Chapters · TWICE Mina

Set Me Free (Part 3)

Author : BlueSky (Cho Haneul)
Title      : Set Me Free
Genre   : Drama, Romance
Type     : Chaptered

Cast :
– Myoui Mina as Kim Mina
– Oh Sehun
– Kim Sejeong
– Kim Jisoo (Blackpink) as Kim Nana
– Seo Johnny (NCT)

______________________________________________

Sehun pertama kali bertemu Nana di tahun pertamanya berada di Paran. Tepatnya enam bulan setelah ia resmi menjadi murid tingkat pertama Paran High School. Dan jujur, Sehun jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Nana karena kecantikan fisik gadis yang berusia dua tahun diatasnya tersebut. 

Nana memiliki bentuk wajah lonjong, hidung mancung serta sepasang mata tak terlalu sipit yang sering memberikan tatapan polos pada objek yang ditatapnya. Nana sangat mencintai rambut hitam panjangnya yang tak pernah terkena zat pewarna rambut. Wajahnya pun cantik tanpa pernah bersentuhan dengan pisau bedah. Nana punya kecantikan alami yang membuat para namja tak cukup sekali memandangnya dan membuat para yeoja iri setengah mati. 

Ditambah lagi dengan sifat Nana yang ceria dan ramah, membuat Sehun semakin mengaguminya. 

Hari itu Sehun pulang lebih lama karena baru menyelesaikan latihan basket bersama teman-temannya. Selepas latihan basket mereka berencana untuk main game di rumah Johnny, yang kebetulan paling dekat dengan sekolah. Jadilah keempat remaja itu berjalan kaki menuju rumah Johnny sambil berbincang-bincang dan sesekali diselingi canda tawa. Namun tanpa disengaja keempatnya malah melihat pemandangan yang tak mengenakkan saat melewati belakang sekolah yang selalu sepi. 

“Duh, kasihan sekali yeoja itu. Semarah apapun, aku takkan bisa memukul yeoja.” Bisik Mingyu. 

“Apa perlu kita bantu?” tanya Johnny agak ragu. 

Chanyeol menggeleng enggan. “Itu bukan urusan kita. Sudahlah, jangan cari gara-gara. Tidak lihat, namja itu sepertinya anak gang atau malah preman.” Ujar Chanyeol sembari mengamati sosok pria yang tampak terlibat cekcok dengan seorang gadis. Gadis itu memakai seragam yang sama dengan yeojadeul di sekolah mereka. 

“Eh, yeoja itu sunbaenim. Aduh, tapi aku lupa namanya.” Ujar Johnny sambil berusaha mengingat-ingat nama senior yang pernah membimbingnya saat MOS. 

Sehun mengamati gadis yang disebut Johnny sebagai sunbaenim mereka. Gadis berambut panjang itu menyentuh pipinya yang baru saja terkena tamparan dari pria yang Sehun duga kekasih gadis itu. Sesudah menampar sang gadis, pria tersebut malah pergi meninggalkan gadis itu menangis seorang diri. Sehun dan ketiga temannya berdiri diam di tempat mereka. Bingung harus bagaimana. Tiba-tiba saja gadis itu menoleh ke arah dimana Sehun dan ketiga temannya berdiri, membuat keempat remaja itu salah tingkah dan buru-buru melangkah pergi. 

Berbeda dengan teman-temannya yang salah tingkah karena ketahuan menguping, Sehun justru terpesona pada kecantikan Nana. Meskipun gadis itu sedang dalam kondisi yang tak baik, tapi kecantikannya tetap terpancar jelas. Johnny bahkan harus menyeret Sehun agar ikut beranjak dari sana. 

“Ah, aku ingat!” Seru Johnny tiba-tiba ketika mereka sudah berada jauh dari sekolah. “Namanya Kim Nana. Dia murid kelas 12.” 

Dan sejak saat itu, sosok Nana seakan enggan beranjak dari benak Sehun. 

***** 

 

Mina disibukkan dengan novel sciencefiction yang sedang dibacanya ketika Sejeong sampai di kelas. Jam masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Masih ada waktu selama 30 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Maka dari itu tak heran jika suasana kelas masih sunyi. Kebanyakan murid yang datang lebih pagi memilih untuk menghabiskan waktu menunggu bel masuk di taman sekolah atau kantin. 

