BrotherSister Couple · Chapters

So Many Coincidences (Part 11)

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal


Kaget. Itulah yang dirasakan oleh Woobin dan Haneul kala mendengar pengakuan Hongbin terkait Kepala Sekolah mereka. Siapa sangka bahwa sosok yang paling dihormati di sekolah ini tega berbuat kecurangan yang begitu fatal dan merugikan. Sekarang mereka merasa sulit untuk percaya pada siapapun. Jika Kepala Sekolah yang seharusnya menjadi panutan malah berbuat curang, lalu bagaimana dengan guru-guru dibawah naungan Kepala Sekolah?

Memang tidak sepantasnya mereka ikut mencurigai guru-guru tanpa ada bukti, namun hal tersebut tidak dapat dicegah.

Menurut rencana, setelah mereka mendapatkan pengakuan Hongbin, Jiwon akan menyerahkan handphone yang ‘katanya’ menyimpan video bukti pada Hongbin. Disaat itu Woo Bin dan Haneul akan keluar untuk menolong Jiwon kabur. Keduanya sudah bersiaga di tempat persembunyian mereka. Akan tetapi sepertinya mereka tidak sedang beruntung karena sekarang, tepat di hadapan Woo Bin dan Haneul, Howon dan gerombolan premannya tengah berdiri tegak sembari tersenyum mengejek.

Sial, mereka terjebak!

“Lucu sekali melihat kalian bersikap seakan-akan tengah memimpin pertarungan ini, sedangkan pada kenyataannya kalian justru dengan bodohnya terjebak dalam perangkap kalian sendiri. Ternyata kalian tidak sepintar itu, eo. Sejak awal bukti itu tak pernah ada, kan.” Howon menggeretakkan jemarinya, menimbulkan bunyi pelan yang berasal dari tulang-tulang jemarinya. “Hah, Hongbin berhutang banyak padaku. Dia nyaris saja termakan tipuan kalian. Pangeran satu itu terlalu panik dan gegabah.” Ucap Howon. Preman sekolah itu melirik ke arah teman-temannya yang tak kalah urakan dari dirinya sembari tersenyum penuh arti. Kelima temannya tersenyum kecil karena hal yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Sedetik kemudian Howon beserta gerombolan gangnya menyerbu Haneul dan Woo Bin. Baku hantam pun tak terelakkan. Beruntung Haneul dan Woo Bin cukup jago dalam bela diri, terlebih Woo Bin yang menekuni olahraga bela diri Taekwondo sejak berada di sekolah dasar. Namun begitu tetap saja dua lawan enam rasanya begitu tidak seimbang. Pukulan-pukulan berhasil Woo Bin dan Haneul tangkis. Haneul meraih apapun yang ada didekatnya untuk dijadikan senjata bela diri. Howon cs ini ternyata tak bisa diremehkan. Wajar saja, pertarungan seperti ini pasti bukan hal yang asing untuk mereka. Dunia mereka dipenuhi dengan perkelahian, tawuran dan berbagai kekerasan lainnya.

Woo Bin menghantam wajah pria yang hendak memukulnya. Pria itu langsung jatuh sembari memegangi hidungnya yang terkena hantaman telak Woo Bin. Sepertinya tulang hidung pria itu patah. Kini Woo Bin berhadapan dengan Howon. Hal yang sebenarnya dinantikan oleh Woo Bin. Ia sudah tak sabar ingin memberi pelajaran pada pria bermuka tengil dihadapannya ini. Pria ini nyaris mencelakai tunangannya. Woo Bin dengan senang hati akan membalas. Senyuman puas tersungging dibibir Woo Bin begitu pukulannya mengenai pelipis Howon, namun tak lama gantian Howon yang tersenyum puas karena berhasil menendang perut Woo Bin.

Woo Bin melirik ke arah Haneul yang mulai tampak kewalahan. Oh tidak, ini tidak bisa dibiarkan lebih lama. Bisa-bisa mereka dilumat habis oleh Howon dan teman-temannya. Dan Jiwon, ya Tuhan, Woo Bin nyaris lupa bahwa Jiwon juga berada disini dan tunangannya itu sedang bersama Hongbin. Keributan ini pasti terdengar oleh Jiwon. Woo Bin harus menyelamatkan Jiwon. Ia sudah berjanji pada gadis itu.

 

*****

 

Begitu mendengar keributan di luar, Jiwon sudah hendak menekan panic button yang diam-diam sudah digenggamnya. Tapi gadis itu kalah cepat karena Hongbin sudah mencengkram tangan Jiwon dan menarik ponsel yang sejak tadi menjadi senjatanya untuk mengancam Hongbin.

