Chapters · KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Speck of Dust (Part 11)

Author : Cho Haneul
Title     : Speck of Dust
Genre   : Drama, School Life, Romance
Type     : Chaptered
Poster   : IG @shirlyuana

Cast :
– Choi Haneul
– Cho Kyuhyun
– Oh Sehun

________________________________________________________

Tidak seperti yang kubayangkan, fakta bahwa aku dan Sehun sedarah masih tersimpan rapi. Tak ada desas-desus maupun bisik-bisik yang terdengar. Sepertinya Jongin tidak buka mulut soal itu. Atau mungkin belum. Sudahlah, aku tak terlalu peduli. Toh sekarang hubunganku dengan Sehun sudah membaik. Jadi kupikir Sehun takkan keberatan sekalipun orang tahu mengenai status hubungan kami.

Ada hal lain yang harus kupikirkan. Ini mengenai kelangsungan hubunganku dengan Kyuhyun. Kedua orang tuanya jelas tak setuju dengan hubungan kami. Aku tak menyalahkan mereka. Wajar jika mereka menolakku. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, kan? Apalagi orangtua sekelas kedua orang tua Kyuhyun. Mereka berasal dari kalangan atas pasti ingin anaknya juga berpasangan dengan gadis yang berasal dari kalangan sama. Itu hal yang normal.

“Tidak diisi?” tanya Kyuhyun sembari memegang selembar formulir pendaftaran untuk studi tour ke Jepang.

Tadi siang wali kelasku membagikan formulir itu. Teman-teman sekelas langsung bersemangat untuk mendaftar. Ini akan menjadi study tour terakhir kami sebagai murid SMA karena beberapa bulan lagi kami akan meninggalkan sekolah ini (kalau lulus ujian), dan mungkin akan sulit untuk bertemu satu sama lain. Aku sih tidak keberatan dengan itu semua sebab tak ada pengaruhnya untukku. Tapi jelas teman-teman di kelas tidak berpikir demikian. Mereka berencana menggunakan study tour ini sebagai jalan-jalan perpisahan. Apalagi destinasi tujuannya ke Jepang.

“Aku tak berencana ikut,” jawabku sambil terus menulis tugas essai biologi. Sama sekali tak tertarik untuk membicarakan topik mengenai study tour.

Namun tampaknya Kyuhyun tertarik. Masih sambil menatap selembar formulir itu ia kembali bertanya, “Kenapa? Destinasinya ke Jepang. Pasti seru kan.”

“Aku tidak punya paspor. Tidak punya uang juga. Ibuku pasti takkan sudi memberikan izin. Lagipula aku takkan merasa nyaman berada di sekitar mereka selama 5 hari penuh dari pagi sampai pagi lagi. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.”

Kyuhyun tertawa kecil mendengar jawabanku. Ia meletakkan kembali formulir tersebut di atas meja makan, di atas buku-buku pelajaranku yang agak berserakan. Kyuhyun kemudian meraih segelas air disisi kanannya dan meminumnya hingga tandas.

“Kalau kau mau aku bisa−”

“Tidak perlu,” aku langsung memotong perkataan Kyuhyun. Aku tahu ia pasti bermaksud hendak membiayai study tour-ku. Tapi aku tak mau merepotkan. Lagipula seperti yang kukatakan tadi, aku tak benar-benar berminat untuk ikut. “Terima kasih. Tapi sungguh, aku tak berminat untuk ikut,” ucapku. Kali ini aku menatap kedua manik mata Kyuhyun, hendak meyakinkannya bahwa aku sungguh tak berminat.

Ia menghela napas. “Baiklah.”

Kyuhyun bangkit dari kursi meja makan. “Aku ke toilet dulu,” ucapnya lalu berlalu menuju toilet.

Aku kembali menekuni essai biologi ku yang baru tertulis setengah halaman. Masih ada satu halaman lagi yang harus ku penuhi untuk memenuhi minimal 800 kata yang merupakan titah dari Hyojin ssaem. Wajib hukumnya untuk dilaksanakan kalau ingin nilai biologiku aman. Sedang fokus menulis, tiba-tiba pintu rumahku diketuk.

‘Tumben ada yang datang ke rumah ini,’ pikirku sembari beranjak dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Pintu terbuka, dan aku menahan napas selama beberapa detik ketika melihat siapa tamu yang datang.

 

*****

 

Nyonya Song Jisoo duduk dengan begitu anggunnya di sofa lusuh milik ibu. Wanita paruh baya yang sungguh cantik ini terlihat begitu mencolok dan asing berada di rumah ini. Aura dan tampilannya seakan meneriakkan kalau ia tidak cocok berada di dalam rumah sederhana dan dikelilingi oleh barang-barang rongsokan milik ibuku.

