Chapters

Set Me Free (Part 2)

Author : BlueSky (Cho Haneul)
Title      : Set Me Free
Genre   : Drama, Romance
Type     : Chaptered

Cast :
– Myoui Mina as Kim Mina
– Oh Sehun
– Kim Sejeong
– Kim Jisoo (Blackpink) as Kim Nana
– Seo Johnny (NCT)

_________________________________________

Kata-kata Mina terus menggema dalam kepala Sehun. Nada suara serta ekspresi datar milik gadis itu terpatri dengan jelas diingatannya. Sehun bisa menemukan kesedihan di kedua bola mata Mina, yang mana hal tersebut seakan membawanya pada masa lalu.

Dengan gusar Sehun mengacak rambutnya. Ia sudah bertekad untuk tidak berurusan dengan Mina ataupun gadis lainnya. Ia punya alasan kuat untuk hal tersebut.

Suara derit pintu menarik Sehun dari semua lamunannya. Sehun melihat neneknya keluar dari kamar dengan agak kepayahan. Tampaknya sang nenek belum sembuh benar dari sakitnya. Dengan sigap Sehun bangkit dari posisi duduknya dan bergegas menghampiri neneknya. Ia menuntun nenek menuju sofa.

“Apa tidak sebaiknya ke dokter saja?” tanya Sehun cemas. Ia selalu cemas jika melihat penyakit asma neneknya kambuh. Melihat sang nenek sakit adalah hal terakhir yang ingin dilihat Sehun. Bahkan jujur, ia tak ingin melihat neneknya sakit. Sehun terlalu takut untuk kehilangan neneknya.

Nenek Sehun, Minsun, tersenyum kecil sembari menggeleng. “Tidak perlu. Nenek baik-baik saja. Geokjonghajima.” ucapnya, namun tetap tak membuat Sehun tenang.

“Kau sudah makan, Sehun-ah? Ah, katanya kau ada acara dengan temanmu. Eonje?”

“Aku sudah makan. Acaranya besok, jadi hari ini aku takkan kemana-mana.” Sehun berkata dengan nada agak tegas, tak ingin dibantah. Ia tahu neneknya hendak menyuruh dirinya pergi bersama teman-teman guna menikmati malam minggu seperti remaja pada umumnya. Tapi Sehun tak berminat untuk meninggalkan sang nenek dalam kondisi tak sehat seperti.

“Ini malam minggu. Bersenang-senanglah bersama teman-temanmu. Atau ajak Johnny main ke sini.” ujar Minsun. Tepat seperti dugaan Sehun, neneknya itu memang ingin menyuruhnya bersenang-senang.

Sehun menggeleng. “Tidak. Pokoknya malam ini aku di rumah.” untuk kali ini Sehun tak ingin dibantah. Akhirnya Minsun menyerah. Cucunya ini bertekad kuat. Jika sudah memutuskan sesuatu maka pantang bagi Sehun untuk mengubahnya.
*****

Mina tidak ingat kapan terakhir kali ia makan malam selayaknya keluarga bersama sang ibu. Saking jarangnya hingga sekarang terasa aneh dan canggung. Mina sama sekali tak menikmati steak sapi dihadapannya meskipun aroma gurih steak sapi cukup menggiurkan.

“Kenapa? Steaknya tidak enak?” Sohye menatap putrinya dengan bingung. Mina menggeleng pelan, lalu mengiris steaknya dengan perlahan.

Sohye masih belum puas dengan jawaban putrinya. Ah, sejujurnya ia tidak puas dengan sesi makan malam serba canggung ini. Seharusnya ini menjadi makan malam menyenangkan antara ibu dan anak. Tapi mirisnya, Mina dan Sohye justru tampak seperti dua orang yang tak saling mengenal namun terpaksa harus berbagi meja. Mereka duduk saling berhadapan dalam jarak dekat akan tetapi malah terasa jauh, seakan ada jurang lebar yang memisahkan mereka.

“Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Baik.”

” Sekarang kau sudah kelas tiga. Sudah berpikir untuk masuk universitas mana? Kalau kau masih bingung, ibu punya beberapa referensi. Tinggal sebut jurusan yang kau inginkan.” ujar Sohye sambil tersenyum manis menatap putri bungsunya tersebut. “Ah, apa kau tertarik masuk jurusan hukum seperti ibu? Nanti ibu akan…”

“Aku suka menulis. Aku ingin masuk jurusan sastra.”

Jawaban Mina membuat Sohye terdiam. Wanita itu langsung berhenti makan dan kemudian menatap putri bungsunya dengan raut wajah yang begitu serius.

“Menulis?” tanya Sohye dengan dahi berkerut. Ia tampak kurang setuju dengan keinginan Mina. Jelas sekali jika keinginan putrinya tersebut melenceng dari harapannya.

Mina tahu jika ibunya keberatan. Ekspresi Sohye menunjukkan segalanya. Namun Mina diam. Ia sudah memutuskan kemana ia akan melanjutkan pendidikannya.

Sohye berdeham seraya mengelap sudut mulutnya dengan serbet. Ia lalu menatap Mina dengan serius. “Kau yakin? Kau pintar, Mina-ya. Kau bahkan bisa masuk ke jurusan kedokteran jika kau mau. Lalu, kenapa harus sastra? Kalau hanya karena kau suka menulis, kau tetap bisa menulis tanpa harus masuk jurusan sastra.”

Kesal. Mina tak habis pikir dengan ibunya itu. Tadi dia sendiri yang bertanya jurusan apa yang hendak Mina pilih, lalu kenapa sekarang jadi seperti ini? Dan lagi, Mina sangat benci dengan pendapat orang-orang yang selalu merendahkan jurusan sastra serta menganggap jika jurusan tersebut tak berguna dan orang pintar tak layak masuk ke jurusan tersebut. Apa orang pintar dan berprestasi harus selalu masuk ke jurusan yang katanya ‘bergengsi’ seperti kedokteran, hukum dan lainnya?

Mina muak dengan pemikiran seperti itu!

“Sastra juga menggunakan otak, jika ibu takut otakku tidak terpakai.” Ujar Mina sarkastik.

Sohye menghela napas, berusaha menjaga agar emosi tidak mengambil alih dirinya. “Bukan begitu maksud ibu. Hanya saja… Apa kau tidak berminat belajar hukum seperti ibu? Atau jurusan lainnya yang sudah jelas pekerjaannya kelak?”

“Sastra juga punya pekerjaan yang jelas dan layak.”

“Apa kata ayahmu mengenai ini?” Sohye bertanya.

“Aku belum mengatakannya pada ayah. Tapi ayah membebaskan aku untuk memilih selama aku senang dan berminat pada jurusan tersebut.”

Sohye menghembuskan napas kesal. Ia harus segera membicarakan perihal ini dengan mantan suaminya. Mina tersenyum kecil, merasa senang karena berhasil mendebat ibunya. Selama ini ia selalu diam dan pasrah, tapi takkan lagi. Dirinya sudah bertekad untuk berubah. Sekarang ia adalah Mina yang kuat dan tegar.
*****

Rasa gembira yang membuncah menyelimuti diri Sejeong. Pagi-pagi sekali gadis itu sudah bersiap untuk pergi ke acara pameran anime bersama Sehun dan Johnny, membuat ayah dan ibu Sejeong mengernyitkan dahi karena tumben melihat anak gadis mereka sudah rapi di minggu pagi seperti ini.

Sejak semalam Sejeong sudah membayangkan keseruan apa saja yang akan ia alami hari ini bersama Sehun dan juga Johnny. Sejeong belum mengenal Johnny, tapi yang ia dengar dari teman-temannya, Johnny adalah pribadi yang baik, ramah dan menyenangkan. Pria itu lebih terbuka daripada Sehun, jadi Sejeong bisa mengambil kesimpulan bahwa ia takkan kesulitan untuk memulai pertemanan dengan Johnny.

