Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 10)

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

____________________________________________________

Jiwon nyaris berteriak panik begitu ada tangan yang menyentuh bahunya. Namun tak lama gadis itu mengurungkan niatnya begitu mendengar suara yang cukup familiar. Rasa lega semakin menyelimuti Jiwon begitu mendapati sosok Woo Bin dihadapannya.

“Kau menakutiku!” Ujar Jiwon antara merasa lega dan kesal disaat yang bersamaan.

Woo Bin tidak banyak berkata, namun ekspresi wajahnya menandakan jika sesuatu yang gawat telah terjadi, membuat perasaan was-was kembali menyelimuti Jiwon.

“Ada apa?” tanya Jiwon.

“Ayo kuantar kau pulang. Akan kujelaskan sambil jalan.” Jawab Woo Bin.

Keduanya lantas berjalan pulang menuju rumah Jiwon dengan jemari yang bertautan. Jiwon bahkan tak sadar jika jari mereka bertautan. Gadis itu terlalu fokus mendengar perkataan Woo Bin yang seketika sukses membuat wajahnya pucat disertai bulu kuduk yang berdiri. Oh, ini bahkan lebih seram dari cerita horror tentang hantu di gudang sekolah. Seseorang telah mengikutinya!

Jiwon panik, “Jadi… jadi aku diikuti seseorang?! Apa kau lihat siapa?” tanya Jiwon panik.

Woo Bin menggeleng, “Sayangnya tidak. Orang itu memakai topi yang nyaris menutupi seluruh bagian wajahnya. Aku tidak tahu sudah sejak kapan ia mengikutimu, tapi yang jelas dia sedang mencari waktu yang pas untuk melakukan sesuatu padamu.” Ujar Woo Bin. Pria itu lalu menatap Jiwon dengan agak kesal. “Lagipula apa yang kau pikirkan sih dengan berkeliaran malam-malam seperti ini?”

Jiwon mendesah kesal. “Ini bahkan belum larut. Aku sedang sial.”

“Untuk sementara kuminta kau jangan berpergian seorang diri. Apalagi di malam hari seperti ini. Kita tidak tahu apa lagi yang sedang si brengsek itu rencanakan.”

“Arasso.” Jiwon menghela napas pasrah. Ia tidak punya pilihan lain. Jiwanya sedang terancam sekarang. Entah apa rencana yang sedang dijalankan Hongbin dan Howon. Yang jelas, apapun rencana mereka tujuannya adalah untuk membungkam dirinya. Jiwon sangat yakin dengan hal tersebut.

 

*****

 

Besoknya Woo Bin dan Haneul membahas masalah mengenai penguntitan yang dialami Jiwon disela-sela istirahat permainan futsal mereka.

“Jelas mereka mengincar Jiwon. Jika sudah begini, kita harus sesegera mungkin membongkar kejahatan mereka. Mereka pasti takkan berhenti untuk membungkam Jiwon.” Ujar Haneul sembari mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Pria itu cukup kaget mendengar cerita Woo Bin mengenai Jiwon yang diikuti oleh orang tak dikenal. Menurutnya ini sudah sangat kelewatan batas. Duo Lee itu harus segera diringkus.

“Si brengsek itu!” Geram Woo Bin. Dalam hati ia sudah bersumpah untuk membuat perhitungan dengan Hongbin dan Howon jika terjadi sesuatu yang buruk pada Jiwon.

“Jiwon harus selalu ditemani. Kita tidak boleh memberikan celah sedikitpun pada mereka. Dan rencana kita untuk menjebak mereka agar mengaku harus segera dijalankan.” Ucap Haneul.

Woo Bin menenggak habis minuman kalengnya lalu meremasnya dengan geram hingga kaleng tersebut remuk tak lagi berbentuk. Matanya memincing tajam, tampak penuh amarah. “Berani dia sentuh Jiwon, aku bersumpah akan menghabisinya dengan tanganku sendiri.”

Keduanya lalu terdiam. Masing-masing tengah memikirkan bagaimana cara untuk menjebak Hongbin dan Howon hingga mereka mengakui perbuatan mereka. Menjebak. Kedengarannya memang sederhana dan mudah, tapi nyatanya tidak seperti itu. Hongbin bukan orang bodoh. Tidak mudah untuk menjebaknya dan memancingnya untuk mengakui semua kejahatan yang sudah ia lakukan. Salah-salah malah mereka yang kena getahnya. Ditambah lagi sepertinya Lee Hongbin punya kaki tangan yang berbahaya. Woo Bin dan Haneul harus memikirkan rencana mereka secara matang.

