Chapters · KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 10)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun

_____________________________________________________________________________

Aku menimang-nimang Eunha, berusaha membuat bayi cantik ini tertidur. Sejak beberapa saat yang lalu Eunha mulai rewel. Kyuhyun bilang karena sekarang merupakan jam tidurnya. Makanya, setelah memberinya susu aku pun berjalan mondar mandir sambil menimang Eunha dalam pelukanku. Cara seperti lebih manjur untuk menidurkan bayi cantik ini.

Kyuhyun tak henti-hentinya menatapku. Tatapannya membuatku gugup sekaligus jadi membatasi ruang gerakku. Entahlah, ditatap oleh sepasang mata tajam itu selalu sukses membuat kinerja tubuhku melemah. Aku bukannya tak sadar dengan tatapan itu, tapi aku berpura-pura tak sadar. Hmm, sepertinya memang ide yang bagus.

“Eunha sudah tertidur,” ujar Kyuhyun.

“Ah, benarkah? Kalau begitu biar aku letakkan Eunha ke dalam kamar,” ucapku sambil berjalan menjauhi Kyuhyun untuk menuju kamar Eunha.

Kamar Eunha masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Yang membuat sedikit berbeda adalah semakin banyaknya jumlah mainan anak-anak. Beberapa mainan bahkan belum bisa dimainkan oleh Eunha karena dia masih terlalu kecil. Kamar Eunha benar-benar kamar impian para anak perempuan, banyak mainan dan berwarna merah muda. Jelas sekali bayi cantik ini dilimpahi kasih sayang oleh nenek dan pamannya. Aku tak tahu bagaimana dengan tuan Cho Sungho. Dia jarang berada di rumah, tapi aku yakin jika ia juga sayang pada cucu satu-satunya ini.

Dengan pelan dan lembut aku meletakkan Eunha ke dalam box bayi lalu menyelimutinya. Ku elus pipi chubby Eunha. Ya Tuhan, dia menggemaskan sekali!

“Tidur yang nyenyak, sayang,” bisikku.

Aku kembali ke ruang santai dan mendapati Kyuhyun tengah mengotak-atik saluran televisi tanpa minat. Ia terlihat bosan. Aku duduk disisinya. “Tidakkah ada tontonan yang menarik?” tanyaku.

Kyuhyun menyerahkan remote televisi padaku. “Ini, kau saja yang cari.”

Ku ambil remote yang disodorkan padaku, lalu memencat tombolnya beberapa kali sebelum pilihanku jatuh pada acara komedi. Kami terdiam selama beberapa saat. Aku melirik Kyuhyun. Sungguh, aku sangat ingin bertanya mengenai masalahnya dengan kedua orangtuanya. Aku ingin tahu separah apa dampak yang harus ditanggung Kyuhyun karena memilih kabur dari acara pesta yang diadakan oleh keluarganya. Tapi setiap aku menyinggung soal itu, Kyuhyun hanya akan berkata jika ia baik-baik saja, lalu ia akan mengalihkan topik pembicaraan.

Aku memang bukan cenayang, tapi jelas aku bisa merasakan jika situasi tidaklah sebaik yang Kyuhyun katakan. Aku merasa jika ia menyembunyikan sesuatu. Dan aku benci itu. Aku benci jika Kyuhyun menyembunyikan sesuatu hal penting mengenai dirinya.

“Hmm… jadi orangtuamu akan kembali lusa?” tanyaku.

“Ya. Mereka harus menghadiri acara peresmian hotel di Busan.”

Kami kembali terdiam sambil menonton acara komedi yang ditayangkan ditelevisi.

“Aku tahu jika kau mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja,” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya tengah menatapku dalam.

Aniya, kau sedang tidak baik-baik saja. Ini…” aku menangkup wajah Kyuhyun, membuatnya memejamkan mata. Ku usap dengan lembut kedua matanya yang terpejam, “tidak bisa berbohong,” ucapku. Nada suaraku terdengar lirih. Tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang cukup membuatku emosional dan sialnya mataku jadi berkaca-kaca. Aku benci diriku yang mendadak cengeng seperti ini.

