Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 5)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun
– Kim Jongin

___________________________________________

Sama sekali tidak ada perasaan buruk saat tiba-tiba Jongin muncul dihadapanku. Aku terlalu terkesima dengan kehadirannya. Sebut saja aku gadis tolol! Masih bisa-bisanya jantung ini berdegub kencang kala menatap sepasang mata Jongin, sepasang mata yang dulu selalu menatapku lembut. Bahkan aku masih tetap diam terpaku saat Jongin menarik tanganku dan dengan setengah menyeret membawaku ke gudang sekolah yang terletak di belakang gedung utama sekolah. Aku baru berontak saat menyadari bahwa tak hanya ada kami berdua disana, tapi teman-teman geng Jongin juga berada disana. Mereka menatapku dengan tatapan mencemooh.

“Apa maumu?” akhirnya aku berani bersuara.

Jongin menatapku dingin, membuat bulu kudukku berdiri. Aura ini… aku benci mengakuinya, tapi harus ku akui bahwa aku takut. Ku tatap sekelilingku dengan waspada. Tingkat kewaspadaanku semakin meningkat ke level maksimum begitu salah seorang teman Jongin yang ku ketahui bernama Taehyun menutup dan kemudian mengunci pintu gudang. Seketika suasana gudang menjadi remang-remang karena pencahayaan yang ada hanya berasal dari dua buah jendela berukuran sedang yang berada di hadapanku, tepat di belakang tubuh Jongin.

“Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak mengacau hidupku, kan? Sepertinya kau tidak menganggap serius peringatanku. Wae? Apa kau pikir aku takkan sanggup menghancurkanmu?” Jongin bertanya dengan nada sinis.

Hatiku berdenyut nyeri. Sakit sekali rasanya melihat Jongin bersikap seperti ini. Aku menatap kedua mata Jongin, masih dengan sisa-sisa harapan berusaha untuk menemukan kehangatan yang pernah ada. Tapi kehangatan itu tak dapat kutemukan. Dia Jongin yang berbeda. Ah, inilah Jongin yang sebenarnya.

“Baiklah, sekarang aku buktikan bahwa ucapanku bukan sekedar gertakan. Jangan salahkan aku. Aku sudah memperingatkanmu.”

Aku tak sempat memikirkan apa yang akan Jongin lakukan terhadapku, karena tiba-tiba saja ada yang membekap mulut dan hidungku dengan sapu tangan dari belakang. Seketika bau yang begitu menyengat terhirup olehku. Bau itu membuatku mual dan pusing. Aku panik. Sekuat tenaga aku berontak dengan cara memukul dan bahkan mencakar tangan yang tengah membekapku. Tapi sia-sia, karena beberapa saat kemudian aku kehilangan kesadaranku.

 

 

*****

 

Rasa pusing langsung ku rasakan begitu kedua mataku yang semula terpejam perlahan terbuka. Hal pertama yang kulihat begitu membuka matanya adalah langit-langit berwarna putih bersih. Dengan menahan rasa pusing di kepala aku menoleh memperhatikan sekeliling ruangan tempatku berada. Ruangan berukuran sedang yang didominasi oleh warna putih dan biru muda itu terasa begitu familiar. Ada lemari kayu berpintu kaca yang menyimpan bermacam obat-obatan dan juga peralatan medis sederhana. Dindingnya yang berwarna putih bersih ditempeli dengan poster-poster medis. Terdapat pula dua buah ranjang berukuran single yang diletakkan berdampingan namun dibatasi oleh gorden panjang berwarna biru muda. Rupanya aku tengah berada di klinik kesehatan sekolah.