 

*****

 

Sebenarnya Krystal tahu bahwa Minseok tidak 100 persen menyukainya. Mungkin jika diskalakan dari 1 sampai 100, perasaan Minseok padanya hanya sekitar 50 atau 60 persen. Sisanya? Tersimpan rapi untuk Jiwon. Krystal tahu mengenai fakta itu sudah lama, tapi selama ini ia mengabaikannya demi kepentingan dirinya sendiri. Ia menyukai Minseok dan ingin memiliki pria itu hanya untuk dirinya. Ia tak sudi untuk berbagi. Mengkonfrontasi Minseok mengenai perasaan pria itu yang sebenarnya dirasa Krystal bukanlah ide yang baik. Hanya akan membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Gadis cantik berambut panjang itu menatap kekasihnya lama, membuat Minseok mengernyitkan dahi bingung. “Kenapa?” Tanya Minseok seraya meraba wajahnya, mencari-cari sesuatu yang aneh seperti saus tomat yang menempel dipipi atau jerawat besar yang mungkin tanpa ia sadari tengah bermukim diwajahnya.

“Apa yang membuatmu suka padaku?” tanya Krystal yang mana membuat Minseok heran karena kekasihnya itu tak pernah menanyakan hal-hal semacam ini sebelumnya. Bahkan Krystal tak pernah sekedar menanyakan apa ia terlihat cantik ketika menggunakan gaun baru atau ketika ia mengubah model rambutnya. Krystal tidak seperti kebanyakan yeoja yang kerap menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menurut kaum adam tidak penting.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

Wae? Apa ada yang aneh dengan pertanyaanku?” Krystal balik bertanya sambil menatap Minseok datar, membuat aura dingin gadis itu begitu terasa. “Kurasa pertanyaanku adalah pertanyaan yang normal ditanyakan oleh kebanyakan yeoja.”

Minseok menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. “Hmm… aku…”

Krystal mengangkat tangan kanannya. “Geumanhe! Tidak perlu dijawab. Aku hanya iseng bertanya.” Ujar gadis itu, lalu kembali menikmati fettucini di piringnya.

Dahi Minseok semakin mengerut bingung menghadapi tingkah Krystal yang belakangan agak absurd. ‘Mungkin tamu bulanannya sedang berkunjung.’ Pikir Minseok sederhana. Sama sekali tidak terlintas dipikirannya jika sang kekasih tengah meragu pada dirinya. Pada perasaannya. Pada hubungan mereka.

 

*****

 

Orang tua Sungwoo masih berusaha agar putra sulung mereka tidak dikeluarkan dari sekolah. Mereka memohon-mohon kepada kepala sekolah agar mempertimbangkan keputusan tersebut. Apalagi menurut mereka bukti yang menunjuk Sungwoo sebagai pelaku terlihat begitu lemah. Sisi tv sekolah sama sekali tidak menampilkan wajah Sungwoo. Hanya topi yang dipakai si pelaku yang menjadi bukti. Besar kemungkinan jika itu bukan Sungwoo. Mereka yakin putra mereka dijebak. Namun sayangnya kepala sekolah masih tetap pada pendiriannya. Masalah ini bukan hal yang sepele.

Sungwoo berdiri di depan gerbang sekolahnya, menatap lurus ke arah bangunan megah yang telah menjadi tempatnya menimba ilmu selama hampir 3 tahun. Dan sekarang ia harus menerima fakta bahwa ia didepak dari sekolah ini atas perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Remaja berusia 18 tahun itu mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Ia bersumpah akan mencari pelaku sialan yang telah mengkambing hitamkan dirinya. Dan jika ketemu, Sungwoo akan menghancurkan orang itu dengan tangannya sendiri.

Batin Sungwoo mengatakan bahwa ini semua ada sangkut pautnya dengan Howon. Ia ingat bagaimana ekspresi puas Howon saat dirinya digiring oleh kepala sekolah untuk dilakukan interogasi.

“Lee Howon…” desis Sungwoo geram.

 

*****

 

Jiwon berjalan sendirian sembari membalas pesan yang dikirimkan oleh Minseok. Gadis itu tertawa kecil membaca pesan-pesan konyol beserta sticker lucu yang dikirim Minseok. Langkah kaki Jiwon membawa dirinya menuju perpustakaan yang berada di gedung berbeda dari kelasnya sehingga Jiwon harus melewati lapangan basket untuk sampai kesana. Suasana perkarangan sekolah tampak sepi karena hampir semua murid masih berada di kelas masing-masing untuk mengerjakan ujian. Jiwon menyelesaikan ujiannya lebih cepat dari teman-teman di kelasnya. Maka dari itu, untuk membunuh waktu hingga ujian berikutnya dilaksanakan, Jiwon memutuskan untuk ke perpustakaan.

