Chapters

Set Me Free (Part 4)

Author : BlueSky (Cho Haneul)
Title      : Set Me Free
Genre   : Drama, Romance
Type     : Chaptered

Cast :
– Myoui Mina as Kim Mina
– Oh Sehun
– Kim Sejeong
– Kim Jisoo (Blackpink) as Kim Nana
– Seo Johnny (NCT)

______________________________________________________

Alarm ponsel yang berdering lumayan nyaring membangunkan Mina dari tidur nyenyaknya. Kedua mata yang semula terpejam perlahan terbuka. Mina meraih ponselnya yang masih berdering, lalu mematikan alarmnya. Masih pukul 5 pagi. Alih-alih bangkit dari ranjangnya yang nyaman, Mina malah bergeming dari posisinya. Gadis itu berbaring terlentang, memandang bagian bawah kasur milik Nana.

Mina jadi teringat, kakaknya itu suka sekali menjulurkan kepalanya ke bawah untuk merecoki tidurnya jika mereka tengah bertukar ranjang. Kadang jika Mina tetap tidak bangun, maka Nana akan sengaja bergerak-gerak heboh hingga membuat ranjang mereka berguncang. Mina kesal sekali jika Nana sudah mengeluarkan jurus menyebalkannya tersebut sebab ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Gerakan-gerakan aneh yang dibuat Nana di kasurnya yang paling atas itu jelas sangat mengganggu. Belum lagi dengan suara sok imut yang turut menyertai rangkaian aksi usilnya hingga mau tak mau Mina terbangun dari tidurnya. Mana bisa ia melanjutkan tidur jika gangguannya sudah memasuki stadium akhir begitu?

Tanpa sadar Mina tertawa kecil mengenang sedikit potongan kenangannya bersama Nana. Mina kembali meraih ponselnya yang ia letakkan diatas nakas kecil samping ranjang. Tertera tanggal 24 Maret di layar ponselnya. Mina menghela napas begitu tak mendapati satu pesan pun di hari ulang tahunnya ini. Tak ada yang mengingat hari spesialnya. Bahkan tidak pula kedua orang tuanya. Sejak dulu memang hanya Nana yang mengingat tanggal kelahirannya. Sekarang Nana tidak ada. Tidak akan ada lagi yang mau repot-repot mengingat hari ulang tahunnya.

Dengan gusar Mina menghapus air mata yang tanpa bisa ditahan mengalir dipipinya. Ia harus kuat. Tidak boleh lemah dan cengeng hanya karena hal sepele seperti ini.

Happy birthday to me…” bisik Mina pelan.

 

*****

 

Kue ulang tahun berukuran sedang disertai hiasan lilin dengan angka 18 diatasnya terlihat begitu indah dan lezat. Krim vanilanya seakan memanggil untuk sekedar mencolek serta mencicipi rasa manis dan lembut kue tersebut. Suasana kelas di jam istirahat hari ini lebih riuh dibandingkan biasanya, membuat orang-orang yang kebetulan melintas di depan kelas akan menoleh untuk melihat penyebab kegaduhan. Ini semua akibat pesta ulang tahun kejutan yang disiapkan oleh teman-teman di kelas.

“Ayo tiup lilinnya. Eh, jangan lupa buat permohonan dulu!” Ujar Yeri yang sejak tadi memegang kue coklat dengan hiasan lilin angka 18 diatasnya tersebut.

Mina mengamati api lilin yang bergerak ke kiri dan ke kanan dengan pelan, mengikuti arah angin berhembus sebelum kemudian cahayanya padam seiring dengan ucapan selamat ulang tahun terdengar dari mulut-mulut teman sekelasnya.

Saengil chukkae Eunsu-ya!”

