Chapters · KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 8)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun

__________________________________________________

Ku pikir kejadian bangkai tikus itu adalah yang pertama dan yang terakhir. Akan tetapi keesokan harinya aku mendapati Sehun tengah berdiri diam sambil memandang mejanya. Pagi ini kelas masih sepi. Mungkin baru sekitar tiga orang yang datang, terlihat dari tas-tas yang tergeletak di meja ataupun bangku. Namun tak tampak batang hidung pemilik tas-tas tersebut. Mungkin mereka sedang sarapan di kantin. Jadilah hanya ada aku dan Sehun di dalam kelas. Merasa penasaran, dengan perlahan aku berjalan mendekati Sehun yang masih pada posisi awal.

Sekarang aku mengerti arti keterdiaman Sehun. Dia pasti syok saat mendapati mejanya penuh dengan coretan kata-kata kasar. Tulisan-tulisan tersebut saling tumpang tindih membuatku harus benar-benar memusatkan perhatian untuk bisa membaca tulisan-tulisan itu. Bahkan saking penuhnya, permukaan meja yang semula berwarna putih kini nyaris tak terlihat lagi. Aku melirik ke arah Sehun dan mendapati ekspresi marahnya. Rahang Sehun mengeras dengan bibir terkatup. Dengan kasar ia menjatuhkan tasnya ke lantai, kemudian berjalan menuju tempat penyimpanan peralatan kebersihan kelas yang ada di pojok belakang ruangan. Ia kembali dengan selembar kain lap beserta cairan pembersih ditangannya. Dengan emosi Sehun berusaha membersihkan mejanya.

“Brengsek!” umpat Sehun kala tak melihat ada perubahan pada mejanya. Tulisan-tulisan itu tetap berada di tempatnya, tidak tampak pudar apalagi hilang terhapus. Jelas si pelaku menggunakan tinta permanen.

“Sepertinya harus menggunakan alkohol.” Ucapku pelan, takut-takut sebenarnya.

Sehun melirikku sekilas sambil terus menggosok mejanya dengan kuat. Hanya ada satu tempat yang menyimpan alkohol di sekolah ini. Tentu saja laboratorium kimia. Tapi masalahnya, sepagi ini guru yang memegang kunci lab pasti belum datang. Aku pernah tanpa sengaja membaca bahwa selain alkohol, tinta spidol permanen juga bisa dibersihkan dengan pembersih cat kuku. Aku melirik meja Kyungri, salah seorang teman sekelasku yang terkenal sebagai gadia pesolek. Dia gemar gonta ganti cat kuku saat jam pelajaran sejarah. Tidak bisa disalahkan sih, Soo Man seonsaengnim memang sangat membosankan. Aku saja suka diam-diam mengerjakan tugas lain saat jam pelajarannya. Kembali ke persoalan cat kuku, aku yakin Kyungri juga pasti punya pembersihnya. Aku pun langsung bergegas menuju meja Kyungri alu memeriksa lacinya. Sesuai dugaanku, gadis itu memang menyimpan pembersih cat kuku di laci mejanya.

Hmm, ku rasa Kyungri takkan keberatan jika pembersih cat kukunya di pakai oleh Sehun. Ia kan diam-diam naksir berat dengan Sehun. Jangan tanya kenapa aku bisa tahu. Yang jelas Kyungri takkan bisa marah pada Sehun.

“SIAL!” Sehun melempar kain lap dengan kasar ke atas meja.

“Pakai ini.” Ucapku seraya menyodorkan botol pembersih cat kuku.

Sehun menatapku lalu botol pembersih cat kuku. Kurasa ia ragu apakah harus menerima bantuanku atau tidak. Bisa dimengerti. Sehun kan sangat benci padaku. Rasanya pasti aneh harus menerima bantuan dari orang yang paling kau benci. Ketika ku pikir bantuanku akan diabaikan oleh Sehun, tiba-tiba ia meraih botol ditanganku. Untuk sejenak aku kaget, namun kemudian perasaan hangat menyelimutiku. Aku tahu ini berlebihan. Toh Sehun hanya menerima bantuanku dan bukannya memutuskan untuk berbaikan denganku.