“Awas!”

Jiwon tersentak kaget mendengar teriakan menggelegar tersebut. Belum selesai rasa terkejutnya, seseorang mendorong tubuhnya hingga jatuh terjerembab ke lantai semen.

PRANG!

Wajah Jiwon pucat pasi melihat pecahan pot bunga yang berserakan di lantai. Posisinya persis di tempat ia berdiri beberapa saat lalu. Jantung Jiwon berdegub kencang. Seandainya ia masih berdiri disana pasti pot bunga berukuran sedang itu sudah menimpa kepalanya tanpa ampun. Tanpa sadar Jiwon meraba puncak kepala. Gadis itu bergidik ngeri membayangkan kepalanya tertimpa pot bunga yang terbuat dari tanah liat tersebut.

Gwenchana?!”

Pertanyaan yang sarat rasa khawatir serta panik tersebut mengalihkan Jiwon dari pikirannya. Ia segera menoleh dan mendapati penolongnya adalah seseorang yang tidak asing baginya. Bang Minah, hoobae yang sekaligus mendeklarasikan diri sebagai saingannya dalam mendapatkan Woo Bin.

Neo neun gwenchana?” Minah kembali bertanya, tanpa repot-repot memanggil Jiwon dengan sebutan sunbae seperti layaknya hoobae lainnya. Lagipula, sejak kapan Bang Minah bersikap sopan pada Jiwon?

Jiwon menjawab dengan tergagap bahwa dirinya baik-baik saja, membuat Minah seketika menghembuskan napas lega. Keduanya lalu bangkit dari posisi terduduk di lantai. Beberapa murid yang kebetulan telah menyelesaikan ujian berkerumun di sekitar Jiwon dan Minah. Mereka mendengar bunyi berdebum yang nyaring beberapa saat lalu dan cukup kaget melihat ada pot bunga yang nyaris mencelakai primadona di sekolah mereka ini. Beberapa orang namja langsung menghujani Jiwon dengan pertanyaan yang sama yang dijawab pula oleh Jiwon dengan jawaban serupa.

Jiwon-ah gwenchana?”

Jiwon-ssi neo neun gwenchana?”

“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih.” Jawab Jiwon sopan.

“Bagaimana bisa pot ini jatuh dari atas?” tanya salah seorang murid bernama Woo Jin sembari menengadah pada balkon dimana pot bunga tersebut jatuh. Balkon tersebut merupakan balkon dari ruang komputer. Ruang komputer tersebut sedang tidak digunakan hari ini yang berarti ruangan tersebut kosong.

Jiwon dan Minah ikut menengadah. Minah tampak bingung, sedangkan Jiwon tampak cemas. Jiwon tahu jika ini bukan kebetulan semata. Ia bisa merasakannya. Tapi apa mungkin Hongbin dan Howon bertindak sejauh ini.

Batin Jiwon berteriak, ‘Ya, itu mungkin sekali! Kau saksi kunci mereka dan mereka pasti tahu bahwa kau ikut campur dalam urusan mereka. Mereka ingin menyingkirkanmu!’

 

*****

 

Jiwon tadinya tidak ingin menceritakan peristiwa mencekam tadi pada Woo Bin, namun ternyata pria itu sudah tahu berkat mulut-mulut biang gossip di sekolah. Butuh usaha keras bagi Haneul dan Jiwon untuk menahan Woo Bin agar tidak mendatangi Hongbin dan menghajar pangeran sekolah itu dengan membabi buta. Jika sampai terjadi tentunya akan memunculkan masalah baru. Woo Bin tampak tak terima dengan reaksi Haneul dan Jiwon. Pria itu sudah gatal ingin menghajar wajah angkuh Hongbin sampai takkan ada yang bisa mengenali wajah itu lagi. Mencari gara-gara dengan Jiwon sama dengan menyulut api perang padanya.

“Dia tahu aku tidak akan tinggal diam.” Ucap Jiwon.

Haneul menghela napas. “Kita harus sesegera mungkin menjebak mereka agar mau mengaku.” Pria itu melipat kedua lengannya di dada. “Aku punya ide.” Ujar Haneul, namun terlihat keraguan diwajahnya. “Tapi… ini mungkin akan berbahaya bagi Jiwon.” Haneul menatap Jiwon. Raut wajah gadis itu berubah cemas.

