Chapters

Set Me Free (Part 1)

Author : BlueSky (Cho Haneul)
Title      : Set Me Free
Genre   : Drama, Romance
Type     : Chaptered

Cast :
– Myoui Mina as Kim Mina
– Oh Sehun
– Kim Sejeong
– Kim Jisoo (Blackpink) as Kim Nana
– Seo Johnny (NCT)

_______________________________________________________

“Annyeong haseyo. Mannaseo bangapsseumnida. Joneun Kim Sejeong imnida (Selamat pagi. Senang bertemu dengan kalian. Nama saya Kim Sejeong). Pindahan dari sekolah putri Ilsan. Apeuro jalbuthakdeurimnida. Ghamsahamnida (Untuk selanjutnya mohon bimbingannya. Terima kasih).”

Tepuk tangan meriah menjadi penutup perkenalan murid baru yang bernama Kim Sejeong. Sekali lihat dapat langsung disimpulkan bahwa Sejeong adalah gadis yang ramah dan menyenangkan. Sejak memasuki kelas sampai selesai memperkenalkan diri, senyum manis Sejeong terus terlukis diwajahnya.

“Ada dua bangku yang kosong. Di samping Mina dan satu lagi di samping Junhong. Tapi ssaem rasa kau akan lebih nyaman sebangku dengan sesama yeoja, bukan?” tanya Jeon Min Yeon, selaku wali kelas, dengan ramah.

Sejeong mengangguk sopan, “Ne, seonsaengnim.”

Sejeong melangkah menuju bangku yang dimaksud. Sudah ada seorang siswi yang menempati kursi di samping jendela. Tak perlu ditanya lagi, gadis itu pasti yang bernama Mina. Sejeong meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk. Ia menoleh ke arah Mina dan tersenyum manis. Mina tersenyum kecil sebagai balasan. Sebenarnya Mina tak terlalu senang mendapatkan teman sebangku. Ia nyaman dengan kesendiriannya. Tapi ia juga tak mungkin mengusir Sejeong, kan?

Jam istirahat biasa dimanfaatkan Mina untuk ke perpustakaan atau hanya berdiam diri di kelas. Mina tidak punya teman akrab. Mungkin karena pribadinya yang tertutup dan pendiam sehingga membuat siswi-siswi di kelasnya agak segan untuk mendekat dan memulai pertemanan. Kontras sekali dengan Sejeong yang dalam hitungan jam sudah asyik mengobrol seru dengan beberapa siswi maupun siswa di kelas 3-2.

Mina melirik sekilas ke arah Sejeong, lalu kembali asyik pada buku ditangannya.

“Mina, kami ingin ke kantin. Apa kau mau ikut?”

Ajakan penuh pertemanan itu membuat Mina menoleh ke arah suara dan mendapati Sejeong tengah menatapnya sambil tersenyum manis. Mina menggeleng, “Tidak. Terima kasih.” balasnya sambil tersenyum kecil.

Sejeong kemudian berlalu bersama beberapa orang siswi di kelas, sedangkan Mina kembali menekuni bukunya.

“Mina itu memang agak anti sosial kalau menurutku.”

Sejeong mengernyit, “Dia terlihat biasa saja. Kurasa dia memang pendiam,” ucap Sejeong. Ia agak kurang setuju dengan label anti sosial yang disematkan Yeri pada Mina. Bagi Sejeong tidak etis rasanya jika memberikan label negatif pada seseorang.

Yeri menghela napas, “Bukannya mau menjelek-jelekkan Mina ya, tapi dari dulu mana pernah dia mau bergabung dengan kami walau hanya sekedar untuk mengobrol atau makan siang bersama. Dia bahkan nyaris tak pernah ikut acara darmawisata sekolah kecuali yang benar-benar wajib. Aku satu SMP dengannya, dan di SMP pun dia tak punya teman dekat. Kasihan sih, tapi salah sendiri karena tidak mau bergaul. Kau harus ekstra sabar sebangku dengan Mina. Tidak ada yang betah duduk sebangku dengannya.” Ujar Yeri.

