Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 12 – END)

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

_________________________________________________________

Acara Prom Night berlangsung dengan meriah seperti yang mereka harapkan. Pengurus OSIS pun turut senang dan bangga karena hasil kerja keras mereka berhasil memenuhi ekspektasi para kakak kelas. Kalau tidak, bisa diamuk massa mereka jika tidak bisa memuaskan para kakak kelas yang sebentar lagi resmi menyandang status sebagai alumni Jeguk High School. Ngomong-ngomong, pengumuman kelulusan sudah diumumkan pagi tadi melalui koran dan website sekolah. Hasilnya, semua murid kelas 12 Jeguk dinyatakan lulus, termasuk anak-anak yang terlibat kasus. Seminggu setelah kasus terungkap, pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan ujian ulang khusus bagi murid-murid tersebut. Mereka lulus, walaupun dengan nilai pas-pasan.

Bang Minah sangat menikmati euphoria pesta. Ia jadi tak sabar untuk cepat-cepat merasakan sendiri pesta kelulusannya yang akan diadakan tahun depan. Pokoknya harus tak kalah serunya dengan pesta yang ini. Sejak tadi Minah terus mengaitkan tangannya dilengan Haneul. Pria itu tidak menolak ataupun menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman. Minah cukup senang dengan reaksi Haneul. Eskpresi bangga tampak sekali diwajah Minah. Bagaimana tidak, ia sedang menggandeng juara umum Jeguk. Haneul berhasil menempati posisi nilai tertinggi di ujian akhir.

“Wah, buntut Kim Woo Bin sekarang berpaling menjadi buntut Kang Haneul, ya?” canda Byun Baekhyun sambil memperhatikan Minah dan Haneuk.

Minah memeletkan lidahnya pada Baekhyun. Minah tidak segan dengan kakak kelasnya yang satu ini akibat terlalu seringnya Baekhyun bertingkah konyol di depan adik-adik kelasnya. Ah, Minah rasa bukan hanya dirinya, tapi mayoritas murid-murid kelas 10 dan 11 pasti akan menjawab tidak jika ditanya apakah mereka merasa segan pada sosok Byun Baekhyun yang terkenal. Ya, terkenal sebagai biang gosip.

Haneul tertawa kecil menanggapi candaan Baekhyun, lalu kembali fokus pada cerita Amber dan Jackson mengenai rencana liburan mereka nanti. Minah mendengus kesal. Kok Haneul malah tertawa dan bukannya membela dirinya? Tuh kan, Haneul sekarang jadi menyebalkan.

 

*****

 

Bagian yang ditunggu-tunggu, pengumuman Prom King dan Prom Queen. Semua murid sudah merapat di depan panggung yang tadinya menampilkan beberapa pertunjukkan, baik musik maupun tari. Wakil Kepala sekolah kembali naik ke atas panggung untuk mengumumkan nama murid yang terpilih sebagai King dan Queen. Pemungutan suara dilakukan di awal acara dengan 4 orang kandidat untuk masing-masing kategori. Murid-murid yang terpilih masuk nominasi merupakan murid yang berprestasi, baik dalam hal akademik maupun non akademi, serta popular dikalangan murid-murid Jeguk.

Untuk kategori Prom King, 4 kandidat yang terpilih adalah Kim Woo Bin, Kang Haneul, Kang Daniel dan Park Hyunshik. Tadinya nama Lee Hongbin juga masuk sebagai kandidat. Tapi karena kasus yang menimpanya pihak OSIS memutuskan untuk menghapus nama Hongbin dan menggantinya dengan Kang Daniel, si pemenang ajang pencarian bakat yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi Korea. Kepiawaiannya dalam menari dan menciptakan koreografi berhasil mengantarkannya pada kepopuleran, tidak hanya di Jeguk namun juga di Seoul. Sedangkan untuk kategori Prom Queen, 4 kandidat yang terpilih adalah Krystal Jung, Bae Irene, Kim Jiwon dan Park Shin Hye.

Jiwon melirik sekitar. Ia tidak melihat batang hidung Lee Hongbin disini. Baguslah, Jiwon tidak sudi melihat wajah sombong itu lagi. Jiwon yakin si sombong itu sudah tak punya muka untuk tampil di depan murid-murid Jeguk yang sudah tahu semua kebusukannya. Bahkan sekumpulan gadis-gadis yang mengaku sebagai fans Hongbin kini sudah berbelot menjadi haters-nya. Biar tahu rasa si sombong itu! Jiwon tersenyum puas.