“Memang apa?” tanya Jiwon penasaran.

“Kau menjadi umpan untuk…”

“Tidak!” Woo Bin berujar tidak setuju.

Jiwon tidak peduli dan tetap ingin mendengar rencana Haneul. Untuk sekarang hanya ide itu yang mereka punya. Setidaknya ia harus mendengar keseluruhan ide untuk bisa memutuskan apakah akan nekad menjalankannya atau memilih untuk memikirkan ide lain. Jiwon sadar bahwa tidak banyak waktu yang tersisa.

“Jiwon akan menjadi umpan. Ajak Hongbin untuk bertemu dan bilang bahwa kau punya bukti yang menunjukkan jika dia dan Howon adalah pelaku. Bilang jika kau punya foto atau rekaman saat kau memergoki mereka di perpustakaan. Dan setelah bertemu, usahalah untuk memancing agar Hongbin mau mengaku. Rekam semua pengakuannya. Aku dan Woo Bin juga akan disana, bersembunyi. Kami akan langsung keluar begitu keadaan gawat.” Jelas Haneul.

Sekali lagi Woo Bin mengerluarkan protes tak setujunya. Jiwon diam. Gadis itu tengah memikirkan rencana yang baru saja diutarakan Haneul. Memang beresiko untuk dirinya. Memikirkannya saja sudah membuat Jiwon bergidik ngeri. Tapi mereka tidak punya rencana lain. Jadi Jiwon membulatkan tekadnya, bersiap menghadapi segala resiko dari rencana ini.

Jiwon menatap Woo Bin dan Haneul bergantian. “Kalian juga akan disana menjagaku, kan? Aku takkan benar-benar sendirian menghadapi Hongbin dan Howon?” tanyanya.

“Ya, tentu saja.”

“Kalau begitu ayo kita jalankan rencana itu!”

Woo Bin langsung protes. “Ini tidak main-main, Jiwon-ah. Ini berbahaya. Aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi resiko itu.”

“Aku tahu. Tapi apa kau punya ide lain sekarang? Tidakkan? Ini harus dilakukan! Suka atau tidak. Aku sudah lelah hidup dalam terror. Aku ingin masalah ini lekas berakhir. Tidakkah kau menginginkah hal yang sama? Aku butuh dukunganmu…”

Woo Bin tahu dia tidak bisa lagi membantah. Ia kalah suara.

 

*****

 

“Menurutku kejadian itu aneh sekali. Seperti disengaja. Tapi itu tidak mungkin ya. Kita berada di lingkungan sekolah yang terjamin aman. Kan tidak mungkin tiba-tiba ada orang yang mengincar Jiwon. Ah, tapi mungkin saja sih. Dia kan menyebalkan.” Ucap Minah.

Haneul tertawa kecil melihat Minah yang sepertinya masih menyimpan rasa kesal pada Jiwon. “Tapi kau menolongnya.” Ujar Kang Haneul, membuat Minah menatapnya kesal.

“Aku ini yeoja baik hati. Tentu saja aku menolongnya. Kalau bukan karena diriku, entah sudah bagaimana bentuk Kim Jiwon itu.” Minah geleng-geleng kepala mengingat kejadian menegangkan yang terjadi siang tadi di sekolah. Gadis itu menatap Haneul dengan mata memincing seraya mencodongkan tubuhnya pada Haneul yang duduk diseberang meja. “Apa Kim Jiwon sedang terlibat dalam suatu hal berbahaya, eo? Yeonghwa choreom (seperti di dalam film). Soljikhi marhaebwa (katakan yang sebenarnya).” Minah berusaha mengorek informasi dari Haneul mengingat akhir-akhir ini pria itu sering bersama Woo Bin dan Jiwon. Seperti kembar tiga. Dan jujur, itu membuatnya cemburu sekaligus penasaran. Apalagi dirinya tidak berada di sekolah selama kelas tiga ujian jadi tidak bisa memantau secara langsung. Tadi kebetulan saja ia sedang berada di sekolah untuk mengembalikan buku-buku perpustakaan.

“Jika kau berharap akan mendengar cerita seperti film-film thriller, sayang sekali kau kurang beruntung. Tidak ada hal yang seperti itu. Jiwon baik-baik saja. Kejadian tadi memang agak aneh dan mencurigakan, tapi aku tak tahu apa-apa.”

Minah mendesah kecewa. Entah ia harus percaya pada Haneul atau tidak.

“Cepat habiskan es krimmu! 5 menit lagi filmnya di mulai.” Ujar Haneul.

