Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 9)

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

_______________________________________________

Jiwon kembali ketar-ketir lantaran Hyejong yang tiba-tiba saja mengajaknya jalan-jalan di taman sekitaran rumah. Jiwon tahu bahwa Hyejong tidak hanya ingin berjalan-jalan, tapi juga berbicara empat mata dengannya. Dalam hati Jiwon sudah mengira-ngira apa lagi yang akan calon neneknya itu lakukan terhadapnya. Apa yang kemarin tidak cukup?

“Woo Bin cucu satu-satunya yang kumiliki. Sebagai seorang nenek tentunya aku menginginkan yang terbaik untuknya.” Hyejong berkata seraya mengajak Jiwon duduk dibangku taman.

‘Nah kan…’ batin Jiwon. Seperti yang ia duga, pembicaraan mereka takkan jauh dari Woo Bin.

Untuk menjaga sopan santun, Jiwon menanggapi perkataan Hyejong dengan senyuman tipis. “Iya nek, saya mengerti.” Ucap Jiwon.

Hyejong menatap Jiwon intens, membuat gadis cantik itu jadi salah tingkah. Jiwon berdeham sembari membenahi rambutnya yang tertiup angin. Ia tidak berani membalas tatapan Hyejong, jadi Jiwon lebih memilih menatap rimbunan bunga liar beraneka warna yang tumbuh di taman.

“Kau gadis yang baik.” Ucap Hyejong, alih-alih memuji Jiwon. Jiwon bahkan nyaris tak mempercayai pendengarannya dan berpikir jika ia tengah berhalusinasi. Namun tatapan lembut serta senyum ramah Hyejong cukup menjadi bukti bahwa yang didengarnya tadi nyata. Ahn Hyejong baru saja memujinya! Bolehkah Jiwon menari senang sekarang?

“Aku merestui kalian. Asalkan Woo Bin bahagia, maka aku akan mengalah. Lagipula seperti yang ku katakan tadi, kau adalah gadis baik dan berasal dari keluarga baik-baik pula. Aku percaya Yumi tidak akan sembarangan menjodohkan Woo Bin dengan gadis yang tidak dikenalnya dengan baik. Aku minta maaf sudah bersikap tidak baik padamu. Aku hanya kesal karena Yumi tidak mengatakan apa-apa padaku dan melaksanakan pesta pertunangan secara diam-diam. Hah, ya sudahlah, lupakan itu semua. Yang jelas kau sudah kuterima dengan lapang dada.”

Jiwon tersenyum sumringah. “Terima kasih, nek. Aku juga minta maaf karena tidak memenuhi harapanmu. Aku sadar aku masih banyak kekurangan.” Wow, Jiwon bahkan nyaris tak percaya jika kalimat merendah itu baru saja keluar dari mulutnya.

“Tapi, tetap ada syaratnya.” Ujar Hyejong yang agak melunturkan senyum sumringah Jiwon. Gadis itu langsung was-was. Hyejong menahan tawanya melihat reaksi Jiwon. “Kau harus banyak berlatih untuk menjadi menantu idaman bagi keluarga ini. Aku akan mengajarimu dengan senang hati. Pokoknya saat liburan nanti aku akan datang ke Seoul dan mengajarimu bagaimana menjadi menantu dan istri idaman. Setidaknya kau harus bisa membedakan antara daun seledri dan peterseli.”

Ne, algeseumnida.” Jawab Jiwon sok kalem.

Well, itu bisa dipikirkan nanti. Yang penting restu nenek sudah ditangan. Bukankah itu yang paling penting? Sepertinya Jiwon harus mulai membiasakan diri untuk masuk ke dapur dan membantu ibunya memasak. Untuk permulaan dia bisa memperhatikan ibunya memasak sambil mengenal jenis-jenis sayuran dan bumbu dapur. Ah, itu ide yang bagus.

“Nah, untuk permulaan, siang ini kau harus membantuku masak. Ayo kita pulang sekarang dan memulai sesi belajar pertama.”

Jiwon terkejut. “Ne? Jigeumnyo?

“Ya. Ayo, Jangan sia-siakan waktu berharga ini!”

Jiwon menghela napas. Seharusnya ia tahu bahwa Hyejong takkan semudah itu membiarkannya hidup tenang.