“Milikmu?” tanyanya.

“Eh… bukan… itu punya Kyungri. Tapi kurasa ia takkan marah jika kau memakainya. Ia kan su… hmm maksudku, Kyungri kan baik, jadi dia pasti maklum.”

Terdengar helaan napas Sehun. Sepertinya ia pun tahu bahwa ia tak punya pilihan lain untuk saat ini. Aku memutuskan untuk kembali ke mejaku. Sesekali aku akan melirik Sehun. Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba Sehun mendapat terror seperti ini? Sehun yang kutahu bukanlah tipe orang yang suka membuat masalah. Jadi rasanya mustahil jika ada yang dendam padanya. Tapi kalau begitu, apa maksud dari semua terror ini?

Sampai bel berbunyi dan guru masuk ke dalam kelas pun, aku masih tak bisa menemukan alasan kenapa ada yang meneror Sehun dan siapa sekiranya pelaku tersebut.

 

*****

 

Lagi, entah siapa pelakunya. Tapi kuyakin masih orang yang sama. Kali ini seragam Sehun yang menjadi sasaran. Aku tak tahu bagaimana tepatnya peristiwa tersebut. Namun yang ku dengar dari obrolan para yeojadeul di kelasku, saat hendak mengganti seragam olahraga dengan seragam biasa, Sehun menemukan loker tempat dirinya menyimpan baju dalam keadaan terbuka. Baju seragamnya robek, sepertinya digunting. Tidak cukup dengan menggunting seragam Sehun, si pelaku juga melumuri seragam Sehun dengan cat merah. Ada tulisan yang ditinggalkan oleh si pelaku. Tulisan yang berbunyi “Kau tidak pantas hidup setelah menghancurkan kehidupan seseorang”, ditulis diselembar kertas dengan tinta semerah darah.

Tidak perlu menunggu lama, kabar mengenai terror yang menimpa Sehun langsung terdengar seantreo sekolah, dan dalam sekejap menjadi topik hangat yang dibicarakan murid-murid, baik dari kelas 1 maupun kelas 3. Dan tiba-tiba saja kasus terror itu dikaitkan dengan kematian Somi. Tak bisa disalahkan, sebab aku pun sempat berpikir bahwa terror ini ada hubungannya dengan kematian Somi.  Gara-gara ini juga, pemikiran bahwa Sehun telah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Somi sehingga membuat gadis itu memutuskan untuk bunuh diri semakin menjadi-jadi. Sekarang ini, tiap individu di sekolah akan memandang Sehun dengan beragam tatapan, bukan hanya tatapan memuja seperti dulu. Saat kukatakan tiap individu, aku sama sekali tak berbohong. Bahkan guru-guru kami juga melakukan hal itu. Seperti Hong Jihyun seonsaengnim, guru muda yang biasanya senang menggoda Sehun, kali ini sama sekali tidak mengeluarkan candaan atau godaannya pada Sehun. Jihyun ssaem sempat kedapatan tengah memandang wajah Sehun dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.

Dunia ini memang aneh. Detik ini kau bisa dipuja-puja oleh orang-orang, tapi detik selanjutnya kau bisa saja dihujat. Begitu cepat dan mudahnya keadaan berbalik. Dan orang-orang kerap termakan oleh gosip murahan yang bahkan tidak jelas kebenarannya. Aku sudah sering berada pada posisi Sehun saat ini. Masa SMA ku penuh dengan pembully-an. Mungkin jika aku yang mengalami ini takkan terasa begitu berat. Yah karena itu tadi, aku sudah terbiasa. Tapi yang kita bicarakan sekarang adalah Oh Sehun, salah satu murid favorit dan dipuja-puja di sekolah ini. Hal seperti ini pasti baru pertama kali ia alami. Bisa kubayangkan bagaimana perasaan Sehun saat ini.