Minah menuruti perintah Haneul. Gadis itu melahap es krimnya lebih cepat. Ia tak mau ambil pusing soal Jiwon. Toh, tidak ada untungnya. Mungkin memang tidak ada cerita seru dibalik kejadian tadi siang. Itu murni kecelakaan. Lagipula, Jiwon bisa terlibat dalam masalah segawat apa sih sampai ada yang berniat mencelakainya. Ini bukan novel atau film. Jiwon hanya sedang bernasib sial. Yah, nasib sial.

 

*****

 

Pintu ruang Reseach Club memang tertutup rapat, namun suara beberapa orang yang tengah bercakap-cakap menjadi bukti bahwa ruangan itu tidak kosong. Jiwon menghela napas perlahan. Tangan kanannya terangkat ke arah pintu ruang klub lalu mengetuk pintu ruangan tersebut. Tanpa menunggu balasan dari penghuni ruangan, Jiwon membuka pintu ruangan tersebut. Sontak gadis itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana. Jiwon tidak terlalu peduli dengan berpasang-pasang mata yang menatapnya penuh minat. Fokus gadis itu tertuju pada Lee Hongbin, yang ternyata juga fokus pada kedatangan Jiwon. Hongbin menatap Jiwon tajam, menunjukkan ketidaksukaannya pada kehadiran Jiwon yang tak terduga.

“Ada yang bisa kami bantu, Jiwon-ssi?” tanya Solbi ramah.

Jiwon menatap Solbi sembari tersenyum ramah. “Aku ada perlu dengan Hongbin-ssi.” Jawabnya, membuat orang-orang disana menatap Jiwon dan Hongbin bergantian. Para yeoja penasaran setengah mati ada urusan apa sehingga Jiwon ingin menemui Hongbin. Setahu mereka Jiwon dan Hongbin tidak dekat. Sama sekali tidak dekat.

Hongbin masih menatap Jiwon tajam. “Ada perlu apa? Bicarakan disini saja.” Ujar Hongbin.

“Oh baiklah. Ini soal kejadian yang di perpustakaan.” Jiwon menatap Hongbin seraya menyunggingkan senyum mengejek. Dia yakin pasti Hongbin akan berpikir ratusan kali untuk membicarakan soal kejadian itu disini, disaksikan oleh member Research Club.

“Ayo ikut aku!” tukas Hongbin, membuat Jiwon tersenyum mengejek. Persis dugaannya, Hongbin tak seberani itu untuk menunjukkan kebusukannya.

Hongbin berjalan melewati Jiwon, diikuti oleh gadis itu dalam diam. Hongbin baru menghentikan langkahnya begitu mereka sudah cukup jauh dari ruang klub, berjaga-jaga jangan sampai ada yang mencuri dengar pembicaraan rahasia mereka.

“Aku tidak tahu kau ini pantasnya disebut pemberani atau malah tolol. Kau pikir aku main-main?”

“Aku tahu ancamanmu tidak main-main. Pot bunga yang kemarin cukup bisa mencelakaiku.” Ujar Jiwon. Hongbin menyeringai mendengarnya.

Jiwon menatap sosok dihadapannya itu tajam. Ia muak sekali melihat wajah angkuh Hongbin. Tangannya gatal ingin mengacak-acak wajah itu. “Sebenarnya… hah, aku tak ingin melakukan ini. Tapi perbuatanmu padaku benar-benar keterlaluan. Tadinya aku ingin diam, tapi jika sudah begini maka tak ada salahnya untuk buka mulut.”

Hongbin mendengus, “Kau tidak punya bukti.”

“Begitukah menurutmu?” tanya Jiwon seraya menatap Hongbin dengan ekspresi penuh misteri. Bibir gadis itu menyunggingkan senyuman manis, yang membuat Hongbin tiba-tiba merasa terancam. Jiwon tertawa kecil. “Kau pasti pikir aku tak punya bukti apa-apa. Well, bodoh sekali jika aku sampai tidak mengabadikan pertemuan rahasia dua pentolan sekolah. Apalagi menyangkut soal sekolah. Pastinya akan menjadi hot topic.”

Hongbin menarik kerah kemeja Jiwon, membuat gadis itu sempat tersentak kaget. Namun bukan Jiwon namanya jika ia tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan takutnya. Alih-alih menampakkan ekspresi terintimidasi, Jiwon justru memandang kedua manik mata Hongbin tanpa gentar. Dirinya masih berada dilingkungan sekolah. Hongbin tentunya takkan sebodoh itu untuk mencelakai Jiwon disaat siapa saja bisa memergoki mereka.