 

 

*****

 

 

Hari pertama masuk sekolah setelah libur beberapa hari demi persiapan ujian. Pihak sekolah menyebutnya minggu tenang, yang sebenarnya diperuntukkan bagi para siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian, tapi pada kenyataannya kebanyakan siswa malah menggunakan hari libur tersebut untuk liburan.

Hari ujian seharusnya menjadi hari yang menegangkan bagi para murid, namun semua ketegangan itu berubah menjadi kehebohan saat tersiar kabar bahwa terjadi pembobolan di kantor kepala sekolah. Ada oknum yang hendak mencuri soal-soal ujian. Beruntung aksi tersebut dapat digagalkan oleh penjaga sekolah. Tapi sayangnya si pelaku berhasil lolos. Akibat kejadian tersebut pihak sekolah semakin memperketat keamanan sekolah. Nyaris semua murid kelas tiga yang mengikuti ujian membicarakan soal aksi pembobolan tersebut sembari menduga-duga siapa dalang dibaliknya.

“Jangan-jangan pelakunya si Howon atau Sungwoo.” Ucap salah seorang murid perempuan yang Jiwon ingat bernama Oh Seyeon. Jiwon pernah terlibat kegiatan organisasi bersama gadis itu saat kelas satu dulu.

“Iya, aku juga pikir pelakunya diantara mereka berdua. Siapa lagi murid yang paling nekat disini selain mereka berdua. Bahkan bukan tidak mungkin jika mereka bekerjasama. Dua trouble maker sekolah bekerja sama mencuri soal ujian.” Ujar teman Seyeon yang bernama Saeron.

Jiwon diam-diam mencuri dengar pembicaraan yeojadeul yang duduk dibelakang bangkunya tersebut seraya melahap bibimbap miliknya. Jiwon meraih gelas berisi air mineral, lalu meminumnya sedikit. Jiwon tahu bahwa tidak seharusnya ia main asal tuduh, tapi ia yakin seratus persen jika pelakunya adalah Howon atas suruhan Hongbin. Percakapan kedua namja tersebut saat di perpustakaan cukup menjadi bukti kuat bagi Jiwon. Belum lagi dengan fakta bahwa Hongbin sempat mengancamnya. Jiwon menghela napas, kemudian kembali melahap bibimbapnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ikut campur. Lagipula ini menyangkut Lee Hongbin, murid kesayangan guru-guru dan kepala sekolah. Mana mungkin mereka percaya jika murid berprestasi macam Hongbin lah yang berbuat ulah.

Ya, lebih baik dia tutup mulut.

 

*****

 

 

Kang Haneul keluar dari ruang kepala sekolah bersama dengan Lee Minhyun, ketua OSIS saat ini. Mereka baru saja berbicara serius dengan kepala sekolah perihal percobaan pencurian soal ujian. Sebagai mantan ketua Osis, kepala sekolah meminta Haneul untuk membantu penyelidikan. Ada beberapa siswa yang mereka curigai terlibat, namun karena mereka tidak memiliki bukti yang kuat maka belum ada tindakan yang bisa diambil.

“Ini pertama kalinya.” Ucap Minhyun. Pria itu sudah cukup pusing dengan segala macam persoalan OSIS dan kini harus kembali dipusingkan dengan percobaan pencurian soal ujian. “Tapi aku yakin ini ulah murid disini. Tidak masuk akal jika oknum luar pelakunya.”

Haneul mengangguk setuju. Keduanya berpisah di depan tangga menuju lantai dua. Haneul naik ke lantai dua, sedangkan Minhyun menuju ruang osis yang terletak di ujung koridor lantai satu. Haneul berpapasan dengan Hongbin di koridor. Entah hanya perasaan Haneul, namun ia selalu merasa jika Hongbin tidak suka padanya. Mereka memang saling berbicara. Yah, bisa dikatakan berteman meski tidak akrab. Tapi Haneul kerap merasa jika Hongbin suka menyindirnya. Apalagi jika nilai Haneul lebih tinggi dari Hongbin. Hongbin selalu menganggapnya sebagai saingan dan hal tersebut kerap membuat Hongbin bersikap tidak sehat, seperti tiba-tiba sinis dan marah tanpa sebab. Benar-benar aneh.