 

*****

 

“Apa kau percaya bahwa Sehun ada sangkut pautnya dengan kematian Somi?” tanya Kyuhyun yang langsung ku jawab dengan gelengan. Aku bahkan tak perlu berpikir untuk itu.

“Kau tahu kan kalau ada banyak sekali hal yang mendorong seseorang untuk bunuh diri. Untuk soal Somi, meskipun aku secara pribadi tak mengenalnya, namun dari cerita mengenai dirinya yang ku dengar dari orang-orang, rasanya tak mungkin jika alasannya bunuh diri sedangkal itu. Jeon Somi adalah pribadi yang ceria. Ditolak oleh pria yang disukai takkan menghancurkan diri gadis itu. Pasti ada hal lain yang mendorong tindakan bunuh dirinya.” Ucapku seraya menatap Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk setuju. Sebagai orang yang pernah berniat melakukan bunuh diri, ia pasti lebih bisa menempatkan diri pada posisi Somi, tidak hanya mengira-ngira. Walaupun takkan ada yang tahu secara pasti bagaimana perasaan Somi selain gadis itu sendiri.

“Lalu Sehun bagaimana?”

Aku menghela napas pelan seraya memainkan es krim yang sudah mencair di dalam mangkok, tidak ada niatan lagi untuk menghabiskan es krim vanilla ini. “Ia tampak tertekan. Belum selesai dengan masalah gssip mengenai dirinya dan Somi, malah sekarang harus berurusan dengan si peneror yang entah siapa itu. Ini mungkin hanya firasatku, tapi aku merasa bahwa peneror Sehun adalah salah seorang dari teman Somi.”

Kyuhyun menyesap kopi pahitnya, lalu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. “Bisa jadi. Kehilangan seorang sahabat atau orang yang disayangi terkadang bisa membuat kita melakukan hal bodoh dan sama sekali tidak berpikiran jernih saat melakukannya. Apalagi kau bilang bahwa terror itu mulai terjadi setelah adanya rumor mengenai Sehun dan Somi, bukan?”

Aku mengangguk, “Ya.”

Ini memang hanya sekedar dugaanku, tidak ada bukti konkrit yang menunjukkan bahwa salah seorang teman Somi merupakan si pelaku. Tapi asal kalian tahu, dugaanku nyaris tak pernah salah. Dan aku rasa kali ini pun dugaanku benar.

“…kau mau ke rumahku? Orangtuaku sedang ke luar kota.”

Aku langsung menatap Kyuhyun dengan pandangan was-was. Apa-apaan dia tiba-tiba mengajakku ke rumahnya saat kedua orangtuanya sedang di luar kota. Apa dia…

“Hei, kau tak mendengarkanku rupanya. Kau terlalu larut dalam lamunanmu.” Ucap Kyuhyun seraya tersenyum kecil. “Aku bilang kalau kau mau bertemu dengan Eunha, kau bisa melakukannya karena kedua orangtuaku sedang di luar kota. Jadi, kau mau ke rumahku untuk bertemu dengan Eunha?”

Ah, ternyata itu maksudnya. Ok, aku akui pikiranku sempat melantur tidak jelas tadi. Gara-gara kejadian saat melihat sunrise itu aku jadi agak-agak gugup tiap bertemu Kyuhyun. Ku lihat Kyuhyun tersenyum jahil sambil menatapku. Aish, aku tahu apa arti senyuman jahil itu. Tanpa bisa kutahan wajahku menjadi agak memerah. Buru-buru aku menunduk, sok sibuk dengan es krimku yang sekarang sudah benar-benar menjadi cair. Ku dengar suara tawa ringan milik Kyuhyun. Perlahan aku mendongak untuk menatapnya, dan aku tak menyesal karena aku bisa melihat senyum manis itu. Wajahnya yang biasa terlihat muram kini sedang tertawa.