“Gelar Prom King Jeguk High School tahun 2017 ini akan diberikan kepada…” Jae Suk ssaem menatap wajah-wajah muda dihadapannya yang terlihat sekali begitu menantikan kelanjutan kalimatnya sambil tersenyum. “Kepada…” lagi, dengan sengaja ia menggantungkan kalimatnya. Niatnya sih biar seperti pengumuman ajang pencarian bakat yang ada di televisi. Bahkan ada backsound-nya segala! Tidak tahu saja jika para murid nyaris melemparnya dengan makanan saking tak sabar. Untung saja ia Wakil Kepala Sekolah.

“Selamat kepada Kim Woo Bin!” Seru Jae Suk ssaem heboh.

“Wah chukkae!”

“Selamat Woo Bin-ah!”

“Selamat ya. Sudah kuduga kau yang menang.” Haneul menepuk punggung Woo Bin sambil tersenyum hangat. Sejak awal ia memang tak berharap untuk menjadi Prom King. Bahkan saat voting pun yang ia pilih adalah sepupu sekaligus sahabat karibnya, Woo Bin.

Woo Bin tersenyum menanggapi berbagai ucapan selamat yang ditujukan padanya, termasuk dari Jiwon. Woo Bin lalu naik ke atas panggung dengan senyum sumringah. Awalnya ia tidak terlalu tertarik dengan urusan Prom King dan Prom Queen ini. Tapi karena sudah menjadi pemenang, mendadak Woo Bin jadi begitu tertarik. Sekarang dalam hati tak henti-hentinya ia berharap agar gelar Prom Queen diberikan pada Jiwon. Pasti akan menjadi salah satu pengalaman yang berkesan di momen terakhir mereka sebagai murid Jeguk High School.

Jae Suk ssaem kembali mengarahkan mikrofon ke mulutnya. “Dan Prom Queen kita malam ini adalah…” lagi, Jae Suk ssaem kembali memainkan perannya selayaknya MC acara penghargaan di televisi. Beberapa murid terlihat memutar bola mata mereka kesal. Bikin lama saja!

“Selamat kepada Kim Jiwon!”

Para namjadeul penggemar Jiwon langsung menghujani gadis itu dengan ucapan selamat. Jiwon tersenyum senang sembari mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah memilihnya. Sebenarnya sih Jiwon sudah ada feeling bahwa dirinya yang akan dapat gelar Prom Queen malam ini. Bukannya sok atau terlalu percaya diri, tapi Jiwon tahu bahwa popularitasnya di Jeguk High School tidak main-main. Coba tanya siapa yang tak tahu Kim Jiwon di Jeguk High School. Paling bisa dihitung dengan jari siapa yang tak mengenal dirinya. Tapi Jiwon sangsi. Bahkan murid culun dan kuper sekalipun mengenal dirinya.

Jiwon naik ke atas panggung diiringi sorak sorai dari namjadeul pendukungnya. Melihat itu Jiwon tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa jumawa. Siapa yang tidak jumawa melihat ada banyak namja mengelu-elukan dirinya? Jiwon menatap Woo Bin sambil tersenyum sombong, secara tidak langsung mengatakan ‘Lihat, aku popular sekali, kan? Kau harus bersyukur punya tunangan cantik, pintar dan popular sepertiku.’

Minah memperhatikan dengan iri saat Jae Suk ssaem menyematkan kain selempang dengan tulisan Prom Queen serta memakaikan mahkota cantik ke kepala Jiwon. Ugh, Minah iri setengah mati. Pokoknya tahun depan ia harus mendapatkan gelar Prom Queen.

Woo Bin harus berbangga hati memiliki Jiwon sebagai tunangannya. Lihat saja para namjadeul yang hanya bisa gigit jari melihat lengan Jiwon melingkari lengannya. Jiwon tidak hanya cantik, namun juga memiliki kepribadian yang baik dan cocok dengannya. Woo Bin merasa bersyukur karena dulu ia menerima perjodohan yang diusulkan oleh ibunya dan ibunda Jiwon. Siapa sangka bahwa ketidaksengajaan serta berbagai kebetulan yang terjadi padanya dan Jiwon bisa membawa mereka ke tahap ini. Jiwon melirik Woo Bin, menyadari bahwa dirinya tengah ditatap oleh pria itu. Woo Bin tersenyum manis yang dibalas dengan senyuman tak kalah manis oleh Jiwon.