“Selamat pagi!” Sapa Sejeong pada Mina dengan nada ramah, yang mana membuat Mina mau tak mau turut membalas sapaan tersebut. 

“Selamat pagi.” balas Mina disertai dengan seulas senyum kecil. Lalu gadis kalem itu kembali sibuk pada novelnya. Sama sekali tidak berusaha membuka percakapan pada Sejeong layaknya teman sebangku lainnya. 

Sejeong sudah mulai terbiasa dengan sikap tertutup dan pendiam Mina. Sudah sebulan lebih ia menjadi teman sebangku Mina, sedikitnya ia sudah bisa membaca watak teman sebangkunya tersebut. Mina memang pribadi yang sangat tertutup. Mau seberapa keras usaha Sejeong untuk masuk ke dalam kehidupan Mina, namun selalu gagal. Dengan pelan namun pasti Mina selalu mendorongnya menjauh jika dirinya merasa Sejeong sudah terlalu dekat. Yah, itu sudah menjadi sifatnya. Sejeong tak bisa berbuat apapun selain menghormati pilihan Mina. 

Padahal jika saja mereka dekat, Sejeong tak segan-segan ingin menanyakan soal Kim Nana dan Sehun. Salahkan Sejeong yang terlalu menyukai Sehun dan penasaran dengan kehidupan si pangeran kelas itu. Sehun memang baik dan ramah. Itu tak perlu diragukan. Akan tetapi sama seperti Mina, Sehun akan mendorong jauh orang yang dirasa telah terlalu dekat dengan dirinya. Pengecualian untuk Johnny. 

Tanpa sadar Sejeong menghela napas, membuat Mina yang duduk disebelahnya dapat mendengar jelas helaan napas gadis itu. 

“Kau baik-baik saja?” tanya Mina. 

Pertanyaan sederhana tersebut membuat Sejeong kaget. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena siapa yang bertanya. Ini pertama kalinya Mina bertanya dengan nada peduli seperti itu pada Sejeong. Wajar saja jika Sejeong kaget. 

“Eh, aku.. Aku baik-baik saja. Hehehe..” Sejeong tersenyum tiga jari, membuat kedua matanya membentuk  garis. 

Pandangan mata Sejeong beralih pada papan tulis. Disana tertulis nama-nama siswa di kelas ini yang akan berpartisipasi pada lomba cerdas cermat yang akan diadakan Paran High School. Kebanyakan nama yang tercantum disana adalah hasil paksaan dari wali kelas dengan iming-iming nilai tambahan. Beruntung Sejeong tidak ikut menjadi salah satu korban. Mungkin dikarenakan dirinya yang masih tergolong siswa baru sehingga wali kelas belum terlalu tahu mengenai kemampuan akademiknya. 

Sejeong membaca nama-nama di papan tulis sembari mengingat wajah kesal nan pasrah milik teman-temannya ketika dibujuk, atau lebih tepatnya dipaksa, untuk menjadi perwakilan kelas. Di antara beberapa nama yang tertulis disana, mata Sejeong terpaku pada satu nama. Oh Sehun. Si pangeran kelas itu termasuk dalam deretan nama yang akan mewakili kelas dalam mata pelajaran… Oh bahkan sampai detik ini Sejeong masih belum bisa percaya. Oh Sehun akan mewakili kelas dalam mata pelajaran sastra Korea. Ya, Sastra! 

Siapa sangka Sehun jago dalam pelajaran yang biasa begitu dihindari oleh kaum adam tersebut. Ah, apa selain anime dan game, Sehun juga suka berpuisi? 

“Aku tidak sangka Sehun suka pelajaran Sastra Korea. Sulit membayangkan jika diwaktu senggang ia menghabiskan waktu dengan membaca kumpulan puisi atau novel roman.” Ucap Sejeong sambil tertawa kecil. 

“Dia tidak suka membaca novel roman dan sebenarnya tidak terlalu menyukai sastra.” Ucap Mina tiba-tiba, membuat Sejeong langsung menoleh dan memusatkan perhatian pada teman sebangkunya tersebut. 

“Tapi dia mahir…” 

“Mahir bukan berarti suka. Lagipula sastra itu kan tidak harus selalu tentang cinta. Dia hanya suka pada puisi-puisi atau syair-syair tertentu. Sedikit banyak itu karena pengaruh neneknya yang pensiunan guru sastra.” 