“Jangan main-main denganku, brengsek! Meskipun kau yeoja bukan berarti aku takkan tega padamu.” Ujar Hongbin.

“Tidak perlu kau bilang, aku sudah melihatnya sendiri.” Jiwon melirik tangan Hongbin yang tengah mencengkram kerah kemejanya. Sadar bahwa situasi tidak menguntungkan baginya, Hongbin melepaskan cengkramannya dengan sedikit menghentak Jiwon. Jiwon merapikan kerah kemejanya dengan gaya santai seakan hal yang barusan terjadi sama sekali tidak memberika efek apapun pada dirinya. Padahal nyatanya dalam hati Jiwon menghela napas lega karena terbebas dari cengkraman Hongbin.

“Apa maumu sekarang? Melaporkanku?”

“Itu bisa jadi pilihan. Tapi aku punya pilihan lain. Aku akan memberikan bukti itu padamu asal kau berjanji untuk tidak menerorku lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan masalah ini. Sejak awal aku sudah tutup mulut, namun kau saja yang selalu mengawasiku. Aku cukup terganggu dengan itu, terlebih dengan terrormu beberapa hari ini.”

Kali ini Hongbin tertawa. Tepatnya tertawa sinis. “Kau pikir aku bodoh? Kau jelas-jelas tidak berniat untuk tutup mulut. Aku tahu kau juga sedang merencanakan sesuatu dengan teman-temanmu itu. Apa aku salah?”

“Baiklah kalau kau memang tidak percaya. Mungkin kau akan percaya jika rekaman itu sampai kepada kepala sekolah. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu. Aku serius saat kubilang tak ingin ikut campur pada urusanmu selama kau tidak mengusikku. Tapi nyatanya kau sudah sangat mengusik hidupku.”

Jiwon membalikkan badannya, hendak beranjak pergi. Hongbin masih bergeming, sedangkan Jiwon dalam hati berharap-harap cemas. Jika Hongbin tak terpancing, maka rencana mereka gagal total. Jiwon mengepalkan kedua tangannya sembari berdoa agar Hongbin termakan jebakannya.

‘Ku mohon Tuhan… bantu aku…’

Jiwon semakin melambatkan langkah kakinya. ‘Panggil aku…’

“Tunggu!”

Jiwon reflek menghentikan langkah kakinya. Senyumnya mengembang. Jiwon mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar saat membalikkan tubuhnya menghadap Hongbin. Keduanya saling bertatapan sekaligus sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

Langkah awal sukses…

 

*****

 

Jiwon meminta Hongbin untuk menemuinya di sekolah tiga jam setelah sekolah bubar. Akan tetapi Hongbin meminta agar pertemuan mereka diubah menjadi malam hari di sekolah, sebagai bentuk antisipasinya agar sekolah benar-benar kosong dan Jiwon tidak akan menjebaknya. Awalnya Jiwon ragu. Ditambah Woo Bin yang berusaha meyakinkan gadis itu agar membatalkan niatnya. Woo Bin jelas masih belum bisa sepenuh hati merelakan tunangannya melakukan hal nekad dan berbahaya. Tapi bukan Jiwon namanya jika bisa dengan mudah menyerah. Ingat, nenek Woo Bin yang super angker saja berhasil ia taklukan. Jadi Jiwon cukup percaya diri dengan rencana ini.

Sebelum benar-benar turun ke medan pertempuran, Haneul memastikan bahwa alat perekam suara dan kamera tersembunyi yang akan Jiwon gunakan nanti dapat beroperasi dengan baik. Pria itu turut membekali Jiwon dengan panic botton, semacam tombol yang akan berbunyi nyaring jika ditekan. Nantinya itu akan Jiwon gunakan jika tiba-tiba keadaan menjadi gawat. Woo Bin dan Haneul akan bersembunyi di dekat tempat Jiwon dan Hongbin bertemu sehingga jika sewaktu-waktu Jiwon terpaksa menggunakan panic button, mereka bisa menolong Jiwon lebih cepat.

Alat perekam suara ditempatkan di kalung Jiwon, sedangkan kamera tersembunyi berbentuk bolpoin tersebut ditempatkan di saku blazer pink milik Jiwon. Woo Bin dan Haneul tidak masuk ke perkarangan sekolah bersama Jiwon karena mereka tahu bahwa Howon diam-diam mengintai gerbang sekolah. Jadi Woo Bin dan Haneul terpaksa memanjat pagar sekolah setinggi kira-kira dua meter untuk bisa masuk. Untungnya kedua pria tersebut sudah menyiapkan tangga yang mereka sembunyikan di semak-semak belakang sekolah. Lompat dari atas tembok setinggi dua meter bukanlah hal yang asyik dilakukan.