“Mati aku mati aku…” batin Jiwon kala dengan gusar Hongbin memeriksa isi ponselnya. Sebelah tangan Hongbin masih mencengkram lengan Jiwon dengan kuat.

Kilatan emosi tampak jelas dimata Hongbin. Dengan kasar ia membanting ponsel Jiwon, lalu menatap Jiwon tajam.

“Kau benar-benar nekad ya. Kau tahu, bodoh dan nekad itu beda tipis.” Hongbin berkata dengan nada mengejek. Jiwon memberontak, berusaha melepaskan cengkraman Hongbin. Gila, padahal Hongbin hanya mencengkramnya dengan satu tangan, tapi Jiwon sama sekali tidak bisa berontak. Kekuatan namja memang beda. Sekarang Jiwon sudah tidak bisa lagi berlagak tenang. Ia panik! Panik setengah mati.

“YAK LEE HONGBIN!”

Woo Bin berlari menghampiri Hongbin dan Jiwon. Dengan kasar ia mendorong Hongbin hingga cengkraman Hongbin pada Jiwon terlepas, lalu Woo Bin menarik Jiwon ke belakang tubuhnya guna menjauhkan Jiwon dari jangkauan Hongbin.

“Kau akan menerima ganjaran untuk semua perbuatanmu. Akan kupastikan itu!”

Woo Bin menarik Jiwon untuk pergi dari sana. Hongbin menggeram kesal. Jelas ia takkan semudah itu membiarkan Woo Bin dan Jiwon pergi. Hongbin menyusul, namun tiba-tiba Woo Bin berbalik dan menghadiahkan pukulan diwajah dan perut Hongbin tanpa sempat pria itu melakukan perlawanan. Pergerakan Woo Bin terlalu tiba-tiba.

“Ini untuk rencanamu yang hendak menyakiti Jiwon.” Bisik Woo Bin tepat ditelinga Hongbin. Setelahnya ia mendorong Hongbin hingga terjatuh sembari memeluk perutnya yang sakit. Woo Bin langsung menarik Jiwon pergi. Jiwon sempat menoleh ke belakang, melihat Hongbin yang masih terduduk sembari memeluk perutnya yang sakit. Melihat wajah kesakitan pria itu membuat Jiwon puas bukan main.

“Rasakan itu brengsek!” Umpat Jiwon puas, tak lupa ia memeletkan lidahnya pada Hongbin.

“Ah, Haneul bagaimana?!” tanya Jiwon panik.

Geokjeonghajima, Sungwoo bersamanya.”

Jiwon mengernyit heran. “Hong Sungwoo?” tanyanya untuk memastikan.

“Eo. Palli, kita harus segera pergi dari sini!” Ujar Woo Bin sembari mempercepat langkahnya yang sudah setengah berlari. Jiwon turut mempercepat larinya. Nanti setelah mereka keluar dari zona perang ini baru ia akan bertanya kenapa Hong Sungwoo bisa berada disini. Yang penting mereka harus segera kabur.

Howon tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Jiwon langsung was-was begitu melihat balok ditangan pria itu. Belum lagi dengan wajahnya yang agak babak belur, semakin menambah kesan sangar dan berbahaya. Woo Bin sudah bersiap-siap untuk menerima serangan dari Howon, namun ternyata ada yang lebih cepat. Hong Sungwoo muncul dan tanpa babibu menerjang Howon. Keduanya bergulat diatas tanah. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Woo Bin. Pria itu kembali menarik Jiwon pergi. Jiwon yang masih terkejut melihat betapa agresif dan brutalnya pertarungan antara Sungwoo dan Howon hanya pasrah ketika dirinya kembali ditarik, nyaris diseret malah, oleh Woo Bin menuju mobilnya. Woo Bin membuka pintu mobil Jiwon. Sesuai instruksi dari Jiwon, mesin mobil tetap dinyalakan oleh supirnya.

Woo Bin mendorong Jiwon pelan agar masuk ke dalam mobil. “Pergilah duluan. Langsung pulang ke rumahmu, oke! Aku masih harus disini.” Woo Bin lalu menoleh ke arah supir Jiwon. “Tolong antar Jiwon langsung ke rumah ya pak. Jangan mampir kemanapun,” pintanya lalu menutup pintu mobil. Jiwon bahkan belum sempat protes ketika mobil mulai melaju. Jiwon hanya bisa menatap punggung Woo Bin yang perlahan menjauh. Rasa khawatir menyelimuti hati Jiwon. Ia berharap Woo Bin dan Haneul akan baik-baik saja. Jiwon bahkan tak sadar bahwa sedari tadi jemarinya gemetar akibat adrenalinnya yang cukup terpacu beberapa saat lalu. Ini pengalaman paling mendebarkan yang pernah Jiwon alami. Gadis itu baru bisa benar-benar bernapas lega ketika Woo Bin mengirim pesan bahwa dirinya dan Haneul baik-baik saja dan mereka telah meninggalkan sekolah.