Aku memejamkan mata, berusaha mengingat hal apa yang membuatku bisa terdampar di klinik sekolah. Bukan apa, hanya saja selama nyaris tiga tahun bersekolah di Kirin High School, baru kali ini aku menjadi penghuni klinik. Selama ini aku hanya pernah lewat di depan klinik. Kilasan kejadian yang tadi ku alami sebelum kehilangan kesadaran sontak membuat tubuhku menegang. Aku ingat bahwa terakhir kali aku sedang berada di gudang sekolah bersama Jongin dan teman-teman pria itu. Jongin mengancamku dan tak lama ada yang membekap hidung serta mulutku dengan sapu tangan beraroma aneh yang membuat mual dan pusing. Setelahnya gelap… aku tak bisa mengingat apapun lagi.

Dengan panik aku memeriksa tubuhku. Berbagai macam pikiran buruk tanpa henti merasuki pikiranku. Air mata bahkan sudah menggenang di pelupuk mata. Aku akhirnya bisa bernapas lega saat tak mendapati ada keanehan ditubuhku. Pakaianku masih terpasang ditubuhku seperti sesaat sebelum aku pingsan.

Lalu, apa yang terjadi?

Kenapa aku bisa ada di klinik sekolah?

Kemana Jongin dan teman-temannya?

Ah, dan yang paling penting, siapa yang membawa diriku ke klinik?

Ditengah lamunan pintu ruang klinik dibuka dari luar. Aku menoleh ke arah pintu dan mataku terbelalak kaget melihat sosok Oh Sehun yang juga tengah menatap datar diriku dari depan pintu.

“Oh Sehun-ssi…” bisikku pelan.

 

*****

 

Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan Sehun. Ia hanya diam sambil menatapku dingin. Sebenarnya ada banyak yang ingin kutanyakan padanya, seperti bagaimana aku bisa berada di unit kesehatan sekolah, apa yang terjadi saat aku pingsan dan dimana Jongin berserta teman segengnya sekarang. Tapi semua pertanyaan itu tetap tersimpan rapi dimulutku. Lagipula percuma saja, Sehun takkan menjawab apapun yang kutanyakan. Disaat-saat seperti ini aku jadi ingin punya kekuatan super bisa membaca pikiran orang, jadi dengan begitu aku tak harus merasa penasaran setengah mati seperti ini.

Tanpa berkata apa-apa, Sehun beranjak meraih tas ranselnya yang diletakkan di meja kerja dokter lalu hendak beranjak pergi sebelum suara lirihku menghentikan langkahnya.

“Terima kasih.” Ucapku lirih.

Alih-alih merespon, Sehun malah melanjutkan langkahnya. Aku tak menahan pria itu. Aku hanya menatap punggung Sehun dalam diam hingga sosok itu menghilang dari pandanganku. Aku tersenyum kecil. Kakak tiriku itu memang orang baik. Meskipun telah berkali-kali ia berkata sangat membenciku, tapi buktinya ia tetap sudi membantuku.

Ku harap ini akan jadi awal yang baik.

 

*****

 

 

Sekolah gempar. Katanya Jongin dan beberapa orang temannya di skors oleh pihak sekolah. Entah ini karena kejadian di gudang itu atau karena ada hal lain yang terjadi. Tidak ada yang tahu pasti alasan kenapa Jongin di skors. Sebagian bilang karena ia ketahuan merokok di area sekolah, sedangkan sebagian lagi berkata jika Jongin terlibat perkelahian. Aku sungguh penasaran. Tepatnya penasaran dengan kejadian di gudang tempo hari. Aku berusaha keras mengingat kejadian itu, tapi semua ingatanku hanya sampai pada pertengkaran kami, lalu semua gelap. Bangun-bangun aku sudah di UKS dan ada Sehun disana.

Meskipun Jongin sedang tidak ada, namun itu bukan berarti kemalanganku di sekolah berhenti. Mereka masih tetap mengerjaiku, dan aku masih tetap bertahan. Semuanya berjalan seperti biasanya. Sesekali aku akan melirik diam-diam ke arah Sehun. Aku berharap sekali bisa mendapatkan penjelasan darinya, walau ku tahu bahwa itu mustahil, mengingat hubungan kami yang seperti ini.