Aku meletakkan segelas air putih (sesuai permintaan nyonya Song Jisoo) di atas meja yang berada tepat dihadapan nyonya Song Jisoo. Jantungku berdebar-debar. Otakku sedang mengira-ngira maksud serta tujuan kedatangan ibu dari Kyuhyun ini. Ah, ngomong-ngomong soal Kyuhyun, pria itu masih berada di dalam kamar mandi. Apa sebaiknya aku memberi tahu nyonya Song jika putranya berada disini?

Oh, jelas bukan keputusan yang bijak.

Bagaimana kalau ia malah marah-marah karena bukannya berada di kantor, sang anak malah berada di rumah kumuhku ini. Ya ampun, aku berada diposisi yang sulit.

“Aku ingin membicarakan soal Kyuhyun.”

Debaran jantungku semakin kencang. Aku melirik cemas ke arah kamar mandi yang berada di ujung ruangan, agak sedikit tertutupi lemari kecil jika dilihat dari tempatku dan nyonya Song duduk. Entah Kyuhyun sadar jika ibunya berada disini. Tapi kuharap ia sadar dan memutuskan untuk bersembunyi dulu di dalam kamar mandi sampai ibunya pergi.

“Aku tahu ini akan terdengar sangat jahat dan keterlaluan. Kau boleh marah dan membenciku. Tapi kau harus tahu bahwa aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku. Aku tak ingin suamiku semakin bersikap keras dan menekan Kyuhyun, karena itu kumohon agar kau menyudahi hubunganmu dengan putraku. Suamiku hendak menjodohkan Kyuhyun dengan putri kolega bisnisnya. Kyuhyun menolak dengan keras dan itu semakin membuat hubungan mereka memburuk.”

Nyonya Song menatapku dengan pandangan memelas. Ia pasti merasa tertekan dengan kondisi hubungan anak dan suaminya. Disatu sisi aku kasihan pada wanita ini, namun disisi lainnya aku juga merasa kasihan pada diriku sendiri. Kyuhyun adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Kalau aku melepaskannya maka aku akan kembali hidup dalam gelap, suram dan hampa. Untuk kali ini saja, bolehkah aku bersikap egois?

Aku hanya ingin bahagia.

“Haneul-ssi, kau masih muda. Kau masih harus kuliah dan kemudian bekerja. Kau terlalu muda untuk Kyuhyun. Ia membutuhkan wanita dewasa untuk menemani hari-harinya. Ia butuh wanita yang bisa mengerti dirinya,” ujar nyonya Song. Aku masih diam walaupun sebenarnya bibir ini sudah tak tahan ingin meneriakkan rasa frustasi.

Apa wanita yang dijodohkan dengan Kyuhyun bisa mengerti kondisi pria itu lebih baik dariku?

Apa wanita itu seribu kali lebih pantas bersanding dengan Kyuhyun hanya karena dia berasal dari kalangan atas?

“Aku…”

“Haneul-ssi, ini adalah permintaan tulus dari seorang ibu yang hanya menginginkan kebahagiaan putranya. Aku tahu jika kau adalah gadis yang baik dan tulus. Karena itu aku yakin kau pasti akan mendapatkan pria yang baik pula. Tapi pria itu bukan Kyuhyun.”

“Kalau ibu ingin aku bahagia harusnya ibu tak melakukan ini.”

Sontak aku dan nyonya Song menoleh ke arah yang sama, dimana Kyuhyun tengah berdiri sambil menatap lekat sang ibu. Ekspresi wajahnya tampak kecewa dan sedih. Sakit rasanya harus kembali melihat kedua ekspresi itu kembali terpatri diwajahnya. Aku menunduk dalam sambil menggesekkan kedua jempolku. Aku tengah berada di situasi yang tak mengenakkan.

“Kyuhyun…” nyonya Song tampak kaget melihat sang putra berada disini, bukannya berada di ruang kerjanya yang mewah di kantor. Kyuhyun memang sedang kabur sejenak dari kantornya. Ia meninggalkan mobilnya di kantor dan pergi kesini dengan menggunakan kendaraan umum agar ayahnya tidak tahu jika ia meninggalkan kantor. Maka dari itu, wajar jika nyonya Song kaget melihat putranya berada disini. Nyonya Song melirikku, membuatku semakin menunduk.

“Aku akan anggap ibu tak pernah berada disini,” ucap Kyuhyun sambil menatap wajah sang ibu.