Jiwon akan meminta cerita lengkapnya besok. Sekarang ia akan pulang ke rumah, berlagak seperti tidak terjadi apa-apa dan langsung masuk ke kamar untuk istirahat walaupun ia tahu bahwa malam ini ia takkan bisa terlelap.

 

*****

 

Pagi-pagi sekali Woo Bin sudah bertandang ke rumah Jiwon. Setelah sarapan bersama Jiwon beserta kedua orangtuanya, Jiwon langsung menyeret Woo Bin ke taman belakang rumah, ingin menagih penjelasan mengenai kejadian semalam.

“Jadi, kenapa tiba-tiba Hong Sungwoo ada disana semalam?” Sejak semalam Jiwon sudah penasaran mengenai Hong Sungwoo. Kenapa namja itu bisa tiba-tiba muncul di sekolah dan membantu mereka?

“Sebenarnya itu kerjaan Haneul. Ia tanpa sengaja bertemu dengan Hong Sungwoo dan kemudian memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Sungwoo. Dan ternyata Hong Sungwoo memang sudah mencurigai Howon sebagai biang kerok dari masalah yang menimpanya. Sungwoo bilang ia ingin melakukan pembalasan, makanya Haneul mengajaknya bergabung. Awalnya Sungwoo menolak. Dia ingin langsung mengkonfrontasi Howon dan Hongbin, tapi syukurlah Haneul berhasil membujuknya. Kalau tidak kita takkan bisa mendapatkan bukti.” Jelas Woo Bin.

“Ah, ngomong-ngomong soal bukti, mana kamera dan perekam suaranya?” tanya Woo Bin.

“Sebentar, aku ambil dulu.”

Jiwon kembali tak lama kemudian. Ia menyerahkan peralatan yang mereka gunakan untuk misi mereka semalam, yaitu kamera dan alat perekam suara. Woo Bin berkata jika kedua barang bukti tersebut akan menjadi urusannya dan Haneul. Tugas Jiwon sudah selesai, untuk sisanya akan menjadi urusan Woo Bin dan Haneul. Jiwon tak keberatan dengan keputusan tersebut. Toh dirinya juga enggan untuk kembali merepotkan diri.

“Lalu, kalian akan menyerahkan barang bukti itu pada pihak sekolah?”

Woo Bin menggeleng, “Aniya. Kami akan langsung menyerahkan ini pada lembaga pendidikan. Sekarang tidak ada satupun pihak sekolah yang bisa kita percayai. Kita tidak tahu siapa saja selain kepala sekolah yang ikut dalam kecurangan ini. Bisa jadi malah ia didukung oleh beberapa guru. Jadi untuk jaga-jaga lebih baik langsung diserahkan pada lembaga pendidikan saja. Salah seorang kerabat Haneul ada yang bekerja disana, jadi dia pasti bisa membantu kita mengawal kasus ini.” Jelas Woo Bin.

Jiwon mengangguk paham. “Ah, lalu Howon dan Hongbin bagaimana?”

“Tenang saja, mereka juga takkan bisa lepas semudah itu. Bukti kita cukup kuat. Mereka, terutama si brengsek Howon itu akan mendapat ganjaran atas perbuatannya. Pokoknya tak ada yang bisa lepas dari kasus ini. Mereka harus mendapat ganjaran atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.”

Jiwon tersenyum puas. Sebentar lagi sekolah pasti akan heboh. Duh, ini benar-benar seperti adegan di dalam film saja. Siapa sangka ketidaksengajaannya memergoki Howon dan Hongbin telah membawa mereka pada satu fakta yang mengejutkan. Jiwon merasa bangga pada dirinya sendiri. Dirinya benar-benar seperti pemeran utama di dalam film yang menyelamatkan keadaan disaat genting.

“Kenapa kau senyum-senyum aneh begitu, eo? Sedang berpikiran yang  tidak-tidak ya?” Woo Bin bertanya dengan ekspresi jahil. Alisnya bergerak naik turun. Ekspresinya benar-benar tengil.

Jiwon memukul lengan Woo Bin. “Otakmu yang kotor. Dasar byuntae! (mesum)

“Yak, byuntae apanya? Memangnya aku bilang sesuatu yang mesum? Kau saja yang salah mengartikan.”

“Terserah!” Jiwon mengibaskan rambutnya. Tiba-tiba gadis itu teringat dengan adegan perkelahian super hot ala-ala film action yang dilakukan oleh Sungwoo dan Howon semalam. Apa kedua namja bandel itu baik-baik saja? Semalam mereka berkelahi dengan begitu sepenuh hati.