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatapku dalam, lalu tanpa kusangka ia mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium bibirku. Kyuhyun memegang tengkukku dan agak menekannya, membuat ciuman kami semakin intens. Awalnya aku masih canggung, tapi tak butuh waktu lama sampai aku bisa mengimbangi ciumannya. Ciuman kali ini begitu intens dan agak menggebu-gebu. Berbeda dari ciuman ringan kami yang biasanya.

*****

Aku tersentak bangun dari tidurku. Sesaat aku merasa linglung, merasa begitu asing dengan ruangan ini. Kamar berukuran besar dengan desain interior minimalis dan didominasi oleh warna hitam ini memang asing untukku.

Ah, ini kamar Kyuhyun.

Reflek aku menoleh kesisi sebelah kanan ranjang, dan mendapati si pemilik kamar tengah tertidur pulas. Persis seperti bayi. Kejadian semalam terulang dalam ingatanku dan sontak membuat wajahku memanas. Tanpa sadar aku menyentuh bibirku. Bibir yang semalam dilumat habis oleh Kyuhyun.

Oh Tuhan, aku malu sekali!

Ciuman itu yang membuatku terdampar di dalam kamar mewah ini. Eits, jangan berpikir yang tidak-tidak! Kami tidak melakukan hal yang lain, jika itu yang kalian ingin tahu. Setelah ciuman panas itu kami hanya berbaring sambil berpelukan di atas ranjang sampai kami benar-benar tertidur lelap. Hanya itu.

Aku beranjak dari atas ranjang dengan perlahan, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku memutuskan untuk ke kamar Eunha, ingin memeriksa keadaan si bayi cantik. Eunha masih terlelap dengan damai saat aku masuk ke kamarnya. Ia tidur dengan mulut sedikit terbuka, semakin menambah kadar keimutannya. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak mencubit-cubit pipi tembamnya itu.

Puas telah memandangi wajah Eunha, aku pun memutuskan menuju dapur. Aku sempat berpapasan dengan Yerim eonni, baby sitter baru yang menggantikanku. Umurnya terpaut 6 tahun denganku.

Setelah berbasa-basi singkat aku pun melanjutkan rencana untuk pergi ke dapur, hendak membantu menyiapkan sarapan. Di rumah ini memang ada pembantu rumah tangga, tapi tak enak saja rasanya jika aku hanya ongkang-ongkang kaki tidak membantu. Aku sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri, makanya bersantai-santai begini sama sekali bukan gayaku.

Di dapur sudah ada Shin ahjumma yang tampak sibuk menyiapkan sarapan. Seingatku keluarga ini biasanya sarapan jam 7 pagi. Tapi jika hari libur biasanya mereka baru bangun sekitar jam 8 atau 9. Dan berhubung hari ini adalah hari Minggu, makanya tak heran meski jam sudah menujukkan pukul 7.50 pagi, Shin Ahjumma masih berkutat dengan bermacam bahan makanan.

“Selamat pagi ahjumma,” sapaku.

Shin ahjumma menoleh dan tersenyum ramah. “Selamat pagi. Bagaimana tidurmu, nyenyak?” tanyanya sambil tersenyum penuh arti. Wajahku kembali memanas.

“Ah, iya… nyenyak hehehe…” jawabku super canggung yang malah membuat senyum Shin ahjumma semakin melebar. Aigoo, dia pasti berpikiran yang tidak-tidak. Semalam Shin ahjumma terlihat kaget saat mendapati tuan mudanya pulang bersamaku, yang notabennya adalah mantan baby sitter di rumah ini.

Untungnya ahjumma tidak mendadak berubah menjadi detektif dan bertanya-tanya mengenai hubunganku dan Kyuhyun. Ia cukup mengerti yang namanya privasi. Aku cukup lega dengan hal itu.

“Wah, pancake. Hmm, dari wanginya sepertinya enak,” pujiku, membuat Shin ahjumma tersenyum senang.

“Ini kesukaan tuan muda. Pancake dengan madu serta susu putih hangat. Ini sudah seperti menu sarapan wajib bagi tuan muda.”