Sejeong nyaris tak berkedip saat menatap Mina. Siapa sangka gadis disebelahnya itu tahu banyak mengenai Sehun. 

“Kau… tahu banyak ya mengenai Sehun. Ah, tentu saja! Kalian kan teman dari SMP dan kakakmu juga…” Sejeong tiba-tiba terdiam. “Ah, maaf. Aku.. Aku tahu dari teman-teman kalau mendiang kakakmu adalah kekasih Sehun.” ucap Sejeong tak enak hati. Ia tak tahu seberapa sensitif Mina membicarakan topik mengenai Nana. 

Mina sempat termenung, namun kemudian ia menggeleng pelan. “Tak apa. Aku tidak dekat dengan Sehun. Aku hanya… kebetulan tahu.” Mina berkata pelan. 

Suara beberapa orang berbincang-bincang di depan pintu kelas memecah keheningan diantara Sejeong dan Mina. Keduanya menoleh ke arah pintu kelas dan mendapati Sehun bersama beberapa orang siswa terlihat sedang dalam perbincangan asyik. Mina langsung kembali pada kesibukan awalnya yang sempat terganggu, sama sekali tak berminat pada gerombolan siswa tersebut. Berbeda dengan Sejeong menatap penuh minat dan memuja pada sosok Oh Sehun. 

 

***** 

 

Di dekat sekolah ada sebuah lahan kosong yang telah diubah oleh warga sekitar menjadi lapangan. Acap kali lapangan itu dipakai oleh anak-anak sekitar untuk bermain bola atau baseball. Sehun dan teman-temannya termasuk kelompok yang sering menggunakan lapangan tersebut untuk menyalurkan hobi olah raga mereka sepulang sekolah, mengingat sekolah hanya buka sampai jam 4 sore. Begitu kegiatan ekskul selesai, maka sekolah akan ditutup. Masalahnya jika sudah bermain basket atau sepak bola, Sehun dan teman-temannya akan sangat lupa waktu. Tak jarang mereka baru selesai main saat matahari hampir terbenam. 

Seperti sekarang, meski telah bercucuran keringat namun Sehun, Johnny, Chanyeol, Jongin, Minseok dan Mingyu tetap asyik berlarian sembari mengiring bola kaki agar masuk ke gawang lawan. Meski kebanyakan mereka adalah atlit basket, kecuali Minseok dan Jongin, tapi mereka juga termasuk penggemar sepak bola. 

“Gol!” seru Mingyu senang. Pria itu berlari menubruk partnernya, Chanyeol. 

Gol dari Mingyu menyudahi permainan tiga lawan tiga mereka. Keenamnya duduk dibangku pinggir lapangan dengan napas terengah-engah serta keringat yang bercucuran. Langit telah berganti warna menjadi oranye agak kemerahan. Semilir angin sepoi-sepoi membuat keenam namjadeul yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut agak enggan untuk beranjak. 

“Ah, kalau tidak ingat ibu akan memotong uang sakuku jika aku sampai pulang telat lagi, aku pasti masih ingin lama-lama disini.” sesal Mingyu sembari bangkit dan mengambil tas ranselnya. Jongin dan Minseok mengikuti. 

“Aku juga harus pergi sekarang. Aku ada les malam.” Ucap Minseok. 

Satu persatu berpamitan pulang, meninggalkan Sehun, Johnny dan Chanyeol disana. Ketiganya masih betah pada posisi awal. Orang tua Chanyeol bukan tipe orang tua yang suka mengekang. Asal Chanyeol izin terlebih dahulu, maka mereka tidak keberatan jika ia pulang telat. Hal yang sama juga berlaku pada Johnny dan Sehun. Makanya jika sedang kumpul-kumpul seperti tadi mereka bertigalah yang paling akhir pulang. 

Sehun terlarut dalam lamunannya sambil menatap langit senja. 

“Aku suka disini. Suasananya hening, teduh dan anginnya sepoi-sepoi. Aku bisa tidur dengan nyenyak disini.” 