“Bagaimana kondisi Sungwoo dan Howon? Semalam mereka bertarung dengan sepenuh hati. Tidak tanggung-tanggung. Pasti babak belur, ya?”

Woo Bin tertawa kecil. “Bukan babak belur lagi, Ji. Tapi hancur lebur. Kalau kau sekarang melihat wajah mereka pasti kau takkan bisa mengenali mereka lagi. Semalam untung saja polisi akhirnya datang, kalau tidak… duh, pasti hari ini kita akan datang ke pemakaman kedua bocah temperamental itu. Sayang sekali Hongbin tidak sebabak belur Howon. Padahal aku ingin melihat tampang sombongnya itu babak belur. Semalam aku belum puas memberinya pelajaran. Sial sekali pengecut itu kabur duluan.”

“Ah, sayang sekali kalau begitu.”

 

*****

 

Hari terakhir sekolah, dan seperti yang sudah Jiwon duga, sekolah gempar begitu mendengar kabar mengenai duo Lee, Lee Hongbin dan Lee Howon serta fakta mengenai kecurangan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Sejauh ini baru Kepala Sekolah yang ditetapkan sebagai tersangka, guru-guru yang lain masih ditetapkan sebagai saksi. Namun tidak menutup kemungkinan jika akan ada guru yang bergabung bersama Kepala Sekolah sebagai tersangka. Hari terakhir sekolah di semester ini seharusnya digunakan untuk perlombaan olahraga antar kelas, mulai dari kelas 10 hingga 12. Namun karena kedatangan lembaga pendidikan beserta polisi yang ingin memeriksa Kepala Sekolah dan para guru, dengan terpaksa pertandingan dihentikan dan belum ada kabar pasti kapan pertandingan bisa dilanjutkan. Lagipula para murid sudah tak lagi memikirkan kelas mana yang akan mendapat piala kemenangan karena fokus dan perhatian mereka sekarang tertuju pada kasus teranyar Jeguk High School yang melibatkan si pangeran sekolah dan petinggi sekolah. Ini tentunya lebih menarik untuk dibahas.

Beberapa murid yang membeli soal dari Kepala Sekolah pun turut dipanggil untuk dimintai keterangan. Jangan tanya betapa malunya murid-murid itu saat satu persatu dari mereka dipanggil masuk ke dalam ruang klub Bahasa Inggris, yang untuk sementara dialihkan menjadi ruang interogasi, untuk dimintai keterangan. Cibiran dan hinaan sudah tentu diterima oleh murid-murid tersebut. Jiwon melihat semuanya dengan puas. Ia puas karena akhirnya semua kecurangan ini bisa terbongkar dan dihentikan. Sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu, menanamkan dan mengajarkan budi pekerti kepada murid-muridnya serta mengayomi murid-murid agar kelak bisa menjadi pribadi yang baik, bermoral serta berguna bagi bangsa negara. Mengecewakan sekali karena sekolah yang ia banggakan justru tidak mencerminkan hal-hal tersebut.

“Jadi, bagaimana dengan nasib Hong Sungwoo selanjutnya?” tanya Jiwon penasaran. Tiba-tiba dia teringat dengan pria yang ikut andil dalam membantu mereka.

“Katanya sih sekolah akan berusaha untuk mengusahakan agar Sungwoo bisa ikut ujian susulan. Bagaimana pun juga Hong Sungwoo adalah korban dari kebusukan Hongbin dan Howon serta ketidaktelitian pihak sekolah dalam menyelesaikan kasus. Kasihan sih Sungwoo harus menjadi korban atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Semoga saja ia benar-benar bisa ikut ujian susulan.” Jawab Woo Bin.

Jiwon mengangguk paham, “Ya, kuharap juga begitu.”

Tatapan Haneul tertuju kepada pintu ruang klub Bahasa Inggris yang terbuka. Seorang murid perempuan tampak keluar dari dalam sana dengan kepala tertunduk. Meskipun sisi kiri dan kanan wajah gadis itu tertutup oleh rambut panjangnya, Haneul masih bisa mengenali sosok tersebut. Gadis itu bernama Song Jisoo, seorang model dan salah satu primadona sekolah selain Kim Jiwon. Secara akademik Jisoo memang tidak terlalu menonjol, namun anehnya di setiap ujian gadis itu selalu menempati posisi yang cukup bagus. Sekarang Haneul paham mengapa.

Ada kalanya ekspektasi berlebihan yang ditanamkan oleh orang-orang terhadap dirimu bisa membuatmu nekad melakukan apa saja untuk memenuhi ekspektasi itu. Walaupun dengan cara yang salah. Tak jarang pula ambisi orangtua yang justru pada akhirnya menjerumuskan anak-anak mereka tanpa sadar. Murid-murid itu adalah buktinya. Haneul menghela napas prihatin.