“Apalagi makanan yang ia sukai?” tanyaku. Tiba-tiba saja aku merasa penasaran dan ingin tahu mengenai hal-hal apa yang Kyuhyun sukai. Aku hanya tahu sedikit mengenai makanan kesukaannya. Itupun karena ia sering memesan makanan tersebut saat kami sedang makan bersama di luar. Ia suka makan Nakji Bokkeum, Kalguksu, Dak Galbi, Tteokboki dan juga Odeng. Kyuhyun jelas punya selera makan yang begitu Korea.

“Tuan muda suka sekali Nakji Bokkeum bikinanku. Ia juga suka makan Bulgogi, Sup rumput laut, Japchae, Mandu, Bibimbap, dan masih banyak lagi sih. Tuan muda bukan tipe orang yang rewel kalau soal makanan. Aku tidak pernah repot memikirkan menu makanannya. Jadi kau tidak perlu khawatir,” ucap Shin ahjumma.

“Eh, kenapa aku?”

Shin ahjumma tersenyum penuh arti padaku. Ia menyenggol lenganku pelan. “Ayolah, tidak usah malu-malu. Aku mendukung kalian 100 persen. Tuan muda Kyuhyun terlihat bahagia ketika bersama denganmu. Dia tersenyum dan juga tertawa. Hal yang sangat jarang terjadi. Kau tahu sendiri kan keadaan di rumah ini seperti apa,” nada suara Shin ahjumma terdengar lirih.

Aku mengerti perasaan wanita paruh baya ini. Bisa dibilang jika ia adalah saksi perjalanan hidup Kyuhyun. Ia pasti merasa kasihan pada Kyuhyun.

“Biarkan aku membantumu,” pintaku yang langsung ditolak oleh ahjumma.

“Kau kan tamu yang artinya harus dilayani. Lagipula aku hanya membuat pancake dan memasak nasi goreng kimchi. Sama sekali tidak rumit. Lebih baik kau bangunkan tuan muda. Biasanya ia ingin mandi dulu sebelum sarapan,” ujar Shin ahjumma sembari mendorong pelan tubuhku agar pergi dari area kekuasaannya itu.

Aku tak punya pilihan lain selain menuruti saran Shin ahjumma. Tak ada salahnya membangunkan Kyuhyun sekarang. Toh sebentar lagi makanan siap. Selain itu aku juga harus buru-buru pamit pulang. Hari ini jatahku menjaga perpustakaan dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore.

“Choi Haneul-ssi?”

Panggilan itu sontak membuat tubuhku menegang. Dengan perlahan aku menoleh ke arah datangnya suara. Ku dapati nyonya Jisoo tengah menatapku dengan bingung. Dia pasti bertanya-tanya kenapa mantan baby sitter cucunya ada disini.

Aku panik. Ini benar-benar diluar dugaan. Bukankah Kyuhyun bilang kalau orang tuanya akan kembali lusa? Kenapa sekarang ibunya malah ada disini. Tunggu, kalau begitu berarti tuan Cho Sungho pun juga ada disini? Oh tidak! Ini salah!

Benar saja, beberapa detik kemudian tuan Cho Sungho tampak. Ia tengah sibuk menatap layar ponselnya, namun kegiatannya teralihkan kala ia merasakan kehadiran sosok asing di rumahnya. Tuan Cho Sungho menatapku dengan penuh selidik. Berbeda dengan nyonya Jisoo yang cukup sering berinteraksi denganku dulu, sebaliknya tuan Cho Sungho sama sekali tak pernah berinteraksi langsung denganku. Kami juga jarang bertemu. Aku bahkan yakin ia tidak ingat pada wajahku.

“Kau berada disini. Habis melihat Eunha?” tanya nyonya Jisoo dengan nada ramah walaupun ekspresi wajahnya masih terlihat bingung.

“Ah, ne. Saya datang untuk melihat Eunha. Saya merindukannya. Maaf karena datang tiba-tiba,” jawabku tak enak karena harus berbohong.

Nyonya Jisoo menoleh ke arah suaminya yang masih menatapku dengan penuh selidik. “Kau pasti tidak ingat. Ini Choi Haneul. Dia sempat menjadi baby sitter Eunha beberapa bulan yang lalu.”