Sekarang contohnya. Haneul melempar senyuman ramah yang malah dibalas dengan tatapan sinis oleh Hongbin. Entah apalagi penyebabnya kali ini. Nilai ujian saja bahkan belum keluar. Menerima sikap sinis seperti itu, Haneul hanya bisa menghela napas. Enggan ambil pusing dengan sikap tak bersahabat Hongbin.

“Hei, ku dengar kau habis dari ruangan kepala sekolah?” Woo Bin merangkul bahu Haneul. Keduanya berpapasan di koridor dan kemudian berjalan menuju kelas bersama-sama. Waktu istirahat akan berakhir dalam lima menit dan setelahnya ujian akan dilanjutkan dengan mata pelajaran Sastra Korea.

“Ya. Kepala sekolah meminta bantuanku.” Jawab Haneul.

“Siapa sangka akan ada kejadian seperti ini.” Ucap Woo Bin.

“Hari pertama ujian dan sudah ada kasus seperti ini. Bukan tidak mungkin jika pria itu, siapapun dia, kembali beraksi. Kepala sekolah jadi paranoid karena itu.”

Woo Bin melirik Haneul. “Jadi, siapa tersangka yang kalian duga terlibat?” tanya Woo Bin.

“Hmm… ada beberapa. Yang pasti mereka tergabung dalam ‘suicide squad’.” Jawab Haneul. ‘Suicide Squad’ adalah julukan yang biasa murid Kirin High School berikan terhadap murid-murid yang bermasalah dan masuk daftar hitam.

“Tidak heran sih, mengingat track record mereka. Pemimpin tawuran, anggota geng motor, pembolos, tukang bully dan lain sebagainya. Jika disebut satu persatu takkan ada habisnya. Jadi kau akan mulai penyelidikan dari mereka?” Woo Bin menatap Haneul, menanti jawaban teman karibnya itu.

Haneul mengangguk. “Yup! Aku akan mulai dari mengawasi gerak-gerik mereka. Jika kau melihat aktivitas mencurigakan dari mereka, jangan ragu untuk lapor padaku, oke?”

“Semua tindak tanduk mereka mencurigakan.” Gurau Woo Bin yang disambut dengan cengiran oleh Haneul.

 

 

*****

 

Wajah Minah merengut. Ia kesal karena kode-kode yang dilemparkan kepada Haneul tak satupun namja itu pahami. Padahal jelas-jelas Minah sudah menunjukkan ketertarikannya pada kakak kelasnya tersebut, namum entah karena kode Minah yang kurang keras atau malah Haneul yang terlalu bodoh untuk mengerti semua kode cinta yang diberikan Minah. Intinya sekarang Minah kesal. Sudah sejam lamanya Minah menghabiskan waktu dengan berguling-guling tidak jelas diatas kasur. Padahal jika sedang libur begini mana betah gadis itu berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang produktif.

Minah meraih ponsel miliknya yang diletakkan di nakas samping tempat tidur. Semua pesan penuh perhatian dan romantisnya hanya dibalas pendek dan ala kadarnya oleh Haneul. Sebalnya lagi pesan-pesan miliknya rata-rata dibalas paling cepat setengah jam setelah dikirim.

“Sok sibuk sekali!” Ujar Minah kesal.

Tak hanya mengirim pesan, Minah juga beberapa kali pernah men-tag Instagram Haneul dengan gambar-gambar lucu yang berhubungan dengan jatuh cinta, friendzone dan bahkan cinta terpendam. Tapi tanggapan namja itu cuma emoji tertawa disertai dengan kalimat ‘hahaha’ yang sungguh rasanya membuat Minah ingin melempar ponselnya ke kepala Haneul. Kenapa namja itu tidak peka sih?

Minah bisa saja terang-terangan mengungkapkan perasaannya seperti saat dengan Woo Bin dulu. Tapi belajar dari pengalaman, Minah merasa jika itu bukan langkah yang tepat. Minah tidak ingin Haneul kabur gara-gara sikap dan perlakuan agresifnya. Lagipula Minhyo bilang jika namja lebih suka dengan gadis yang malu-malu kucing. Namja lebih suka memburu, bukannya diburu. Berbekal petuah dari sepupu yang umurnya bahkan dua tahun lebih muda dari dirinya, akhirnya Minah menahan diri dan memilih untuk mengirim sinyal-sinyal cinta. Tapi jika terus seperti ini ia tak tahan juga. Rasanya mulutnya gatal ingin meneriakkan perasaannya pada Haneul.

