Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 6)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun
– Kim Jongin

___________________________________________

“Jadi pacarku, mau?”

Aku terdiam. Di dalam pikiranku aku yakin benar jika Kyuhyun tengah membual. Aku menunggu pria ini tiba-tiba tertawa sambil mengatakan ‘selamat kau tertipu!’. Namun ia tak kunjung melakukan hal tersebut. Alih-alih mengatakan jika ini hanya bualan semata, Kyuhyun malah menatapku intens dan serius. Aku gugup. Apa ini berarti jika ia serius memintaku untuk menjadi kekasihnya?

“Tapi kenapa?” tanyaku lirih.

Kyuhyun menghela napas seraya mengalihkan pandangannya pada langit malam yang cukup cerah. “Aku merasa jika kita cocok. Kita bisa saling melengkapi kekosongan yang ada disini.” Kyuhyun memegang dadanya, dimana jantungnya berdetak. Aku… aku tidak ingin sendiri lagi.” Lirihnya yang sontak membuatku tertegun. Perkataan Kyuhyun begitu membekas dihatiku. Jujur, aku pun merasakan hal yang sama. Tak ingin lagi sendiri. Aku ingin ada yang menemaniku dalam menjalani kehidupan yang menyedihkan ini.

‘Apa Kyuhyun orang yang dikirim Tuhan untuk menemaniku?’

Ku tatap pria dihadapanku ini dengan lekat. Jika diingat-ingat, awal pertemuan kami hingga detik pertemuan kami saat ini, semuannya terlalu remeh jika disebut dengan kebetulan. Pertemuan kami bukan kebetulan, tapi takdir. Semuanya telah diatur rapi oleh Tuhan tentang bagaimana pertemuan pertama kami, pertemuan kedua hingga sekarang. Aku memang masih belum terlalu yakin akan perasaan ini, tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Mencoba untuk menemukan kebahagiaan.

“Aku…”

Ponsel Kyuhyun yang tiba-tiba berdering membuyarkan keberanianku untuk menjawab. Kyuhyun mengambil ponselnya yang tersimpan disaku jasnya, lalu menjawab panggilan tersebut.

“Ibu jangan panik. Aku pulang sekarang.” Ucap Kyuhyun lalu mengakhiri panggilan.

Sepertinya terjadi sesuatu yang gawat. “Ada apa?” tanyaku penasaran. Bagaimanapun juga aku mengenal ibunda Kyuhyun dan pernah menjadi penghuni sementara di rumah keluarga Cho. Wajar jika aku punya rasa khawatir dan peduli terhadap mereka.

“Eunha demam. Aku harus pulang sekarang. Ayo, kuantar kau pulang.” Ujar Kyuhyun.

Aku menurut dan mengikuti Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya. Mendengar Eunha sakit membuatku ikut cemas. Aku merindukan bayi cantik itu. Semoga ia lekas sembuh.

 

*****

 

Keesokan harinya aku menghubungi Kyuhyun oppa untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan Eunha. Syukurlah, menurut kabar dari Kyuhyun oppa kondisi Eunha sudah jauh lebih baik. Demamnya sudah turun dan sebenarnya sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, hanya saja ibu Kyuhyun oppa belum berani dan memilih agar Eunha tetap dirawat di rumah sakit sampai ia benar-benar sembuh. Pembicaraanku dan Kyuhyun oppa hanya sebatas mengenai kondisi kesehatan Eunha. Aku sama sekali tidak menyinggung soal permintaannya tempo hari. Kurasa waktunya belum pas. Namun tak urung hati ini berharap agar Kyuhyun oppa kembali mengulang pemintaannya.

Langkah kakiku terhenti di ruang lab biologi. Niat awalku untuk mengambil buku catatan yang tertinggal mendadak lenyap kala aku melihat sosok Sehun tengah berada di dalam sana. Entah apa yang ia lakukan. Sehun tidak sendiri. Ada seorang lagi yang bersamanya di dalam lab. Awalnya aku tak dapat melihat dengan jelas sosok gadis itu karena posisinya yang agak tertutupi oleh patung anatomi organ tubuh. Tapi begitu posisi gadis itu bergeser, aku pun bisa melihat sosoknya lebih jelas.

Dia Jeon Somi. Siswi kelas 2-3 yang begitu populer di kalangan namjadeul karena merupakan model dan trainee idol di sebuah agensi terkemuka. Melihat dari gerak-geriknya sepertinya mereka tengah terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sebaiknya aku tidak mengganggu mereka. Maka dari itu, aku berniat pergi sebelum mereka menyadari keberadaanku.