Aku baru kembali dari toilet dan ingin bergegas pulang. Tapi langkahku terhenti ketika tak mendapati meja, kursi beserta tas milikku. Aku memandang sekeliling. Teman-teman sekelas tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing (yang ku yakin itu hanya kedok. Diam-diam mereka tengah menunggu reaksiku). Sialan mereka! Sekarang bagaimana aku bisa pulang jika tasku tidak ada? Ini gila dan sungguh keterlaluan. Mati-matian aku menjaga ekspresiku agar tetap tenang. Takkan kubiarkan mereka merasa senang melihatku panik apalagi sampai menangis.

Aku berjalan menuju jendela kelas, mana tahu mereka membuang tasku dari jendela. Dulu mereka pernah melakukannya. Tapi tidak ada. Baik tas, maupun meja dan kursi yang biasa ku duduki tak terlihat. Bisa ku dengar samar-samar suara cekikikan tertahan milik teman-teman sekelasku. Aku berlagak tak peduli dan dengan santai berjalan keluar kelas. Ku tulikan telingaku begitu mendengar tawa riuh mereka sesaat setelah aku keluar kelas. Mereka benar-benar manusia tak berperasaan. Aku percaya karma itu ada. Jika mereka tak mendapat balasannya sekarang, maka mereka akan mendapatkannya nanti. Aku bukan orang suci yang akan dengan ikhlas memaafkan apalagi melupakan perbuatan mereka sekarang. Ku harap segera mendapat balasan yang setimpal.

Sekarang aku berpikir keras kira-kira dimana tasku disembunyikan. Ah, apa jangan-jangan dibuang ke bak sampah sekolah?

Dengan segera aku berlari menuju bak sampah sekolah yang terletak di halaman belakang sekolah. Tanpa jijik aku membuka tutup bak sampah yang seketika menguarkan bau busuk yang begitu tajam. Mataku bergerak dengan liar, berusaha menemukan tas ransel lusuhku diantara tumpukan sampah. Aku bahkan menggunakan tanganku untuk mengorek tumpukan sampah.

“Hahaha anak sampah sedang bermain dengan sampah. Kebetulan sekali. Ayo lihat kesini!” Suara menyebalkan Yeri terdengar dekat. Aku menoleh sekilas ke arah gadis menyebalkan itu. Ia dan beberapa orang temannya menatapku dengan pandangan mencemooh. Yeri mengarahkan kamera ponselnya padaku, “Say hey anak sampah.” Ujarnya sambil tertawa geli.

Tak ku hiraukan keberadaan mereka dan terus mencari tasku. Yeri dan teman-temannya masih tertawa geli.

“Mau dicari sampai besok juga tidak akan ketemu. Tas mu tidak ada disana.” Ujar Minah.

Aku menatap gadis itu tajam, namun tak ingin menanggapi ucapan gadis itu. Minah melirik ke arah gudang disebelahku. Ia lalu menatapku dengan senyum mencemoohnya. Walaupun tak yakin jika tasku berada disana, tapi tak ada salahnya jika ku coba untuk mencari disana. Aku menerobos kerumunan geng Yeri yang seketika membuat yeojadeul centil itu berteriak kesal.

“Sialan, si bau itu menyentuh tanganku! Aku harus buru-buru cuci tangan. Eww, ini sungguh menjijikkan!”

Nado nado! Bau sekali gadis itu!”

 

*****

 

Aku menemukan tasku tergeletak di atas meja rusak. Buru-buru langsung ku periksa isi tasku. Bukannya apa, tingkat keusilan mereka ku rasa sudah mencapai stadium akhir. Jadi, bukan tidak mungkin jika mereka menyembunyikan isi tasku secara terpisah. Persis seperti tagline ‘Isi dapat dibeli secara terpisah’.