 

*****

 

Ini merupakan suatu kebetulan yang menguntungkan. Sedikitpun aku tak memiliki firasat bahwa aku akan menemukan si peneror tanpa harus susah-susah mencari atau mengintai teman-teman Somi satu persatu. Aku memperhatikan gerak gerik pria mencurigakan yang tengah berada di depan meja tempat Ahyoung seonsaengnim meletakkan pot-pot tumbuhan yang diteliti oleh kelasku untuk pelajaran biologi. Sesuai dugaanku, pria aneh itu mengincar pot bunga berlabel nama Sehun. Ia menyiram pot tumbuhan Sehun dengan air yang entah apa kegunaannya. Pasti ia menyabotase tumbuhan yang sedang diteliti oleh Sehun.

“Apa yang kau lakukan?” akhirnya aku keluar dari tempat pengintaianku. Pria itu kaget dan sontak langsung berbalik menatapku. Tangannya masih memegang botol bekas air yang barusan ia siram pada pot tumbuhan milik Sehun. Menyadari arah pandanganku, pria yang kutebak adalah murid kelas dua ini, buru-buru menyembunyikan botol kosong tersebut ke belakang tubuhnya.

“Sedang apa disini?” aku kembali bertanya, sedikit banyak merasa puas melihat wajah pucat pasi murid laki-laki ini.

“Ah ini… aku… aku… aku ingin mencari buku biologiku yang hilang. Sepertinya tertinggal di laboratorium ini saat praktikum kemarin.” Jawabnya dengan terbata-bata.

“Kau murid kelas 2?”

Ne.”

Kulirik nametag yang tertera dibagian dada sebelah kirinya, Bae Jinyoung. Perlahan aku maju mendekati siswa bernama Bae Jinyoung tersebut. Secara spontan ia langsung mundur hingga punggungnya menubruk meja. Aku berhenti dua langkah dihadapan siswa yang kucurigai sebagai si peneror ini.

Aku menatap kedua manik matanya. “Air apa yang tadi kau siram pada pot milik Sehun? Dan jangan menyangkal, karena aku melihatnya!” Ujarku galak.

Manik mata Jinyoung bergerak-gerak gelisah. Ah, jelas aku telah memergokinya saat ia melakukan tindak kejahatan.

“Kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa kau meneror Sehun? Apa salahnya padamu?”

Bae Jinyoung terdiam cukup lama. Ku pikir kalimat pertama yang akan keluar dari mulutnya adalah bantahan serta pembelaan diri. Namun aku cukup kaget saat tanpa perlawanan Bae Jinyoung mengakui perbuatannya.

“Dia bersalah padaku karena dia telah merenggut nyawa satu-satunya teman terbaik yang kumiliki. Oh Sehun sunbaenim, dia bertanggung jawab atas kematian Somi.”

Aku menatap wajah Bae Jinyoung dengan intens. Ekspresinya penuh tekad, yang berarti ia sangat yakin dengan apa yang diucapkan serta dilakukannya. Aku bertanya-tanya, apa itu berarti ia memiliki bukti kuat yang mendasari tuduhannya pada Sehun?

Seakan bisa membaca pikiranku, Bae Jinyoung mengucapkan sebuah kalimat yang cukup mengagetkanku.

“Rumor yang beredar mengenai Sehun sunbaenim dan Somi itu benar.”

Ne? Maldo andwae! Sehun bukan orang yang seperti itu.” Bantahku.

“Tapi itu faktanya! Sehun sunbaenim telah melakukan pelecehan pada Somi.” Ujar Bae Jinyoung tanpa sedikitpun keraguan.  “Somi… sebelum dia meninggal, dia sempat membuat pengakuan bahwa dirinya mengalami pelecehan seksual. Seberapa keras aku membujuknya untuk mengatakan siapa pria brengsek itu, tapi Somi tetap bungkam. Tidak kusangka bahwa orang kucari-kucari ternyata ada di depan mata. Betapa bodohnya aku baru menyadari itu setelah Somi pergi.” Suara Bae Jinyoung terdengar bergetar menahan tangis.

