membuat Jiwon harus banyak stok rasa sabar. Kalau tidak bisa-bisa detik ini juga ia akan meledak penuh emosi. Apalagi di rumahnya Jiwon diperlakukan bak tuan putri oleh kedua orang tuanya. Maklum, namanya juga anak tunggal. Datang kesini membuat Jiwon merasa mendadak mendapat syok terapi. Yah, terima kasih sekali untuk yang terhormat Ahn Hyejong.

Salah seorang bibi yang merasa kasihan pada Jiwon diam-diam membantu gadis itu. “Ini seledrinya.” Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah daun yang rupanya begitu mirip sekali dengan daun peterseli yang tadi Jiwon ambil.

Gamsahamnida.” Ucap Jiwon pelan sambil tersenyum kecil. Wanita paruh baya itu membalas dengan senyum ramah. Ia menepuk punggung Jiwon lembut, sebelum kembali pada kesibukannya meracik bumbu.

Jiwon menatap daun seledri ditangannya dengan rasa kesal setengah mati. Gara-gara daun ini ia diomeli dan dipermalukan. ‘Daun bodoh! Kenapa kau mirip sekali dengan daun peterseli, eo? Gara-gara kalian aku diomeli.’ Rutuknya.

 

*****

 

Oke, sekarang Jiwon paham betul bagaimana arti kata lelah yang sebenarnya. Tak heran orang yang sedang lelah gampang tersulut emosi. Rasa lelah itu memang tidak enak. Seharian ini tenaga Jiwon benar-benar terkuras habis. Mulai dari siang sampai malam ia tak henti-hentinya bekerja. Ada saja kerjaan yang dilemparkan nenek Hyejong untuknya. Mulai dari menghias ruangan, memasak, mencuci piring hingga mengatur letak piring-piring untuk acara besok. Gila! Rasanya tubuh Jiwon ingin tercerai berai saking lelahnya. Jiwon baru bisa santai setelah ibu Woo Bin, Choi Yumi, pulang dari mengunjungi saudaranya yang sakit. Ibunda Woo Bin berkali-kali meminta maaf pada Jiwon karena telah merepotkannya. Terlihat sekali calon mertuanya itu merasa bersalah. Woo Bin sendiri sampai detik ini tak terlihat batang hidungnya sejak pertemuan mereka siang tadi.

“Baru sehari sudah seperti ini. Kalau sebulan? Mungkin pulang aku tinggal nama.” Keluh Jiwon seraya memijat kaki dan bahunya yang terasa pegal. Ia tengah duduk sambil merentangkan kaki diatas kasur lipat. Setelah mandi Jiwon memang memutuskan untuk berdiam diri sejenak di kamar. Lagipula bibi Yumi juga menyarankannya agar segera istirahat, jadi Jiwon rasa takkan masalah. Ah, perutnya berbunyi. Jiwon lapar. Padahal sebelum mandi ia sudah makan malam. Jiwon merebahkan tubuhnya. Tangannya mengusap perut.

“Aku lapaaaaaar…” keluhnya.

“Ayo makan!”

Omo!” Jiwon berseru kaget. Reflek gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menoleh dan menatap kesal ke arah Woo Bin yang tengah mengintip dari balik pintu kamar. Pria itu tertawa kecil. “Boleh masuk?” tanyanya, namun sebelum Jiwon menjawab Woo Bin malah langsung membuka pintu geser kamar Jiwon dan masuk ke dalam kamarnya.

“Sopan sekali ya.” Ucap Jiwon sinis yang hanya ditanggapi dengan senyuman sok polos oleh Woo Bin.

Woo Bin mengamati kondisi Jiwon yang tampak berantakan. “Lelah sekali ya?”

Jiwon mendengus. “Tak perlu ditanya.” Ditatapnya Woo Bin dengan kesal. “Kemana saja kau seharian ini? Aku tak melihatmu. Kau bahkan tak menolongku.”