Minah mengacak rambutnya frustasi. “Haneul sunbae neomu baboya!” rutuknya.

Minah kembali melirik ponselnya, menanti balasan pesan dari Haneul. Sejam yang lalu Minah mengirim pesan berupa ajakan untuk menonton film besok sore. Yah, waktunya memang tidak tepat sih, mengingat Haneul pasti tengah disibukkan oleh ujian, tidak seperti dirinya yang libur karena masih kelas dua. Tapi masalahnya tiket gratis hasil hadiah miliknya tidak bisa menunggu lebih lama. Besok tanggal terakhir penggunaan. Minah tidak mau mengajak teman yang lain. Jika Haneul menolak lebih baik tidak usah menonton sama sekali.

Ponsel Minah berdering pelan. Buru-buru gadis itu meraih ponselnya dan seketika senyumnya tersungging saat mendapati pesan yang masuk berasal dari Haneul. Tapi senyum itu tak bertahan lama. Beberapa detik kemudian senyum sumringah Minah digantikan dengan ekspresi suram begitu mendapati Haneul menolak ajakannya dengan alasan sibuk belajar. Desahan pelan terdengar dari mulut Minah. Ia kecewa, namun tak menyalahkan Haneul. Minah mengerti prioritas Haneul saat ini adalah belajar.

“Balik tidur saja.”

 

*****

 

 

Sungwoo kesal bukan main. Ia tahu dirinya memang bukan murid baik yang menjadi kesayangan para guru dan panutan bagi teman-temannya. Ia termasuk troublemaker. Hobi bolos, tawuran, jarang mengerjakan tugas dan selalu berada diperingkat terbawah. Tapi menjadi pencuri? Jelas itu tak pernah terlintas dipikirannya. Apalagi yang hendak dicuri adalah soal ujian. Sungwoo tahu pasti apa hukuman yang akan ia terima jika nekat mencuri soal ujian. Bukan hanya perkara polisi, tapi juga dikeluarkan dari sekolah. Di keluarkan dari sekolah saat tengah ujian akhir adalah mimpi buruk bagi semua murid, tanpa terkecuali. Sialnya, kebanyakan orang termasuk para guru, malah mencurigai dirinya sebanyak oknum yang berniat mencuri soal. Ia bahkan sempat diinterogasi oleh guru pembina dan Kepala Sekolah.

Semua tatapan selidik yang dialamatkan padanya membuat Sungwoo gerah. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menghapus tuduhan hina tersebut. Sungwoo berjalan dengan langkah gusar menuju kelasnya. Begitu masuk, tatapan penuh selidik serta tuduhan langsung tertuju padanya. Sungwoo melayangkan tatapan tajam nan berbahaya andalannya pada berpasang-pasang mata yang menghakimi dirinya. Predikat Sungwoo sebagai troublemaker ternyata agak sedikit menguntungkan juga. Satu persatu murid mengalihkan pandangan mereka dan lebih memilih untuk tidak mencari gara-gara dengan Hong Sungwoo.

Howon tengah melintasi kelas 3-5 yang merupakan kelas Sungwoo. Melalui jendela ia bisa melihat Sungwoo yang tengah duduk tenang di mejanya. Ekspresi namja itu tampak keruh. Howon tahu alasannya. Ia juga berada disana saat Kepala Sekolah dan guru pembina mengintrogasi Sungwoo, sebab ia turut menjadi tersangka. Posisinya saat ini belum bisa dikatakan aman meskipun Kepala Sekolah dan guru yang tadi mengintrogasinya tidak mendapatkan bukti yang mereka inginkan. Sebab Howon tahu bahwa mereka masih mencurigai dirinya dan Sungwoo serta hendak mencari bukti yang dapat menjatuhkan mereka.

Tiba-tiba sebuah ide melintas dalam pikiran Howon. Sebuah ide yang bisa menyelamatkan dirinya dari tuduhan. Yah, mungkin ide ini sedikit kejam, tapi ia tidak punya pilihan lain kan?

‘Mereka ingin bukti, maka akan kuberikan.’ Batin Howon sambil tersenyum licik.