Sehun teringat pada ucapan Nana saat ia membawa gadis itu kesini dua tahun lalu. Saat itu mereka baru resmi berpacaran. Nana itu… Dia bisa bahagia karena hal-hal yang sangat sederhana. Sehun masih bisa mengingat jelas senyum senang gadis itu saat dibawa kesini. Senyum manis nan teduh yang selalu berhasil mematahkan ego Sehun dan membuatnya berkali-kali memaklumi kesalahan gadis itu. 

Sehun terlalu memuja Nana.. 

Sehun melirik ke arah Johnny dan Chanyeol yang sedang asyik mengobrol tentang film-film yang tengah diputar di bioskop saat ini. Sehun ingat perkataan Johnny ketika dirinya bilang bahwa ia menyukai Nana. 

“Lupakan! Gadis itu bodoh! Ah, lebih tepatnya buta oleh cinta tololnya itu. Bisa-bisanya ia tetap memilih pria yang hampir selalu menyiksanya. Pria yang tidak segan-segan memukulnya. Sikapnya selama ini padamu hanya karena dia butuh pelarian. Dia tidak benar-benar suka padamu. Buktinya dia hanya datang jika dia sedang bertengkar dengan pacar gilanya itu, kan? Begitu baikan, woof! Dia menghilang. Dan bisa-bisanya kau masih suka pada gadis seperti itu? Please, don’t be so stupid! 

Pada akhirnya Sehun tetap memilih Nana, mengabaikan semua nasihat Johnny. Dan ketika dirinya tersakiti, seharusnya Sehun tak perlu kaget karena jauh di dalam hatinya ia sudah bisa memprediksikan bagaimana akhir dari hubungannya dan Nana. Semua salahnya. Salah dirinya yang bodoh dan terlalu dibutakan oleh cinta, yang bahkan mungkin hanya dimiliki oleh dirinya. Mungkin.. 

Entahlah. Sehun takkan tahu bagaimana perasaan Nana yang sebenarnya pada dirinya. Ia tidak bisa menanyai gadis itu lagi. 

***** 

 

Mina menemani Naeun menyusun kepingan puzzle berukuran besar yang biasa dimainkan balita. Dengan telaten Mina mengarahkan Naeun agar menempatkan kepingan puzzle di posisi yang tepat. Bunyi bel membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya pada pintu masuk. Mina ingat jika Sunmi sedang mandi sehingga hanya dia yang saat ini bisa membuka pintu. 

“Sebentar ya sayang.” Mina mengelus kepala Naeun lalu beranjak menuju pintu depan. Mina mengintip sejenak melaluu lubang pintu. Ekspresinya beubah muram kala melihat ibu Sunmi, alias neneknya tengah berdiri di depan pintu dengan gaya tak sabar. 

Mina menghela napas sebelum membuka pintu. 

“Duh, lama sekali sih!” Ucap nenek dengan wajah agak kesal. 

Mianhaeyo halmoni.” Mina berkata sopan. Ia mengambil alih barang bawaan nenek. 

Sikap ketus sang nenek berubah begitu berhadapan dengan Naeun. Mina tersenyum miris. Wajar, dirinya kan bukan cucu kandung nenek. Mereka tidak ada hubungan darah. 

Setelah memindahkan makanan yang dibawa oleh nenek ke dalam piring, tak lupa pula Mina menyuguhkan teh manis hangat dan cemilan pada sang nenek. Untungnya saat Mina kembali ke ruang keluarga Sunmi sudah berada disana hingga tak ada alasan baginya untuk tetap tinggal menemani nenek. Mina pamit ke kamar dengan dalih ingin mengerjakan PR setelah meletakkan teh dan kue bolu kukus ke atas meja. 

Huft, siapa sangka jika waktu bermainnya bersama Naeun akan terganggu dengan kedatangan nenek. Bukannya apa, tapi Mina selalu merasa tak nyaman dan terintimidasi ketika berhadapan dengan wanita tua yang telah melahirkan ibu tirinya tersebut. 