Oppa!

Haneul, Jiwon dan Woo Bin menoleh secara bersamaan ke arah datangnya suara meskipun yang dipanggil hanya Haneul. Bang Minah menghampiri Haneul dengan senyum sumringah yang langsung luntur begitu ia bertatap muka dengan Jiwon. Tampaknya perseteruan masih akan berlanjut. Jiwon mendengus kesal, namun tak terlalu ambil pusing. Bisa gila dia jika terus meladeni mood Bang Minah yang tidak jelas itu. Ah, mood Minah memang selalu jelek jika bertemu dengannya. Jiwon nyaris melupakan itu.

“Hei, lama tak bertemu.” Woo Bin menyapa dengan ramah. Tak lupa senyuman manis ala bintang iklan pasta gigi ia tampilkan diwajah tampannya. Tadinya Woo Bin pikir Minah akan mengabaikannya seperti yang sudah-sudah, namun ternyata gadis itu menyapa balik disertai senyum sumringah.

Ne, sudah lumayan lama ya. Oppa terlalu sibuk sih.” Minah melirik Jiwon sekilas, bermaksud menyindir gadis yang telah resmi menjadi tunangan oppa favoritnya itu. Jiwon membalas dengan senyuman manis. Begitu manisnya sampai membuat Minah kesal karena merasa kalah telak, belum lagi begitu matanya menangkap sepasang cincin yang melekat di jari manis Jiwon dan Woo Bin. Rasanya ingin ia ambil kedua cincin itu dan melemparnya jauh-jauh.

Minah mengabaikan Jiwon dan memilih mengobrol ringan dengan Woo Bin dan Haneul.

“Ey, jadi kalian yang mengungkapkan kasus ini? Wah, daebak!” Minah berseru kagum seraya mengancungkan kedua ibu jarinya. “Seharusnya kalian juga mengajakku. Kita bisa menjadi tim yang baik seperti agen rahasia, eo.” Minah terkikik.

Haneul dan Woo Bin geleng-geleng kepala. “Kami bukannya bermain ala-ala detektif atau agen rahasia. Apa yang kami lakukan itu cukup berbahaya.” Ucap Woo Bin.

Haneul mengangguk setuju. “Dan tadi kau bilang mau ikut? Baru melihat Howon beserta gerombolannya saja kau sudah takut, apalagi jika kau berada disana. Wah, bisa-bisa langsung menangis dan pingsan.”

Jiwon tertawa puas sedangkan Minah menggerutu kesal. Ia mendelik kesal ke arah Jiwon dan Haneul. Duh, Haneul lama-lama jadi menyebalkan. Apa ini pengaruh Kim Jiwon? Ya, pasti ini karena Kim Jiwon yang menyebalkan. Semua gara-gara Kim Jiwon!

 

*****

 

Meskipun Jeguk High School tengah dirundung kasus, namun tak lantas membuat pesta perpisahan murid-murid kelas 12 terlupakan begitu saja. Pesta perpisahan ini sudah dirancang sejak awal semester. Persiapan pun telah sampai ditahap 99 persen. Hanya tinggal eksekusi di hari H saja. Bisa mengamuk murid-murid kelas 12 jika sampai pesta perpisahan mereka dibatalkan begitu saja.

Kepala Sekolah terbukti bersalah. Jeon Jihwan harus rela dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak terhormat. Untuk sementara posisinya digantikan oleh Park Jae Suk selaku Wakil Kepala Sekolah. Hong Sungwoo akhirnya mendapat keadilan dengan kembali menjadi murid Jeguk High School dan berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian susulan.

Kembali pada Kim Jiwon, sudah beberapa hari ini ia sibuk mencari gaun yang pas untuk pesta perpisahan istilah kerennya sih Prom Night. Gara-gara masalah Howon-Hongbin, Jiwon nyaris melupakan acara yang sejatinya sudah ia nanti-nantikan sejak awal semester kelas 12.

“Ini juga bagus, Ji.” Shin Hye menunjukkan gaūn model full skirt berwarna merah muda dengan bahan brokat. Jiwon mengamati sejenak, lalu kembali menggeleng untuk kesekian kalinya. Shin Hye menghela napas. Ini sudah gaun kesekian yang ditolak Jiwon. Padahal menurut Shin Hye gaun yang ditangannya ini bagus dan sudah memenuhi kriteria Jiwon yang jelas sekali akan terlihat cantik saat dikenakan oleh temannya itu. Shin Hye sendiri sudah dari dua jam yang lalu menentukan pilihan pada gaun hitam model full skirt berbahan brokat yang panjangnya dibawah lutut.

