Chapters · KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 9)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun

________________________________________________________________________________

Dulu sekali aku pernah membayangkan hadir di hari peringatan kematian ayah. Walaupun tidak pernah mengenalnya secara langsung serta merasakan kasih sayangnya, tapi tetap saja dia ayahku mau seberapa kerasnya aku menyangkal.

Memperingati hari kematian selalu dilakukan oleh orang-orang sebagai momen untuk mengenang keluarga atau orang terkasih yang telah meninggalkan mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun orang tersebut telah tiada namun mereka akan selalu dikenang. Yah, kurasa itu tujuan utama diadakannya hari peringatan kematian.

Tapi aku dan ibu tak pernah melakukannya untuk ayah. Dulu aku pernah bertanya, yang kemudian dijawab dengan sinis oleh ibu.

“Untuk apa repot-repot mengenang si brengsek itu? Tak ada yang patut dikenang olehnya.”

Aku hanya diam kala itu. Diam-diam merasa setuju dengan ucapan ibu. Ya, memang apa yang bisa dikenang dari sosok ayah yang selama belasan tahun tak pernah ku kenal? Tapi meskipun begitu, ada sejumput rasa ingin melakukannya. Ku pikir aku penasaran dengan bagaimana rasanya menghadiri hari peringatan kematian. Aku tidak pernah menghadiri acara seperti itu sebelumnya.

Dan akhirnya hari ini aku bisa tahu bagaimana rasanya menghadiri hari peringatan kematian. Wajah-wajah ini begitu baru dan asing bagiku. Sehun bilang mereka adalah adik-adik ayahku beserta keluarganya. Aku bahkan baru tahu jika ayahku punya dua orang adik laki-laki. Segitu butanya aku mengenai ayah kandungku sendiri. Tapi hei, kalian tidak bisa menyalahkanku! Bukan mauku selama belasan tahun tidak mengenal ayah kandungku sendiri.

Suasana berubah canggung saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan tempat keluarga mereka berkumpul. Ibu Sehun menghampiriku dengan seulas senyum diwajahnya. Ia tampak cantik seperti biasa. Jinah ahjumma memelukku dengan hangat.

“Terima kasih sudah datang,” ucapnya pelan.

Aku hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Bingung harus memberikan jawaban apa. Jinah ahjumma mengiringku ke depan foto ayah.

“Ia pasti senang karena kau disini,” ucap Jinah ahjumma sambil tersenyum lembut. Sikapnya begitu keibuan. Aku salut dengannya. Ia masih bisa bersikap baik pada anak hasil perselingkuhan suaminya. Sungguh besar hati wanita ini. Dan terkutuklah ayah dan ibu yang sudah tega menyakiti wanita sebaik ini.

Aku menatap potret diri ayahku. Harus kuakui jika ia adalah pria yang tampan dan tampak begitu berwibawa. Jelas ayahku punya pesona yang kuat.

Setelah selesai berdoa dan memberikan penghormatan, aku diajak untuk makan siang bersama mereka. Jinah ahjumma memperkenalkanku pada adik-adik ayahku, atau yang bisa kusebut paman, beserta istri dan anak-anak mereka. Mereka tidak terlihat kaget, yang mana kuasumsikan kalau mereka memang sudah tahu mengenai diriku.

Aku tidak bisa bilang kalau situasi ini menyenangkan, tapi juga tidak bisa dikatakan buruk. Setidaknya sejauh ini mereka tidak melontarkan kata-kata jahat padaku. Mereka memperlakukanku cukup baik, walau kecanggungan itu jelas bisa kurasakan. Dan aku tak menyalahkan mereka. Sudah bagus mereka tidak mencaciku.

Sehun tampak keren dengan blazer hitamnya. Ia tak banyak bicara. Lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Kurasa sampai kapanpun tanggal ini tetap menjadi hari kelabu bagi Sehun. Ia kehilangan ayah yang begitu dicintai dan dihormatinya sekaligus hari dimana ia mengetahui kenyataan pahit mengenai ayahnya. Anak mana yang tidak terluka mengetahui jika ayahnya punya anak lain dari wanita selingkuhannya.