Aku buru-buru bersembunyi dibalik dinding begitu mendengar suara pintu yang dibuka disusul dengan suara derap langkah kaki yang berlari. Somi keluar dari dalam lab sambil berlari kecil. Aku sempat melihatnya menyeka air matanya. Sehun keluar beberapa detik kemudian dengan raut wajah dingin khas dirinya, betul-betul bertolak belakang dengan ekspresi Somi tadi. Sehun berjalan berlawanan arah dengan Somi. Ia tidak berniat untuk mengejar gadis yang entah menangis karena apa.

Satu hal yang baik aku maupun Sehun tidak tahu adalah bahwa saat itu merupakan terakhir kalinya kami melihat Somi.

 

 

*****

 

 

Sekolah gempar dengan kabar duka yang datang dari kelas 2-3. Jeon Somi, si primadona sekolah, ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya. Menurut kabar yang ku dengar Somi meninggal karena kehabisan darah lantaran luka sayatan yang cukup dalam di pergelangan tangan kirinya. Diam-diam aku mencuri pandang ke arah Sehun, ingin tahu bagaimana reaksinya. Sehun duduk diam dibangkunya. Ekspresi wajahnya terlihat kaget dan merasa bersalah. Aku menjadi semakin penasaran ada hubungan apa diantara mereka berdua, dan juga alasan apa yang membuat gadis seperti Somi nekad mengakhiri hidupnya. Selama ini yang kulihat ia adalah gadis yang periang dan selalu dikelilingi oleh teman-teman yang begitu memujanya.

Kenyataan menamparku. Selama ini Somi yang kulihat hanyalah kulit luarnya saja. Aku tidak tahu apapun tentang kehidupan pribadinya. Selama ini ia memang terlihat selalu ceria dan bahagia, tapi belum tentu kenyataannya seperti itu, bukan? Bukahkah ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang paling banyak tertawa sebenarnya justru adalah orang yang paling banyak menangis?Orang-orang yang seperti itulah yang sebenarnya paling butuh dihibur.

Selama ini aku selalu melihat orang dari luarnya saja sehingga aku selalu berpendapat bahwa orang-orang yang tampak memiliki kehidupan yang sempurna sama sekali tidak punya masalah. Seharusnya aku belajar dari kasus Kyuhyun. Pria yang kuanggap memiliki segalanya, tapi malah ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Mungkin Somi juga sama seperti Kyuhyun. Sayangnya tak ada yang menyelamatkannya.

Sekarang aku bertanya-tanya, apa seandainya kemarin Sehun mengejar Somi maka keadaan akan berbeda saat ini?

Aku kembali melirik Sehun yang tampak tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mungkin dia sedang bertanya-tanya mengenai hal yang sama. Seandainya ia mengejar Somi, apa Somi masih ada disini? Apa seandainya ia memutuskan untuk mengejar Somi gadis itu takkan mengambil keputusan untuk bunuh diri?

 

*****

 

Aku memainkan makanan di piringku. Menu makan malam kami, aku dan ibuku, hari ini adalah nasi putih dan kimchi. Aku tidak tahu kenapa malam ini ibu tidak pergi bekerja seperti biasa. Sebenarnya ada rasa penasaran terselip dibenakku, namun aku urung bertanya karena yakin jika aku bertanya ibu pasti akan memulai sesi mengeluhnya. Dan aku sedang tak ingin mendengar keluhan apapun. Ibu makan dengan tenang, tidak peduli denganku yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk mangkuk nasiku. Bukan hal yang aneh. Ibu memang tidak peduli lagi padaku.

“Temanku, ah bukan teman, tapi adik kelasku di sekolah bunuh diri. Sekolah heboh gara-gara itu. Dia meninggal karena kehabisan darah. Dia menyayat pergelangan tangannya. Kedua pergelangannya.” Ucapku tiba-tiba. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku memutuskan untuk menceritakan perihal Somi pada ibu. Mungkin aku hanya ingin sekedar melihat reaksinya.

Ibu menghentikan makannya. Masih dengan sumpit dikedua tangannya, ia menatapku dengan dahi berkerut.

“Bunuh diri?” ibu bertanya. Kalimat pertama yang ia ucapkan padaku hari ini.

Aku mengangguk, berpura-pura jika kasus Somi adalah hal biasa dan tidak berpengaruh sama sekali terhadap diriku. ”Ya. Yang kudengar dia bunuh diri di rumahnya. Dia menyayat nadi di kedua pergelangan tangannya sambil merendam diri dalam bath up. Dia kehabisan darah.” Ucapku sambil menatap ibu.