“Jadi kau mau yang bagaimana sih?” Shin Hye bertanya dengan nada yang menyiratkan jika dirinya mulai agak kesal. Pasalnya gadis itu sudah lelah menemani Jiwon dari satu toko ke toko lain yang sampai detik ini belum membuahkan hasil. Padahal menurut Shin Hye gaun-gaun yang ditawarkan oleh toko-toko itu memiliki model yang hampir-hampir serupa. Jadi rasanya agak membuang-buang waktu untuk memasuki semua toko baju yang ada di dalam mall ini.

“Hmm… aku mau yang…” Mata Jiwon menatap satu persatu gaun yang dipajang di dalam butik. Entahlah, sejak tadi tidak ada gaun yang betul-betul menarik perhatiannya. Tidak biasanya Jiwon seperti ini. Apa ini efek karena ia akan menjadi pasangan Woo Bin di acara Prom Night nanti? Jiwon menghela napas. Sejujurnya ia juga sudah lelah dan bosan mencoba gaun-gaun itu. Mereka cantik, tapi tak terlalu berhasil menarik hatinya untuk membawa salah satu gaun tersebut ke kasir. Sialnya, ibu Jiwon saat ini tengah berada di luar negeri menemani ayahnya yang mendapat undangan untuk hadir ke acara festival perfilman di Toronto, Kanada. Jadilah Jiwon harus mengurus perihal gaun ini seorang diri. Kalau saja ibunya ada, pasti Jiwon takkan sepusing sekarang karena ibunya dengan senang hati akan mengurus semuanya.

“Mau makan es krim?” tanya Jiwon sembari menatap Shin Hye.

Akhirnya Jiwon menyerah. Mungkin hari ini bukan hari keberuntungannya. Ia masih punya waktu dua hari lagi untuk mencari gaun yang cocok atau ia terpaksa menggunakan gaun yang lama.

 

*****

 

Minah dan Haneul berjalan keluar dari toko buku. Tangan kanan Haneul menenteng plastik berisi lima buah buku. Yang membuat Minah tak habis pikir, diantara kelima buku tersebut, hanya ada dua buku yang tidak berhubungan dengan pelajaran, sisanya adalah buku kumpulan soal untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi. Haneul ini hidupnya memang tak pernah jauh dari buku. Beda sekali dengan Woo Bin yang lebih banyak menghabiskan uang sakunya untuk kaset game dan pakaian.

“Sepertinya tidak ada kata libur untukmu, ya.”

Haneul tersenyum tipis mendengar sindiran Minah, “Habis mau bagaimana lagi. Dua bulan lagi ujian SAT akan dilaksanakan. Aku harus mempersiapkan diri. Apalagi universitas yang aku incar bukan universitas sembarangan. Nilaiku harus tinggi untuk masuk kesana. Sekedar lulus saja tidak cukup.”

“Ara ara! Dasar calon dokter! Padahal masih dua bulan lagi.” Minah bersungut, namun tak dipungkiri bahwa dalam hati ia bangga dengan Haneul. Pria itu tidak main-main dengan cita-citanya. Sejak dulu Haneul ingin menjadi dokter seperti ayahnya, dan pria itu bersungguh-sungguh bekerja keras untuk mencapai cita-citanya. Minah kagum dengan pribadi Haneul yang satu itu.

Tiba-tiba Minah teringat sesuatu. Sejak tadi Haneul sama sekali tidak menyinggung sedikitpun perihal Prom Night yang akan diadakan dua hari lagi. Jangan bilang pria itu tidak berminat untuk ikut. Sialan sekali jika begitu, karena diam-diam Minah sudah menyiapkan gaun untuk acara tersebut. Yah, sebut saja ia terlampau percaya diri berpikir akan diajak ke acara untuk murid kelas 12 tersebut.

Minah melirik Haneul, lalu berdeham pelan, “Oppa… kau pastinya akan datang ke acara Prom Night, kan?”

Haneul melirik Minah. “Wae? Mungkin.” Jawabnya tak pasti.

Minah berdecak kesal. “Apa-apaan dengan jawaban ‘Mungkin’ itu! Pesta itu kan untuk kalian murid kelas 12 sudah pasti oppa harus datang,” ucap Minah.

“Apa kau sedang berharap agar aku mengajakmu untuk menjadi pasanganku di acara nanti?” tanya Haneul dengan nada menggoda. Minah mendelik lalu mengibas rambut coklat gelapnya dengan ekspresi congkak.

Oppa terlalu percaya diri. Ada banyak kok namjadeul kelas 12 yang mengajakku menjadi pasangan mereka. Aku ini kan popular. Hanya saja aku masih pilih-pilih, makanya belum ada satupun ajakan yang aku terima.”

