Chapters · KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 7)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun

____________________________________

Hanya ada satu tempat yang terpikirkan olehku untuk mencari keberadaan Kyuhyun. Jembatan tempat kali pertama kami bertemu. Aku berharap akan menemukan Kyuhyun disana. Jika tidak, entah kemana aku harus mencari pria itu. Masih dengan menggunakan piyama yang dilapis dengan hoodie biru muda kesayanganku, aku berlari menuju jembatan. Jantungku berdebar-debar begitu kencang hingga terdengar sampai ke telinga. Rasa takut dan cemas menyelimutiku. Bagaimana jika aku terlambat? Bagaimana jika Kyuhyun oppa tidak berada disana? Bagaimana… Bagaimana…

Beragam pikiran buruk muncul dalam pikiranku. Sekuat tenaga aku berusaha menghempaskan beragam pikiran buruk itu dan menggantinya dengan pemikiran positif.

Kyuhyun pasti akan baik-baik saja. Ia harus baik-baik saja!

Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di dahiku. Napasku masih tersenggal dan suaranya terdengar semakin jelas seiring dengan melambatnya langkah kakiku. Disana, di atas tembok jembatan yang tingginya nyaris sedada orang dewasa, Kyuhyun berdiri tegak, sama sekali tidak menghiraukan hembusan angin yang cukup kencang. Justru aku yang was-was, takut jika hembusan angin itu dapat melempar tubuh Kyuhyun ke dasar sungai dan menghantam bebatuan disana. Kyuhyun tidak terlihat takut atau gugup. Ia tampak… natural. Seakan-akan berdiri di atas sana sudah menjadi hal sering yang ia lakukan.

Ah, aku lupa. Ini memang bukan pertama kalinya. Pemandangan ini mengingatkanku pada pertemuan pertama kami nyaris tiga bulan silam. Seperti de javu, aku kembali melihat pria malang ini berdiri di atas sana, siap untuk melompat kapan saja.

“Kyuhyun oppa…” suaraku serak ketika memanggil namanya.

Kyuhyun tetap berdiri tegak, sama sekali tidak menoleh ke arahku meski ia berbicara padaku. “Lagi-lagi aku menjadi orang gagal. Apapun yang kulakukan, sekeras apapun usahaku itu tak ada artinya. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan ekspektasi berlebihan yang orang-orang tujukan padaku. Semakin besar harapan yang mereka tujukan padaku, semakin berat pula beban yang kutanggung.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia menegadahkan wajahnya menatap langit malam yang begitu kelam. “Kau tahu, sejak dulu aku tak pernah tahu apa tujuan hidupku. Semuanya sudah diatur oleh orang tuaku. Awalnya aku tak terlalu mempermasalahkan itu. Tapi lama-kelamaan ada yang terasa mengganjal dalam hatiku. Seperti ada bagian yang hilang. Aku tak pernah merasa benar-benar senang dan puas dengan keberhasilan yang pernah ku raih. Semua terasa salah.”

Aku mengerti perasaan Kyuhyun. Aku juga seperti itu, sebelum keinginan untuk pergi dari ibu dan mulai hidup mandiri muncul.

“Tapi tidak harus begini caranya.” Ujarku pelan. Mataku berkaca-kaca. Hati ini terasa sakit dan sesak. Aku ingin memeluk sosok tegap namun rapuh itu. Aku ingin bisa meringankan bebannya meski sedikit. Perlahan aku berjalan mendekati Kyuhyun. “Ku mohon, jangan begini…” pintaku padanya.

Kyuhyun menoleh ke arahku. Matanya tampak merah. Ia menangis, membuat hatiku semakin sakit. “Tapi aku tidak sanggup lagi. Aku lelah menjalani kehidupan yang bahkan bukan milikku.” Suara Kyuhyun terdengar begitu lelah.

Dan akhirnya isakanku keluar. “Aku berjanji… aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendiri. Kau bilang kau lelah dengan kehidupan ini, kan. Nado! Aku juga merasa begitu. Tapi aku takkan menyerah begitu saja karena aku tahu bahwa ada alasan mengapa aku berada disini. Ada alasan dibalik setiap takdir yang Tuhan gariskan pada kita. Bersama-sama kita akan mencari tahu alasan itu. Alasan kenapa kita pantas untuk mempertahankan kehidupan yang menyedihkan ini. Maka dari itu… ku mohon…”

Kyuhyun terdiam. Mungkin ia tengah meresapi kata-kata ku tadi. Aku bahkan tak menyangka bahwa aku bisa melontarkan kalimat motivasi seperti itu. Terkadang hal-hal yang reflek kita lakukan disaat keadaan mendesak begitu diluar prediksi. Memang benar seseorang akan mengetahui batas kemampuan yang dimilikinya saat berada dalam keadaan terdesak. Karena dalam keadaan terdesak diri kita akan mati-matian berusaha untuk bertahan. Seperti yang kulakukan sekarang, berusaha untuk membuat Kyuhyun bertahan hidup.