“Kyuhyun…”

“Kita bicarakan ini di rumah,” Kyuhyun menatapku penuh rasa sesal. Aku memberikannya seulas senyum menenangkan agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja. “Ayo bu, kita pulang. Dan Haneul, maafkan kedatangan ibuku yang tiba-tiba ini. Anggap saja ini tidak terjadi, oke?”

Kyuhyun menarik tangan ibunya pelan menuju pintu. Nyonya Song terlihat pasrah mengikuti Kyuhyun. Aku menatap sosok keduanya yang menghilang dibalik pintu. Suara deru mobil yang meninggalkan rumahku perlahan terdengar samar seiring dengan menjauhnya mobil hingga suara itu benar-benar hilang dari pendengaranku. Meninggalkan kesunyian yang menyesakkan dada.

Perlahan aku bangkit berdiri lalu berjalan menuju meja makan, dimana aku meninggalkan tugas essay biologiku. Aku duduk dikursiku yang tadi dan kemudian meraih pulpen. Aku kembali melanjutkan menulis essay. Tak sampai satu menit aku kembali meletakkan pulpenku, lalu membenamkan wajahku di kedua tangan yang terlipat manis di atas meja.

Aku menangis.

 

*****

 

(Third Person POV)

Kekecewaan yang begitu besar lagi-lagi dialami Kyuhyun. Seakan-akan kata kecewa dan Kyuhyun tak bisa dipisahkan. Yang paling membuat sesak adalah fakta bahwa kekecewaan itu justru berasal dari sosok yang ia sayangi, ibunya. Kyuhyun tak habis pikir dengan tindakan ibunya yang menyambangi kediaman Haneul dan dengan dalih demi kebaikan dirinya, lantas meminta Haneul untuk mengakhiri hubungan mereka.

“Bukan kebahagiaanku yang ibu inginkan. Ibu hanya ingin terhindar dari amukan ayah,” ucap Kyuhyun dengan ekspresi wajah muram.

Mata Jisoo berkaca-kaca, entah karena wanita paruh baya itu merasa bersalah, atau karena perkataan Kyuhyun begitu telak memukulnya.

“Ibu tidak ingin melihatmu dikucilkan oleh ayahmu lagi. Ibu ingin melihat keluarga kita harmonis seperti keluarga lainnya.”

Kyuhyun menghela napas lelah. “Ibu sadar kan kalau keluarga kita takkan pernah menjadi harmonis selama ayah masih terus bersikap semaunya seperti ini?” pertanyaan retoris dari Kyuhyun membungkam Jisoo. Wanita itu sadar sepenuhnya jika penyebab ketidakharmonisan di keluarga mereka tak lain adalah suaminya sendiri.

“Jika ibu ingin keluarga kita harmonis, maka yang pertama harus ibu lakukan adalah menyadarkan ayah akan sifat otoriternya itu. Ibu pikir dengan aku menerima perjodohan itu lalu ayah akan semata-mata menjadi sayang padaku?” Tanya Kyuhyun dengan nada suara yang terdengar begitu lelah. “Tidak bu! Ayah takkan berubah semudah itu. Akan selalu ada celah baginya untuk menekanku, menyalahkanku. Ayah takkan berhenti sebelum aku ikut terkubur di dalam tanah seperti Ahra noona.”

Kini Jisoo menangis tersedu-sedu. Hati Kyuhyun seperti teriris mendengar tangis pilu wanita yang telah melahirkannya 26 tahun silam itu. Seharusnya Kyuhyun memeluk dan menenangkan sang ibu, namun nyatanya ia juga butuh pelukan menenangkan. Bahkan mungkin dirinya yang lebih membutuhkan. Kyuhyun merasa begitu lelah. Apa harus sesukar ini untuk merasakan kebahagiaan? Ia baru mencicipinya sedikit, namun ternyata semesta tak ingin membiarkannya terlampau larut sehingga dalam sekejap kembali menariknya dari nikmatnya kebahagiaan.

Kyuhyun menatap kosong ke arah Jisoo yang masih menangis tersedu-sedu. Tanpa berkata apapun, pria itu melangkah pergi menuju kamarnya, tempat dimana ia biasa menunjukkan pesakitannya.

(Third Person POV End)

 

*****

 

Pagi ini aku bangun dengan kedua mata yang sembab, hasil dari menangis semalaman suntuk. Wajahku terlihat pucat. Secara keseluruhan penampilanku hari ini terlihat makin menyedihkan. Aku tahu jika ibu sempat memperhatikan wajahku sejenak, mungkin merasa kaget dengan penampakanku hari ini (bukan karena biasanya aku tampak menakjubkan sih). Kurasa aku terlihat begitu menyedihkan. Namun ibu memilih diam, tidak berminat hanya untuk sekedar menanyakan kondisi putri tunggalnya ini. Lebih tepatnya ia tak peduli.