“Aku juga dikerjai habis-habisan oleh nenekku. Aku disuruh ke kebun. Bisa kau bayangkan itu? Seharian ini aku bermain tanah dan lumpur. Ya Tuhan, nenek yang marah memang lebih menakutkan dari ibu tiri.”

“Kenapa halmonie sebegitu tidak sukanya padaku? Memang salahku apa? Padahal ini pertemuan pertama kami.”

Woo Bin duduk di lantai dengan dua kaki yang sengaja diselonjorkan serta dua tangan yang bertumpu dilantai guna menahan beban tubuhnya. “Kau tidak salah apa-apa. Sebenarnya nenek… em… dia agak tidak setuju dengan pertunangan kita. Dia… ya, kau tahukan jika aku ini cucu satu-satunya. Dan yah, kurasa nenek belum bisa menerima jika aku sudah bukan Woo Bin kecilnya. Kau… mengertikan maksudku?” Woo Bin menatap Jiwon. Gadis itu mengangguk paham. Namun tak ayal pernyataan Woo Bin tadi menimbulkan rasa penasaran di benak Jiwon.

“Apa nenekmu sudah menjodohkanmu dengan gadis lain?” tanyanya sambil menatap Woo Bin. Yang ditatap malah tersenyum salah tingkah. Dan tanpa dijawab, Jiwon sudah bisa menebak apa jawabannya.

SREK! Pintu kamar dibuka tiba-tiba.

“YA APA YANG KALIAN LAKUKAN DI KAMAR BERDUAAN, EO?!”

Jiwon dan Woo Bin menoleh kaget ke arah pintu kamar. Keduanya mendapati Ahn Hyejong tengah berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya sembari menatap nyalang ke arah Woo Bin dan Jiwon. Jiwon mendesah, “Masalah lagi…” batinnya.

 

*****

 

Pesta ulang tahun ke 63 tersebut berlangsung meriah. Alunan music trot, jenis musik asli Korea, mengiringi tarian para tamu undangan yang kebanyakan sudah bergelar kakek dan nenek tersebut. Dalam hati Jiwon berdecak kagum. Ini kali pertamanya menghadiri pesta di desa. Tadinya ia berpikir jika pesta di desa akan sangat membosankan, tapi melihat situasi sekarang, Jiwon menarik kata-katanya. Pesta di desa itu tak kalah menyenangkan dari pesta di kota. Bahkan dalam beberapa hal, pesta di desa terasa lebih menyenangkan. Contohnya, orang-orang disini bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa harus sok menjaga image dan lain-lain. Hal yang sudah sangat jarang terjadi di kota. Kalau di kota, kebanyakan orang mendatangi pesta bukan karena ingin menikmati pesta, tapi lebih kepada gengsi dan status sosial. Ah, dan juga untuk keperluan di-upload ke media sosial

Maka dari itu, melihat para tamu undangan menari dan bernyanyi sepuas hati mereka membuat Jiwon ikut merasa senang. Apalagi dirinya juga ambil andil dalam persiapan pesta yang amat menguras tenaga. Woo bin menghampiri Jiwon dengan membawa sepiring penuh kue Delimanjoo dan Gyeranppang. Wajah Jiwon berubah sumringah.

“Ini tuan putri.” Ujar Woo Bin meletakkan piring tersebut diatas meja. Ia lalu menarik kursi di sebelah Jiwon dan duduk disana.

Gomawo.” Jiwon mengunyah Delimanjoo yang berisi fla keju. Fla kejunya begitu banyak hingga pada gigitan pertama fla keju di dalam roti Delimanjoo membeludak mengotori tangan Jiwon. Woo Bin meraih beberapa lembar tissue dan menyerahkannya pada Jiwon.