Saengil chukkae Eunsu-ya. Traktirannya jangan lupa ya hahaha…”

Eunsu tertawa sembari menyalami teman-teman yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. “Terima kasih atas kejutannya. Aku benar-benar terkejut.” ucap Eunsu. Aura bahagia kentara sekali terlihat dari diri gadis berbadan mungil tersebut. Senyuman tak henti-hentinya tersungging dibibir Eunsu.

Mina mengamati rona bahagia diwajah Eunsu dengan perasaan iri. Ia lupa jika hari ini dirinya bukanlah satu-satunya orang yang berulang tahun di kelas ini. Miris, hampir semua orang di kelasnya ingat ulang tahun Eunsu, tapi tak ada yang ingat jika hari ini dirinya juga berulang tahun.

“Kau sudah mengucapkan selamat ulang tahun pada Eunsu?” Sejeong yang baru saja kembali dari meja Eunsu untuk memberi selamat pada gadis itu bertanya pada Mina. Alih-alih menjawab, Mina justru bangkit dari kursinya dan pamit ke toilet.

“Aku ke toilet dulu.”

Mina pergi begitu saja tanpa repot-repot menunggu jawaban dari Sejeong. Sejeong tak terlalu ambil pusing. Pikirnya Mina sudah terlebih dahulu mengucapkan selamat ketika dirinya sedang di kantin tadi. Sejeong memang baru saja kembali dari kantin. Begitu masuk ke kelas ia mendapati teman-temannya yang tengah mengucapkan selamat pada Eunsu. Sebagai teman sekelas yang baik, Sejeong pun tentu tak mau ketinggalan.

“Teman-teman, nanti sepulang sekolah datang ke restoran keluargaku ya. Aku ingin mentraktir kalian makan siang.” Ujar Eunsu yang langsung mendapat sambutan meriah dari penghuni kelas. Siapa sih yang tidak senang diajak makan gratis? Apalagi restoran keluarga Eunsu cukup populer karena rasa makanannya yang begitu enak. Bahkan yang tidak akrab dengan Eunsu saja mendadak menjadi sok akrab. Apalagi kalau bukan karena mengincar traktiran makan.

 

*****

 

Mina membolak-balik lembar buku kumpulan puisi yang beberapa saat lalu diambilnya dari rak buku perpustakaan. Mina tahu seharusnya sekarang ia berkutat dengan buku kumpulan rumus-rumus atau soal-soal matematika, mengingat perlombaan yang akan diadakan lusa. Ini memang hanya perlombaan antar sekolah di Seoul yang diadakan oleh Paran High School. Tapi tetap saja, sudah seharusnya Mina serius dalam mempersiapkan diri. Sayangnya suasana hatinya saat ini sedang tak mendukung kinerja otaknya untuk menghapal rumus atau memecahkan soal-soal rumit matematika. Mina hanya ingin tenang. Ia butuh sesuatu untuk menangkan hati dan pikiran.

Tiba-tiba Mina teringat dengan percakapan singkat dirinya dengan sang ayah pagi tadi saat mereka sarapan pagi. Awalnya Mina kira ayahnya ingat jika hari ini adalah hari kelahirannya. Tak masalah jika tak ada kado ataupun kue ulang tahun. Asalkan ayahnya ingat, itu sudah cukup bagi Mina. Ia sudah menyiapkan diri untuk menerima ucapan selamat ulang tahun dari ayahnya, sebelum harapannya terhempas jatuh dan hancur berantakan.

“Ayah sudah berbicara dengan ibumu, dan ia tak terdengar senang atas rencana jurusan yang akan kau pilih nanti. Ibumu ingin agar kau memilih jurusan lain, seperti hukum atau kedokteran. Ayah rasa ibumu ada benarnya karena…”

Mina sudah tak ingin mendengar kelanjutan kalimat ayahnya yang intinya beliau setuju dengan keputusan ibunya. Ia berusaha menghalau suara sang ayah yang masuk ke telinganya, sebab Mina tahu jika kalimat sang ayah akan berakhir dengan membuatnya kecewa. Perkataan ayah pagi ini cukup menghancurkan mood Mina. Gadis itu bahkan tak bisa mengukur mana yang lebih mengecewakannya, fakta bahwa tak ada seorang pun yang ingat hari lahirnya atau fakta bahwa baik ayah maupun ibunya menentang keinginannya untuk menjadi penulis.