Aku tersenyum sopan pada tuan Cho Sungho sambil berpikir keras bagaimana cara agar aku bisa lekas pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin kehadiranku malah semakin membuat runyam. Intinya aku tak ingin menambah masalah Kyuhyun. Ku pikir lebih baik aku pamit sekarang juga. Bilang saja kalau harus segera berangkat kerja.

“Hmm, saya harus pamit sekarang, nyonya,” ucapku sopan.

“Loh cepat sekali?”

Aku tersenyum sopan. “Saya harus bekerja. Tadi saya sudah bertemu Eunha. Dia masih tidur.”

Nyonya Jisoo mengangguk paham. “Ah, geureyo,” ia tersenyum ramah. Tuan Cho Sungho berlalu terlebih dahulu tanpa menyapaku atau sekedar melemparkan senyum ramah. Aku tak tersinggung karena aku sudah tahu bagaimana watak pria itu. Justru aneh kalau dia tiba-tiba menjadi ramah.

Aku baru saja hendak berlalu pergi ketika suara Kyuhyun yang memanggil namaku terdengar. Spontan langkah kakiku terhenti. Dan sekarang rasanya kakiku seperti terpaku di lantai, sama sekali tak mampu bergerak. Nyonya Jisoo menatap bergantian ke arahku dan Kyuhyun dengan bingung.

Bisa kulihat dimatanya jika wanita cantik ini punya beberapa pertanyaan yang hendak ditanyakan. Aku menatap Kyuhyun dengan tatapan memelas, berharap jika ia tidak melakukan hal-hal nekad yang ujung-ujungnya hanya akan menambah masalah.

Tapi aku bisa melihat jika Kyuhyun telah membulatkan tekad. Dia siap menerjang badai.

Akan tetapi, apa aku juga siap?

*****

Dulu sebelum mengenal Kyuhyun aku jarang merasa takut kehilangan, nyaris tak pernah. Lagipula aku tak menemukan alasan kenapa aku harus takut kehilangan. Toh memang pada nyatanya aku telah kehilangan nyaris segalanya. Aku telah kehilangan masa muda yang menyenangkan, kasih sayang orang tua, teman dan juga uang. Tapi sekarang berbeda. Aku takut kehilangan Kyuhyun. Aku takut kehilangan satu-satunya orang yang mengerti diriku. Aku tak ingin kembali menjadi kesepian. Tak sanggup rasanya membayangkan akan kembali berada dalam kesendirian.

Reaksi orang tua Kyuhyun begitu tahu kalau putra mereka menjalin hubungan denganku tak jauh berbeda dengan yang telah ku prediksikan. Kaget dan menolak. Walaupun tidak secara frontal mereka utarakan, namun ekspresi wajah itu cukup mewakilkan apa yang hendak mereka katakan. Aku tak tahu bagaimana kelanjutannya, dan aku bahkan terlalu takut untuk tahu.

Kemarin Kyuhyun sempat menemuiku di Perpustakaan tempatku bekerja. Kami menghabiskan banyak waktu bersama sampai jam kerjaku selesai, lalu di lanjut dengan kencan sederhana ala kami berdua. Saat kukatakan kencan sederhana, aku sangat bersungguh-sungguh. Tidak ada restoran bintang lima dan pakaian mahal. Hanya ada sepasang kekasih yang menghabiskan waktu dengan makan malam di warung tenda, berjalan santai di taman dan menonton pertunjukkan musik jalanan.

Aku sempat bertanya pada Kyuhyun mengenai kedua orang tuanya yang hanya dijawab, “tidak perlu dipikirkan. Mereka tidak tahu apa-apa. Kita yang menjalani ini.”

Jawaban yang ambigu. Aku jadi berpikir akankah kisahku dan Kyuhyun menjadi kisah percintaan menyedihkan antara si miskin dan si kaya yang biasa berseliweran di televisi. Apakah aku akan menjadi bagian dari kisah klise seperti itu?

Lamunanku buyar ketika tubuhku ditarik dengan kasar, membuat sapu yang tengah ku pegang jatuh begitu saja ke lantai kelas. Aku meringis menahan sakit akibat cengkraman yang kuat di lenganku.