Ok, dompet… check! Ponsel juga ada. Buku-buku dan alat tulis juga lengkap. Sekarang aku bisa bernapas lega. Apalagi setelah ku periksa lebih teliti, isi dompetku tidak berkurang. Lagipula jika dipikir-pikir untuk apa mereka mencuri uang dari gadis miskin sepertiku. Toh, jika tas ini dijual pun takkan setara dengan uang jajan mereka.

Aku membereskan isi tasku dan beranjak pergi. Gara-gara harus mencari tas aku jadi terlambat pergi ke toko roti. Selama tidak ada job menjadi baby sitter aku memang menambah shift bekerja di toko roti, yang biasanya hanya di akhir pekan menjadi setiap hari. Ku kirim pesan singkat pada bibi Sejeong, mengabari jika aku datang terlambat. Untung bibi Sejeong baik, jadi gajiku takkan dipotong.

Tapi ternyata kesialanku tidak berakhir sampai disini. Sudah kuduga, takkan semudah itu mereka membiarkanku mendapatkan tas ini. Pintu gudang yang tadi ku tinggalkan dalam kondisi terbuka sekarang malah terkunci. Begitu bodohnya aku hingga tak menyadari ini. Lalu sekarang aku harus bagaimana?

Miris, lagi-lagi akibat ketololanku aku harus kembali ke tempat ini. Jika aku keluar dari sini nanti, gudang sekolah adalah tempat yang harus ku jauhi. Aku menghela napas lelah. Ku perhatikan sekeliling gudang ini, siapa tahu menemukan jalan keluar. Jendela gudang terlalu kecil dan tinggi. Aku takkan bisa keluar dari sana. Satu-satunya akses keluar-masuk memang dari pintu. Ok, sekarang aku benar-benar frustasi. Langit sudah mulai gelap disertai dengan gemuruh pertanda hujan. Aku benar-benar terkurung disini tanpa ada yang bisa membantu… juga tanpa ada yang mencari…

Ditengah kegalauan aku melihat-lihat daftar kontak di ponselku. Tidak ada banyak nomor yang tersimpan disana. Aku bukan tipe orang yang gemar bertukar nomor ponsel. Lagipula tak ada yang menginginkan nomorku. Mungkin dulu ada, sebelum keadaanku seperti ini. Sedang men-scroll layar ponsel, jemariku berhenti kala melihat kontak Kyuhyun. Bolehkah aku meminta tolong padanya? Diantara semua nomor yang tersimpan diponselku, hanya dia yang mungkin bisa. Tapi, apa itu tidak merepotkan?

Kuputuskan untuk mengubur niatku dalam-dalam. Tidak seharusnya aku merepotkan orang yang baru kukenal, meskipun sekarang kami berteman. Dengan setengah putus asa dan setengah menahan amarah, aku menggedor pintu gudang meski ku tahu bahwa kemungkinan di dengar oleh satpam kecil sekali. Aku kembali melirik ke arah ponsel, kembali berperang batin antara harus pasrah diam sambil menunggu keajaiban atau nekat menghubungi Kyuhyun. Aku harus segera membuat keputusan karena baterai ponselku takkan bertahan lama, tinggal 20 persen lagi.

Telepon… tidak… telepon… tidak… telepon…. Tidak?

Aku menghela napas sembari memantapkan hati. Dengan mantap jemariku menekan tombol hijau. Jantungku berdebar. Dalam hati aku merangkai kata-kata yang harus ku katakan pada Kyuhyun. Jujur saja aku merasa tidak enak sekali harus menelponnya. Lagipula jam segini mungkin ia baru sampai di rumah atau malah masih lembur di kantor. Pasti ia lelah. Tapi…

“Halo?”

“Eh.. ha..halo? Kyuhyun-ssi?”

“Iya. Ada apa?”

Aku masih ragu, tapi jika bukan Kyuhyun, lalu siapa yang bisa membantuku sekarang?