Sekolah sudah sepi ketika Mina keluar dari perpustakaan. Dirinya memang murid terakhir yang keluar dari perpustakaan. Bukan hal yang aneh. Ini merupakan pemandangan yang kerap terlihat. Mina berjalan menyusuri lorong sekolah yang sepi, membuat derap langkahnya memantul disepanjang lorong. Bagi sebagian orang suasana sepi di sekolah dianggap seram karena suasana sepi seperti ini selalu dikaitkan dengan cerita horor yang diceritakan dari mulut ke mulut. Namun orang berpikiran rasional seperti Mina takkan terpengaruh dengan cerita-cerita seram yang bahkan masih dipertanyakan kebenarannya.

Suara rintik hujan terdengar pelan, membuat Mina buru-buru menoleh ke arah jendela dan seketika menghela napas pelan kala mendapati butiran-butiran air mulai berjatuhan dari langit membasahi apapun yang berada dibawahnya tanpa ampun. Sialnya Mina tidak punya payung. Payung terakhir yang dimilikinya rusak saat hujan lebat dua minggu lalu dan ia selalu lupa untuk membeli yang baru.

Mina berdiri mematung di depan pintu masuk utama gedung sekolahnya. Hujan yang semula hanya rintik-rintik kini sudah berubah menjadi hujan deras. Dikejauhan Mina bisa melihat beberapa murid yang berjalan cepat menuju gerbang sekolah dengan payung yang melindungi tubuh. Ada pula yang memilih untuk menerobos hujan. Pemilih opsi kedua adalah para namjadeul yang sama sekali tidak peduli jika tubuh mereka harus basah kuyup tersiram air hujan. Seulas senyum samar tersungging dibibir Mina. Tiba-tiba saja suasana ini mengingatkannya pada satu momen yang menurutnya indah dan berharga.

Saat itu juga hujan deras seperti ini sehingga membuat Mina yang sedang dalam perjalanan pulang sekolah terpaksa harus berteduh di depan sebuah toko yang kebetulan tutup. Mina sendirian disana, dalam kondisi kehujanan dan kedinginan. Sama seperti saat ini, kala itu ia juga tak membawa payung.

Mina mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung jas sekolah, dan menghela napas agak kesal karena pesan yang dikirimkannya untuk Nana sejam yang lalu masih belum dibalas oleh sang kakak. Firasat Mina menduga jika sang kakak tengah bertemu dengan pria brengsek yang entah berstatus sebagai mantan atau ternyata masih menjadi kekasih Nana.

Perhatian Mina yang semula fokus pada langit Seoul yang masih menurunkan hujan teralihkan begitu mendengar derap langkah kaki yang kemudian berhenti tepat di sebelahnya. Penasaran, Mina menoleh sekilas, hendak melihat wajah orang yang berbagi tempat teduh dengannya. Hal pertama yang dilihat Mina adalah jas sekolah pria itu yang sama persis dengan miliknya. Pandangannya kemudian naik menuju wajah pria tersebut, dan seketika jantung Mina berdebar kencang begitu mendapati wajah yang begitu familiar baginya.

Oh Sehun tengah mengacak-acak rambutnya yang basah terkena hujan. Ransel yang tadi digunakannya untuk melindungi kepala ternyata tak banyak membantu. Saking sibuknya ia tidak sadar bahwa ada seorang gadis yang sejak tadi beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Sehun baru menoleh ke arah Mina ketika suara bersin gadis itu terdengar.