Acara dilanjutkan dengan dansa. Murid-murid yang membawa pasangan langsung mengajak pasangan mereka berdansa. Masa bodoh apakah mereka bisa berdansa atau tidak. Yang penting turun ke lantai dansa bersama pasangan. Sedangkan yang tidak punya pasangan hanya bisa menatap iri dipingir dan pojok ruangan. Sok merasa baik-baik saja padahal dalam hati menangis pilu. Musik yang semula berdentum cepat kini berubah menjadi pelan dan romantis. Para yeoja dengan malu-malu meletakkan tangan mereka dipundak atau dileher pasangan mereka, sedangkan para namja dengan semangat meletakkan tangan mereka dipinggang pasangan mereka.

“Ini pertama kalinya aku berdansa. Agak aneh.” Ucap Minseok.

“Aku sudah pernah melakukannya dengan ayah dan sepupuku. Ini tidak terlalu susah.” Krystal berkata seraya memindahkan tangannya yang semula berada dipundak Minseok menjadi dileher pria itu, melingkari lehernya. Krystal menatap sepasang manik mata Minseok intens. Sejak tadi ada yang ingin ia katakan. Sayangnya Krystal berkali-kali menundanya lantaran merasa belum siap. Ia ingin mencari waktu yang pas. Tapi waktu yang pas tidak akan muncul kecuali kita menyiapkannya, bukan?

Krystal menarik napas dalam. Ia masih menatap Minseok dalam.

“Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran Jessica unnie untuk sekolah desain di Amerika. Aku sudah mengurus berkas-berkas perizinan tinggal disana. Dua bulan lagi aku akan berangkat.”

Gerakan Minseok melambat. Kedua tangannya masih berada dipinggang Krystal, pun dengan kedua matanya yang sejak tadi fokus memandang wajah Krystal. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Minseok. Ia sengaja membiarkan Krystal berbicara. Minseok sebenarnya sudah tahu mengenai rencana Krystal ini, sebab sebelumnya Krystal pernah bercerita tentang cita-citanya untuk menjadi desainer seperti kakaknya serta tawaran sang kakak yang mengajak gadis cantik itu pindah ke Amerika. Tapi sudah lama Krystal tak pernah mengungkit soal itu lagi, membuat Minseok sempat berpikir jika mungkin saja Krystal berubah pikiran.

Rengkuhan tangan Krystal pada leher Minseok mengendur, sampai akhirnya terlepas. Kini kedua tangan Krystal hanya diam diatas pundak Minseok. Kaki mereka masih bergerak pelan mengikuti alunan musik.

“Aku… mungkin ada baiknya jika kita…”

Nan gidarilke. (Aku akan menunggumu)” Ucap Minseok memotong ucapan Krystal.

Krystal menatap sepasang mata milik Minseok dengan perasaan haru. Minseok tersenyum lembut, membuat Krystal tak sanggup lagi menahan air matanya. Gadis itu menangis, menangis untuk pertama kalinya dihadapan Minseok. Minseok sempat kaget, namun kemudian ia meraih tubuh Krystal ke dalam pelukannya. Dielusnya kepala dan punggung Krystal dengan lembut.

“Sebelum kau pergi kita harus pergi liburan bersama ya.”

Krystal mengangguk sembari mengeratkan pelukannya pada Minseok, membuat pria itu tersenyum lembut.

 

*****

 

 

Sejak tadi Minah tampak gelisah. Hal itu pun tidak luput dari perhatian Haneul. Pria yang sedang menyetir itu sesekali akan melirik Minah. Akhirnya Haneul tak tahan juga untuk tak bertanya sebab jarang-jarang ia melihat gadis yang biasanya selalu enerjik, malah terkesan hiperaktif, ini gundah gulana.

“Ada apa?”

Minah tersentak kaget, semakin memunculkan rasa penasaran pada diri Haneul. “Eh, kenapa?” Minah malah balik bertanya.

Lampu lalu lintas berganti merah. Haneul menghentikan laju mobilnya, kemudian menoleh ke arah Minah. Kali ini ia bisa fokus menatap hoobae-nya tersebut. Minah terlihat salah tingkah. Berkali-kali ia merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan sejak awal.

“Kau terlihat gelisah. Apa ada yang ingin kau katakan padaku? Atau mungkin ada yang bisa ku bantu?” tanya Haneul perhatian.

Sekali lagi Minah kembali merapikan rambutnya. “Itu… em…” Minah tampak berpikir keras. Dalam hati Haneul menebak pasti setelah ini kalimat yang keluar dari mulut Minah adalah ‘tidak apa-apa’. Haneul sudah hafal sekali dengan kebiasaan umum para wanita. Selalu mengatakan tidak apa-apa ketika sebenarnya memang ada apa-apa. Yah, bisa dibilang ‘tidak apa-apa’ versi wanita itu memiliki arti ‘ada apa-apa’.