Minah melirik Haneul, ingin melihat ekspresi wajah pria itu sembari dalam hati berharap jika Haneul akan termakan omongannya dan mengajaknya menjadi pasangan pria itu. Tapi… bagaimana jika Haneul tidak peka? Atau lebih buruknya lagi, bagaimana jika namja itu sudah mengajak yeoja lain?!

Enak saja! Itu tidak boleh terjadi!

“Oh, baiklah kalau begitu jadi—“

Oppa mau aku menjadi pasanganmu? Baiklah kalau begitu. Dengan terpaksa aku harus mematahkan hati namjadeul itu.” Ujar Minah sembari memasang ekspresi wajah sok prihatin padahal dalam hati ia sedang jumpalitan saking senangnya.

Haneul menatap Minah bingung lalu menggelengkan kepala sambil terkekeh kecil. Gadis satu ini memang benar-benar suka seenaknya. Tapi tak apa. Toh Haneul juga tidak memiliki pasangan yang bisa diajak ke acara Prom Night. Ia memang berniat untuk mengajak Minah.

 

*****

 

Prom Night Jeguk High School diadakan di sebuah hotel berbintang di Seoul dengan tema glamor. Sejak dulu Jeguk memang terkenal dengan acara Prom Night yang bisa dibilang cukup ‘wah’ untuk ukuran pesta perpisahan murid SMA. Maklum saja, mayoritas murid Jeguk memang berasal dari keluarga ekonomi menengah keatas sehingga tidak masalah bagi mereka untuk membayar lebih mahal demi memiliki pesta perpisahan yang mewah dan memorable.

Jiwon turun dari mobil sembari mengangkat sedikit gaun panjang berwarna biru muda yang dikenakannya. Pada akhirnya Jiwon menemukan gaun yang menarik perhatiannya secara tidak sengaja saat sedang berjalan-jalan seorang diri di mall. Tadinya ia sudah pasrah dan memutuskan untuk menggunakan salah satu gaun lama miliknya. Tapi seperti yang sering orang-orang katakan, sesuatu yang sedang dicari memang sulit ditemukan, sedangkan jika sedang tidak dicari maka ia akan muncul dengan sendirinya. Pilihan Jiwon jatuh pada gaun panjang berwarna biru muda bermodel square neck style dengan bagian bawah berpotongan A-Line. Dress itu berdesain sederhana, namun tetap tampak mewah dan berkelas, membuat penampilan Jiwon terlihat sangat anggun.

Jiwon juga mengubah potongan rambutnya. Rambut panjang sepunggung miliknya telah berganti dengan potongan rambut sedikit melewati bahu dan disertai poni yang membuat penampilan Jiwon terlihat lebih segar dan muda. Penampilan gadis itu semakin didukung dengan make-up tipis yang natural. Sejak Jiwon melangkahkan kakinya masuk ke dalam ball room hotel, sejak itu pula ia menjadi pusat perhatian tak hanya bagi kaum adam saja, tapi juga bagi kaum hawa. Mereka memuji penampilan Jiwon yang terlihat begitu bersinar dan memukau. Di Jeguk memang banyak siswa-siswa yang cantik dan popular selain Jiwon, sebut saja ada Krystal Jung, Kim Yura, Im Nayeon, Bae Irene, Park Shin Hye dan masih ada yang lainnya. Namun Jiwon punya daya tarik tersendiri yang membuat banyak siswa laki-laki di Jeguk begitu mengidolakannya.

Tak hanya Jiwon, Woo Bin pun berhasil menjadi sorotan. Pria itu terlihat tampan dengan setelan jas putih yang melekat ditubuh proporsionalnya. Melihat Woo Bin seakan-akan tengah melihat model yang sedang berjalan diatas panggung catwalk. Kedatangan pasangan popular Jeguk itu tentunya menjadi buah bibir siswa-siswa Jeguk. Sebagian masih ada yang belum rela melihat idolanya punya gandengan, sebagian lagi sudah ikhlas lahir batin. Toh, sejak awal mereka sudah sadar diri untuk tak terlalu berharap bisa menarik perhatian Jiwon-Woo Bin. Dianggap sebagai teman saja sudah cukup.

Krystal memperhatikan Jiwon dengan pandangan datar dan dingin khas miliknya, membuat aura dingin gadis itu begitu terasa. Malam ini Krystal juga tampil tak kalah memukau dengan gaun panjang model Sabrina berwarna putih. Seperti janjian, Krystal pun mengubah potongan rambutnya yang semula panjang sepunggung menjadi panjang sedikit melewati bahu. Hampir sama dengan Jiwon, hanya saja Krystal tidak menggunakan poni. Tanpa sadar Krystal mendengus kesal. Minseok yang berada tepat disebelahnya menatap Krystal bingung. Pria itu menyimpan ponselnya ke dalam saku jas.