Dahi ibu masih berkerut. “Kau mengenalnya?” tanya ibu sembari menatapku intens.

“Kami tidak saling mengenal. Aku hanya tahu nama dan kelasnya saja. Itu pun karena dia hoobae yang cukup populer di sekolah.”

“Kelakuan orang zaman sekarang aneh-aneh. Semudah itu mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup. Orang-orang lemah.”

Napsu makanku semakin hilang mendengar ucapan ibu yang secara tidak langsung turut menyindirku. Aku merasa tersentil dengan perkataan ibu. Ibu tidak tahu bahwa masalah yang dianggapnya sepele dan remeh ternyata bisa menjadi masalah yang begitu pelik bagi orang lain. Sering terjadi, hal yang kita anggap sepele tapi ternyata begitu berpengaruh bagi orang lain. Kita jarang menyadari bahwa sekecil apapun perbuatan kita terhadap seseorang ternyata memberikan pengaruh bagi orang tersebut.

“Orang-orang seperti itu… mereka bukan lemah, tapi mereka putus asa dan tidak ada yang bisa membantu. Mungkin bagimu tindakan mereka konyol, tapi ibu tidak tahu kepedihan apa yang mereka alami sehingga mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut. Kau tidak berada dalam posisi mereka.”

Ibu agak terperangah mendengar perkataanku. Biar saja! Sejak tadi mulutku sudah gatal ingin mengomentari pendapat ibu. Setelahnya tak ada lagi percakapan diantara kami. Itu lebih baik. Dan sialnya pikiranku kembali terpusat pada Somi dan Sehun. Aku penasaran apakah kematian Somi ada hubungannya dengan Sehun. Bukannya aku menuduh, tapi waktunya begitu pas. Tapi pertanyaannya, apa yang sudah Sehun lakukan pada Somi?

 

*****

 

Akhirnya setelah beberapa hari, aku kembali bertemu Kyuhyun. Sebenarnya bisa dikatakan sebagai pertemuan yang tidak diduga. Kami bertemu di atas jembatan. Ya, jembatan yang sama dengan dimana kami pertama kali bertemu. Mungkin ini pertanda jika kami berjodoh?

Ku pikir tadinya kami akan canggung, tapi ternyata perkiraanku meleset. Kyuhyun tetap bersikap sebagaimana biasanya. Tenang dan diam. Aku menanyakan kabar Eunha padanya. Bukan pertanyaan basa-basi karena aku sungguh khawatir dan peduli pada bayi cantik itu. Sayangnya aku belum sempat menjenguk Eunha karena sibuk sekolah dan terutama bekerja. Kyuhyun memaklumi itu. Anehnya Kyuhyun sama sekali tidak mengungkit soal permintaannya untuk berpacaran tempo hari. Entah karena dia lupa atau bisa jadi dia berubah pikiran. Sedikit perasaan kecewa hinggap dihatiku.

“Aku ada tender besar besok. Tapi aku khawatir.” Ucap Kyuhyun yang membuat perhatianku langsung terpusat padanya.

Wae?” tanyaku penasaran.

Kyuhyun tampak menghela napas sebelum menjawab, “Putri pemilik tender ini pernah dijodohkan denganku, tapi ku tolak. Kami sempat makan malam bersama. Hanya satu kali lalu aku menolaknya. Dia sangat marah saat itu, dan aku cukup maklum. Tapi yang ku khawatirkan, bagaimana jika karena hal sepele seperti itu lantas mempengaruhi hasil tender besok?” Ujar Kyuhyun. Dia tampak gundah dan sialnya aku tak tahu harus bersikap dan berkata apa. Aku bukan pribadi yang pandai mengeluarkan kata-kata indah nan menenangkan untuk menghibur orang.

“Kau harus percaya diri. Yang paling penting adalah lakukan yang terbaik yang kau bisa. Soal hasil serahkan pada Tuhan karena pada akhirnya Tuhan yang menjadi penentu.” Ucapku.

Ya Tuhan, perkataan macam apa itu? Sama sekali tak membantu. Sudah kubilang kan aku ini buruk dalam menghibur orang. Kyuhyun tersenyum kecil ke arahku. Tangan kanannya terangkat menuju kepalaku dan kemudian mengacak rambutku pelan.