“Tidak apa-apa.”

Haneul tersenyum samar, persis seperti tebakannya. Oh, wanita dan segala kelabilannya. Lampu lalu lintas yang telah berganti menjadi hijau membuat Haneul tak dapat meneruskan investigasinya. Biarlah sampai Minah sendiri yang akan mengatakannya. Jika gadis itu mau, ia pasti akan mengatakannya cepat atau lambat. Minah biasanya begitu. Jadi akhirnya Haneul memutuskan untuk membiarkan walaupun dalam hati dilanda rasa penasaran tingkat akut.

Disatu sisi Minah ingin mengatakan, tapi takut. Ia takut kejadiannya akan seperti dulu. Ia tidak ingin membebani Haneul. Minah takut jika Haneul akan merasa terbebani dan kemudian memutuskan pergi.

Ponsel Minah bergetar. Dengan malas ia mengambil ponselnya dari dalam tas tangan kecil miliknya.

 

From : Hyeri

Sudah mengatakannya pada Haneul sunbaenim?

 

Minah menghela napas begitu membaca pesan Hyeri. Gadis itu lalu membalas singkat.

 

To : Hyeri

Aku berubah pikiran

 

Minah kembali merasakan getaran pada ponselnya. Alih-alih membaca balasan dari Hyeri, Minah justru menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, membiarkan pesan Hyeri. Minah tahu temannya itu pasti uring-uringan karena sebetulnya mereka sudah menyusun rencana ini dari beberapa hari yang lalu. Bahkan Hyeri ikut membantu menyusun kata-kata yang pas yang harus Minah katakan pada Haneul. Sobatnya itu pasti kesal karena rencana mereka sia-sia. Apa boleh buat, Minah takut.

Sebentar lagi mereka akan sampai di apartemen Minah. Gadis itu semakin resah menyadari bahwa kesempatannya tinggal sedikit. Jika tidak sekarang, Minah tak tahu lagi kapan saat yang tepat. Akan tetapi rasa takut itu terlalu memonopoli dirinya.

“Sekarang atau tidak sama sekali…”

“Oppa, berhenti di mini market dulu ya, ada yang ingin aku beli.”

“Oh, baiklah.”

Mobil Haneul berhenti di depan mini market dekat apartemen Minah. Dari sini sudah terlihat gedung apartemen yang ditinggali oleh gadis itu beserta kedua kakak perempuannya. Haneul menoleh heran ke arah Minah yang tidak kunjung keluar dari mobilnya.

“Katanya ada yang ingin dibeli.” Haneul berkata sembari menatap Minah bingung.

Minah terlihat gugup. Gadis itu tak berani memandang Haneul. Kepalanya terus tertunduk. “Aku berbohong.” Ucap Minah dengan suara pelan. “Ada hal yang harus kukatakan padamu. Ku harap apapun yang ku katakan tidak akan menjadi beban untukmu. Aku hanya ingin kau tahu.” Minah menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ketika ia kembali berkata dengan suara pelan, Haneul nyaris tak mempercayai pendengarannya.

“Aku menyukaimu Haneul oppa.”

Keheningan yang nyata terjadi diantara mereka. Begitu canggung. Minah masih setia menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Ada rasa lega dan juga khawatir mendera hatinya. Lega karena ia bisa mengungkapkan perasaannya, namun disatu sisi juga khawatir karena sejak ia mengatakan kalimat tersebut Haneul hanya diam. Minah ingin melihat ekspresi pria itu, tapi ia takut kecewa. Duh, rasanya Minah ingin kabur saat ini juga. Tapi tidak. Ia ingin setidaknya mendengar jawaban Haneul. Respon positif ataupun negatif, Minah akan berusaha menerima. Ia butuh jawaban.

“Minah…” panggil Haneul lembut.

Minah masih menunduk. Haneul mengusap kepala gadis itu. “Lihat aku.” Pintanya.

Dengan ragu Minah menatap wajah Haneul. Dalam keremangan cahaya di dalam mobil Minah dapat melihat wajah Haneul. Pria itu tersenyum lembut, walaupun Minah dapat melihat sisa ekspresi terkejut pada wajah tampan itu.

“Jujur, aku cukup kaget dengan pengakuanmu. Meski begitu, terima kasih atas perasaanmu padaku. Aku menghargainya.”

“Apa itu berarti sunbae mau menjadi pacarku?” tanya Minah penuh harap.

Haneul tak langsung menjawab. Pria itu menatap wajah Minah lama.