Sekarang aku takut. Aku takut jika ternyata Sehun memang ada hubungan dengan ini semua. Aku takut jika gosip itu benar.

“Tunggu! Kenapa kau bisa begitu yakin bahwa orang itu adalah Sehun? Kau bahkan tidak mendengarnya langsung dari mulut Somi. Apa yang membuatmu begitu yakin?”

“Semuanya sudah jelas kan, sehari sebelum Somi bunuh diri dia sempat menemui Sehun sunbaenim. Dia menangis setelah pertemuan itu. Aku tak bisa menghubunginya seharian sampai akhirnya aku mendapat kabar bahwa Somi melakukan bunuh diri. Pasti… pasti Sehun sunbaenim pelakunya! Aku takkan sudi membiarkan orang yang sudah menghancurkan hidup Somi tenang menjalani hidupnya. Membayangkan betapa hancurnya Somi saat itu, dan melihat Sehun sunbaenim menjalani hidupnya seakan tak ada yang terjadi membuatku begitu marah. Ini tidak adil bagi Somi!”

“Tapi bukan aku pelakunya.”

Sehun muncul diambang pintu, membuatku dan Bae Jinyoung secara serentak menoleh kearahnya. Entah sejak kapan Sehun berada disana. Apa ia mendengar semuanya? Sehun berjalan mendekat ke arahku dan Bae Jinyoung. Ia berhenti tepat disebelahku, di depan Bae Jinyoung yang tengah menatapnya marah. Bisa kulihat betapa dendamnya Jinyoung pada Sehun, yang diduganya sebagai alasan kuat tindakan bunuh diri yang dilakukan Somi.

“Jangan bohong! Kau memang brengsek! Tega sekali kau menghancurkan kehidupan seorang gadis. Gadis yang ceria dan memiliki banyak impian yang belum terwujud itu menyukaimu dengan sepenuh hati, tapi kau malah membuatnya terbaring kaku di dalam tanah, sedangkan kau enak-enakan melanjutkan hidupmu tanpa beban.” Ujar Bae Jinyoung marah. Wajahnya memerah dan kedua tangannya mengepal erat.

Kulirik wajah Sehun sekilas. Sama sekali tidak tampak ekspresi marah atau emosi di wajah tampannya. Yang ada hanyalah ekspresi prihatin dan sedih.

“Aku tidak melakukan hal keji yang kau tuduhkan itu. Aku bersumpah sama sekali tidak pernah menyentuh Somi.” Sehun berkata dengan tegas. Namun beberapa detik kemudian ekspresinya tampak muram, yang seketika membuatku agak was-was. “Meskipun begitu, kau mungkin ada benarnya kalau aku memang turut andil dalam kematian Somi.”

Apa?! Sontak aku langsung menoleh menatap wajah Sehun. Rasanya tak yakin jika kalimat tadi baru saja keluar dari mulutnya. Apa aku yang salah dengar? Ini tidak mungkin! Sehun tidak mungkin sejahat itu pada Somi, bukan?

 

*****

 

Tak pernah ada yang tahu bahwa dibalik sosok cerianya, Jeon Somi ternyata menyimpan rahasia yang kelam dan menyakitkan. Sejak kecil Somi tidak pernah mengenal ayahnya sebab pria itu pergi meninggalkan Somi dan ibunya saat gadis itu masih bayi. Ibu Somi, Ah Mone berusaha mati-matian bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Somi. Wanita itu berperan menjadi ayah sekaligus ibu bagi Somi. Sedikit sekali waktu yang bisa Somi habiskan bersama ibunya dikarenakan kesibukan sang ibu dalam mencari nafkah. Ah Mone berpikir bahwa keputusannya untuk menikah lagi akan memberikan suasana serta kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecil mereka.