“Oppa…” lirihku sambil menatap sosok Kyuhyun yang masih bergeming diposisinya. Jemariku terulur ke arah Kyuhyun, berharap ia segera meraihnya. “Percaya padaku. Meskipun semua orang pergi meninggalkanmu, tapi aku tetap akan berada disisimu. Aku tidak butuh Cho Kyuhyun yang sempurna. Kau bisa tetap menjadi dirimu saat bersamaku. Aku takkan menuntutmu untuk berubah menjadi yang kuinginkan. Aku hanya ingin Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menatap uluran tanganku. Aku tahu batin pria ini tengah bergejolak. seketika rasa lega langsung menyelimutiku begitu tangan Kyuhyun yang lebih besar dariku menyambut uluran tanganku. Aku dapat merasakan betapa dinginnya tangan Kyuhyun. Kyuhyun melompat turun dari tembok pembatas jembatan dan dalam sekejap ia menarikku dalam pelukannya yang erat. Aku membalas pelukan Kyuhyun tak kalah erat disertai tangisan yang seberapa keras pun aku berusaha tahan namun urung berhasil.

“Jangan tinggalkan aku…” suara lirik Kyuhyun terdengar di telingaku. Aku mengangguk sembari mengeratkan pelukan kami. Aku berjanji untuk takkan meninggalkan Kyuhyun kecuali dia yang memintaku untuk pergi. Semua ini kulakukan bukan hanya semata-mata untuk mencegahnya melompat dari jembatan. Bukan juga karena belas kasihan. Tapi karena aku peduli padanya. Karena aku butuh dia. Karena aku sadar bahwa aku mencintainya…

 

******

 

Kami tidak langsung pulang ke rumah. Kyuhyun bilang ia enggan untuk berada di rumah dan bertemu kedua orang tuanya dalam kondisi seperti ini. Lagipula aku juga tak ingin meninggalkan Kyuhyun disaat perasaannya masih belum terlalu baik. Aku takut pemikiran buruk itu kembali muncul di kepalanya. Maka dari itu, alih-alih pulang ke rumah, kami justru berjalan-jalan tak tentu arah sebelum pada akhirnya kami memutuskan untuk menghangatkan diri di sebuah café yang beroperasi 24 jam. Tak banyak pengunjung saat kami masuk ke dalam café sederhana tersebut. Hanya ada segelintir orang yang semuanya namja dan sepertinya mereka mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah, terlihat dari tumpukan buku yang ada di atas meja.

Aku dan Kyuhyun sengaja mengambil tempat di pojok ruangan, yang jauh dari jangkauan mata orang-orang disini. Kami butuh privasi serta keadaan tenang. Aku beranjak dari kursiku menuju tempat pemesanan minuman. Americano untuk Kyuhyun dan Cappucino untukku. Setelah mendapatkan pesanan, aku kembali ke mejaku dan Kyuhyun. Wajah Kyuhyun masih pucat dan kedua bola matanya masih belum menampilkan sinar kehidupan. Sejak tadipun ia lebih banyak diam dan hanya sesekali membalas perkataanku.

Ku letakkan cangkir berisi Americano di depan Kyuhyun. Ia masih diam dengan pandangan agak menunduk. Rasanya aku ingin masuk dan menyelami pikiran pria ini. Aku ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan.

“Diminum, nanti dingin.” Ucapku pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kami sejak menapakkan kaki ke dalam café.

Kyuhyun tidak menjawab, namun perlahan ia meraih cangkir Americano miliknya kemudian menyesap minuman hangat berkafein itu sedikit. Yah, setidaknya ia tidak mengabaikanku. Mengikuti Kyuhyun, aku pun menyesap minumanku dalam diam. Kyuhyun butuh ketenangan. Aku yakin dia akan menceritakan detail masalahnya kala ia siap. Untuk sekarang biarlah aku menemaninya dalam diam.