 

 

*****

 

Jiwon memainkan makanannya tanpa selera untuk sekedar mencicipi. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya, namun yang utama adalah masalah mengenai Hongbin dan Howon. Padahal Jiwon berusaha keras untuk mengabaikan fakta bahwa ia saksi dan tahu pasti siapa yang hendak mencuri soal. Jiwon mendesah kesal. Kesal pada dirinya yang terus memikirkan persoalan tersebut. Desahan napas Jiwon membuat Minseok menfokuskan pandangannya pada Jiwon.

Wae geure? Kau terlihat frustasi.” Tanya Minseok penasaran. “Ada masalah dengan tunangan tercintamu?”

Jiwon menggeleng. “Ini bukan soal Woo Bin. Tapi…” Kalimat Jiwon terhenti. Ia tengah menimbang-nimbang haruskah ia menceritakan soal Hongbin dan Howon pada Minseok. Selama ini Minseok selalu bisa diandalkan. Walaupun terkadang kelakuannya seperti bocah, tapi Minseok selalu bisa diandalkan dalam masa-masa genting.

Baru saja Jiwon hendak membuka mulut, dari ujung mata sebelah kanan ia melihat Hongbin tengah menatapnya tajam. Sial, kenapa harus ada pria itu! Tatapan tajam itu secara tidak langsung merupakan sebuah ancaman, seakan memberi tahu Jiwon jika gadis itu akan selalu diawasi dan membuka mulut sama dengan mencari mati.

“Tapi apa?”

Jiwon menatap wajah Minseok yang diselimuti ekspresi penasaran. Gadis itu lalu menggeleng sembari tersenyum tipis. “Opseo. Bukan hal yang penting sih sebenarnya.”

Minseok tampak belum puas dengan jawaban Jiwon dan Jiwon sadar akan hal tersebut namun Jiwon enggan membahas lebih lanjut. Bunyi bel tanda istirahat berakhir menjadi penyelamat Jiwon. Gadis itu meraih gelas berisi jus jeruknya dan meminumnya hingga setengah. “Ayo!” ajak Jiwon pada Minseok. Mereka berdua berdiri dari meja lalu berjalan menuju pintu keluar kantin. Jiwon berpapasan dengan Hongbin. Pria itu menyunggingkan seulas senyum licik, merasa puas karena berhasil mengintimidasi Jiwon. Jiwon memilih mengabaikannya.

 

*****

 

Hari keempat ujian dan pelaku masih belum ditemukan. Sama seperti hari biasanya, Sungwoo melenggang santai memasuki kelasnya, namun langkahnya otomatis terhenti kala mendapati Kepala Sekolah beserta wali kelasnya, Ham Minji seonsaengnim, berada di kelasnya. Ini aneh. Tidak biasanya Kepala Sekolah mengadakan kunjungan mendadak ke kelas-kelas di jam seperti ini. Apa mungkin karena ini masih minggu ujian? Atau karena hal lain?

Sungwoo membungkuk sopan, lalu masuk ke dalam kelas.

“Hong Sungwoo, ikut ke kantor sekarang!” Ucap Kepala Sekolah dingin. Sungwoo mengernyitkan dahi. Ada apa lagi ini? Perasaan dirinya tengah vakum dari aktivitas badungnya, jadi hal apa yang membuatnya kembali mendapat ‘kehormatan’ untuk masuk ke ruang Kepala Sekolah?

Teman-teman sekelasnya heboh berbisik-bisik, yang menurut Sungwoo sia-sia sebab ia bisa mendengar percakapan mereka.

“Tuh kan, sudah pasti memang dia pelakunya.”

Omo, nekad sekali. Apa tidak takut dikeluarkan dari sekolah?”

Mata Sungwoo terbelalak. Marah, kaget dan kesal. Ia tidak sempat menghadiahkan tatapan maut andalannya pada yeojadeul yang tengah asyik berbisik-bisik jahat tentang dirinya, sebab Minji ssaem langsung menarik tangannya. Ia dibawa paksa ke kantor Kepala Sekolah. Dan entah mengapa, Sungwoo berfirasat jika kali ini ia takkan segampang itu keluar dari sana.

 

 

*****

 

 

“Kau bilang siapa tadi pelakunya?” tanya Jiwon kaget.

Woo Bin dan Haneul menatap gadis itu bingung.