Alih-alih mengerjakan tugas sekolah seperti alasannya tadi, Mina memutuskan untuk berbenah, terutama di area meja belajarnya yang penuh buku. Mina memindahkan buku-buku yang sekiranya sudah tak ia perlukan ke rak buku paling bawah. Beberapa ia masukkan ke dalam kotak dan kemudian menyimpannya di bawah kolong tempat tidur. Mina meraih buku catatan hariannya yang berisi beraneka ragam tulisan, mulai dari sekedar memo pengingat sampai kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara yang disukainya. Mina membuka lembar akhir buku tersebut. Terdapat beberapa baris kalimat tertulis dengan tinta biru tua disana. Tulisannya tidak begitu rapi, berbeda sekali dengan tulisan-tulisan yang ada di lembar depan. Jemari Mina mengusap barisan syair karya Khalil Gibran yang tertulis disana. 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti kata yang tidak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada… 

Selalu. Setiap membaca baris demi baris syair tersebut mata Mina akan selalu berkaca-kaca. Hatinya terasa sesak. 

“Kalau kau cinta padaku seharusnya kau tidak mengabaikanku. Seharusnya kau tetap tinggal bukanlah berlari pergi.” 

***** 

 

Kalau bukan karena butuh ke kamar kecil, Mina pasti takkan keluar dari kamarnya selama nenek masih berada di rumahnya. Tapi Mina tak punya pilihan. Kantung kemihnya sudah tak sanggup lagi menahan lebih lama. Tak lucukan jika ia sampai mengompol gara-gara enggan ke toilet. 

Akhirnya Mina keluar dari zona amannya. Ia berjalan cepat menuju ke kamar mandi, namun perbincangan antara nenek dan ibu tirinya yang menbawa nama dirinya dan sang kakak membuat Mina memutuskan menguping. 

“Kenapa tidak mengembalikannya pada ibu kandungnya, hah? Sudah seharusnya ibunya yang bertanggung jawab merawat dan mendidik anak perempuannya. Bukannya malah melempar anak itu kesini. Bagaimana jika dia juga berulah seperti kakaknya? Nanti kau juga yang repot, Sunmi-ya.” 

“Ibu jangan berbicara seperti itu jika ada Joon oppa. Aku mengerti maksud ibu, tapi aku tak bisa melakukan apapun selain menerima keputusan Joon oppa untuk membawa anak-anaknya tinggal disini.” 

“Pokoknya jangan sampai gadis itu memberikan pengaruh buruk pada Naeun.” 

Rasanya sakit dan sesak. Mina tahu bahwa ibu tirinya tak terlalu senang dengan keberadaannya dan Nana. Mina bisa memaklumi. Kehadirannya dan Nana dalam keluarga ini dirasa menganggu. Sunmi tentu berharap bahwa rumah ini hanya ditinggali oleh keluarga kecilnya, tanpa ada orang lain. Dalam hal ini, Nana dan dirinya adalah orang lain. 

Mina juga sebenarnya tak terlalu nyaman tinggal disini, apalagi semenjak Nana meninggal. Ia selalu merasa canggung dan kesepian. Namun pergi dari sini tidak bisa menjadi pilihan karena Mina tidak punya tempat tujuan lain yang lebih baik. 

***** 

 

Meja kantin penuh. Sejeong berjalan pelan mengitari kantin, berharap bisa menemukan meja yang kosong. Seakan dewi fortuna sedang berpihak padanya, ia melihat Sehun dan Johnny serta ada dua orang namjadeul yang tak dikenalnya sedang duduk di sebuah meja dekat jendela kantin. Sejeong tersenyum seraya berjalan mendekati meja tersebut. 

Annyeong!” sapanya riang disertai senyum sumringah. 

Johnny yang pertama melihat Sejeong membalas sapaan ramah gadis itu dengan tak kalah ramah. 

“Hmm.. Boleh aku duduk disini? Meja yang lain penuh.” Sejeong menatap namjadeul dihadapannya tersebut dengan malu-malu. 

“Ya boleh. Silahkan.” Sehun menjawab seraya menarik kursi kosong yang ada disebelahnya untuk Sejeong, membuat ekspresi wajah gadis itu menjadi lebih sumringah. 

Gomawo.” 

“Ah, kenalkan. Ini Minseok dan Jongin. Mereka dari kelas 3-4.” Ucap Sehun. 

Sejeong menatap kedua namjadeul yang duduk dihadapannya seraya tersenyum ramah. Dijabatnya kedua tangan namjadeul tersebut. 