Ibu memakan sarapannya dengan lahap. Menu sarapan hari ini adalah nasi goreng kimchi. Tangan kanannya sibuk menyuapkan nasi goreng kimchi ke dalam mulut, sedangkan tangan kirinya meraih remote TV lalu sibuk menekan-nekan tombol guna mencari tontonan yang menarik. Pilihannya jatuh pada channel yang tengah menayangkan acara gosip, salah satu acara yang paling kubenci

Apa manfaatnya sih mengurusi hidup orang lain?

Kami berdua makan dalam diam. Hanya suara yang berasal dari televisi lah yang menjadi pemecah keheningan diantara kami. Selalu begitu. Aku mengunyah nasi goreng kimchi milikku dengan tak berselera. Kalau bukan karena perutku yang terasa perih minta diisi, maka aku lebih memilih untuk langsung berangkat ke sekolah. Pikiranku masih tertuju pada Kyuhyun. Semalam Kyuhyun menelponku, tapi dengan pengecutnya aku membiarkan ponselku terus berdering hingga mati. Pesan singkat dari Kyuhyun juga baru kubalas pagi ini. Aku berdalih jika semalam aku tidur lebih awal.

Padahal kenyataannya aku justru tak bisa tidur nyenyak. Aku baru bisa memejamkan mata pukul 4 dini hari. Hanya dua jam sebelum aku harus bangun untuk bersiap-siap ke sekolah.

Aku bingung. Apa yang harus kulakukan?

Nyonya Song Jisoo datang menemuiku khusus untuk memintaku melepas anaknya. Aku jelas tak berniat untuk melakukannya, dan kuyakin Kyuhyun pun tak ingin aku melepasnya. Tapi, apa aku pantas bersikap egois pada seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan anaknya?

Suara dering ponsel membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan buru-buru meraih ponselku. Nyatanya layar ponselku tak menunjukkan tanda-tanda ada panggilan masuk.

“Iya, halo. Selamat pagi.”

Aku mendongak menatap ke arah ibu dengan pandangan heran, kaget bercampur penasaran. Sudah lama sekali aku tak mendengar nada suaranya yang begitu manis. Aku terlalu terbiasa dengan nada sinis, marah dan kesal yang biasa ibu gunakan ketika berbicara denganku, dengan orang-orang. Tapi kali ini sungguh berbeda. Otomatis aku menjadi amat penasaran dengan si penelpon itu.

Siapa dia hingga bisa membuat ibu menggunakan nada suara yang begitu manis itu?

Aku tak tahu apa yang ibu bicarakan dengan si penelpon karena tak lama setelah menjawab telepon, ibu bergegas ke kamarnya, membuatku semakin curiga. Ketika kembali ke meja makan, wajah ibu terlihat senang. Aku bahkan bisa melihat binar-binar kebahagiaan di matanya. Jadi ku asumsikan jika si penelpon itu membawa kabar baik, atau mungkinkah dia adalah orang yang disukai ibu?

 

*****

 

Hubunganku dengan Sehun memang sudah membaik, namun itu tak semata-mata langsung membuat kami menjadi dekat. Kami masih canggung jika harus berakrab ria layaknya kakak dan adik. Karena nyatanya hubungan persaudaraan kami memang rumit. Meski begitu, diam-diam Sehun mulai memainkan perannya sebagai seorang kakak yang baik. Ia telah menggagalkan rencana busuk Kim Yeri yang hendak menyembunyikan sapu tangan sulam hasil karyaku yang hendak ku kumpulkan untuk nilai ujian keterampilan tangan.

Gil Na Kwon seonsaengnim menyuruh para siswi di kelasku untuk membuat sulaman bunga di atas sapu tangan sebagai ujian untuk kelas keterampilan, sedangkan untuk para siswa Na Kwon ssaem menyuruh mereka membuat mobil mainan dari barang bekas.

Aku mengernyit bingung saat Sehun menyerahkan sapu tangan bersulam bunga mawar merah padaku. Seingatku aku menyimpannya dengan apik di dalam laci meja.

“Aku melihat Kim Yeri hendak membuang ini ke tempat sampah. Aku ingat pernah melihatmu sedang menyulam sapu tangan ini,” ucap Sehun yang membuatku cukup kaget.

“Terima kasih. Aku bahkan tidak sadar jika sapu tangan ini sudah tak lagi berada di dalam laci. Nyaris saja aku tidak mendapatkan nilai untuk ujian keterampilan. Jeongmal gomawo,” ucapku tulus sembari mendekap sapu tangan di dadaku, seakan sapu tangan ini adalah benda yang sangat berharga.