Gomawo.” Ucapnya disertai dengan seulas senyuman hangat, membuat pipiku merona. Pesona Cho Kyuhyun memang luar biasa. Dan jauh dilubuk hatiku, aku berharap dia kembali memintaku untuk menjadi pacarnya karena sekarang aku tahu pasti apa jawaban yang akan kuberikan padanya.

 

*****

 

“Yang ku dengar, sehari sebelum Somi bunuh diri ia sempat berbicara empat mata dengan Sehun sunbaenim. Tapi kemudian ia malah nangis tersedu-sedu.” Ucap salah seorang murid kelas dua kepada teman-temannya. Aku diam-diam mencuri dengar pembicaraan ketiga murid tersebut.

Murid yang berambut panjang menimpali ucapan temannya, “Iya, yang ku dengar juga begitu. Katanya Somi menyatakan cintanya pada Sehun sunbaenim tapi malah ditolak. Dia patah hati dan memutuskan untuk bunuh diri.”

“Sesepele itukah?” tanya murid ketiga yang sejak tadi menjadi pendengar. Wajahnya tampak tak yakin dengan cerita temannya yang berambut panjang.

“Yak! Itu bukan hal yang sepele. Patah hati itu menyakitkan tahu! Apalagi ditolak oleh orang yang sudah bertahun kau sukai. Kasihan sekali Somi. Padahal dia cantik. Dia bisa mendapatkan namja lain dengan mudah, tapi hatinya terlalu setia pada Sehun sunbaenim. Dan aku tak habis pikir kenapa Sehun sunbaenim bisa-bisanya menolak yeoja yang begitu sempurna seperti Somi, eo? Sulit dimengerti.”

Murid pertama yang membuka obrolan mengangguk setuju. “Ku rasa standar yeoja Sehun sunbaenim terlalu tinggi. Eh, tapi ada juga rumor beredar yang mengatakan jika…” murid tersebut menyuruh kedua temannya untuk mendekatkan kepala ke arahnya. Suaranya mengecil, namun masih bisa terdengar olehku yang berdiri di balik rak buku di belakang ketiga yeojadeul ini duduk. “…Somi sebenarnya hamil dan meminta pertanggung jawaban dari Sehun sunbaenim tapi Sehun sunbaenim menolak untuk bertanggung jawab makanya dia kemudian bunuh diri.”

Kedua murid yang menjadi pendengar nyaris berteriak kaget. “Ya Tuhan! Kau dengar ini dari mana?” tanya murid ketiga.

“Dari murid-murid kelas tiga. Rumor ini sedang hot-hotnya diperbincangkan. Belum ada bukti sih, tapi kurasa alasan ini masuk akal untuk menjadi penyebab Somi bunuh diri. Jelas ini bukan alasan sepele dari sekedar cinta ditolak.”

“Eh, tapi tapi… rasanya tidak mungkin jika Sehun sunbaenim sejahat itu.” Si murid ketiga kembali membuka suara.

“Entahlah, ini kan masih sekedar rumor. Tapi yang jelas kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja kan. Dari luar dia bisa tampak baik, tapi kita tidak tahu bagaimana isi hati dan pikirannya.”

Aku menggelengkan kepala tak percaya. Sehun menghamili Somi? Tidak mungkin! Sehun bukan pria yang seperti itu. Dia orang baik. Aku yakin itu.

 

*****

 

Bermacam rumor mengenai Sehun dan Somi semakin banyak beredar di sekolah. Yang paling parah adalah rumor mengenai Sehun yang menghamili Somi dan menolak bertanggung jawab. Sehun tidak bereaksi banyak. Ia hanya akan merespon jika ada yang bertanya langsung padanya. Sayangnya kebanyakan orang lebih suka membuat asumsi sendiri daripada bertanya langsung pada yang bersangkutan. Tapi semenjak rumor tersebut beredar, Sehun menjadi sangat pendiam dan terkesan menarik diri dari pergaulan di sekolah. Aku bahkan sudah tak pernah melihatnya ikut bermain basket lagi dengan teman-teman sekelas.

Aku masih berada di kelas meskipun bel pulang sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu. Masih ada catatan biologi yang harus aku selesaikan. Aku memang agak lambat dalam urusan catat mencatat. Sejenak aku menghentikan aktivitas mencatatku dan melihat kondisi kelas yang sudah sepi. Hanya tinggal beberapa orang termasuk diriku di dalam kelas. Bedanya mereka tetap tinggal bukan karena harus menyelesaikan catatan, tapi karena urusan bergosip mereka yang belum selesai.