“Terima kasih untuk hari ini,” ucapku pada Sehun sesaat sebelum meninggalkan mobilnya. Jinah ahjumma menyuruh Sehun mengantarku pulang sampai ke rumah walaupun sudah berkali-kali ku tolak.

Sehun menatapku lalu mengangguk. Hubungan kami masih canggung. Merasa tak ada lagi yang perlu dikatakan, aku pun keluar dari mobil Sehun. Mobil itu melaju pergi diiringi oleh tatapanku.

Tadinya kupikir rumah dalam keadaan kosong, namun ternyata ibu belum berangkat kerja. Ia melayangkan tatapan sinisnya padaku yang sama sekali tak ku gubris.

“Bagaimana tadi? Apa menyenangkan bisa berkumpul bersama orang-orang terhormat itu?” tanya ibu dengan nada mengejek, apalagi saat mengucapkan kata ‘terhormat’. Aku mengurungkan niatku untuk langsung masuk ke kamar. Alih-alih, aku turut duduk di meja makan, berhadapan dengan ibu.

“Mereka baik. Tidak menyeramkan seperti yang kau ceritakan selama ini,” ucapku. Ibu terlihat tidak senang. Sebenarnya sejak awal ibu tidak berkenan dengan rencanaku untuk pergi ke acara peringatan kematian ayah. Ia terus menyuntikkan bermacam doktrin mengerikan tentang keluarga ayah agar aku mengurungkan niat. Beruntung aku tetap pada pendirianku untuk datang.

Ibu tertawa sinis, “ya ya, mereka orang baik. Saking baiknya sampai mereka mendepakku ke jalanan,” ucapnya.

“Karena ibu memang pantas mendapatkannya.”

Ibu tampak kaget dan terpukul mendengar perkataan jahatku itu. Jangankan ibu, aku saja merasa terkejut. Aku tidak menyangka bisa dengan mudah melontarkan kalimat jahat itu pada ibuku.

“Kau benar-benar anak kurang ajar yang tidak tahu diuntung! Mungkin seharusnya dulu aku tidak mempertahankanmu,” ujar ibu kasar sembari menyambar tas dan jaketnya. Ia kemudian pergi meninggalkan rumah.

Aku menghela napas pelan. Ada sedikit terselip rasa tak enak hati karena telah melontarkan kata-kata jahat pada ibu. Namun gilanya disaat yang bersamaan aku juga merasa puas karena telah mengatakannya secara lantang di depan wajah ibu. Ku rasa ibu memang pantas mendapatkannya.

 

*****

 

Aku tidak heran saat tak ada seorang pun yang menawariku untuk masuk ke dalam kelompok mereka. Aku sudah terbiasa. Ini bukan hal baru lagi. Tapi semua menjadi luar biasa ketika Sehun menghampiriku dan menawariku untuk masuk ke dalam kelompoknya.

“Kau belum dapat kelompok, kan? Mau masuk ke dalam kelompokku? Kami masih kekurangan satu orang lagi,” ucap Sehun.

Aku sempat terpana mendengar ajakannya. Ku lirik ke arah belakang tubuh Sehun, tepatnya ke arah dimana anggota kelompok Fisikanya berada. Ada tiga orang pria disana, Taeyong, Junhong dan Kyungsoo. Ketiganya menatapku. Namun berbeda dengan siswa-siswa lain yang biasa menatapku dengan tatapan mencemooh, mereka justru menatapku dengan tatapan normal. Sama sekali tidak ada lirikan sinis atau mencemooh.

“Mau?” tanya Sehun lagi.

Aku tersentak, lalu kembali menatap Sehun. Ia masih menunggu jawabanku.

“Boleh,” ucapku pelan, walau dalam hati ingin berteriak saking senangnya.

Ternyata diam-diam sejak tadi kami berdua telah menjadi pusat perhatian bagi murid-murid di kelas. Bisa ku lihat Kyungri dan Yuna menatapku dengan tatapan penuh rasa iri. Jika tatapan bisa melumat, mungkin sekarang aku sudah menjadi bubur akibat lumatan mereka yang begitu intens. Mata keduanya semakin melotot kesal ketika aku pindah duduk ke meja kelompok Sehun. Bisa kurasakan suara bisik-bisik mulai mengisi ruang kelas.