Sifat Sejeong yang ramah dan mudah bergaul dengan segera membuatnya akrab dan terlibat dalam perbincangan bersama Minseok dan Jongin. Beberapa orang siswi menatap Sejeong dengan iri, melihat betapa gadis itu bisa duduk satu meja serta berbincang-bincang dengan namjadeul keren incaran mereka. Dan Mina termasuk diantara yeojadeul yang menatap iri. 

Sejeong tertawa menanggapi guyonan Jongin dan Johnny. Tanpa sengaja pandangan matanya tertuju pada Mina yang tengah berdiri sambil membawa baki makan siangnya. Gadis itu terlihat kesulitan menemukan tempat. 

“Eh, itu Mina.” Ucap Sejeong. 

Sehun menoleh menatap Sejeong, lalu mengikuti arah pandangan gadis itu menuju tempat dimana Mina berada. 

“Ajak bergabung saja.” pancing Sejeong. Gadis itu masih penasaran dengan hubungan Mina dan Sehun. Lagipula mereka masih punya satu kursi tersisa bekas Minseok yang sudah pamit lebih dulu karena harus ke ruang guru. 

Johnny rupanya mendengar usulan Sejeong. Pria itu melirik Sehun, ingin tahu bagaimana reaksi sahabatnya tersebut. 

Sehun mengedikkan bahu. ‘Terserah.” ucapnya. 

Tanpa pikir panjang Sejeong melambaikan tangannya pada Mina. Mina berjalan mendekat. Ekspresi wajahnya terlihat begitu tenang. 

“Duduk disini saja. Meja lain penuh. Waktu istirahat tinggal sebentar lagi.” Ujar Sejeong. 

Mina melirik ke arah Sehun sekilas, lalu menarik kursi bekas Minseok yang posisinya berada tepat di hadapan Johnny. Gadis itu makan dalam diam. Sama sekali tak berniat untuk ikut nimbrung dalam obrolan yang di dominasi oleh Sejeong dan Johnny tersebut. Mina persis seperti orang asing yang hanya numpang duduk disana. 

Sehun melirik Mina, lalu tersenyum kecil melihat tumpukan wortel dipinggir piring Mina. Kebiasaan lama yang tak berubah. Tumpukan wortel itu takkan dibuang, melainkan akan dimakan belakangan. Mina selalu memakan sayuran sendiri, tanpa mencampurnya dengan nasi. Mina pecinta hampir segala jenis sayuran yang bisa dimakan, sedangkan Sehun benci sekali dengan makanan yang didominasi oleh warna hijau itu. Sungguh bertolak belakang. Dulu semua sayuran yang berada di piring Sehun akan berpindah ke piring Nana atau Mina. Kakak beradik itu sama sekali tak keberatan. 

Sehun selalu berpikir bahwa mungkin saja sayuran tersebut turut andil dalam kejeniusan kakak beradik ini. Apa ia harus mulai makan sayur? Pikirnya konyol. 

“Kau latihan untuk lomba ya hari ini?” 

Pertanyaan dari Jongin menghentikan lamunan Sehun. Ia menoleh ke arah Jongin dan kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Jongin. 

“Memangnya kenapa?” tanya Sehun. 

“Junhong ingin mentraktir dalam rangka ulang tahunnya. Setelah itu kami berencana lanjut ke bioskop. Sedang banyak film bagus.” Jawab Jongin. 

“Salam saja untuk Junhong. Kali ini aku tidak bisa ikut.” 

“Ya mau bagaimana lagi. Kau kan ditunjuk jadi perwakil kelas. Pasti sibuk ya menjelang lomba.” Ujar Jongin. 

Johnny menepuk bahu Sehun sambil memasang tampang sok prihatin. “Sabar teman. Kesabaran akan berbuah kebaikan.” 

“Diam kau! Menggelikan sekali mendengarkanmu mengucapkan kalimat sok bijak seperti itu.” ujar Sehun seraya menatap Johnny jijik. 

Johnny tertawa, lalu mengalihkan pandangan pada gadis yang sedari tadi hanya diam. “Kau menjadi perwakilan untuk lomba apa, Mina-ssi?” 

Mina agak tersentak kaget, tidak menyangka dirinya akan dilibatkan dalam percakapan. Mina menelan makanan yang dikunyahnya kemudian menjawab singkat, “Matematika.” 

“Ah, sudah kuduga, pasti antara matematika dan fisika. Pelajaran yang kau gemari.” balas Johnny sambil tersenyum ramah. 