Sehun tahu jika gadis yang berdiri di sebelahnya itu adalah teman sekelasnya, Kim Mina. Namun alih-alih menyapa, Sehun memilih diam dan berpura-pura seperti tidak menyadari keberadaan teman sekelasnya itu. Bukan apa, sebenarnya Sehun bingung harus bagaimana bersikap pada teman sekelasnya yang sangat pendiam dan tertutup ini. Mereka tidak pernah benar-benar mengobrol. Hanya pernah berbicara sepatah dua patah kata yang semuanya berhubungan dengan tugas sekolah. Rasanya aneh saja jika sekarang ia tiba-tiba mengajak Mina mengobrol. Maka dari itu, Sehun pikir diam adalah pilihan terbaik. Toh, mereka hanya dua orang asing yang sedang berbagi tempat berteduh. Itu saja.

Sehun sama sekali tidak tahu bahwa nyatanya gadis yang berada di sebelahnya itu begitu menikmati momen hening mereka, dan bahkan berharap agar waktu bisa berhenti untuk beberapa saat saja. Sehun sama sekali tidak sadar dan tidak tahu jika gadis yang berada disebelahnya itu diam-diam menaruh hati padanya.

Begitu hujan agak reda, Sehun memutuskan untuk keluar dari tempat berteduh. Ia buru-buru ingin pulang sebelum hujan kembali deras. Sehun merapatkan jas sekolahnya, bersiap untuk berlari keluar dari tempatnya berteduh. Suara bersin kembali terdengar, membuat perhatian Sehun tertuju pada Mina. Kondisi gadis itu tak jauh berbeda dengan dirinya. Mereka sama-sama basah. Terlihat tetesan air hujan menetes dari rambut Mina yang basah. Sehun meronggoh saku ranselnya dan mengeluarkan sebungkus tissue. Ia baru ingat jika menyimpan sebungkus tissue di ranselnya. Kembali Sehun melirik Mina lalu melirik tissue ditangannya.

“Hmm… Ini…” dengan canggung Sehun menyodorkan bungkus tissue pada Mina. Mina tampak kaget. Gadis itu menatap bungkus tissue ditangan Sehun, lalu dengan agak ragu meraihnya.

“Terima kasih.” Ucap Mina pelan.

Sehun hanya mengangguk. Setelahnya ia berlari keluar dari tempat mereka berteduh. Mina menatap sosok Sehun yang semakin menjauh dari jarak pandangnya hingga kemudian sosok pria itu tak lagi tertangkap oleh indera penglihatannya. Kedua tangan Mina terangkat menuju dadanya, tempat dimana jantungnya masih berderas kencang.

“Hati-hati di jalan.” Ucap Mina begitu pelan, nyaris berbisik.

Kejadian itu sudah lama, tapi hingga detik ini Mina masih mengingatnya dengan jelas. Ia ingat bagaimana jemari Sehun bermain di rambutnya yang basah. Ia ingat bagaimana Sehun menepuk-nepuk jas sekolahnya yang basah. Ia juga ingat ketika Sehun sempat meliriknya sekilas. Jangan tanya betapa senangnya perasaan Mina kala itu. Mati-matian ia menahan diri agar tidak tersenyum sumringah.

Momen singkat itu masih terekam jelas di dalam otak Mina dan mungkin takkan pernah ia lupakan. Mina tersenyum miris. Ada banyak hal yang telah terjadi dan berubah sejak saat itu, namun satu hal yang tetap sama, dulu maupun sekarang Oh Sehun tetap tak tersentuh.

Hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Mina bergulat sejenak dengan batinnya. Haruskah ia menerobos hujan ini? Sudah lama ia tidak main hujan. Lagipula Mina pikir kepalanya harus disiram dengan dinginnya air hujan untuk menyegarkan pikirannya yang tengah kalut.

Mina mengambil satu langkah ke depan, yang otomatis membuat tubuhnya tak lagi terlindung oleh atap gedung sekolah. Ia dapat merasakan air hujan mulai membasahi kepalanya. Namun itu tak lama karena dua detik kemudian ia tak lagi merasakan butiran air hujan membasahi kepalanya. Reflek, Mina mendongak ke atas dan mendapati sebuah payung melindungi dirinya dari hujan.