Aku duduk dengan rasa canggung yang begitu ketara dibawah beragam tatapan milik murid-murid di kelas. Sebagian besar milik para siswi yang merasa iri dan kesal setengah mati padaku.

“Nah, sekarang kita bagi tugas,” ucap Junhong sambil tersenyum kecil.

 

*****

 

“Apa tidak apa-apa jika kau disini? Mereka mungkin akan mencarimu,” ucapku pada Kyuhyun yang tengah melihat-lihat koleksi novel kesayanganku.

“Mereka sudah pasti akan mencariku. Tapi sayangnya aku tak ingin ditemukan,” jawabnya enteng, seakan hal yang kami bicarakan ini bukanlah sesuatu yang penting.

Aku duduk di atas ranjangku sembari menatapnya yang masih asyik menelisik koleksi novelku di rak buku.

“Tapi kau membiarkanku menemukanmu.”

“Kau pengecualian. Kau memang harus menemukanku,” Kyuhyun menoleh dan menatapku dalam, “akan kupastikan itu,” ucapnya, lalu kembali fokus pada deretan novel di dalam rak.

“Hampir semuanya bergenre romantis,” Kyuhyun berkata sembari mengambil salah satu novel di dalam rak.

Ia berjalan mendekatiku dan dengan santainya merebahkan diri di atas ranjangku. Aku hanya bisa menatap cengo ke arahnya. Ya Tuhan, ini gila! Kalau ibu tahu aku memasukkan pria ke dalam kamarku, aku pasti akan dibunuh. Untung saja ibu takkan pulang sampai tengah malam nanti. Hari ini akhir pekan, yang mana bar pasti akan ramai pengunjung. Dan itu berarti kerja lembur untuk ibu.

Ku geser sedikit posisi dudukku ke ujung ranjang, membiarkan Kyuhyun menguasai hampir seluruh bagian ranjang. Aku tahu suasana hatinya sedang tak baik. Ia kembali bertengkar dengan ayahnya, dan seharusnya saat ini ia tengah berada di pesta tempat orang-orang elit berkumpul. Tapi alih-alih pergi kesana, Kyuhyun justru berada disini, di dalam kamar jelek yang ukurannya tak lebih luas dari kamar mandi di rumahnya.

Gilanya, ia justru terlihat nyaman. Namun demikian ia tetap saja terlihat berada ditempat yang salah. Setelan mahal yang dikenakannya memperjelas status dirinya. Jelas kami berada di dua dunia yang berbeda. Sampai detik ini aku masih tak menyangka kami bisa bersama. Rasanya terlalu bagus untuk menjadi nyata.

Aku tersentak kaget saat merasakan ada tangan yang mengelus dahiku. Aku mendongak dan mendapati wajah Kyuhyun begitu dekat dengan wajahku. Tangannya mengelus dahiku dengan lembut.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.

Selama beberapa detik aku hanya bisa diam layaknya orang tolol. Nyatanya efek berdekatan dengan Kyuhyun masih begitu berpengaruh padaku.

“Aku memikirkan pertemuan aneh kita. Pertemuan yang tidak wajar,” ucapku.

Kyuhyun tertawa. Entah bagian mana yang lucu dari perkataanku tadi.

“Pertemuan aneh untuk dua orang yang aneh,” ucapnya.

“Hei, kita tidak aneh,” protesku, “tapi kita menyedihkan,” tambahku membuat Kyuhyun kembali tertawa.

“Ya, kau benar. Kita bukan orang aneh, tapi kita menyedihkan.” Ucap Kyuhyun agak terkekeh geli.

Dengan santainya Kyuhyun berbaring di atas ranjangku. Tampaknya ia tidak mengenal yang namanya etika berkunjung ke kamar seorang gadis. Alih-alih melarangnya, aku justru membiarkannya menguasai ranjangku. Aku sendiri memilih mengungsi ke meja belajar, tiba-tiba ingat jika aku masih punya tugas kelompok yang menunggu untuk dikerjakan. Aku melirik Kyuhyun sekilas, dan mendapati matanya telah terpejam. Entah dia memang benar-benar sudah tertidur atau dia hanya memejamkan mata saja. Aku tak ingin mengganggunya.