 

*****

 

Suasana sekolah di pagi hari memang selalu tenang. Hal tersebut yang membuatku selalu bersemangat untuk datang lebih pagi ke sekolah. Dan biasanya aku selalu menjadi yang pertama datang di kelasku. Tapi hari ini berbeda. Saat tiba di kelas, aku melihat Sehun sudah duduk dibangkunya dengan posisi kepala menelungkup di atas meja. Entah ia sedang tidur atau hanya sekedar beristirahat sejenak. Tapi ini tak lazim. Sehun yang ku kenal bukan seperti ini. Sehun yang biasanya takkan mau membuang-buang waktu seperti ini.

Aku ingin mendekati, namun aku cukup sadar diri. Mood Sehun sepertinya sedang tidak bagus dan aku tak ingin membuatnya bertambah buruk.

Akhirnya aku memilih untuk berjalan ke mejaku sembari berusaha meminimalisir suara-suara yang bisa muncul akibat pergerakanku. Aku tak ingin mengusik Sehun dengan kehadiranku. Tapi sepertinya Sehun sadar dengan kehadiran orang lain di ruangan ini. Terbukti dengan tubuhnya yang sempat menegang walaupun ia tetap bergeming diposisinya.

Hari ini tepat satu minggu kepergian Somi. Teman-teman sekelas gadis itu membuat memorial untuk mengenang sosok idola di kelas mereka tersebut. Anggota mading pun juga turut membuat memorial sederhana untuk Somi dengan memuat foto gadis itu beserta ucapan-ucapan bela sungkawa dari murid-murid di sekolah. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, Somi adalah murid populer di sini meskipun ia baru berada di kelas 11. Aku sempat melewati lokasi memorial Somi di mading dan terkesima dengan banyaknya bunga serta ucapan bela sungkawa yang berikan oleh murid-murid di sekolah. Hal yang sama dan bahkan lebih memukau tampak di kelas Somi. Meja bekas gadis itu yang sekarang tak berpenghui penuh dengan bunga lily putih dan bunga krisan. Beberapa orang gadis yang kutebak adalah teman Somi tampak menangis sesegukan di samping meja kosong itu.

Aku melewati kelas yang berkabung itu sambil tak kuasa berpikir. Akankah ada yang menangisi jika aku pergi?

Tapi siapa?

Aku tidak punya teman dekat, tidak punya kekasih. Ibuku sendiri bahkan begitu membenciku.

Tanpa bisa ku tahan terselip sedikit rasa iri pada Jeon Somi, pada gadis yang seminggu lalu mengakhiri hidupnya. Aku tahu ini tak pantas. Aku sendiri kesal dengan rasa iri ini.

Hari ini berjalan dengan normal, normal dalam artian aku tetap menjadi korban bully dari gang Jongin. Tapi aku tak terlalu peduli selama yang mereka lakukan masih tergolong dalam batas wajar. Setidaknya menurutku. Aku sadar betul bahwa tak ada yang namanya wajar dalam hal bully. Tapi entahlah, mungkin ini efek terbiasa. Aku berjalan menyusuri koridor lantai dasar. Suasana sekolah sudah sepi mengingat jam pulang yang sudah berlalu sejak satu jam yang lalu. Saat hendak melewati papan mading, yang sekaligus menjadi tempat memorial Somi, aku menemukan pemandangan tak biasa.

Aku melihat Sehun tengah berdiri di depan memorial Somi. Aku tak dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajahnya. Tapi aku tahu bahwa Sehun turut berduka atas kepergian gadis itu. Ku putuskan untuk memutar arah, sengaja ingin membiarkan Sehun sendiri. Ku rasa itu yang dibutuhkan olehnya saat ini.

 

*****

 

Sejak percobaan bunuh diri yang dilakukan Kyuhyun, aku menjadi tahu bagaimana rapuhnya kondisi mental Kyuhyun. Karena itu aku menjadi intens untuk menghubunginya, sekedar menanyakan kabar dan basa-basi lainnya. Setidaknya dengan begitu aku tahu dia masih bernapas. Aku akan menjadi cemas jika pesan yang kukirimkan tak kunjung mendapat balasan. Pikiranku pasti dihampiri oleh bermacam hal mengerikan.