Rencana mereka ini sebenarnya nyaris gagal lantaran Sehun tidak kunjung memberikan konfirmasi ketersediannya. Dan Sejeong begitu frustasi menunggu kabar dari pria itu. Semalam tiba-tiba saja Sehun mengabari bahwa ia punya waktu dan ingin pergi ke pameran anime tersebut. Cukup sekali ajakan, Sejeong langsung setuju sebab memang itu yang sedang dinantinya. Tak ada kata sok jual mahal dalam kamus hidup Sejeong.

Sejeong janjian bertemu Sehun dan Johnny di stasiun kereta. Persis seperti yang dibayangkan Sejeong, Johnny memang pribadi yang ramah dan menyenangkan. Tidak ada kesan canggung dan tidak nyaman saat berkenalan dengannya. Ketiganya melanjutkan perjalanan menuju Myeondong, tempat dimana pameran digelar. Di dalam kereta dipenuhi oleh remaja-remaja yang bisa ditebak juga hendak menuju pameran anime di Myeondong. Terlihat dari gaya penampilan mereka yang meniru beragam karakter anime dan juga barang bawaan mereka yang berbau anime.

“Wah, jadi kau suka genre thriller dan detektif?” Johnny berkata dengan agak takjub. “Kebanyakan teman perempuanku lebih suka genre romance atau school life. Ah, malah kebanyakan dari mereka menonton anime hanya untuk melihat tokoh utama prianya yang bahkan hanya animasi, bukan orang asli.” ujar Johnny sambil geleng-geleng kepala kala mengingat teman dan bahkan adik perempuannya yang fangirling dengan tokoh animasi. Rasanya agak aneh. Terkadang Johnny kurang paham dengan jalan pikiran wanita.

Sejeong tertawa mendengar perkataan Johnny. “Ya wajar sih, soalnya kebanyakan tokoh pria di anime atau manga sangat keren dan sesuai dengan keinginan semua yeoja.”

Sejeong menoleh ke arah Sehun yang sejak tadi lebih banyak diam dan menjadi pendengar percakapannya dan Johnny. “Ada game yang sedang kau incar?” tanya Sejeong.

Sehun menoleh dan menggeleng pelan. “Tidak. Tapi jika ada yang bagus aku berencana untuk beli.” jawabnya.

Mata ketiganya tampak berbinar begitu sampai di lokasi pameran. Ada banyak sekali booth yang ingin mereka kunjungi.

“Ini surga dunia.” Ucap Johnny, membuat Sejeong dan Sehun tertawa, namun mereka setuju dengan ucapan Johnny tersebut.

Langsung saja ketiga larut dalam euforia pameran anime tersebut. Meskipun harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain, tapi mereka tidak keberatan. Malah semakin membuat ketiganya bersemangat. Sehun dan Johnny lebih berfokus pada game-game yang ada disana, sedangkan Sejeong lebih fokus dengan manga-manga langka ataupun terbaru yang diperjual belikan. Saking asyiknya mereka tidak sadar jika sudah 3 jam lebih waktu yang mereka habis di pameran. Ketiganya baru sadar ketika merasa lelah dan kelaparan.

“Pantas aku kelaparan.” Ucap Johnny sembari melihat jam tangannya.

Sehun memperhatikan keadaan sekitar, mencari-cari tempat makan yang sekiranya cocok dengan lidah mereka. Maklum, berhubung ini pameran anime, jadi makanan yang dijual disini semuanya makanan Jepang.

“Makan sushi?” tanya Sehun.

Johnny mengangguk setuju, tapi tidak dengan Sejeong. Gadis itu anti sekali dengan makanan mentah. Seberapa pun enaknya makanan tersebut.

“Aku tidak suka makanan mentah.” Ujar Sejeong tak enak.