Sejeong tak terlalu memikirkan perkataan Yeri. Entah mengapa ia yakin bahwa Mina tak seburuk itu.

*****


Mina melahap gigitan terakhir sandwich yang dibawanya. Gadis berwajah kalem itu memang hampir setiap hari membawa bekal ke sekolah. Selain karena lebih hemat, ia juga jadi bisa menghindari kantin yang selalu ramai pengunjung pada jam istirahat. Malas rasanya jika harus berdesak-desakan hanya untuk membeli makanan.

Suara tawa di depan pintu mengalihkan perhatian Mina. Sehun dan Johnny terlihat sedang dalam perbincangan yang asyik. Sehun yang biasa jarang tertawa saja kini malah yang paling heboh tertawa. Sama sekali tidak peduli pada pandangan memuja murid-murid perempuan yang berlalu lalang. Sehun dan Johnny memang duo populer di Paran High School, walaupun masih banyak siswa yang punya prestasi yang lebih tinggi dari mereka berdua. Alasan utama dari kepopuleran mereka adalah karena ketampanan dan gaya mereka yang keren. Belum lagi dengan sifat keduanya yang ramah, terlebih Johnny, sehingga membuat banyak siswa ataupun siswi yang mengidolakan mereka.

Johnny pergi, mungkin kembali ke kelasnya yang hanya berselang satu kelas dari kelas 3-2, sedangkan Sehun melenggang santai ke dalam kelas dengan tangan kiri memegang tali ransel yang dipanggul bahu kirinya, sedangkan tangan kanannya tersimpan di dalam kantung celana.

Sehun berjalan menuju mejanya yang terletak di deretan paling belakang. Mina bisa mendengar suara seretan kursi yang kemudian disusul dengan suara tas yang diletakkan di atas meja. Setelah itu suasana hening. Keheningan yang canggung.

“Wah, pangeran kita baru datang.” Ujar Hoseok yang sepertinya baru kembali dari kantin. Ia bersama dengan Taejun dan Junho. Mereka biasa disebut Trio Lawak. Sesuai dengan julukannya, ketiga orang itu memang luar biasa konyol dan lucu.

“Kemana saja selama jam pelajaran pertama dan kedua?” tanya Junho pada Sehun.

“Tidur di klinik sekolah,” jawab Sehun. “Ada tugas?” tanyanya lagi.

“Tidak ada. Eh, apa ada ya? Ada tidak?” si konyol Junho malah balik bertanya pada kedua temannya.

“Mungkin ada.” Hoseok memasang tampang sok berpikir. “Kalau tanya yang seperti itu jangan sama kami. Tuh, sama yang juara kelas dong.” Hoseok berkata seraya menunjuk ke arah Mina.

“Minari~” panggil Hoseok dengan nada sok manis. Mau tak mau Mina menoleh. Ia sempat melirik ke arah Sehun. Hanya tiga detik, tapi sudah cukup membuatnya agak sedih dan kecewa kala mendapati tatapan datar dari Sehun.

“Ya?”

“Tadi pelajaran sejarah ada tugas tidak?”

“Ada. Halaman 20 latihan 1-10. Minggu depan di kumpulkan.” Jawab Mina dengan tatapan lurus menatap Hoseok. Ia tak lagi memiliki keberanian untuk melirik ke arah Sehun yang duduk di sebelah Hoseok.

*****


Sejeong terpana melihat wajah baru yang tak dikenalnya sedang duduk tenang sambil mengobrol di deretan bangku paling belakang.

“Itu yang namanya Oh Sehun. Keren kan?” Ada nada bangga yang terdengar disuara Yeri saat menyebut nama Sehun.

Sejeong mengangguk dengan pandangan masih terfokus ke arah Sehun. Begitu Sehun menoleh ke arahnya, spontan Sejeong langsung berpura-pura sibuk membolak balik halaman buku yang tadi dipinjamnya di perpustakaan. Sejeong salah tingkah.