Kyuhyun sudah kembali ke rumah, namun ia masih menghindari kedua orangtuanya. Ku pikir itu lebih baik daripada dia luntang lantung diluaran sana atau memilih tinggal di hotel sebab tak ada yang mengawasinya. Orang seperti Kyuhyun tidak dalam kondisi yang bisa dibiarkan sendiri. Aku bersiap-siap pulang begitu jam kerjaku di toko roti selesai. Sebenarnya hari ini aku ada tawaran untuk menjadi baby sitter, namun dengan terpaksa ku tolak. Alasannya memang masih tak jauh-jauh dari Kyuhyun. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.

Mobil Kyuhyun menyambutku begitu keluar dari toko. Tanpa ragu aku langsung masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Aku menyapa Kyuhyun sembari tersenyum manis. Tak menunggu lama, Kyuhyun pun melajukan mobilnya ke tempat yang bahkan tak ku ketahui. Aku telah meletakkan kepercayaan penuh pada pria yang tengah mengemudi disampingku ini.

Pantai menjadi alasan mobil Kyuhyun melaju di atas jalanan Incheon. Ia membuka jendela disisi kemudinya serta jendela disisiku, membuat angin segar pantai menerpa wajah kami. Rasanya menyenangkan saat wajahmu diterpa angin sejuk dari segala arah.

“Apa yang akan kita lakukan di pantai malam hari begini?” tanyaku penasaran. Biasanya orang pergi ke pantai karena ingin bermain di pantai, berenang atau sekedar duduk-duduk sambil melihat sunset. Tapi berhubung ini sudah malam rasanya ketiga aktivitas tersebut tak bisa dilakukan.

“Makan seafood. Aku lapar.” Jawab Kyuhyun, membuatku tersenyum kecil dan merasa agak gemas.

“Makan bisa memperbaiki suasana hati.” Ucap Kyuhyun lagi.

Aku setuju dengan pendapatnya itu. Terkadang makanan bisa memperbaiki mood yang rusak. Apalagi jika makanan manis. Tapi aku tak tahu apa seafood dapat semanjur coklat atau es krim. Aku belum pernah mencobanya sebelumnya.

Pantai Eurwangni di Incheon menjadi tujuan kami. Disini banyak terdapat restoran seafood yang selalu ramai pengunjung, baik warga lokal maupun turis. Biasanya jika sedang musim panas di pinggiran pantai ini banyak dipasang tenda-tenda oleh para wisatawan yang ingin bermalam menikmati keindahan pantai di malam hari sambil pesta kembang api. Kami masuk ke salah satu restoran berdesain sederhana namun cukup terkenal ini. Setelah mendapat tempat serta memesan makanan, aku dan Kyuhyun duduk diam sembari mengamati sekitar.

“Kau pasti menganggapku manusia yang menyedihkan.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Aku menatapnya. “Kita… kita manusia yang menyedihkan.” Ralatku.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Dua orang yang menyedihkan duduk berhadapan sambil menikmati seafood. Betapa menyedihkannya.” Kali ini Kyuhyun tertawa kecil. Aku ikut tertawa mendengar pembicaraan tidak jelas ini. Kami benar-benar menyedihkan.

 

*****

 

“Kakakku meninggal tak lama setelah melahirkan bayinya. Dia bunuh diri, terlalu lelah dengan kehidupannya yang sudah berantakan.”

Aku kaget mendengar penuturan Kyuhyun, namun tetap diam membiarkannya meneruskan cerita. Selama ini ku kira ibu Eunha meninggal karena komplikasi pasca melahirkan Eunha. Tak ku sangka bahwa penyebabnya jauh lebih kelam dari itu.

“Kedua orang tuaku memaksanya menikah dengan pria pilihan mereka disaat ia telah memiliki kekasih. Dengan egoisnya mereka mengabaikan fakta itu dan melakukan segala cara agar Ahra noona menikah dengan pria pilihan mereka, yang ternyata tak lebih dari bajingan brengsek yang hobi selingkuh dan menyiksa Ahra noona. Berkali-kali Ahra noona mencoba kabur dari suaminya dan datang meminta pertolongan pada ayahku. Tapi ayahku memilih menutup mata dan mengembalikan Ahra noona pada suaminya. Permintaan noona untuk bercerai pun selalu ditentang. Kau tahu apa alasannya? Semata-mata demi kelangsungan kerja sama perusahaan. Noona sudah terlalu lelah hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Aku selalu merasa bersalah tiap mengingat noona. Sejak kecil ia selalu melindungiku dan menjagaku, tapi aku tak bisa melakukan apapun untuknya. Aku gagal melindunginya.”