“Disana juga ada udon kok. Kalau udon bagaimana?” tanya Johnny.

“Okelah. Selama bukan makanan mentah.” Jawab Sejeong.

Akhirnya ketiga remaja tersebut memutuskan untuk makan di salah satu stan makanan Jepang yang masih berlokasi di dalam pameran.

“Aku ke toilet dulu.” pamit Sehun sebelum beranjak dari duduknya.

Begitu Sehun tak nampak, Sejeong memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari tahu mengenai Sehun dari Johnny. Sejeong merasa jika Jonhhny adalah sumber yang paling akurat dikarenakan pria itu merupakan orang terdekat Sehun.

“Kalian sudah lama berteman ya?” Sejeong memulai sesi wawancara terselubungnya.

Johnny mengunyah makanannya sembari mengangguk. “Begitulah. Kami sudah seperti saudara. Saudara beda ibu hahaha..” canda Johnny yang tak ayal turut memancing tawa Sejeong.

“Sejauh yang kulihat selama ini Sehun adalah pribadi yang baik dan menyenangkan juga ramah. Tapi terkadang ada saatnya ia tampak seperti menarik diri dari lingkungan.” Ucap Sejeong, membuat fokus Johnny terpusat padanya. Jujur saja, pria itu cukup kaget dengan ucapan Sejeong. Pengamatan Sejeong mengenai Sehun begitu tepat.

Johnny tersenyum, lalu meraih gelas ochanya dan meminumnya. “Aku salut dengan pengamatanmu. Akurat sekali. Ah, ini pasti efek dari anime detektif yang selama ini kau lahap.”

Sejeong kembali tertawa. “Ya, mungkin saja. Tidak sia-sia aku menghabiskan sebagian besar uang jajanku untuk komik Conan.” canda gadis itu.

“Ada alasan dibalik semua sikapnya.”

“Kematian kekasihnya?”

Dan kali Johnny benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “Wah, baru beberapa hari menjadi murid di Paran dan kau sudah tahu mengenai Nana. Luar biasa!” ujar Johnny.

Sejeong agak tersipu malu. Gadis itu menjadi salah tingkah. “Bu..bukan maksudku untuk mengorek masa lalu Sehun. Aku dengar itu dari yeojadeul di kelas.”

Johnny tertawa, tahu bahwa gadis di hadapannya ini tengah menahan malu. “Gwenchana. Toh memang hal itu bukan rahasia lagi. Hampir semua murid Paran tahu.” Johnny berkata dengan nada ramah.

Sejeong berdeham, “Jadi… Apa benar jika Mina adalah adik Nana?” tanya gadis itu, yang dijawab dengan anggukan oleh Johnny.

“Tapi mereka tidak seperti saling mengenal.” gumam Sejeong, namun masih sampai ke telinga Johnny. Pria itu memilih untuk tak memberikan respon karena dirinya sendiri pun sebenarnya bingung dengan hubungan antara Sehun dan Mina. Padahal dulu mereka sempat dekat dan akrab terlebih setelah kematian Nana. Mereka saling menghibur satu sama lain karena bagaimanapun mereka berdua lah yang paling kehilangan sosok Nana. Tapi tiba-tiba saja semua berubah 180 derajat. Dan Johnny tidak paham mengapa itu bisa terjadi. Sehun pun selalu menolak untuk membahas.
*****

Sendiri bukan hal yang baru bagi Mina. Sejak dulu dia memang tipe penyendiri atau sebutan kerennya introvert. Mungkin yang menjadi perbedaan antara dulu dan sekarang adalah dulu akan ada Nana yang selalu menarik Mina dari dunia suramnya untuk masuk ke dalam dunia penuh warna milik Nana. Kakaknya itu memang pribadi yang ceria dan menyenangkan. Tapi sekarang, tak ada yang repot-repot mau membangunkan Mina di hari Minggu pagi untuk sekedar menikmati matahari terbit atau berolahraga pagi di taman sekitar rumah. Mina merindukan itu semua. Ia merindukan Nana yang selalu memberikan warna dalam hidupnya. Ia rindu celotehan kakaknya, yang meskipun terkadang tak penting dan terkesan random, namun selalu bisa menghiburnya.