 

*****

 

Kyuhyun tersentak bangun dari tidurnya. Selama beberapa saat ia terlihat linglung, mungkin bingung mendapati dirinya terbangun bukan di dalam kamarnya yang mewah seperti biasa. Aku melanjutkan kembali pekerjaanku melipat baju-baju dan meletakkannya ke dalam lemari.

“Berapa lama aku tertidur?” tanya Kyuhyun dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Aku melirik ke arah jam dinding. Jam 10 malam. “Lumayan lama. Kau tertidur selama dua jam.”

Kyuhyun menguap sembari membenahi rambutnya. Huft, padahal aku senang dengan rambutnya yang berantakan itu.

“Aku tidur dengan nyenyak,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Aku menghentikan kegiatanku sejenak untuk menatapnya. “Serius? Apa aku tidak salah dengar? Kau bilang tidurmu nyenyak?” tanyaku sangsi. Sulit dipercaya jika tuan muda yang biasanya selalu hidup mewah dan penuh kenyamanan bisa merasa nyenyak tidur beralas kasur keras di dalam kamar sempit seperti ini.

“Aku serius. Mungkin aku harus sering-sering menumpang tidur disini.”

“Dan membiarkanku dibunuh oleh ibu karena membiarkan seorang pria tidur disini? Lupakan saja!”

Kyuhyun mengambil ponselnya yang sedari tadi dibiarkan dalam posisi mati di atas nakas. Ia menyalakan ponselnya dan tak lama kemudian ponsel mahal itu langsung dibombardir oleh beragam notifikasi. Aku yakin sebagian besar berasal dari kedua orangtua Kyuhyun. Ku pandang wajah Kyuhyun, ingin menelisik ekspresi wajahnya.

“Keadaan pasti kacau ya?” tanyaku hati-hati.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arahku. Ia tersenyum kecil. “Dilihat dari banyaknya notifikasi ini, ya, sepertinya kacau. Kacau balau,” jawabnya. Ia bangkit dari atas kasur dan kemudian merapikan diri sekedarnya.

Melihat gelagatnya yang seperti hendak pergi, sontak saja aku menawarinya untuk menginap. Bukannya aku punya maksud aneh. Sumpah, tidak sedikitpun aku berpikir ke arah situ. Aku hanya ingin membuatnya merasa nyaman. Dan jelas ia tak terlihat nyaman berada di antara keluarganya.

“Kau bisa menginap jika aku mau,” ucapku spontan.

Kyuhyun tertawa kecil, “kemana gadis yang tadi menentang ideku untuk menginap?” tanyanya sambil menatapku jahil. Wajahku langsung bersemu merah karena malu. Kyuhyun mengusap kepalaku lembut. Aku terbuai dengan tatapan matanya yang lembut dan teduh itu.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tak ingin melihatmu dibunuh oleh ibumu sendiri. Aku tidak ingin berganti status menjadi jomblo,” Kyuhyun tertawa kecil seraya mengelus pipiku dengan lembut, “cepat atau lambat aku memang harus menghadapi mereka. Aku tidak bisa terus-terusan lari. Lagipula sekarang aku sudah punya banyak energi untuk berdebat semalaman suntuk,” Kyuhyun tersenyum seraya menepuk-nepuk pipiku dengan lembut.

“Aku pulang dulu. Terima kasih atas tumpangannya.”

Kyuhyun mengecup bibirku dengan lembut yang sontak membuatku memejamkan mata. Berada di dalam rengkuhan Kyuhyun membuatku merasa nyaman dan lengkap. Semua rasa yang sudah lama sekali tak pernah kurasakan. Bahkan tidak ketika bersama Jongin. Semua rasa itu kembali hilang saat Kyuhyun melepaskan rengkuhannya dan beranjak pergi.

Ingin rasanya aku bersikap egois dan memintanya untuk tetap tinggal dan memilih mengabaikan kedua orangtuanya sejenak. Tapi disatu sisi aku sadar bahwa yang dikatakan Kyuhyun benar, ia tidak bisa terus-terusan berlari. Cepat atau lambat ia harus menghadapi kedua orangtuanya. Aku hanya berharap masalah diantara mereka bisa cepat selesai dan semoga ayah Kyuhyun berhenti memaksakan kehendaknya pada Kyuhyun. Ia harus ingat bahwa Kyuhyun adalah anaknya, seorang anak yang memiliki perasaan, bukan hanya boneka atau robot yang bisa sekena hati dikendalikan.