Tiba-tiba dari pintu kelas muncul Kyungri yang tampak ngos-ngosan. “Yak yak dengar! Ini hot news!” serunya, membuat beberapa murid yang tadinya sedang asyik bergosip langsung menghentikan aktivitas mereka dan beralih menatap penuh minat ke arah Kyungri.

Mwoya?” tanya Yuna.

Kyungri mengambil napas sejenak, “Itu… tadi ibunya Somi datang ke sekolah dan tujuannya untuk bertemu Sehun! Bahkan tadi ku lihat mereka sempat berbicara empat mata.”

“Wah! Jangan-jangan gossip itu memang benar. Uri Sehun… omo maldo andwae!”

“Sekarang mereka dimana?” tanya Sena.

“Di taman dekat lapangan basket. Entah mereka masih disana atau sudah pergi.”

Dengan tergesa aku menyelesaikan catatanku yang tinggal satu kalimat. Begitu selesai buru-buru aku merapikan buku dan peralatan tulisku. Setelahnya aku berlari kecil meninggalkan kelas diiringi tatapan aneh dari Yuna dan teman-temannya. Aku sengaja mengambil jalan memutar untuk sampai ke gerbang utama sekolah yang mana harus melewati lapangan basket outdoor. Ya, tujuanku memang untuk memastikan ucapan Kyungri tadi. Entah untuk apa aku melakukan ini. Toh, sebenarnya tidak ada untungnya bagiku. Tapi hatiku tergerak untuk mencari tahu.

Langkahku melambat kala sampai di taman samping lapangan basket. Aku mengamati sekeliling taman, namun tak nampak tanda-tanda Sehun disini. Mungkin mereka sudah pergi. Sekolah yang penuh dengan murid-murid haus gossip jelas bukan tempat yang tepat untuk berbicara masalah serius, terlebih menyangkut kematian Somi. Aku menghela napas. Setelah sekali lagi memastikan jika Sehun tak berada disini, aku pun memutuskan untuk pulang. Aku tidak boleh terlambat sampai di toko roti.

Siapa sangka jika orang yang sedari tadi aku cari malah muncul dihadapanku. Sehun keluar dari sebuah café dengan wajah lesu. Ia menoleh ke kanan dan seketika itu kami bertatapan. Mulutku tak tahan ingin menanyakan keadaannya. Tapi ekspresi tak bersahabat itu menahan keinginanku. Tanpa berkata apa-apa Sehun berlalu pergi. Aku hanya bisa menatap sendu punggungnya yang perlahan menjauh.

“Apa kau baik-baik saja?” bisikku yang hanya di dengar oleh angin.

 

*****

 

Faktanya rata-rata keluarga atau orang terdekat korban bunuh diri justru tidak tahu bahwa si korban ingin bunuh diri dan butuh pertolongan. Mereka tahu jika orang terdekat mereka putus asa dan membutuhkan pertolongan justru disaat orang tersebut telah melakukan bunuh diri. Mereka terlambat. Ironis memang. Bagaimana orang terdekat justru tidak tahu apa-apa. Padahal si korban sudah menunjukka tanda-tanda. Tak sedikit pula yang berharap agar ada orang yang menyadarinya dan mencegah mereka untuk melakukan bunuh diri. Setidaknya orang tersebut dapat memberikan alasan atau menunjukkan betapa kehadiran si korban sangat penting dan dibutuhkan. Termasuk diriku.

Orang-orang seperti kami hanya butuh alasan kuat kenapa kami harus tetap hidup. Seberapa penting dan diperlukannya keberadaan kami. Hanya itu. Tapi sayangnya tak banyak yang mengerti dan mau mengerti. Intinya mereka tidak peduli. Tapi aku tak mau menjadi seperti itu. Makanya begitu mendapati pesan dari Kyuhyun, tanpa pikir panjang aku langsung berlari meninggalkan rumah. Tak peduli jika jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tak peduli dengan gelapnya malam. Tak peduli dengan dinginnya angin malam yang begitu menusuk. Aku harus bertemu Kyuhyun. Tidak boleh terlambat atau aku akan menyesal.

 

From : Kyuhyun Oppa

Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik, tapi selalu kegagalan yang kutemui. Apa ini yang dinamakan takdir? Apa ini yang dinamakan nasib? Tidak ada manusia yang menginginkan ketidakadilan di dunia ini, begitupun aku. Tapi nyatanya dunia selalu tidak adil padaku. Mungkin bagi orang lain kegagalan bukanlah akhir, namun bagiku kegagalan adalah akhir dari segalanya. Tidak ada lagi yang tersisa bagiku. Tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap tinggal.

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s