Jiwon turun dari mobilnya, membiarkan sang supir tetap tinggal disana. Ngomong – ngomong Jiwon sudah mewanti-wanti supirnya agar siap sedia begitu mendengar suara panic button.

“Mesin mobilnya jangan dimatikan.” Jiwon kembali mengingatkan sang supir, yang dibalas dengan anggukan mantap oleh supir yang telah mengabdi pada keluarganya sejak Jiwon masih duduk dibangku sekolah dasar.

Jiwon menatap sekeliling perkarangan sekolah. Matanya menyipit begitu melihat pos satpam yang gelap gulita. Entah kemana satpam yang seharusnya menjaga keamanan sekolah. Kalau seperti ini keadaanya, tidak heran jika Howon sampai bisa menerobos ke dalam kantor kepala sekolah dengan mudah. Setelah ini Jiwon akan mengusulkan untuk mencari keamanan baru di sekolah. Yang sekarang jelas-jelas cuma makan gaji buta.

Janjinya mereka akan bertemu di gedung serba guna sekolah. Jiwon memang yang mengusulkan untuk bertemu disana, karena selain ruangannya luas tanpa sekat, sehingga meminimalisir adanya oknum-oknum tak diinginkan bersembunyi disana dan menunggu waktu yang tepat untuk menyergapnya. Gedung serba guna ini juga letaknya masih tergolong dekat dengan gerbang utama sekolah, jadi jika terjadi sesuatu yang gawat dirinya bisa kabur dengan lebih mudah daripada jika berada di dalam gedung sekolah yang besar, luas dan berliku.

Jiwon meronggoh saku blazernya guna mengambil ponsel miliknya yang barusan bergetar. Jiwon mengusap layarnya, menampakkan notifikasi pesan, yang langsung gadis itu buka.

 

From : Woo Bin

Kami sudah diposisi.

 

Jiwon mengambil napas dalam-dalam lalu melangkahkan kakinya menuju gedung serba guna yang tampak remang karena hanya diterangi oleh sebuah lampu yang tak seberapa watt-nya. Sembari berjalan, kedua mata Jiwon mengamati sekitar sambil memikirkan kejadian yang akan terjadi nanti. Jiwon tidak akan mengelak jika ada yang mengatakan ia ketakutan sekarang. Bahkan sedikit bagian dari dirinya ingin kabur begitu masih ada kesempatan. Kesempatan itu tertutup rapat begitu Jiwon masuk ke dalam gedung dan mendapati Hongbin tengah berdiri di tengah-tengah ruangan sambil menatapnya. Pria itu sendirian. Tidak ada Howon atau kaki tangan Hongbin lainnya. Untuk sesaat Jiwon bisa menghela napas lega. Perlahan namun pasti Jiwon berjalan menuju Hongbin. Pria itu berdiri dengan angkuh sembari menatap Jiwon.

“Mana?” tanyanya begitu Jiwon tiba dihadapannya.

Jiwon berdeham. “Sabar, akan kuberikan padamu. Tapi sebelum itu, tidakkah kau hutang permintaan maaf padaku? Kejadian pot bunga jatuh itu. Kau bisa saja membunuhku.” Tukas Jiwon kesal.

Hongbin menjawab dengan tenang. “Ya, tentu bisa. Tapi kau masih tetap disini, kan. Bernapas dan bersikap menyebalkan.”

“Apa harus sejauh itu? Apa kau sadar bahwa kau sedang menghancurkan dirimu sendiri dengan segala perbuatanmu ini? Aku tak mengerti kenapa kau mau repot-repot mengeluarkan uang banyak dan mempertaruhkan reputasi untuk mencuri soal ujian. Kau sudah pintar, tak perlu melakukan itu semua. Jika yang melakukan sekelompok murid sejenis Howon, aku takkan heran. Tapi ini kau!” Jiwon berusaha semaksimal mungkin untuk memancing Hongbin. Tapi si pangeran sekolah itu tetap tenang, membuat Jiwon jadi gusar.

“Ah, jangan-jangan semua prestasimu selama ini juga hasil curang ya. Wah, kau ternyata tidak jauh beda dengan para pecundang di sekolah. Orang sepertimu tidak pantas dikagumi. Kau—“

“TUTUP MULUTMU!” seru Hongbin. Pria itu menatap Jiwon tajam, seperti ingin melumat gadis itu sampai habis tak bersisa. “Cepat serahkan bukti yang kau sebutkan tadi siang! Aku tidak punya waktu untuk mendengar ceramah tak pentingmu.”