Aku yakin, baik Mone maupun Somi pasti tak pernah menyangka bahwa keputusan Mone untuk menikah lagi adalah keputusan paling salah yang pernah mereka ambil. Siapa sangka bahwa pria yang Mone pilih untuk menjadi sandarannya nyatanya tidak sebaik penampilan luarnya. Semuanya tertulis dengan jelas dalam buku harian milik Somi, betapa dirinya selalu merasa tidak nyaman berada di dekat ayah tirinya hingga pelecehan seperti apa yang pernah ia terima dari ayah tirinya tersebut. Sebelumnya tak ada yang pernah tahu soal itu, bahkan tidak ibunda Somi, Ah Mone. Ia tidak menyadari perubahan yang dialami oleh putri tunggalnya.

Rasanya sedih kala membayangkan Somi menghadapi semuanya seorang diri. Ia terlalu takut untuk bercerita pada orang lain. Dan soal Sehun, Somi menganggap Sehun sebagai kesempatan terakhirnya. Hal ini juga tertulis di buku harian gadis itu. Somi menulis jika ia akan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Sehun. Jika Sehun menerimanya, itu berarti dirinya masih cukup berharga dan masih memiliki alasan untuk tetap hidup karena ada yang mencintainya. Tapi sayangnya jawaban Sehun tidak sesuai dengan harapan Somi. Penolakan Sehun benar-benar menghancurkan harapan terakhir yang dimiliki Somi.

Ini bukan salah Sehun. Siapa sangka bahwa kejadiannya akan seperti ini. Jika saja Sehun tahu bila kehadirannya begitu berarti bagi Somi, aku yakin jawaban Sehun akan berbeda. Seperti yang pernah kukatakan, dibalik sikap dan wajah dingin itu, Sehun adalah seorang namja yang baik. Aku senang memiliki saudara seperti dirinya.

Bae Jinyoung awalnya tidak percaya. Untuk meyakininya, terpaksa kami pergi ke rumah Somi untuk mendengar langsung dari mulut ibunda Somi. Ah Mone terlihat begitu terpukul dan menderita saat harus bercerita mengenai penderitaan yang diam-diam dialami putrinya. Oh iya, ibunda Somi telah resmi bercerai dengan suaminya, pria bejat yang sudah menghancurkan Somi. Tak hanya itu, Ah Mone juga melayangkan laporan ke polisi atas tindak pelecehan yang dilakukan oleh mantan suaminya tersebut. Aku berharap agar pria itu mendapat balasan atas perbuatan bejatnya.

Setelah mendengar langsung kebenaran dari ibunda Somi, Bae Jinyoung tampak begitu terpukul. Sehun memutuskan untuk melupakan peneroran yang dilakukan oleh Bae Jinyoung. Ia tak ingin memperpanjang persoalan. Baginya kondisi Bae Jinyoung sekarang sudah cukup memprihatinkan.

“Kau baik sekali.” Ucapku pada Sehun. Ia hanya melirikku sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Jeon Somi. Ternyata Sehun sudah mengetahui fakta dibalik kematian Somi beberapa hari yang lalu, langsung dari ibunda Somi yang dulu sempat menemui Sehun di sekolah lantaran gosip mengenai Sehun dan Somi. Awalnya Ah Mone juga mencurigai Sehun, namun semua berubah kala ia menemukan buku harian Somi. Buku harian itu menjelaskan semuanya. Semua hal yang tak pernah bisa Somi ungkapkan hingga akhir hayatnya.

Tanpa bisa kutahan, lagi-lagi aku melirik Sehun secara diam-diam. Sedikit merasa takjub mengingat ini pertama kalinya kami berjalan berdua seperti ini, walaupun Sehun tetap menciptakan jarak nyata diantara kami. Langkah kaki Sehun yang panjang membuatnya berada satu langkah dihadapanku. Aku sengaja memelankan langkah kakiku sambil mengamati punggung tegap milik kakak tiriku itu.