 

*****

 

Rumor mengenai Sehun dan Somi perlahan menguap hingga tak terdengar lagi desas-desusnya. Kini semuanya kembali bersikap biasa pada Sehun. Bahkan beberapa yeojadeul yang tadinya sempat menyuarakan kalau mereka berhenti menyukai Sehun, kini kembali terlihat berada disekitaran Sehun. Tentu saja Sehun secara terang-terangan mengabaikan mereka. Bodoh namanya kalau Sehun masih bersikap manis terhadap yeojadeul menyebalkan itu.

Tak ada yang tahu mengenai perbuatan Bae Jinyoung karena Sehun memang memutuskan untuk memaafkan perbuatan Jinyoung dan menganggap masalah mereka selesai. Ngomong-ngomong soal Jinyoung, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Letak kelas kami memang berjauhan dan mungkin juga Jinyoung berusaha untuk tidak lagi bersinggungan dengan aku maupun Sehun.

“Ah, maaf.”

Sial, aku yang baru saja keluar dari kelas tersenggol lumayan keras.

“Tidak apa-apa,” ucapku sembari menoleh untuk melihat siapa gadis yang baru saja menyenggolku itu.

Krystal Jung.

Tampaknya tak hanya aku yang kaget. Wajah Krystal pun sempat menunjukkan kekagetan yang dengan cepat bisa ia tutupi. Aku memilih untuk angkat kaki duluan, terlalu malas berhadapan dengan gadis yang merupakan salah satu penyebab mimpi burukku di sekolah ini. Selama berbulan-bulan aku harus sabar dijuluki sebagai gadis jalang penggoda kekasih orang. Padahal nyatanya justru aku yang kehilangan kekasihku karena gadis cantik ini.

Oke, aku tahu jika bukan salah Krystal sepenuhnya. Bahkan mungkin sebenarnya ia tidak salah sama sekali. Hubunganku dan Jongin adalah hubungan rahasia. Tidak ada yang tahu selain kami berdua. Krsytal jelas tidak bisa disalahkan karena ia tidak mengetahui fakta itu. Maafkan aku, aku butuh seseorang untuk disalahkan dalam hal ini. Setidaknya itu membuatku merasa sedikit lebih baik. Ya, hanya sedikit.

“Tunggu!” seru Krystal.

Aku menoleh kaget, tidak menyangka bahwa ia akan memanggilku. Krystal berjalan mendekatiku, meninggalkan dua orang temannya yang tampak sama bingungnya seperti diriku. Mau apa gadis ini?

Sigani isseoyo? Uri yaegi jom haja (Kau ada waktu? Aku ingin bicara sebentar).”

 

****

 

Aku dan Krystal berada di dalam ruang praktikum biologi yang kosong. Lagi-lagi ruangan ini terpilih menjadi saksi bisu kejadian penting. Beberapa waktu yang lalu ruangan ini menjadi saksi bisu ketika Somi mengungkapkan perasaannya pada Sehun, kemudian disusul dengan terungkapnya kejahatan Jinyoung terhadap Sehun yang juga dilakukan disini. Lalu sekarang ruangan ini akan menjadi saksi atas entah apa yang akan dilakukan atau dikatakan Krystal Jung, sang primadona sekolah, padaku Choi Haneul, si gadis invisible.

“Sebelumnya aku ingin minta maaf,” Krystal membuka suara. Sekalinya memulai percakapan kalimat pertama yang diucapkannya adalah permintaan maaf. Jelas saja membuatku semakin terkaget-kaget.

Krystal sepertinya sadar dengan rasa bingung yang tengah menyelimutiku. “Aku minta maaf karena aku merebut Jongin darimu,” ucap Krystal yang semakin melipat gandakan rasa kagetku. Jadi dia percaya?

“Kau percaya kalau aku dan Jongin pernah memiliki hubungan sebelum ia denganmu?” tanyaku.

“Awalnya memang tidak. Sulit untuk mempercayai itu. Hmm… maksudku,” Krystal terlihat salah tingkah.