Hongbin mengenyitkan dahi. “Atau jangan-jangan sejak awal bukti itu tak pernah ada?” tebaknya disertai seringaian sinis.

Jiwon mengancungkan ponselnya. “Semua ada disini. Aku bisa saja berubah pikiran dan mengirimkan ini ke group sekolah biar semua murid tahu kebusukanmu.” Ujar Jiwon menantang. Gadis itu memasang wajah angkuh yang tak kalah menyebalkannya dari Hongbin. Biar saja, pikir Jiwon. Biar Hongbin tahu sebagaimana mengesalkan berhadapan dengan orang berwajah angkuh.

“Jadi, apa yang membuatmu tidak percaya diri dengan otak cemerlang yang selama ini kau banggakan itu, hah? Oh, atau mungkin otakmu sudah tak bisa dipakai berpikir jernih lagi ya, makanya kau mencuri soal ujian agar bisa mendapatkan nilai tertinggi. Apa ibumu tahu soal ini? Ia pasti akan—“

“KUBILANG DIAM, KIM JIWON!” Hongbin berseru marah, membuat Jiwon nyaris melompat kaget, yang untungnya bisa ia tahan. Karena jika tidak, runtuhlah image tangguh yang sejak tadi mati-matian ia bangun. “Kau pikir mudah untuk mengikuti semua ekspektasi orang-orang? Kau pikir mudah untuk tetap bertahan diperingkat pertama disaat kau dikelilingi oleh banyak kecurangan?”

“Apa maksudmu?” tanya Jiwon.

“Aku bukan satu-satunya disini yang melakukan kecurangan. Yang kulakukan memang rendah, tapi kepala sekolah kita jauh lebih rendah. Aku tidak akan melakukan ini kalau bukan karena dia yang memulai semuanya. Asal kau tahu, kepala sekolah menjual soal ujian kepada beberapa murid atas permintaan orang tua mereka. Murid-murid yang bahkan tidak pernah memikirkan pelajaran itu bisa mendapatkan nilai bagus tanpa belajar. Apa menurutmu itu adil?!”

Jiwon terdiam. Fakta yang baru saja terkuak begitu mengagetkannya, dan Jiwon yakin jika Woo Bin dan Haneul yang saat ini turut mendengarkan percakapan mereka juga tak kalah kaget.

“Kenapa kau tidak melapor?” tanya Jiwon setelah sadar dari kekagetannya.

“Si brengsek itu dilindungi oleh komite sekolah yang isinya orang tua dari murid-murid sialan itu. Bahkan suara dari ibuku pun takkan cukup membantu.”

“Kau takkan tahu sebelum mencoba.”

Hongbin tertawa sinis. “Kim Jiwon, kita ini hidup di dunia yang seperti ini, penuh ketidakadilan. Jadi terbiasalah. Sekarang berikan bukti yang kau maksud, dan kau bisa pergi dengan tenang karena aku takkan mengusikmu lagi. Tapi jika kau bohong, jangan salahkan aku kalau bersikap kasar. Aku tidak suka dipermainkan. Apalagi oleh seorang yeoja.” Tukas Hongbin.

Jiwon menjaga ekspresi wajahnya tetap angkuh, berusaha semaksimal mungkin meyakinkan Hongbin bahwa dirinya memang memiliki bukti-bukti yang dapat menghancurkan Hongbin dalam sekejab. Jiwon berusaha menjaga agar tetap berada diposisi teratas, alias posisi penting yang membuat Hongbin tak bisa berkutik selain menuruti kata-katanya.

Tapi ekspresi tenang milik Jiwon tidak bertahan lama. Suara keributan terdengar jelas dari luar ruangan. Tubuh Jiwon menegang. Gadis itu menoleh ke arah Hongbin yang ternyata tengah menatap dirinya dengan senyum sinis sarat akan ejekan.

“Kau benar-benar cari mati ya.” Ucap Hongbin dingin.

Dan Jiwon, bolehkah ia merasa panik sekarang?

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 10)

  1. Akhirnya dilanjut juga 😍
    Ugh…makin seru ceritanya,yang terakhir deg-degan baca nya.gk nyangka kepala sekolahnya kek gitu 😤apa hongbin tau ya kalau dia sedang di jebak jiwon?next thor…semoga jiwon tdk dlm bahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s