“Aku butuh bantuanmu.” Ucapku pada akhirnya. “Ah, sebelumnya, apa kau sibuk sekarang?”

“Tidak. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kau butuh apa? Jika bisa, pasti akan kubantu.”

“Maaf merepotkan, tapi aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi selain padamu. Aku terkunci di gudang sekolah. Sejak tadi aku sudah berteriak minta tolong, tapi tak ada yang datang. Sekarang sudah gelap, aku agak takut.” Ucapku lirih.

Suara Kyuhyun terdengar kaget,“Hah, terkunci di gudang?! Sebentar, kau bersekolah di Kirin kan? Aku akan kesana sekarang, tapi mungkin akan memakan waktu selama 30 menit. Jalanan agak macet. Gwenchanayo?

Ne, gwenchana. Jeongmal kamsahamnida Kyuhyun-ssi.”

35 menit kemudian Kyuhyun tiba di tengah gemuruh hujan. Pintu gudang terbuka menampakkan sosoknya yang menjulang tinggi. Ia bersama dengan satpam sekolah. Rasa lega dan haru menyelimutiku. Kyuhyun benar-benar datang sesuai dengan yang ia katakan. Padahal ia bisa saja mengabaikanku, tapi ia tak melakukan itu. Mataku berkaca-kaca.

“Kau menangis?” tanya Kyuhyun yang langsung ku jawab dengan gelengan. Malu rasanya kelihatan lemah seperti ini.

Kyuhyun menggiringku ke mobilnya. Ia bahkan bersedia mengantarku pulang walaupun sudah ku tolak dengan halus. Aku tak ingin semakin merepotkannya, namun Kyuhyun tetap bersikeras untuk mengantarku pulang. Akhirnya, disinilah aku berada, di dalam mobil mewah milik Kyuhyun.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terkunci disana? Apa ini salah satu aksi bully yang mereka lakukan?” tanya Kyuhyun.

Aku menghela napas pelan. Kedua tanganku saling bertautan erat. “Ya. Ini memang ulah mereka. Tadi mereka menyembunyikan tasku di gudang, ternyata itu cuma pancingan karena rencana awal mereka adalah mengurungku di gudang sekolah. Dengan bodoh dan mudahnya aku masuk dalam perangkap.” Ucapku.

Kyuhyun menoleh sekilas ke arahku sebelum kembali fokus pada jalan dihadapan kami. “Ini sudah keterlaluan. Tidak mencoba melapor pada guru?”

“Percuma. Justru itu akan semakin memperkeruh keadaan. Ku rasa yang bisa kulakukan hanyalah bertahan. Lagipula sebentar lagi akan lulus dari sana.”

“Rencananya kau akan melanjutkan kuliah dimana?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Kyuhyun, membuat Kyuhyun kembali menoleh ke arahku. Mobil berhenti di depan lampu merah sehingga Kyuhyun bisa mengalihkan fokusnya padaku. Sadar bahwa ia masih menunggu jawabanku, akhirnya aku menggeleng, “Tidak tahu. Mungkin aku tidak langsung kuliah. Entahlah, aku masih memikirkan itu.”

Lampu lalu lintas berubah dari warna merah menjadi hijau. Kyuhyun kembali melajukan mobilnya. Kami hanya diam selama sisa perjalanan hingga mobil Kyuhyun berhenti di depan rumah bobrok yang kutinggali bersama ibu.

“Terima kasih sudah bersedia menolongku. Maaf sudah merepotkan. Aku benar-benar bingung tadi.” Ucapku tak enak.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu. Jika butuh bantuan lagi jangan ragu untuk menghubungiku. Jika bisa, aku pasti akan membantumu.” Kyuhyun berkata dengan nada lembut. Ia benar-benar pria yang baik. Walaupun kesan awal saat melihatnya adalah pendiam, dingin dan penyendiri, namun ternyata ia tak seburuk itu. Ternyata pepatah itu memang benar. Don’t judge a book by the cover.