Aku menggenggam tangan Kyuhyun, berusaha menenangkan dirinya. Jemari Kyuhyun terasa begitu dingin. Sedingin hatinya. Kyuhyun membalas genggaman tanganku. Ia lalu mengubah posisi duduknya menjadi berbaring dengan pahaku sebagai bantal kepalanya. Kedua tangan kami yang masih saling bertautan ia letakkan di atas dadanya. Kyuhyun memejamkan matanya, mungkin berusaha untuk mengistirahatkan diri sejenak. Aku membiarkannya. Untuk membunuh waktu aku mengamati interior kamar hotel yang saat ini kami tempati. Kyuhyun bilang dia ingin melihat matahari terbit di pantai. Ku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku belum pernah melihat matahari terbit di pantai sebelumnya. Lagipula besok adalah hari libur yang berarti jadwalku kosong. Aku sudah mengirim pesan pada ibu bahwa aku tidak pulang karena harus mengerjakan tugas kelompok di rumah teman. Ibu hanya membalas dengan satu kata pendek ‘Ya’. Ia tak repot-repot menanyakan dimana rumah temanku dan kapan aku akan pulang ke rumah. Ia bahkan tak sadar jika sebenarnya aku sudah tak memiliki teman sekolah yang sudi mengajakku menginap.

Ibu tidak peduli sama sekali…

Aku menatap pria yang tengah tertidur di pangkuanku ini. Lucu rasanya bagaimana takdir mempertemukan kami, dua orang dengan kehidupan yang menyedihkan. Apa lagi rencana Tuhan setelah ini? Aku penasaran ingin tahu kemana takdir akan membawa kami selanjutnya. Aku sudah berjanji pada Kyuhyun untuk menunjukkan alasan mengapa ia layak mempertahankan hidupnya dan aku akan menepati janji itu.

 

*****

 

Aku merasakan guncangan kecil pada pundakku. Dengan malas aku membuka kedua mataku. Wajah Kyuhyun adalah yang pertama ku lihat pagi ini.

“Sunrise akan segera muncul.” Ucapnya. Aku menoleh ke arah jendela yang berada disisi kananku. Langit masih tampak gelap. Kalau bukan karena ingin melihat sunrise, maka aku lebih memilih kembali bergelung di atas ranjang yang super nyaman ini.

Kyuhyun mengulurkan tangannya yang kusambut dengan senang hati. Ia lalu menarikku bangkit dengan pelan. Setelah merapikan diri sebentar, kami langsung bergegas menuju pantai yang letaknya tak jauh dari hotel. Hanya 3 menit berjalan kaki. Suasana pantai sepi. Peminat sunrise ternyata tak sebanyak peminat sunset atau bisa jadi karena udara yang cukup dingin sehingga membuat orang-orang enggan untuk meninggalkan kehangatan ranjang mereka.

Kyuhyun mengajakku duduk di pinggir pantai. Suara deburan ombak menemani kegiatan kami menunggu sunrise. Pandangan mata Kyuhyun fokus pada laut yang membentang indah. Laut tampak tenang, setenang ekspresi wajah Kyuhyun saat ini.

“Lihat, mataharinya mulai terbit.” Ucap Kyuhyun padaku. Seulas senyum tersungging diwajahnya ketika berbicara. Aku bisa melihat binar bahagia di sepasang mata yang biasa tampak kosong tak bersemangat itu. Ternyata benar dengan ungkapan bahwa bahagia bisa datang dari hal-hal kecil. Aku baru saja melihat buktinya.

Aku ikut memusatkan pandanganku ke arah lautan lepas, dimana secara perlahan namun pasti matahati muncul. Langit yang semula gelap perlahan memancarkan cahaya oranye yang semakin lama semakin bergerak naik menyinari bumi.

Neomu areumdawoyo (Indah sekali).” Ucapku kagum.

Kyuhyun menoleh dan menatapku, membuatku ikut menatap wajahnya. Kedua manik mata kami saling bertatapan dengan intens. Dan entah siapa yang memulai, begitu sadar bibir kami telah bersentuhan. Aku memejamkan mata kala merasa lumatan kecil yang Kyuhyun lakukan pada bibirku. Jantungku berdebar keras. Terasa seperti ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku hingga membuatku merasa geli. Jujur, aku suka dengan sensasi yang tengah ku rasakan saat ini.