Gomawo.” Jiwon kembali mengucapkan terima kasih. Selama dekat dengan Woo Bin, Jiwon jadi semakin tahu bagaimana sifat, kebiasaan dan perangai tunangannya tersebut. Woo Bin memiliki sifat dewasa dan perhatian, walaupun kadang itu semua tertutupi dengan sifat konyolnya. Woo Bin memperhatikan kebutuhan Jiwon hingga untuk hal-hal yang sepele, seperti tadi contohnya. Dan itu bukan pertama kalinya. Woo Bin pernah mengikatkan tali sepatu Jiwon, merapikan ikatan rambutnya dan hal-hal kecil lainnya. Meskipun tidak diungkapkan secara terang-terangan, namun Jiwon sangat senang dengan semua perhatian kecil itu.

Jiwon menikmati cemilannya sambil memperhatikan keberagaman orang-orang disana. “Sepertinya aku mengerti kenapa nenek membuat pesta meriah seperti ini. Ini semua pasti untuk menghibur para pekerja dan warga desa. Disini kan minim hiburan. Jadi acara seperti ini pasti sangat dinanti oleh mereka.” Ucap Jiwon.

Woo Bin mengangguk setuju, “Ya, kupikir juga begitu. Di desa ini memang nenek yang paling sering membuat pesta. Pesta tahun baru lah, pesta musim panen lah, musim panas, ada banyak sekali.” Woo Bin tertawa kecil mengingat beragam macam pesta yang pernah beberapa kali neneknya selenggarakan untuk dinikmati oleh warga di desa ini.

Jiwon mengalihkan pandangannya pada sosok Ahn Hyejong yang tengah berbincang-bincang bersama para orang tua lainnya. Menurut Jiwon, nenek tunangannya itu sebenarnya baik, hanya saja terlalu cerewet dan perfeksionis. Bukan kombinasi sifat favorit Jiwon. Andai saja Ahn Hyejong tipe nenek lemah lembut nan sabar seperti yang di televisi, pasti akan lebih mudah bagi Jiwon untuk mengambil hatinya. Nah ini, jangankan untuk mengambil hati, belum apa-apa saja ia sudah diserang baik secara fisik maupun mental. Ini namanya kalah sebelum bertanding.

 

*****

 

Pagi kali ini terasa begitu spesial bagi Jiwon. Gadis yang biasanya paling malas bangun pagi itu, kini termasuk salah satu yang bangun paling awal. Dengan semangat Jiwon membuka pintu beranda kamarnya yang langsung memberi akses menuju halaman belakang. Meski langit masih agak gelap, namun beberapa pekerja sudah mulai berdatangan untuk mengerjakan tugas masing-masing. Jiwon mengeratkan cardigan coklat yang dikenakannya. Gadis itu menghirup udara dalam-dalam, merasakan sensasi udara sejuk yang mengaliri paru-parunya. Jiwon begitu menikmati kegiatannya. Kapan lagi ia bisa merasakan udara sejuk pedesaan jika bukan karena kesempatan ini. Jiwon tidak punya kampung. Ayah dan ibunya lahir serta besar di Seoul. Kakek dan neneknya juga sudah meninggal sehingga ia tidak punya kesempatan untuk merasakan sensasi pulang kampung untuk mengunjungi kakek dan nenek.

“Tuan putri ternyata sudah bangun.”

Tanpa melihat Jiwon sudah tahu milik siapa suara tersebut. Gadis itu menoleh dan mendapati Woo Bin dengan penampilan khas bangun tidur, mata sembab dan rambut acak-acakan. Ah, apa dia sudah cuci muka dan sikat gigi? Pikiran konyol melintas di benak Jiwon.

“Mau jalan-jalan keliling desa? Pemandangan disini bagus. Ada sungai kecil di dekat sini.” Ajak Woo Bin. Jiwon langsung mengangguk setuju. Itu yang memang sudah dinantinya, jalan-jalan. Sejak sampai kemarin siang, ia langsung sibuk ikut turun tangan menyiapkan acara. Mana sempat memikirkan jalan-jalan. Lagipula jalan pagi ditemani udara segar dan pemandangan desa yang indah terasa menyenangkan dipikiran Jiwon.

Ka ja!”