Sosok dibalik payung tersebut mengejutkan Mina. Sepasang mata milik Oh Sehun tengah menatapnya intens, entah apa yang ada dipikiran pria itu. Mina sama sekali tak bisa menebak. Selama beberapa saat mereka berdua hanya berdiri diam sambil saling bertatapan dibawah naungan payung biru milik Oh Sehun.

“Ayo pulang.” Ucap Sehun.

Mina merasa heran pada dirinya sendiri. Segampang itu ia mengikuti langkah kaki Sehun. Beruntung sekolah sudah sepi sehingga kebersamaan mereka berdua tidak disaksikan oleh murid-murid Paran. Jika tidak, entah bermacam gosip seperti apa yang akan muncul dari mulut para biang gosip di sekolah ini.

Hanya keheningan yang menemani perjalanan pulang Mina dan Sehun. Mina tak keberatan dengan hal tersebut. Justru dia akan bingung dan merasa canggung jika harus berbincang-bincang dengan Sehun. Sekali lagi, ini sebenarnya lucu, mengingat bahwa dulu mereka begitu dekat. Pelan, Mina melirik Sehun, ingin melihat wajah tampan itu dari dekat. Rasa sedih dan sesak itu kembali menyelimuti hatinya.

Mengapa begitu susah untuk menggapai sosok Oh Sehun?

Mengapa begitu berat untuk membuat Sehun bertahan disisinya?

Apa arti dirinya bagi Sehun?

Tanpa bisa ditepis, pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiran Mina. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mina ingin merelakan dan mengubur kenangan yang pernah terjadi diantara mereka. Tapi kenapa begitu susah?

Keheningan itu terus bertahan hingga mereka berdua sampai di depan kediaman Mina. Hujan sudah reda, hanya menyisakan sedikit rintik. Untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari sejam, Mina dan Sehun kembali bertatapan.

“Terima kasih.” ucap Mina pelan.

Sehun hanya mengangguk, masih dengan ekspresi datar dan tatapan yang tak bisa Mina terka. Merasa tak ada lagi yang harus dikatakan, Mina pun berbalik hendak masuk ke dalam rumahnya.

Saengil chukkae.”

Mina mematung. Tubuhnya menegang mendengar ucapan Sehun. Akan tetap tak dapat Mina pungkiri bahwa euforia kebahagian begitu terasa di dalam hatinya. Mina berbalik, namun sayang Sehun sudah lebih dulu beranjak pergi. Lagi-lagi ia hanya bisa memandang punggung tegap itu perlahan menjauh. Air mata Mina terjatuh. Ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru. Ia terharu karena masih ada yang mengingat hari lahirnya. Dan orang tersebut adalah orang yang tak disangkanya. Mina terisak pelan sembari menatap punggung milik Sehun yang semakin menjauh.

 

*****

 

Sehun merasa konyol terhadap dirinya sendiri. Ia yang memutuskan untuk menjauh, namun nyatanya justru dirinyalah yang tanpa sadar selalu berusaha mendekat. Sungguh tidak konsisten. Sehun bahkan merasa muak pada dirinya sendiri.

Ia sadar bahwa dirinya telah menorehkan luka pada Mina. Wajar jika gadis itu benci padanya. Sehun pun sudah bertekad untuk benar-benar menjauh dari kehidupan gadis itu, tapi ternyata ia memang tak benar-benar bisa sepenuhnya mengabaikan Mina. Tanpa sadar matanya kerap memperhatikan gerak-gerik Mina secara diam-diam, ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Sehun tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri yang nyatanya tak bisa lepas dari kakak-beradik Kim tersebut, seakan-akan Tuhan telah mengutuknya untuk selalu terikat pada Kim Nana dan Kim Mina, kakak beradik yang telah mengacaukan hidupnya. Seharusnya sejak awal ia tak pernah membiarkan kedua gadis itu masuk dalam hidupnya. Yah, seharusnya…