Semenjak Nana tiada, Mina selalu melewati hari Minggunya di atas ranjang. Bermalas-malasan tanpa ada gairah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Apalagi biasanya di hari libur seperti ini ayah, ibu serta Naeun akan berkunjung ke rumah orangtua Sunmi, ibu tirinya. Dan Mina tak merasa berhak untuk ikut. Ia bukan siapa-siapa. Sebenarnya dulu sekali ia pernah ikut, tapi rasanya tidak nyaman. Mina merasa salah tempat. Sejak itu ia selalu menghindar jika diajak pergi mengunjungi orangtua Sunmi.

Mina mengubah posisi berbaringnya yang semula menghadap kiri menjadi menghadap kanan, persis menghadap cermin. Dari pantulan cermin ia bisa melihat dirinya sendiri dengan wajah sembab khas orang bangun tidur dan rambut berantakan. Pandangan Mina beralih menuju ranjang kosong yang ada dibawah ranjangnya. Ranjang bertingkat itu dulu dihuni oleh dua orang, dirinya dan sang kakak, Nana. Mina diranjang atas sedangkan Nana diranjang yang bawah. Setelah Nana meninggal Mina tetap membiarkan ranjang itu kosong, meskipun dulu dia sempat begitu menginginkan ranjang tersebut.

Mina tersenyum kecil kala mengingat dirinya dan Nana yang sempat berebut ranjang sampai taruhan demi mendapatkan ranjang bagian bawah. Taruhan siapa yang bisa mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran kimia yang notabennya adalah pelajaran yang paling keduanya benci. Sayangnya kala itu Mina kalah taruhan. Kakaknya memang sangat pintar bisa mendapatkan nilai nyaris sempurna di pelajaran yang bahkan dibencinya.

Eonni… Aku berubah pikiran. Ranjang di bawah tidak enak. Maka dari itu, kembalilah… aku takkan berusaha merebut ranjangmu lagi. bisik Mina pada keheningan.

Tanpa terasa air matanya menetes. Perasaan hampa kembali menyelimuti hatinya. Ia merasa sendiri. Tidak ada tempat untuk mengadu. Tidak ada tempat untuk bersandar.
*****

Sehun memandang hampa pada layar televisi yang tengah menayangkan adegan pernyataan cinta namja pemeran utama pada yeoja pemeran utama dalam sebuah drama. Sehun bukan penikmat drama. Ia hanya iseng menggonta ganti channel televisi hingga sampailah ia pada channel yang tengah menayangkan sebuah drama.

Melihat adegan romantis seperti itu membuat Sehun tak tahan untuk tak mencibir. Cinta? Itu bullshit! Rasanya ia ingin meneriaki si wanita yang begitu bodohnya mau menerima cinta si tokoh pria yang jelas-jelas tidak tulus.

“Dasar yeoja bodoh!” cibir Sehun.

Namun tak lama sinar mata pria itu meredup. Ia benci dengan karakter yeoja di drama tersebut karena begitu naif dan tolol. Mengingatkannya pada dirinya dulu.

Dengan gusar Sehun menekan tombol di remote tv sehingga layar televisi yang tadinya tengah menayangkan adegan drama kini berubah hitam. Sehun membaringkan tubuhnya di sofa. Posisinya menghadap jendela ruangan yang menampakkan langit siang yang cerah. Sehun memejamkan matanya, berusaha menghalau berbagai kenangan lama yang kembali menguak. Tapi sia-sia, suara itu begitu jelas terdengar, seakan-akan tengah langsung dibisikkan ke telinganya.

“Sehun-ah gomawo geurigo jeongmal mianhae…”

-To Be Continued-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s