Sehun mengangguk, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia berlalu pergi menuju teman-temannya. Sesaat kemudian aku melihat Kim Yeri masuk ke dalam kelas bersama teman sebangkunya Park Sooyoung. Wajah Yeri terlihat muram, dan begitu tatapan mata kami bertumbukan, Yeri menatapku dengan keji.

Anak aneh, bukankah seharusnya aku yang menatapnya seperti itu?

Tapi tunggu, mata dan hidung Yeri tampang merah seperti habis menangis. Apa jangan-jangan…

Aku menoleh ke arah Sehun yang terlihat sedang mengobrol dengan Junhong dan Seungwoo, lalu ke arah Yeri yang sepertinya sedang dihibur oleh Sooyoung. Aku bisa melihat jika Yeri terlihat ketakutan ketika tanpa sengaja bertatapan dengan sepasang manik mata tajam milik Sehun. Entah apa yang Sehun lakukan pada Yeri, tapi kuharap dengan begitu Yeri takkan mencari masalah lagi denganku.

Sungguh, aku ingin menjalani detik-detik terakhir masa SMA ku dengan tenang.

 

*****

 

Tubuhku membeku ketika mendapati mobil Kyuhyun terparkir di depan toko roti. Entah sejak kapan mobil mewah itu berada disana. Tak lama Kyuhyun keluar dari dalam mobil. Ia menatapku tajam, pasti merasa kesal karena seharian aku menghindar darinya.

Aku akui aku salah karena bersikap pengecut. Aku hanya bingung harus bagaimana. Aku takut mengambil keputusan yang salah yang nantinya hanya akan kusesali.

Dengan ragu aku berjalan menuju Kyuhyun. Kami berdua berdiri saling berhadapan dibawah cahaya lampu jalan yang redup.

“Masuklah, aku akan antar kau pulang,” ucap Kyuhyun.

Aku mengikuti perintahnya dalam diam. Kyuhyun tak langsung menjalankan mobil. Ia diam sembari menatap kosong ke arah jalanan yang tampak lenggang. Tanpa sadar aku meremas kedua tanganku. Ini terasa sangat canggung. Seperti bukan kami berdua.

“Kau ingin melepasku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba membuatku tersentak kaget

“Tidak,” jawabku dengan suara bergetar.

Kyuhyun menoleh menatapku. “Lalu kenapa kau menghindariku? Kau membuatku berpikir jika kau memutuskan untuk menyerah.”

Aku bisa melihat kesedihan, kekecewaan dan kefrustasian di kedua manik matanya. Dan itu membuatku sedih. Aku tak ingin melihatnya bersedih, tapi ironisnya sikap pengecutku justru menjadi salah satu alasan dibalik tatapan menyedihkannya itu.

“Aku merasa jika kau ingin meninggalkanku,” ucap Kyuhyun lirih.

Aku sontak langsung menggeleng. Air mataku menetes tanpa bisa kutahan.

“Mianhe… Jeongmal mianhe... Aku tidak ingin meninggalkanmu. Sumpah! Aku hanya tak tahu harus bagaimana. Kenapa sulit sekali bagi kita untuk bahagia?” aku terisak. Dengan kasar aku menghapus air mata yang membasahi pipi.

Kyuhyun menarik tanganku lalu menggengamnya dengan lembut. “Lihat aku,” pintanya dengan suara lirih. Aku pun menoleh untuk menatap wajah pria yang begitu kucintai ini. Pria yang telah menarikku dari dalam keterpurukan. Pria yang telah mengajarkanku cara untuk kembali bahagia. Satu-satunya orang yang bersedia menunjukkan padaku bahwa cinta tulus itu masih ada.

Kyuhyun menatap kedua mataku dengan intens. “Kita akan melewati ini bersama-sama. Kita akan menemukan cara untuk tetap bersama. Tapi untuk itu aku butuh kau untuk tetap tinggal disampingku. Aku tidak bisa melakukannya seorang diri.”

Kyuhyun mengecup kedua tanganku yang berada dalam genggamamnya. “Jadi, apa kau bersedia untuk tetap berada disisiku?” tanyanya. Tatapan matanya terlihat memohon.

Aku terenyuh. Tanpa Kyuhyun harus memohon, aku akan dengan sepenuh hati tetap berada disampingnya.

Jadi, aku memutuskan untuk mengabaikan nyonya Song beserta sisi ibaku, dan memilih untuk menjadi egois.

 

-To Be Continued-

 

Satu tanggapan untuk “Speck of Dust (Part 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s