 

*****

 

Liburan tiba, dan Jiwon dikejutkan dengan telepon dari Ahn Hyejong. Iya, telepon dari nenek Woo Bin. Jiwon yang saat itu tengah bersantai sembari menonton serial tv remaja yang sedang popular, Riverdall, langsung duduk tegak begitu suara Ahn Hyejong terdengar, seakan-akan nenek tunangannya itu tengah berada dihadapannya. Hyejong menepati janjinya untuk datang ke Seoul, dan sesuai janji juga, selama wanita tua itu berada di Seoul ia akan memberikan kursus bagaimana menjadi menantu idaman keluarga Kim pada Jiwon secara cuma-cuma.

Ne, algesimnida (Ya, saya mengerti). Nanti sore aku akan kesana. Sampai bertemu halmoni.” Jiwon meletakkan ponselnya disisi kanan sofa yang kosong. Helaan napas terdengar dari mulut Jiwon. Dia bukannya tidak senang atas kedatangan halmoni, tapi membayangkan pelatihan ala militer yang nanti akan dihadapinya membuat Jiwon ingin kabur saja. Halmoni memang sudah membuka pintu untuk menerima Jiwon sepenuhnya, namun bukan berarti sifat otoriter dan cerewetnya lantas hilang begitu saja. Ahn Hyejong tetaplah nenek yang cerewet, tukang perintah dan terkadang bisa begitu tega.

“Ada apa? Mukamu mendadak jadi suntuk begitu.”

Kim Nana memandang putrinya bingung. Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi pudding di atas meja, lalu duduk di sofa yang kosong sembari memperhatikan wajah putrinya. Jiwon menatap ibunya dengan wajah memelas.

“Nenek Woo Bin datang ke Seoul. Ia memintaku untuk datang ke rumah Woo Bin. Pelatihan militerku akan segera dimulai.”

Nana tertawa geli. Jiwon memang sudah menceritakan perihal sosok paling angker di keluarga Kim tersebut. Nana pindah duduk ke sebelah Jiwon. Dirangkulnya putrinya yang tengah risau tersebut. Jiwon langsung bergelung nyaman dipelukan ibunya, persis seperti anak kecil yang meminta perlindungan pada ibunya.

Sallyeojuseyo (selamatkan aku).” Jiwon memasang tampang melas.

Ibunya tersenyum. “Tidak asyik jika ibu ikut turun tangan. Jika kau suka cucunya, maka kau harus menghadapi neneknya. Sudah hukumnya begitu.” Ucap Nana.

Jiwon berdecak kesal. “Aturan dari mana itu? Lagipula ya, dimana-mana seharusnya namja yang menghadapi ujian berat untuk mendapatkan yeoja. Ini kenapa malah kebalikannya sih? Enak sekali si Woo Bin.” Jiwon menatap ibunya, masih sambil memeluk erat pinggang ibunya. “Kenapa eomma dan appa mudah sekali menerima Woo Bin? Seharusnya kan kalian kasih ujian dulu padanya. Padahal aku sudah membayangkan appa akan menyusahkan Woo Bin jika ingin mengencani putri kesayangannya ini, seperti di drama-drama. Eh, nyatanya appa malah begitu mudahnya menyerahkan aku pada Woo Bin. Apa-apaan itu!” Jiwon mendengus kesal.

“Sudah bagus diberikan jalan yang mudah. Kau ini semangat berjuangnya rendah sekali sih. Ini, makan pudding coklatnya setelah itu bersiap-siap ke rumah Woo Bin. Belajar jadi menantu yang baik disana. Jangan buat eomma malu, oke.”
 

*****

 

Sumpah Jiwon ingin menangis! Tangannya perih, begitu juga hatinya. Sesi belajar masak baru selesai. Ahn Hyejong telah kembali ke kamarnya untuk beristirahat sebelum makan malam nanti. Jiwon mengamati jemarinya yang dibalut perban. Bukan hanya satu, tapi dua jari sekaligus. Ini gara-gara terkena sirip ikan yang tajam saat ia membersihkan ikan tadi. Jiwon heran, kenapa penjual ikan tidak langsung membersihkan ikannya saja sih, jadi dirinya kan tak perlu repot. Tadi Jiwon mati-matian menahan rasa jijik saat harus membedah dan memutilasi ikan-ikan tersebut. Belum lagi dengan bau amis darahnya. Jiwon merasa seperti psikopat.

Woo Bin bukannya prihatin, tapi malah tersenyum geli. Puas sekali sepertinya melihat Jiwon disiksa bagai Cinderella. Woo Bin mengusap kepala Jiwon lembut.