“Johnny juga tidak kalah keren. Ia di kelas 3-4. Sehun itu agak pendiam, tapi dia ramah dan punya banyak teman. Bukan anti sosial.” Ucap Yeri sembari melirik sekilas ke arah Mina. “Oh iya, kami juga satu SMP loh.” tambah Yeri lagi sebelum pergi ke bangkunya yang berada di deretan nomor dua dari depan.

Sejeong sampai di mejanya yang berada di deretan nomor tiga dari depan. Sebelum duduk, ia sempat menoleh ke arah Sehun. Seperti sadar tengah diamati, Sehun menoleh ke arah Sejeong. Mereka kembali bertatapan, namun kali ini Sejeong tidak menghindar. Gadis itu menyunggingkan senyum manis nan ramah. Dan jantung Sejeong berdegub semakin kencang kala seulas senyum kecil terlukis diwajah Sehun. Oh Sehun baru saja membalas senyumnya.

*****


Sehun berjalan kaki menuju rumahnya. Biasanya ada Johnny yang menemani karena kebetulan rumah mereka searah. Tapi kali ini Johnny harus pergi ke rumah kakaknya, yang mana membuat pria itu harus naik kereta untuk sampai kesana. Jadilah Sehun berjalan sendirian menyusuri trotoar. Langkah Sehun terhenti di depan toko es krim. Toko itu ramai pengunjung yang mayoritasnya murid sekolahan, terutama murid dari Paran High School, mengingat lokasi toko yang tidak terlalu jauh dari Paran High School.

Sehun tidak terlalu suka makanan manis, tapi dulu dia sering ke toko ini, nyaris setiap hari. Namun sekarang, untuk melangkahkan kaki ke dalam sana pun rasanya ia enggan. Lagipula, tak ada lagi yang menjadi alasan bagi Sehun untuk singgah ke toko es krim ini.

Kau satu-satunya orang yang ku kenal yang tak suka es krim. Kau aneh. Es krim itu enak tahu! Kau sudah mensia-siakan 17 tahun hidupmu dengan tidak makan es krim.”

Kalimat itu seakan baru saja diucapkan. Sehun masih mengingat dengan jelas bagaimana nada suara dan bahkan raut wajah gadis itu saat mengatakannya. Sehun tersenyum miris karena lagi-lagi kenangan lama itu kembali menguak. Padahal ia sudah mati-matian menguburnya. Akan tetapi nyatanya ia selalu kalah dengan kepingan-kepingan kenangan yang terasa menyakitkan namun juga berharga.

*****


Mina melepas sepasang sepatunya dan meletakkan sepasang sepatu tersebut di dalam rak. Suara celotehan batita perempuan menyambut dirinya. Mina mendapati adik perempuannya yang berusia tiga tahun tengah asyik menonton televisi. Ibunya juga berada disana, terlihat sibuk dengan tumpukan pakaian bersih yang hendak disetrika sambil sesekali meladeni celotehan Naeun.

“Aku pulang.” Ucap Mina pelan.

Sunmi menoleh ke arah anak gadisnya tersebut. Hanya sebentar, lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya semula.

“Main main!” Seru Naeun begitu melihat kakaknya sudah pulang sekolah.

“Nanti ya, sayang.” Mina menggendong Naeun lalu mengecup pipi gembilnya, membuat Naeun tertawa girang. Kemudian ia kembali meletakkan Naeun di atas matras, kemudian berlalu hendak ke kamar.

“Jangan lupa makan. Ibu masak ayam bumbu pedas.” Ucap Sunmi sebelum Mina masuk ke dalam kamar.

Ne.