Mina tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala. “Aku tidak terlalu gemar matematika atau fisika. Aku lebih suka sastra.” akunya pelan. Jika biasanya Mina akan diam dan membiarkan orang-orang berasumsi kalau pelajaran eksak adalah favoritnya, tapi kali ini entah mengapa Mina mau mengklarifikasi. 

Jawaban Mina membuat Johnny dan Sejeong kaget. Keduanya menatap Mina dengan mata terbelalak kaget. 

“Serius?!” tanya kedua bersamaan. 

“Wah wah.. Ini tidak disangka-sangka. Ku kira kau maniak angka melihat nilai-nilai pelajaran eksakmu yang tingginya bukan main itu. Apalagi biasanya orang yang jago pelajaran eksak, tidak akan tertarik pada pelajaran hafalan. Yah, yang seperti sastra itu.” Ujar Johnny. Sejeong mengangguk setuju. 

“Bahkan dipelajaran yang tak terlalu kau gemari nilaimu sangat bagus. Irinya…” Sejeong menatap Mina dengan pandangan kagum. 

Berbeda dengan Johnny dan Sejeong yang kaget saat tahu Mina suka sastra, raut kaget sama sekali tak terlihat di wajah Sehun. Itu karena ia sudah tahu. Bahkan tanpa perlu gadis itu mengatakan langsung kepadanya, ia sudah tahu. Sehun sering mendapati Mina membaca novel-novel roman dan kumpulan puisi atau sajak. Novel yang dilahap Mina bukan sekedar novel roman picisan yang biasa dibaca yeojadeul di kelasnya, tapi novel roman dengan tingkat bahasa yang tinggi dan indah. 

Tiba-tiba Sehun jadi ingat suatu momen di musim panas beberapa bulan lalu. 

Saat itu musim panas. Sudah seminggu sekolah libur dan Sehun bosan setengah mati. Johnny pergi berlibur dengan keluarganya dan Sehun terlalu malas untuk mengontak teman-temannya yang lain. Sehun duduk di lantai kamar sembari bersandar pada tempat tidur. Diraihnya gitar akustik yang teronggok disebelahnya lalu memetik senarnya secara acak. Gitar itu milik Johnny yang sengaja ditinggalkan pemiliknya di kamar Sehun. 

“Mainkan sebuah lagu untukku.” pinta sebuah suara lembut. Sehun menoleh ke arah pemilik suara yang tengah berbaring di atas ranjangnya sambil memegang buku karangan Khalil Gibran.  

“Apa imbalannya?” tanya Sehun, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Sehun mengenyitkan dahi. “Apa itu? Kau mau ku cium?” tanya Sehun dengan tampang sok polos.” 

“Enak saja! Sudah ah, lupakan!” 

Sehun tertawa, membuat kedua matanya terlihat lebih sipit. Ia melirik ke arah buku karangan Khalil Gibran dan tiba-tiba teringat satu syair yang pernah ditulis oleh salah satu penyair terkenal di dunia tersebut. 

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..” 

Suara lain menyambung bait syair yang diucapkan Sehun. “Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” 

Sehun menoleh ke arah gadis yang menghuni ranjangnya. Kali ini ia menatap lama kedua manik mata gadis itu dengan tatapan hangat yang dibalas dengan senyuman manis. Sehun suka senyum itu. Senyum semanis madu dan sehangat mentari pagi milik Mina. 

“Hei Sehun! Kenapa malah melamun? Ayo kembali ke kelas! Bel masuk sudah bunyi.” Johnny menepuk pundak Sehun. Sehun baru sadar bahwa suasana kantin sudah sepi. Hanya tinggal segelintir murid yang masih berada disana. Kursi di depannya yang tadi diduduki oleh Jongin dan Mina pun sudah kosong. Ia bahkan tak sadar kapan keduanya pergi. 

Sejeong menatap Sehun khawatir. “Kau baik-baik saja?” tanya gadis itu perhatian, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Sehun. Meski Sehub berkata bahwa dirinya baik-baik saj, tapi Sejeong tahu jika pria itu berbohong. Ia yakin ini ada hubungannya dengan Mina. 

‘Sebenarnya ada apa sih  diantara kalian?’
 

-To Be Continued- 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s