“Wah, uri Jiwonni benar-benar bekerja keras ya. Good job!” pujinya.

Jiwon memandang Woo Bin datar. Dikiranya pujian begitu bisa membuat perasaan Jiwon membaik?

“Sini, aku mau membisikkan sesuatu.” Woo Bin menarik Jiwon pelan. Ia kemudian berbisik di telinga Jiwon. Ekspresi Jiwon yang semula muram berubah menjadi agak cerah. Gadis itu menatap Woo Bin dengan mata berbinar.

“Benar? Ke Jepang?” tanyanya untuk memastikan.

Woo Bin mengangguk sambil tersenyum. “Makanya, selama seminggu ini kau sabar-sabarlah menghadapi halmoni. Toh, saat kita kembali nanti halmoni sudah pulang.”

Ahn Hyejong berencana untuk tinggal selama kurang lebih dua minggu di Seoul. Wanita tua itu memang tidak betah lama-lama meninggalkan rumah dan perkebunannya yang amat berharga itu.

Arasso. Toh, aku bisa mencari-cari alasan untuk mangkir dari pelatihan militer ini setidaknya dua kali.” Jiwon mulai menyusun rencana. Woo Bin geleng-geleng kepala melihat tunangannya itu.

“Pelatihan militer? Ada-ada saja.”

 

*****

 

Jepang menjadi tujuan Woo Bin, Jiwon beserta teman-teman mereka untuk liburan. Hitung-hitung juga sebagai liburan perpisahan, sebab tak semua dari mereka memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Seoul. Beberapa seperti Amber, Jackson dan Irene memutuskan untuk meninggalkan Seoul. Amber dan Jackson ingin melanjutkan studi ke Amerika, sedangkan Irene ikut orang tuanya pindah ke Hongkong, jadi ia akan berkuliah disana.

Orang-orang yang ikut liburan kali ini masih anggota yang lama seperti saat berlibur di pulau dulu. Ada Jiwon, Woo Bin Amber, Jackson, Irene, Hyunshik, Minhyuk, Sungjae, Minah dan Haneul. Tadinya Haneul menolak ikut dengan alasan persiapan ujian yang bahkan masih sebulan lagi. Tapi setelah dihasut, lebih tepatnya dipaksa, mulai dari cara merayu sampai ancaman, akhirnya pria itu menyerah. Minah yang paling puas dengan menyerahnya Haneul karena selama beberapa hari belakangan ialah yang paling berusaha membujuk Haneul.

Kesepuluh remaja itu tiba di Osaka pada malam hari. Mereka langsung menuju hotel yang sudah di-booking. Lagi-lagi Jiwon dan Minah menjadi teman sekamar. Kembali mengulang kenangan beberapa bulan lalu. Yang berbeda adalah saat ini hubungan keduanya sudah lebih baik. Sesekali Minah masih suka ketus dan agak nyinyir pada Jiwon, tapi Jiwon sudah terbiasa. Sepertinya akibat terlalu sering bergaul dengan hoobae-nya itu. Lagipula Jiwon rasa sudah tak ada alasan lagi bagi Minah untuk membencinya.

Jiwon diam-diam memperhatikan Minah yang sedang mengambil sarapan di buffet bersama Haneul. Sesekali Minah akan mengatakan sesuatu yang sontak memunculkan senyuman di wajah Haneul. Sampai sekarang Jiwon tak habis pikir, bagaimana bisa dua orang yang bertolak belakang itu menjadi sepasang kekasih?

Awalnya Jiwon tidak percaya ketika dengan jumawanya Minah mengumumkan bahwa dirinya sudah resmi menanggalkan status jomblo dan berganti status menjadi in relationship. Dan pria sial, eh maksudnya beruntung itu adalah Haneul. Pertama kali mendengar Jiwon langsung tertawa, menganggap Bang Minah konyol dan tengah membual. Tapi begitu Kang Haneul mengangguk membenarkan, Jiwon langsung terdiam. Kalau di dalam drama-drama, mungkin saat itu Jiwon akan jatuh terduduk lemas saking kaget dan tidak percaya. Belum lagi saat melihat ekspresi puas Minah sembari memeluk lengan Haneul. Jangankan Jiwon, Woo Bin dan teman-teman yang lain saja kaget.

Dengar-dengar sih memang Minah yang menyatakan cinta duluan. Salut juga Jiwon dengan gadis itu. Jiwon saja sampai detik ini tidak berasa menyatakan cinta duluan pada Woo Bin. Gengsi dong. Bagi Jiwon, menyatakan cinta itu mutlak adalah tugas namja.