“Hong Sungwoo dari kelas 3-5. Kau terlihat kaget sekali. Jelas-jelas sejak awal dia memang sudah jadi tersangka.”Ucap Woo Bin.

“Ada bukti yang ditemukan sehingga membuat Kepala Sekolah yakin jika Sungwoo pelakunya?” tanya Jiwon.

“Jang seonsaengnim menemukan topi yang dikenakan pelaku di dalam loker Sungwoo. Topinya sama persis. Terdapat sedikit sobekan diujung topi.”

Jiwon termenung. Ini sudah kelewatan. Bisa-bisanya Hongbin dan Howon menimpakan kesalahan mereka pada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Sekarang, apa dirinya masih pantas untuk tutup mulut? Persetan dengan ancaman Hongbin. Jiwon sudah muak dengan kebusukan pria yang selama ini dianggap sebagai malaikat tanpa sayap oleh para guru.

“Bukan Hong Sungwoo pelakunya.”

Haneul dan Woo Bin menatap Jiwon bingung. “Maksudmu?” Tanya Haneul.

Jiwon menatap kedua pria dihadapannya tersebut bergantian. “Hong Sungwoo dijebak oleh pelaku asli.”

 

 

*****

 

“Bukan aku pelakunya! Aku bersumpah bahwa topi itu bukan milikku. Aku tidak tahu bagaimana bisa topi itu berada di dalam lokerku. Pasti… pasti ada yang sengaja menjebakku!” Ujar Sungwoo kesal. Ham Minji mengusap wajahnya dengan gusar. Sungwoo adalah tanggung jawabnya selama mereka berada di lingkungan sekolah. Sudah kewajibannya untuk membela dan menolong Sungwoo. Tapi bukti sudah di depan mata. Ia tak bisa mengelak atau mencari alasan untuk membebaskan Sungwoo. Belum lagi dengan track record Sungwoo yang dipenuhi daftar hitam, jelas itu menjadi penguat tuduhan.

“Semua akan menjadi lebih mudah jika kau mengakui perbuatanmu. Tapi jika kau terus mengelak seperti ini, hukumanmu akan lebih berat.” Kepala Sekolah berkata sembari menatap Sungwoo tajam. Pria paruh baya itu lelah menghadapi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh murid-murid nakal. Lama-lama ia bisa strok jika terus menghadapi persoalan kenakalan murid. Apalagi yang berbau kriminal seperti ini.

Kedua tangan Sungwoo mengepal penuh emosi. Ia tahu hukuman apa yang sedang menantinya. Dikeluarkan dari sekolah. Jika dia masih kelas dua, tentunya Sungwoo takkan segalau sekarang. Masalahnya ia kelas tiga. Sedang ujian pula. Sekarang saja ia terpaksa tidak ikut ujian ekonomi dan sejarah karena harus diinterogasi di kantor Kepala Sekolah. Sunngwoo bersumpah akan membuat perhitungan pada orang yang telah menempatkannya pada posisi sulit seperti ini.

“Orang tuamu sedang dalam perjalanan menuju sekolah.”

Perkataan Minji ssaem semakin membuat Sungwoo panik dan gusar. Tamatlah riwayatnya.

 

 

*****

 

 

“Aku tahu ini kedengarannya mustahil. Tapi sungguh, Howon lah pelakunya dan Hongbin adalah otak dari kejadian ini. Aku dengan jelas mendengarkan percakapan mereka.”

Haneul menghela napas. Ia masih kaget dengan fakta baru yang terkuak dihadapannya. Hongbin, si anak mas para guru, adalah otak utama dari percobaan pencurian soal ujian. Ini gila! Haneul menatap Jiwon. Ia tahu gadis dihadapannya ini tak mungkin berbohong. Tak ada untungnya bagi Jiwon.

“Tapi dengan reputasi dan posisi Hongbin di sekolah ini. Aku tak yakin guru-guru akan percaya. Terlebih tidak ada bukti yang menunjukkan Hongbin pelakunya. Kecuali jika Howon mau mengaku, yang pastinya takkan mungkin ia lakukan.”

“Lalu baiknya bagaimana?” tanya Woo Bin bingung.