Woo Bin tidak berbohong saat ia bilang pemandangan desa disini sangat indah, apalagi sungai yang menjadi tempat tujuan mereka. Sungai itu terletak agak sedikit dibawah bukit, yang mana butuh usaha agak ekstra untuk turun kesana. Tapi semua usaha ekstra itu terbayarkan dengan pemandangan indah dan udara serta air yang sejuk. Matahari sudah mulai tampak kala Woo Bin dan Jiwon sampai di sungai. Mereka bukan satu-satunya yang ingin menghabiskan pagi di sungai tersebut karena beberapa anak desa juga berada disana untuk sekedar bermain air. Musim dingin memang sudah selesai, namun begitu udara tetap terasa dingin. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan minat anak-anak kecil tersebut untuk bermain-main air.

Sifat ramah Woo bin dengan cepat membuatnya akrab dengan anak-anak desa yang berumur kisaran antara 10-15 tahun tersebut. Ada empat anak laki-laki, Hyesung, Jinho, Seungkwan dan Taejun dan dua anak perempuan, Jina dan Sunkyu.

Ahn Hyejong memperhatikan Jiwon dan Woo Bin yang sedang asyik bermain air bersama anak-anak desa dari atas bukit. Sudah sejak tadi wanita tua itu memperhatikan interaksi yang terjadi diantara cucu kesayangannya dan Jiwon. Ia melihat bagaimana Woo Bin bisa tertawa begitu lepas saat bersama Jiwon. Cucunya itu begitu perhatian pada hal-hal kecil menyangkut Jiwon, seperti menggenggam tangannya saat menuruni bukit atau saat berjalan diatas bebatuan sungai.

Sunmi, sahabat setia Hyejong yang sejak tadi turut menemani akhirnya buka suara. Ia tahu mengenai sikap dingin dan keras Hyejong terhadap Jiwon. “Mereka terlihat serasi. Tapi yang paling penting, Woo Bin terlihat begitu bahagia. Semua orang butuh kesempatan, termasuk gadis itu. Dia tampak baik. Lagipula aku yakin bahwa Yumi takkan sembarangan memilih pasangan untuk Woo Bin. Kalian sama-sama menyayangi Woo Bin.”

“Tapi gadis itu bahkan tak bisa memasak.” keluh Hyejong.

Sunmi tertawa kecil, “Kau lupa bagaimana aku dulu?” tanyanya. Hyejong memperhatikan sosok temannya selama puluhan tahun tersebut. Ya, Sunmi yang sekarang tampak begitu anggun bak ratu kerajaan itu, dulunya adalah gadis tomboy, pemalas, jorok, serta pembuat onar. Tapi lihat betapa tekad dan usaha keras bisa mengubah kebiasaan buruk Sunmi menjadi lebih baik serta panutan seperti sekarang.

“Soal memasak itu perihal gampang. Kau dan Yumi bisa mengajarinya. Yang paling penting adalah sifat dan sikap. Yang kulihat gadis itu begitu sopan dan santun kepada siapa saja. Semua orang bisa berubah menjadi lebih baik, yang mereka butuhkan hanya kesempatan. Jadi, kurasa memberikan sebuah kesempatan untuk Jiwon takkan buruk.” Ucap Sunmi sembari menatap Hyejong dengan senyuman menyakinkan. Hyejong tak menjawab. Alih-alih, ia kembali memandang Woo Bin dan Jiwon yang masih asyik dengan kegiatan mereka bersama anak-anak desa.

Jadi, haruskah Hyejong mengikuti saran Sunmi?

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

17 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 8)

  1. Suka deh ma ff in konfliknya gk terlalu banyak. Semoga neneknya woo bin berubah pikiran biar hubungan woobin ma jiwon bisa di restuin.

  2. apa iya?
    yaudah deh komen lagi aja,tp lupa kemaren komen apa ya😂😂😂
    pokoknya nih ff harus cepat2 dilanjut thor.
    semoga hyejong merestui hubungan jiwon & woobin.kasihan jiwon nya😂😂anak orang tu jangan disiksa 😀😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s