Mina baru selesai mengganti seragam sekolahnya dengan celana pendek dan baju kaos saat ponselnya berdering. Melihat ID caller yang terpampang di layar ponsel membuat Mina enggan menjawab. Ia membiarkan ponselnya terus berdering sembari menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Setelah beberapa saat panggilan tersebut berhenti. Tampaknya si penelpon menyerah. Namun semenit kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Mina. Mina membuka pesan tersebut dan membacanya.

From: Eomma

Mina-ya, ibu akan ke Seoul besok. Kau ada waktu? Ibu ingin bertemu.

Alih-alih membalas, Mina malah meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu meninggalkan kamar untuk makan siang dan menepati janjinya pada Naeun untuk menemani gadis kecil itu bermain.

*****


Pelajaran olahraga memang bukan favorit kebanyakan murid perempuan. Alasannya sederhana, karena pelajaran olahraga menguras tenaga dan mengeluarkan banyak keringat. Padahal setelah pelajaran olahraga mereka masih harus mengikuti beberapa mata pelajaran lainnya. Makanya, pemandangan murid-murid perempuan yang sedang duduk santai sambil mengobrol dibawah pohon di jam pelajaran olahraga bukanlah pemandangan yang asing. Terlebih guru olahraga mereka, Goo seonsaengnim, sedang izin sebentar ke ruang guru.

Sejeong benar-benar menjadi primadona di kelas 3-2. Cantik, ramah dan gemar olahraga menjadi alasan mengapa para namjadeul di kelas 3-2 begitu mengagumi Sejeong. Sejeong juga bukan tipe gadis yang suka jaim alias jaga image. Gadis itu bersikap natural, apa adanya dan tidak dibuat-buat.

Sekarang ini Sejeong, Chungha, Jina serta beberapa murid laki-laki sedang bermain bola voli. Kebanyakan murid perempuan lebih memilih menonton dari pinggir lapangan. Mina salah satu diantara murid perempuan tersebut. Bedanya, Mina duduk agak terasing dari kumpulan yeojadeul kelas 3-2.

Mina menegadahkan wajahnya, menatap langit Seoul yang cerah. Mina suka langit. Ciptaan Tuhan itu selalu bisa membuatnya tenang dan lupa waktu saat menatap keindahannya.

Melihat langit bisa membuatku tenang dan melupakan semua persoalan. Aku bisa betah menatap langit selama berjam-jam.”

Dulu ada yang menemaninya saat melihat langit. Mina rindu saat-saat itu. Asyik melihat langit, membuatnya tak sadar jika ada bola voli yang tengah melambung tinggi ke arahnya. Mina tidak sempat menghindar. Walhasil, bola berwarna putih itu sukses menghantam wajahnya. Suara pekikan siswi-siswi terdengar. Mereka bergegas mendatangi Mina, begitu juga dengan murid-murid yang bermain voli.

“Ya ampun, wajah Mina merah sekali!”

“Eh, itu itu! Hidungmu berdarah!” Seru Nayeon sembari menatap ngeri ke arah hidung Mina yang meneteskan darah.

Mina meringis. Hidung dan kepalanya terasa sakit. Namun hal tersebut tak lantas membuatnya mengeluh apalagi sampai menangis. Gadis itu menutupi hidungnya yang berdarah dengan tissue yang diberikan oleh salah seorang siswi.

“Maaf ya Mina. Aku tidak sengaja. Sungguh!” Taejun, si atlit voli, meminta maaf. Ia sungguh merasa bersalah. Apalagi Mina sampai terluka seperti ini.

“Tidak apa-apa.” Jawab Mina pelan. Gadis itu hendak beranjak pergi, namun sebuah tangan terulur dan menahannya.

“Angkat wajahmu! Jangan menunduk nanti darahnya semakin banyak keluar.” Sehun mengangkat wajah Mina. Mina sempat menghindar, tapi Sehun tidak peduli. Pria itu malah menggendong Mina, tidak mempedulikan pekikan heboh gadis-gadis yang menjadi saksi mata.

Sejeong yang sedari tadi menjadi penonton pun kaget melihat aksi heroik Sehun. Sungguh terlihat keren dimatanya. Membuat iri saja.