“Apa yang kau katakan pada Krystal, hah? Kau menjelek-jelekkanku di depannya?!” Jongin bertanya dengan geram. Wajahnya terlihat menyeramkan. Aku merinding takut. Masih segar diingatanku bagaimana perlakuan kasar Jongin padaku yang menyebabkan dia di skors oleh pihak sekolah, walaupun pada nyatanya kebanyakan berpikir ia dihukum karena kasus perkelahian.

Mataku menatap liar ke sekeliling, berusaha menemukan seseorang yang bisa sewaktu-waktu kumintai tolong jika Jongin melakukan hal yang tidak-tidak. Walaupun aku sangsi jika ada yang sudi menolongku dan membuat dirinya harus berhadapan dengan Kim Jongin. Sial, sepertinya hanya ada kami berdua disini. Sekolah sudah sepi karena memang bel pulang sudah berbunyi sekitar 45 menit yang lalu.

“Bukan aku yang membuatmu tampak jelek di mata Krystal, tapi justru kau sendiri yang membuat dirimu terlihat buruk,” ucapku.

Aku bisa melihat kilatan amarah di mata Jongin seiring dengan cengkramannya yang semakin erat. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri darinya.

“Aku sudah pernah bilang kan kalau kau akan menyesal jika membuat masalah denganku,” ujar Jongin.

“Dan aku juga sudah pernah bilang kan kalau aku tak sudi berurusan denganmu lagi,” balasku emosi.

Dia pikir hidupku ini hanya berputar di sekelilingnya? Percaya diri sekali! Sudah lama aku membuang Kim Jongin dari dalam hidupku.

“Sekarang lepaskan aku!” seruku kesal sambil berusaha melepaskan diri.

“Krystal benci padaku. Dia tak sudi lagi berbicara denganku.”

“Ya, dan kau pantas untuk itu,” timpalku dengan nada sarkastik.

“Sialan!” umpat Jongin.

Aku sudah bersiap. Kalau Jongin hendak melakukan hal yang tidak baik padaku, aku akan menendang selangkangannya. Pokoknya kali ini aku tak boleh kalah karena hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku sendiri.

“Hei Kim Jongin, apa kau ingin kembali merasakan skors? Ah, atau mungkin yang lebih daripada itu. Dikeluarkan, mungkin?”

Sehun berjalan menghampiri ku dan Jongin. Jongin mendengus kesal, namun akhirnya ia melepaskan lenganku yang sejak tadi menjerit kesakitan. Ku jamin ini akan meninggalkan bekas lebam. Sehun berdiri di depanku, melindungiku dari sosok si brengsek Kim Jongin. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam.

Kehadiran Sehun membuatku tenang. Aku jadi ingin menangis saking senangnya karena ia muncul tanpa terduga. Oh Sehun, bisa dikatakan jika ia adalah sosok penyelamatku. Ia kakak sekaligus malaikat penyelamatku.

“Pergilah, dan jangan coba-coba mengganggu Haneul lagi! Kuharap ini terakhir kalinya aku melihatmu berada di dekat Haneul. Aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran jika kau berani menyakitinya. Camkan itu!” ujar Sehun dingin.

Jongin mendengus. “Kenapa tiba-tiba berubah menjadi sosok penyelamat, hah? Bukankah dulu kau benci padanya? Ah, kurasa aku tahu,” Jongin menatapku dan Sehun dengan tatapan merendahkan, “kalian berkencan sekarang,” Jongin tertawa. “Seharusnya aku tahu. Tidak mungkin kau tiba-tiba berubah baik jika bukan karena kalian berkencan saat ini. Neo daebakiya, Choi Haneul. Kau bisa menggait Oh Sehun,” pandangan Jongin pindah pada Sehun, “apa yang sudah ia berikan padamu sampai kau mau berkencan dengannya? Dia bahkan tak tahu cara berciuman yang benar. Apa ia memberikan tubuhnya?”

BUGH!