 

*****

 

Perlombaan cerdas cermat biasanya tidak terlalu banyak menarik minat siswa untuk menonton jalannya perlombaan. Untuk menonton saja malas, jadi tak perlu heran jika untuk berpartisipasi pun kebanyakan murid harus diimingi dengan nilai tambah dan hadiah. Namun situasi kali ini agak berbeda. Aula serba guna milik Paran High School tampak lumayan ramai. Itu semua berkat Oh Sehun. Kebanyakan murid yang datang untuk menonton perlombaan adalah teman Sehun ataupun yeojadeul penggemarnya. Bahkan Jeon Jisung seonsaengnim yang menjadi penanggung jawab acara saja sampai dibuat terkejut.

“Wah, bangga rasanya melihat siswa-siswa antusias begini.” ucapnya tanpa tahun bahwa 80 persen siswa yang datang untuk menonton hanya ingin melihat Oh Sehun, bukannya karena rasa antusias terhadap acara yang nyaris tiap tahun menjadi agenda Paran High School tersebut.

Sejeong duduk disebelah Johnny. Gadis itu memang sudah berteman baik dengan Johnny sejak mereka berkenalan di pameran anime. Sejeong cukup nyaman berteman dengan Johnny karena meskipun pria itu tergolong populer tapi sedikitpun Johnny tidak menunjukkan tanda-tanda star syndrome. Pria itu bersikap layaknya siswa biasa. Ia bahkan tak ragu untuk bertingkah konyol di depan murid-murid lainnya. Sejeong sangat menghargai tipe-tipe orang seperti Johnny. Tidak sok menjaga image.

“Penontonnya lumayan banyak ya. Kalau di sekolahku dulu jika ada lomba seperti ini nyaris tak ada yang berminat untuk menonton.” ucap Sejeong.

Johnny tertawa kecil. “Bagaimana tidak ramai, untuk pertama kalinya si pangeran tampan mau berpartisipasi dalam perlombaan selain basket.” Johnny menunjuk ke arah Sehun, lalu mengarahkan pandangannya pada sekumpulan yeojadeul yang sesekali berseru heboh menyemangati Sehun. Hebatnya lagi, beberapa bahkan membawa banner bertuliskan nama Sehun. Kontras sekali dengan supporter dari sekolah lain yang terlihat begitu tenang, nyaris tak bersuara. Oh, mungkin karena tak ada Oh Sehun di sekolah mereka.

Sejeong mengikuti arah pandangan Johnny dan seketika berdecak kagum melihat loyalitas pendukung Sehun. Pria itu, mau dimanapun ia berada memang selalu bisa menjadi pusat perhatian. Sejeong akui itu. Tak heran jika murid dari sekolah lain pun juga jatuh pada pesona Sehun.

“Kalau pertandingan basket pasti lebih heboh daripada ini ya.” tebak Sejeong.

Johnny mengangguk, “Seperti pertandingan NBA. Padahal terkadang yang menjadi lawan Sehun masih murid Paran, tapi supporter Sehun bersikap seakan-akan Sehun sedang melawan tim dari negara lain.” ungkap Johnny sembari tertawa geli mengingat tingkah pola penggemar Sehun yang cukup beragam.

Terkadang Johnny suka membayangkan bagaimana jadinya jika sobatnya itu merupakan seorang idol. Sekarang saja Sehun dapat dikatakan punya fanbase sendiri. Apa jadinya jika Sehun seorang idol? Pasti fansnya akan berkali-kali lipat lebih banyak dan heboh daripada ini.