“Besok hari peringatan kematian ayah, bukan?” tanyaku.

Sehun menghentikan langkahnya. Aku berjalan mendekati Sehun dan kemudian berdiri dihadapannya, menatap sejenak sepasang manik mata tajam tersebut.

“Ya.” Jawab Sehun singkat.

“Boleh aku ikut ke makamnya?”

Sehun terlihat kaget dengan permintaanku. Sejujurnya aku sudah bersiap untuk menerima penolakan keras darinya. Makanya aku begitu kaget dan nyaris tak mempercayai pendengaranku sendiri ketika Sehun mengizinkanku untuk ikut ke makam ayah.

“Kenapa kau mengizinkanku?”

“Jadi kau ingin aku melarangmu?” tanyanya dengan nada dingin dan ketus.

Aku menggeleng. “Bukan begitu. Hanya saja aku tahu betapa bencinya kau padaku. Ini cukup mengagetkan karena kau tidak menolakku.” Ucapku terus terang.

“Permintaan ibuku. Lagipula kau memang berhak berada disana. Kau putrinya.”

“Aku memang putrinya. Tapi jujur, aku tak pernah merasa jika ia adalah ayahku. Aku tak tahu apapun mengenainya. Bertemu pun baru satu kali. Itu juga setelah ia meninggal. Aku tak punya kesempatan untuk berbicara dan mengenalnya secara langsung. Ah tidak, sebenarnya aku punya kesempatan itu. Tapi aku memilih untuk melewatkannya. Situasinya terlalu membingungkan. Aku… merasa asing. Terkadang aku memikirkannya. Aku berpikir bagaimana jadinya jika aku sempat bertemu dengan ayah. Apa kami akan dengan cepat menjadi akrab, atau malah luar biasa canggung.”

Sehun hanya diam. Tapi aku tahu jika dia mendengarkanku. Mungkin diam-diam Sehun juga ingin tahu mengenai pendapatku tentang ayah kami. Aku tahu dari ibunya jika Sehun dulu sangat mengagumi sosok ayah dan mereka juga dekat. Pokoknya benar-benar keluarga kecil yang harmonis. Tak bisa kupungkiri kalau terkadang terbesit rasa iri dihatiku kala membayangkan kebahagiaan keluarga mereka. Belasan tahun mereka hidup bahagia, berbanding terbalik dengan hidupku dan ibu. Aku nyaris melupakan bagaimana rasanya bahagia.

“Aku membencimu dan ibumu. Itu adalah satu fakta yang tak bisa kupungkiri. Aku tahu, bukan salahmu sehingga ayah berselingkuh dengan ibumu. Kau juga sama sepertiku, kita tidak tahu apa-apa. Kita berdua korban. Aku tidak bisa dengan mudah menerimamu dalam hidupku walaupun kita memang punya hubungan darah. Tapi disatu sisi, aku pun tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kita adalah saudara.”

Mataku berkaca-kaca. Aku tahu ini berat, tak hanya untukku, tapi juga untuk Sehun dan ibunya. Apa sih yang ada dipikiran ayah dan ibuku hingga mereka memutuskan untuk menjadi penghianat?

Aku memaklumi semua tindakan dan sikap dingin Sehun padaku. Karena jika aku jadi dirinya, aku pun akan melakukan hal yang sama. Setetes air mata jatuh dipipiku. Buru-buru aku menghapusnya. Entah ini benar atau hanya firasatku saja, tapi sepertinya Sehun sudah mulai mau menerimaku dalam hidupnya. Mungkin akan butuh waktu lama sampai Sehun benar-benar bisa menerimaku. Tapi tak masalah, aku tidak keberatan jika harus menunggu sampai saat itu tiba.

 

 

-To Be Continued-

2 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s