Kepalan tangan Sehun mendarat tanpa terduga di wajah Jongin, membuat Jongin langsung tersungkur jatuh. Sehun menarik kerah kemeja Jongin. Matanya berkilat marah. “Jangan sekali-kali kau merendahkan adikku! Kau benar-benar brengsek Kim Jongin!”

“A..adik?” Jongin terlihat kaget.

Sehun masih mencengkram kerah kemeja Jongin. “Ya, Choi Haneul adalah adikku. Dan dia bukan gadis rendahan seperti yang kau katakan. Aku bersumpah akan benar-benar menghabisimu jika kau mengganggu Haneul lagi. Aku tidak main-main, Kim Jongin,” Sehun menghempaskan tubuh Jongin dengan kasar.

Sehun mengambil tasku kemudian ia meraih tanganku, membawaku pergi. Aku terdiam sembari mengimbangi langkah Sehun yang lebar. Aku masih kaget dengan pembelaan yang ia lalukan untukku. Di depan Jongin ia mengakui hubungan persaudaraan kami.

“Apa kau tidak takut jika Jongin akan memberi tahu orang-orang tentang status kita? Pasti akan heboh,” ucapku pelan.

“Biarkan saja. Memang seperti itu kenyataannya. Kau dan aku adalah saudara. Seberapa bencinya kita dengan fakta itu, tapi memang itulah adanya. Apalagi yang bisa kita lakukan selain belajar menerima?”

“Kau salah. Aku tak pernah benci ataupun menyesali persaudaraan kita. Yang ku sesali adalah cara yang membuat kita menjadi saudara. Sampai kapanpun aku takkan bisa menerima kenyataan kalau aku adalah anak hasil dari perselingkuhan.”

Sehun menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadapku, sedangkan aku hanya bisa menunduk sambil menahan tangis.

Aku berkata dengan lirih, “Jujur, saat tahu bahwa kita bersaudara aku merasa sangat kaget, tapi disatu sisi aku juga merasa senang. Aku senang karena kau yang menjadi saudaraku. Kau adalah orang yang baik. Dari dulu aku selalu mengagumimu. Tadinya aku berharap dengan memilikimu sebagai saudara maka aku takkan sendirian lagi.”

Air mataku meluncur dengan bebas. Buru-buru aku menghapus air mataku. Perlahan aku mendongakkan wajahku agar bisa melihat wajah Sehun. Rupanya Sehun tengah menatapku dalam. Entah apa yang ada dipikirannya. Aku tersenyum getir.

“Aku mengerti alasanmu benci padaku. Kau pantas untuk melakukan itu. Bagaimanapun juga ibuku turut bersalah. Kau tahu, tidak jarang aku berharap agar aku tak usah dilahirkan saja. Nan neomu himdeuro. Aku lelah menjalani hidup yang seperti ini. Betapa aku berharap bisa hidup seperti remaja pada umumnya. Punya keluarga yang utuh, dilimpahi kasih sayang oleh orang tua serta punya banyak teman. Tapi aku tak bisa seperti itu. Karena aku Choi Haneul, si anak yang tak pernah diinginkan oleh siapapun.”

Nyatanya aku tak mampu menahan tangis. Aku pun terisak. Sungguh, aku malu sekali karena menangis di depan Sehun. Aku tak ingin membuatnya jijik pada sikap cengengku ini. Bukankah kebanyakan pria benci pada perempuan yang cengeng?

Tak ada lagi yang berbicara setelah itu. Yang terdengar hanya suara tangisanku yang menyedihkan. Namun tanpa ku duga Sehun menarikku dalam pelukannya. Tubuhku membeku, dan bisa kurasakan jika Sehun pun merasa canggung.

Sehun menepuk punggungku dengan lembut. Dan tangisanku semakin menjadi. Tapi kali ini bukan tangisan kesedihan. Ini tangis haru yang sarat akan rasa lega. Aku pun balas memeluk Sehun, melingkarkan kedua tanganku dipinggangnya dan membenamkan wajahku ke dadanya.

Untuk sekarang biarkan aku berperan menjadi gadis cengeng dan lemah yang tengah meminta perlindungan pada satu-satunya saudara yang kumiliki.

-To Be Continued-

Iklan

3 tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s