“Enaknya! Aku juga mau digendong Sehun.” Ujar Jina pelan. Gadis tinggi yang agak tomboy itu diam-diam adalah fans Sehun.

Begitu pelajaran olahraga selesai, para murid langsung bergegas ke ruang ganti. Waktu mereka tidak banyak. Hanya ada 10 menit sebelum guru pelajaran selanjutnya masuk. Di ruang ganti pun, para siswi masih memperbincangkan aksi Sehun yang membopong Mina di lapangan tadi.

“Wajar sih Sehun seperti itu. Bagaimanapun juga Mina kan adik mantan kekasihnya.” 

Ucapan Yeri membuat perhatian Sejeong teralih. Sejeong melipat baju olahraganya asal lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia mendekati Yeri.

“Mina adik dari mantan kekasih Sehun?” tanya Sejeong kaget.

Yeri mengangguk, “Ya. Namanya Kim Nana. Dia dua tahun di atas kita. Sehun lumayan lama berpacaran dengan Nana. Hmm, kalau tidak salah 1,5 tahun.” ucap Yeri.

“Kenapa putus?” tanya Sejeong. Mendadak ia menjadi sangat ingin tahu mengenai kehidupan Oh Sehun.

“Tidak bisa dibilang putus sih, soalnya Nana meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan.”

*****


Sehun terdiam sembari menatap langit yang cerah. Teman-temannya, termasuk Johnny, selalu berkata jika hobinya ini aneh. Untuk apa membuang-buang waktu memandang langit? Toh, langit selalu seperti itu, tidak berubah. Tapi Sehun tidak setuju dengan pemikiran teman-temannya. Menurutnya, langit selalu punya wajah yang berbeda-beda setiap harinya. Takkan ada kata bosan untuk memandang langit.

Pintu atap sekolah terbuka, menampakkan Johnny yang agak kerepotan dengan beberapa bungkus cemilan dikedua tangannya.

“Makanan datang!” ujarnya, lalu meletakkan berbungkus-bungkus cemilan tersebut di atas lantai semen.

Sehun menghampiri Johnny dan kemudian mengambil tempat persis di sebelah temannya itu. Sehun mengambil sebungkus roti keju, membuka bungkusnya lalu melahapnya. Ia sungguh lapar, tapi terlalu malas pergi ke kantin untuk membeli makanan. Untungnya Sehun punya teman yang royal dan loyal seperti Johnny.

“Tadi aku berpapasan dengan murid baru di kelasmu itu. Siapa namanya? Sujeong?”

“Sejeong.” Sehun mengoreksi.

“Ah iya, Sejeong. Dia cantik dan menarik,” puji Johnny. Bukan hal yang baru mendengar Johnny memuji seorang yeoja. Ia namja bermulut manis.

Johnny meremas bungkus roti coklat yang telah habis ia makan, lalu meraih bungkus snack kentang. “Nanti malam Joon, Taeyong dan Yuta akan menginap di rumahku. Orangtuaku sedang ke luar kota jadi bisa bebas. Kau ikut?” tanya Johnny sebelum memasukkan snack kentang ke dalam mulutnya.

“Lain kali saja. Nenekku sedang kurang sehat. Aku ingin menjaganya,” jawab Sehun.

Halmoni sakit apa?”

“Asmanya kambuh. Sekarang sudah baikan sih, tapi aku tidak tenang jika harus meninggalkannya.”

Arasso. Tidak apa-apa. Kau bisa gabung lain kali. Semoga kondisi halmoni lekas membaik,” ucap Johnny tulus. Ia tahu pasti seberapa penting sosok halmoni bagi Sehun. Selama ini halmoni lah yang telah merawat Sehun pasca ibu Sehun meninggal. Ayah Sehun terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang menyebabkan pria paruh baya itu jarang pulang ke rumah. Hal itulah yang membuat Sehun begitu dekat dengan sosok sang nenek.