“Tak apa. Itu memang hal yang sulit dipercaya. Kim Jongin yang luar biasa menjalin hubungan dengan gadis yang biasa-biasa saja seperti aku.”

Krystal semakin terlihat salah tingkah. Aku tahu ia merasa tak enak dan bersalah karena perkataannya tadi. Dan jahatnya, aku menikmati melihat pemandangan Krystal Jung yang biasa selalu terlihat percaya diri kini tampak malu dan salah tingkah. Ia jadi terlihat kecil dimataku.

“Bukan seperti itu. Tidak ada yang aneh denganmu berpacaran dengan Jongin. Hanya saja saat itu Jongin terdengar begitu meyakinkan ketika ia membantah mengenai hubungan kalian. Saat itu aku telalu percaya padanya,” raut muka Krystal terlihat sendu. Ia menatapku, “aku sungguh-sungguh minta maaf karena membuat dirimu berada diposisi yang sulit dan dirugikan. Sungguh, itu diluar kuasaku.”

“Apa yang membuatmu tiba-tiba percaya padaku?” aku menatap Krystal dengan penuh rasa ingin tahu. “Apa kau dan Jongin putus?”

Begitu hubunganku dan Jongin terkuak, Krystal dan Jongin sempat putus. Tapi tak lama mereka kembali bersama. Sejak itu aku tak pernah mau peduli lagi pada apapun yang terjadi diantara mereka berdua.

Krystal menghela napas, “ya, aku memutuskannya. Dan kau bertanya apa yang membuatku percaya padamu? Itu karena Jongin mengakui semuanya.”

“Dia mengaku?” tanyaku tanpa bisa menutupi rasa kaget.

“Tidak secara sadar sih. Saat dia mabuk aku iseng bertanya padanya soal hubungan kalian. Kau tahu kan orang mabuk itu memang selalu bersikap konyol. Tapi kau juga harus tahu bahwa orang yang sedang mabuk cenderung berkata jujur. Dan yah, dia menceritakan semuanya. Termasuk alasannya memulai hubungan denganmu.” Krystal menatapku dengan tatapan iba.

Ah, aku benci ditatap seperti itu. Membuatku merasa begitu kecil dan menyedihkan.

Aku menghela napas, “baguslah kalau kau sudah tahu kebenarannya. Setidaknya ada yang percaya padaku.”

“Jongin memang brengsek. Aku turut menyesal atas apa yang terjadi padamu. Aku berjanji akan mencoba meluruskan masalah ini agar tidak ada lagi yang mencelamu.”

“Terserah padamu. Tapi aku mohon satu hal, jangan libatkan aku dalam urusan hubungan kalian. Aku tidak ingin disangkut pautkan dalam hal sekecil apapun. Hidupku sudah berat. Tak perlu lagi semakin diberatkan dengan persoalan kalian,” pintaku bersungguh-sungguh pada Krystal.

Krystal mengangguk setuju. Sebelum pergi ia mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut uluran tangan Krystal. Kami berjabatan tangan.

“Kau gadis yang baik. Seharusnya sejak awal aku tidak mempercayai semua bualan Jongin. Aku menyesal kau harus menerima perlakuan yang tidak mengenakkan karena semua omong kosong Jongin,” Krystal menatapku sambil tersenyum kecil, “dan senang berkenalan denganmu,” ucapnya sebelum beranjak pergi.

Aku menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh, lalu aku pun beranjak pergi dengan mengambil arah yang berlawanan dengan Krystal.

 

-To Be Continued-

 

Annyeong readers ku tersayang,
Maaf beribu maaf karena baru bisa update cerita ini sekarang. Aku sempet gak punya ide sama sekali untuk lanjutin cerita ini. Hmm, penyakit writer block aku semakin parah nih kayaknya 😦 Maaf banget kalo alur cerita ff ini makin gaje dan ngebosenin. Aku berusaha keras untuk nulis cerita yang bagus, tapi yah hasilnya emang mengecewakan. Cerita ini bakalan segera tamat. Mungkin sekitar 3 atau 4 chapter lagi. Semoga kalian masih betah baca ff ini sampe tamat ya. 

Makasih banyak untuk semua support yang selama ini kalian kasih ke aku. You guys are amazing! ❤

See you all on the next chapter X.O.X.O

Iklan

2 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s