 

*****

 

Aku meletakkan beberapa roti yang telah dipanggang di rak. Harum roti yang baru dipanggang menyebar di toko berukuran sedang ini. Harum yang begitu nikmat dan membuat air liur nyaris menetes membayangkan kelembutan dan kelezatan dari roti-roti ini. Bel pintu yang berbunyi mengalihkan perhatianku. Buru-buru aku menyelesaikan urusanku menata roti, lalu bergegas menyambut pembeli yang baru datang. Namun tubuhku langsung menegang kala menatap sosok wanita paruh baya yang cantik dan tampak modis itu. Wajah itu… meskipun aku baru dua kali bertemu dengannya, namun wajah itu sudah tak asing lagi bagiku.

Ia ibu Sehun, atau bisa dibilang jika ia adalah ibu tiriku.

Wanita itu pun tak kalah kaget saat melihatku. Sepertinya ia tidak tahu jika aku bekerja disini. Karena jika ia tahu, maka ku yakin ia takkan mau masuk ke dalam toko ini. Dengan canggung aku menyapanya sopan. Mau bagaimanapun ia tetap pembeli yang harus ku hargai dan ku layani, bukan?

Aku memperhatikan gerak-gerik Im Jinah, istri sah ayahku. Wanita itu sangat cantik dan modis. Gerak-geriknya elegan dan sikapnya menunjukkan jika ia wanita yang terpelajar. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ibuku. Melihatnya membuatku tak heran pada keputusan ayah lebih memilih untuk berada disamping Im Jinah dibandingkan berada disamping ibu. Tapi tetap saja, ayah adalah pria yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa selama belasan tahun ia mengabaikan fakta bahwa ia masih punya seorang putri yang butuh perlindungan serta kasih sayang darinya?

Aku benar-benar memperhatikan sosok Im Jinah hingga ia keluar dari toko roti ini. Aku menghela napas pelan begitu sosok elegan itu keluar dari toko. Ia masih membenciku, seperti Sehun yang juga terlihat sangat membenciku. Akan tetapi tanpa ku duga Im Jinah kembali masuk ke dalam toko roti. Awalnya ku kira dia meninggalkan sesuatu, tapi melihatnya berjalan pasti menuju ke arahku tak ayal membuatku gugup setengah mati.

Apa yang ia inginkan?

Sigani isseoyo? (ada waktu?)”  tanyanya sambil menatapku datar.

Aku menatapnya ragu, lalu menoleh ke arah jam dinding yang menujukkan pukul 12 siang. Sudah waktunya istirahat siang. Biasanya kami, para pekerja, akan bergantian istirahat sehingga tetap ada yang menjaga toko. Aku mengangguk ragu, “Sebentar, saya izin dulu.” Ucapku.

Aku menghampiri Nara, rekanku yang bertugas di kasir. “Aku izin istirahat duluan ya. Tidak akan lama.”

Ne. Eodie jeomshimeul kkayo? (mau makan siang dimana?)” tanyanya. Mungkin ingin menitip makanan. Kami biasa seperti itu.

Aku menggeleng tidak tahu, lalu melirik ke arah dimana ibunda Sehun berdiri. Nara sepertinya mengerti karena ia tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkanku pergi.

 

*****

 

Kami duduk berhadapan dengan canggung. Sudah lebih dari 5 menit, namun tak ada kata yang terucap selain saat menyebutkan pesanan pada pelayan. Aku merasa amat sangat tidak nyaman. Ingin rasanya segera pergi dari sini. Lagipula, hal penting apa yang perlu disampaikan oleh istri sah ayah ini?

“Bagaimana kabarmu?” akhirnya setelah 5 menit lebih berlalu, Im Jinah memutuskan untuk membuka suara. Suaranya yang lembut justru membuatku semakin gugup.

“Baik… emm nyonya.”