Kyuhyun menangkup wajahku dengan kedua tangannya seiring dengan ciumannya yang semakin dalam. Secara refleks tanganku meremas bagian depan kemejanya yang entah sejak kapan ku genggam dengan begitu erat. Pikiranku benar-benar kosong saat ini. Ini bukan pertama kalinya aku berciuman, jadi perasaan seperti ini sudah tak asing bagiku. Namun tetap saja aku terbuai dengan ciuman ini. Aku merasa bersama orang yang tepat.

 

*****

 

Suasana kelas yang semula tenang berubah begitu mendengar pekikan kaget Sehun bersamaan dengan sosoknya yang bergerak mundur dari kursi dengan begitu cepat hingga menimbulkan suara derik yang cukup nyaring. Berpasang-pasang mata sontak langsung menoleh ke arah Sehun, termasuk diriku yang sedari tadi tengah membaca novel.

Taeyong, teman semeja Sehun, yang tadinya sedang mengobrol bersama teman-temannya di meja depan Sehun langsung menghampiri Sehun yang tengah berdiri dengan wajah pucat sembari menatap laci mejanya dengan pandangan syok.

Wae geure? (ada apa?)” tanya Taeyong seraya menatap Sehun bingung, begitupula dengan berpasang-pasang mata yang sejak tadi mengamati.

Sehun mengangkat tangannya dengan gemetar, menampakkan jemari tangannya yang terkena noda merah.

“Kau berdarah!” seru Taeyong cemas.

Namun Sehun menggeleng. Ia mengedikkan dagunya ke arah laci, menyuruh Taeyong untuk melihat ke sana. Taeyong mengernyit heran, namun tetap menuruti perintah Sehun, pun dengan beberapa namjadeul lainnya yang turut penasaran. Dan beberapa saat kemudian pekikan serta seruan bernada kaget, jijik dan kesal terdengar dari kumpulan namjadeul tersebut.

“Brengsek! Siapa yang iseng seperti ini?!” Seru Taeyong marah.

“Gila! Bercanda seperti sungguh tidak lucu!”

“Sepertinya ini bukan candaan. Ini terror!”

Beberapa yeojadeul yang hendak mendekat dilarang oleh Taeyong. “Jangan mendekat! Nanti kalian menyesal sendiri. Ini bukan sesuatu yang pantas untuk dilihat.” Ucap Taeyong yang lantas mengurungkan niat para yeojadeul tersebut meskipun rasa penasaran jelas tampak di wajah mereka. Mataku masih terpaku pada Sehun yang terlihat pucat serta syok.

“Ini benar-benar menjijiikkan. Siapa yang berani membuang tikus itu? Aku sih tak kuat mau. Melihatnya saja sudah membuatku mau muntah.” Baekhyun berkata sambil bergidik jijik. Sebelah tangannya menutup hidung serta mulutnya.

Mendengar kata tikus sontak saja membuat para yeojadeul memekik kaget. Beberapa yang duduk di dekat meja Sehun bahkan langsung lari mengungsi ke meja teman yang lain. Aku menegang di tempatku. Meski mejaku cukup dekat dengan meja Sehun, yakni hanya berselang satu meja dari depan, namun aku tak ikut-ikutan mengungsi seperti yeojadeul lainnya. Aku terlalu syok mendengar Baekhyun menyebut salah satu hewan yang menurutky paling menjijikkan di dunia ini berada di dalam laci meja Sehun. Pandanganku beralih ke arah jemari Sehun yang terkena cairan merah. Kalau begitu… noda itu adalah darah dari tikus yang di laci?! Aku bergidik jijik membayangkan penampakan tikus yang berada dalam laci tersebut. Jelas tikus itu tidak dalam kondisi yang layak dilihat, persis seperti perkataan Taeyong tadi.

Junhong menyuruh Sehun untuk membersihkan tangannya ke toilet dan dengan baik hati ia menawarkan diri untuk membersihkan laci meja Sehun. Junhong ini adalah anggota klub pecinta alam yang sering naik turun gunung dan keluar masuk hutan. Hal seperti ini pasti sepele untuknya.

Aku memilih untuk mengalihkan pandangan dari meja Sehun. Suara teriakan yeojadeul di kelas ini cukup membuatku tahu bagaimana menjijikkannya kondisi hewan pengerat yang entah bagaimana bisa berada di dalam laci meja Sehun.

Apa Sehun sedang di terror oleh seseorang?

Tapi siapa dan mengapa?

 

 

-To Be Continued-

2 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s