Haneul menatap Jiwon dan Woo Bin bergantian. “Hanya ada satu cara, kita buat mereka mengaku. Tapi jelas butuh usaha ekstra. Masalahnya sekarang, kita tidak punya banyak waktu. Semakin lama perbuatan Howon dan Hongbin terkuak, semakin lama pula Sungwoo akan mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Ku dengar kepala sekolah akan memberikan sangsi dikeluarkan pada pelaku pembobolan.” Ucap Haneul.

“Kita harus pancing salah satu dari mereka agar mengaku. Entah itu Howon atau Hongbin.”

 

 

*****

 

 

Hongbin menatap Howon tajam. “Aku tidak peduli dengan bagaimana kau akan membereskan masalah ini. Yang terpenting jangan coba-coba membawa namaku! Dan untuk gadis bernama Jiwon itu, urus dia. Sikapnya agak mencurigakan.

Arasso.

Howon sebenarnya kesal dengan sikap semena-mena Hongbin. Tapi ia sadar bahwa ini terjadi karena keteledorannya. Maka dari itu ia harus memperbaiki keadaan ini. Sejak awal rencana mereka sudah mengalami masalah lantaran Jiwon ternyata tahu mengenai rencana besar mereka. Ditambah lagi dirinya nyaris tertangkap penjaga sekolah saat sedang beraksi. Hongbin benar, ia harus segera membereskan Jiwon. Sepertinya ancaman Hongbin dulu tidak terlalu berpengaruh bagi Jiwon.

 

 

*****

 

 

Tidak biasanya Jiwon keluyuran saat malam hari. Namun kali ini gadis itu merasa penat, bahkan di kamar super nyaman miliknya sendiri. Maka dari itu, Jiwon memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak disekitar taman komplek perumahan untuk melepas penat. Sebelumnya gadis itu sempat mampir ke mini market untuk membeli es krim dan beberapa bungkus cemilan manis. Jiwon berjalan santai sembari memakan es krim stroberi yang tadi dibelinya. Rasa manis, sedikit asam dan sensasi dingin yang terasa dilidahnya cukup membuat perasaan Jiwon menjadi lebih baik. Ternyata benar apa yang sering dikatakan oleh orang-orang bahwa es krim atau makanan manis lainnya memang selalu bisa membuat perasaan semakin baik.

Begitu melewati bagian taman yang agak sepi, Jiwon merasa bahwa ada yang mengikutinya. Sisi defensif gadis itu langsung siaga seiring dengan langkah kakinya yang semakin cepat. Jiwon bahkan sudah tak tertarik untuk menghabiskan es krim stroberi yang mulai meleleh mengotori tangannya. Jiwon hanya ingin pulang ke rumah.

Semakin cepat kaki Jiwon melangkah, semakin cepat pula derap langkah kaki si penguntit terdengar. Sepertinya penguntit itu sudah sadar jika dirinya ketahuan. Jiwon semakin panik. Ditambah lagi dengan suasana remang-remang di taman, meskipun ia tak seorang diri disana. Ada empat orang pria yang tengah berolah raga. Jiwon sudah bertekad jika si penguntit berani menyentuhnya, maka ia akan langsung berteriak sekerasnya.

Baru saja pikiran itu terlintas, seseorang menarik bahu Jiwon…

 

 

-To Be Continued-

 

 

Annyeonghaseyo chingudeul 😀
Maaf banget ya ff ini sempat terbengkalai. Ga cuma ff ini sih, tp semua ff aku 😦 aku lg minim ide dan males banget untuk nulis. Istilah kerennya write’s block level dewa gitu deh T_T.  Part ini mungkin ga seseru atau sebagus yang kalian harapin. But still, i hope you’ll like it 😀 Selamat membaca~

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 9)

  1. Akhirnya dilanjut juga 😊
    Nenek woobin udah sadar ternyata,jiwon kan emang baik haha… part ini cukup menegangkan thor…kira2 itu siapa ya yg jd penguntit jiwon,mudah2an bukan howon.kalau iya jiwon dlm bahaya dong.next thor…makin seru 😊

  2. Akhirnya dapet restu juga dari neneknya Woo Bin.. Dan Minah lagi lope lope di udara nich ama Haneul.. Tapi,, Haneul sadar ga ya..?
    Yang nguntit Jiwon sipa itu..?
    Dan siapa yang narik bahu Jiwon..?
    Semoga bukan Howon..

    Ditunggu part selanjutnya kak..^^ SEMANGAT.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s