Aku bingung harus memanggil apa pada wanita dihadapanku ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memanggilnya nyonya saja, seperti biasa jika aku sedang memanggil pelanggan di toko. Im Jinah menatapku sambil tersenyum kecil, senyum yang agak dipaksakan.

“Maaf mengganggu waktumu. Entah lah, tiba-tiba saja aku ingin berbincang-bincang denganmu. Kita tak pernah punya kesempatan untuk berbicara sebelumnya.” Ujar Im Jinah.

Well, sebenarnya kami punya kesempatan, hanya saja tak pernah digunakan. Baik aku maupun wanita dihadapanku ini berusaha keras untuk tak bersinggungan satu sama lain. Namun aku hanya diam, memilih untuk tak mengoreksi perkataannya mengenai kesempatan yang selama ini ada.

“Tidak apa-apa. Saya… em…” Aku bingung. Haruskah aku minta maaf atas nama Ibu?

“Haneul-ssi, ku dengar kau sekelas dengan Sehun, bukan?”

Ne.”

“Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

Aku menarik napas sejenak, lalu menyunggingkan senyum kecil. “Iya, dia baik. kami tidak terlalu saling mengenal, tapi dia tidak pernah jahat padaku.” Jawabku jujur. Ya, nyatanya Sehun memang tidak pernah ikut-ikutan dengan para pembully itu, walaupun sikapnya dingin dan ketus padaku.

“Sehun… dia benar-benar terguncang begitu mengetahui rahasia kelam ayahnya. Selama ini Sehun selalu menjadikan ayahnya sebagai sosok panutan. Mereka sangat dekat. Aku sendiripun tak menyangka jika Jihoo tega melakukan ini semua dan menyembunyikan fakta bahwa kau ada di dunia ini. Jika aku tahu lebih awal aku pasti… pasti akan mengusahakan agar kau juga mendapat keadilan.” Suara Im Jinah terdengar bergetar seperti menahan tangis.

Kedua tanganku yang berada dipangkuan saling bertautan. Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Masalahnya aku tak mengenal pria yang sedang kami bicarakan ini. Aku hanya tahu jika namanya Oh Jihoo, seorang pengusaha kaya dan merupakan ayah yang selama ini ku kira telah tiada. Hanya itu yang ku tahu. Jadi, mau wanita ini menceritakan segala kisah dan kenangannya dengan Oh Jihoo, aku takkan pernah bisa merasakan keterkaitan apapun karena aku sangat asing dengan sosok Oh Jihoo.

“Aku tahu jika Jihoo memang sempat menjalin hubungan dengan ibumu. Kami sempat bertengkar hebat karena masalah itu dan bahkan nyaris bercerai. Namun Jihoo meminta kembali padaku dan berjanji akan meninggalkan ibumu. Aku tak tahu jika saat itu kau ada. Jujur, sampai detik ini aku masih membenci ibumu, tapi disatu sisi aku merasa bersalah padamu. Kau pasti telah menjalani hidup yang berat selama belasan tahun ini.”

“Saya rasa anda tak perlu merasa bersalah. Ini semua bukan kesalahan anda. Lagipula, saya sudah terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini.”

Diabaikan dan dibuang

“Maafkan Jihoo, Haneul-ssi…”

 

*****

 

 

Minta maaf itu memang mudah. Hanya perlu diucapkan lalu selesai. Tapi sayangnya memaafkan tak semudah itu. Makanya saat nyonya Jinah memintaku memaafkan ayah, aku tidak bisa langsung menjawabnya. Aku tak ingin berbohong dan berkata dengan lapang hati jika aku telah memaafkan pria tak bertanggung jawab itu. Meskipun aku tak mengenalnya, tapi ia sudah membuat kesalahan fatal dengan menelantarkanku. Lain cerita jika ia tak tahu bahwa aku ada. Nyatanya ayah tahu pasti jika ibu mengandung dan melahirkanku, namun ia tetap memilih pergi dan kembali pada keluarganya, mengubur dalam-dalam fakta bahwa aku ada dan aku butuh sosoknya.