Pendukung Sehun semakin heboh begitu juri mengumumkan jika Sehun memenangi perlombaan dalam bidang sastra. Sehun tertawa kecil melihat kehebohan teman-teman dan yeojadeul supporternya. Ia cukup menikmati menjadi pusat perhatian. Johnny beserta Sejeong menghampiri Sehun. Johnny menjabat tangan Sehun lalu merangkulnya.

Chukkae. Kau terlihat pintar di atas podium tadi.”

“Aku memang pintar.” ujar Sehun jumawa sambil tertawa.

Chukkae Sehun-ah. Kau terlihat keren. Tidak heran fans-fansmu sampai heboh begitu.” Sejeong tersenyum manis, membuat kedua matanya membentuk eye smile. Beberapa namja yang melihatnya sampai berdecak kagum sembari dalam hati berharap suatu saat Sejeong akan memberikan senyuman manis tersebut khusus untuk mereka.

Sehun tersenyum, “Terima kasih. Apa sekarang kau sudah menjadi fans-ku?” tanyanya bercanda.

“Haruskah aku mendaftar ke dalam fans klub-mu?” Sejeong balas bertanya dengan nada bercanda.

Keakraban keduanya tak luput dari perhatian murid-murid Paran yang berada di aula, termasuk Mina. Dan lagi-lagi tanpa bisa ditahan perasaan iri itu kembali muncul. Apalagi saat telinganya menangkap suara bisik-bisik yang menjodoh-jodohkan Sehun dan Sejeong. Mereka bilang Sehun dan Sejeong terlihat serasi, bisa saling melengkapi.

Mungkin mereka benar. Sejeong memiliki aura positif dan ceria seperti Nana. Tidak seperti dirinya yang memiliki aura suram, membuat siapapun enggan mendekat. Tidak ingin berlama-lama menyakiti diri, Mina pun memilih mempersiapkan diri untuk sesi cerdas cermat matematika yang sebentar lagi akan dimulai, tanpa tahu jika sebenarnya Sehun menyadari bahwa Mina mengamati dirinya.

 

*****

 

Sesuai janji, Sehun mentraktir teman-temannya untuk merayakan kemenangannya dalam lomba cerdas cermat. Lebih tepatnya Sehun ditodong untuk mentraktir. Ada Johnny, Chanyeol, Jongin, Minseok, Mingyu dan Sejeong. Jangan heran melihat Sejeong bisa berkumpul dengan gerombolan namjadeul populer itu. Sejeong dengan mudah dapat mengakrabkan diri dengan siapa saja, tidak terkecuali Sehun dan teman-temannya. Sejeong cukup berbangga hati menjadi satu-satunya yeoja diantara para namja tampan dan populer sekolahnya.

Sehun mentraktir keenam temannya di sebuah restoran cepat saji yang berlokasi di dekat sekolah. Selain untuk menghemat waktu, harga makanan di restoran cepat saji ini sesuai dengan isi kantongnya. Mentraktir kelima sobat namja-nya di restoran mewah Sehun pikir bukanlah hal yang bijak mengingat betapa rakusnya kelima namjadeul tersebut jika sudah berhadapan dengan makanan.

Dua jam lebih mereka habiskan di restoran cepat saji tersebut. Selalu ada bahan obrolan dan candaan yang meramaikan suasana. Nyatanya Sejeong selalu bisa mengimbangi candaan para namja sehingga membuat para namja merasa nyaman menunjukkan kekonyolan mereka. Mereka berenam berpisah di depan restoran cepat saji. Sehun berinisiatif untuk mengantar Sejeong hingga sampai di halte sebelum mereka berpisah menuju rumah masing-masing.

Mereka sengaja mengambil jalan potong dengan melewati taman. Sejeong melirik beberapa kali ke arah Sehun.

“Ada apa?” tanya Sehun kala sadar bahwa Sejeong beberapa kali meliriknya.

Sejeong terlihat gugup, meski begitu ia masih bisa menyunggingkan senyum manis andalannya.

“Sehun-ah… Aku menyukaimu…”

-To Be Continued-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s