Johnny melirik Sehun yang lagi-lagi tengah asyik menatap langit. “Sampai detik ini aku masih tak mengerti dengan hobi melankolismu ini.” Ucapnya, merujuk pada hobi Sehun yang suka menatap langit. “Aku malah ngantuk jika menatap langit lama-lama.”

Johnny tidak berbohong soal itu, sebab beberapa detik kemudian pria tampan itu menguap.

See? Aku jadi ingin tidur siang.”

*****


Sejeong terlalu senang karena ia dikelompokkan dengan Sehun, mengabaikan fakta bahwa soal fisika yang diberikan oleh Gong seonsaengnim begitu memeras otak. Sehun ternyata jauh dari image dingin ala-ala namja populer, meskipun dilihat dari tampangnya pria itu terlihat begitu dingin. Mereka mengobrol ringan sambil mengerjakan soal diiringi dengan tatapan penuh iri dari murid-murid kelas 3-2, baik yang perempuan maupun yang laki-laki.

“Wah, jadi kau juga suka figur anime?!” pekik Sejeong girang. Senang rasanya menemukan teman yang sehobi. Apalagi jika orangnya Sehun. “Lusa kan ada pameran anime di Myeondong. Nanti akan ada cosplay karakter anime dan mereka juga menjual figur anime serta dvd anime langka loh.” ujar Sejeong antusias.

“Oh ya? Sepertinya menarik.”

Sejeong mengangguk, “sangat menarik. Bagaimana kalau kita kesana?” tanya Sejeong, dan sedetik kemudian ia merutuk mulutnya yang tidak bisa dijaga. Bisa-bisanya ia mengajak Sehun pergi bersama. Bagaimana kalau Sehun menganggapnya gadis agresif?

Sejeong berdeham, “emm, maksudku… Akan menyenangkan pergi bersama teman yang sehobi. Aku baru disini, jadi belum menemukan teman yang sehobi. Jadi… Ya begitulah.” Sejeong makin merutuk mulutnya yang tidak pandai merangkai kata-kata. Gadis itu sudah ketar-ketir menanti respon Sehun.

“Temanku Johnny hobi mengoleksi figur dan video game dari anime-anime ternama. Dia pasti juga mau ikut. Kalau lusa tidak sibuk, uri kapsida (ayo kita pergi).”

Mata Sejeong makin berbinar-binar mendapati respon positif dari Sehun. Gadis itu mengangguk dengan begitu semangat. Tak sabar rasanya menunggu lusa tiba.

*****


Sehun terpaksa harus kembali ke kelas karena buku bahasa inggrisnya tertinggal di laci meja. Tadinya Sehun tak berniat untuk mengambil bukunya, namun dia ingat jika ada tugas yang harus dikumpulkan besok, jadi mau tidak mau ia harus kembali ke kelas.

Koridor di depan kelas tampak sepi. Kebanyakan murid yang belum pulang tengah berada di ruang klub atau di taman sekolah. Sehun menggeser pintu kelasnya. Langkahnya terhenti sejenak kala mendapati Mina berada di kelas. Gadis itu tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ingat pada tujuan awalnya, Sehun berjalan menuju mejanya dan mengambil buku bahasa inggris yang berada di laci. Baru saja ia membalikkan badan, suara Mina menghentikan langkahnya. Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Mina.

“Terima kasih atas bantuanmu kemarin,” ucap Mina. Ekspresi gadis itu datar. Matanya menatap lurus ke arah manik mata Sehun. “Tapi lain kali kau tidak perlu repot-repot menolongku. Aku tidak ingin punya hutang budi padamu. Jadi lain kali bersikaplah acuh. Seperti yang biasa kau lakukan padaku.”

Mina berlalu meninggalkan kelas setelah berkata demikian, sedangkan Sehun berdiri terpaku di tempatnya. Kalimat yang dilontarkan Mina tadi cukup menohok hatinya.

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s