Kyuhyun setuju dengan pendapatku mengenai memaafkan. Ia sendiri juga tak akan langsung menjawab ‘ya’ jika diminta untuk memaafkan ayahnya. Ayah Kyuhyun sudah terlalu dalam menyakitinya. Kyuhyun bilang jika suatu saat ayahnya meminta maaf padanya (hal yang Kyuhyun yakin takkan pernah terjadi), maka Kyuhyun akan perlu waktu untuk melapangkan hatinya agar ikhlas memaafkan.

Kyuhyun menghisap rokoknya dalam, lalu menghembuskannya, menciptakan kepulan asap beracun di depan mulutnya. Kyuhyun sengaja duduk agak jauh dariku agar aku tidak langsung terpapar oleh asap rokok. Kyuhyun yang saat ini kulihat masih sama menyedihkannya seperti biasa. Wajahnya lelah dan batinnya tersiksa.

“Semua orang punya pilihan dalam hidup mereka. Semuanya bisa memilih. Lalu, kenapa aku tidak bisa mendapatkan hak yang serupa? Sejak kecil aku sudah diatur seperti boneka. Bahkan hobi serta cita-cita pun telah diatur agar sesuai dengan standar dan keinginan kedua orang tuaku.” Ujar Kyuhyun. Matanya menerawang menatap langit malam yang bertabur bintang.

Lucunya, kami kembali terdampar di jembatan yang sama, tempat dimana kami pertama kali bertemu. Sepertinya mulai detik ini jembatan ini akan jadi basecamp kami.

“Semua pengorbanan yang kulakukan tak ada harganya dimata mereka. Selamanya aku tetap Cho Kyuhyun si pecundang.”

Aku hanya diam mendengarkan keluh kesah Kyuhyun. Kali ini gantian aku yang menjadi pendengar setia. Lagipula aku tak tahu kata-kata apa yang tepat untuk kuberikan pada pria yang terlihat frustasi ini. Jadi, daripada aku salah memberikan tanggapan dan malah membuatnya langsung terjun bebas dari atas jembatan, lebih baik aku diam. Aku yakin yang Kyuhyun butuhkan saat ini adalah pendengar yang baik.

“Bahkan bagi wanita yang kucintaipun, aku adalah seorang pecundang.” Kyuhyun tertawa miris.

“Mantan kekasihmu?” tanyaku hati-hati, takut menyinggung perasaannya.

Kyuhyun menggeleng, “Aku tak tahu sebutan apa yang cocok untuk menggambarkan hubungan kami. Aku menyukainya dan ia tahu itu. Ku rasa ia pun juga memiliki perasaan yang sama. Tapi ia sadar bahwa bersamaku tidak akan membuatnya bahagia. Kehidupanku begitu kelam dan ia tidak siap untuk masuk ke dalam kekelaman itu. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi. Pergi sebelum kami sempat memulai apapun. Aku kecewa, tapi aku cukup sadar diri dan menghargai keputusannya. Ia akan lebih baik tanpaku.” Ucap Kyuhyun lirih.

Beruntung sekali gadis itu dicintai sebegitu besarnya oleh seorang pria. Aku iri. Seumur hidup tak pernah ada yang mencintaiku. Jangankan orang lain, ibuku sendiri saja tidak mencintaiku dan malah menganggapku beban.

Kyuhyun menatapku intens. Aku tak tahu apa arti tatapan itu ataupun hal apa yang tengah dipikirkan Kyuhyun, namun tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri dihadapanku sembari mengulurkan tangan, lalu bertanya, “Jadi pacarku, mau?”

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 5)

  1. kalau gue jdi haneul gue juga gak bakalan maafin ayah yg sudah ninggalin gue, .. dan sekarang si kyu nembak haneul buat jd pacar? eh iru apa bisa disebut nembak ya wkwkw simple bgt kata2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s