“Ada apa?” tanya Minseok.

Krystal hanya menggeleng. Gadis itu meraih segelas moktail yang disajikan diatas meja dan meminumnya. “Acaranya kapan mulai sih?”

Minseok melihat arlojinya. “Masih pukul 7.40. Acaranya dimulai 20 menit lagi.”

Minseok menatap sekeliling ball room yang mulai dipenuhi oleh murid-murid kelas 12 Jeguk High School beserta pasangan masing-masing. Tidak semua murid membawa pasangan. Beberapa terlihat datang bersama teman se-geng. Entah karena mereka begitu loyal terhadap persahabatan mereka atau karena mereka tidak punya pasangan. Ah, pasti karena alasan yang kedua. Mata Minseok tanpa sengaja menatap sosok yang sejak tadi memang dicarinya. Jiwon tampil cantik, seperti yang sudah diduganya. Lagipula, sejak kapan sih sahabatnya itu tak tampil cantik?

Krystal mengikuti arah pandangan Minseok, dan moodnya langsung bertambah jelek. Apalagi sekarang Jiwon dan Woo Bin sedang berjalan menuju mereka.

“Wah, kau terlihat keren.” Puji Jiwon pada Minseok ketika ia telah sampai di depan pria itu, membuat Minseok tersenyum senang.

“Tentu saja! Lagipula kapan sih aku tidak tampak keren?” Minseok tersenyum sembari menaik turunkan alisnya. Jiwon mencibir seraya memukul lengan pria itu pelan. Hubungannya dengan Minseok membaik dengan sendirinya. Jiwon tidak terlalu ingat apa yang membuat hubungan mereka yang sempat merenggang kini kembali seperti semula. Yang jelas Jiwon senang karena ia bisa mendapatkan kembali sosok sahabat yang begitu ia sayangi dan sempat menempati posisi spesial dihatinya.

Minseok menyapa Woo Bin dengan ramah. Segera saja kedua namja itu terlibat perbincangan seru.

‘Namja sepertinya memang lebih mudah berbaur,’ pikir Jiwon sambil memperhatikan Minseok dan Woo Bin. Ia lalu menoleh ke arah Krystal yang berdiri disisi Minseok dengan ekspresi datar. Krystal belum berbicara satu patah kata pun sejak tadi.

‘Benar-benar cocok dijuluki ratu es,’ batin Jiwon.

Tiba-tiba Krystal menoleh ke arah Jiwon yang masih menatapnya sehingga tatapan mereka bertubrukan. Jiwon yang sudah tertangkap basah pun memutuskan untuk menyunggingkan senyum ramah. Niatnya ingin memulai hubungan baik dengan Krystal. Akan aneh sekali jika ia dan Krystal tetap bersikap dingin satu sama lain disaat dirinya dan Minseok bersahabat dekat. Rasanya aneh dan tidak benar.

Krystal agak kaget mendapati Jiwon yang tersenyum padanya. Awalnya Krystal ragu, namun akhirnya ia membalas senyuman Jiwon dengan seulas senyum kecil. Hanya seulas dan sebentar, namun itu sudah cukup bagi Jiwon untuk saat ini. Yang penting ia dan Krystal tak lagi bersikap seperti musuh. Jiwon pikir mungkin nanti dirinya dan Krystal bisa menjadi teman baik.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

3 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 11)

  1. Baru tadi mau protes kok update nya lama bgt 😅eh pas buka hp ada notif ini ff seneng bgt.akhirnya di lanjut juga.

    Suka kalo minah & jiwon ketemu 😀mereka pasti nggak pernah akur 😅Kasus nya udah kelar & mereka udah lulus.gimana nih sama hubungan woobin & jiwon,semoga sampai nikah😊

    Next thor,semangat!!!!

    1. Huhu.. ini kelamaan update gegara laptop rusak nih 😦 Mau ngetik di hp tp mager tingkat dewa yg begitu hakiki lol.

      Minah-Jiwon itu mirip2 istilah benci tp cinta wkwkwk.. buktinya benci2 gitu Minah ttp nolong Jiwon. Tdnya mau end di chapter ini, tp takut kepanjangan. Jd tamatnya di next chap aja 😀
      Anyway, makasi byk udh baca ff ini ❤

      1. Gengsi an ya mereka berdua 😂ff ini yg selalu ditunggu-tunggu thor,soalnya cuma di sini ada couple jiwon-woobin.di lapak lain kagak ada 😅semangat ya author !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s