 

*****

 

Setelah mengunjungi Osaka Castle, rombongan remaja itu bertolak ke Tempozan Ferris Wheel. Itu loh, kincir raksasa setinggi 112.5 meter yang berlokasi di Osaka Bay. Agak mirip dengan kincir raksasa yang terkenal di London. Mereka sengaja mengunjungi Tempozan Ferris Wheel di malam hari karena pemandangannya memang lebih bagus saat malam. Mereka bisa melihat kelap kelip lampu kota Osaka di malam hari. Mereka bahkan rela mengantri panjang untuk menikmati pemandangan malam Osaka dari atas kincir meski hanya selama 15 menit.

Jiwon begitu antusias begitu menjejakkan kaki ke dalam bilik kincir. Sudah sejak lama ia ingin menaiki kincir raksasa seperti ini. Pemandangan dari atas sini memang bukan main indahnya.

“Bagus.” Ucap Woo Bin seraya menikmati pemandangan.

Jiwon menoleh sebentar ke arah tunangannya itu sebelum kembali memandang pemandangan kota Osaka. Maaf saja, untuk saat ini wajah tampan Woo Bin kalah dengan pemandangan malam kota Osaka yang tampak berkelap-kelip dengan bermacam warna efek dari cahaya lampu.

“Bukan hanya bagus, tapi sangat bagus,” Jiwon meralat.

Woo Bin tertawa kecil. Sekarang pandangan pria itu fokus menatap Jiwon. Jika bagi Jiwon pemandangan kota Osaka lebih menarik daripada Woo Bin, tapi bagi pria itu Jiwon justru lebih menarik untuk dipandang mata. Lebih indah…

Tatapan Woo Bin yang semula fokus pada wajah Jiwon kini beralih pada jemari gadis itu, dan ia tak dapat menahan senyumannya mendapati cincin emas putih, cincin pertunangan mereka, melingkari jari manis Jiwon. Woo Bin melihat jarinya sendiri. Di jari manisnya ada cincin yang sama dengan yang digunakan Jiwon.

Gadis yang tengah menatap pemandangan dengan antusias itu adalah tunangannya, miliknya. Namun hati Woo Bin agak merasa tak enak kala ia ingat jika dirinya belum pernah dengan gamblang menyatakan cinta pada Jiwon. Hubungan mereka awalnya memang agak aneh. Semua berawal dari kepura-puraan, namun kemudian disusul dengan beragam kebetulan yang datang silih berganti. Mulai dari orangtua mereka yang ternyata adalah teman baik, sampai akhirnya mereka dijodohkan.

Ah, daripada disebut kebetulan, Woo Bin lebih senang menyebutnya takdir. Tuhan sudah mentakdirkannya dan Jiwon bersama. Beragam kebetulan itu hanya cara Tuhan untuk menyatukan mereka. Kembali pada pernyataan cinta, Woo Bin baru sadar bahwa kalimat keramat itu belum terucap dari mulutnya. Ia menganggap bahwa tanpa perlu dikatakan toh Jiwon sudah tahu bagaimana perasaannya pada gadis itu.

Tapi pikirannya goyah gara-gara ucapan Jackson siang tadi.

“Demi apa kau belum menyatakan cinta? Hei, kau ini namja apa bukan sih? Masa tunggu Jiwon yang mengatakan duluan. Tidak gentleman sekali. Walaupun kalian sudah saling sama-sama tahu mengenai perasaan masing-masing, tapi kata cinta itu harus tetap diucapkan. Jadilah namja sejati, Kim Woo Bin.”

Dasar si Jackson itu, dia pikir Woo Bin seperti dirinya yang gampang sekali obral kata cinta. Tidak segampang itu untuk Woo Bin. Tapi berada di dalam situasi yang cukup romantis ini bersama Jiwon, Woo Bin tiba-tiba jadi ingin mencoba menjadi namja romantis seperti pemeran utama pria di drama yang sering ibunya tonton. Sekali-sekali tidak ada salahnya. Toh suasana sedang mendukung.

“Nanti kita coba jajanan pasar yang di dekat sini ya.”

Ucapan Jiwon membuyarkan lamunan Woo Bin. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Batinnya sedang bergelut. Haruskah sekarang? Tapi bilangnya bagaimana?

Mendadak Woo Bin merasa dirinya begitu cupu.

“Ji…” panggil Woo Bin membuat kedua mata jernih Jiwon menatapnya. “Aku… em begini. Kita sama-sama tahu bagaimana perasaan kita masing-masing. Tapi, aku hanya ingin menegaskan padamu kalau… aku… aku mencintaimu. Hubungan kita memang diawali karena perjodohan. Tapi aku bisa saja menghentikan perjodohan ini jika aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu. Nyatanya, aku mencintaimu.” Woo Bin menatap Jiwon sambil tersenyum manis, sedangkan Jiwon masih terdiam, namun dilihat dari ekspresinya gadis itu tampak terharu. “Aku hanya ingin kau tahu itu.”

Ini mungkin adalah kalimat termanis yang pernah Woo Bin ucapkan pada Jiwon, membuat hati Jiwon menghangat dan berbunga-bunga. Tidak menyangka akan mendengar pernyataan cinta Woo Bin di dalam kincir raksasa pula. Kenapa mendadak Woo Bin bisa seromantis ini?

“Apa kau butuh jawaban?” tanya Jiwon.

Woo Bin menggeleng. “Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku. Aku bisa merasakannya. Aku mengatakan ini karena aku ingin kau mendengarnya langsung dari mulutku. Aku kan namja yang gentleman.” Ucap Woo Bin seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Jiwon tertawa.

“Tapi aku juga ingin kau mendengarnya langsung dari mulutku.” Jiwon berkata sambil menatap Woo Bin lembut. “Aku juga mencintaimu.” Jiwon tersenyum lembut. “Aku tak pernah sekalipun menyesali pertemuan absurd kita yang akhirnya membawa kita sampai pada tahap ini. Lucu sih mengingat semua kebetulan yang terjadi pada kita.”

Woo Bin menggeleng. “Bukan kebetulan, tapi takdir.” Ucap Woo Bin.

Jiwon melirik sekilas ke arah jendela bilik kincir mereka. “Wah, kita sekarang berada di puncak.” Serunya girang. Woo Bin ikut menoleh ke arah jendela. Dan benar saja, bilik mereka tengah berada di puncak. Woo Bin menatap wajah Jiw

“Kau tahu mitos tentang kincir raksasa ini, tidak?” tanyanya.

“Tidak. Memang apa?” Jiwon terlihat penasaran.

“Katanya kalau pasangan kekasih berciuman disini, hubungan mereka akan langgeng sampai maut memisahkan. Mau mencoba?” Woo Bin menatap Jiwon jahil.

Meski agak tersipu malu, Jiwon tetap menatap Woo Bin dengan agak menantang. “Kenapa tidak.” Jawab Jiwon, membuat Woo Bin tersenyum sumringah.

Dan yah, keduanya memutuskan untuk membuktikan kebenaran mitos mengenai kincir raksasa ini. Terlepas dari benar tidaknya mitos ini, yang jelas keduanya tahu bahwa perasaan mereka nyata dan tak akan mudah pudar. Karena keduanya percaya bahwa mereka memang ditakdirkan bersama.

 

-The End-

 

Akhirnya FF ini tamat teman-teman sekalian 😀
Sejak awal FF ini aku rancang dengan konsep ringan, alias alur cerita dan masalah yang ada di cerita ini ga berat. Soalnya belakangan aku nulis cerita dengan permasalahan yang agak berat dan ujung2 malah pusing sendiri hahaha.. Nah, semoga FF ini berhasil menghibur kalian. Maaf banget kalo butuh waktu lama buat aku nyelesain cerita ini karena ada banyak hal yang terjadi di hidup aku selama setahun terakhir ini. Pokoknya tahun 2017 kemarin tahun yang cukup berat lah buat aku 😦 Maaf juga kalo cerita ini ga sesuai ekspektasi kalian.

Makasih buat teman-teman yang selalu dukung cerita ini. It means a lot for me. I love you all so much ❤

Selamat tahun baru 2018 ya, semoga di tahun ini teman-teman bisa mewujudkan impian2 kalian semua. Semoga tahun 2018 menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua 😀

Sampai ketemu di FF aku yang lain. Annyeong~

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 12 – END)

  1. Yey… Happy ending 😄
    Nggak nyangka minah & haneul pacaran 😅jahat bgt jiwon masa haneul dibilang pria yg sial gegara pacaran sama minah😂ugh…romantis nya woobin & jiwon itu nggak berlebihan, suka😍

    Next bikin ff woobin-jiwon lagi dong author….please!!!! Ya ya ya… 😆soalnya cuma disini ada couple woobin-jiwon😳

    1. Hahaha akhirnya setelah sekian lama ff ini kelar juga. Makasih udh baca ff ini dengan jadwal post yg ga pernah jelas 😀
      Ditunggu aja next ff couple ini. Semoga cepet dpt ilham wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s